📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

STRATEGI PERILAKU LAND REPRESENTATIVES DALAM MENGHADAPI PEMILIK LAHAN YANG SULIT: ANALISIS BERBASIS DISC UNTUK PROYEK ENVIRONMENTAL REMEDIATION DI PT. PERTAMINA HULU ROKAN

Proyek remediasi lingkungan, dan khususnya rehabilitasi tanah yang terkena dampak minyak bumi, merupakan masalah penting untuk tujuan kebersihan lingkungan dan penggunaan lahan yang produktif. Di Blok Rokan, Indonesia, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) diwajibkan untuk melakukan pemulihan kontaminasi minyak bumi yang dimulai sejak operasi eksplorasi dan eksploitasi migas Standard Oil of California, Caltex Pacific Indonesia, dan Chevron Pacific Indonesia yang terkait dengan eksploitasi minyak dan gas selama beberapa dekade. Salah satu masalah yang paling bertahan lama sejak penugasan operator dari Chevron ke PHR pada tahun 2021, adalah mendapatkan hak akses dari pemilik tanah yang tidak kooperatif atau menolak untuk terlibat dalam program remediasi. Kecenderungan perilaku pemilik tanah, metode komunikasi, dan disposisi emosional berpengaruh signifikan terhadap hasil negosiasi dalam pembebasan lahan. Untuk mendapatkan wawasan tentang dinamika tersebut, karya ini mencirikan LOS yang Sulit melalui model perilaku DISK: Dominasi (D), Pengaruh (I), Kemantapan (S), dan Kesadaran (C). Setiap kuadran adalah kategori perilaku. Pemilik tanah yang memiliki ciri Dominance (D) akan percaya diri, berwibawa, dan tidak kooperatif hingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Pengaruh (I) individu cenderung menjadi orang yang emosional, banyak bicara, berorientasi pada emosi yang menghargai hubungan dan interaksi dengan orang lain. Tuan tanah dengan ciri S tertentu bersifat konservatif, konformis pasif, mencari kenyamanan, dan sering raguragu atau terpengaruh oleh orang lain. Di sisi lain, pemilik SLO yang memiliki C tinggi cenderung analitis, berorientasi pada detail, dan lebih legalistik atau berorientasi pada prosedur. Mengetahui perbedaan perilaku ini dapat mengarah pada identifikasi komunikasi yang benar dan taktik negosiasi. Penelitian ini bersifat mixed methods. Wawancara mendalam dilakukan dengan Perwakilan Pertanahan (LRS) untuk mendapatkan data kualitatif, untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman mereka dalam mengelola LOS yang Sulit dan penilaian DISK dilakukan dengan semua LRS sebagai sumber data kuantitatif. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola perilaku yang menonjol dalam LOS, sedangkan skor DISC diperiksa untuk menggambarkan profil LR dan hubungan perilaku tersebut terhadap efektivitas negosiasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Pemilik Tanah yang Sulit memang memiliki profil perilaku DISK yang berbeda, yang memengaruhi pendekatan mereka terhadap negosiasi. Dalam hal sikap akses, pemilik tanah tipe-D menolak akses karena kekuatan posisi; Pemilik tanah tipe-I banyak menggunakan ekspresi emosi; Pemilik tanah tipe-S mudah terpengaruh oleh pendapat dari keluarga atau masyarakat luar; dan pemilik tanah tipe-C perlu memiliki justifikasi melalui proses administrasi yang rumit. Pekerjaan Perwakilan Pertanahan juga menunjukkan implikasi profil DISK yang beragam terhadap gaya negosiasi mereka. Interaksi antara profil LR dan LO menunjukkan efek substansial dari kesesuaian LR-LO pada hasil negosiasi. Menurut temuan ini, penelitian ini menyarankan beberapa rekomendasi untuk PHR: mengembangkan kursus pelatihan berbasis DISK untuk LR, merancang pedoman pencocokan LR-LO, dan mengadopsi strategi negosiasi berbasis perilaku menuju komunikasi yang efektif. Pendekatan berbasis aktivitas ini menambah efisiensi pada negosiasi akses ke lahan dan petunjuk praktis untuk perbaikan lingkungan yang lebih baik.

2025
👤 Penulis: Kevin Razadi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

EKSPLORASI PERSEPSI PELAKU USAHA MIKRO DI JAKARTA TERHADAP TEKNOLOGI PEMBAYARAN SOUNDBOX: TANTANGAN, PENDORONG, DAN FAKTOR PENENTU ADOPSI

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, namun tingkat adopsi pembayaran digital oleh usaha mikro masih terbatas akibat kurangnya kepercayaan dan kesulitan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana usaha mikro di Jakarta menghadapi tantangan dalam penggunaan pembayaran digital serta bagaimana mereka memandang perangkat soundbox sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Sebanyak 21 pemilik usaha mikro di Jakarta yang telah menerapkan metode pembayaran QRIS diwawancarai menggunakan wawancara semi-terstruktur. Temuan mengidentifikasi 3 masalah utama; pembatasan dalam alur kerja yang mengurangi kemampuan verifikasi pembayaran real-time, penipuan seperti penipuan screenshot, serta kelemahan infrastruktur seperti keterlambatan transaksi dan koneksi jaringan yang tidak stabil. Menurut pedagang yang mengadopsi soundbox pada tahap awal, penggunaannya meningkatkan efisiensi operasional, menurunkan kecurangan, dan memperkuat kepercayaan terhadap transaksi digital. Kelompok early majority bersifat heterogen dalam keterbatasan informasi, kapabilitas, dan kepuasan terhadap praktik yang ada. Penelitian ini mengidentifikasi tiga jalur adopsi—pengalaman kecurangan, observasi rekan, dan promosi langsung—yang mengatasi hambatan psikologis implementasi. Dengan mengaitkan tantangan operasional dan kesenjangan persepsi, studi ini menawarkan strategi penerapan kontekstual. Relevansi soundbox bergantung pada konteks penggunaan: lalu lintas transaksi tinggi menunjukkan kebutuhan verifikasi kuat, sementara konteks rendah menunjukkan permintaan terbatas. Wawasan ini membantu penyedia fintech memfokuskan penerapan, menyesuaikan pemasaran bagi early majority, dan menyediakan dukungan terarah untuk mendorong inklusi keuangan usaha mikro dengan tantangan verifikasi.

