📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA UNTUK EVALUASI DAN OPTIMALISASI KINERJA PEMBANGKIT PADA PLTP ULUBELU UNIT 1-2
Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Ulubelu Unit 1 dan 2 di WKP Waypanas, Lampung, telah beroperasi sejak 2012 dan berperan sebagai base load power plant dengan kontribusi sekitar 25% terhadap pasokan listrik Provinsi Lampung. Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, degradasi kinerja pada komponen utama seperti turbin, kondenser, dan cooling tower menjadi tantangan besar karena meningkatkan irreversibilitas dan menurunkan efisiensi sistem secara keseluruhan. Analisis hukum kedua termodinamika berbasis eksergi digunakan untuk mengidentifikasi sumber irreversibilitas, distribusi kerugian terbesar serta merumuskan strategi optimasi kinerja PLTP Ulubelu Unit 1 dan 2 yang layak secara teknis maupun ekonomis. Analisis dilakukan melalui pemodelan termodinamika menggunakan Cycle Tempo 5.0 dengan data operasi aktual yang dibandingkan terhadap kondisi desain (baseline), dilanjutkan dengan analisis exergy destruction pada tiap komponen utama. Selanjutnya, evaluasi kelayakan ekonomi strategi optimasi dilakukan menggunakan indikator Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Out Time (POT). Hasil penelitian menunjukkan efisiensi eksergi eksisting sebesar 58,1% (Unit 1) dan 57,9% (Unit 2), lebih rendah dibandingkan kondisi baseline sebesar 66,5%. Kontributor utama kerugian eksergi berasal dari kondenser, turbin, dan cooling tower dengan kontribusi masing-masing di atas 10%. Strategi optimasi yang diusulkan meliputi optimasi sistem Gas Ejector melalui pemasangan Variable Frequency Drive (VFD) pada Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP), perbaikan seal dan bearing turbin, serta pemasangan VFD pada kipas cooling tower. Hasil evaluasi ekonomi menunjukkan pemasangan VFD LRVP dan kipas cooling tower layak secara ekonomi dengan IRR di atas 30% dan POT kurang dari 3,5 tahun. Implementasi optimasi meningkatkan efisiensi eksergi menjadi 64,8% (Unit 1) dan 64,7% (Unit 2).
PROYEKSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEANDALAN DEBIT DAS PROGO, WS PROGO OPAK SERANG, PROVINSI JAWA TENGAH – D.I YOGYAKARTA
Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan sumber daya air, salah satunya sebagai sumber air baku. Pertumbuhan populasi dan urbanisasi meningkatkan konversi lahan, menurunkan kualitas lingkungan, dan menekan sumber daya alam. Kombinasi perubahan iklim dan konversi lahan memperburuk rezim aliran sungai, mengurangi fungsi konservasi air, dan meningkatkan risiko bencana hidrologi yang mempengaruhi ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting dan proyeksi tutupan lahan dan curah hujan DAS Progo hingga tahun 2050, serta mengevaluasi keandalan DAS Progo dalam memenuhi kebutuhan air baku SPAM Kartamantul di bawah pengaruh perubahan iklim skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Penelitian ini mengintegrasikan pendekatan penginderaan jauh dengan analisis model Cellular Automata-Markov Chain, pemodelan hidrologi F.J. Mock dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penutupan lahan DAS Progo pada tahun 2050 tetap didominasi penutupan lahan pertanian yaitu 75,4% dari total luas DAS dan terjadi peningkatan penutupan lahan tanpa tanaman sebanyak 6.4% pada tahun 2050. Proyeksi tahun 2050 curah hujan DAS Progo mengalami peningkatan pada skenario SSP 2-4.5 namun mengalami penurunan pada skenario SSP 5-8.5 dibandingkan kondisi eksisting. Proyeksi kebutuhan air di DAS Progo untuk wilayah layanan SPAM Kartamantul akan terus meningkat pada tahun 2050 hingga 4.206,42 l/s. Rata – rata debit andalan Q90 pada tahun 2050 untuk skenario SSP 2-4.5 adalah sebesar 72.150 l/s sedangkan skenario SSP 5-8.5 adalah sebesar 70.330 l/s. Kebutuhan air untuk SPAM Kartamantul dapat terpenuhi hingga tahun 2050 pada skenario SSP 2-4.5 dan SSP 5-8.5 (Supply > Demand). Indeks Konservasi DAS Progo tahun 2050 berstatus degradasi (IKc < IKa). Kawasan dengan status kritis menjadi 15,8% pada tahun 2050.
