đ Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPERSEBARAN SPASIAL SAMPAH LAUT DAN PARAMETER KUALITAS AIR LAUT DI SEKITAR EKOSISTEM MANGROVE PESISIR KABUPATEN BREBES
Kondisi laut di Indonesia saat ini terancam akan adanya sampah laut dan polutan akibat aktivitas manusia. Akibatnya ekosistem di pesisir seperti mangrove yang memiliki banyak manfaat menjadi terancam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran sampah spasial laut dan membandingkan pola kelimpahannya dengan parameter kualitas air laut di sekitar ekosistem mangrove pesisir Kabupaten Brebes. Sampah spasial laut yang diteliti berupa sampah berukuran makro dan meso dan sampel air laut dilakukan pengukuran secara langsung untuk mendapatkan nilai parameter fisis serta uji laboratorium untuk melihat kandungan nutrien. Ada 4 titik pengambilan sampel dengan kondisi berbeda yaitu konservasi mangrove, muara sungai, pantai tak terjamah, dan pantai wisata. Penelitian ini dilakukan selama 3 musim yakni musim peralihan II (November), musim barat (Februari), terakhir musim peralihan I (Mei). Sampel air laut yang diambil akan diawetkan dengan H2SO4 dan seminggu kemudian dilakukan pengujian nutrien di Laboratorium MTCRC. Sampel sampah laut akan diolah sesuai dengan Pedoman Pemantauan Sampah Laut oleh KLHK tahun 2020. Hasilnya jenis sampah yang dominan adalah sampah plastik (PL) dengan persentase 38 â 80% di semua titik dan setiap musim. Sampah tertinggi mencapai 173 buah di kawasan pantai tak terjamah. 3 lokasi pengambilan sampel memiliki fluktuasi yang berbeda-beda. Sampah di area pantai wisata, konservasi mangrove, dan muara sungai dipengaruhi oleh aktivitas pariwisata. Sampah jenis makro lebih dominan dibandingkan meso dengan berat/m2 mencapai 164,84 g/m2. Parameter oseanografi tidak terlalu berpengaruh pada kelimpahan sampah dikarenakan sumber sampah dominan dari aktivitas manusia. Lalu, kualitas air laut baik parameter fisik dan nutrien dengan menggunakan indeks pencemaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004, semua titik dalam 3 musim tergolong ke dalam tercemar ringan, dengan rentang nilai 1,159 â 5,006. Analisis keterkaitan spasial menunjukkan bahwa fluktuasi kelimpahan sampah dan Indeks Pencemaran memiliki pola yang bervariasi di setiap titik dan musim. Disimpulkan bahwa kelimpahan makro dan mesoplastik tidak dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan indeks pencemaran suatu perairan.
IMPLEMENTASI TATA KELOLA TERPADU: STUDI KASUS DI PT ASAMURA GROUP
PT Asamura sebagai BUMN di sektor energi menghadapi tantangan dalam implementasi tata kelola terintegrasi yang sesuai. Tata kelola ini menjadi penting untuk BUMN yang memiliki anak perusahaan dengan kontribusi laba yang signifikan. Regulasi terbaru Permen BUMN No. 02/MBU/03/2023 menekankan pentingnya penerapan tata kelola terintegrasi mencakup manajemen risiko, audit internal, dan kepatuhan. Oleh karena itu, diperlukan model tata kelola terintegrasi yang adaptif, efektif, dan efisien, yang mampu mengatasi kelemahan pendekatan silo saat ini sekaligus memperkuat GCG secara konsisten di seluruh entitas grup. Untuk mengatasi tantangan bisnis tersebut, tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis struktur organ pengelola risiko di masing-masing anak perusahaan, mengidentifikasi dan merumuskan parameter yang relevan untuk merancang model atau kebijakan tata kelola terintegrasi yang efektif dan optimal, menyusun peta jalan implementasi tata kelola terpadu di Grup PT Asamura. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis untuk memetakan kesenjangan antara kondisi organ pengelola risiko dengan ketentuan yang berlaku. Metode penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner, sedangkan data sekunder dari laporan tahunan PT Asamura. Analisis dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan tiga parameter utama: (1) Lini Bisnis (terhubung langsung dengan rantai pasok induk, tidak terkait rantai pasok tetapi mendukung pilar RJPP, tidak mendukung keduanya), (2) Ukuran dan Kontribusi (asset, modal, laba bersih), serta (3) Status dan Kepemilikan Saham (operasi, pengendali, non pengendali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis hirarki proses (AHP) bobot prioritas kriteria dalam penilaian entitas, yaitu Lini Bisnis (59,6%), Status & kepemilikan saham (22,8%), dan ukuran & kontribusi (17,5%). Hasil AHP menegaskan bahwa anak perusahaan yang berada pada rantai pasok inti dan berstatus operasional memiliki prioritas utama dalam penguatan tata kelola. Berdasarkan klasifikasi risiko, penelitian ini menyederhanakan tipe entitas menjadi tiga kategori: Type 1, Type 2 dan Type 3 dan penelitian ini menyusun roadmap tiga tahap (jangka pendek, menengah, dan panjang). Rekomendasi penelitian ini bahwa penguatan tata kelola terintegrasi di PT Asamura Group harus dilakukan secara bertahap dan proporsional.