2025
👤 Penulis: Sara Petrina Kembaren
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI PENGEMBANGAN IDENTITAS MEREK UNTUK RM. LAKSANA

Industri Food and Beverage (F&B) pasca-pandemi di Jawa Barat mencatatkan pertumbuhan agresif sebesar 15,53%, namun membawa tantangan saturasi pasar yang tinggi. RM. Laksana, sebuah restoran warisan (heritage) di Kuningan, menghadapi masalah strategis berupa "Kebingungan Merek" (Brand Confusion) akibat penggunaan nama generik yang serupa dengan kompetitor tidak terafiliasi di Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi merek RM. Laksana dalam benak konsumen dan merumuskan strategi identitas merek untuk memperkuat diferensiasi. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang didukung oleh analisis deskriptif (descriptive analysis). Tahap diagnostik dilakukan secara deskriptif menggunakan instrumen Pemetaan Perseptual (Perceptual Mapping) terhadap 42 pelanggan internal dan 32 responden eksternal untuk memetakan dimensi Harga dan Autentisitas. Tahap formulasi strategi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pemilik menggunakan kerangka kerja Strategic Branding Balakrishnan. Hasil analisis deskriptif mengungkap adanya "Kekosongan Pemasaran" (Marketing Void); pelanggan internal memposisikan merek sebagai High Genuineness (Kuadran 1) dengan skor kredibilitas tinggi (6,31), sementara persepsi eksternal menganggapnya sebagai "Komoditas Generik" dengan autentisitas rendah (3,96). Merespons temuan ini, penelitian merumuskan strategi "The Guardian of Heritage". Strategi ini mentransformasi integritas operasional internal, seperti larangan penggunaan ikan mati dan bumbu instan, menjadi diferensiator eksternal utama. Implementasi mencakup strategi harga Confidence Pricing, narasi komunikasi "Taste Never Lies", dan identitas visual hibrida. Solusi ini dirancang untuk menarik segmen Quality Seekers dan mengeliminasi kebingungan pasar tanpa mengubah nama historis restoran.

2025
👤 Penulis: Jaka Syaugi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERBANDINGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN REGRESI LOGISTIK DALAM PREDIKSI KESULITAN KEUANGAN PADA INDUSTRI FARMASI INDONESIA

Kesulitan keuangan di perusahaan sering terjadi selama krisis keuangan besar, termasuk yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Fenomena ini dapat memengaruhi perusahaan yang terdaftar di bursa saham dan memiliki dampak yang lebih luas pada para pemangku kepentingan yang terlibat. Perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX) telah menunjukkan tandatanda mengalami kesulitan keuangan. Arus kas operasional dan margin laba bersih industri tersebut tampak menurun selama beberapa tahun terakhir. Ketergantungan pada impor bahan baku Bahan Aktif Farmasi (API) juga menyebabkan kesulitan bagi industri, baik selama maupun setelah pandemi. Namun, model prediksi kesulitan keuangan (FDP) yang andal dapat membantu perusahaan mengelola risiko dan menghindari hasil negatif sebelum krisis terjadi. Model FDP telah berkembang dari metode statistik dan banyak pendekatan saat ini menggunakan pembelajaran mesin (ML). Jaringan Saraf Buatan (ANN) dan Regresi Logistik (Logit) diterapkan untuk memprediksi kesulitan keuangan dalam industri farmasi untuk melihat kinerja masing-masing dan menemukan metode prediksi yang paling akurat. Penelitian ini dilakukan dengan menentukan kriteria kesulitan keuangan dan mengumpulkan data dari perusahaan farmasi yang terdaftar di IDX pada kuartal pertama tahun 2017 hingga kuartal keempat tahun 2024. Variabel keuangan independen meliputi Rasio Cepat (Quick Ratio/QR), Rasio Cakupan Bunga (Interest Coverage Ratio/ICR), Margin Laba Operasi (EBIT Margin/EBITM), Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER), dan Rasio Perputaran Total Aset (Total Assets Turnover Ratio/TATR). Variabel makro meliputi inflasi, PDB per kapita, dan suku bunga. Dalam penelitian ini, Logit menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada ANN, mencapai akurasi tertinggi dan tingkat kesalahan klasifikasi terendah. Temuan Logit menunjukkan bahwa QR, EBITM, ICR, dan TATR berhubungan dengan kesulitan keuangan. Sementara itu, ANN yang dikombinasikan dengan SHapley Additive exPlanations (SHAP) mengungkapkan arah positif dan negatif dengan tiga fitur utama yaitu QR, EBITM, dan DER yang menjelaskan kesulitan keuangan di industri farmasi.

