📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

EKSPLORASI MENGGUNAKAN EMBELLISHMENT DAN WETLOOK PADA BUSANA ART TO WEAR UNTUK MENGGAMBARKAN CERITA LEGENDA PUTRI MANDALIKA

Cerita rakyat merupakan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai moral, identitas budaya, dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Salah satu cerita rakyat yang memiliki nilai budaya kuat adalah Legenda Putri Mandalika dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mentransformasikan Legenda Putri Mandalika ke dalam karya busana Art to Wear melalui penerapan teknik wetlook dan embellishment sebagai media visual untuk menyampaikan narasi budaya. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode eksperimen kriya tekstil. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi, dokumentasi, dan eksplorasi material. Proses perancangan diawali dengan analisis legenda Putri Mandalika, pengembangan konsep visual, penyusunan moodboard, eksplorasi teknik, serta pengembangan desain busana. Eksperimen dilakukan pada beberapa jenis kain dan material pelapis untuk memperoleh karakter wetlook yang sesuai dengan konsep laut sebagai elemen utama dalam legenda. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa resin polyester mampu menghasilkan efek kilap, kekakuan, dan bentuk yang mendukung visualisasi gelombang laut. Selain itu, teknik embellishment berupa sulam, manik-manik, dan mutiara digunakan untuk merepresentasikan ragam hias Lombok serta berbagai unsur biota laut yang berkaitan dengan kisah Putri Mandalika. Hasil penelitian berupa rancangan busana Art to Wear bersiluet mermaid dengan pengembangan bentuk asimetris yang merepresentasikan karakter ombak laut. Busana didominasi warna biru, hijau, dan emas yang melambangkan laut, kehidupan, serta kemegahan Putri Mandalika. Penerapan teknik wetlook dan embellishment berhasil memperkuat nilai estetis sekaligus menyampaikan narasi pengorbanan, keharmonisan, dan identitas budaya Lombok. Penelitian ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat menjadi sumber inspirasi yang potensial dalam perancangan busana sekaligus menjadi media pelestarian budaya melalui karya fashion kontemporer.

2026
👤 Penulis: Wikania Marelly Caserelia Wetik
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN INDUSTRI PRODUKSI TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) KERING IRISAN DAN BUBUK

Tomat merupakan komoditas hortikultura dengan produksi tinggi di Indonesia, namun memiliki kadar air yang sangat tinggi (93–95%) sehingga mudah mengalami kerusakan dan kehilangan hasil (food loss) selama penyimpanan dan distribusi. Kondisi ini menyebabkan umur simpan tomat relatif pendek serta fluktuasi harga saat panen raya. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan pascapanen adalah melalui proses pengeringan yang dapat menurunkan kadar air, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan nilai tambah tomat. Namun, untuk menghasilkan tomat kering dengan mutu yang baik, proses pengeringan perlu didukung oleh tahapan pengolahan yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan perancangan proses yang terintegrasi guna menjaga kualitas produk selama pengolahan hingga penyimpanan. Perancangan industri ini bertujuan menghasilkan produk tomat kering dalam bentuk irisan dan bubuk yang berkualitas, aman, serta memiliki umur simpan yang lebih panjang. Sistem produksi dirancang secara terintegrasi mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. Inovasi yang diterapkan meliputi pre-treatment menggunakan kalium metabisulfit (K?S?O?) dan kalsium klorida (CaCl?), pengeringan menggunakan food dehydrator, serta pengemasan vakum. Pre-treatment berfungsi untuk mempertahankan warna, tekstur, dan kandungan nutrisi, sedangkan food dehydrator akan memberikan hasil pengeringan yang lebih merata dan terkontrol. Pengemasan vakum digunakan untuk menghambat oksidasi dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang umur simpan tomat kering. Kapasitas produksi dirancang menggunakan 579 kg tomat segar per batch yang akan menghasilkan 248 kemasan irisan tomat kering serta 58 kemasan tomat bubuk, dengan bobot masing-masing 100 gram dan total produksi sekitar 984 kg per bulan. Sistem produksi menerapkan konsep zero waste, yaitu irisan tomat yang tidak memenuhi standar estetika diolah menjadi bubuk sehingga pemanfaatan bahan baku lebih optimal. Produk yang dihasilkan memiliki kadar air rendah, mutu mikrobiologis stabil, umur simpan lebih panjang, serta kandungan nutrisi dan antioksidan yang tetap terjaga. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri ini layak dijalankan dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp3.016.032.531, Internal Rate of Return (IRR) 34%, Benefit Cost Ratio (BCR) 1,9, dan Payback Period (PP) selama 2 tahun 3 bulan. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak pada kenaikan biaya bahan baku hingga 54% serta penurunan harga jual maupun volume penjualan hingga 13%.