OPTIMASI PENINGKATAN KADAR GLUKOMANAN TEPUNG PORANG MENGGUNAKAN METODE FERMENTASI OLEH MIKROORGANISME PENGHASIL ENZIM ?-AMILASE DENGAN PENDEKATAN FULL FACTORIAL DESIGN (FFD)
Glukomanan merupakan polisakarida utama pada tepung porang (Amorphophallus muelleri) yang memiliki potensi tinggi dalam aplikasi pangan maupun industri. Namun dalam upaya memperoleh tepung porang dengan kandungan glukomanan yang tinggi, kandungan pati serta kalsium oksalat pada tepung porang menjadi penghambat dalam proses pemurnian. Oleh karena itu, diperlukan metode ekstraksi yang efektif untuk meningkatkan kadar glukomanan dan menurunkan senyawa pengotor tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi potensi penerapan metode fermentasi sebagai metode ekstraksi alternatif dari metode ekstraksi mekanis, ekstraksi pelarut dan enzimatis. Evaluasi potensi metode fermentasi dilakukan menggunakan empat jenis mikroorganisme, yaitu Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Aspergillus niger, dan Aspergillus oryzae. Optimasi kondisi fermentasi dianalisis menggunakan rancangan Full Factorial Design (FFD) dengan faktor konsentrasi substrat, konsentrasi inokulum, dan jenis inokulum, sedangkan respons yang diamati meliputi kandungan glukomanan, efisiensi ekstraksi glukomanan, dan laju ekstraksi glukomanan. Analisis FFD memperlihatkan bahwa interaksi antar faktor, terutama antara konsentrasi substrat dengan konsentrasi inokulum berkontribusi signifikan terhadap variasi respons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum fermentasi yang diprediksi FFD adalah konsentrasi substrat 4% w/v serta penggunaan B. subtilis dengan konsentrasi inokulum 1% v/v. Kondisi fermentasi optimum terbukti mampu meningkatkan kandungan glukomanan pada tepung porang sebesar 105% hingga 575% lebih tinggi dibandingkan metode ekstraksi mekanis dan kimiawi, sekaligus mengurangi kadar kalsium oksalat sebesar 115% hingga 149% lebih baik dibandingkan dengan metode ekstraksi kimiawi dan enzimatis. Kondisi fermentasi optimum mampu menghasilkan tepung dengan kandungan glukomanan sebesar 25,51 Âą 0,83%, kandungan kalsium oksalat sebesar 1,08 Âą 0,18 mg/100 g, kadar air sebesar 2,16 Âą 0,06%, dan kadar abu sebesar 8,18 Âą 0,10%. Penelitian menunjukkan bahwa metode fermentasi berpotensi menggantikan metode ekstraksi fisik dan ekstraksi pelarut karena menghasilkan tepung dengan kadar glukomanan yang lebih tinggi, dengan efek positif berupa penurunan kalsium oksalat dan kadar air pada tepung hasil fermentasi.
ANALISIS NEUTRONIK DAN TERMAL-HIDROLIK REAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG MENGGUNAKAN PROGRAM OPENMC-COOLODN2
Salah satu reaktor riset oleh General Atomic yang sedang beroperasi di Indonesia adalah reaktor TRIGA 2000 Bandung. Reaktor TRIGA (Training, Research and Isotope Production) didirikan dengan tujuan penelitian, pelatihan, produksi radioisotop, dan kebutuhan iradiasi sampel. Reaktor ini merupakan tipe TRIGA MARK II yang beroperasi kritis sejak tahun 1946 dan mengalami penurunan kritikalitas yang cukup signifikan. Isu dekomisioning terus digencarkan sebagai persiapan langkah-langkah baru untuk memperbaiki utilisasi reaktor riset TRIGA 2000 Bandung. Upaya reshuffling dalam mempertahankan kekritisan telah dilakukan, namun menimbulkan faktor puncak daya yang cukup tinggi sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi panas pada daerah lokal saluran pendingin. Daerah tersebut berpotensi terjadi pendidihan cairan di saluran pendingin. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan analisa komprehensif berupa kajian kopling neutronik dan termal-hidrolik menggunakan kode OpenMC-COOLODN2. Kajian awal pada penelitian ini dilakukan perhitungan komposisi wt% tiap elemen bahan bakar dengan menggunakan parameter burn-up history yang telah disediakan. Komposisi elemen bahan bakar TRIGA 2000 Bandung berupa campuran U-ZrH (Uranium Zirkonium Hidrida). Selanjutnya dilakukan validasi dengan cara membandingkan hasil parameter neutronik antara perhitungan OpenMC dan MCNP. Parameter yang digunakan adalah nilai faktor multiplikasi efektif (k-eff) dan nilai APF (Axial Power Peaking Factor) maksimum pada elemen bahan bakar F7 tanpa faktor deplesi. Parameter fisis lain digunakan sebagai penguatan data seperti PPF (Power Peaking Factor), spektum fluks neutron, reaction rate, distribusi fluks neutron, dan distribusi kepadatan daya pada variasi penarikan batang kendali 60% - 100%. Perhitungan faktor deplesi juga telah dilakukan pada variasi daya 100 kW - 600 kW dengan menghitung k-eff dan excess reactivity selama 1 tahun (time-step 12 bulan). Output