2025
👤 Penulis: Khairina Hasna Dzaidah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Keuangan 🏷️ Hidrologi

MEREKOMENDASIKAN GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI YANG EFEKTIF UNTUK MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI: KASUS PT TUNGGAL RITEL INDONESIA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan kinerja yang terus-menerus dihadapi PT Tunggal Ritel Indonesia (HULM), sebuah perusahaan fesyen berskala menengah di Indonesia yang beroperasi dalam pasar yang dinamis dan kompetitif. Analisis awal mengungkapkan bahwa perusahaan mengalami volatilitas dalam pendapatan. Ketidakpuasan juga disampaikan oleh CEO, yang menyatakan adanya kesenjangan yang semakin melebar antara target penjualan dan realisasi. Selain itu, para manajer melaporkan bahwa karyawan merasa tidak puas akibat lemahnya koordinasi lintas fungsi, arahan yang tidak jelas, keterbatasan apresiasi, serta keterlibatan kerja yang rendah. Penelitian ini berangkat dari proposisi bahwa berbagai permasalahan tersebut mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara budaya organisasi dan pendekatan kepemimpinan yang diterapkan. Berdasarkan literatur perilaku organisasi, penelitian ini mengasumsikan bahwa gaya kepemimpinan memengaruhi kinerja secara langsung maupun tidak langsung melalui budaya organisasi yang dialami karyawan. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memiliki dua tujuan utama, yaitu menilai budaya organisasi saat ini dan yang diharapkan di HULM, serta merekomendasikan gaya kepemimpinan yang selaras dan mendukung perubahan budaya organisasi yang diusulkan. Integrated Culture Framework digunakan sebagai kerangka utama, yang mengonseptualisasikan delapan gaya budaya berdasarkan dimensi interaksi antarmanusia dan respons terhadap perubahan. Penelitian ini menggunakan survei kuantitatif dengan skala Likert. Pendekatan sensus diterapkan, di mana seluruh 84 karyawan HULM diundang untuk mengisi kuesioner yang disusun berdasarkan Integrated Culture Framework. Responden menilai setiap pernyataan dua kali pada skala Likert: pertama, sejauh mana pernyataan tersebut menggambarkan kondisi saat ini, dan kedua, sejauh mana mereka mengharapkan pernyataan tersebut menggambarkan organisasi di masa depan. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap. Uji reliabilitas dan analisis data eksploratori dilakukan pada tingkat komposit dan atribut dengan menggunakan median, persentase top-two-box, rata-rata, dan rentang interkuartil. Karakteristik distribusi serta efek floor dan ceiling kemudian diperiksa. Karena asumsi parametrik tidak sepenuhnya terpenuhi, uji Wilcoxon signedrank digunakan untuk mengevaluasi apakah perbedaan antara skor budaya saat ini dan yang diharapkan bermakna secara statistik. Pada tahap akhir, profil budaya yang diharapkan dicocokkan secara konseptual dengan karakteristik berbagai gaya kepemimpinan yang diidentifikasi dalam literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan memersepsikan budaya yang saat ini dominan di HULM sebagai budaya “order”, sedangkan budaya yang diharapkan mencerminkan kombinasi empat gaya budaya, yaitu “caring”, “order”, “safety”, dan “learning”. Kesenjangan antara skor budaya saat ini dan yang diharapkan pada keempat gaya tersebut terbukti signifikan secara statistik, yang mengindikasikan adanya kebutuhan yang jelas, menurut persepsi karyawan, untuk melakukan penyesuaian budaya. Proses pencocokan kata kunci antara atribut budaya yang diharapkan dan karakteristik beberapa gaya kepemimpinan menunjukkan bahwa servant leadership merupakan gaya kepemimpinan yang paling selaras dan paling mendukung perubahan budaya organisasi yang diusulkan. Penekanannya pada kemampuan mendengar, memberdayakan orang lain, memberikan dukungan, serta memprioritaskan pertumbuhan pengikut selaras dengan kombinasi budaya yang diinginkan. Berdasarkan kesimpulan tersebut, penelitian ini mengusulkan sebuah program perubahan budaya yang distrukturkan ke dalam lima langkah dalam Culture Cascade Framework, mulai dari penyelarasan kepemimpinan hingga pelembagaan komunikasi dua arah. Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bagaimana keselarasan budaya–kepemimpina dapat dicapai pada sebuah usaha fesyen berskala menengah dengan menyelaraskan kombinasi gaya budaya tertentu dengan pendekatan servant leadership dan mengoperasionalkan keselarasan tersebut melalui suatu kerangka perubahan budaya. Secara praktis, penelitian ini menawarkan HULM sebuah metode terstruktur untuk bergeser dari budaya yang didominasi “order” menuju lingkungan kerja yang lebih berpusat pada manusia dan berorientasi pada pembelajaran, yang dari waktu ke waktu diharapkan dapat meningkatkan kinerja organisasi.

2025
👤 Penulis: Felicia Gondo Saputra
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH STRATEGI ADOPSI KENDARAAN LISTRIK TERHADAP PROFITABILITAS DAN NILAI PERUSAHAAN DALAM INDUSTRI OTOMOTIF ASIA