2026
👤 Penulis: Medinna Luna Ibrahim
🏷️ Produksi Hidroponik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

USULAN PENGELOMPOKAN KOMPONEN DENGAN PERTIMBANGAN POLA REJECT MENGGUNAKAN PENDEKATAN UNSUPERVISED LEARNING PADA FAL CN-235 DI PTDI

Proses produksi pesawat pada industri manufaktur dirgantara memiliki kompleksitas yang tinggi karena melibatkan banyak komponen dan tahapan perakitan yang saling bergantung. Di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), salah satu faktor yang berkontribusi terhadap keterlambatan pada proses Final Assembly Line (FAL) adalah terjadinya reject komponen yang menyebabkan aktivitas tambahan seperti rework, penggantian komponen, dan inspeksi ulang sehingga meningkatkan waktu penyelesaian work element. Sementara itu, keputusan make or buy komponen selama ini masih didasarkan pada kemampuan produksi internal. Selama komponen masih dapat diproduksi oleh PTDI, maka komponen tersebut cenderung diproduksi secara inhouse. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pengelompokan komponen yang mempertimbangkan pola reject yang digunakan sebagai dasar pertimbangan keputusan make or buy pada FAL pesawat CN-235 di PTDI. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan Cross Industry Standard Process for Data Mining (CRISP-DM) hingga tahap modeling. Data penelitian terdiri atas data komponen pesawat CN-235. Tingkat risiko komponen direpresentasikan melalui tiga atribut, yaitu quantity, reject impact time, dan historical reject rate, yang kemudian diintegrasikan menjadi atribut risk score menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Selanjutnya dilakukan pengembangan dan perbandingan tiga metode unsupervised learning, yaitu Hierarchical Clustering, KMeans Clustering, dan Fuzzy C-Means Clustering. Evaluasi model dilakukan menggunakan Silhouette Index, Dunn Index, Davies-Bouldin Index, serta 5-Fold Cross Validation untuk menentukan model terbaik. Selain itu, dilakukan perturbation test terhadap atribut historical reject rate untuk mengevaluasi stabilitas model terhadap perubahan data historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hierarchical Clustering dengan metode average linkage dan tiga cluster merupakan model terbaik. Model tersebut berhasil mengelompokkan 887 komponen ke dalam tiga kategori risiko, yaitu 833 komponen (93,9%) berisiko rendah, 48 komponen (5,4%) berisiko sedang, dan 6 komponen (0,7%) berisiko tinggi. Hasil pengelompokan memberikan dasar yang lebih objektif dalam mendukung keputusan make or buy, yaitu rekomendasi untuk komponen berisiko rendah dipenuhi dengan make, komponen berisiko tinggi dipenuhi melalui buy, dan komponen berisiko sedang memerlukan evaluasi lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor lain. Pengujian stabilitas menunjukkan nilai Adjusted Rand Index (ARI) di atas 0,90 pada seluruh tingkat perturbation, sehingga model memiliki tingkat robustness yang baik terhadap perubahan data.

2026
👤 Penulis: Athaya Naja Pratiwi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

PERANCANGAN INDUSTRI EKSTRAK PROPOLIS CAIR LEBAH TANPA SENGAT (TRIGONA SP.) SKALA MENENGAH

Pasar produk berbasis propolis tengah mengalami peningkatan permintaan karena pemanfaatannya yang luas, mulai dari aplikasi pada produk kosmetik, kesehatan, hingga pangan. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menjadi habitat bagi 46 dari 500 spesies lebah tanpa sengat yang mampu menghasilkan propolis dalam jumlah besar. Potensi ini terkonfirmasi oleh volume produksi propolis domestik yang konsisten meningkat setiap tahunnya, dari 2.300 ton pada tahun 2018, hingga mencapai 2.900 ton pada tahun 2021. Meskipun begitu, sekitar 70% kebutuhan propolis dan madu domestik masih bergantung pada produk impor. Fenomena ini disebabkan oleh rendahnya kuantitas dan kualitas propolis lokal akibat minimnya penerapan teknologi modern dan ketiadaan standardisasi proses ekstraksi propolis. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut, dokumen perancangan ini disusun untuk mendukung pengembangan industri dan meningkatkan kemandirian produksi propolis nasional. Sistem pascapanen dan pengolahan ekstrak propolis cair pada umumnya terdiri atas tahapan pre-treatment, ekstraksi, pengujian mutu, pengemasan, dan penyimpanan. Pada perancangan industri ini, dikembangkan inovasi dengan konsep hemat dan zero waste. Konsep hemat diwujudkan dalam penerapan metode maserasi kinetik serta formulasi menggunakan propilen glikol untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi dan kestabilan ekstrak dengan biaya terjangkau. Di sisi lain, konsep zero waste direalisasikan melalui integrasi pengolahan residu ekstraksi menjadi aditif pakan ternak untuk mengurangi kuantitas dan biaya penanganan limbah. Analisis Gross Profit Margin (GPM) menunjukkan bahwa sistem pascapanen dengan inovasi ini memiliki efisiensi biaya produksi sebesar 25,88%. Dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan range produksi usaha skala menengah, kapasitas produksi industri ini ditargetkan mencapai 9 L (300 botol) ekstrak propolis cair/hari dan 5 kg (1 pcs) aditif pakan ternak/hari. Perancangan sistem pascapanen yang dilengkapi dengan deskripsi proses, spesifikasi peralatan, neraca massa dan energi, serta sistem utilitas dan sertifikasi ini dinilai layak secara finansial berdasarkan indikator Net Present Value (Rp1.869.288.773), Benefit Cost Ratio (1,04), Internal Rate of Return (18,84%), Profitability Index (1,30), Break Even Point (74.346, unit), dan Payback Period (3,06 tahun). Demikian pula, berdasarkan analisis sensitivitas, sistem pascapanen ini masih layak dijalankan pada skenario peningkatan harga bahan baku hingga 25% maupun skenario penurunan pendapatan hingga 5%.