ANALISIS SEBARAN EMISI GAS BTEX DARI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SARIMUKTI MENGGUNAKAN MODEL AERMOD
TPA Sarimukti merupakan salah satu lokasi penimbunan sampah di Kabupaten Bandung Barat yang berpotensi melepaskan emisi senyawa BTEX (benzena, toluena, etilbenzena, dan xilena) yang bersifat volatil serta dapat berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi rata-rata emisi BTEX, menganalisis pola sebarannya, dan menentukan area dengan potensi konsentrasi tertinggi berdasarkan hasil pemodelan. Pengukuran BTEX dilakukan pada empat titik pengamatan, pada area zona timbunan sampah (A, B, dan C) dan area IPAL (D), menggunakan metode NIOSH 1501, dan data lapangan digunakan untuk validasi hasil simulasi model agar mendekati kondisi aktual. Estimasi laju emisi dihitung menggunakan LandGEM, sedangkan pola dispersi dianalisis dengan AERMOD yang mempertimbangkan kondisi meteorologi dan topografi setempat. Rata-rata konsentrasi tertinggi diperoleh pada titik B dan C, masing-masing sebesar 57,2 µg/m³ dan 66,3 µg/m³, sedangkan titik A dan D menunjukkan nilai lebih rendah, yaitu 54,2 µg/m³ dan 55,6 µg/m³. Pola sebaran BTEX dipengaruhi oleh arah angin dominan dari selatan–barat daya menuju utara–timur laut dengan kecepatan rendah serta diperkuat oleh bentuk topografi cekungan, sehingga akumulasi polutan cenderung terjadi pada sisi utara area operasional. Hasil AERMOD menunjukkan bahwa konsentrasi maksimum simulasi 3 jam mencapai 90,4 µg/m³ untuk benzena, 60,4 µg/m³ untuk toluena, 7,51 µg/m³ untuk etilbenzena, dan 37,8 µg/m³ untuk xilena. Pada rata-rata 24 jam, konsentrasi masing-masing senyawa adalah 40,5; 27,1; 3,37; dan 16,9 µg/m³. Wilayah permukiman menunjukkan konsentrasi jauh lebih rendah, menandakan bahwa dampak emisi BTEX paling signifikan terjadi di dalam area operasional landfill. Temuan ini menegaskan pentingnya aktivitas landfill, meteorologi, dan topografi dalam mengendalikan dispersi BTEX serta menjadi dasar bagi strategi mitigasi kualitas udara di sekitar TPA
LUKISAN PATAFISIK: REFLEKSI KRITIS TERHADAP KONDISI POSTHUMAN MELALUI PRAKTIK BERKARYA SENI LUKIS
Perkembangan teknologi digital telah melahirkan paradigma budaya baru yang menantang batas ontologis antara manusia dengan non-manusia, tubuh dengan mesin. Fenomena ini memicu munculnya diskursus posthumanisme, yang menggeser pusat pengetahuan dari subjek manusia ke jaringan relasional yang melibatkan entitas non-manusia, termasuk di dalamya kecerdasan buatan (AI). Dalam konteks seni rupa, perubahan ini memunculkan tantangan baru terhadap peran tubuh, ekspresi psikologis, dan makna kreatif dalam praktik artistik yang semakin didominasi oleh teknologi digital. Titik tolak disertasi ini diawali dari persoalan bagaimana seni lukis dapat menjadi ruang refleksi kritis terhadap fenomena posthuman melalui penggabungan ekspresi tubuh manusia dengan representasi digital. Dengan menggunakan pendekatan estetika paradok, penelitian ini mengajukan konsep paradok sebagai kerangka kritis untuk merepresentasikan keganjilan visual, ironi, dan absurditas yang muncul dari pertemuan antara gestur manual dan citra digital. Pendekatan Art Practice as Research (APaR) dipakai sebagai metoda untuk mengkaji sejauhmana problem estetika seni lukis yang dapat dielaborasi dalam konteks posthumanisme. Diawali dengan tahapan konseptual, eksperimentasi visual, dokumentasi, hingga refleksi afektif melalui interaksi antara penulis (seniman), medium, dan visual digital. Praktik seni lukis tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan representasional, melainkan sebagai bentuk artikulasi epistemologis dan refleksi kritis terhadap pergeseran eksistensi tubuh yang terjadi di era posthuman. Image yang dibuat dengan generatif AI dimanfaatkan sebagai basis visual untuk direspon secara manual dengan media cat minyak. Metode ini dipakai untuk menjelajahi kemungkinan lukisan sebagai medium embodied dalam mengembalikan kehadiran tubuh manusia secara fisik yang semakin tersisih dalam estetika visual digital. Kerangka konseptual dalam penelitian dibangun dari pemikiran Rosi Braidotti mengenai subjek posthuman, N. Katherine Hayles tentang disembodiment dan informasi, pendekatan posthuman afirmatif dari Feranndo, serta estetika post digital sebagaimana dibahas oleh Christiane Paul dan Kim Cascone, dan estetika paradok yang digagas oleh Yacob Sumardjo. Studi komparasi mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dan Hays, Tom Palin, dan Michael Stubbs yang secara aktif mempersoalkan batas antara visual digital dan manual. Kontribusi orisinal (novelty) dari penelitian ini adalah perumusan estetika paradok dalam konteks posthumanisme sebagai model penciptaan artistik yang menegaskan pentingnya keberadaan tubuh dalam kolaborasi manusia dengan mesin. Refleksi kritis tidak diarahkan pada penolakan terhadap teknologi, tetapi pada tindakan estetis yang merayakan kehadiran tubuh manusia sebagai sumber pengalaman dan makna di tengah dunia visual posthuman. Melalui pendekatan ini, seni lukis didudukan sebagai ruang pengetahuan embodied yang mampu merespons kompleksitas visual, etika, dan eksistensi dalam budaya algoritmik kontemporer. Di sisi yang lain menunjukkan bahwa seni lukis tetap relevan sebagai medium pemikiran dan produksi pengetahuan dalam lingkup budaya pasca-manusia
