📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

USULAN PERANCANGAN SISTEM MANAGEMEN KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN KERANGKA KNOWLEDGE- BASED PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM PADA PT WLL

Industri manufaktur makanan dan minuman merupakan salah satu kontributor utama bagi perekonomian Indonesia, namun banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan kinerja. PT WLL, sebuah perusahaan manufaktur makanan berskala menengah yang berlokasi di Bandung, mengalami penurunan volume penjualan kecap di wilayah Jawa Barat dari 3 juta liter pada tahun 2019 menjadi 2,3 juta liter pada tahun 2024, meskipun beroperasi di pasar yang besar dan matang. Sistem evaluasi kinerja perusahaan masih didominasi oleh indikator keuangan, sehingga kurang mampu menangkap faktor pendorong kinerja operasional dan organisasi secara menyeluruh, serta menunjukkan perlunya sistem manajemen kinerja yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) bagi PT WLL. Kerangka konseptual terintegrasi digunakan dengan mengombinasikan analisis eksternal menggunakan Five Forces Porter, analisis internal melalui kerangka VRIO, serta diagnosis akar masalah menggunakan Current Reality Tree (CRT). Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui focus group discussion (FGD) terstruktur yang melibatkan direktur dan lima manajer fungsional, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, catatan produksi dan operasional, serta dokumen internal perusahaan. Key Performance Indicators (KPI) dikembangkan dalam tiga perspektif, yaitu Business Result, Internal Process, dan Resource Capability, dan Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas KPI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan utama kinerja PT WLL terletak pada belum adanya KPI non-keuangan yang terstruktur dan terintegrasi yang menghubungkan strategi dengan pelaksanaan operasional. KBPMS yang diusulkan menyediakan dasar yang sistematis untuk pemantauan kinerja, penyelarasan strategi, dan perbaikan berkelanjutan bagi perusahaan manufaktur berskala menengah.

2025
👤 Penulis: Steven Nathanael Setiawan
🏷️ Manajemen Kinerja 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KESENJANGAN KETERLIBATAN DAN KONVERSI DI TIKTOK: STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS AISAS UNTUK FOTOHOKKIE

Pertumbuhan pesat platform video berdurasi pendek telah menciptakan kontradiksi dalam kinerja pemasaran digital, di mana tingginya tingkat keterlibatan audiens tidak selalu menghasilkan outcome bisnis yang terukur. Salah satu manifestasi dari fenomena tersebut adalah kesenjangan keterlibatan–konversi, yaitu kondisi ketika metrik interaksi yang kuat tidak mampu menghasilkan trafik website maupun konversi pemesanan secara optimal. Penelitian ini mengkaji kesenjangan keterlibatan–konversi yang dialami oleh Fotohokkie, sebuah perusahaan jasa fotografi di Indonesia. Meskipun Fotohokkie mencatat tingkat jangkauan For You Page (FYP) rata-rata di atas 90% di TikTok, platform tersebut hanya berkontribusi kurang dari 5% terhadap total trafik website dan kinerja pemesanan, yang mengindikasikan ketidakefisienan dalam mengonversi keterlibatan menjadi outcome bisnis yang berkualitas. Penelitian ini menggunakan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) sebagai kerangka teoritis utama untuk menganalisis perilaku pengambilan keputusan konsumen dalam lingkungan digital. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi tahapan proses pengambilan keputusan konsumen yang dialami oleh pengguna TikTok saat berinteraksi dengan konten Fotohokkie, (2) menguji hubungan antara atribut konten TikTok, termasuk format konten dan gaya call-toaction (CTA), dengan perilaku click-through menuju website Fotohokkie, serta (3) merumuskan strategi pemasaran TikTok berbasis data yang dapat meningkatkan trafik website berkualitas dan kinerja konversi pemesanan. Selain itu, persepsi usefulness dan informativeness digunakan untuk menjelaskan evaluasi audiens terhadap efektivitas konten. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods eksplanatori. Data kuantitatif diperoleh melalui analitik performa TikTok, metrik referral website, data kinerja pemesanan selama periode enam bulan, serta survei terhadap pengikut TikTok Fotohokkie (N = 213) menggunakan skala Likert 7 poin. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa seluruh konstruk memiliki konsistensi internal yang memadai. Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hubungan antara atribut konten dan indikator perilaku click-through. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis terhadap wawancara dengan pemangku kepentingan internal dan umpan balik terbuka audiens untuk memberikan penjelasan kontekstual terhadap temuan kuantitatif. Triangulasi data diterapkan untuk memperkuat validitas penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten TikTok efektif dalam menghasilkan perhatian dan minat audiens, namun memiliki keterbatasan dalam mendorong transisi ke tahap pencarian dan tindakan. Hasil survei menunjukkan tingkat niat pemesanan yang tinggi (nilai rata-rata > 6 dari 7), tetapi perilaku click-through relatif lebih rendah dibandingkan indikator keterlibatan, yang mencerminkan adanya diskontinuitas perilaku antara konsumsi konten dan perpindahan platform. Temuan kualitatif juga menunjukkan bahwa inkonsistensi implementasi CTA, fragmentasi informasi lintas platform, serta persepsi kompleksitas proses pemesanan menjadi faktor utama yang membatasi kinerja konversi. Temuan ini mengonfirmasi bahwa TikTok saat ini berfungsi terutama sebagai kanal awareness dan engagement tingkat awal bagi Fotohokkie. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, rekomendasi strategis diformulasikan melalui standarisasi CTA, perencanaan konten berbasis tahapan funnel AISAS, serta optimasi jalur konversi guna meningkatkan kontribusi TikTok terhadap trafik website berkualitas dan kinerja pemesanan.