2026
👤 Penulis: Natasya Audi Exalanti
🏷️ Ekstraksi Propolis 🏷️ Pascapanen Produk Berbasis Propolis 🏷️ Kecerdasan Buatan

OPTIMISASI PORTOFOLIO DENGAN PENDEKATAN ANALISIS DATA TOPOLOGI

Portofolio optimal yang dapat memaksimalkan return dan meminimalkan risiko sangat dibutuhkan oleh seluruh investor. Penelitian ini mengusulkan penggunaan pendekatan analisis data topologi (TDA) dalam optimisasi portofolio. Analisis data topologi yang dapat mengekstraksi fitur topologi dari data historis harga saham digunakan dalam penelitian ini untuk menangkap struktur tersembunyi dan hubungan non-linier antar saham. Pada penelitian ini ditemukan bahwa TDA norm dari kelas homologi dimensi 0 dapat merepresentasikan volatilitas saham. Selain itu, kovariansi antar saham juga dapat diperoleh dengan mempergunakan salah satu fitur dalam persistence tools yaitu Wasserstein distance. Kedua hal tersebut (volatilitas dan kovariansi) berperan sangat penting dalam optimisasi portofolio karena digunakan dalam mengukur risiko portofolio. Permasalahan optimisasi portofolio tersebut, dalam penelitian ini, diselesaikan menggunakan NSGA-II untuk menghasilkan solusi-solusi yang mendekati Pareto front. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan analisis data topologi yang digunakan bekerja dengan sama baiknya dengan metode klasik.

2026
👤 Penulis: Aiko Samantha Prasetyo
🏷️ Optimisasi Portofolio 🏷️ Analisis Data Topologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

MITIGASI HALUSINASI PADA RAG-LLM DENGAN EKSPANSI AKRONIM, QUERY REWRITING, DAN CONTEXT RERANKING PADA DATASET BIOMEDIS

LargeLanguageModels (LLM) telahbanyakdigunakanuntuktanyajawabin- formasi biomedis,namunrentanmenghasilkanhalusinasi,yaitujawabanyang terlihat meyakinkantetapitidakdidukungsumberyangvalid.Pendekatan Retrieval- Augmented Generation (RAG) ditawarkanuntukmengurangihalusinasidengan menyertakan dokumenrelevansebagaikonteks,namunkualitasjawabanmasih bergantungpadakeberhasilantahap retrieval. Padadomainbiomedis,sistemRAG menghadapi tantangantambahanberupa vocabulary mismatch, yaituketidakcocok- an antaraistilahpanjangyangdipakaipenggunadenganakronimyangumumtertulis pada dokumenilmiah. Penelitian inibertujuanmerancang,mengimplementasikan,danmenganalisissistem mitigasi halusinasipadaRAG-LLMyangmenggabungkantigateknikkomplemen- ter,yaitu ekspansi akronim sebagai praprosesdokumen, query rewriting untuk memperkaya kueripengguna,dan context reranking untuk memilihkonteksyang paling relevansebelumtahap generation. Sistemdiujipada dataset PubMedQA dengan korpus1.000paperbiomedisdan500pertanyaanevaluasimenggunakan model LLMGPT-4.1-mini. Hasil evaluasimenunjukkanbahwaekspansiakronimmeningkatkankinerja retrie- val secara konsisten,yaitu Recall@5 naik dari78,65%menjadi84,96%,MAP@5 dari 75,32%menjadi82,47%,dannDCG@5dari83,08%menjadi88,45%.Teknik context reranking juga konsistenmeningkatkanakurasipadaseluruhmodelLLM yang diujisebesar1–3poinpersentase.Konfigurasiterbaikyangmenggabungkan ekspansi akronim, query rewriting, dan context reranking pada GPT-4.1-minimen- capai accuracy 74,8% dan faithfulness 0,980. Secarakeseluruhan,hasileksperimen menunjukkan bahwakombinasiketigateknikmampumenurunkan hallucination rate dari 34,6%menjadi25,2%sekaligusmeningkatkankualitasjawabansistem tanya jawabbiomedis.

