📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENDEKATAN BARU PENYELESAIAN PERSAMAAN ALIRAN FLUIDA MENGGUNAKAN PHYSICS INFORMED NEURAL NETWORKS
Penelitian ini mengajukan penyelesaian persamaan aliran dua fasa tidak tercampur minyak–air yang bersifat mesh-free menggunakan kerangka kerja Physics- Informed Neural Networks (PINN). Jaringan saraf tiruan (JST) feedforward menjadi aproksimasi fungsi distribusi tekanan dan saturasi yang bersifat kontinu dengan mengintegrasikan persamaan diferensial parsial (PDP), kondisi batas, dan kondisi awal secara langsung ke dalam fungsi kerugian (loss function). Riset ini mangajukan dua macam strategi untuk mengimplementasikan kerangka kerja tersebut, yaitu pendekatan sequential dan pendekatan simultan (fully implicit) Metode sequential menggunakan dua JST terpisah memberikan aproksimasi terhadap fungsi distribusi tekanan dan saturasi dan dilatih secara berurutan. Pelatihan jaringan saraf menggunakan optimizer Broyden–Fletcher–Goldfarb– Shanno (BFGS) dan menghasilkan solusi konvergen dengan nilai mean square error (MSE) fungsi kerugian untuk PDP sebesar 5.8504E-10. Hasil simulasi divalidasi menggunakan solusi numerik dan menunjukkan kesesuaian yang tinggi. Pada metode simultan, PINN menyelesaikan distribusi tekanan dan saturasi secara bersamaan melalui satu JST. Penelitian ini menyusun tiga topologi jaringan yang dirancang untuk menguji interferensi antar variable ouput yaitu lapisan satu baris (N1), lapisan dua baris (N2), dan lapisan bercabang (NY). Solusi dibandingkan dengam simulator komersial (Eclipse©) dan menunjukkan NY mencapai kinerja terbaik dengan MSE kurang dari 1.0e-10 serta mampu mengurangi interferensi antara prediksi tekanan dan saturasi dan mempertahankan stabilitas. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun memerlukan biaya komputasi lebih tinggi, pendekatan berbasis PINN yang diusulkan memberikan solusi dengan akurasi tinggi pada masalah reservoir kompleks. Pendekatan mesh-free, menawarkan alternatif yang menjanjikan yang dapat diterapkan pada geometri beraturan maupun tidak beraturan.
INVESTIGASI MEKANISME PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN SOPHOROLIPID PADA BATUAN KARBONAT
Remaining Oil in Place (ROIP) dari reservoir batuan karbonat umumnya masih cukup besar. Hal ini dikarenakan batuan karbonat mempunyai kecenderungan wettability yaitu oil wet. Karena sifatnya yang membasahi batuan maka minyak sisa akan menempel pada pori-pori batuan dan sulit untuk diproduksikan ke permukaan. Salah satu usaha peningkatan perolehan minyak tahap lanjut adalah dengan injeksi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas injeksi biosurfaktan sophorolipid dalam meningkatkan perolehan minyak pada batuan karbonat dan menginvestigasi mekanisme dominan yang bekerja selama proses injeksi tersebut. Sophorolipid merupakan biosurfaktan dari jamur yang memiliki sifat-sifat surfaktan pada umumnya namun belum diketahui mekanisme dominan yang bekerja dalam proses peningkatan produksi minyak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan metode simulasi dengan tahapan utama yaitu pengujian pada sistem crude oil-rock-brine (CORB), uji coreflooding dan simulasi coreflooding. Pengaruh dari pH, salinitas dan ion divalen (kalsium dan magnesium) dianalisis dan selanjutnya dilakukan uji coreflooding dengan core Indiana Limestone. Pada pemodelan simulasi coreflooding dilakukan sensitivitas parameter input untuk mendapatkan parameter yang dominan dari sophorolipid. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum dari sophorolipid pada batuan karbonat yaitu dengan konsentrasi 0,5% pada Critical Micelle Concentration (CMC), salinitas sedang (10.000 ppm) dengan karakteristik minyak sedang. Hasil sensitivitas coreflooding menunjukkan parameter dominan adalah trapping number nonwetting (DTRAPN) yang berkaitan erat dengan mekanisme wettability alteration dan viskositas emulsi. Kenaikan Recovery factor (RF) hasil optimasi simulasi coreflooding mencapai 19%-33%.