Pergeseran menuju mobilitas listrik menjadi katalis utama yang merevolusi industri manufaktur otomotif di Asia. Pasar otomotif global mengalami perubahan dinamika pasar karena pemerintah di berbagai negara telah menetapkan tujuan untuk mencapai akses listrik penuh di beberapa wilayah mereka sebagai bentuk kontribusi komitmen pengurangan emisi. Namun strategi elektrifikasi ini dapat menjadi tantangan finansial tersendiri bagi industri otomotif ataupun menjadi strategi bisnis berkelanjutan utama untuk mencapai kesuksesan jangka panjang. Dalam konteks ini, studi ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana berbagai indikator strategi adopsi kendaraan listrik (EV) terkait dengan profitabilitas dan nilai perusahaan dalam lingkungan dinamis seperti industri saat ini.. Studi ini menggunakan pendekatan data kuantitatif dengan pengujian regresi data panel. Pengamatan dilakukan pada tingkat perusahaan untuk 21 produsen otomotif yang terdaftar secara publik di Asia. Periode pengamatan dilakukan pada tahun 2018 hingga 2024 yang mencakup laju perkembangan EV selama periode tersebut. Tiga indikator digunakan untuk mengukur strategi adopsi EV: Rasio Penjualan EV, Keragaman Produk EV, dan Paten EV. Profitabilitas diukur menggunakan return on assets (ROA) dan nilai perusahaan dikur menggunakan Tobin’s Q. Untuk memisahkan pengaruh strategi EV dari perbedaan struktural antar perusahaan, ukuran perusahaan, usia perusahaan, leverage, produk domestik bruto, inflasi, dan perubahan harga minyak mentah digunakan sebagai variabel kontrol. Hasil studi ini menunjukan implikasi keuangan yang beragam dari ketiga indikator strategi adopsi EV. Rasio Penjualan EV menunjukan pengaruh negatif yang signifikan terhadap profitabilitas, artinya peningkatan pangsa penjualan EV memberikan tekanan jangka pendek pada kinerja operasional daripada manfaat. Namun Keragaman Produk EV dan Paten EV tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, yang menunjukan bahwa penawaran model EV yang lebih beragam dan dampak sumber daya teknologi seperti paten tidak dirasakan secara langsung memberikan manfaat keuangan. Hasil lain menunjukkan bahwa Rasio Penjualan EV dan Keragaman Produk EV tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini menyiratkan bahwa pasar modal belum mempertimbangkan secara sistematis elemen strategi EV ini dalam hal nilai perusahaan. Namun, Paten EV menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap nilai perusahaan, karena mewakili persepsi investor terhadap aset teknologi terkait EV sebagai peningkatan nilai. Kesimpulan ini sejalan dengan pandangan bahwa paten dapat berfungsi sebagai bentuk aset yang bertindak sebagai indikator awal inovasi yang dapat melindungi keunggulan kompetitif di masa depan dan berkontribusi pada sentimen pasar terhadap posisi jangka panjang. Secara ringkas, studi ini menunjukkan transisi menuju EV akan menjadi beban keuangan bagi perusahaan tanpa adanya perencanaan dan strategi yang matang, sementara aset berorientasi inovasi, terutama paten, mulai berubah menjadi nilai tambah perusahaan. Adapun implikasi bisnis bagi manajer untuk menyeimbangkan ekspansi EV dengan keberlanjutan keuangan, dan bagi pembuat kebijakan untuk memfasilitasi kemampuan industri yang akan memungkinkan mereka tetap kompetitif dalam jangka panjang di tengah perkembangan EV.

2025
👤 Penulis: Nanda Ismi Kumalawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK BISNIS SONGKET TRADISIONAL: MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA DI ERA FASHION MODERN

Penelitian ini mengkaji penurunan penjualan yang dialami Olivi Songket, sebuah brand fashion budaya yang berfokus pada warisan Batak, di tengah meningkatnya minat terhadaot fashion berkelanjutan dan produk autentik. Meskipun Olivi Songket memiliki keunggulan kompetitif dalam kualitas tenun, identitas budaya, dan kolaborasi dengan pengrajin, strategi pemasaran yang diterapkan belum sepenuhnya selaras dengan perubahan perilaku konsumen, peningkatan kompetisi digital, serta maraknya produk substitusi yang lebih terjangkau. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penurunan penjualan serta merumuskan rekomendasi strategi pemasaran yang mampu menjaga nilai budaya sekaloigus meningkatkan kinerja bisnis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan analisis Porter’s Five Forces, VRIO, SWOT-TOWS, dan Marketing Mix 7Ts. Analisis tematik menggunakan NVivo mengidentifikasi sejumlah tema utama yang memengaruhi persepsi dan perilaku pembelian konsumen: persepsi brand, persepsi produk, pengembangan produk, persepsi harga, promosi, komunikasi dan media sosial, distribusi, serta pengalaman layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan penjualan terjadi akibat lemahnya visibilitas digital, terbatasnya inovasi produk, komunikasi yang belum konsisten, serta ketidaksesuaian antara positioning budaya tradisional dan ekspektasi konsumen milenial serta Gen Z. Meskipun konsumen menghargai keaslian, kualitas, dan makna budaya produk, mereka juga mengharapkan desain yang lebih modern, adaptasi fungsional, kejelasan nilai harga, serta keterlibatan yang lebih konsisten melalui media sosial. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran terpadu menggunakan kerangka 7Ts yang mencakup inovasi produk, peningkatan kualitas layanan, penguatan storytelling berbasis budaya, komunikasi nilai yang lebih jelas, keterlibatan digital yang konsisten, serta penguatan saluran distribusi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penyelarasan antar keaslian budaya dan relevansi pasar modern merupakan kunci bagi pertumbuhan berkelanjutan Olivi Songket tanpa mengesampingkan nilai budaya yang diusung.