2026
👤 Penulis: Ricky Wijaya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Retrieval-Augmented Generation (Rag) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Informasi Biomedis

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KASUS CELAH BIBIR DAN LANGIT-LANGIT DENGAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA DAN GENERALIZED LINEAR MODEL

Celah bibir dan langit-langit (CBL) merupakan kelainan kongenital akibat gagalnya penyatuan jaringan wajah pada Minggu ke-5 hingga ke-9 kehamilan, yang berdam-pak pada kondisi fisik dan perkembangan kesehatan anak. Faktor penyebabnya bersifat kompleks dan saling berkaitan yang meliputi aspek genetik, orangtua, serta lingkungan, sehingga berisiko menimbulkan multikolinearitas antarvariabel. Untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh secara signifikan digunakan model linear diperumum atau GLM yang menyesuaikan distribusi variabel dependen da-lam data. Sebelum digunakan GLM, multikolinearitas perlu diatasi terlebih dahulu dengan analisis komponen utama (AKU) sehingga tidak mengorbankan informasi dari setiap variabel. Informasi faktor CBL dalam data yang digunakan bersifat campuran, kategorikal dan numerik. Hal ini menyebabkan AKU klasik tidak dapat digunakan dalam penelitian ini karena hanya mampu mengatasi data numerik, se-hingga digunakan AKU kategorikal atau CATPCA yang melakukan pengskalaan maksimal dalam kuantifikasi setiap variabel secara sesuai. Data yang digunakan merupakan data sekunder hasil survei Tahun 2023 dengan 71 observasi dari Jawa Barat, 62 observasi dari Sulawesi Selatan, dan 133 observasi pada data gabungan. Jenis CBL di Jawa Barat dipengaruhi secara signifikan oleh riwayat kesehatan ibu dan permasalahan trimester pertama, serta perilaku orang tua. Adapun perilaku orang tua yang berpengaruh meliputi rokok aktif, rokok pasif, kafein, olahraga, dan radiasi pada ayah, serta rokok pasif, kafein, olahraga, dan radiasi pada ibu. Faktor yang berpengaruh secara signifikan di Sulawesi Selatan meliputi rokok pasif ayah, radiasi ibu, dan rokok pasif ibu. Pada data gabungan, jenis celah dipengaruhi secara signifikan oleh wilayah, pemeriksaan kehamilan, rokok aktif ayah, rokok pasif ayah dan ibu, olahraga ayah, dan radiasi pada ayah.

2026
👤 Penulis: Adinda Febrianti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kompomen Utama 🏷️ Hidrologi

PERALIHAN MENTALITAS TAKUT DALAM MISI PENCARIAN ZONA NYAMAN MELALUI DIGITAL DRAWING

Saat merasa takut manusia secara aktif mencari keselamatan untuk mendapatkan rasa aman. Salah satu caranya adalah menggunakan sistem mekanisme koping untuk mencapai ketenangan meski efeknya hanya sesaat. Identifikasi mengenai pengaruh memori negatif dari kejadian traumatis yang memberi rasa takut masif dapat merangsang manusia untuk mencari kebebasan dari belenggu tersebut. Karya tugas akhir ini merupakan karya yang menggambarkan upaya penulis untuk beralih dari situasi menakutkan dengan memvisualisasikan berbagai rupa dari mekanisme koping maladaptif yang diperankan oleh figur-figur manusia dan kambing miotonik. Karya tugas akhir ini dibuat dengan tujuan sebagai ekspresi dari kritik diri; menjadi pengingat dalam pengambilan keputusan kepada umum untuk tidak mengambil keputusan yang kelak dapat memicu ketakutan bagi orang lain dan menciptakan memori negatif bahkan traumatis yang kemudian dapat memperbesar kemungkinan untuk mengakibatkan pengambilan langkah menggunakan sistem mekanisme koping maladaptif yang tidak membantu sebagai respon dari pilihan yang diambil. Menggunakan pemikiran Endel Tulving, penulis mengaplikasikan teori memori episodik yang sama dan dialami oleh beberapa individu. Penulis ingin memvisualisasikan respon dan pengambilan keputusan dalam menentukan mekanisme koping yang berbeda-beda dari individu yang berbeda atas satu kejadian traumatik yang dialami bersama. Bentuk seni rupa karya digital drawing dipilih untuk menampilkan lukisan digital yang kemudian dibuat bergerak menjadi format GIF, terinspirasi dari memori negatif yang hadir berulang tanpa suara layaknya format tersebut. Berbekal dengan intuisi dalam mengekspresikan rasa takut karya ini mengaplikasikan saturasi rendah pada pemilihan warna dan penghadiran kontras dalam karya sebagai penentuan fokus. Pembatasan instrumen alat digital seperti kuas digital yang diputuskan sebagai aturan yang diciptakan oleh penulis sendiri mewakilkan hukuman bagi diri sebagai ekspresi mekanisme koping yang secara tidak sengaja biasa penulis praktikan. Penciptaan karya ini diharapkan dapat menggugah kesadaran mendalam mengenai respon personal yang memengaruhi individu lain layaknya iklan layanan masyarakat yang memiliki tujuan untuk mengubah perilaku dalam mengaplikasikan mekanisme koping, terkhususnya dalam upaya mengakhiri hidup dan meninggalkan banyak orang dalam hidup seseorang.

