📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENENTUAN ZENITH TROPOSPHERIC DELAY MENGGUNAKAN TEKNIK GPS DAN PERMASALAHANNYA

Zenith Tropospheric Delay (ZTD) dapat ditentukan dengan teknik GPS. Informasi tersebut diperlukan untuk mengkoreksi efek troposfer pada penentuan posisi geodetik 3 dimensi dengan GPS, terutama dalam komponen tinggi. Teknik GPS ini mendapatkan nilai ZTD dengan sedemikian rupa mengkoreksi dan mengeliminasi kesalahan dan bias lainnya sehingga hanya tertinggal delay troposfer. Salah satu faktor yang mempengaruhi akurasi pengestimasian ZTD dengan GPS adalah informasi orbit yang digunakan. Pada penelitian ini diteliti pemanfaatan informasi orbit teliti yang dikenal dengan istilah ultra rapid ephemeris. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ultra rapid ephemeris memiliki kualitas mendekati akurasi pengestimasian nilai ZTD mengunakan final ephemeris. Diharapkan hasil ini dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian serupa di masa akan datang.

2026
👤 Penulis: DHOTA PRADIPTA (NIM 15104040)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK HIPS

Survei batimetri merupakan survei yang bertujuan untuk memetakan topografi dasar perairan. Seiring dengan kemajuan teknologi, metode survei batimetri ikut mengalami perkembangan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk akuisisi data kedalaman ialah multibeam echosounder, dimana instrumen ini memanfaatkan teknologi gelombang akustik. Karena terdiri atas sejumlah transduser yang memiliki pancaran gelombang akustik berbentuk kipas, multibeam echosounder mampu memetakan dasar perairan tanpa adanya gap. Volume data yang besar hasil survei multibeam, menjadikan pengolahan data secara manual menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, diperlukan perangkat lunak dan perangkat keras komputer yang khusus ditujukan untuk pengolahan data multibeam. Salah satu perangkat lunak ini adalah Caris HIPS (Computer Aided Resource Information System, Hydrographic Information Processing System). Skripsi ini membahas mengenai kemampuan pengolahan data multibeam melalui modul-modul yang disediakan oleh perangkat lunak HIPS.

2026
👤 Penulis: BIMO PARIKESIT (NIM 15102025)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Kompleks 🏷️ Teknologi Gelombang Akustik

PENGEMBANGAN SISTEM GPS REALTIME UNTUK PENGAMATAN TROPOSFER DAN IONOSFER

Pada perambatannya, sinyal GPS melewati lapisan ionosfer dan troposfer yang mempengaruhi kecepatan dan arah dari sinyal tersebut. Perubahan kecepatan dan arah sinyal GPS mempengaruhi jarak ukuran yang dihasilkan dan menyebabkan kesalahan pada koordinat yang dihasilkan. Dengan teknik inverse problem dari penentuan posisi dengan GPS maka bisa didapat besarnya bias pada kedua lapisan atmosfer di atas dan secara stokastik karakter kedua lapisan tersebut dapat diestimasi dengan diwakili oleh nilai PWV (Precipitable Water Vapour) pada troposfer dan TEC (Total Electron Content) pada ionosfer. Dengan memanfaatkan data pengamatan GPS realtime stasiun CORS (Continuously Operating Reference Station) maka bisa dibuat sebuah sistem otomatisasi dengan algoritma pemrograman yang berbasiskan waktu sehingga bisa mendapatkan hasil berupa karakter dari troposfer dan ionosfer secara realtime mengingat bahwa nilai PWV dan TEC bervariasi secara temporal. Pembahasan akan diarahkan pada masalah pembangunan sistem realtime GPS tersebut beserta mekanisme dan algoritmanya yang diawali dengan proses akuisisi data, persiapan pengolahan, pemprosesan data, dan visualisasi data hasil berupa nilai dari PWV dan TEC pada kondisi realtime dengan segala kelebihan dan kelemahan dari hasil yang diperoleh.

2026
👤 Penulis: ARI YANUAR NUGRAHA (NIM 15104020)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KAJIAN PENCOCOKAN CITRA DIGITAL SETELAH LOW PASS FILTER DAN SETELAH HIGH PASS FILTER DENGAN TEKNIK KORELASI

Transformasi Fourier telah berkembang menjadi alternatif solusi untuk memecahkan masalah dalam beberapa bidang keilmuan. Salah satunya pada otomatisasi fotogrametri yang berhubungan dengan pencocokan citra secara digital. Fast Fourier Transform merubah citra dari domain spasial menjadi citra dalam domain frekuensi. Citra dalam domain frekuensi dapat memberikan informasi spektrum sinyal suatu citra. Informasi spektrum sinyal dapat memberikan informasi suatu citra yang tidak terlihat secara visual dalam domain spasial, sehingga lebih memudahkan dalam melakukan proses pengolahan, analisis, dan perbaikan suatu citra. Terdapat beberapa metode perbaikan citra dalam domain frekuensi yang diantaranya adalah low pass filter dan high pass filter. Dengan data citra yang telah dilakukan filtering dalam domain frekuensi, nilai korelasi pada pencocokan citra dapat ditingkatkan.

2026
👤 Penulis: AHMAD NIAM AZMY (NIM 15103034)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Citra Digital 🏷️ Hidrologi

STUDI IMPLEMENTASI PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DAERAH (Studi Kasus Kabupaten Bandung)

Abstrak : Kabupaten Bandung merupakan daerah otonom dimana mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Kabupaten Bandung dibatasi oleh Rencana Kabupaten Bandung Barat,Kota Bandung ,Kabupaten Subang Kabupaten Purwakarta,Kabupaten Cianjur dengan pemasangan pilar batas utama sebanyak 70 pilar batas utama (PBU).Salah satu dari tahap penetapan dan penegasan yang terdapat pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD). Penentuan posisi pilar batas Kabupaten Bandung ini dilakukan dengan menggunakan alat GPS tipe geodetik dengan metode penentuan posisi yang digunakan adalah metode radial. Pengolahan data GPS yang dilakukan sebanyak 64 titik pilar batas utama dengan tujuan untuk membandingkan hasil koordinat dengan hasil pengolahan tim batas Kabupaten Bandung sehingga dapat melihat kesesuaian koordinat titik pilar batas Kabupaten Bandung. Hasil implementasi Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD) Kabupaten Bandung ini kurang sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD) dan secara umum hasil pengolahan data GPS pilar batas Kabupaten Bandung memiliki selisih hasil koordinat yang relatif sama, hanya perbedaan yang sangat besar + 52 m pada titik pilar batas utama PBU003 dan PBU012 +/- 4 m dengan pengolahan yang dilakukan oleh sendiri untuk data checking kontrol kualitas.