2025
👤 Penulis: Olivi Onma Dita
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

KERANGKA KO-KREASI TERINTEGRASI UNTUK UMKM KULINER: BUKTI EMPIRIS DARI PRAKTIK RANTAI NILAI, RESPONS KONSUMEN, DAN KINERJA BISNIS

Usaha Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia, khususnya melalui subsektor kuliner yang menjadi kontributor terbesar dalam ekonomi kreatif serta penghubung langsung antara sistem produksi pangan dan pengalaman konsumsi. Meskipun menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang kuat, UMKM kuliner menghadapi tantangan ilmiah dan praktis berupa meningkatnya intensitas persaingan, homogenisasi produk, serta keterbatasan diferensiasi yang sulit dijawab melalui strategi konvensional berbasis harga dan efisiensi. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan pendekatan strategis alternatif yang mampu menjelaskan bagaimana nilai dapat diciptakan secara kolaboratif dan berkelanjutan dalam konteks UMKM. Co- creation telah diakui dalam literatur sebagai pendekatan strategis untuk menciptakan nilai bersama dengan pelanggan dan mitra eksternal. Namun, kajian co-creation pada UMKM, khususnya UMKM kuliner, masih menghadapi keterbatasan konseptual dan empiris. Studi-studi sebelumnya cenderung terfragmentasi, berfokus pada praktik co-creation yang terisolasi, menekankan satu tahap interaksi tertentu, atau bersifat konseptual tanpa memetakan cocreation secara sistematis di sepanjang rantai nilai. Selain itu, masih terbatas pemahaman mengenai mekanisme psikologis konsumen yang menjembatani cocreation dan hasil relasional, serta bagaimana co-creation berfungsi sebagai kapabilitas organisasi usaha UMKM kuliner yang mendorong diferensiasi strategis dan kinerja bisnis multidimensional. Kesenjangan inilah yang mendasari pentingnya penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka co-creation yang integratif dan kontekstual bagi UMKM kuliner di Indonesia dengan menggabungkan empat dimensi utama, yaitu: (1) pemetaan tipologi co-creation di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner, (2) pengujian mekanisme psikologis konsumen sebagai penghubung antara co-creation dan hasil relasional, (3) analisis nilai kolaboratif yang dipersepsikan konsumen dalam kemitraan dan kolaborasi merek, serta (4) peran kapabilitas co-creation sebagai kapabilitas organisasi usaha yang mendorong diferensiasi dan kinerja bisnis multidimensional. Penelitian ini dibangun melalui beberapa tahapan riset yang saling terintegrasi. Tahap pertama merupakan studi kualitatif untuk memetakan tipologi co-creation di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner, meliputi tahap pengadaan, produksi, pengembangan produk, pemasaran, distribusi, dan interaksi dengan pelanggan. Tahap ini didasarkan pada proposisi bahwa co-creation tidak bersifat tunggal, melainkan tertanam sebagai praktik yang berbeda pada setiap tahapan rantai nilai dengan aktor dan logika penciptaan nilai yang beragam. Tahap kedua dan ketiga merupakan studi kuantitatif yang menguji hipotesis mengenai pengaruh cocreation terhadap keterlibatan, kepuasan, dan kepercayaan konsumen, serta peran nilai kolaboratif yang dipersepsikan dalam memengaruhi niat beli dan evaluasi merek. Tahap terakhir menguji asumsi bahwa kapabilitas co-creation, ketika didukung oleh enabler kolaborasi dan digitalisasi, berfungsi sebagai sumber daya tidak berwujud yang sulit ditiru dan berdampak signifikan pada diferensiasi serta kinerja bisnis UMKM kuliner. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-method). Data kualitatif dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menghasilkan pemetaan tipologi co-creation berbasis rantai nilai, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan structural equation modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antar konstruk pada tingkat konsumen dan organisasi usaha UMKM kuliner. Pendekatan ini memungkinkan integrasi antara pemahaman prosesual dan pengujian hubungan kausal secara empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa co-creation merupakan praktik multidimensional yang tertanam di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner. Pada level konsumen, co-creation terbukti meningkatkan keterlibatan, kepuasan, dan kepercayaan yang berperan sebagai mekanisme psikologis kunci dalam memperkuat hubungan dan perilaku konsumen. Dalam konteks kolaborasi dan kemitraan merek, nilai kolaboratif yang dipersepsikan konsumen terbukti berkontribusi signifikan terhadap niat beli dan evaluasi merek. Pada level organisasi usaha, kapabilitas co-creation, yang diperkuat oleh tata kelola kolaborasi dan digitalisasi, mendorong diferensiasi serta kinerja bisnis multidimensional UMKM kuliner. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur cocreation dengan memperluas perspektif dari pendekatan berbasis interaksi yang terfragmentasi menuju kerangka berbasis rantai nilai dan kapabilitas organisasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pelaku UMKM kuliner dan pembuat kebijakan dalam merancang dan mengimplementasikan strategi co-creation yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan untuk memperkuat daya saing UMKM di pasar berkembang.

2025
👤 Penulis: Lia Senda Riyanti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT DAN PERSEPSI KUALITAS LAYANAN DI PALARI COFFEE & EATERY

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerapan Customer Relationship Management (CRM) di Palari Coffee & Eatery, sebuah bisnis F&B yang mengalami tingkat kunjungan pelanggan baru yang tinggi namun kunjungan ulang yang rendah. Observasi awal menunjukkan adanya kesenjangan antara pengalaman layanan yang positif dan rendahnya retensi perilaku pelanggan, yang berdampak pada penurunan profitabilitas dari waktu ke waktu. Penelitian ini memiliki tiga tujuan: (1) menganalisis pengaruh CRM terhadap kepuasan pelanggan; (2) mengidentifikasi area CRM terlemah dalam mendukung kualitas layanan melalui analisis internal; dan (3) menyusun rencana perbaikan CRM yang terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method. Data kuantitatif diperoleh dari survei Likert terhadap 100 responden dan dianalisis menggunakan PLS-SEM untuk menilai pengaruh pemanfaatan pengetahuan pelanggan, praktik interaksi layanan, dan CRM berbasis teknologi terhadap kepuasan pelanggan. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur untuk menggambarkan keterbatasan CRM, serta didukung oleh data transaksi internal untuk menganalisis perilaku retensi aktual. Analisis kapabilitas strategis dilakukan menggunakan VRIO dan Resource-Based View. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh praktik CRM berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan, dengan pengelolaan pengetahuan pelanggan sebagai faktor terkuat. Namun, tingkat retensi tetap rendah (19,3%), yang mencerminkan kesenjangan antara nilai yang dirasakan dan kunjungan ulang. Temuan kualitatif menunjukkan praktik interaksi layanan dan koordinasi internal mendukung pengalaman layanan yang positif, sementara pengelolaan pengetahuan pelanggan dan penggunaan teknologi masih belum terstruktur. Analisis RBV– VRIO menegaskan bahwa kapabilitas CRM berbasis pengetahuan dan teknologi memiliki potensi strategis tinggi, namun belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan organisasi. Penelitian ini mengusulkan model penguatan CRM yang bersifat praktis melalui sepuluh inisiatif terintegrasi untuk meningkatkan pengambilan keputusan berbasis data dan memperkuat retensi pelanggan.