2026
👤 Penulis: Valentine Vyna Gracia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DEVELOPMENT AND CHARACTERIZATION OF A 2D GIMBALED NOZZLE FOR ATMOSPHERIC SOLID ROCKET’S THRUST VECTORING CONTROL

Pertumbuhan pesat peluncuran satelit nano selama dekade terakhir telah meningkatkan permintaan akan small launch vehicles khusus yang berbiaya rendah. Motor roket padat menawarkan solusi propulsi yang secara mekanis sederhana dan murah untuk kendaraan semacam itu. Namun, kontrol lintasan dan sikap tetap menjadi tantangan kritis, terutama ketika permukaan kontrol aerodinamis menjadi tidak efektif. Thrust Vector Control (TVC) memberikan solusi dengan memungkinkan kontrol melalui pengalihan arah vektor gaya dorong propulsi. Meskipun penerapannya sudah luas pada kendaraan peluncur modern, penelitian eksperimental mengenai sistem TVC, khususnya untuk propulsi roket padat, masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini menyajikan pengembangan dan karakterisasi eksperimental dari nosel gimbal dua dimensi yang mampu membelokkan gaya dorong pada sumbu pitch dan yaw untuk motor roket padat atmosferik skala kecil. Mekanisme gimbal dirancang sebagai four bar linkage, dibuat purwarupa melalui pencetakan 3D, dan difabrikasi sebagai produk akhir berbahan stainless steel menggunakan proses Selective Laser Melting (SLM). Sebuah tempat uji dengan tiga load cell dikembangkan khusus untuk mengukur gaya dorong aksial dan komponen gaya lateral selama static firing test. Studi pendahuluan telah dilakukan, yang melibatkan pembuatan dan pengujian motor roket padat kelas-H menggunakan propelan kalium nitrat–sorbitol (KNSB). Karakterisasi mekanis menunjukkan defleksi nozel maksimum sebesar 12,47°, melampaui persyaratan desain minimum 5°, dan menunjukkan keselarasan yang baik dengan defleksi teoretis yang diprediksi oleh model four bar linkage. Static firing test menunjukkan bahwa nozel gimbal berhasil mengalihkan arah vektor gaya dorong, dengan gaya lateral terukur sebesar sekitar 0,35 N pada defleksi 12,47°, berselisih hanya 2,4% dari prediksi teoretis sebesar 0,362 N. Hasil ini memvalidasi baik desain mekanis maupun model analitis dari sistem thrust vectoring, sekaligus mengidentifikasi keterbatasan yang berkaitan dengan karakteristik pembakaran propelan, material liner, dan keandalan instrumentasi. Hasil studi ini menyediakan data eksperimental untuk pengembangan sistem stabilisasi aktif dan kontrol tertutup di masa depan untuk roket atmosferik kecil di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hilmy Aryanda
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SISTEM PROTEKSI PETIR EKSTERNAL FASILITAS INDUSTRI MINYAK DAN GAS PADA KILANG DUMAI, RIAU

Sistem proteksi petir fasilitas migas di Indonesia umumnya mengadopsi standar internasional seperti NFPA 780 dan IEC 62305. Namun, insiden kebakaran tangki tetap terjadi karena standar subtropis tersebut belum efektif mengantisipasi karakteristik petir tropis yang memiliki arus puncak dan kecuraman jauh lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem proteksi petir eksternal yang adekuat, menyimulasikan radius perlindungan berbasis parameter lokal, serta menyusun rekomendasi desain sebagai dasar standar nasional. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif-simulatif dengan menerapkan metode bola gelinding 3D menggunakan perangkat lunak Rhinoceros 3D pada 22 tangki di Kilang Dumai, Riau. Evaluasi dilakukan pada skenario Lightning Protection Level (LPL) III (10 kA) dan LPL IV (18 kA) yang dikalibrasi dengan kurva petir tropis Indonesia. Hasil menunjukkan konfigurasi terpilih secara optimal berhasil melindungi seluruh tangki melalui kombinasi FSM dan EMT yang memenuhi kriteria probabilitas perlindungan arus puncak masing-masing sebesar 95% dan 85% untuk kedua tingkat proteksi. Analisis tekno-ekonomis menunjukkan LPL IV memerlukan investasi Rp3.388.419.000, lebih efisien Rp336.719.000 dibanding LPL III yang cenderung overdesign. Parameter ini divalidasi oleh data sambaran aktual Riau (11,8 kA–28,83 kA). Sebagai kontribusi regulatif, seluruh parameter teknis ini diformulasikan menjadi Draft Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang Sistem Proteksi Petir pada Tangki Penyimpanan Minyak dan Gas guna mewujudkan kemandirian standardisasi industri vital nasional.