PERAN “SRIKANDI” DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI INDUSTRI PERTAMBANGAN:STUDI KASUS PT BUKIT ASAM TBK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Program Srikandi PT Bukit Asam (PTBA) dalam meningkatkan partisipasi, kepemimpinan, dan kesempatan setara bagi perempuan di sektor pertambangan; mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan implementasinya; serta merumuskan model keberlanjutan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) yang selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan roadmap keberlanjutan perusahaan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam, analisis dokumen, serta triangulasi data melalui SWOT dan PESTEL analysis. Kerangka analisis yang digunakan mengacu pada konsep Four Frames of Gender (Ashcraft & Mumby, 2004), yaitu Fix the Women, Value the Feminine, Create Equal Opportunity, dan Assess & Review Work Culture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Srikandi PTBA telah efektif dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kepercayaan diri perempuan, terutama melalui pelatihan seperti Woman Leadership Series, Financial Acumen for NonFinance Professionals, dan Coaching Pra-Assessment Srikandi. Selain itu, terbentuknya Harmony Hub dan program Woman Support Woman menjadi ruang penting dalam memperkuat jejaring profesional dan dukungan psikososial antarpegawai perempuan. Namun demikian, efektivitas program masih belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan representasi perempuan di bidang teknis dan posisi strategis, karena sebagian besar intervensi masih berfokus pada pengembangan individu (Fix the Women) dan belum sepenuhnya menyentuh aspek struktural serta budaya kerja organisasi. Faktor keberhasilan program dipengaruhi oleh dukungan kuat dari kebijakan nasional dan manajemen puncak, integrasi dengan program TJSL dan ESG perusahaan, serta kemitraan dengan organisasi eksternal seperti Women in Mining & Energy (WIME) dan UN Women. Sementara itu, hambatan utama berasal dari budaya kerja maskulin, stereotip gender terhadap pekerjaan teknis, ketimpangan fasilitas ramah keluarga antar-site, dan kurangnya sistem evaluasi budaya kerja berbasis data. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pengembangan model integratif gender mainstreaming yang menggabungkan keempat frames of gender ke dalam kebijakan dan sistem tata kelola PTBA, termasuk pembentukan Center for Gender & Inclusion (CGI) sebagai unit permanen di bawah Divisi SDM Strategik yang bertugas melakukan policy audit, gender data analytics, dan pengembangan kepemimpinan inklusif. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Program Srikandi PTBA memiliki peran strategis sebagai katalis transformasi budaya organisasi menuju kesetaraan dan keberlanjutan. Agar lebih relevan di masa depan, program ini perlu bertransformasi dari paradigma “memberdayakan perempuan agar siap bersaing” menuju “membangun sistem yang inklusif dan setara bagi semua gender.” Dengan mengintegrasikan kesetaraan gender dalam prinsip ESG dan roadmap keberlanjutan, PTBA berpotensi menjadi pelopor BUMN sektor pertambangan yang berhasil mewujudkan praktik inclusive leadership dan sustainable gender governance sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDG 5 dan SDG 13) serta target nasional Net Zero Emission 2060
PERHITUNGAN WAKTU TINGGAL (RESIDENCE TIME) DI PERAIRAN TELUK BANTEN
Teluk Banten berpotensi mengalami akumulasi polutan dan penurunan kualitas perairan. Salah satu parameter penting untuk menilai kerentanan tersebut adalah Residence Time (RT), yaitu waktu tinggal partikel sebelum keluar dari suatu sistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung RT di Teluk Banten dengan mengasumsikan pergerakan partikel berupa sampah plastik, serta menganalisis pengaruh pasang surut dan debit sungai terhadap nilainya. Pemodelan hidrodinamika dilakukan menggunakan Delft3D-FLOW dua dimensi barotropik dengan metode particle tracking. Domain model dibangun berdasarkan data batimetri dari PUSHIDROSAL, garis pantai, komponen pasang surut dari Tidal Model Driver (TMD), dan debit enam sungai