2025
👤 Penulis: Ghina Taffana Teja Putri
🏷️ Digital Pemasaran 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

MENEMUKAN KESEIMBANGAN ANTARA KETERLIBATAN DAN KEASLIAN: STRATEGI PHYGITAL DALAM ORGANISASI SENI PERTUJUNKAN

The Integrasi teknologi digital yang semakin berkembang dalam pertunjukan langsung telah mendorong organisasi seni pertunjukan untuk mengadopsi strategi phygital yang menggabungkan pengalaman fisik dan digital. Meskipun pendekatan ini menawarkan peluang baru dalam hal keterlibatan audiens, aksesibilitas, dan penciptaan pendapatan, strategi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait pelestarian keaslian artistik dan esensi kehadiran langsung (liveness). Ketegangan ini menyoroti kebutuhan penting untuk memahami bagaimana inovasi digital dapat diintegrasikan secara strategis tanpa menggerus nilai-nilai artistik inti dalam seni pertunjukan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana organisasi seni pertunjukan menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian melalui strategi phygital, dengan fokus pada balet, opera, dan tari kontemporer. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan komparatif, studi ini menganalisis kasus-kasus dari Eropa dan Asia Tenggara melalui wawancara dan data sekunder. Hasil penelitian mengungkapkan dua pendekatan dominan: digital extension, yang mempertahankan pertunjukan panggung tradisional, dan digital creation, yang mendefinisikan ulang pertunjukan melalui teknologi imersif. Konteks budaya muncul sebagai faktor kunci yang membentuk strategi institusional maupun persepsi audiens terhadap keaslian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi phygital yang berhasil memerlukan kompromi yang disadari, di mana keterlibatan dan keaslian dinegosiasikan, bukan dimaksimalkan secara bersamaan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan kerangka kerja yang berlandaskan konteks budaya untuk memahami strategi phygital dalam seni pertunjukan, serta menunjukkan bagaimana organisasi dapat membuat pilihan strategis yang tepat antara digital extensiondan digital creation guna menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian. Dengan menyoroti peran konteks budaya dalam pengambilan keputusan tersebut, penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi organisasi seni pertunjukan yang ingin mengintegrasikan inovasi digital tanpa mengorbankan integritas artistik.

2025
👤 Penulis: Marie Reine Geneviève Pilon
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PADA PELUMAS LOKOMOTIF DILOKA (STUDI KASUS DARI DAOP 1 JAKARTA PT KERETA API INDONESIA (PERSERO))

Meningkatnya permintaan layanan transportasi kereta api di Indonesia menjadikan pentingnya manajemen inventaris untuk suku cadang perawatan yang kritis, terutama pelumas lokomotif. Di antara seluruh inventaris, inventaris kereta api Bernama Diloka memberikan kontribusi nilai penggunaan tertinggi di semua wilayah operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero), termasuk di Daop 1 Jakarta. Studi ini menganalisis praktik manajemen inventaris pelumas lokomotif Diloka di Daop 1 Jakarta, yang telah diidentifikasi terjadi kekurangan stock berulang dan tingkat layanan yang tidak terpenuhi antara tahun 2021 hingga 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana analisis manajemen inventaris dapat mengoptimalkan tingkat inventaris, meningkatkan tingkat layanan, dan mengurangi biaya inventaris. Metodologi penelitian ini menggabungkan pendekatan analisis ABC, analisis tingkat layanan, pengukuran lead time, perhitungan stok pengaman, dan model kuantitas pesanan ekonomis. Temuan menujukan bahwa metode tersebut dapat meningkatkan tingkat layanan dan mengurangi biaya persediaan. Tingkat persediaan optimal Diloka untuk meningkatkan tingkat layanan dari 78% menjadi 98% di Daop 1 Jakarta Adalah dengan menyediakan stok pengaman sebanyak 5.007 liter, dengan titik pemesanan ulang sebesar 16.366 liter. Selain itu, dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), biaya persediaan dapat dikurangi sebesar Rp 112.085.709.

2025
👤 Penulis: Muhammad Yaumal Akbar
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CADANGAN DEVISA INDONESIA DAN KETERKAITANNYA DENGAN LIKUIDITAS USD: BUKTI DARI MODEL OLS MAKROFINANSIAL

Cadangan devisa Indonesia dan likuiditas USD antarbank domestik merupakan instrumen penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sistem keuangan. Dalam beberapa tahun terakhir, pengetatan kondisi moneter global, volatilitas siklus komoditas, serta meningkatnya frekuensi episode risk-off telah memperbesar tekanan eksternal yang dihadapi negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada saat yang sama, perubahan struktural di pasar keuangan domestik, seperti meningkatnya partisipasi investor ritel dan berkembangnya platform investasi digital, telah memperkuat permintaan jangka pendek terhadap likuiditas USD. Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan kebijakan yang penting mengenai bagaimana guncangan keuangan global dan kondisi domestik secara bersama-sama memengaruhi cadangan devisa dan likuiditas USD. Penelitian ini menganalisis dinamika bersama antara cadangan devisa dan likuiditas USD antarbank dengan mengintegrasikan kerangka precautionary reserve motive, global financial cycle, dan dollar liquidity. Dengan menggunakan data makro-keuangan bulanan periode 2010 hingga 2024, analisis dilakukan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) multivariat. Model cadangan devisa diestimasi menggunakan OLS standar, sementara model likuiditas USD menggunakan koreksi standar error Newey–West untuk mengatasi adanya autokorelasi. Selain itu, penelitian ini memasukkan kontrol musiman dan dummy pandemi untuk menangkap gangguan struktural. Hasil penelitian menunjukkan dampak yang bermakna secara ekonomi dan relevan bagi kebijakan. Cadangan devisa sangat dipengaruhi oleh penguatan USD global dan tekanan pendanaan global, sementara kinerja ekspor berperan sebagai penyangga domestik yang menstabilkan melalui arus masuk devisa struktural. Sebaliknya, likuiditas USD antarbank menunjukkan volatilitas jangka pendek yang lebih tinggi dan merespons secara cepat terhadap perubahan tekanan keuangan global, pergerakan harga komoditas, dan sentimen domestik. Bahkan peningkatan moderat dalam kondisi risiko global dikaitkan dengan kontraksi likuiditas USD yang cukup besar, menegaskan perannya sebagai saluran transmisi yang bergerak cepat. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan adanya mekanisme ganda dalam menjaga stabilitas eksternal Indonesia, di mana cadangan devisa berfungsi sebagai penyangga yang menyesuaikan secara lebih lambat dan dikelola melalui kebijakan, sementara likuiditas USD mencerminkan tekanan pasar yang bergerak cepat. Asimetri ini mendukung perlunya kerangka pemantauan makro-keuangan berbasis data guna memperkuat respons kebijakan dini terhadap kerentanan eksternal.