2026
👤 Penulis: Lukas Lukman : (NIM 151 03 043)
🏷️ Geodesi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL BIOKOMPOSIT FOTOKATALIS TIO2/ZNTIO3/ALGA SERTA APLIKASINYA UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH ZAT WARNA

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor manufaktur yang mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,64% pada kuartal I tahun 2025 (yoy) dan berkontribusi 0,99% terhadap PDB nasional. Dalam proses produksi tekstil, zat warna sintetis lebih banyak digunakan dibandingkan zat warna alami karena harganya lebih murah dan menghasilkan warna yang lebih cerah. Salah satu zat warna yang umum dipakai adalah metil jingga, yaitu zat warna azo anionik yang bersifat karsinogenik, toksik, mutagenik, serta mudah larut dalam air. Pengelolaan limbah zat warna yang tidak tepat dapat menimbulkan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan metode pengolahan yang efektif dan efisien. Metil jingga dapat ditangani melalui berbagai metode seperti adsorpsi, koagulasi, flokulasi, proses biologis, ekstraksi, enzimatik, maupun filtrasi. Namun, metode-metode tersebut memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain konsumsi energi yang tinggi, efisiensi proses rendah, terbentuknya lumpur (sludge), waktu paruh yang pendek, fouling pada membran, terbentuknya limbah sekunder, kesulitan regenerasi, serta biaya yang relatif mahal, sehingga dianggap kurang ekonomis. Metode fotokatalisis memiliki keunggulan dibanding metode konvensional karena produk yang dihasilkan relatif tidak beracun, tidak menghasilkan lumpur (sludge), serta material fotokatalis dapat digunakan kembali. Reaksi fotokatalisis membutuhkan material semikonduktor, di antaranya TiO? yang memiliki energi celah pita sebesar 3,2 eV sehingga hanya aktif di bawah sinar UV. Mengingat sinar matahari hanya mengandung sekitar 5% UV dan 45% cahaya tampak, diperlukan modifikasi TiO? agar dapat bekerja di bawah cahaya tampak. Salah satu pendekatan adalah dengan menambahkan oksida logam lain. Pada penelitian ini dipilih ZnTiO?, yang bersifat fotoaktif dan stabil pada suhu tinggi, sehingga membentuk material komposit TiO?/ZnTiO?. Komposit tersebut disintesis menggunakan metode one- step sol-gel yang sederhana, dapat dilakukan pada suhu ruang dan tekanan atmosfer, serta tidak memerlukan instrumen rumit. Selain itu, efek suhu kalsinasi terhadap karakteristik material dan pengaruh sistem aerasi selama proses fotokatalisis turut dipelajari. Di sisi lain, mikroalga Chlorella vulgaris digunakan untuk membentuk biokomposit fotokatalis TiO?/ZnTiO?/alga. Mikroalga ini dipilih karena hidup di air tawar, uniseluler, mudah dikultivasi, serta memiliki kandungan klorofil tinggi yang mampu menghasilkan spesies reaktif tambahan melalui fotosintesis, sehingga dapat meningkatkan efisiensi fotokatalisis. Material baru TiO?/ZnTiO?/alga berhasil dikembangkan dengan memanfaatkan kemudahan sintesis TiO?/ZnTiO? serta kelimpahan dan kemudahan kultivasi mikroalga sebagai representasi sumber energi terbarukan yang menjanjikan. Dalam penelitian ini, komposit TiO?/ZnTiO? disintesis melalui metode sintesis sol-gel satu langkah (one-step sol-gel) menggunakan titanium (IV) etoksida dan seng asetat dihidrat sebagai prekursor, etanol-air sebagai pelarut, serta PVP sebagai agen penstabil dan pengarah struktur. Biokomposit fotokatalis TiO?/ZnTiO?/alga kemudian difabrikasi dengan teknik suspensi menggunakan mikroalga Chlorella vulgaris. Analisis SEM-EDX menunjukkan bahwa baik TiO?/ZnTiO? maupun TiO?/ZnTiO?/alga memiliki morfologi berbentuk bola (spherical) dengan distribusi unsur yang homogen, menandakan terbentuknya komposit dan biokomposit yang baik. Difraktogram XRD mengonfirmasi keberadaan fasa TiO?-anatase, TiO?-rutil, dan ZnTiO?, dengan ZnTiO? mulai terbentuk pada suhu kalsinasi ?600 ?. HRTEM-SAED memberikan informasi mengenai struktur kristal dan orientasi pada skala nanometer. Selain itu, analisis adsorpsi-desorpsi N? menunjukkan bahwa material termasuk tipe IV menurut klasifikasi IUPAC, dengan loop histeresis tipe H3. Sementara itu, hasil analisis energi celah pita menggunakan UV-DRS menunjukkan nilai 3,10–2,95 eV, yang menandakan bahwa material hasil sintesis telah mendekati area kerja di bawah sinar tampak. Reaksi fotokatalisis dilakukan menggunakan dua jenis reaktor, yaitu immerse- illumination dengan lampu UV 300 W dan reaktor dengan lampu merkuri 160 W. Hasil optimasi parameter menunjukkan kondisi optimum sebagai berikut: material terbaik adalah TiO?/ZnTiO? (TZ600), pH optimum 4, dosis material 1,2 g/L (reaktor UV 300 W) dan 100 mg (reaktor lampu merkuri 160 W), serta konsentrasi analit 4 ppm. Proses adsorpsi pada material mengikuti kinetika orde dua semu dengan konstanta laju reaksi (k) sebesar 3,28 x 10-1 g mg-1 min-1. Pada reaktor UV 300 W, TiO? komersial menunjukkan kinerja lebih baik (k = 4,66 x 10-1 jam?¹) dibandingkan TiO?/ZnTiO? sebesar 3,84 x 10-1 jam?¹, dan TiO?/ZnTiO?/alga sebesar 3,42 x 10-2 jam?¹. Namun, pada reaktor dengan lampu merkuri 160 W, baik TiO?/ZnTiO? (k = 2,93 x 10-2 menit-1) maupun TiO?/ZnTiO?/alga (k = 3,18 x 10-2 menit-1) menunjukkan kinerja lebih tinggi dibandingkan TiO? komersial (k = 1,53 x 10-3 menit-1). Studi aktivitas fotokatalisis TiO?/ZnTiO? dan TiO?/ZnTiO?/alga dilakukan pada kondisi reaksi optimum. Uji spesi aktif menunjukkan bahwa radikal hidroksil (•OH) merupakan spesi dominan pada fotokatalisis oleh TiO?/ZnTiO?, sedangkan radikal superoksida (•O??) lebih dominan pada TiO?/ZnTiO?/alga. Uji keberulangan menunjukkan bahwa TiO?/ZnTiO? dapat digunakan hingga empat siklus tanpa kehilangan performa signifikan, sementara TiO?/ZnTiO?/alga mengalami penurunan aktivitas sejak siklus awal. Pengujian pada sampel nyata limbah sungai di sekitar pabrik tekstil menggunakan metode spike memperlihatkan bahwa material hasil sintesis mampu mendegradasi metil jingga secara efektif. Dengan demikian, komposit fotokatalis TiO?/ZnTiO? dan biokomposit fotokatalis TiO?/ZnTiO?/alga berpotensi besar sebagai material fotokatalis yang efisien, selektif, mudah difabrikasi, dan aplikatif untuk pengolahan limbah zat warna di lingkungan perairan

2025
👤 Penulis: Siti Oryza Sativa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN KANDIDAT VAKSIN TERAPEUTIK MULTIEPITOP BERBASIS PROTEIN E1 DAN E2 HUMAN PAPILLOMAVIRUS TIPE 16, 18, 45, DAN 52 MELALUI PENDEKATAN IN SILICO DAN UJI ANTIGENISITAS

Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan. Data Global Cancer Observatory (GCO) tahun 2022 menunjukkan bahwa kanker serviks menempati peringkat keempat penyebab kematian pada perempuan di dunia, dengan sekitar 662.301 kasus baru dan 348.874 kematian. Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua setelah kanker payudara dengan 66.271 kasus baru dan lebih dari 36.964 kematian setiap tahunnya. Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi, terutama tipe 16, 18, 45, dan 52. Kondisi ini menegaskan pentingnya pengembangan strategi terapeutik yang lebih efektif. Vaksin profilaksis yang tersedia (Cervarix, Gardasil, Gardasil 9) terbukti mampu mencegah infeksi HPV baru, tetapi tidak efektif terhadap infeksi yang telah berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi protein E1 dan E2 HPV sebagai kandidat vaksin terapeutik multiepitop yang mampu memicu respons imun seluler terhadap infeksi HPV yang telah terjadi. Protein E1 berperan sebagai helikase DNA esensial dengan laju mutasi yang rendah, sedangkan E2 berfungsi sebagai regulator transkripsi yang menekan ekspresi onkoprotein E6 dan E7. Kedua protein ini diekspresikan secara dominan pada tahap awal infeksi HPV dan memiliki peran penting dalam replikasi serta regulasi genetik virus, sehingga menjadikannya target imunoterapeutik yang menjanjikan. Perancangan kandidat vaksin dilakukan melalui pendekatan in silico berbasis reverse vaccinology dan selanjutnya divalidasi antigenisitasnya melalui analisis in vitro. Pendekatan reverse vaccinology diawali dengan prediksi epitop antigenik secara komputasional, kemudian dilakukan penyaringan untuk memastikan bahwa urutan epitop tidak menunjukkan homologi signifikan dengan protein manusia. Prediksi epitop sel T sitotoksik (CTL) mengidentifikasi empat kandidat dengan afinitas pengikatan tinggi terhadap molekul HLA kelas I, sedangkan prediksi epitop sel T helper (HTL) menghasilkan sembilan kandidat dengan afinitas tinggi terhadap HLA kelas II serta potensi induksi sitokin kunci, yaitu IL-2 dan IFN-?. Semua epitop terpilih divalidasi lebih lanjut dan terbukti bersifat antigenik, nonalergenik, serta nontoksik. Kombinasi epitop CTL dan HTL diharapkan dapat memicu aktivasi sinergis sel T CD8? dan CD4?, sehingga memperkuat respons imunitas adaptif terhadap sel yang terinfeksi HPV. Kandidat vaksin multiepitop dirancang dengan peptida penghubung untuk menjaga fleksibilitas dan presentasi epitop yang efisien. Konstruksi akhir terdiri dari 211 residu asam amino dengan massa molekul sekitar 22,7 kDa. Analisis sifat fisikokimia secara in silico menunjukkan bahwa konstruksi vaksin memiliki titik isoelektrik (pI) 9,83, indeks alifatik 74,45 yang mengindikasikan kestabilan termal, serta indeks ketidakstabilan 25,7 yang dikategorikan stabil. Pemodelan struktur tiga dimensi menunjukkan bahwa elemen struktur sekundernya didominasi oleh ?-sheet (42,65%) dan random coil (40,28%), yang memberikan fleksibilitas konformasi pada molekul. Validasi stereokimia menunjukkan bahwa lebih dari 93% residu berada pada wilayah yang disukai dalam plot Ramachandran, mengindikasikan kualitas geometri model yang baik. Nilai Z-score ProSA sebesar ?3,04 berada dalam rentang yang umum untuk protein alami dengan ukuran sebanding, sehingga model yang dihasilkan dapat dianggap memiliki kualitas struktural yang reliabel. Stabilitas dan kekuatan interaksi antara kandidat vaksin multiepitop dan reseptor imun dianalisis menggunakan simulasi dinamika molekul selama 100 ns. Energi bebas pengikatan kompleks kemudian dihitung dengan metode MM/GBSA untuk menilai kekuatan interaksi molekul. Hasil analisis menunjukkan bahwa kompleks vaksin–TLR4 dan vaksin–BCR memiliki energi bebas pengikatan masing-masing sebesar ?66,8 kcal·mol?¹ dan ?82,1 kcal·mol?¹, yang mengindikasikan interaksi kuat dan stabil. Hasil in silico ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin multiepitop memiliki potensi imunogenisitas yang baik. Simulasi respon imun menunjukkan pola aktivasi yang konsisten, diawali dengan peningkatan IgM pada fase awal yang kemudian bertransisi menjadi dominasi IgG1 dan IgG2 sebagai tanda terjadinya class switching serta pematangan respon imun adaptif. Aktivasi ini disertai peningkatan populasi sel B memori yang berperan dalam perlindungan jangka panjang dan sel T sitotoksik (CD8?) yang berfungsi mengeliminasi sel terinfeksi HPV. Selain itu, produksi sitokin proinflamasi seperti IFN-?, IL-2, dan TNF-? meningkat secara signifikan, mencerminkan polarisasi respon imun tipe Th1 yang esensial bagi imunitas seluler terhadap infeksi virus maupun sel kanker. Hasil ini sejalan dengan prediksi interaksi kandidat vaksin dengan BCR dan MHC, yang menunjukkan kemampuannya dalam menstimulasi respon humoral dan seluler secara sinergis, sehingga mendukung potensi kandidat vaksin multiepitop berbasis E1/E2 sebagai vaksin terapeutik HPV yang efektif. Kandidat vaksin multiepitop hasil desain kemudian diekspresikan secara in vitro melalui kloning gen kandidat ke plasmid pET30a dan ekspresi pada E. coli ArcticExpress (IPTG 0,5 mM; 10 °C; 20 jam). Selanjutnya kandidat vaksin multiepitop yang diperoleh dimurnikan protein rekombinan dengan kromatografi afinitas Ni-NTA sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 819 µg/mL. Uji antigenisitas menggunakan metode indirect ELISA memperlihatkan pengenalan spesifik oleh antibodi primer Anti-HPV16 E1+E4 (Abcam, ab20190) dan antibodi sekunder Rabbit Anti-Mouse IgG H&L (HRP) (Abcam, ab6728) yang ditunjukkan oleh kenaikan absorbansi pada 450 nm. Hasil ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin multiepitop dapat mempertahankan sifat antigeniknya setelah diekspresikan pada sistem bakteri. Secara keseluruhan, bukti komputasional yang diperoleh melalui analisis imunoinformatika, pemodelan molekuler, dan simulasi dinamika molekul, serta verifikasi awal secara in vitro, memberikan dukungan kuat terhadap kandidat vaksin multiepitop HPV berbasis protein E1/E2. Hasil penelitian ini telah memberikan landasan ilmiah yang kuat dengan menunjukkan potensi stabilitas dan antigenisitas kandidat vaksin multiepitop berbasis E1/E2, sehingga memperkuat urgensi untuk melanjutkannya ke tahap penelitian uji in vivo dan praklinis dengan pendekatan eksperimental yang lebih komprehensif sebelum menuju uji klinis. Hasil penelitian ini tidak hanya menegaskan potensi kandidat vaksin yang dirancang, tetapi juga dapat membuka jalan bagi pengembangan vaksin terapeutik HPV yang hingga kini belum tersedia secara klinis. Dengan demikian, penelitian ini berperan sebagai langkah awal dalam pengembangan strategi vaksinasi terapeutik untuk pengendalian kanker serviks, serta menjadi landasan bagi studi lanjutan pada tahap pengembangan berikutnya

2025
👤 Penulis: Rizarullah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Imunologi