utama. Simulasi dijalankan selama periode 1–31 Oktober 2019 dengan lima skenario debit sungai, yaitu: (1) tanpa debit sungai, (2) debit rata-rata, (3) debit minimum, (4) debit maksimum, dan (5) debit observasi Oktober 2019, serta dianalisis pada dua kondisi purnama dan dua kondisi perbani. Verifikasi model dilakukan dengan membandingkan elevasi muka air hasil simulasi terhadap data konstanta dan observasi pasang surut di Pulau Pamujan Besar. Hasil verifikasi menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0,05 m, koefisien korelasi 0,94, serta bias sebesar 0,008 dan 0,006 untuk dua perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RT di Teluk Banten dipengaruhi oleh kombinasi pasang surut, debit sungai, dan posisi awal pelepasan partikel. Pada seluruh skenario, partikel bergerak lebih cepat pada kondisi purnama dibandingkan perbani akibat amplitudo pasang surut yang lebih besar, yang meningkatkan kecepatan arus sebesar 0,01–0,1 m/s. Skenario debit maksimum (Skenario 4) menghasilkan nilai RT tercepat, berkisar antara 23–271 jam (1–11 hari), sedangkan debit kecil (Skenario 1, 3, dan 5) memperpanjang RT hingga 23–803 jam (1–34 hari). Debit sungai berpengaruh secara lokal terhadap RT di Teluk Banten, sedangkan pasang surut berpengaruh secara keseluruhan terhadap sistem perairan. Temuan ini menegaskan bahwa RT dapat digunakan sebagai indikator utama dalam menilai potensi akumulasi polutan di perairan semi-tertutup seperti Teluk Banten, serta menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan lingkungan, strategi konservasi, dan mitigasi pencemaran di wilayah pesisir tersebut.
ANALISIS KINERJA MOTOR BAKAR DENGAN BAHAN BAKAR CAMPURAN METANA DAN HIDROGEN
Sektor transportasi, energi, dan industri semuanya bergantung pada motor bakar. Tantangan terbesar dari motor bakar adalah emisinya. Emisi ini menimbulkan dampak negatif untuk lingkungan. Hidrogen berpotensi menjadi solusi untuk masalah emisi ini, karena hidrogen adalah bahan bakar non-karbon. Meskipun demikian, hidrogen juga memiliki sisi negatif. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian mengenai dampak pembakaran campuran hidrogen dengan metana — salah satu bahan bakar dengan kinetika kimia paling diteliti — dilakukan menggunakan simulasi Ansys Forte. Simulasi pada penelitian ini dimodelkan berdasarkan mesin Kubota WG1605-N-E3. Konfigurasi utama dari simulasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah diameter silinder 79 mm, langkah piston 78,4 mm, sudut sektor 22,5°, dan ukuran mesh 0,8 mm. Pembakaran disimulasikan utamanya pada rasio ekuivalensi = 1 dengan bahan bakar murni metana, campuran 25% H2, campuran 50% H2, campuran 75% H2, dan murni Hidrogen. Simulasi menggunakan set mekanisme kimia dari Ansys Forte dengan kinetika kimia 29 spesies dan 137 spesies. Data yang didapat dari simulasi meliputi data dalam silinder sepanjang sudut engkol, data metrik kinerja dan emisi dari forte.log, dan data teresolusi spasial dalam bentuk peta kontur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kinerja mesin meliputi kerja indikasi kotor, daya indikasi kotor, dan IMEP menurun secara bertahap seiring peningkatan komposisi hidrogen, dengan pengurangan berkisar sebesar 0,33% dengan 25% H2, 2,08% dengan 50% H2, 5,53% dengan 75% H2, dan 47,74% dengan 100% H2. Emisi seperti jelaga, CO, VOC, mengalami penurunan, emisi UHC mengalami kenaikan, dan emisi NOx menurun sebelum naik kembali. Selain dari hasil-hasil tersebut, ditemukan bahwa set mekanisme kimia 29 spesies tidak berhasil mewakili semua reaksi pada bahan bakar campuran dengan baik, menyebabkan hal kontradiktif seperti melambatnya pembakaran seiring peningkatan komposisi hidrogen. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pencampuran hidrogen ke bahan bakar metana mengurangi kinerja sedikit, tetapi menghasilkan emisi yang lebih rendah. Dampak penambahan hidrogen ke bahan bakar bersifat kompleks, sangat bergantung dengan kondisi awal dan kondisi batas, serta geometri dari mesin itu sendiri. Penelitian lanjutan diperlukan untuk melengkapi data, dan untuk implementasi pencampuran hidrogen ke dunia nyata.