perhitungan ini berupa profil persentase burn-up untuk masing-masing elemen bahan bakar mulai dari BoL (Beginning of Life) hingga EoL (End of Life). Data daya linear aksial pada bahan bakar terpanas (hottest fuel) tepatnya pada elemen B1 digunakan untuk parameter pembanding dengan hasil eksperimen pengukuran suhu thermocouple. Perhitungan ini menggunakan kode termal-hidrolik berbasis steady state berupa COOLODN2. Analisa mencakup karakteristik distribusi suhu pada fuel/cladding/superheat/ coolant dan DNBR. Kode OpenMC telah tervalidasi yang menunjukkan kesesuaian dan keakuratan dengan perbedaan nilai error (%?????) konsisten kurang dari 1%. Hasil perhitungan k-eff dan excess reactivity (%?????/????) tanpa deplesi menunjukkan bahwa reaktor dapat beroperasi kritis jika menggunakan lebih dari 50% penarikan batang kendali. Peningkatan persentase penarikan batang kendali efektif menurunkan nilai PPF maksimum pada arah aksial maupun radial. Spektrum fluks neutron menunjukkan operasi reaktor dominan pada daerah neutron termal. Kenaikan persentase penarikan batang kendali sebanding dengan profil kenaikan spektrum fluks neutron dan reaction rate. Selanjutnya, perhitungan deplesi inti reaktor dengan daya 100 kW- 600 kW selama 1 tahun pada dua kondisi (operasi 5 jam tiap minggu dan realtime) menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai k-eff dan excess reactivity. Semakin besar daya, maka jumlah neutron untuk berfisi lebih besar sehingga mempercepat konsumsi bahan bakar fisil. Berdasarkan analisa termal-hidrolik menggunakan COOLODN2 terkait distribusi suhu fuel, cladding, superheat, coolant pada hottest fuel (elemen B1) menunjukkan kondisi yang masih memenuhi standart kesalamatan operasional khususnya pada rentang daya 100 kW â 400 kW. Hasil simulasi menunjukkan distribusi suhu bahan bakar yang lebih tinggi daripada hasil aktual (eksperimen). Hal ini memberikan justifikasi reaktor dalam kondisi aman dan di bawah batas operasi SCRAM yang didukung dengan syarat minimum nilai DNBR >1,3. Penggabungan analisis neutronik dan termal-hidrolik (N/TH) diharapkan dapat memberikan informasi mendalam terkait performa reaktor TRIGA 2000 Bandung saat ini. Selain itu, berguna sebagai referensi dalam melakukan pengembangan utilisasi dan revitalisasi elemen bahan bakar untuk meminimalisir adanya superheating yang berlebih sehingga dapat menekan perilisan bubble di dalam inti reaktor.
DEGRADASI TOTAL PETROLEUM HYDROCARBONS DENGAN KOMBINASI PROSES FOTOKATALISIS TIO2 DAN BIODEGRADASI PADA TANAH TERCEMAR HIDROKARBON MINYAK BUMI
Salah satu masalah lingkungan yang terus berlanjut ialah kontaminasi hidrokarbon sebagai akibat dari aktivitas di industri minyak dan gas. Meskipun telah banyak lahan tercemar yang berhasil dipulihkan kembali dengan bioremediasi, beberapa data di lapangan menunjukkan bahwa pengolahan secara biologis terkadang berlangsung sangat lambat atau tidak sempurna. Hal ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya bioavailabilitas kontaminan. Peningkatan biodegradabilitas dan solubilitas senyawa kimia selama oksidasi kimia menjadi dasar pada penelitian ini untuk menyelidiki kemampuan kombinasi fotokatalisis TiO2 di bawah penyinaran sinar matahari dan biodegradasi dalam mengatasi keterbatasan bioavailabilitas hidrokarbon bagi mikroorganisme lokal dan mempercepat laju penyisihan hidrokarbon pada bioremediasi tanah tercemar minyak bumi dengan teknik landfarming. Penelitian dilakukan dalam reaktor mikrokosmos tanah pasir yang memiliki koefisien keseragamaan dan konsentrasi TPH awal berbeda di dalam wadah kaca berukuran 25 cm x 15 cm x 10 cm dengan menambahkan variasi dosis TiO2 sebesar 0,5, 1, 2, dan 3% wt. dan dua reaktor lain sebagai kontrol, yaitu biostimulasi dan natural attenuation. Selama 12 minggu penelitian, dilakukan pengecekan parameter utama, yaitu TPH gravimetri, bakteri heterotrofik, dan bakteri petrofilik, serta parameter pendukung proses, seperti pH, temperatur, kadar air, karbon organik, total nitrogen, dan intensitas UV. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penambahan fotokatalis TiO2 secara cukup signifikan dapat mempercepat laju penyisihan TPH daripada dengan penambahan nutrien saja. Namun demikian, peningkatan laju degradasi TPH tidak selalu proporsional dengan penambahan konsentrasi fotokatalis TiO2. Laju degradasi TPH dipengaruhi oleh aktivitas bakteri petrofilik lokal dan energi dari sinar UV, namun tidak dipengaruhi oleh koefisien keseragaman tanah. Konsentrasi TiO2 0,5%, 1%, dan 2% pada tanah-1, tanah-2, dan tanah-3 secara berurutan menghasilkan laju penyisihan TPH terbesar.