SINTESIS HIJAU METAL ORGANIC FRAMEWORKS ZIRKONIUM 1,3,5-BENZENA TRIKARBOKSILAT TERMODIFIKASI NANOPARTIKEL KOBALT OKSIDA SEBAGAI BIOSENSOR SURFACE PLASMON RESONANCE UNTUK DETEKSI ANTIGEN CFP-10

Tuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Mtb.) masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di Indonesia dan dunia. Penyakit ini pada umumnya menyebar melalui droplet berisi Mtb. di udara dengan sumber utama orang dengan TB aktif dan belum diobati. Penyakit ini akan menyerang sistem pernafasan manusia dengan merusak jaringan paru-paru dan dapat berakibat kematian jika tidak cepat ditangani. Sementara itu, metode diagnostik konvensional seperti ELISA, PCR, fluorescent assay, dan flow cytometry umumnya memerlukan waktu analisis yang panjang, instrumen kompleks, serta biaya tinggi. Teknologi biosensor berbasis surface plasmon resonance (SPR) menawarkan deteksi realtime, tanpa label analit, dan kuantitatif, namun performanya sangat ditentukan oleh rekayasa antarmuka permukaan chip, terutama terkait densitas situs ikat bioreseptor, stabilitas lapisan, serta optical loss. Penelitian ini bertujuan mengembangkan biosensor SPR berbasis komposit CoxOy/MOF-808 yang disintesis melalui metode yang lebih ramah lingkungan sebagai platform deteksi protein CFP-10 Mtb. CFP-10 merupakan antigen sekresi awal biomarker spesifik Mtb. yang tidak dijumpai pada Mycobacterium nontuberkulosis, sehingga sangat potensial untuk deteksi dini. Tujuan penelitian ini meliputi: (1) memperoleh prosedur dan parameter sintesis refluks hidrotermal berpelarut air untuk menghasilkan MOF-808 oktahedral dengan luas permukaan spesifik tinggi dan ukuran partikel kecil; (2) mensintesis komposit CoxOy/MOF- 808 melalui metode poliol sehingga nanopartikel kobalt oksida dapat menyelimuti permukaan dan sebagian terinkorporasi ke dalam kerangka MOF-808; (3) memproduksi chip biosensor SPR emas/CoxOy/MOF-808/CFP-10 antibodi yang seragam dan stabil; serta (4) menganalisis pengaruh material MOF-808, CoxOy, dan komposit dari kedua material tersebut (CoxOy/MOF-808) yang divariasikan perbandingan massa dari kedua material tersebut terhadap kinerja biosensor dalam mendeteksi CFP-10, meliputi sensitivitas, rentang linier, limit of detection (LoD), selektivitas, stabilitas, dan reprodusibilitas. MOF-808 disintesis menggunakan prekursor ZrOCl2·8H2O dan H3BTC melalui metode refluks hidrotermal berpelarut air dengan asam asetat sebagai modulator, sedangkan komposit CoxOy/MOF-808 disiapkan menggunakan metode poliol dalam etilen glikol dengan prekursor kobalt dan PVP sebagai penstabil, menghasilkan tiga rasio massa CoxOy/MOF-808, yaitu 1CM8, 2CM8, dan 3CM8 dengan rasio kobalt:MOF-808 masing-masing sebesar 1:1,5; 1:1; dan 1:0,5. Material yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan XRD, FTIR, Raman, UV– Vis, BET, dan SEM–EDS untuk mengonfirmasi struktur kristal, gugus fungsi, sifat optik, tekstur pori, dan morfologi permukaan. Material kemudian dideposisikan tipis dan merata di atas chip emas menggunakan metode spin coating, diikuti pembentukan monolapis 11-mercaptoundecanoic acid, aktivasi EDC/NHS, imobilisasi antibodi CFP-10 (CFP-10Ab), dan blocking dengan BSA. Pengujian SPR dilakukan menggunakan instrumen NanoSPR6 dengan aliran buffer Tris–HCl dan variasi konsentrasi CFP-10 50–500 ng/mL. Data ?RU dianalisis menggunakan model adsorpsi isotherm Langmuir–Freundlich dan regresi linier untuk memperoleh parameter afinitas, sifat kooperatif adsorpsi, sensitivitas, serta LoD. Hasil XRD menunjukkan bahwa pada sampel komposit CoxOy/MOF-808, struktur MOF-808 masih mempertahankan keteraturan bidang (111), (113), dan (222) meskipun kehadiran fase CoxOy bersifat lebih amorf, mengindikasikan bahwa inkorporasi kobalt terjadi tanpa menghancurkan kerangka utama MOF-808. Karakterisasi FTIR dan Raman mengonfirmasi keberadaan gugus karboksil yang melimpah serta pita fingerprint logam oksida yang kuat pada material komposit, menggambarkan keseimbangan antara situs karboksil yang diperlukan untuk biokonjugasi antibodi dan situs logam berperan dalam peningkat stabilitas sensor. Spektrum UV–Vis menunjukkan absorbansi yang sangat rendah pada wilayah operasi laser SPR, sehingga optical loss minimal. Analisis BET mengungkapkan luas permukaan spesifik 1CM8 sebesar 267,4 m²/g dengan porositas mayoritas ~3,5 nm, yang menyediakan antarmuka berpori untuk mendukung imobilisasi dan distribusi bioreseptor. Citra SEM-EDS untuk sampel 1CM8 menunjukkan partikel oktahedral dengan sudut membulat dan ukuran rata-rata ~906,9 nm dengan distribusi kobalt yang berkemungkinan berada baik pada kerangka maupun permukaan MOF-808. Pengujian SPR menunjukkan bahwa seluruh chip termodifikasi menghasilkan sinyal ?RU yang lebih tinggi dibandingkan chip emas tanpa material pada rentang 50–500 ng/mL CFP-10, menandakan keberhasilan modifikasi permukaan dalam meningkatkan jumlah situs ikat antibodi. Fitting model Langmuir–Freundlich menunjukkan bahwa proses adsorpsi CFP-10 di antarmuka chip/antibodi bersifat kooperatif, sejalan dengan kemungkinan terjadinya restrukturisasi hidrasi dan perubahan lingkungan permukaan setelah pengikatan antigen awal. Inkorporasi kobalt pada MOF-808 secara umum meningkatkan stabilitas sensor namun disertai penurunan sebagian densitas gugus karboksil, sehingga menimbulkan trade-off antara peningkatan situs aktif logam dan kemampuan biokonjugasi. Di antara seluruh variasi, chip emas yang dideposisikan dengan material 1CM8 menunjukkan komposisi paling optimum dengan sensitivitas 0,49504 ?RU/ng/mL pada rentang linier 50–350 ng/mL, LoD sekitar 2,30 ng/mL, kemampuan mempertahankan ~54% sinyal awal setelah empat minggu penyimpanan dan pengujian berkala, serta selektivitas yang baik terhadap CFP-10 dibandingkan interferen umum ditemui dalam darah manusia seperti glukosa, asam urat, asam askorbat, dan urea. Dibandingkan dengan biosensor SPR untuk deteksi biomarker Mtb. dalam literatur, performa biosensor berbasis komposit CoxOy/MOF-808 ini berada pada kisaran yang kompetitif, dengan keunggulan tambahan berupa penggunaan rute sintesis material yang dapat diskalakan dan lebih ramah lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan toksik.