KARAKTERISTIK DIMENSI RENDAH DUA SILINDER TANDEM MELALUI PROPER ORTHOGONAL DECOMPOSITION
Aliran di sekitar benda tumpul umum dijumpai dalam rekayasa, dengan silinder tandem digunakan sebagai model minimal untuk mengkaji gangguan aliran belakang yang memengaruhi gaya aerodinamik dan frekuensi dominan. Metode snapshot POD diterapkan pada simulasi CFD dua dimensi tak tunak untuk Re = {100, 200} dan L/D = {2, 3, 5}. Data dihasilkan melalui LBM berbatas terbenam, dengan 1.500 snapshot terakhir (kecepatan dan ?z) diuraikan menggunakan snapshot SVD; FFT dari koefisien temporal memberikan St yang divalidasi silang dengan Cl/Cd. Pada Re = 100 energi terkonsentrasi pada sedikit mode, sedangkan pada Re = 200—khususnya L/D = 5—lebih banyak mode terlibat. POD berbasis vortisitas menyoroti lapisan geser dengan energi tersebar, sementara POD berbasis kecepatan lebih kompak. Jarak memengaruhi interaksi: interferensi kuat (L/D = 2), transisi (L/D = 3), dan pelepasan hampir independen (L/D = 5). Nilai St hasil POD konsisten dengan acuan berbasis gaya, menunjukkan bahwa mode dominan menangkap dinamika utama di seluruh kasus. Temuan ini merangkum regime interferensi serta menyoroti wilayah berenergi tinggi dan frekuensi dominan yang relevan untuk penempatan sensor atau actuation.
OPTIMASI PRODUKSI EKSOPOLISAKARIDA (EPS) DARI AZOTOBACTER CHROOCOCCUM DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM) SERTA KARAKTERISASI POTENSI FUNGSIONALNYA
Azotobacter chroococcum merupakan bakteri tanah penghasil eksopolisakarida (EPS) yang berpotensi luas pada berbagai industri, namun eksplorasi produksi EPS oleh A. chroococcum masih terbatas. Pada produksi EPS konvensional, penggunaan media kimia sering kali meningkatkan biaya proses, sehingga pemanfaatan molase dapat menjadi alternatif yang lebih efisien secara ekonomi. Optimasi biosintesis EPS yang dipengaruhi komposisi media, pH, dan inokulum dapat dilakukan melalui Response Surface Methodology (RSM), metode statistik untuk memodelkan, mengevaluasi, dan menentukan kondisi optimal respon. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) menentukan profil pertumbuhan A. chroococcum pada media berbasis molase sebagai substrat produksi EPS; (2) menentukan kondisi optimal fermentasi untuk meningkatkan produksi EPS melalui kultivasi dua tahap; dan (3) melakukan karakterisasi sifat fisikokimia serta aktivitas biologis EPS yang dihasilkan pada kondisi optimum. Pada media Ashby N-Free, pertumbuhan eksponensial terjadi hingga 24 jam dengan laju 0,168/jam dan waktu generasi (GT) 4,1 jam, serta mencapai biomassa maksimum pada 120 jam. Pada media molase, A. chroococcum tumbuh dengan laju lambat (? = 0,09/jam; GT = 7 jam), namun produksi EPS sudah terdeteksi sejak fase eksponensial dan meningkat konsisten hingga fase transisi stasioner. Optimasi dilakukan dengan RSM-Box Behnken Design (BBD) dengan tiga faktor: rasio CN (14-21), pH (6-8), dan konsentrasi inokulum (5-8%). Kondisi optimum untuk memaksimalkan hasil dan konsentrasi EPS oleh A. chroococcum adalah: C/N ratio 21, pH 8, dan konsentrasi inokulum 5%. Pada kondisi ini, diperoleh hasil EPS 0,89 ± 0,028 g/L dan konsentrasi EPS 99,28 ± 4,09 mg/L. Hasil karakterisasi fisikokimia menunjukkan bahwa viskositas suspensi EPS meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi EPS. Monosakarida penyusun EPS terdiri atas glukosa, xylosa dan fruktosa menunjukkan bahwa EPS yang dihasilkan berjenis heteropolisakarida. EPS dari A. chroococcum menunjukkan kemampuan antioksidan melalui aktivitas penangkapan radikal DPPH (2,2-diphenyl-1-picrihidrazyl) sebesar 16–93% serta aktivitas antibakteri kategori sedang–kuat terhadap E. coli dan B. subtilis. Karakterisasi ini mengindikasikan peluang pemanfaatan EPS dari A. chroococcum sebagai bahan tambahan dengan aktivitas bioaktif dalam pangan, kosmetik maupun kesehatan.