PENYISIHAN BESI DAN MANGAN DALAM AIR TANAH DENGAN REAKTOR KONTINU MENGGUNAKAN ADSORPSI MINERAL MORDENITE AKTIVASI DAN ALAMI
Mineral mordenite yang berasal dari batu alam hijau Sukabumi diujikan kemampuannya dalam menyisihan besi dan mangan dengan konsentrasi yang melebih baku mutu pada air tanah. Pada penelitian ini digunakan dua jenis adsorben yaitu mordenite aktivasi dan mordenite alami. Aktivasi pada mordenite dilakukan dengan pemanasan pada suhu 400-600oC selama dua jam. Percobaan secara batch dilakukan sebagai percobaan pendahuluan untuk mengetahui kemungkinan mineral mordenite untuk dijadikan adsorben dalam menyisihkan besi dan mangan pada air tanah. Percobaan secara batch tersebut membuktikan mineral mordenite mampu menurunkan konsentrasi besi dan mangan pada air tanah dipengaruhi oleh konsentrasi awal besi dan mangan pada air tanah serta waktu detensi selama proses adsorpsi. Peningkatan nilai pH selama proses adsorpsi berlangsung mengindikasikan mekanisme yang terjadi selama proses adsorpsi. Percobaan secara kontinu dilakukan setelah percobaan secara batch menggunakan reaktor dengan diameter 0.094 meter, tinggi reaktor 0.8 meter dan tinggi media di dalam reaktor adalah 0.6 meter. Pengoperasian reaktor menggunakan sistem downflow pada debit konstan 45 ml/menit. Efisiensi penyisihan besi & mangan menggunakan reaktor kontinu diperoleh sebesar 1.38-1.99%/menit & 0.8-1.49%/menit dan 2.26%/menit & 1.37-2.26%/menit untuk mordenite aktivasi dan mordenite alami. Selain itu, perlakuan regenerasi menggunakan larutan NH4Cl yang didahului dengan melakukan backwash pada adsorben berhasil meningkatkan kembali efisiensi penyisihan besi & mangan menjadi 1.98%/menit & 1.77-1.90%/menit dan 2.25%.menit & 2.02-2.21%/menit pada mordenite aktivasi dan mordenite alami. Pengoperasian reaktor yang kontinu selama 42 hari menunjukkan clogging yang terjadi lebih dahulu pada mordenite alami.
PENYISIHAN NITROGEN DAN FOSFAT PADA EFLUEN IPAL BOJONGSOANGMENGGUNAKAN CONSTRUCTED WETLAND TIDE SUBSURFACE HORIZONTALFLOW DENGAN SISTEM UMPAN MENERUS
Teknologi daur ulang limbah merupakan solusi tepat dalam menangani kelangkaan air bersih saat ini. Efluen IPAL Bojongsoang di Bandung merupakan salah satu potensi daur ulang air limbah jika ditambahkan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan constructed wetland. Dengan menggunakan media seperti tanah, pasir, kerikil dan menambahkan tanaman Typha latifolia dan Scirpus grossus serta sistem aerasi parameter seperti BOD/COD dapat tersisihkan dengan sangat baik dengan efisiensi 80-90%, namun tidak untuk penyisihan nitrogen dan fosfat yang baru mencapai 50-60%. Modifikasi dilakukan dengan tiga tahapan pengolahan yaitu tahap I untuk penyisihan BOD/COD dengan Typha latifolia ditambah aerasi dan tahap II untuk penyisihan nitrogen dan fosfat dengan Scirpus grossus dengan dan tanpa aerasi dan tahap III ditujukan untuk melengkapi penyisihan nitrogen melalui proses denitrifikasi dengan Glycine max dan tanpa aerasi. Didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan efisiensi penyisihan baik nitrogen maupun fosfat hingga mencapai 80- 99%. Proses aerasi dan kombinasi tanaman (T.latifolia, S.grossus, G.max) serta pengolahan bertahap terbukti memberikan pengaruh dalam penyisihan nitrogen dan fosfat. Digunakan pola aliran PFR untuk menentukan kinetika penyisihan nitrogen dan fosfat dan didapatkan konstanta reaksi penyisihan (k) untuk total nitrogen dari tahap I,II,III adalah 0,66/hari; 0,36/hari; 0,33/hari dan untuk total fosfat nilai k dari tahap I,II,III adalah 0,81/hari; 0,44/hari; 0,41/hari .
PEMODELAN CFD DAN ANALISIS PARAMETEROPERASI PADA DUAL-STAGE AUTOTHERMAL BIOMASS GASIFIER
Penggunaan bahan bakar fosil yang terus meningkat memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan, terutama melalui emisi CO? yang berkontribusi pada pemanasan global. Energi terbarukan seperti biomassa menjadi alternatif yang menjanjikan karena sifatnya menyerupai batu bara, namun tingginya kandungan moisture membuat biomassa perlu melalui proses pengolahan, salah satunya gasifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi parameter operasi terhadap distribusi temperatur, komposisi gas, serta performa sistem melalui cold gas efficiency (CGE) dan gas yield pada proses gasifikasi biomassa di dalam entrained flow gasifier dengan simulasi CFD menggunakan model turbulensi RANS. Dua variasi parameter digunakan, yaitu (i) BS dengan menaikkan laju aliran biomassa sekunder dan udara sekunder, serta (ii) IP dengan menurunkan laju aliran udara primer dan udara sekunder. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada variasi BS, fraksi massa CO meningkat sebesar 2,2% dan H? naik hingga 18,6%, sedangkan CH? turun 12,7%. Pada saat yang sama, CGE tertinggi dicapai pada BS-3 sebesar 41,1% dengan gas yield 68%, yang merupakan peningkatan signifikan dibanding kondisi awal. Sebaliknya, pada variasi IP, fraksi massa CO meningkat lebih tinggi yaitu 48,9% dan CH? naik 25%, tetapi H? justru menurun sebesar 28,3%. Namun, tren CGE dan gas yield pada variasi IP cenderung menurun, dengan CGE tertinggi hanya 40,8% dan gas yield 67,5% di awal variasi, kemudian menurun hingga 38,5% dan 65,2% pada IP-4. Temuan ini menegaskan bahwa distribusi aliran udara dan biomassa sangat memengaruhi pembentukan syngas serta efisiensi energi, di mana variasi BS lebih seimbang dalam meningkatkan CO dan H? sekaligus menghasilkan CGE dan gas yield yang relatif lebih stabil, sementara variasi IP mendorong peningkatan CO lebih tinggi tetapi dengan penurunan efisiensi sistem.