STUDI POTENSI PEMANFAATAN SHALE SEBAGAI MATERIAL TIMBUNAN MENGGUNAKAN PRINSIP MEKANIKA TANAH TAKJENUH
Shale merupakan material yang melimpah di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya wilayah Purwakarta, Cisomang. Namun karakteristiknya yang sangat sensitif terhadap perubahan kadar air membuat material ini kurang stabil apabila digunakan langsung sebagai material timbunan. Perubahan kadar air pada shale dapat memicu kembang-susut yang besar, sehingga diperlukan suatu sistem pengendalian kadar air untuk menjaga tanah tetap stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi seberapa efektif sistem hydrophobic gravel barrier baik pada kondisi ventilated maupun unventilated dalam mengontrol perubahan kadar air shale pada berbagai variasi muka air tanah (MAT) mulai dari 5 hingga 120 cm. Pengujian dilakukan menggunakan kolom kapilaritas elemental selama ±60–200 hari dan diverifikasi melalui analisis numerik SEEP/W menggunakan kurva karakteristik tanah–air (SWCC) hasil regresi laboratorium. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa barrier hydrophobic gravel–ventilated adalah konfigurasi paling efektif. Pada kondisi ini, kenaikan kadar air shale (?w) berada pada rentang 0.1–1.3%, meskipun MAT dinaikkan sampai 120 cm. Pada hydrophobic–unventilated, kenaikan kadar air meningkat menjadi 0.4–1%, sedangkan pada gravel uncoated–unventilated, perubahan kadar air jauh lebih besar, dengan ?w mencapai 8.7%. Hal ini menunjukkan bahwa sifat hidrofobik pada barrier dapat meminimalisir kapilaritas, sementara ventilasi mencegah akumulasi uap air yang dapat memperbesar kadar air shale. Secara keseluruhan, kombinasi hydrophobic coating dan ventilasi mampu menjaga kadar air shale tetap rendah dan stabil. Dengan metode yang tepat, shale berpotensi aman dan layak untuk dimanfaatkan sebagai material timbunan, sekaligus memberikan alternatif material yang lebih ekonomis pada proyek konstruksi.
PENGEMBANGAN MODEL PENYEBAB PENOLAKAN INDIVIDU TERHADAP PERUBAHAN DI BUMN
Saat ini, organisasi di Indonesia, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dituntut mampu beradaptasi untuk menjaga keberlangsungan hidup organisasi melalui manajemen perubahan. BUMN melakukan transformasi ke core values AKHLAK untuk adaptasi tantangan domestik dan global. Namun, transformasi tersebut memiliki tantangan dari sisi strategi, manajerial, adaptabilitas, dan sistem perusahaan. Tantangan ini disebabkan oleh kebiasaan manusia yang telah memengaruhi sistem dan cenderung menolak perubahan karena menilai kondisi saat ini sudah bagus, sehingga menghambat proses perubahan. Penolakan ini berasal dari individu terlibat yang dipengaruhi oleh karakter dan pengaruh tim dan organisasi. Di sisi lain, berdasarkan literatur yang ada, penelitian yang meninjau faktor di ketiga tingkat tersebut secara bersamaan masih sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk mengeksplorasi faktor penolakan individu terhadap perubahan di tingkat individu, tim, dan organisasi secara bersamaan dan mengembangkan strategi untuk mengatasi penolakan. Penelitian ini mengeksplorasi faktor penolakan individu terhadap perubahan dengan berfokus pada variabel karakter individu (tingkat individu), budaya organisasi (tingkat organisasi), kepemimpinan (tingkat tim), dan sumber daya organisasi (tingkat organisasi). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menggunakan metode PLS-SEM untuk analisis data dengan metode survei/kuesioner untuk pengumpulan data. Objek penelitian ini adalah dua BUMN di Indonesia, dari sektor minyak & gas serta kurir & logistik. Responden adalah karyawan dari kedua perusahaan yang mengalami transformasi tersebut. Hasil penelitian ini adalah tiga faktor meliputi sumber daya organisasi dan karakter individu memiliki pengaruh negatif signifikan, sementara kepemimpinan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap penolakan individu terhadap perubahan dalam konteks BUMN. Penelitian ini menyarankan tindakan pengelolaan yang terdiri dari komunikasi berbasis segmen, efikasi diri, forum timbal balik, kepemimpinan transformasional, infrastruktur, dan pelatihan.