2025
👤 Penulis: Evan Fajri Mulia Harahap
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Biorespon

KAJIAN BIOKIMIA DAN STRUKTUR ?-AMILASE REKOMBINAN BMAN1 DARI BACILLUS MEGATERIUM NL3

Pati merupakan biopolimer alami yang berperan penting sebagai cadangan energi pada tanaman dan tersimpan dalam bentuk granula di biji, akar, serta umbi. Pati tersusun atas dua komponen utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Pati memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dihidrolisis secara enzimatis menjadi gula sederhana yang berfungsi sebagai bahan baku pada produk pangan, farmasi, tekstil, maupun bioetanol. ?-Amilase (1,4-?-D-glukan-glukanohidrolase, EC 3.2.1.1) adalah salah satu enzim penghidrolisis pati yang paling banyak digunakan. Enzim ini memutus ikatan ?-1,4-glikosidik pada rantai polisakarida sehingga menghasilkan oligosakarida linear maupun bercabang. Menurut basis data CAZy (Carbohydrate-Active enZyme), sebagian besar ?-amilase dikelompokkan dalam keluarga glikosida hidrolase GH 13. Keluarga GH13 dicirikan oleh keberadaan triad katalitik lestari, yaitu aspartat sebagai nukleofil, glutamat sebagai donor proton, dan aspartat kedua sebagai penstabil keadaan transisi. Enzim ini juga memiliki domain katalitik berbentuk (????/????)8-barrel dan conserved sequence regions (CSRs) yang khas. Berdasarkan kemiripan urutan dan fungsi biokimia, GH13 terbagi menjadi 49 subkeluarga, salah satunya adalah GH13_45. Beberapa anggota GH13_45 yang telah dipelajari adalah AmyA, Gt-amyII, ASKA, ADTA, BaqA, dan BmaN1. BmaN1, ?-amilase dari Bacillus megaterium NL3, memiliki kemampuan untuk mendegradasi pati mentah. Anggota subkeluarga GH13_45 mampu menghidrolisis pati mentah tanpa domain pengikat pati (starch-binding domain, SBD), sehingga diperkirakan memiliki mekanisme alternatif melalui surface binding sites (SBS). Hasil kajian bioinformatik menunjukkan bahwa BmaN1 memiliki dua keunikan dibandingkan dengan kebanyakan amilase dari subkeluarga GH13_45, yaitu keberadaan ujung domain C yang kaya dengan residu aromatik lestari dan triad katalitik termodifikasi yang terdiri atas Asparta–Glutamat–Histidin menggantikan Aspartat–Glutamat–Aspartat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran 45 residu ujung domain C BmaN1 terhadap aktivitas dan kestabilan enzim, serta mempelajari residu Asp203, Glu231, His294, dan Lys202 yang terdapat pada kantung katalitik BmaN1. Penelitian dilakukan melalui pendekatan eksperimen yang meliputi ekspresi, pemurnian, serta karakterisasi biokimia BmaN1 dan BmaN1?C, serta konstruksi mutan katalitik BmaN1?C (Asp203Ala, Glu231Gln, His294Asp, Lys202Ala, dan Lys202Asp). Di sisi lain, pendekatan in silico melibatkan pemodelan struktur tiga dimensi, penambatan substrat analog akarbosa, serta simulasi dinamika molekul untuk memahami dampak mutasi terhadap interaksi enzim-substrat. BmaN1 diekspresikan dalam bentuk badan inklusi dengan ukuran sekitar 56 kDa, sedangkan BmaN1?C (~49 kDa) lebih banyak ditemukan pada fraksi terlarut. Pemurnian melalui kromatografi afinitas Ni-NTA menghasilkan protein dengan aktivitas spesifik 1,54 ± 0,23 U/mg untuk BmaN1 yang sudah mengalami pelipatan ulang dan 1,69 ± 0,16 U/mg untuk BmaN1?C. Kedua enzim memiliki pH dan suhu optimum yang sama (pH 6,5 dan 50 °C), aktif pada rentang pH 4,5–9,5, serta stabil pada suhu 40–80 °C. Uji degradasi pati mentah menunjukkan bahwa BmaN1 mampu mengadsorpsi pati jagung dan singkong dengan tingkat adsorpsi masing-masing 34% dan 41%. Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan BmaN1 dalam menghidrolisis pati mentah jagung dan singkong adalah 6,92 ± 2,30 mM dan 8,02 ± 1,71 mM, dengan persen derajat hidrolisis masing-masing sebesar 3,1% dan 3,6%. Sebaliknya, BmaN1?C tidak mampu mengadsorpsi pati mentah, meskipun tetap aktif terhadap pati larut. Hal ini menunjukkan bahwa 45 residu C-terminal berperan penting dalam interaksi dengan granula pati. Karakterisasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa BmaN1?C lebih stabil daripada BmaN1. Setelah inkubasi 4 jam pada kondisi optimum, BmaN1?C mempertahankan 83% aktivitas, sedangkan BmaN1 hanya 50%. Selain itu, baik BmaN1 maupun BmaN1?C memiliki 60% aktivitas terhadap SDS dan EDTA hingga konsentrasi 2,5 mM. Parameter kinetik kedua enzim menunjukkan bahwa BmaN1 memiliki nilai kcat/KM 1,3 lebih tinggi dibandingkan BmaN1?C. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa keberadaan 45 residu asam amino di ujung domain C BmaN1 berperan penting dalam afinitas pengikatan, efisiensi degradasi pati, dan kestabilan enzim. Pemodelan struktur tiga dimensi menunjukkan bahwa BmaN1?C mempertahankan kerangka domain A, B, dan C khas ?-amilase. Superimposisi dengan GTA (PDB: 4E2O) menunjukkan kesamaan spasial residu katalitik, meskipun Asp203 bergeser ke posisi i+1, Glu231 menempati posisi donor proton, dan His294 menggantikan Asp konservatif sebagai penstabil transisi. Mutasi residu pada kantung katalitik menghasilkan dampak signifikan terhadap aktivitas BmaN1?C. Mutan Asp203Ala dan Glu231Gln kehilangan seluruh aktivitas enzimatis. Hasil ini menunjukkan peran Asp203 sebagai nukleofil dan Glu231 sebagai donor proton. Mutasi His294Asp menurunkan aktivitas hingga 80% yang menunjukkan bahwa His294 berfungsi sebagai penstabil keadaan transisi menggantikan peran Asp pada ?-amilase GH13 lain. Mutan Lys202Ala mempertahankan 45% aktivitas, sedangkan Lys202Asp kehilangan seluruh aktivitas, menegaskan peran Lys202 dalam menjaga konformasi kantung pusat aktif. Hasil eksperimen ini membuktikan peran Asp203–Glu231–His294 sebagai triad katalitik serta keterlibatan Lys202 dalam mendukung orientasi residu katalitik. Penambatan akarbosa menunjukkan interaksi erat antara residu pada kantung katalitik dengan ligan, dengan jarak ikatan hidrogen dan interaksi elektrostatis dalam kisaran yang relevan. Selanjutnya, simulasi dinamika molekul dilakukan pada model struktur BmaN1?C dan varian mutan untuk mengevaluasi dampak perubahan struktural akibat mutasi residu katalitik terhadap kinerja enzim. Mutasi Asp203Ala dan Glu231Gln diperkirakan menghilangkan kemampuan enzim untuk menyerang karbon anomerik dan melakukan protonasi terhadap ikatan glikosidik, sehingga reaksi hidrolisis pati tidak berlangsung. Mutasi His294Asp menyebabkan terganggunya jarak ikatan hidrogen, disertai pergeseran posisi residu-residu katalitik menuju lokasi +1 dan +2 dari ikatan glikosidik pati, yang berdampak pada penurunan efisiensi katalitik. Mutasi Lys202Ala masih terdapat aktivitas parsial karena konfigurasi triad katalitik tetap terjaga, sedangkan substitusi dengan asam amino bermuatan negatif seperti aspartat (Lys202Asp) mengganggu aktivitas secara signifikan. Perubahan muatan residu dari positif ke negatif, serta perbedaan ukuran dan orientasi rantai samping, diduga mengganggu posisi residu dan distribusi muatan di sekitar sisi katalitik, sehingga memengaruhi substrat menjauhi sisi katalitik. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan beberapa sumbangan pengetahuan mengenai struktur dan fungsi ?-amilase subkeluarga GH13_45, khususnya BmaN1 dari Bacillus megaterium NL3. Pertama, ujung domain C BmaN1 berperan penting dalam adsorpsi dan degradasi pati mentah, kemungkinan melalui surface binding sites yang tersusun atas residu aromatik. Kedua, BmaN1 memiliki komposisi triad katalitik yang unik Asp-Glu-His, dengan His294 menggantikan Asp konservatif sebagai penstabil transisi. Hal ini menunjukkan adanya variasi mekanisme katalisis di subkeluarga GH13_45 yang belum banyak dilaporkan. Kombinasi keunikan domain C-terminal dan triad katalitik atipikal tidak hanya penting untuk pemahaman dasar biokimia enzim, tetapi juga membuka peluang aplikasi bioteknologi yang lebih luas dalam pengolahan pati, produksi bioenergi, maupun industri pangan.