PROTOTYPING OF THERMALLY LOCALIZED MULTI STAGE SOLAR STILL
Desalinasi surya menawarkan solusi terbarukan untuk kelangkaan air minum, namun penyuling surya konvensional satu tahap umumnya memiliki produktivitas rendah dan sulit diskalakan. Penelitian ini berfokus pada Thermally Localized Multi-Stage Solar Still (TMSS) yang lokalisasi termal dan pemanfaatan kalor laten secara berjenjang antartahap. Tujuannya adalah menerjemahkan konsep tersebut menjadi prototipe yang dapat diuji serta menilai peningkatan hasil, efisiensi, dan keandalannya dibandingkan baseline satu tahap. TMSS didesain dan difabrikasi lengkap meliputi rangka penyerap, rangka tengah dan akhir, pelat penyerap, evaporator, dan kondensator, dengan desain modular. Eksperimen dilakukan di bawah lampu pijar inframerah pada irradiasi 300 W¡m?² untuk memastikan kondisi yang berulang. Selama pengujian, prototipe mempertahankan integritas fisik dan menunjukkan stabilitas mekanik maupun termal dalam operasi berkelanjutan. Pengujian dilakukan dengan konfigurasi satu, dua, dan tiga tahap untuk mengamati pengaruh jumlah tahap. Pada 300 W¡m?², laju evaporasi meningkat dari 0,105 menjadi 0,132 dan 0,166 g¡m?²¡s?š seiring penambahan tahap, menegaskan peningkatan generasi uap air. Selain itu, efisiensi konversi surya-ke-uap meningkat signifikan dari 51,3% (satu tahap) ke 64,3% (dua tahap) dan 81,3% (tiga tahap) yang menunjukkan pemanfaatan ulang kalor laten. Efisiensi koleksi tercatat 16%, 15%, dan 17% untuk satu, dua, dan tiga tahap; hasil ini menandakan aspek penangkap kondensat masih dapat dioptimalkan, TMSS ini telah memberikan hasil yang jelas terhadap peningkatan laju evaporasi dan pemanfaatan ulang kalor laten
KAJIAN INTERAKSI ALPHA PROPYLAMINOPENTIOPHENONE TERHADAP VMAT2 DAN DAT MENGGUNAKAN SIMULASI DOCKING
Alpha propylaminopentiophenone merupakan senyawa turunan katinon yang tergolong dalam New Psychoactive Substance (NPS) dan telah ditemukan di Indonesia sejak tahun 2023. Regulasinya yang masih belum ada hingga saat ini menimbulkan kekhawatiran karena potensi penyalahgunaan dan tantangan dalam deteksinya. Sebagai senyawa turunan katinon, alpha propylaminopentiophenone diduga dapat berinteraksi dengan Dopamine Transporter (DAT) dan Vesicular Monoamine Transporter 2 (VMAT2) dengan keduanya merupakan target umum dari psikotropika untuk dapat memberikan efek euforia, mania, hingga adiksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji situs pengikatan dan memprediksi afinitas alpha propylaminopentiophenone terhadap VMAT2 dan DAT menggunakan simulasi docking, yaitu metode komputasi yang memprediksi bagaimana ligan dapat berinteraksi dengan makromolekulnya, dan divisualisasikan dengan Discovery Studio Visualizer 2025 untuk membantu menganalisis potensi bahaya dari alpha propylaminopentiophenone yang perlu dipertimbangkan dalam pengkategorian senyawa tersebut di regulasi. Pada penelitian ini, digunakan ligan pembanding berupa katinon sebagai senyawa induk, amfetamin sebagai analog katinon, dan dopamin sebagai substrat alami kedua transporter. Validasi dilakukan melalui redocking ligan alami kokain terhadap DAT dan tetrabenazin terhadap VMAT2. Berdasarkan validasi tersebut, didapatkan nilai root mean square deviation (RMSD) <2 Ă yang menyatakan bahwa hasil validasi bersifat valid. Berdasarkan simulasi docking yang dilakukan, tidak terdapat kemiripan situs pengikatan antara alpha propylaminopentiophenone dengan katinon, namun ditemukan adanya kemiripan konformasi dan interaksi antara alpha propylaminopentiophenone dengan dopamin terhadap VMAT2 dan DAT. Selain itu, hasil simulasi docking juga menunjukkan bahwa alpha propylaminopentiophenone merupakan ligan yang memiliki afinitas tertinggi terhadap VMAT2 dan DAT dengan nilai energi bebas pengikatan sebesar -6,47 untuk VMAT2 dan -7,01 untuk DAT yang menyebabkan adanya indikasi potensi dari senyawa ini menjadi stimulan kuat dengan risiko adiksi yang besar. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa alpha propylaminopentiophenone merupakan senyawa dengan potensi bahaya tinggi dan memerlukan pengendalian regulasi yang mendesak.