EVALUASI PERILAKU PENGGUNA ADVANCED DRIVER ASSISTANCE SYSTEM (ADAS) DI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN COGNITIVE-AFFECTIVE-CONATIVE
Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) merupakan inovasi krusial untuk meningkatkan keselamatan berkendara dengan meminimalkan human error, penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Meskipun potensinya besar, pemanfaatan ADAS di Indonesia belum optimal karena adanya kesenjangan pada pemanfaatan teknologi ADAS akibat variabel perilaku pengguna. Penelitian ini hadir untuk mengevaluasi faktor-faktor perilaku yang memengaruhi penggunaan ADAS yang umum digunakan di Indonesia dengan mengadopsi kerangka teori Cognitive-Affective-Conative (CAC), sehingga dapat dikembangkan rekomendasi strategi untuk meningkatkan penggunaan ADAS di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei kuesioner yang disebarkan kepada 430 pengguna ADAS di Indonesia. Kuesioner yang dikembangkan didasari oleh model konseptual penggunaan ADAS dari penelitian Mudiastuti, (2025) yang terdiri dari variabel Pemahaman dan Persepsi (Kognitif), Preferensi dan Intensi (Afektif), serta Penggunaan (Konatif). Data survei dianalisis menggunakan beberapa uji statistik non parametrik dan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji perbedaan statistik serta menguji setiap hipotesis hubungan antar variabel pada model konseptual. Hasil evaluasi model struktural menunjukkan bahwa semua jalur hipotesis secara signifikan memiliki hubungan positif. Hal tersebut mengkonfirmasi adanya pengaruh variabel perilaku dalam konteks adopsi ADAS di Indonesia. Preferensi (PF) ADAS terbukti menjadi variabel perilaku paling penting dengan nilai effect size (f 2 ) terbesar dalam mendorong Penggunaan (PG) ADAS di Indonesia. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan perilaku signifikan berdasarkan jenis kelamin, namun ditemukan adanya kesenjangan generasi yang jelas, di mana pengemudi berusia 17-25 tahun menunjukkan tingkat pemahaman dan penggunaan aktual yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan penggunaan ADAS, dikembangkan rekomendasi berupa pelatihan berbasis simulator dan kampanye ADAS berbasis sosial media.
EVALUASI DESAIN UNTUK MINIMASI KESALAHAN IDENTIFIKASI NOMINAL: TINJAUAN ATENSI UNTUK UANG KERTAS 2.000 DAN 20.000 RUPIAH TAHUN EMISI 2022
Di antara pecahan uang Rupiah kertas Tahun Emisi 2022, Rp2.000 dan Rp20.000 merupakan pecahan yang paling sering tertukar dalam transaksi sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain uang kertas rupiah nominal dari segi atensi berdasarkan uang Rp2.000 dan Rp20.000, sehingga dapat diberikan usulan desain untuk meminimasi kesalahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Adapun metode kuantitatif dilakukan dengan eksperimen eye tracking, sedangkan kualitatif dengan wawancara. Penelitian dilakukan pada sebanyak 24 partisipan yang berumur 20-30 tahun. Eksperimen dilakukan dengan mengamati uang Rp2.000 dan Rp20.000 dalam berbagai orientasi, sementara data direkam menggunakan perangkat Pupil Core. Metrik utama yang dianalisis meliputi Time to First Fixation (TTFF), Total Fixation Duration (TFD), dan Fixation Count (FC). Selebihnya, wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan terkait persepsi partisipan terhadap uang Rupiah terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atensi partisipan paling lama cenderung tertuju pada area potret dan angka nominal utama. Potret pahlawan sebagai elemen paling besar menjadi area yang paling dahulu dilihat. Visualisasi heatmap dan scanpath memperkuat temuan ini. Selebihnya, wawancara menunjukkan bahwa aspek warna, kontras, serta jumlah angka nol turut memengaruhi preferensi partisipan. Temuan ini memberikan implikasi desain terhadap kejelasan identifikasi uang.
RESILIENSI MANUSIA TERHADAP HAWA PANAS: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIK MENGENAI STRATEGI ADAPTASI BAGI KESEHATAN LINGKUNGAN DI KAWASAN ASIA TENGGARA
Asia Tenggara merupakan rumah bagi sekitar 679 juta orang, mewakili 8,3% dari populasi dunia. Delapan dari sebelas negara di kawasan tropis ini menyatakan bahwa mereka mengalami gelombang panas. Tren ini diperkirakan akan semakin intensif seiring waktu, menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia di kawasan ini, sehingga diperlukan strategi adaptasi yang efektif. Studi ini melakukan Systematic Literature Review (SLR) untuk mensintesis bagaimana negara-negara di Asia Tenggara terpapar dan merespons panas. Pedoman PRISMA digunakan dalam studi ini, dan alat SLR berbasis web (Watase Uake) digunakan untuk mengumpulkan artikel dari jurnal bereputasi yang terindeks Scopus dalam 10 tahun terakhir (2015–2025) mengenai isu panas dan adaptasi di Asia Tenggara. Dari pencatatan awal, ditemukan 144 artikel relevan yang dianalisis. Data yang diekstraksi mencakup isu kesehatan terkait panas, adaptasi masyarakat, strategi untuk mengurangi dampak panas, dan kebijakan nasional. Hasil studi ini mengungkapkan kelompok rentan, risiko kesehatan secara fisik dan psikologis, strategi, serta efektivitas respons masing-masing negara terhadap panas, termasuk kebijakan dan regulasi yang diterapkan terkait kejadian panas. Banyak studi menunjukkan bahwa lansia, pekerja luar ruangan, dan komunitas berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling terdampak oleh panas, dengan penyakit yang umum terjadi adalah penyakit terkait panas seperti stres panas dan stroke panas. Peningkatan ruang terbuka hijau merupakan strategi yang paling umum digunakan di semua negara untuk mengatasi panas, diikuti oleh modifikasi teknologi dan material. Hasil ini dibandingkan dengan status gelombang panas di setiap negara, sehingga dapat menyiratkan kesiapan negara dalam menghadapi panas di wilayah masing-masing. Kami merekomendasikan peningkatan integrasi adaptasi terhadap panas ke dalam perencanaan kesehatan masyarakat dan tata kota, serta memperkuat kolaborasi regional untuk meningkatkan ketahanan komunitas terhadap panas.