2025
👤 Penulis: L M Agung B Banyu Garmada
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN PRODUK BARU YANG DIUSULKAN UNTUK PEMPEK SEHAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN METODE CAMPURAN TERTANAM DAN PENYEBARAN FUNGSI KUALITAS (CASE STUDY: RASA RAYA)

Pertumbuhan tren hidup sehat di kota-kota besar Indonesia membuka peluang untuk memposisikan ulang makanan tradisional menjadi produk yang lebih sehat namun tetap praktis dan terjangkau. Tesis ini bertujuan mengembangkan konsep produk pempek sehat berbasis kebutuhan konsumen untuk merek Rasa Raya, sebagai bagian dari strategi pivot dari usaha Pempek Ethnik menuju segmen makanan sehat siap santap. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kebutuhan dan ekspektasi konsumen terhadap pempek sehat, (2) merumuskan konsep produk baru yang relevan dengan kebutuhan tersebut, dan (3) menerjemahkan suara konsumen ke dalam spesifikasi teknis menggunakan Quality Function Deployment (QFD) dan House of Quality (HOQ). Penelitian menggunakan desain mixed methods tertanam (embedded), dengan data primer yang dikumpulkan melalui survei online semi-terbuka kepada 213 responden di Surabaya yang mengonsumsi pempek, mengombinasikan pertanyaan skala Likert dan pertanyaan terbuka, serta wawancara semi-terstruktur dengan seorang ahli gizi. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis (open, axial, dan selective coding) untuk menggali tema inti mengenai definisi “pempek sehat”, sedangkan data kuantitatif diolah secara deskriptif dan diprioritaskan menggunakan Relative Importance Index (RII) untuk menentukan atribut Critical to Quality (CTQ). Atribut CTQ tersebut kemudian dimasukkan ke dalam House of Quality untuk menyusun prioritas teknis dan mengarahkan tahapan concept generation, concept selection, serta penyusunan Product Innovation Charter (PIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mendefinisikan “pempek sehat” sebagai pempek dengan kandungan ikan lebih tinggi, tepung dan minyak yang dikurangi, gula dan natrium cuko yang lebih terkontrol, penggunaan MSG dan bahan tambahan yang diminimalkan, label gizi yang jelas, serta jaminan higienitas, tanpa mengorbankan rasa gurih dan tekstur kenyal khas pempek, dan tetap dengan harga yang terjangkau. Atribut CTQ dengan prioritas tertinggi meliputi value for money, kualitas bahan baku, kadar ikan tinggi, rendah minyak, kejelasan label gizi, dan higienitas bahan. Analisis HOQ menegaskan beberapa respon teknis utama, yaitu peningkatan rasio ikan terhadap tepung, perubahan metode pengolahan menjadi lebih rendah minyak (kukus, rebus, panggang, air fryer), reformulasi bumbu untuk mengurangi MSG dan gula, serta standarisasi parameter gizi dan keamanan pangan. Berdasarkan temuan tersebut, konsep produk yang diusulkan berfokus pada varian pempek tinggi ikan dan rendah minyak (misalnya tekwan kuah bening serta pempek panggang/air fryer) dengan label gizi yang transparan dan harga premium yang masih dapat diterima segmen sasaran. Penelitian ini berkontribusi secara praktis dengan menyediakan roadmap terstruktur bagi UMKM untuk mempivot makanan tradisional ke produk yang lebih sehat, serta secara teoretis dengan menunjukkan integrasi mixed methods tertanam dan QFD dalam pengembangan produk baru berbasis konsumen untuk makanan tradisional sehat.

2025
👤 Penulis: Nisrina Magisteria
🏷️ Pempek Sehat 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ADOPSI LMS DI UNIVERSITAS KORPORAT: TEMUAN DARI EVALUASI SUS DAN ANALISIS KUALITATIF BERBASIS UTAUT