MENGEMBANGKAN ATRIBUT DESTINASI PARIWISATA UNTUK MARLINA GROUP GUNA MENINGKATKAN NIAT KUNJUNGAN PELANGGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan atribut destinasi wisata pada Marlina Group di Lemahsugih, Majalengka, guna meningkatkan niat berkunjung wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixedmethod) yang mengombinasikan eksplorasi kualitatif dan validasi kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama,termasuk praktisi pariwisata, perwakilan pemerintah, dan manajemen Marlina Group, untuk mengidentifikasi kesenjangan dan peluang pada enam atribut destinasi wisata: Accessibility, Attraction, Activities, Available Packages, Ancillary Services, dan Amenities (6A). Data kuantitatif diperoleh dari 376 responden melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling dengan Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antara atribut-atribut tersebut dengan niat berkunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Accessibility, Attractions, dan Activities merupakan faktor paling berpengaruh dalam membentuk niat berkunjung wisatawan, sedangkan Ancillary Services, Amenities, dan available packages berperan sebagai pendukung daripada menjadi pendorong utama. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas kerangka atribut destinasi wisata dalam konteks pariwisata pedesaan, serta kontribusi praktis berupa strategi terstruktur bagi Marlina Group untuk mentransformasi Lemahsugih dari kawasan pendukung agrowisata menjadi destinasi pariwisata pedesaan yang kompetitif
KARAKTERISTIK SIRKULASI ANGIN LAUT DI PESISIR UTARA JAWA BAGIAN TENGAH BERDASARKAN DATA OBSERVASI PERMUKAAN DAN RADAR CUACA
Sirkulasi angin laut (sea breeze circulation, SBC) merupakan fenomena atmosfer berskala meso yang muncul akibat perbedaan pemanasan antara daratan dan lautan. Perbedaan suhu tersebut menimbulkan gradien tekanan horizontal yang memicu aliran udara dari laut menuju darat pada siang hari dan sebaliknya pada malam hari. Sistem ini berperan penting dalam mengatur kondisi cuaca pesisir, memodulasi suhu permukaan, meningkatkan kelembapan, serta memicu pembentukan awan konvektif. Di wilayah pesisir tropis seperti Indonesia, yang memiliki garis pantai panjang dan kepadatan penduduk tinggi, pemahaman mengenai karakteristik dan dinamika SBC menjadi penting bagi kegiatan operasional meteorologi, peringatan dini cuaca lokal, dan keselamatan penerbangan. Meskipun demikian, kajian observasional yang menguraikan struktur temporal, spasial, dan vertikal dari sirkulasi ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah dengan memanfaatkan data observasi permukaan dan radar cuaca. Kajian dilakukan untuk menentukan waktu onset, kecepatan propagasi, jarak intrusi, panjang front, dan variasi musiman SBC serta hubungan fenomena tersebut dengan kondisi sinoptik latar. Pendekatan yang digunakan melibatkan metode penyaringan berbasis fisik (filter method) untuk menyeleksi hari-hari dengan potensi sea breeze day (SBD), diikuti dengan analisis spasial dan vertikal menggunakan produk radar cuaca. Data yang digunakan meliputi pengamatan Automatic Weather Station (AWS) dengan interval 10 menit untuk mendeteksi perubahan arah angin, suhu, dan kelembapan; data reanalisis ERA5 pada lapisan 700 hPa sebagai proksi kondisi sinoptik; serta data radar cuaca C-Band yang diolah menjadi produk Multiple Plan Position Indicator (MPPI) dan Volume Velocity Processing (VVP) guna mengidentifikasi struktur horizontal dan vertikal sirkulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SBC berkembang terutama pada kondisi angin sinoptik lemah (< 11 m/s) dan kontras suhu darat–laut (?T) ? 