KAJIAN FENOMENOLOGI PENGALAMAN ARTISTIK PERUPA LINTAS-MEDIA SEBAGAI PROSES EPISTEMIK DALAM KREASI MENGGUNAKAN VIRTUAL REALITY
Praktik artistik berevolusi secara fundamental seiring perkembangan teknologi media, dengan virtual reality (VR) menjadi salah satu lompatan paling transformatif di era seni rupa kontemporer. Sebagai lingkungan kreasi yang imersif, VR secara radikal mengubah cara seni diproduksi, dialami, dan diketahui. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pemahaman mengenai bagaimana perupa dengan basis pengetahuan pada media fisik atau digital non-imersif mengalami proses transformasi epistemik (sebuah restrukturisasi mendalam pada cara mengetahui, merasakan, dan mencipta) saat pertama kali berinteraksi dengan medium baru ini. Penelitian ini menjembatani tiga kesenjangan utama: (1) kesenjangan empiris mengenai minimnya dokumentasi proses kognitif dan embodied pada momen transisi perdana perupa ke VR; (2) kesenjangan teoretis, di mana teori mapan seperti pengalaman artistik John Dewey dan Limas Citra Manusia Primadi Tabrani memerlukan perluasan untuk menjelaskan fenomena imaterialitas dan interaktivitas digital; serta (3) kesenjangan praktis-epistemologis terkait ketiadaan landasan berbasis riset untuk pengembangan pedagogi seni VR di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar dan memodelkan proses transformasi pengetahuan artistik yang dialami perupa pada momen inisiasi dengan VR. Dengan berlandaskan paradigma interpretif-konstruktivis dan pendekatan fenomenologi, penelitian dirancang sebagai studi kasus mendalam pada tiga perupa profesional (ilustrator, pematung, dan pelukis) yang belum memiliki pengalaman VR. Data primer dikumpulkan melalui eksperimen praktik berkarya tiga tahap yang terstruktur menggunakan aplikasi OpenBrush, yang didukung oleh strategi triangulasi metodologis mencakup observasi non-interventif, protokol thinking out loud, dan wawancara reflektif semi-terstruktur. Hasil penelitian menemukan sebuah pola transformatif yang konsisten dan dirumuskan sebagai kontribusi teoretis utama: sebuah “Model Epistemologi Artistik VR”. Model ini memetakan sebuah trajektori pembelajaran yang dialami perupa melalui empat tahap epistemik sekuensial: (1) Inisiasi Kognitif, ditandai oleh disorientasi spasial dan upaya rasional untuk memahami logika teknis medium; (2) Konflik Pengetahuan Embodied, sebuah fase krisis di mana memori otot dan kebiasaan kerja dari media fisik berbenturan dengan ketiadaan umpan balik haptik dan materialitas virtual; (3) Sintesis Intuitif-Kreatif, momen terobosan di mana perupa berhenti mereplikasi pengetahuan lama dan mulai “berpikir melalui medium” dengan merangkul affordance unik VR; dan (4) Integrasi Epistemik, tercapainya harmoni praktik di mana perupa secara metakognitif memposisikan VR dalam ekosistem kreatifnya yang diperluas. Model ini secara teoretis memberikan perluasan kritis terhadap kerangka yang ada. Ia merevitalisasi teori pengalaman Dewey dengan memperkenalkan konsep “resistensi algoritmik” sebagai pengganti resistensi fisik dalam siklus doing undergoing. Selain itu, model ini juga memperkaya Model Limas Citra Manusia Tabrani dengan menganalisis “krisis haptik” dan perlunya rekonfigurasi makna “Fisik”, “Gerak”, dan “Perasaan” dalam konteks digital. Pada puncaknya, penelitian ini tidak hanya memetakan proses adaptasi, tetapi juga mengusulkan pergeseran pemahaman filosofis terhadap subjek perupa di era digital, bukan sebagai posthuman, melainkan sebagai “subjek epistemik yang diperluas” (expanded epistemic subject), yang kerangka pengetahuan dan kapabilitas sensorimotornya menyatu dan diperluas melalui medium teknologinya. Implikasi praktis penelitian ini menawarkan landasan bagi pengembangan pedagogi seni VR yang sensitif terhadap proses pembelajaran embodied dan transformatif.