VALIDASI METODE PENENTUAN AKTIVITAS PROTEASE PANKREATIN MENGGUNAKAN SUBSTRAT C-FIKOSIANIN DARI SPIRULINA PLATENSIS
C-Fikosianin (CPC) merupakan protein-pigmen berwarna biru yang diekstraksi dari Spirulina platensis yang banyak digunakan pada bidang makanan, kosmetik, farmasi, dan lainnya. CPC dapat digunakan sebagai alternatif substrat dalam penentuan aktivitas protease pankreatin. Telah dilakukan optimasi kondisi reaksi pada penelitian sebelumnya, namun metode tersebut belum divalidasi secara menyeluruh sehingga parameter validitasnya belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk memvalidasi metode dengan kondisi reaksi yang diusulkan serta aplikasi pada sampel produk komersial untuk mengevaluasi metode dalam penentuan aktivitas protease pankreatin pada matriks nyata. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap meliputi isolasi dan karakterisasi CPC, validasi, dan aplikasi metode. Dari hasil penelitian diperoleh larutan CPC dengan kadar 2,25 mg/mL dan nilai kemurnian 2,3. Hasil validasi menunjukkan metode mempunyai linearitas dengan nilai koefisien korelasi (r) 0,999 pada rentang aktivitas protease (50â100 IU/mL); batas deteksi sebesar 3,24 IU/mL dan batas kuantitasi sebesar 9,8 IU/mL. Hasil akurasi menunjukkan metode mempunyai persen perolehan kembali pada tingkat kadar pankreatin 80%, 100%, dan 120% berturut-turut 98,77 Âą 1,25; 99,72 Âą 2,92; dan 99,04 Âą 1,56. Hasil presisi metode intrahari menunjukkan simpangan baku relatif (SBR) berturut-turut 3,81% dan 2,14% dengan SBR uji presisi antarhari yaitu 2,62%. Metode ini belum dapat disimpulkan valid untuk diaplikasikan pada sediaan sampel produk komersial karena adanya parameter yang tidak memenuhi syarat, yaitu uji spesifisitas. Spesifisitas metode tidak memenuhi syarat dikarenakan derajat penyimpangan (% bias) pada salah satu tingkat konsentrasi melebihi 5% sebagai kriteria penerimaan. Hasil aplikasi metode pada sampel produk komersial menunjukkan rataan aktivitas protease hanya sebesar 7375,4 IU/tablet setara dengan 81,95% dari kadar etiket (9000 IU/tablet). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode ini belum bisa dinyatakan valid sebagai alternatif substrat untuk penentuan aktivitas protease pankreatin.
PENGARUH EKSTRAK KUNYIT PADA PENYAKIT PERIODONTAL: ANALISIS NETWORK PHARMACOLOGY, PENGEMBANGAN FORMULASI HIDROGEL TERMOSENSITIF, SERTA UJI ANTIBAKTERI DAN ANTIBIOFILM TERHADAP STREPTOCOCCUS MUTANS
Penyakit periodontal merupakan inflamasi kronis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan mikroba oral yang ditandai dengan kerusakan jaringan penyangga gigi serta dilaporkan berasosiasi dengan berbagai penyakit sistemik. Kurkumin, senyawa polifenol dari kunyit, dikenal luas memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, dan regeneratif yang menjanjikan untuk terapi periodontal, namun penggunaannya terbatas karena kelarutan dan bioavailabilitas yang rendah. Pendekatan formulasi nanoemulsi dalam sistem penghantaran hidrogel termosensitif berbasis kitosan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas kurkumin melalui pelepasan obat yang terkontrol dan adhesi lokal pada jaringan periodontal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi kurkumin sebagai agen terapeutik multitarget dalam pengendalian penyakit periodontal melalui analisis network pharmacology, pengembangan formulasi hidrogel termosensitif, serta evaluasi aktivitas antibakteri dan antibiofilmnya secara in vitro terhadap Streptococcus mutans. Analisis network pharmacology dilakukan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara kurkumin dan gen target penyakit periodontal menggunakan basis data PubChem, Swiss Target Prediction, STITCH, serta dataset GEO (GSE16134 dan GSE10334), dengan hasil pencocokan yang divisualisasikan melalui Venny 2.1. Pengayaan fungsi gen dianalisis menggunakan Gene Ontology (GO) dan jalur KEGG pada ShinyGO 0.85 dengan koreksi FDR metode Benjamini-Hochberg untuk menentukan jalur biologis utama yang relevan. Jaringan interaksi antara kurkumin, target protein, dan jalur metabolik dikonstruksi dengan Cytoscape, sedangkan uji molecular docking menggunakan AutoDock Vina yang selanjutnya divisualisasi melalui BIOVIA Discovery Studio digunakan untuk menentukan afinitas ikatan dan jenis interaksi. Efek kurkumin terhadap periodontopatogen juga dievaluasi melalui analisis STITCH dan STRING dengan skor interaksi ?0,400 dan FDR <0,05 untuk mengidentifikasi jalur KEGG yang dipengaruhi. Selain itu, nanoemulsi ekstrak kunyit diformulasikan dan diinkorporasikan ke dalam hidrogel termosensitif berbasis kitosan yang kemudian dioptimasi dan dievaluasi karakteristik fisik, morfologi, dan strukturnya. Sementara itu, S. mutans ATCC 25175 digunakan sebagai bakteri uji dan dikultur pada media MHA dan MHB pada suhu 37 °C selama 18-24 jam sebelum digunakan untuk uji antibakteri dan antibiofilm. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi agar dan pengukuran densitas optik selama 72 jam menggunakan microplate reader. Sementara itu, aktivitas antibiofilm diuji menggunakan pewarnaan crystal violet dengan pembacaan absorbansi dilakukan pada 595 nm untuk menentukan persentase penghambatan biofilm secara kuantitatif. Analisis network pharmacology mengidentifikasi 32 target yang berasosiasi dengan kurkumin dan gen terkait penyakit periodontal yang pada umumnya terlibat dalam respon inflamasi dan imun terhadap infeksi. Konstruksi jaringan menunjukkan terdapat tujuh protein yang memiliki interaksi paling banyak (CXCL8, IL1B, CXCL1, FOS, CXCL12, SELE, dan MMP3). Hasil molecular docking menunjukkan afinitas ikatan yang kuat antara kurkumin dengan lima dari tujuh protein. Selanjutnya, pengembangan hidrogel termosensitif berbasis kitosan/?-gliserofosfat yang mengandung nanoemulsi kurkumin dilakukan. Hidrogel teroptimasi menunjukkan karakteristik fisikokimia yang baik, termasuk pH 6,86 ¹ 0,00, syringeable, dan mampu mengalami gelasi relatif cepat dalam waktu 6 menit pada suhu 37 °C. Analisis FTIR dan SEM mengonfirmasi keberhasilan proses crosslinking serta distribusi nanoemulsi yang homogen di dalam matriks hidrogel. Formulasi yang dikembangkan menunjukkan aktivitas antibakteri dengan zona hambat sebesar 20,67 ¹ 1,67 mm serta efektivitas antibiofilm sebesar 62,147 ¹ 11,354% terhadap S. mutans. Temuan ini menunjukkan bahwa hidrogel termosensitif berbasis nanoemulsi merupakan sistem penghantaran obat lokal yang menjanjikan untuk terapi adjuvan penyakit periodontal, dengan mengombinasikan efek antiinflamasi, antibakteri, dan antibiofilm dari kurkumin.
PENGEMBANGAN PENYELESAIAN NONLINEAR BERBASIS METODE PROBABILISTIK DAN JARINGAN SARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK SIMULASI RESERVOIR
Simulasi reservoir berperan penting sebagai alat untuk memprediksi dinamika aliran fluida di dalam media berpori serta membuat berbagai skenario pengembangan lapangan yang optimal. Salah satu tantangan utama dalam simulasi reservoir yaitu penyelesaian sistem persamaan nonlinear berdimensi besar akibat dari formulasi aliran multifasa dan diskretisasi model reservoir. Proses penyelesaian ini sering menghadapi berbagai masalah, antara lain: konvergensi yang tidak tercapai, beban komputasi yang berat, serta ketidakstabilan solusi akibat dari sifat matriks yang ill-conditioned. Metode iterative solver, seperti Conjugate Gradient dapat memiliki keterbatasan dalam hal efisiensi maupun stabilitas, terutama ketika berhadapan dengan kondisi reservoir yang sangat heterogen, baik dari sisi geometri dan sifat-sifat fisik fluida dan batuannya. Penelitian ini mengusulkan pengembangan metode berbasis gabungan metode probabilistik dan jaringan saraf tiruan Backpropagation Neural Networks (BPNN) sebagai alternatif penyelesaikan sistem persamaan nonlinear pada simulasi reservoir. Pendekatan ini merepresentasikan solusi sebagai suatu distribusi yang mengandung informasi ketidakpastian dan estimasi error, sehingga tidak hanya menghasilkan nilai deterministik tunggal, tetapi juga memberikan gambaran tingkat keyakinan terhadap solusi. Sedangkan BPNN dapat mempelajari pola nonlinear yang kompleks dalam sistem persamaan melalui proses pembelajaran untuk memperoleh aproksimasi solusi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa solver berbasis probabilistik dan BPNN mampu menyelesaikan berbagai skenario, meliputi aliran gas satu fasa, aliran minyak satu fasa pada grid terstruktur maupun tak terstruktur, aliran dua fasa minyak-air pada reservoir homogen maupun heterogen, serta aliran pada model rekahan. Selain itu, metode hybrid BPNN-Probabilistik ini dapat menghasilkan solusi yang lebih akurat pada model rekahan dibanding dengan solver konvensional. Dengan demikian, solver ini layak untuk dikembangkan lebih lanjut dan diuji pada kasus aliran fluida yang lebih kompleks.