3 °C. Sirkulasi ini umumnya mulai terbentuk pada pukul 08.00–10.00 LT, mencapai puncak pada 13.00–15.00 LT, dan melemah menjelang malam hari. Intrusi udara laut ke darat mencapai 15–30 km dengan kecepatan 2–8 m/s dan kedalaman lapisan sekitar 1 km. Distribusi musiman memperlihatkan bahwa frekuensi tertinggi terjadi pada musim peralihan kedua (SON), diikuti musim kemarau (JJA), sedangkan pada musim hujan (DJF) fenomena ini jarang muncul akibat dominasi monsun barat yang memperkecil gradien termal. Perubahan arah angin permukaan lebih dari 30°, peningkatan kelembapan 5–10%, dan penurunan suhu udara siang hari menjadi indikator khas dari onset SBC. Analisis radar memperlihatkan dua lapisan utama sirkulasi, yaitu aliran darat–laut di lapisan bawah (0–1,2 km) dan aliran balik (return flow) di lapisan atas (1,8–2 km). Nilai vertical shear di lapisan bawah berkisar antara 2–9 (m/s)/km (?0,002–0,009 s?¹) dan mencapai maksimum sekitar 20 (m/s)/km (?0,02 s?¹) pada ketinggian 0–0,25 km. Nilai ini menunjukkan zona konvergensi kuat akibat perbedaan momentum horizontal antara udara darat dan laut, yang berperan dalam memperkuat pembentukan front dan proses konveksi lokal. Sistem yang terbentuk paling kuat muncul pada kondisi ?T besar dan kecepatan angin sinoptik lemah, menghasilkan sirkulasi stabil dengan lapisan onshore yang dalam serta aktivitas konvektif di wilayah pesisir. Hasil ini menegaskan bahwa interaksi antara kontras termal darat–laut, kondisi angin sinoptik, dan struktur vertikal atmosfer menjadi pengendali utama dinamika sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah.
NUMERICAL SIMULATION OF VERTICAL MULTISTAGE SOLAR STILL
Kekurangan air bersih merupakan tantangan yang semakin mendesak, terutama di wilayah yang sulit menerapkan teknologi desalinasi modern karena kebutuhan energi dan infrastruktur yang tinggi. Distilasi surya menawarkan alternatif yang lebih sederhana dan berkelanjutan, dengan Vertical Multistage Solar Still (VSS) mampu meningkatkan produktivitas melalui mekanisme daur ulang panas laten. Dalam penelitian ini, model numerik Vertical Solar Still (VSS) dikembangkan menggunakan perangkat lunak COMSOL Multiphysics dan divalidasi terhadap data eksperimental. Model tersebut menunjukkan kesesuaian yang baik dengan sebuah hasil publikasi, dengan galat sebesar 7,6% pada laju evaporasi total dan galat RMS temperatur sebesar 2,4 °C. Selanjutnya dilakukan studi parametrik untuk meneliti pengaruh jumlah tahap, jarak antar pelat, dan ketebalan isolasi. Optimasi desain menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar 258% dibandingkan dengan desain acuan satu tahap, yang menunjukkan potensi besar konfigurasi multistage serta parameter-parameter tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa simulasi numerik merupakan alat yang berguna untuk menganalisis dan mengoptimasi kinerja VSS, serta memberikan landasan teoritis untuk mendukung pengembangan eksperimen lanjutan dan aplikasi nyata teknologi desalinasi surya.
POST PROCESSING EFFECTS ON INTERLAMINAR PROPERTIES OF 3D-PRINTED CONTINUOUS CARBON FIBER LAMINATED COMPOSITES
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh proses post-processing terhadap sifat antarlapis komposit laminasi serat karbon kontinu hasil pencetakan 3D. Spesimen dibuat menggunakan mesin Markforged® Mark Two dengan metode Fused Deposition Modeling (FDM) dan material Onyx resin serta serat karbon kontinu, kemudian sebagian diberi perlakuan kompresi panas pada 145 °C dan tekanan 2,5 MPa selama 30 menit untuk menurunkan kadar void. Uji Double Cantilever Beam (DCB) dilakukan untuk mengukur ketangguhan retak Mode I (GIC), sedangkan analisis mikroskopik digunakan untuk mengevaluasi void dan kualitas antarmuka serat–matriks. Hasil menunjukkan bahwa proses kompresi menurunkan kandungan void namun juga mengurangi ketangguhan antarlapis akibat berkurangnya efektivitas mekanisme fiber bridging. Spesimen tanpa kompresi menunjukkan nilai GIC lebih tinggi dengan perilaku R-curve meningkat, sedangkan spesimen terkompresi memiliki nilai GIC yang lebih rendah dengan mekanisme fiber bridging yang lebih sedikit. Temuan ini menegaskan adanya trade-off antara pengurangan void dan ketahanan delaminasi pada komposit cetak 3D.