ANALISIS HUBUNGAN KESEDIAAN PARTISIPASI MASYARAKAT (WILLINGNESS TO CONTRIBUTE) DENGAN PENINGKATAN SANITASI AMAN DI KECAMATAN SOREANG, KABUPATEN BANDUNG
Target pelayanan sanitasi di Indonesia adalah terwujudnya 90% akses sanitasi layak, termasuk di dalamnya 15% rumah tangga memiliki akses sanitasi aman, serta penurunan angka BABS hingga 0% pada akhir tahun 2024. Persentase capaian layanan sanitasi di Kabupaten Bandung pada tahun 2024 adalah sebesar 93,66%, dengan 67,26% memiliki akses layak, 16,55% memiliki akses aman dengan penggunaan SPALD-S, dan 9,85% memiliki akses aman dengan penggunaan SPALD-T. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi existing sanitasi di Kabupaten Bandung, partisipasi masyarakatnya, dan faktor yang memengaruhi kemauan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan air limbah domestik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear untuk melihat faktor yang memberikan pengaruh terhadap keinginan masyarakat untuk berkontribusi dalam pengelolaan air limbah domestik. Pengelola mengutarakan bahwa infrastruktur yang saat ini dimiliki belum cukup untuk memfasilitasi kebutuhan pengolahan air limbah domestik di Kabupaten Bandung, dan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan air limbah domestik masih rendah, sehingga pengelola mengalami kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan program sanitasi. Dari hasil kuesioner, sebagian masyarakat sudah mengetahui pengelolaan air limbah domestik di tempat tinggalnya dan sudah berkontribusi baik dalam bentuk jasa maupun finansial, namun sebagian lagi belum paham dan belum terlibat dalam pengelolaan air limbah domestik. Hasil regresi linear menunjukkan bahwa faktor pengetahuan memberikan dampak signifikan terhadap keinginan masyarakat untuk berkontribusi.
PEMODELAN DAN SIMULASI PRODUKSI HIDROGEN INSITU MENGGUNAKAN AMONIAK SEBAGAI UMPAN BAHAN BAKAR KAPAL BERDAYA 2 X 1200 HP
Dorongan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) telah mendorong eksplorasi bahan bakar alternatif dan sistem energi, terutama di sektor seperti maritim/perkapalan yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Merespon hal tersebut International Maritime Organization (IMO) sebagai organisasi maritim internasional menetapkan penggunaan energi bebas GRK minimal 5%, dengan harapan dapat mencapai 10%, dari total energi yang digunakan oleh pelayaran internasional pada tahun 2030. Hidrogen dipilih sebagai salah satu pilihan bahan bakar yang bebas dari GRK, namun penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar masih mempunyai kedala terutama dari sisi penyimpanan. Amoniak dipandang sebagai bentuk hidrogen carrier yang potensial karena mempunyai kandungan hidrogen yang cukup tinggi yakni 17,8% dari berat amoniak dan mempunyai kematangan teknologi dan fasilitas yang cukup banyak tersebar karena telah banyak digunakan dalam industri pembuatan pupuk, namun aplikasi amoniak masih mempunyai kendala yakni dekomposisi amoniak yang bersifat sangat endotermik sehingga membutuhkan kondisi operasi yang optimal dan memiliki rapat energi yang rendah dibandingkan dengan bahan bakar lain berbasis karbon sehingga membutuhkan tangki bahan bakar yang besar. Penelitian ini membahas pemanfaatan NH3 sebagai bahan bakar alternatif kapal tunda bertenaga 2 x 1200 HP atau 1,8 MW melalui dekomposisi menjadi H2. Simulasi pertama dilakukan dengan analisis kinetik reaktor dekomposisi amoniak menggunakan reaktor aliran sumbat (plug flow reactor) yang dimodelkan menggunakan dengan modul RPLUG pada pengakat lunak Aspen Plus V.14 dengan memvariasikan dimensi reaktor seperti panjang reaktor serta jumlah dan diameter tabung pada reaktor. Hasil simulasi menunjukkan dimensi reaktor optimum didapatkan pada dimensi rektor: panjang 0,5 m, diameter 0,1 m, dan jumlah tabung 30. Setelah dimensi reaktor didapatkan, hasil tersebut digunakan untuk menyusun dua konfigurasi sistem berbasis fuel cell yakni sistem alternatif pertama (berbahan bakar NH3 untuk energi dekomposisi NH3) dan sistem alternatif kedua (berbahan bakar minyak diesel yang dimodelkan dengan n-hexadecane sebagai energi dekomposisi NH3). Hasil simulasi menunjukkan bawa sistem alternatif pertama menghasilkan emisi GRK lebih rendah sebesar 309,24 kg/jam dibanding sistem alternatif kedua sebesar 456,81 kg/jam, hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah emisi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan emisi kapal eksisting dengan daya yang sama yakni sebesar 522,56 kg/jam. Pada alternatif sistem pertama kondisi tersebut dicapai ketika fraksi massa H2 pada burner: 0,0046 dan NH3: 0,0058, sedangkan sistem alternatif kedua mencapai kondisi tersebut ketika fraksi massa H2 pada burner: 0, NH3: 0,0028 dan minyak diesel: 0,014. Hal yang berbeda terjadi pada parameter efisiensi sistem, efisiensi maksimum sistem alternatif kedua: 40,62% sedikit lebih tinggi daripada alternatif pertama: 40,06% pada kondisi tanpa H2 di burner, dan keduanya menurun hingga 39,81% pada fraksi massa H2 sebesar 4,64 × 10?³. Simulasi ketiga dilakukan dengan analisis variasi daya (pada sistem alternatif pertama di mana mempunyai emisi GRK terendah) menunjukkan bahwa kebutuhan umpan NH3 meningkat hampir linear dengan beban, dari 22,94 kg/jam (50 kW) hingga 433,65 kg/jam (900 kW), sedangkan efisiensi mencapai puncak 43,94% pada daya 300 kW sebelum kembali menurun. Perhitungan kebutuhan bahan bakar pada rute dari Pelabuhan Muat Tarahan ke Pelabuhan Bongkar di PLTU Rembang (394 nm) menghasilkan konsumsi 220.448 kg NH3 atau 30.883 kg H2 per perjalanan, jauh lebih besar dibandingkan kapal eksisting berbahan bakar diesel: 50.635 kg. Kajian volume peralatan menunjukkan bahwa sistem berbasis NH3 memerlukan ruang lebih besar dibandingkan sistem eksisting, sementara penyimpanan H2 cair lebih efisien daripada NH3 tetapi tetap lebih besar daripada minyak diesel. Hasil ini menegaskan bahwa NH3 berpotensi lebih layak digunakan sebagai bahan bakar alternatif kapal dibanding H2 bertekanan tinggi, meskipun masih terdapat tantangan dari sisi kebutuhan ruang peralatan.