2025
👤 Penulis: Fina Khaerunnisa Frima
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Bioinformatika 🏷️ Hidrologi

PEMODELAN SKENARIO KEBIJAKAN DAN DINAMIKA PASAR SERTIFIKAT ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA: PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM

Komitmen Indonesia untuk mencapai target energi terbarukan dan dekarbonisasi nasional menuntut adanya instrumen kebijakan yang mampu mendorong investasi swasta sekaligus menjaga stabilitas pasar. Meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, realisasi pengembangannya masih tertinggal akibat tingginya biaya investasi awal, periode pengembalian yang panjang, serta keterbatasan fiskal pemerintah dalam menyediakan subsidi langsung secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) diperkenalkan sebagai instrumen berbasis pasar yang bertujuan menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi pengembang energi terbarukan serta mendukung permintaan sukarela dari konsumen listrik, khususnya sektor korporasi. Namun demikian, sebagai pasar yang masih berada pada tahap awal pengembangan, pasar REC di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga, lemahnya sinyal investasi, serta terbatasnya efektivitas intervensi kebijakan yang diterapkan secara parsial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana berbagai skenario kebijakan REC memengaruhi stabilitas pasar serta pengembangan kapasitas energi terbarukan di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan system dynamics yang memungkinkan analisis interaksi dinamis dan bergantung waktu antara permintaan REC, penawaran REC, perilaku harga, alokasi keuntungan, serta keputusan investasi energi terbarukan. Berbeda dengan pendekatan statis atau equilibrium, system dynamics mampu merepresentasikan mekanisme umpan balik (feedback loops), keterlambatan konstruksi, dan perilaku adaptif pasar yang menjadi karakteristik utama pasar sertifikat energi terbarukan pada tahap awal. Model system dynamics yang dikembangkan merepresentasikan sistem perdagangan REC di Indonesia dalam horizon waktu 2025–2035. Model ini disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari PT PLN (Persero), Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta berbagai literatur akademik dan laporan kebijakan, serta dilengkapi dengan wawancara pemangku kepentingan untuk keperluan validasi model. Sebanyak tiga belas skenario kebijakan dianalisis, yang terdiri atas satu skenario dasar (Business-as-Usual), lima skenario intervensi kebijakan tunggal, dan tujuh skenario kebijakan multi-faktor. Instrumen kebijakan yang diuji meliputi peningkatan kemauan beli konsumen, perilaku pembelian ulang REC, alokasi reinvestasi keuntungan REC ke proyek energi terbarukan, serta dukungan subsidi pemerintah. Kinerja masing-masing skenario dievaluasi menggunakan lima indikator utama, yaitu tingkat harga REC, volatilitas harga REC, volume perdagangan REC kumulatif, keuntungan REC kumulatif, serta total kapasitas terpasang energi terbarukan hingga tahun 2035. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario intervensi kebijakan tunggal hanya menghasilkan perbaikan marginal dan tidak mampu mengatasi permasalahan mendasar terkait ketidakstabilan pasar. Sebaliknya, skenario kebijakan multi-faktor menunjukkan kinerja yang jauh lebih kuat melalui aktivasi mekanisme umpan balik penguatan antara kinerja pasar dan investasi energi terbarukan. Di antara seluruh skenario yang diuji, skenario High Intervention Strategy menunjukkan hasil paling optimal. Pada skenario ini, harga REC mencapai Rp95.639, keuntungan REC terakumulasi melampaui Rp6,22 triliun, volume perdagangan kumulatif melebihi 103 juta sertifikat, dan kapasitas terpasang energi terbarukan meningkat hingga 55,81 GW pada tahun 2035. Temuan ini menegaskan pentingnya desain kebijakan yang terintegrasi, di mana insentif sisi permintaan, dukungan fiskal, dan mekanisme reinvestasi diterapkan secara simultan, bukan secara terpisah. Secara khusus, reinvestasi keuntungan dari perdagangan REC terbukti menjadi mekanisme kunci dalam menerjemahkan aktivitas pasar menjadi pertumbuhan kapasitas energi terbarukan yang berkelanjutan, meskipun terdapat keterlambatan akibat proses konstruksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pasar REC di Indonesia tidak ditentukan oleh satu instrumen kebijakan secara individual, melainkan oleh keselarasan dan interaksi berbagai instrumen kebijakan. Pasar REC yang dirancang dengan baik dan didukung oleh intervensi kebijakan yang terkoordinasi serta mekanisme stabilisasi harga yang memadai berpotensi berfungsi sebagai instrumen pelengkap kebijakan energi nasional, termasuk RUKN dan RUPTL. Dengan menyediakan sinyal investasi yang kredibel dan meningkatkan tingkat kematangan pasar, REC dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pencapaian transisi energi terbarukan jangka panjang di Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menghadirkan salah satu kajian awal berbasis system dynamics yang secara komprehensif mengevaluasi skenario kebijakan pasar REC di Indonesia. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam merancang kebijakan REC yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan secara finansial di pasar energi terbarukan yang sedang berkembang.