Penelitian ini mengeksplorasi adopsi Learning Management System (LMS) dalam konteks Corporate University dengan menggunakan pendekatan mixed-methods. Studi ini juga memberikan kontribusi praktis bagi organisasi yang sedang mengembangkan universitas korporat dan mengoptimalkan implementasi LMS melalui pendekatan berbasis data serta teori adopsi teknologi. Tahap pertama penelitian dilakukan melalui survei anonim untuk menilai pengalaman karyawan, hambatan yang dihadapi, serta tingkat usability LMS. Pengukuran usability LMS dilakukan menggunakan standar System Usability Scale (SUS). Sebanyak 102 responden berpartisipasi dalam survei ini. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa LMS dikategorikan pada tingkat “D” berdasarkan skala penilaian Sauro–Lewis. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem masih dapat digunakan namun belum optimal dari sisi kemudahan penggunaan. Menyadari bahwa adopsi teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik sistem, tetapi juga oleh faktor organisasi dan sosial, tahap kedua penelitian dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai persepsi pengguna. Sepuluh karyawan dipilih menggunakan purposive sampling dengan strategi maximum variation, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan seperti intensitas penggunaan LMS, peran pekerjaan, dan partisipasi dalam aktivitas pembelajaran korporat, dengan koordinasi manajerial yang dibatasi hanya pada fasilitasi akses. Data wawancara dianalisis menggunakan kerangka Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yang diperluas melalui analisis tematik. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa Social Influence merupakan pendorong terkuat partisipasi karyawan dalam aktivitas Corporate University. Tim HR serta atasan langsung secara aktif mendorong partisipasi dan membangun budaya belajar. Dalam konteks korporat, social influence mencakup aspek hierarki organisasi, mekanisme penghargaan, serta peran pimpinan sebagai teladan. Seluruh responden memandang materi pembelajaran sebagai sesuatu yang berguna dan relevan bagi pengembangan diri mereka, yang menunjukkan bahwa Performance Expectancy merupakan faktor pendorong adopsi yang kuat. Minat belajar meningkat ketika pengajar memiliki tingkat keahlian yang solid. Meskipun demikian, sebagian besar partisipan menyampaikan kebutuhan akan pelatih eksternal tambahan. Materi yang tersedia dinilai masih terlalu umum, khususnya bagi karyawan dengan latar belakang teknik dan kesehatan, sehingga mereka menuntut konten yang lebih spesifik dan relevan dengan peran pekerjaan masingmasing. Responden menunjukkan niat belajar yang tinggi dan menilai kelas sebagai pengalaman yang segar serta bermakna secara personal. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas pembelajaran dalam Corporate University dapat dipersepsikan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk “istirahat produktif”. Venkatesh et al. (2003) menyatakan bahwa niat perilaku memengaruhi penggunaan aktual, namun temuan penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan, di mana dalam konteks Corporate University, tingkat niat perilaku yang tinggi tidak sepenuhnya tercermin dalam tingkat penggunaan LMS akibat keterbatasan beban kerja. Responden menilai Effort Expectancy berada pada tingkat yang memadai, meskipun masih terdapat tantangan terkait usability dan akses melalui perangkat seluler. Beberapa responden survei menyebutkan bahwa hambatan bahasa mengganggu penggunaan LMS dan mengusulkan penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa Inggris. Akses seluler dinilai sangat penting dalam lingkungan korporat, mengingat sebagian karyawan memiliki tingkat mobilitas kerja yang tinggi. Dimensi berikutnya adalah Facilitating Conditions. Ketersediaan perangkat dan konektivitas internet dipersepsikan cukup memadai, namun masih terdapat kelemahan pada aspek penjadwalan, pengingat otomatis, integrasi kalender, serta penyesuaian dengan beban kerja. Dari sisi kualitas informasi dalam LMS, pengguna menilai masih belum mencukupi. Mereka lebih mengandalkan grup WhatsApp untuk memperoleh pembaruan informasi karena informasi di LMS dinilai tidak lengkap atau sulit ditemukan, termasuk riwayat kelas yang telah diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa LMS saat ini belum berfungsi sebagai pusat utama aktivitas pembelajaran sebagaimana yang diharapkan. Kelemahan pada dimensi Instructional Assessment juga menghambat adopsi LMS, yang tercermin dari tindak lanjut tugas yang lemah, minimnya umpan balik dari pengajar, serta ketiadaan notifikasi yang menyebabkan peserta tidak menyadari keberadaan tugas. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun fleksibilitas pembelajaran digital, seperti konten yang dapat ditonton ulang, diapresiasi oleh peserta, mereka tidak sepenuhnya menyukai format pembelajaran yang sepenuhnya asinkron. Banyak pengguna masih menilai sesi tatap muka atau kelas daring langsung lebih bernilai karena memungkinkan terjadinya interaksi langsung, diskusi, serta tingkat fokus yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks saat ini, pembelajaran digital berbasis video berfungsi sebagai pelengkap, bukan sebagai metode pembelajaran utama, dengan implikasi terhadap bagaimana LMS seharusnya mendukung keterlibatan dan interaksi pengguna. Analisis lebih lanjut mengidentifikasi adanya kesenjangan antara peran LMS yang dirancang dengan ekspektasi pengguna, khususnya dalam hal kemudahan penggunaan sistem, kualitas informasi, integrasi dengan proses pembelajaran, serta dukungan instruksional. Akibatnya, LMS belum sepenuhnya berfungsi sebagai platform pembelajaran utama dalam Corporate University, sehingga pengguna masih bergantung pada saluran komunikasi alternatif. Rekomendasi strategis diajukan untuk memperkuat kemudahan penggunaan dan adopsi LMS guna mendukung inisiatif pembelajaran digital yang dapat diskalakan.

2025
👤 Penulis: Venny Sartika
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

MODEL DINAMIKA SISTEM TRANSISI BAURAN ELEKTRIFIKASI DI SEKTOR PEMBANGKIT DI INDONESIA TERHADAP KETERJANGKAUAN LISTRIK SEKTOR RUMAH TANGGA

Komitmen Indonesia untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060 menuntut transformasi besar dalam sektor ketenagalistrikan. Namun, dampak dari transisi energi ini terhadap keterjangkauan dan ketahanan energi rumah tangga belum sepenuhnya dipahami, khususnya dalam konteks perubahan kebijakan seperti reformasi subsidi dan insentif energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan membangun model dinamika sistem yang mensimulasikan dampak jangka panjang dari dekarbonisasi sektor kelistrikan terhadap akses dan biaya energi di tingkat rumah tangga. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor kebijakan utama dan hubungan umpan balik sosial-ekonomi yang memengaruhi harga listrik dan stabilitas pasokan. Diasumsikan bahwa reformasi struktural dalam subsidi energi dan peningkatan penetrasi energi terbarukan akan berinteraksi dengan dinamika pasar secara non-linear, menghasilkan dampak yang kompleks terhadap keterjangkauan dan keadilan energi. Hipotesis utama yang diuji adalah bahwa jalur kebijakan tertentu dapat mendorong dekarbonisasi tetapi berpotensi mengurangi keterjangkauan atau keamanan energi rumah tangga. Metode yang digunakan adalah pemodelan system dinamik karena mampu merepresentasikan keterkaitan dan mekanisme umpan balik yang kompleks dalam jangka waktu panjang. Skenario simulasi dibangun untuk mengevaluasi bagaimana kombinasi intervensi kebijakan memengaruhi hasil energi rumah tangga hingga tahun 2060. Kajian pustaka dan masukan dari para ahli digunakan dalam kalibrasi dan validasi model agar sesuai dengan konteks energi dan kebijakan di Indonesia. Hasil yang diharapkan adalah skenario kebijakan yang sensitif terhadap dinamika sosial, menunjukkan berbagai trade-off dan sinergi antara tujuan dekarbonisasi dan keadilan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pemahaman transisi energi yang adil di negara berkembang, serta menyediakan alat praktis bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi energi yang lebih responsif dan berkeadilan sesuai dengan komitmen iklim nasional.