2026
👤 Penulis: Roni Septian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL BIOMASSA TANAMAN BAYAM (AMARANTHUS VIRIDIS) SEBAGAI RESPONS TERHADAP APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SECARA SOIL APPLICATION

Penurunan produktivitas tanaman hortikultura, khususnya bayam hijau (Amaranthus viridis), menjadi tantangan serius yang memerlukan solusi budidaya lebih efektif dan ramah lingkungan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura (2024), terjadi penurunan produktivitas hortikultura nasional sebesar 4,34%, yaitu dari 15.270.427 ton pada tahun 2022 menjadi 14.607.750 ton pada tahun 2023. Penurunan ini juga diperparah dengan berkurangnya luas panen bayam di Indonesia dari 47.049 ha menjadi 46.810 ha dalam periode yang sama. Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah penggunaan biostimulan alami dari ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) guna menunjang pertumbuhan tanaman tanpa ketergantungan pada pupuk kimia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi ekstrak daun kelor melalui tanah (soil application) dengan konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan, kandungan pigmen (klorofil dan karotenoid), serta hasil biomassa tanaman bayam, sekaligus menentukan konsentrasi optimalnya. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse Laboratorium Teknik IA, SITH ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari empat tingkat konsentrasi: B0 (kontrol), B1 (1:10), B2 (1:20), dan B3 (1:30), dengan lima kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Jika terdapat pengaruh nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kelor berpengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan pigmen, dan biomassa terutama pada fase vegetatif lanjut. Pada pengamatan 35 HST, tinggi tanaman dengan perlakuan biostimulan mencapai 36,33–37,00 cm, secara nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol yang hanya 31,63 cm. Selain itu, jumlah daun tertinggi mencapai 18 helai dan diameter batang mencapai 11,18 mm pada perlakuan optimal. Dari sisi hasil, biomassa v segar total tertinggi diperoleh pada perlakuan B2 (1:20) sebesar 51,93 g, meningkat signifikan dibanding kontrol yang sebesar 36,89 g. Berdasarkan hasil analisis statistik, konsentrasi B2 (1:20) diidentifikasi sebagai perlakuan paling optimal karena secara konsisten memberikan pengaruh positif terbaik terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan hasil biomassa. Penggunaan biostimulan ini terbukti efektif sebagai inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman bayam secara berkelanjutan

2026
👤 Penulis: Wynona Maisan Athaya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI KETAKINTEGRALAN SISTEM PERSAMAAN DIFERENSIAL NON-LINEAR DENGAN PENDEKATAN GELOMBANG BERJALAN

Pengujian keterintegralan suatu sistem pada umumnya memerlukan identifikasi struktur khusus yang terkait dengan keterintegralannya, seperti pasangan Lax, struktur bi- Hamilton, atau kuantitas konservatif, yang mana merupakan proses yang panjang dan sulit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji ketidakterintegralan suatu sistem melalui pendekatan yang lebih sederhana dibandingkan dengan uji keterintegralan. Uji dilakukan dengan memandang sistem sebagai sistem dinamik yang dapat diamati evolusinya terhadap waktu. Untuk melakukan hal tersebut, sistem akan ditransformasi dengan menggunakan ansatz gelombang berjalan untuk membentuk moving coordinate frame dan menghasilkan kondisi awal untuk mengintegrasikan persamaan diferensial secara numerik terhadap spasial menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dan Inverse Fast Fourier Transform (IFFT), dan terhadap waktu menggunakan Runge-Kutta Orde 4. Setelah itu, dilakukan simulasi satu gelombang dan simulasi interaksi dua gelombang dari formula yang sama untuk mengamati perilaku sistem setelah tumbukan. Sistem terintegralkan umumnya menunjukkan perilaku khusus tertentu. Oleh karena itu, apabila hasil simulasi menunjukkan perilaku yang menyimpang dari karakteristik tersebut, maka hal tersebut dapat dijadikan indikasi bahwa sistem yang ditinjau tidak terintegralkan.