HIERARCHICAL TRANSFER LEARNING FRAMEWORK FOR PREDICTING TRANSVERSE DAMAGE IN UNIDIRECTIONAL FIBER-REINFORCED THERMOPLASTIC COMPOSITES
Prediksi kerusakan transversal pada komposit termoplastik yang diperkuat serat searah (FRTP) merupakan tantangan karena perilaku matriksnya yang nonlinier dan bergantung pada tekanan, serta tingginya biaya komputasi dari simulasi mikromekanik berbasis finite element method (FEM). Penelitian ini memperkenalkan kerangka kerja hierarchical transfer learning yang mengintegrasikan data hasil FEM dengan machine learning (ML) untuk memperoleh prediksi cepat dan akurat terhadap respons tegangan–regangan transversal dari citra mikrostruktur. Model hibrid CNN–LSTM yang diusulkan dilatih secara bertahap: tahap awal menggunakan kontur tegangan hasil FEM untuk menangkap pola deformasi fundamental, kemudian disempurnakan dengan citra mikrostruktur biner guna meningkatkan kemampuan prediksi. Validasi terhadap hasil FEM menunjukkan kesesuaian yang sangat baik (MARE < 0,05) dengan waktu komputasi yang lebih efisien. Kerangka pembelajaran hierarkis terbukti efektif dalam mengurangi variasi error dalam prediksi, menghasilkan nilai R² hampir empat kali lebih tinggi (0,6708) dibandingkan kerangka non-hierarkis (0,1689). Kerangka ini menawarkan pengganti yang andal dan skalabel untuk simulasi mikromekanik berbasis FEM serta memajukan analisis berbasis data pada komposit termoplastik.
PENGEMBANGAN ALGORITMA OPTIMASI MULTI-OBJECTIVE ADAPTIVE FUZZY UNTUK KENYAMANAN TERMAL DAN EFISIENSI ENERGI PADA BANGUNAN GEDUNG CERDAS DENGAN PENDEKATAN DIGITAL TWIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model optimasi multi-objektif berbasis pendekatan evolusioner dalam rangka mengoptimalkan penghematan energi HVAC dan kenyamanan penghuni di Bangunan Gedung Cerdas (BGC). Dengan mengadopsi model Digital twin dan sensor IoT real-time, penelitian ini menghadirkan solusi inovatif dalam pengelolaan energi dinamis di gedung cerdas, dengan fokus pada efisiensi operasional sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC). Tiga metode optimasi diuji, yaitu NSGA-II, MOPSO, dan formulasi berbasis adaptive Fuzzy, yang masing-masing bertujuan mencapai solusi Pareto-optimal antara dua tujuan utama: minimisasi konsumsi energi dan maksimisasi kenyamanan termal. Evaluasi dilakukan menggunakan data real-time dari platform Simulator Smart Building di Gd. ITB Innovation Park lantai 9. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan Fuzzy mampu menghasilkan efisiensi energi HVAC hingga 25% dibandingkan metode lain, sambil mempertahankan kenyamanan dengan skor di atas 83%. Digital twin yang dibangun mengintegrasikan data sensor aktual, simulasi EnergyPlus, dan pengambilan keputusan otomatis berbasis model Fuzzy. Sistem ini mampu merespons perubahan lingkungan secara real-time dan menyesuaikan pengaturan HVAC secara adaptif. Model ini menunjukkan potensi besar untuk diimplementasikan pada sistem manajemen energi bangunan secara otonom dan berkelanjutan.