2025
👤 Penulis: Dwi Irianto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MENGEMBANGKAN MODEL KETAHANAN ORGANISASI UNTUK PERUSAHAAN KONSULTANSI TEKNIK DI INDONESIA MELALUI INTEGRASI RESOURCE-BASED VIEW, DYNAMIC CAPABILITIES, TRAITS FOR RESILIENCE DAN PERSPEKTIF SUKSESI KEPEMIMPINAN

Perusahaan Konsultan Rekayasa (Engineering Consulting Firms/ECFs) di Indonesia beroperasi dalam lingkungan proyek yang dinamis dan sangat kompetitif, yang ditandai oleh fluktuasi beban kerja, hubungan klien yang bersifat personal, serta ketergantungan yang kuat pada pendiri yang sering kali juga berperan sebagai pemimpin organisasi sekaligus pakar teknis senior. Karakteristik kontekstual ini meningkatkan kerentanan perusahaan terhadap disrupsi dan menjadikan ketahanan organisasi (organizational resilience/OR) sebagai kebutuhan strategis untuk keberlanjutan jangka panjang. Meskipun studi-studi sebelumnya tentang ketahanan organisasi banyak menekankan peran sumber daya dan kapabilitas, perhatian empiris terhadap peran karakter ketahanan (traits for resilience) dan suksesi kepemimpinan masih terbatas, khususnya pada perusahaan jasa profesional di negara berkembang. Disertasi ini bertujuan untuk mengembangkan model ketahanan organisasi yang terkonseptualisasi secara kontekstual bagi ECFs di Indonesia dengan mengintegrasikan Resource for Resilience (RR), Dynamic Capabilities (DC), Traits for Resilience (TR), serta mekanisme kontekstual Leadership Succession (LS). Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sekuensial eksplanatori. Tahap kuantitatif dilakukan dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) untuk menganalisis hubungan antara RR, DC, TR, dan OR berdasarkan data survei yang dikumpulkan dari para profesional ECFs. Tahap ini dilanjutkan dengan kajian kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pendiri, eksekutif, insinyur senior, serta perwakilan asosiasi industri guna mengeksplorasi bagaimana ketahanan organisasi diwujudkan dalam praktik. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa RR, DC, dan TR berkontribusi signifikan terhadap ketahanan organisasi, dengan TR sebagai prediktor terkuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketahanan dalam perusahaan berbasis pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya dan fleksibilitas adaptif, tetapi juga sangat bergantung pada pola perilaku dan dinamika relasional. Temuan kualitatif memperkaya pemahaman tersebut dengan mengungkap bagaimana RR, DC, dan TR beroperasi melalui mekanisme seperti keahlian teknis, otonomi dalam inovasi, kemampuan improvisasi, praktik komunikasi, dan kohesi tim. Secara khusus, suksesi kepemimpinan muncul sebagai mekanisme kontekstual yang memengaruhi seluruh jalur ketahanan organisasi melalui perannya dalam menjaga keberlanjutan keahlian, kepercayaan klien, kejelasan pengambilan keputusan, motivasi, serta konsistensi budaya organisasi. Variasi dalam praktik suksesi kepemimpinan menjelaskan perbedaan efektivitas transformasi RR, DC, dan TR menjadi ketahanan organisasi antar ECFs. Penelitian ini menghasilkan model ketahanan organisasi terintegrasi yang menunjukkan bahwa ketahanan terbentuk melalui interaksi antara sumber daya struktural, kapabilitas adaptif, karakter ketahanan, dan keberlanjutan kepemimpinan. Secara teoretis, studi ini memperluas perspektif Resource-Based View, Dynamic Capabilities, dan Traits for Resilience dalam konteks perusahaan konsultan rekayasa di negara berkembang, sekaligus memposisikan suksesi kepemimpinan sebagai mekanisme kontekstual yang relevan dalam kajian ketahanan organisasi. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan implikasi bagi penguatan pengembangan sumber daya manusia, perencanaan suksesi kepemimpinan, pelaksanaan proyek, serta tata kelola organisasi untuk meningkatkan ketahanan ECFs di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Novia Hafnidah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENARGETAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA UNTUK SISTEM PADI DI INDONESIA: KLASTERISASI, REGRESI PENENTU HASIL (YIELD), DAN DASHBOARD INTERAKTIF UNTUK PRIORITISASI INTERVENSI