2026
👤 Penulis: Nadira Khoirunnisa
🏷️ Persamaan Diferensial Non-Linier 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Simulasi Dinamis

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA DAN ENERGI BUDIDAYA TANAMAN BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L.) DENGAN MEDIA TANAM KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS)

Tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral tinggi sehingga banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, peningkatan produksi bayam merah masih menghadapi kendala berupa penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik pertanian. Salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam alternatif adalah limbah baglog jamur tiram (Pleurotus ostreatus) karena masih mengandung bahan organik dan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan kompos limbah baglog jamur tiram terhadap pertumbuhan, hasil biomassa, serta neraca massa dan energi pada budidaya bayam merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P0 (tanah + NPK), P1 (100% kompos limbah baglog), P2 (40% kompos + 60% tanah), dan P3 (60% kompos + 40% tanah) dengan enam kali pengulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, biomassa basah dan kering, rasio akar-tajuk, serta neraca massa dan energi sistem budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P0 menghasilkan pertumbuhan dan biomassa tertinggi secara keseluruhan. Namun, pada perlakuan berbasis kompos limbah baglog jamur tiram, perlakuan P3 menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dengan tinggi tanaman sebesar 30,46 ± 1,74 cm, jumlah daun sebanyak 12,89 ± 0,76 helai, luas daun sebesar 62,96 ± 4,72 cm2, kandungan klorofil sebesar 35,21 ± 0,66 mg/L, biomassa basah sebesar 20,13 ± 2,30 g, dan biomassa kering sebesar 1,60 ± 0,28 g. Selain itu, perlakuan P3 juga menunjukkan efisiensi neraca massa dan energi yang lebih baik dibandingkan perlakuan kompos lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi kompos limbah baglog jamur tiram dan tanah mampu memberikan hasil pertumbuhan, biomassa, serta efisiensi sistem budidaya terbaik pada perlakuan berbasis kompos sehingga berpotensi digunakan sebagai media tanam alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Kathlyn Lovina
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERAN PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN DALAM MENDORONG KINERJA ESG: STUDI KASUS PADA KONGLOMERASI JASA ALAT BERAT DI INDONESIA

Bagi perusahaan multi-entitas terutama pada sektor dengan risiko operasional, lingkungan, dan keselamatan kerja yang tinggi, kinerja ESG menjadi salah satu tolak ukur penting dalam memastikan keberlanjutan bisnis. Dalam konteks konglomerasi, tantangan utama dalam mencapai kinerja ESG yang baik secara konsisten terletak pada kemampuan organisasi dalam menerjemahkan arahan ESG di berbagai entitas dengan karakter bisnis yang berbeda. PT United Tractors Tbk (UT), sebagai korporasi multi-entitas yang menjalankan operasi melalui anak usaha lintas sektor, juga menghadapi tantangan yang serupa. Sustainability Index, yang menjadi indikator internal Grup UT dalam menilai kinerja ESG, menunjukkan bahwa klaster non-coal mining pada tahun 2024 mencapai 110,43%, lebih rendah dari target manajemen sebesar 125%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya heterogenitas kinerja ESG antar entitas, meskipun Grup UT telah memiliki struktur tata kelola ESG, cascading KPI, dan mekanisme pelaporan berjenjang dari tingkat operasional ke tingkat holding. Oleh karena itu, penelitian ini melihat performance gap bukan hanya sebagai persoalan capaian angka, tetapi sebagai indikasi adanya perbedaan mekanisme internal dalam mengubah pembelajaran ESG menjadi praktik yang konsisten. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana mekanisme Organizational Learning (OL) dan Knowledge Management (KM) membentuk heterogenitas kinerja ESG, sekaligus mengidentifikasi mekanisme internal yang menjelaskan persistensi gap antar entitas. Dalam penelitian ini, KM diposisikan sebagai mekanisme internal yang mengkonversi pembelajaran organisasi menjadi pengetahuan yang dapat disimpan, dicari, digunakan ulang, ditransfer, dan diperbarui. Studi ini menggunakan pendekatan qualitative single embedded case study pada tiga unit analisis sebagai representative analytical contrast, yaitu UT Holding sebagai fungsi tata kelola korporat, UTCM sebagai business unit operasional single-entity dengan ESG maturity yang relatif matang, dan PT Anindita Multi Industri (PT AMI; nama disamarkan untuk menjaga kerahasiaan) sebagai sub-holding multi-entity dengan portofolio yang heterogen. Data dikumpulkan melalui semi-structured interviews terhadap tujuh key informants dan review dokumen internal, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, cross-entity comparison, dan pattern matching terhadap kerangka konseptual OL–KM–ESG. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap perbedaan pola pembelajaran, pengelolaan pengetahuan, dan praktik ESG pada level korporat maupun operasional secara lebih utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola ESG dan KPI embedding di UT Group sudah relatif kuat, tetapi pembelajaran ESG belum secara konsisten dikonversi menjadi reusable organizational knowledge. Akar masalah ini termanifestasi dalam empat bentuk yang saling memperkuat, yaitu Vision-Internalization Asymmetry, Person-Dependent Capability, Knowledge Codification Gap, dan Cross-Entity Connectivity Gap. Knowledge Codification Gap diidentifikasi sebagai primary intervention lever karena menjelaskan mengapa pembelajaran, praktik baik, dan pengalaman korektif belum dapat direplikasi secara sistematis lintas entitas. Sebagai solusi bisnis, penelitian ini mengusulkan ESG Learning-to-Practice Mechanism dengan Codification Core sebagai engine utama. Mekanisme ini dijalankan melalui lima operating modules, yaitu Learning-to-Standard Pipeline, ESG Knowledge Registry, Cross-Entity Learning Forum, Structured Handover Protocol, dan Ownership and Refresh Routine. Solusi ini dirancang sebagai enabler-level intervention untuk memperkuat rutinitas ESG yang sudah ada, bukan membentuk layer tata kelola baru. Kontribusi penelitian ini terletak pada penjelasan empiris mengenai bagaimana OL dan KM bekerja dalam konteks ESG pada konglomerasi jasa alat berat di Indonesia, serta pada penempatan knowledge codification sebagai lever spesifik dalam hubungan OL–KM–ESG. Penelitian ini menggunakan selected entities sebagai representative analytical contrast, sehingga temuan ditujukan untuk analytical generalization, bukan statistical generalization.