2025
👤 Penulis: Amadhea Yudith Eryanti
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Strategi

WIRED TO HIRE: KESIAPAN HR TERHADAP REKRUTMEN BERBASIS KECERDASAN BUATAN DI PERUSAHAAN TEKNOLOGI INDONESIA

Adopsi Artificial Intelligence (AI) dalam proses rekrutmen semakin berkembang di sektor teknologi Indonesia, namun pemahaman mengenai bagaimana HR mengalami, menafsirkan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan ini masih terbatas. Penelitian ini mengkaji kesiapan HR dalam menggunakan rekrutmen berbasis AI melalui pendekatan kualitatif abductive, berdasarkan wawancara mendalam dengan 11 perekrut dari perusahaan teknologi dengan tingkat kematangan yang beragam. Dengan menggunakan metodologi Gioia, analisis mengidentifikasi bagaimana AI dipersepsikan dan digunakan pada tahapan sourcing, screening, dan selecting, serta bagaimana kesiapan terbentuk melalui komponen ADKAR. Temuan menunjukkan bahwa AI diterima sebagai asisten yang efektif pada tahap awal rekrutmen, ketika kecepatan dan efisiensi menjadi prioritas. Namun, keterbatasannya dalam akurasi dan penilaian kontekstual membuat pengawasan manusia tetap diperlukan terutama pada tahap seleksi akhir, yang tetap didominasi penilaian manusia. Kesiapan terlihat kuat pada aspek awareness dan desire, tetapi tidak merata pada aspek knowledge dan ability, yang banyak dipengaruhi oleh pembelajaran informal, dukungan rekan kerja, dan kemudahan sistem dibandingkan pelatihan formal. Komponen reinforcement menjadi yang paling kompleks, dipengaruhi oleh budaya organisasi, variasi adopsi antar tim, pembatasan privasi data, dan regulasi industri. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana AI mengubah peran HR: mengurangi beban administratif, memperkuat fokus pada interaksi manusia, dan menghadirkan kompetensi baru seperti prompting, literasi digital, dan evaluasi kritis terhadap keluaran AI. Secara teoretis, penelitian ini menawarkan perspektif bertahap (stage-based) mengenai adopsi AI dalam rekrutmen, memperluas pemahaman tentang kesiapan perubahan sebagai konstruksi yang bergantung pada konteks, serta memperkaya literatur mengenai konfigurasi peran manusia–AI. Secara praktis, temuan ini menegaskan bahwa integrasi AI yang efektif membutuhkan bukan hanya investasi teknologi, tetapi juga keselarasan budaya, pengembangan kapabilitas, dan tata kelola yang menghargai baik penilaian manusia maupun batasan kontekstual. Hasil penelitian menempatkan AI bukan sebagai pengganti perekrut, melainkan sebagai katalis yang mereposisi dan pada akhirnya memperkuat dimensi manusia dalam pekerjaan rekrutmen.

2025
👤 Penulis: Gloria Natapraja Hamel
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Perekurunan 🏷️ Hidrologi Perusahaan

IMPLEMENTASI ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEUANGAN TERINTEGRASI DALAM KERANGKA KONSEPTUAL SISTEM MANAJEMEN KINERJA BERBASIS PENGETAHUAN (KBPMS) UNTUK MENGELOLA PERTUKARAN KUALITAS-BIAYA DALAM INDUSTRI MINUMAN

Industri manufaktur minuman menghadapi "pertukaran antara produk yang mahal dan kualitas". Masalah ini menimbulkan dilema bagi perusahaan, karena harga kinerja manufaktur perusahaan tidak dapat dipisahkan dari biaya dan kualitas produk. Hampir semua sistem manajemen kinerja yang ada kekurangan indikator keuangan dan operasional, dan sistem yang ada seringkali terpisah dan tidak memiliki informasi spesifik yang diperlukan untuk mengevaluasi pengambilan keputusan guna memberikan dasar yang memadai bagi perusahaan untuk mengambil keputusan. Masalah ini diatasi dengan penerapan kerangka sistem manajemen kinerja berbasis pengetahuan dan analisis keputusan keuangan dengan strategi trade-off keuangan dan biaya-kualitas untuk memberikan keputusan. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi kerangka konseptual, yang dikombinasikan dengan Kerangka Analisis Keuangan, Total Biaya Kepemilikan (TCO), Analisis Biaya Manfaat (CBA), dan Analisis Sensitivitas (SA), bersama dengan Proses Hierarki Analitis (AHP), untuk membuat penentuan analitis tentang manufaktur minuman di PT CNZ. Sistem Manajemen Kinerja Berbasis Pengetahuan (KBPMS) mencakup analisis keputusan keuangan sebagai indikator kelayakan ekonomi, seperti Nilai Bersih Sekarang (NPV), Tingkat Pengembalian Internal (IRR), dan periode pengembalian modal. Analisis sensitivitas digunakan sebagai alat untuk menilai sensitivitas variabel yang dapat memengaruhi kelayakan keuangan suatu perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi KBPMS dengan alat pengambilan keputusan keuangan dapat membantu dalam evaluasi pertukaran biaya-kualitas yang lebih berbasis data dan, untuk keputusan alokasi modal, membantu dalam memasukkan KBPMS ke dalam instrumen pengambilan keputusan keuangan. Penelitian empiris ini menawarkan dukungan empiris untuk praktik manajemen kinerja menggunakan struktur pendukung keputusan keuangan, yang direplikasi di perusahaan manufaktur yang mengalami masalah biaya dan kualitas serupa.