Sektor beras di Indonesia sangat penting untuk ketahanan pangan, keberlangsungan hidup petani, dan juga stabilitas sosial ekonomi, karena beras adalah bahan pokok utama. Terdapat perbedaan produktifitas padi antar daerah, akan tetapi kebijakankebijakan cenderung dirancang secara terpusat dengan mengabaikan keunikan kondisi lokal di daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan kebijakan-kebijakan terkait dengan rantai pasok beras menggunakan framework business analytics yang terintegrasi, dimulai dari analisis deskripsi, clustering, regresi, dan juga visualisasi interaktif. Data yang digunakan adalah Sensus Pertanian 2023 dari BPS, ditambah data Inarisk dari BNPB, dan juga indikator konsumsi-nutrisi dari Bapanas, yang mencakup kelompok variable produktifitas, demografi, struktur pertanian, risiko bencana, dan akses ke pelayanan. Data-data tersebut diolah menggunakan metodologi CRISP-DM and hasilnya akan diinput ke dalam dashboard interaktif. Clustering PAM (Partitioning Around Medoids) menghasilkan 2 klaster dengan Klaster 1 (417 kota/kabupaten) memiliki ukuran rata-rata lahan pertanian yang lebih besar, input pertanian yang lebih besar, angka partisipasi program yang lebih tinggi, dan juga profil nutrisi yang lebih baik; sedangkan untuk klaster 2 (97 kota/kabupaten) memiliki ukuran lahan yang lebih kecil, kurangnya akses terhadap input dan layanan pertanian, kurangnya adopsi teknologi dan juga memiliki resiko bencana lebih tinggi. Welch’s t-tests dan effect size mengkonfirmasi bahwa antarklaster secara signifikan berbeda untuk variable produktifitas (yield), Angka Kecukupan Energi (AKE), level konsumsi rata-rata, dan Pola Pangan Harapan (PPH). Hasil regresi untuk kedua klaster menunjukkan bahwa ukuran lahan dan usia petani memiliki asosiasi positif untuk yield, sementara yang lainnya (bantuan teknologi, asuransi, dan partnership) menunjukkan hasil yang lemah, tidak konsisten, dan cenderung berasosiasi negatif dengan yield. Explanatory power pada klaster 2 (Adj R^2 = 0.41) memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan klaster 1 (0.29), sehingga batasan secara structural lebih tinggi di daerah yang produktifitasnya lebih rendah. Dengan pendekatan multimodel yang bisa diduplikasi ini, memberikan bukti bahwa pengambilan keputusan berbasis data untuk pembuatan kebijakan-kebijakan yang spesifik daerah (misalkan KUR harus diprioritaskan untuk daerah di cluster 2 dibandingkan cluster 1) bisa dilakukan untuk meningkatkan produktifitas padi, meningkatkan resiliensi rantai pasok, dan juga menuju kearah yang positif terhadap SDG 2 (Zero Hunger) di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Willy Septian Anggrayana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN VOLUME TRANSAKSI DAN LOYALITAS PELANGGAN PADA AHASS BERSAMA JAYA PRIMA

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengambilan keputusan strategis terkait peningkatan volume transaksi dan loyalitas pelanggan di AHASS Bersama Jaya Prima, bengkel resmi Honda di Bekasi. Meskipun terjadi pemulihan ekonomi setelah resesi pasca-pandemi, bisnis terus mengalami stagnasi karena kunjungan layanan berkurang 40% dibandingkan dengan yang diperoleh sebelum pandemi. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dalam mewawancarai pemangku kepentingan utama seperti pelanggan, karyawan, dan pemasok secara efektif. Teknik analisis data yang saya gunakan adalah analisis akar masalah (5 Mengapa) dan kemudian diinterpretasikan melalui kerangka Teori Perilaku Terencana (TPB). Hasilnya menunjukkan bahwa inefisiensi dalam operasional, terutama ketidakkonsistenan mereka dalam mematuhi Prosedur Operasional Standar (SOP) karena fokus pada kuantitas layanan dibandingkan kualitas layanan, menyebabkan pengalaman pelanggan yang buruk, waktu tunggu lebih lama, dan tingkat kepuasan pelanggan yang menurun. Menggunakan Proses Hirarki Analitik (AHP), sistem antrean dan pemesanan digital diprioritaskan sebagai strategi yang paling efektif. Oleh karena itu, sistem ini memberikan kontrol yang lebih baik atas persepsi kontrol perilaku, meningkatkan efisiensi dalam penyediaan layanan, dan memperkuat loyalitas pelanggan untuk mendorong pemulihan bisnis.

2025
👤 Penulis: Zahran Hanawa
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

RANCANGAN ULANG PERATURAN PERUSAHAAN YANG SELARAS DENGAN HUKUM KETENAGAKERJAAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN: STUDI KASUS PT XYZ

Perkembangan sektor industri di Indonesia menuntut perusahaan untuk menyeimbangkan efisiensi operasional dengan kepatuhan terhadap hukum ketenagakerjaan. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja mengharuskan perusahaan menyesuaikan peraturan perusahaan agar selaras dengan ketentuan hukum yang berlaku serta mendukung kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian peraturan perusahaan dengan hukum ketenagakerjaan dan implikasinya terhadap kinerja karyawan pada PT XYZ di Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sosio-legal melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan perusahaan PT XYZ belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan masih terdapat beberapa ketidaksesuaian, terutama terkait pengupahan, mekanisme pengaduan, dan perlindungan karyawan. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya keterlibatan karyawan dan tingginya tingkat perputaran tenaga kerja. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan ulang peraturan perusahaan secara adaptif dan partisipatif guna meningkatkan kepatuhan hukum, kepercayaan karyawan, serta kinerja organisasi.