2025
👤 Penulis: Hamidan Irham
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENYELARASAN INDIKATOR PELAPORAN EKSTERNAL MENJADI KERANGKA STRATEGI DAN MANAJEMEN KINERJA INTERNAL MELALUI BALANCED SCORECARD DAN NINE STEPS TO SUCCESS™ DI RSUD JAMPANGKULON

RSUD Jampangkulon dituntut untuk meningkatkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan memenuhi Indikator Nasional Mutu (INM) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun secara internal, strategi untuk mencapainya belum tergambar jelas, baik mengenai langkah yang perlu dilakukan maupun siapa yang harus bertanggung jawab. Di sisi lain, indikator kinerja yang dilaporkan ke pihak eksternal sudah banyak, tetapi praktiknya masih berfokus pada kepatuhan pelaporan. Indikator tersebut belum dimanfaatkan sebagai bahan monitoring dan evaluasi internal, sehingga masalah yang muncul, akar penyebabnya, serta kontribusi tiap unit terhadap masalah tersebut sulit ditelusuri dan ditindaklanjuti secara konsisten. Penelitian ini bertujuan merancang kerangka strategi dan manajemen kinerja yang ringan, berbasis KPI yang sudah familiar, serta dapat di cascade dari level rumah sakit ke bagian, bidang, dan unit kerja. Metode yang digunakan menggabungkan Systematic Literature Review dan Value Focused Thinking untuk memilih pendekatan, kemudian menyusun Balanced Scorecard sebagai strategy framework dengan panduan Nine Steps to Success melalui analisis dokumen, pemetaan proses, dan diskusi terarah dengan pemangku kepentingan. Hasil penelitian berupa strategy map dan strategic objectives, pemilihan KPI inti beserta KPI dictionary, serta rancangan cascading yang memperjelas pembagian peran dan akuntabilitas. Kesimpulannya, rancangan ini mengubah KPI dari sekadar angka pelaporan eksternal menjadi alat kontrol dan pengarah strategi, sekaligus memperjelas kepemilikan KPI dalam pengelolaan kinerja internal

2025
👤 Penulis: Rohmat Firmansyah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Balanced Scorecard

MERANCANG EXTENDED PRODUCER RESPONSIBILITY (EPR) YANG EFEKTIF DI INDONESIA: ANALISIS KOMPARATIF DENGAN EPR DI JEPANG

Indonesia saat ini menghadapi tantangan kritis terkait polusi plastik laut, dan menempati peringkat sebagai salah satu kontributor terbesar di dunia untuk sampah plastik yang tidak terkelola. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah Indonesia memberlakukan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75/2019 (Permen LHK No. 75/2019), yang mewajibkan produsen untuk mengurangi sampah sebesar 30% pada tahun 2029. Namun, kerangka peraturan saat ini sebagian besar beroperasi sebagai pendekatan "soft-law" tanpa mekanisme pendanaan wajib atau Organisasi Tanggung Jawab Produsen (Producer Responsibility Organization/PRO) yang ditunjuk, yang mengarah pada inisiatif yang terfragmentasi dan kepatuhan yang terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan institusional dan fiskal dalam menerapkan sistem Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) yang efektif untuk kemasan plastik di Indonesia dengan menggunakan Undang-Undang Daur Ulang Wadah dan Kemasan Jepang sebagai tolok ukur yang matang. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama: (1) Apa perbedaan arsitektur utama dalam sistem EPR antara Indonesia dan Jepang? (2) Sejauh mana kontribusi produsen dapat menutupi biaya pengumpulan dan pemilahan di Indonesia (didefinisikan sebagai "EPR Revenue Gap")? dan (3) Faktor struktural apa yang menghambat penerapan penuh EPR di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, studi ini menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan analisis SWOT komparatif, simulasi analisis kesenjangan (gap analysis) kuantitatif, dan analisis PESTEL kualitatif. Analisis SWOT komparatif mengungkapkan adanya "kekosongan institusional" (institutional void) yang mendasar di Indonesia. Tidak seperti Jepang, di mana Asosiasi Daur Ulang Wadah dan Kemasan Jepang (JCPRA) berfungsi sebagai perantara pusat untuk mengumpulkan dana dan mengoptimalkan logistik, model "Tanggung Jawab Produsen Individu" di Indonesia bergantung pada peta jalan (roadmap) tingkat perusahaan yang terputus-putus. Fragmentasi ini mengakibatkan biaya transaksi yang tinggi dan mencegah skala ekonomi yang diperlukan untuk pengelolaan sampah yang efisien. Simulasi kuantitatif memperkenalkan konsep baru "EPR Revenue Gap," yang didefinisikan sebagai selisih antara potensi pendapatan EPR yang dikumpulkan dari produsen dan pengeluaran yang diperlukan untuk pengumpulan dan pemilahan sampah. Dengan memodelkan dua skenario institusional—Skenario 1 (Gaya Jepang, hanya mencakup biaya daur ulang) dan Skenario 2 (Cakupan biaya penuh)—dan melakukan analisis sensitivitas pada tingkat kontribusi dan cakupan penjualan, studi ini memberikan bukti empiris tentang keberlanjutan fiskal. Hasilnya menunjukkan bahwa bahkan di bawah asumsi yang paling optimis, di mana tingkat kontribusi digandakan dan kepatuhan dimaksimalkan, pendapatan EPR saja secara struktural tidak mencukupi untuk menutupi biaya penuh pengumpulan dan pemilahan di Indonesia. Temuan ini menantang penerapan prinsip "Pemulihan Biaya Penuh" (Full Cost Recovery) dalam konteks Indonesia. Selanjutnya, analisis PESTEL mengidentifikasi hambatan struktural multidimensi yang melanggengkan kesenjangan ini. Secara ekonomi, pasar didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) informal, yang menciptakan masalah "penumpang gelap" (free-rider) yang masif dan membatasi basis pendapatan yang dapat dikumpulkan. Secara lingkungan, geografi kepulauan Indonesia secara inheren meningkatkan biaya logistik untuk rantai pasokan balik (reverse supply chain). Secara sosial, ketergantungan sistem yang besar pada sektor informal (pemulung) menciptakan struktur ganda yang sulit diintegrasikan ke dalam kerangka hukum formal tanpa menggusur mata pencaharian. Berdasarkan temuan ini, studi ini menyimpulkan bahwa upaya untuk menerapkan model EPR mandiri dengan biaya penuh adalah tidak realistis secara finansial bagi Indonesia dalam jangka pendek. Sebagai gantinya, studi ini mengusulkan transisi ke arsitektur "Tata Kelola Hibrida" (Hybrid Governance). Model ini merekomendasikan: (1) pembentukan PRO semi-publik untuk memusatkan administrasi dan mengurangi biaya transaksi; (2) mengadopsi pendekatan "Tanggung Jawab Bersama" (Shared Responsibility) di mana produsen membiayai daur ulang sementara dana publik mendukung pengumpulan; dan (3) mengontrak sektor informal secara formal untuk mengoptimalkan biaya dan memastikan inklusi sosial. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan dasar kuantitatif untuk desain kebijakan EPR di negara-negara berpenghasilan menengah, menggeser perdebatan dari apakah akan memperkenalkan EPR menjadi bagaimana merancang arsitektur yang berkelanjutan secara fiskal yang mengakomodasi kendala struktural.