EVALUASI DAN INTERVENSI ERGONOMI PADA PEKERJA SUBASSEMBLY LINE FRAME PT TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, khususnya produksi kendaraan roda empat (mobil). Proses produksi mobil di PT TMMIN mencakup produksi mesin serta rangka badan kendaraan dan kemudian dirakit pada assembly line yang terbagi atas 6 subassembly line. Pekerjaan yang dilakukan di assembly line merupakan perpaduan antara pekerjaan otomatis dengan bantuan mesin dan pekerjaan manual, seperti aktivitas mendorong, menarik, mengangkut, dan memindahkan barang selama 8 jam. Aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja (GOTRAK), sehingga manajemen PT TMMIN berkomitmen melakukan evaluasi dan intervensi ergonomi pada pekerjaan berisiko tinggi (Rank A) sebagai bentuk penerapan filosofi Kaizen. Subassembly line frame dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki proporsi pekerjaan Rank A sebesar 85%. Evaluasi ergonomi dilakukan menggunakan asesmen SNI 9011:2021 untuk mengevaluasi tingkat paparan terhadap postur tubuh tidak netral dan NIOSH Composite Lifting Index untuk menilai risiko pada proses pengangkatan manual. Hasil evaluasi ergonomi mengidentifikasi 3 pekerjaan yang perlu diintervensi, yaitu pekerjaan docking front axle LH (skor SNI 9011:2021 sebesar 8), prepare fuel tank (skor NIOSH sebesar 3,3), dan prepare carrier differential (skor SNI 9011:2021 sebesar 9). Faktor risiko utama berasal dari proses pengangkutan komponen front axle menggunakan hoist, proses pengangkatan fuel tank secara manual, dan proses transportasi komponen carrier differential secara manual. Perancangan solusi menggunakan kerangka kerja substitute, combine, adapt, modify, put to other use, eliminate, dan rearrange (SCAMPER) dengan mangacu pada prinsip pengendalian bahaya ergonomi dan hierarchy of control menghasilkan empat solusi, yaitu motorisasi sistem crane dan hoist, pembuatan portable lifting device, implementasi tugger Automated Guided Vehicle (AGV), dan sistem rotasi kerja. Hasil validasi menggunakan SNI 9011:2021 dan NIOSH Composite Lifting Index menunjukkan bahwa seluruh rancangan intervensi dapat menurunkan kategori tingkat risiko ergonomi dari kategori tinggi ke sedang atau rendah. Proses verifikasi bersama problem user melalui kriteria SQPCHR memastikan bahwa rancangan intervensi sesuai dengan aspek safety, quality, productivity, cost, dan human resource.
STUDI SELUBUNG KERUNTUHAN MOHR-COULOMB YANG DIPERLUAS PADA SHALE TERHANCURKAN TERKOMPAKSI DENGAN NILAI ISAPAN MATRIC 60 KPA
Shale merupakan material dengan karakteristik unik dan menjadi isu penting dalam kajian geoteknik. Sensitivitas shale terhadap kondisi jenuh takjenuh menyebabkan variasi kekuatan geser yang signifikan sehingga pemahaman mengenai konsep ini menjadi sangat penting dalam analisis stabilitas konstruksi. Penelitian dilakukan dengan tujuan mendapatkan parameter kuat geser dengan menggunakan metode uji triaksial takjenuh tipe consolidated drained (CD) pada sampel shale dari daerah Cisomang, Jawa Barat. Sampel dipersiapkan melalui prosedur pemadatan Modified Proctor metode C pada kadar air optimum 16,10%. Proses uji triaksial takjenuh meliputi tahap saturasi awal dengan kontrol B-value, konsolidasi untuk mencapai kesetimbangan drainase, proses equalisasi isapan matric dalam kerangka tanah takjenuh, dan tahap pembebanan geser hingga titik keruntuhan. Pendekatan eksperimental ini mengacu pada teori mekanika tanah takjenuh melalui konsep selubung keruntuhan Mohr-Coulomb yang diperluas (extended Mohr- Coulomb failure envelope) yang dikembangkan oleh Fredlund dan Rahardjo (1993), dengan penggunaan dua variabel tegangan independen yaitu tegangan normal bersih (? ? ua) dan isapan matric (ua ? uw). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada isapan matric 60 kPa terjadi peningkatan kuat geser yang konsisten dibandingkan kondisi jenuh. Dari hasil pengujian triaksial takjenuh pada penelitian ini didapatkan nilai kuat geser (?) shale sebesar 65.35 kPa dengan parameter sebagai berikut: (1) c = 57.48 kPa, (2) ?? = 22.62o, (3) d = 52.09 kPa, (4) ?b = 20.98o. Hasil ini menegaskan bahwa kontribusi kekuatan tambahan akibat tekanan air pori negatif pada shale masih berlangsung pada rentang suction di bawah nilai air entry value (AEV). Nilai sudut ?? yang diperoleh berada pada kisaran mendekati sudut ?’, yang mengindikasikan bahwa hubungan antara kuat geser dan isapan matric pada rentang suction rendah–menengah masih bersifat hampir linear. Hal ini selaras dengan prediksi teori dan studi terdahulu pada shale wilayah Cisomang, yang memiliki AEV relatif tinggi akibat dominasi mineral lempung.