2025
👤 Penulis: Decinta Najlaputri
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI PERENCANAAN SUMUR HORIZONTAL DI SISI DARAT DELTA MAHAKAM, LAPANGAN A – KALIMANTAN TIMUR

Lapangan A terletak di sisi darat Delta Mahakam, Cekungan Kutei, Kalimantan Timur. Hingga saat ini, Lapangan A aktif memproduksikan minyak dan gas melalui Wilayah Kerja Sanga Sanga yang dioperasikan oleh PT. X sebagai operator. Lapangan ini berkontribusi lebih dari setengah kumulatif produksi perusahaan melalui aktivitas pengembangan lapangan yang intensif. Meskipun target produksi secara tahunan dapat dicapai, trend kenaikan dari produksi masih lebih rendah dari ekspektasi. PT. X menyadari bahwa kondisi ini disebabkan oleh penurunan tekanan reservoir karena produksi dari area yang serupa / sudah ada secara berulang-ulang dengan menerapkan konsep penempatan sumur baru berdasarkan sumur sekitarnya sebagai referensi dan penerapan teknologi yang terbatas untuk mencapai efisiensi perolehan yang optimal. Menyadari tantangan tersebut, PT. X selanjutnya berfokus pada area reservoir yang belum diproduksi secara optimal dan mengaplikasikan teknologi yang lebih modern dibandingkan dengan penerapan metode pengeboran dan komplesi yang konvensional. Sebagai inisiatif, PT. X berencana untuk menerapkan pengeboran sumur horizontal dengan target gas reservoir J.01. Reservoir ini masih belum terproduksi secara optimal oleh delapan sumur konvensional dengan kumulatif produksi sebesar 1.83 Bcf, setara dengan 24% total perolehan. Kualitas properti reservoir yang kurang baik merupakan faktor utama yang memengaruhi performa produksi. Penelitian ini mengadaptasi pendekatan secara terintegrasi dengan menggabungkan antara analisis kualitatif dan kuantitatif, didukung dengan fokus pada implikasi praktis terhadap tantangan yang ada di PT.X. Analisis kualitatif membantu untuk mengidentifikasi kelayakan melalui inisiatif strategi pada lingkungan yang relevan menggunakan PESTEL (Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Lingkungan dan Legal) dan Porter’s Five Forces. Analisis kuantitatif menjembatani kelayakan melalui evaluasi teknis dan ekonomi. Hal tersebut meliputi maturasi bawah permukaan, perencanaan sumur, dan penganggaran modal. Maturasi bawah permukaan membantu menestimasi volume gas dari reservoir dan memahami performa produksi. Perencanaan sumur diarahkan berdasarkan pemahaman maturasi bawah permukaan, secara langsung memengaruhi biaya modal dan operasi, dalam batasan menentukan panjang bagian horizontal berdasarkan kenaikan cadangan yang optimal menggunakan analisis sensitivitas dengan properti dan geometri reservoir sebagai parameter. Praktik yang umum dilakukan di PT. X untuk analisis penganggaran modal terbatas pada metode Discounted Cash Flow (DCF) melalui pendekatan deterministik, didukung dengan analisis sensitivitas. Hal ini mengasumsikan suatu kondisi tertentu tanpa mempertimbangkan rentang ketidakpastian. Analisis ketidakpastian membantu pendekatan deterministic melalui berbagai scenario probabilitas yang dapat memengaruhi dalam keputusan penganggaran modal, dengan mengaplikasikan pendekatan prbabilistik menggunakan simulasi monte carlo untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kemungkinan rentang keberhasilan dan mengukur probabilitas untuk mencapai tujuan. Penerapan sumur horizontal secara signifikan meningkatkan perolehan produksi pada kualitas properti reservoir yang kurang baik sebesar 3.59 Bcf penambahan cadangan atau setara dengan 48% faktor perolehan produksi sepanjang 1300 feet di reservoir J.01. Integrasi antara pendekatan deterministik dan probabilistic memberikan gambaran yang lebih detail terkait ketidakpastian. Berdasarkan pendekatan deterministik, penerapan sumur horizontal secara dasar perhitungan dapat memberikan NPV sebesar 7.66 juta USD. Mengacu kepada pendekatan probabilistik, nilai P50 dari setiap skenario penambahan cadangan mengindikasikan rentang analisis ketidakpastian diantaranya skenario rendah (1.93 Bcf), menengah dasar (3.59 Bcf), dan tinggi (4.45 Bcf), yang berhubungan dengan nilai ekspektasi NPV sebesar 1.57 juta USD (skenario rendah), 6.74 juta USD (skenario menengah dasar), dan 9.74 juta USD (skenario tinggi).

2025
👤 Penulis: Hafizhan Ihsandani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KREDENSIAL LINGKUNGAN DAN IMBAL HASIL OBLIGASI HIJAU DI ASIA-PASIFIK (2022-2024): BUKTI DARI SERTIFIKASI DAN ALOKASI USE-OF-PROCEEDS DI PASAR KORPORASI

Penelitian ini mengkaji bagaimana sertifikasi Climate Bonds Initiative dan alokasi use-of- proceeds memengaruhi imbal hasil obligasi hijau korporasi di 15 pasar Asia-Pasifik selama periode 2022-2024. Menggunakan analisis regresi berganda dengan fixed effects pada 667 obligasi, penelitian ini menguji apakah kredensial lingkungan menurunkan biaya pembiayaan dengan mengontrol karakteristik obligasi, kinerja ESG, dan fundamental makroekonomi. Temuan mengungkapkan divergensi fundamental dari literatur sebelumnya dan teori yang mapan. Sertifikasi CBI tidak menunjukkan efek signifikan terhadap imbal hasil (? = 0,092, p = 0,150), bertentangan dengan diskon 12-36 basis poin yang terdokumentasi selama 2013- 2018. Pada prevalensi 71,5%, sertifikasi telah bertransisi dari sinyal pembeda menjadi ekspektasi dasar pasar, menghilangkan nilai informasional melalui saturasi pasar. Bertentangan dengan teori, alokasi use-of-proceeds menunjukkan premi imbal hasil sistematis: bangunan hijau 36,2 basis poin, infrastruktur air 32,8 basis poin, energi terbarukan 21,1 basis poin. Hanya adaptasi iklim yang menunjukkan diskon sesuai prediksi sebesar negatif 14,7 basis poin. Analisis subsampel mengungkapkan premi terkonsentrasi di pasar berkembang, dengan bangunan hijau menunjukkan premi 53,2 basis poin versus koefisien sedikit negatif di pasar maju. Fundamental tradisional mendominasi penetapan harga, dengan tingkat kupon (73,1 bps, t = 19,76) dan premi risiko negara (100,5 bps, t = 3,22) mengalahkan efek lingkungan. Kinerja ESG menunjukkan besaran yang secara ekonomi dapat diabaikan di bawah 5 basis poin untuk semua indikator. Gangguan pasokan selama 2022-2024 dan inflasi biaya 25-40% mengubah komitmen lingkungan dari sinyal kredibilitas menjadi eksposur risiko eksekusi yang memerlukan kompensasi imbal hasil. Temuan menantang kerangka sustainable finance yang mengasumsikan efek greenium universal, mendemonstrasikan ketergantungan konteks di mana kendala infrastruktur membalikkan hubungan yang diprediksi. Sertifikasi memberikan manfaat non-imbal hasil daripada pengurangan biaya, sementara transparansi use-of-proceeds menandakan kerentanan eksekusi ketika hambatan sistematis mendominasi. Mekanisme berbasis pasar memerlukan intervensi kebijakan komplementer untuk memobilisasi pembiayaan iklim secara efektif.