2025
👤 Penulis: Raynald Frederick
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Keuangan

PERANCANGAN STRATEGI REKRUTMEN YANG SISTEMATIS DAN BERBASIS NILAI UNTUK MENARIK TALENTA GENERASI Z: STUDI KASUS PADA INTEKNO

Penelitian ini mengkaji tantangan rekrutmen yang dihadapi oleh INTEKNO, sebuah perusahaan keteknikan skala kecil–menengah yang sedang bertransisi dari pola pengambilan keputusan berbasis intuisi menuju praktik organisasi yang lebih terstruktur. Pada tahap awal pengembangan perusahaan, proses rekrutmen sangat bergantung pada intuisi pendiri perusahaan, jaringan personal dan kebutuhan situasional. Meskipun pendekatan ini efektif pada fase awal, seiring dengan meningkatnya kompleksitas bisnis, praktik tersebut menimbulkan pengambilan keputusan perekrutan yang tak konsisten, lemahnya dokumentasi serta ketidaksesuaian antara perilaku karyawan dan ekspektasi organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan sumber data utama berupa self-observation yang dilakukan selama periode 2019-2025. Untuk meningkatkan validitas penelitian, data tersebut ditriangulasikan dengan wawancara semi-terstruktur terhadap para pemangku kepentingan serta telaah dokumen internal yang berkaitan dengan praktik rekrutmen. Analisis data dilakukan menggunakan metodologi Gioia, yang memungkinkan temuan empiris diolah secara sistematis menjadi tema-tema konseptual terkait evolusi rekrutmen dan proses pembelajaran organisasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran praktik rekrutmen di INTEKNO dari pendekatan informal dan berbasis relasi menuju proses yang lebih prosedural dan reflektif. Namun demikian masih terdapat sejumlah kesenjangan, antara lain belum adanya tahapan rekrutmen yang terstandarisasi, keterbatasan penggunaan alat ukur yang objektif serta saluran pencarian kandidat yang belum konsisten. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan Systematic and Value-Based Recruitment Framework (SVRF) yang terdiri dari lima tahap berurutan, yaitu perencanaan tenaga kerja & analisis jabatan, pencarian kandidat, asesmen terstruktur, pengambilan keputusan perekrutan secara kolektif serta evaluasi pasca-rekrutmen. Dalam rangka meningkatkan objektivitas dan keselarasan nilai dalam proses seleksi, penelitian ini juga memperkenalkan dua instrumen asesmen yang saling melengkapi, yaitu ETIKA Cultural Fit Assessment dan Person–Job Fit (P–J Fit) Matrix. Kedua instrumen tersebut diintegrasikan ke dalam Composite Fit Score (CFS) untuk menilai kandidat tidak hanya berdasarkan kompetensi teknis tetapi juga integritas perilaku dan kesesuaian dengan nilai-nilai organisasi. Selain itu penelitian ini merekomendasikan strategi pencarian kandidat yang lebih beragam melalui pemanfaatan platform digital, kemitraan institusional serta jaringan internal guna menarik talenta Generasi Z. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan kinerja organisasi di INTEKNO sangat bergantung pada institusionalisasi praktik rekrutmen yang terstruktur, terukur dan berbasis nilai. Kerangka kerja yang diusulkan memberikan panduan praktis bagi perusahaan keteknikan skala kecil–menengah yang menghadapi tantangan pergeseran generasi tenaga kerja dan keterbatasan sumberdaya manusia lokal, tanpa mengorbankan fleksibilitas organisasi dalam fase pertumbuhan.

2025
👤 Penulis: Fajar Kawolu
🏷️ Rekrutmen 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS RISIKO DAN PEMANTAUAN RISIKO UNTUK PROYEK: STUDI KASUS PADA PROYEK KONSTRUKSI KONVEYOR

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menetapkan target produksi dan penjualan jangka panjang yang ambisius di tengah dinamika pasar energi yang terus berubah. Ketika harga batubara cenderung stabil atau menurun sementara harga minyak meningkat, PTBA dituntut untuk menjaga efisiensi biaya guna mempertahankan daya saing dan profitabilitas. Dalam konteks ini, peningkatan efisiensi produksi menjadi krusial, salah satunya melalui pembangunan sistem konveyor di dalam tambang untuk menggantikan pengangkutan batubara berbasis truk. Mengingat besarnya investasi yang terlibat, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada penerapan manajemen risiko proyek yang konsisten dan efektif, yang saat ini belum sepenuhnya terintegrasi secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan analisis kesenjangan untuk mengevaluasi implementasi manajemen risiko proyek PTBA dengan membandingkan praktik yang berjalan terhadap standar ISO 31000:2018 dan prosedur internal perusahaan. Hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan utama pada prioritisasi risiko, analisis risiko kuantitatif, dan pemantauan risiko. Meskipun risiko telah diidentifikasi, analisis dampak finansial dan pemanfaatan Indikator Risiko Utama (KRI) sebagai peringatan dini belum diterapkan secara optimal. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini melakukan identifikasi ulang risiko dengan menganalisis konteks internal dan eksternal proyek menggunakan kerangka 5M dan PESTEL. Risiko yang teridentifikasi kemudian dianalisis dengan mengkuantifikasi dampaknya dan mensimulasikannya dalam model keuangan untuk menilai NPV dan IRR proyek. Berdasarkan hasil tersebut, risiko utama diprioritaskan, strategi mitigasi disusun, serta KRI dirancang untuk mendukung pemantauan risiko secara berkala dan pengambilan keputusan manajemen