2026
👤 Penulis: Tri Puji Astuti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KINERJA SISTEM AKUISISI DATA ASTROFISIKA OZT-ALTS OBSERVATORIUM ASTRONOMI ITERA LAMPUNG

Sistem akuisisi data astrofisika teleskop OZT-ALTS (Ofyar Zainuddin Tamin - Astelco Lunar Telescope System) di Observatorium Astronomi ITERA (OAIL) Lampung telah dievaluasi kinerjanya melalui tiga pendekatan terintegrasi: karakterisasi detektor secara in situ, pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann, dan pemodelan kinerja astronomis berbasis Signal-to-Noise Ratio (SNR). Detektor yang digunakan adalah kamera CMOS ZWO ASI533MC Pro (sensor Sony IMX533) yang dikarakterisasi pada variasi konfigurasi gain mengacu pada standar Abbott (1995) dan European Machine Vision Association (2021). Hasil karakterisasi detektor pada konfigurasi gain 100 menunjukkan sistem gain ???? = 0,2568 ?????/????????????, read-out noise ???????????????????? = 1,487 ????? ????????????, dark current ???? = 0,0637 ?????/ ????/???????????? pada suhu 0°C, Non-Linearitas maksimum ???????????????????? = 1,92%, full-well capacity ? ????? = 12.495 ?????, Photo Response Non-Uniformity (PRNU) piksel murni ???????? = 1,072%, dan Dynamic Range ???????? = 78,49 ???????? atau ~13,04 ???????????????? (berselisih hanya 0,56 stop dari spesifikasi pabrikan). Analisis stabilitas temporal bias menunjukkan 95% konfigurasi gain (0–295) memenuhi seluruh kriteria EMVA (2021). Pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann menghasilkan Hartmann Test Constant ???????????? = 0,5095", wavefront error ???????????????????????? = 0,0235????, dan Strehl ratio ???? = 0,9785, mengklasifikasikan sistem optik OZT-ALTS sebagai difraksi-terbatas dengan margin lebih dari tiga kali lipat di atas kriteria Maréchal (????/14). Depth of focus terukur sebesar ±66,3 ?m (±31,6 steps focuser), dan analisis encircled energy menghasilkan ? ?????80 = 0,646? (model Airy) dan 0,751? (model King–Moffat) yang memperhitungkan pengaruh seeing. Pemodelan kinerja astronomis berbasis SNR menggunakan parameter detektor hasil karakterisasi in situ menghasilkan limiting magnitude ??????? = 18,43 ???????????? (???????????? ? 5, ???? = 300 ????, langit gelap, filter UV-IR Cut), dengan rentang 16,82–19,47 mag bergantung pada waktu eksposur dan kecerahan langit. Analisis kontribusi noise pada kondisi pengamatan riil mengidentifikasi dark current sebagai komponen dominan (65,0% varians total), konsekuensi dari akumulasi termal di lingkungan tropis Lampung. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa dark current merupakan parameter terkritis (??????????? hingga +0,67 mag apabila dikurangi), diikuti oleh potensi peningkatan dari perbaikan seeing (??????????? hingga +1,54 mag pada full widht at half maximum 0,5 arcsec). Berdasarkan seluruh hasil tersebut, konfigurasi gain 100 dikonfirmasi sebagai konfigurasi referensi optimal dengan strategi sub-eksposur ?300 s dan stacking untuk objek redup. Program pengamatan yang paling sesuai dengan kapabilitas sistem mencakup fotometri bintang variabel, kurva cahaya asteroid Near-Earth Object (NEO), transit eksoplanet, dan monitoring Active Galactic Nucleus (AGN). Optimasi sistem pendinginan Thermo Electric Cooler (TEC) untuk menurunkan suhu sensor ke ?10°C atau lebih rendah diidentifikasi sebagai intervensi tunggal dengan dampak terbesar terhadap kinerja sistem, berpotensi meningkatkan m??? sebesar +0,3 hingga +0,7 mag.

2026
👤 Penulis: Syifa Nailah Muazarah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 9 dari 418
💬