MODEL PENENTUAN JUMLAH PASOKAN OPTIMAL SERBUK GERGAJI MELALUI MINIMISASI BIAYA PENGADAAN, TRANSPORTASI, DAN PENYIMPANAN
Pemanfaatan biomassa, khususnya serbuk gergaji (sawdust), sebagai bahan baku co-firing di PLTU Adipala merupakan salah satu strategi PT PLN (Persero) untuk mempercepat transisi energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada batu bara. Namun, implementasi strategi ini menghadapi tantangan pada aspek rantai pasok, khususnya terkait biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan biomassa yang efisien. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana merancang model penentuan jumlah pasokan optimal serbuk gergaji dengan meminimalkan biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan agar mampu mendukung kelancaran program co-firing secara berkelanjutan. Model hasil pengembangan ini selanjutnya diterapkan untuk PLTU Adipala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode linear programming (LP) yang dirancang dalam skema single-item. Data yang digunakan berasal dari delapan pemasok sawdust di wilayah sekitar Cilacap (Ngelosari, Pagelarang, Alas Malang, Purwasaba, Jatiroto, Jatijajar, Kutaliman, dan Wates) dengan periode observasi 2022–2024. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, penentuan parameter, serta uji coba model untuk menilai efisiensi biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model mampu meminimalkan total biaya sekaligus menentukan jumlah pasokan biomassa yang optimal, termasuk skenario pemilihan pemasok terbaik ketika terjadi kekurangan pasokan di salah satu lokasi pada periode 2022–2024. Hasil uji coba menunjukkan bahwa model mampu menurunkan total volume pasokan biomassa hingga 10,8% pada tahun 2024, setelah sebelumnya mencatat kenaikan pasokan sebesar 5–8% pada periode 2022–2023 sebagai respons terhadap peningkatan jumlah pemasok. Penurunan volume pada tahun terakhir disertai dengan efisiensi biaya total sebesar 13,2%, yang menunjukkan bahwa model berhasil memberikan hasil yang optimal antara kapasitas pasokan dan efisiensi biaya distribusi biomassa. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi manajerial dalam memilih kombinasi pemasok paling efisien dan merencanakan distribusi biomassa (rute pengiriman dan volume pasokan) secara lebih terstruktur dalam rangka meminimalkan biaya tambahan akibat fluktuasi atau ketidakteraturan pasokan.
KARAKTERISTIK SERTA MEKANISME PEMICU MARINE HEATWAVES (MHWS) SIGNIFIKAN DI SELAT MAKASSAR
Seiring dengan meningkatnya suhu permukaan laut (SPL) akibat pemanasan global, kejadian marine heatwaves (MHWs) diproyeksikan akan lebih sering terjadi dan dengan durasi yang lebih panjang pula. Laju peningkatan SPL di Indonesia lebih tinggi dari rata-rata global, yang memiliki implikasi negatif terhadap ekosistem dan perekonomian Indonesia. Sebagai kawasan ekonomi produktif, Selat Makassar memiliki kerentanan yang tinggi terhadap MHWs. Guna memitigasi dampak MHWs terhadap aktivitas ekonomi Selat Makassar, dibutuhkan penelitian terhadap kejadian MHWs. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik MHWs (durasi, frekuensi, intensitas, dan tren) dan mekanisme pembentukan MHWs di Selat Makassar. Penelitian juga mengidentifikasi kejadian MHWs signifikan yang berpotensi merusak ekosistem laut. Data SPL digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik kejadian MHWs di Selat Makassar secara spasial dan temporal. Persamaan mixed layer heat budget digunakan untuk mengidentifikasi kontribusi proses net surface heat flux, adveksi horizontal, dan entrainment dalam pembentukan MHWs signifikan. Penelitian dilakukan untuk rentang waktu 28 tahun (1993–2020).Hasil penelitian menunjukkan bahwa MHWs dengan frekuensi tinggi dan intensitas rendah ada di pesisir, sedangkan karakteristik MHWs yang berkebalikan ditemukan di laut lepas. Perhitungan tren linear menunjukkan tren positif untuk frekuensi dan durasi. Tren negatif ditemukan untuk intensitas rata-rata dan maksimum, sedangkan tren linear dari intensitas kumulatif adalah kombinasi dari tren linear durasi dan intensitas rata-rata. Melalui analisis temporal, ditemukan 66 kejadian MHWs di Selat Makassar. Analisis secara musim menunjukkan bahwa kejadian MHWs di musim peralihan I dan musim timur adalah kejadian dengan intensitas kumulatif yang relatif tinggi sehingga kedua musim tersebut diklasifikasikan sebagai musim dengan kerentanan tinggi terhadap MHWs. Kejadian MHWs signifikan terjadi pada tahun 1998 dan 2016, yaitu kejadian MHWs 25 Juli–10 Agustus 1998 dan kejadian MHWs 30 Juni–18 Agustus 2016. MHWs signifikan terjadi akibat kombinasi antara anomali pemanasan mixed layer oleh net surface heat flux dan anomali positif SPL di tahun 1998 dan 2016. Nilai net surface heat flux yang tinggi diakibatkan oleh peningkatan sinar matahari yang diterima laut dan penurunan kecepatan angin selama El Niño kuat.