2025
👤 Penulis: Prilly Febi Pratiwi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko Proyek

USULAN PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA BERBASIS PENGETAHUAN (KBPMS) UNTUK UKM FURNITURE: STUDI KASUS CV MULYA PRATAMA PUTRA

Industri furnitur Indonesia terus berkembang. Namun, UKM menghadapi banyak tantangan seperti ketidakstabilan operasional, kurangnya kendali proses, dan penurunan kinerja. CV Mulya Pratama Putra, eksportir furnitur kayu dan rotan, menghadapi masalah yang sama, mulai dari penurunan pendapatan, pemanfaatan mesin yang kurang optimal, kurangnya koordinasi produksi, dan kurangnya pendekatan terstruktur untuk mengukur kinerja mereka. Semua masalah yang disebutkan memengaruhi efisiensi bisnis, menunjukkan perlunya kerangka kerja yang lebih jelas untuk memandu perbaikan dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik. Penelitian ini merancang Sistem Manajemen Kinerja Berbasis Pengetahuan (KBPMS) yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Analisis PESTEL, Porter’s Five Forces, VRIO, dan SWOT digunakan untuk menentukan posisi strategis dan mengidentifikasi kesenjangan kapabilitas. Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan memiliki keterampilan produksi dan akses pasar yang kuat, namun masih lemah dalam keandalan proses, kapabilitas tenaga kerja, pemanfaatan teknologi, dan pemantauan kinerja. Berdasarkan visi, misi, dan peta strategi yang telah diperbarui, dikembangkan 20 indikator kinerja yang mencerminkan tiga perspektif KBPMS: hasil bisnis, proses internal, dan kapabilitas sumber daya. Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas, dengan indikator paling penting meliputi pertumbuhan pendapatan, keandalan pemasok, utilisasi mesin, pengurangan cacat, dan produktivitas karyawan. Desain KBPMS yang dihasilkan mencakup standar pengukuran, alur pelaporan, tingkat maturitas, dan rencana implementasi yang realistis untuk lingkungan UKM. Sistem ini memberi perusahaan alat untuk memantau kinerja secara berkala, menentukan fokus perbaikan, dan membuat keputusan berdasarkan data. Jika diterapkan secara konsisten, KBPMS diharapkan dapat meningkatkan stabilitas produksi, memperkuat koordinasi, meningkatkan kualitas produk, dan memperkuat daya saing ekspor CV Mulya Pratama Putra.

2025
👤 Penulis: Dimas Rizki M Ramadhan
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Swot

DARI TAYANGAN VIRAL KE KESUKSESAN BRAND: MEMAHAMI STRATEGI BRAND FMCG DI EKOSISTEM TIKTOK SHOP INDONESIA MELALUI PENGALAMAN BRAND MANAGER

TikTok Shop telah dengan cepat mentransformasi pemasaran FMCG di Indonesia dengan mengintegrasikan konten, perdagangan, dan komunitas dalam satu platform, menciptakan dinamika strategis yang berbeda, di mana konten viral, iklan berbayar, dan kemitraan afiliasi beroperasi berbeda dibandingkan kanal e-commerce tradisional. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana viral marketing, investasi digital marketing, dan affiliate marketing mempengaruhi kinerja produk FMCG di TikTok Shop Indonesia. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh profesional marketing dari perusahaan FMCG multinasional yang mengelola produk kecantikan, perawatan rumah tangga, dan ibu-bayi, dengan pengalaman platform 12–36 bulan atau lebih. Analisis tematik mengungkapkan bahwa ketiga strategi ini secara signifikan mempengaruhi pendapatan sebagai komponen yang saling bergantung. Affiliate marketing muncul sebagai pendorong utama, menyumbang 60–80% penjualan dibandingkan 30–40% pada platform tradisional. Viral marketing menghasilkan pendapatan melalui konten autentik yang terlokalisasi budaya dan beresonansi dengan konsumen Indonesia. Efektivitas investasi digital bergantung pada alokasi berbasis data dan optimisasi platform, dengan beberapa merek mengalihkan anggaran dari Instagram ke TikTok (perubahan proporsi 75%/25%). Konsep “Infinity Loop” muncul, menunjukkan bahwa dampak berkelanjutan membutuhkan koordinasi kontinyu, di mana konten viral menciptakan awareness, affiliate mengonversi penjualan, dan investasi memperkuat keduanya. Temuan ini menekankan bahwa merek FMCG perlu mengembangkan kapabilitas terintegrasi yang mengkoordinasikan konten, komunitas, dan perdagangan, bukan sekadar mengelola strategi secara terpisah. Kesuksesan memerlukan keahlian spesifik platform, portofolio affiliate yang terdiferensiasi (mega, micro, targeted, open plan), konten autentik budaya, serta mekanisme agile untuk memanfaatkan momen viral melalui aktivasi affiliate dan amplifikasi berbayar secara cepat.

2025
👤 Penulis: I Gusti Gede Agung Aditya Adnyana Putra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 92 dari 418
💬