2025
👤 Penulis: Kazuki Hiraoka
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH PAPARAN PERBANDINGAN SOSIAL DI TIKTOK TERHADAP NIAT PEMBELIAN PADA GENERASI Z DI INDONESIA DENGAN PERAN MEDIASI FEAR OF MISSING OUT (FOMO)

Platform media sosial telah mengubah perilaku konsumen dengan menciptakan lingkungan di mana paparan perbandingan sosial memicu Fear of Missing Out (FoMO) yang mendorong keputusan pembelian berbeda tergantung jenis produk. Menggunakan desain kuantitatif dengan 247 pengguna media sosial dan dianalisis menggunakan PLS-SEM, penelitian ini menguji bagaimana paparan perbandingan sosial memengaruhi niat beli melalui tiga dimensi FoMO, Social, Transactional, dan Informational FoMO, sambil menguji apakah jenis produk (hedonis vs. utilitarian) memoderasi hubungan tersebut. Hasil menunjukkan paparan perbandingan sosial memengaruhi niat beli baik langsung (? = 0,361-0,385, p < 0,001) maupun tidak langsung melalui FoMO. Hanya Social FoMO dan Transactional FoMO yang memprediksi niat beli, sementara Informational FoMO tidak signifikan. Social FoMO muncul sebagai mediator terkuat (? = 0,207-0,202, p < 0,005) dengan mediasi penuh di kedua konteks, sementara Transactional FoMO memediasi hanya pada konteks hedonis. Model menunjukkan daya penjelas kuat dengan R2 = 0,770 untuk hedonis dan R2 = 0,748 untuk utilitarian. Jenis produk hanya memoderasi hubungan Transactional FoMO-niat beli pada produk hedonis (? = 0,178, p = 0,011). Temuan menunjukkan konsumen membeli terutama untuk mempertahankan keterhubungan sosial daripada alasan informasional, mengungkapkan peluang strategis bagi merek untuk menekankan keterlibatan komunitas dalam pemasaran media sosial, sementara penelitian masa depan sebaiknya mengeksplorasi mekanisme psikologis tambahan.

2025
👤 Penulis: Muchammad Ananda Kevin Keitaro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

BUSINESS STRATEGY FOR INCREASING SALES CONVERTION RATE IN PT. TIGA MITRA INTERNUSA

PT Tiga Mitra Internusa (TMI) adalah perusahaan maufaktur dan pemasok barang enjinering yang didirikan pada tahun 2018. TMI berfokus pada produk Fastening Sistem, Flexible Joint, Thermal Insulation, Corrosion Protection, Sealing Equipment, dan Piping Equipment lainnya. TMI memiliki segment pasar yang bergerak dibidang energy seperti Oil & Gas, Power Plant, dan Industri lainnya yang menggunakan system pemipaan untuk proses operasinya. Berdasarkan segment pasar tersebut, TMI bertransaksi secara B2B dikarenakan tipikal pelanggan yang sudah memiliki regulasi secara sistematis pada regulasi proses pengadaan barang dan jasa. Dalam proses pengedaan barang dan jasak tingkat keberhasilan (win rate) dalam proses penawaran masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi factor faktor utama internal dan eksternal yang memengaruhi rendahnya win rate TMI, mengevaluasi strategi bisnis perusahaan dibandingkan dengan para pesaing, serta merumuskan strategi bisnis yang terintegrasi untuk meningkatkan kinerja penjualan dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode kualitatif, yang didukung oleh analisis data internal perusahaan dan wawancara mendalam dengan manajemen serta pihak terkait. Analisis lingkungan eksternal dilakukan menggunakan kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces, sementara analisis internal menggunakan Resource Based View (RBV), Value Chain Analysis (VCA), dan BCG Matrix. Hasil analisis menunjukkan bahwa keunggulan utama TMI terletak pada fleksibilitas produk, kemampuan kustomisasi, jaringan pemasok yang adaptif, serta pemahaman teknis terhadap kebutuhan pelanggan. Namun, perusahaan masih menghadapi tantangan berupa tekanan harga, keterbatasan efisiensi proses penawaran, serta ketergantungan pada spesifikasi yang ditentukan oleh pelanggan dan pemasok eksisting. Berdasarkan sintesis analisis internal dan eksternal, disusun strategi melalui TOWS Matrix yang berfokus pada diferensiasi berbasis produk, optimalisasi struktur biaya, dan penguatan hambatan masuk pelanggan melalui pendekatan teknis dan relasional. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses penawaran, memperbaiki win rate, serta memposisikan TMI sebagai mitra engineering yang bernilai tambah dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Iqbal Muliagi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PEMILIHAN LOKASI BENGKEL LAYANAN MENGGUNAKAN MCLP BERBASIS JARINGAN DAN ANALISIS KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA: MENGINTEGRASIKAN AKSESIBILITAS, KESESUAIAN INDUSTRI, DAN PENILAIAN RISIKO BANJIR DI JAWA TIMUR

Lokasi fasilitas merupakan salah satu tantangan strategis terpenting yang dihadapi oleh usaha kecil dan menengah (UKM), terutama yang berfokus pada jasa, karena mereka perlu mengelola efisiensi operasional, kesesuaian pasar, dan faktor lingkungan. PT Cahaya Amanah Nusantara (PT CAN), sebuah perusahaan kecil di Indonesia yang menyediakan jasa perawatan dan perbaikan pendingin, tertarik untuk memperluas lokasi bengkelnya di seluruh Jawa Timur, yang memiliki beragam jaringan jalan, distribusi industri yang tidak konsisten, dan tingkat paparan lingkungan yang bervariasi. Perusahaan akan membutuhkan proses analitis terstruktur untuk mengevaluasi opsi lokasi selain penilaian intuitif atau perhitungan jarak sederhana. Studi ini menggunakan analisis lokasi fasilitas, model berbasis jaringan untuk mengevaluasi akses, dan analisis keputusan multi-kriteria (MCDA) dengan pengukuran geospasial. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja tiga bagian yang berurutan, yang mengintegrasikan evaluasi kinerja aksesibilitas, evaluasi konteks strategis, dan evaluasi risiko spasial ke dalam satu alur kerja analitis. Kerangka kerja ini mendukung peran penilaian manajerial sebagai bagian dari keputusan lokasi fasilitas secara konsisten di seluruh indikator spasial dan operasional. Studi ini terdiri dari tiga fase analitis. Kerangka kerja 1 mengevaluasi aksesibilitas menggunakan waktu tempuh jaringan jalan berdasarkan data OpenStreetMap dan area layanan SLA (SLA) berbobot permintaan untuk mengembangkan daftar pendek lokasi hub kandidat berdasarkan jarak tempuh dari area pengaruh masingmasing hub menggunakan teknik penyaringan MCLP. Kerangka kerja 2 menentukan kesesuaian spasial dengan menggabungkan tingkat aktivitas industri menjadi indeks untuk area tersebut dikombinasikan dengan paparan banjir pesisir yang digunakan untuk mengembangkan dua indeks yang dinormalisasi, yaitu indeks strategis dan indeks lingkungan. Kerangka kerja 3 menggunakan proses Analisis Keputusan Multikriteria tipe Kombinasi Linier Berbobot (WLC), yang pertama-tama menerapkan teknik normalisasi pada semua indikator kemudian memberi bobot pada indikator berdasarkan prioritas operasional manajer. Menurut hasil analisis, Kabupaten Gresik menempati peringkat tertinggi pada skor komposit (0,937016) berdasarkan akses komunikasi yang kuat dan faktor strategis yang kompatibel bila dinilai menurut asumsi pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini. Kerangka kerja ini memberikan panduan kepada manajemen PT CAN untuk membuat keputusan implementasi berdasarkan dokumentasi, metodologi pendukung keputusan yang konsisten secara internal, dan bukan menggunakan penilaian pribadi untuk membuat keputusan implementasi akhir. Studi ini mendukung hipotesis bahwa kerangka kerja perencanaan lokasi fasilitas geospasial yang terstruktur, sumber terbuka, dan berorientasi pada UKM dapat dikembangkan dan diterapkan untuk membantu UKM di lingkungan yang heterogen dan rawan risiko.

2025
👤 Penulis: Anargya Raakan Maulana
🏷️ Geospasial 🏷️ Analisis Keputusan Multi-Kriteria (Mcda) 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 90 dari 418
💬