2025
👤 Penulis: Kevin Tiandy Liusto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MENGOPTIMALKAN TRANSISI: MEMPERKUAT KESIAPAN KARYAWAN PASCA OJT DI COLLINS AEROSPACE

On-the-Job Training (OJT) merupakan salah satu mekanisme utama dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja, khususnya pada organisasi manufaktur yang beroperasi dalam lingkungan dengan tuntutan keselamatan, kualitas, dan kepatuhan yang tinggi. Meskipun banyak organisasi telah memiliki sistem OJT yang terstruktur, permasalahan sering muncul pada tahap implementasi, seperti ketidaksesuaian antara desain pelatihan dan kondisi operasional di lapangan, inkonsistensi dalam proses evaluasi, serta variasi kualitas pembelajaran yang diterima oleh peserta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem OJT yang diterapkan pada sebuah organisasi manufaktur dengan meninjau bagaimana program tersebut dirancang, dijalankan, dan dialami oleh para pemangku kepentingan utama. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada temuan berbagai isu operasional yang berkaitan dengan pelatihan, antara lain permasalahan kualitas produk, kejadian near-miss keselamatan, serta ketidakkonsistenan proses kerja. Isu-isu tersebut mengindikasikan adanya potensi kesenjangan antara prosedur pelatihan formal yang telah ditetapkan dengan praktik aktual di shopfloor. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi sistem OJT yang tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi juga memahami dinamika implementasi dan pengalaman pembelajaran di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengintegrasikan data primer dan data sekunder untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga kelompok responden utama, yaitu personel Human Resources, trainer/mentor, dan peserta OJT. Data wawancara dianalisis menggunakan metode Gioia untuk menghasilkan first-order concepts, second-order themes, dan aggregate dimensions yang merepresentasikan perspektif informan serta interpretasi peneliti. Sementara itu, data sekunder berupa standar operasional prosedur, kurikulum pelatihan, dashboard internal, dan dokumen pendukung lainnya dianalisis menggunakan content analysis. Selanjutnya, dilakukan triangulasi metodologis untuk membandingkan dan mengintegrasikan temuan dari data primer dan sekunder guna meningkatkan validitas dan kredibilitas hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem OJT secara struktural telah dirancang dengan baik, ditandai dengan tahapan pembelajaran yang jelas, jalur pengembangan kompetensi yang progresif, serta penekanan yang kuat pada keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap prosedur. Namun demikian, efektivitas sistem tersebut masih dibatasi oleh berbagai tantangan pada tahap pelaksanaan. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi ketidaksesuaian antara materi pelatihan kelas dengan praktik aktual di lapangan, inkonsistensi dalam proses penilaian dan pemantauan kompetensi, lemahnya koordinasi antara HR, trainer, mentor, dan pimpinan produksi, serta keterlambatan pembaruan kurikulum akibat perubahan proses operasional. Selain itu, tekanan operasional seperti kebutuhan tenaga kerja dan target produksi juga memengaruhi durasi dan kualitas pelaksanaan OJT, yang dalam beberapa kasus menyebabkan percepatan pelatihan tanpa pengendalian yang memadai. Meskipun terdapat berbagai keterbatasan sistemik, penelitian ini menemukan bahwa efektivitas pembelajaran pada tingkat individu relatif tetap terjaga. Mekanisme pembelajaran berbasis pengalaman, seperti praktik langsung, pendampingan mentor, umpan balik secara real-time, serta kepatuhan terhadap instruksi kerja dan prosedur keselamatan, berperan penting dalam mengompensasi kelemahan sistem formal. Akibatnya, sebagian besar peserta OJT menyatakan memiliki tingkat kepercayaan diri dan kesiapan yang memadai untuk bekerja secara mandiri setelah menyelesaikan program OJT. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan sejumlah solusi bisnis yang bersifat praktis, antara lain penguatan tata kelola OJT, standarisasi alat evaluasi dan pemantauan, mekanisme sinkronisasi kurikulum secara berkala, peningkatan kapabilitas mentor melalui program sertifikasi, serta penguatan dokumentasi dan ketertelusuran kompetensi. Selain itu, disusun pula rencana implementasi menggunakan pendekatan 5W + 1H untuk memastikan keterlaksanaan dan keselarasan dengan kepentingan para pemangku kepentingan. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan pemahaman yang mendalam dan berbasis bukti mengenai kesenjangan antara desain formal dan pelaksanaan sistem OJT, serta pentingnya pendekatan kualitatif dan triangulasi dalam evaluasi sistem pelatihan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi organisasi dalam meningkatkan efektivitas OJT, memperkuat kinerja keselamatan dan kualitas, serta mendukung pengembangan kapabilitas tenaga kerja secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Candra Tricahya Haryanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pendidikan Kerja
Halaman 91 dari 418
💬