BIOAKUMULASI LOGAM BERAT CR DAN ZN PADA IKAN NILA DAN TANAMAN KIAPU DARI AIR HASIL OLAHAN DENGAN METODE AERASI (STUDI KASUS : SUNGAI CIKAKEMBANG)
Sungai Cikakembang merupakan anak Sungai Citarum yang berada di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Sungai tersebut menerima efluen limbah dari industri tekstil yang mengandung logam berat seperti krom dan seng. Peningkatan kualitas air sungai telah dilakukan, namun masih belum efektif menurunkan kandungan logam berat di dalam air sungai. Metode pengolahan secara aerasi dapat menjadi alternatif pengolahan air sungai yang dapat menurunkan kadar logam berat. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh hasil pengolahan air secara aerasi dengan difuser terhadap bioakumulasi logam berat pada Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tanaman air kiapu (Pistia stratiotes). Percobaan bioakumulasi dilakukan dalam skala laboratorium selama 8 hari. Pengukuran konsentrasi logam berat pada ikan dan tanaman dilakukan dengan melakukan ekstraksi logam berat pada ikan dan tanaman pada hari ke-0, 1,4 dan 8. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa aerasi mampu meningkatkan kualitas air sungai dengan meningkatkan nilai DO hingga 3x lipat, menurunkan nilai COD (93%), TSS (42%), TDS (52%), nitrat (19,1%), nitrit (3,5%), amonium (75%), total fosfat (10%), fenol (23%) dan logam Cr (94%) dan Zn (55,6%). Aerasi awal meningkatkan akumulasi logam Cr (BCF = 66,7) dan logam Zn (BCF = 1,3) di ikan. Pada sistem akuarium tanaman, aerasi awal meningkatkan akumulasi logam Cr (BCF = 3,39) dan Zn (BCF = 4,9). Pada sistem akuarium kombinasi ikan dan tanaman, tanaman lebih banyak mengakumulasi logam Cr dan Zn. Logam Zn lebih banyak diakumulasi di tanaman (BCF = 4,9). Namun konsentrasi logam Cr dan Zn di air selama percobaan bioakumulasi mengalami penurunan. Berdasarkan data tersebut, aerasi meningkatkan bioavailibilitas logam Cr dan Zn pada ikan dan tanaman, sehingga untuk memaksimalkan pengolahan air sungai Cikakembang dengan metode aerasi perlu ditambahkan tanaman air yang mengakumulasi logam Cr dan Zn.
STUDY PENGARUH SALINITAS KALI SUNTER TERHADAP KONSENTRASI DO-BOD DI DAERAH PASANG SURUT BERDASARKAN PENGUJIAN BOD DECAY RATE (KD) DAN MENGGUNAKAN MODEL HIDRODINAMIKA 3D NON ORTHOGONAL BOUNDARY FITTED
Kali Sunter menyalurkan limbah perkotaan dengan BOD Decay Rate (Kd) sebagai variabel Non-Konservatif dalam pengendalian kualitas air. Variabel fundamental dikumpulkan melalui pengujian laboratorium untuk DO-Salinitas pada bulan Mei 2022 mewakili musim hujan, dan pada bulan Agustus 2023 mewakili musim kemarau. Pada sampel musim hujan, variabel hidrodinamik Salinitas (S1) 28 ppt - Kd1=2,64/hari, (S2) 18 ppt - Kd2=2,0/hari, (S3) 8 ppt - Kd3=1,75/hari, dan (S4)=0 ppt - Kd4=1,68/hari, dan ditampilkan dalam persamaan Kd-Salinitas untuk musim hujan Kd = 1,73e0,0134.S dengan Koefisien Regresi Eksponensial (R)=86,7%. Untuk sampel musim kemarau, dengan variable Salinitas (S1) 31 ppt - Kd1=3,4/hari, (S2) 21 ppt - Kd2=3,0/hari, (S3) 11 ppt - Kd3=2,9/hari, dan (S4)=0 ppt - Kd4=2,59/hari, dan ditampilkan dalam persamaan Kd-Salinitas untuk musim kemarau Kd = 2.52e0.0096.S dengan R=95.3%. Karakteristik sampel Sunter Kanal menunjukkan Salinitas tinggi mampu memperlambat proses degradasi yang menyebabkan perubahan DO berada pada interval kecil dan dijelaskan secara spesifik dengan gradien kurva eksponensial yang terbentuk menggambarkan Kd memberikan nilai lebih tinggi untuk sampel air asin. Fenomena ini mengekspresikan kondisi fisik aktual limbah Sunter Kanal termasuk kategori Lumpur Aktif. Skenario pemodelan MuDO3D mempertimbangkan Kd, skema pengerukan Sunter Kanal sepanjang 7,3 km dengan kedalaman 4 m, dan 8 m. Validasi model MuDO 3D dilakukan membandingkan model vs pengukuran dalam Salinitas (81,74%), dalam DO (87,70%), dan model BOD vs pengujian laboratorium (85,46%). Skema pengerukan akan meningkatkan Salinitas sepanjang 7,3 km dari muara ke daratan. Skema pengerukan 8 m memiliki peningkatan DO (0,7 mg/L menjadi 0,88 mg/L di permukaan), juga penurunan BOD (11 mg/L menjadi 10,2 mg/L di permukaan, dan 11 mg/L-7,9 mg/L di dasar). Skema pengerukan menyebabkan peningkatan Salinitas diikuti percepatan penurunan BOD, karena berdasarkan pengujian laboratorium Salinitas memiliki karakteristik yang mampu memperlambat degradasi polutan Non Konservatif, yang ditunjukkan oleh korelasi Salinitas tinggi diikuti oleh Kd tinggi. Untuk kasus Kanal Sunter, kecepatan rendah aktual (<v), skema pengerukan (>H) pada batas kedalaman perataan juga mempercepat DO mencapai 0, diikuti oleh penurunan BOD di dasar karena pengaruh Salinitas yang lebih kuat. Uji laboratorium Kd â Salinitas potensial untuk diaplikasikan pada sungai-sungai lain di dunia berdasarkan pembagian musim di berbagai negara, sebagai ide baru dalam pengendalian pencemaran air di daerah pasang surut yang mempertimbangkan sebaran Salinitas sebagai fenomena alam yang berpengaruh di muara. Perluasan pengaruh laut ke daratan mengindikasikan hasil yang baik bagi upaya penanggulangan pencemaran air perkotaan, yang kedepannya dapat diadopsi di berbagai negara.