STUDI FITOKIMIA, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN INHIBISI XANTIN OKSIDASE TUMBUHAN UBI JALAR (IPOMOEA BATATAS L.) VARIETAS UNGU-ORANYE
Ubi jalar merupakan tumbuhan yang memiliki potensi antioksidan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa umbi ubi jalar varietas ungu-oranye memberikan aktivitas antioksidan sangat kuat. Beberapa senyawa antioksidan pada tumbuhan ubi jalar ini berasal dari golongan flavonoid, antosianin, polifenol, saponin, alkaloid, dan tanin. Penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap tumbuhan ubi jalar masih terbatas pada ekstrak dan fraksi bagian umbi dan daun serta belum berdasarkan monitoring aktivitas antioksidan dan inhibisi xantin oksidase. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan dan inhibisi xantin oksidase tiga bagian tumbuhan ubi jalar ungu-oranye, mengkaji aktivitas antioksidan dan inhibisi xantin oksidase ekstrak bagian terpilih ubi jalar unguoranye, mengkaji aktivitas antioksidan dan inhibisi xantin oksidase fraksi dan subfraksi ubi jalar ungu-oranye, mengidentifikasi dan menguji secara in silico senyawa-senyawa aktif dalam subfraksi dan menetapkan kadar senyawa aktif di dalam ekstrak, fraksi dan subfraksi terpilih. Penelitian dilakukan terhadap tiga bagian tumbuhan ubi jalar ungu-oranye yaitu umbi, batang dan daun kemudian masing-masing diekstraksi degan metode refluks menggunakan pelarut etanol. Uji aktivitas antioksidan dan inhibisi xantin oksidase dilakukan terhadap ekstrak tiga bagian tumbuhan tersebut. Ekstraksi bertingkat dengan metode refluks menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol dilakukan terhadap bagian tumbuhan terpilih berdasarkan aktivitas antioksidan dan penghambatan enzim xantin oksidase sebelumnya. Ekstrak terpilih dilanjutkan ke tahap fraksinasi dengan metode kromatografi cair vakum (KCV), fraksi terpilih dilanjutkan ketahap subfraksinasi dengan metode kromatografi kolom klasik (KKK), monitoring aktivitas antioksidan fraksi dan subfraksi dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Subfraksi terpilih dilanjutkan ke tahap identifikasi senyawa tentatif menggunakan UPLC-MS/MS kemudian di uji in silico menggunakan molecular docking. Bagian daun menunjukkan nilai yang paling tinggi untuk kandungan total phenol, total flavonoid, aktivitas antioksidan [2,2-difenil -1-pikrilhidrazil (DPPH), ferric reducing antioxidant power (FRAP) dan cupric ion reducing antioxidant capacity (CUPRAC)] dan aktivitas inhibisi xantin oksidase (XOI) berdasarkan hasil analisis ii spektrofotometri UV–Vis. Ekstraksi bertingkat bagian daun menghasilkan ekstrak etil asetat sebagai ekstrak paling potensial dengan nilai rendemen sebesar 10,4%, uji DPPH sebesar 511,212±0,416 mg AEAC/g, dan aktivitas XOI sebesar 45,192±4,981 mg AEXIC/g. Fraksi gabungan 5 (FG5) menunjukkan nilai tertinggi dalam uji DPPH (158,475±0,170 mg AEAC/g), uji FRAP (86,849±0,048 mg AEAC/g), uji CUPRAC (1008,892±1,620 mg AEAC/g), serta aktivitas XOI (6,062±1,730 mg AEXIC/g). Subfraksi gabungan 3 (SFG3) menunjukkan potensi paling baik dibandingkan subfraksi gabungan lainnya. Hasil analisis SFG3 menggunakan UPLC-MS/MS menunjukkan adanya senyawa tentatif seperti cholest-4-en-3-one, 4-hydroxy-6-[2-(2-methyl-1,2,4a,5,6,7,8,8aoctahydronaphthalen-1-yl)ethyl]oxan-2-one, tangeritin, 4-metil benzofenon, benzofenon, (+)-ar-turmeron, asam 4-metoksi sinamat, dan risinin. Secara in silico cholest-4-en-3-one diprediksi mempunyai aktivitas paling baik sebagai antioksidan dan inhibitor xantin oksidase dibandingkan dengan senyawa lainnya. Daun ubi jalar varietas ungu-oranye menunjukkan potensi aktivitas antioksidan dan XOI yang menjanjikan terutama dalam bentuk esktraknya.