📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN FILLET IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) DENGAN EDIBLE COATING KITOSAN DAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS DAN MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN
Industri pengolahan ikan patin (Pangasius sp.) saat ini menghadapi tantangan kritis berupa kehilangan pangan (food loss) pascapanen yang mencapai 35%, akibat degradasi mikrobiologis dan oksidatif yang berlangsung selama proses penanganan dan penyimpanan. Kondisi ini secara langsung menurunkan efisiensi rantai pasok sekaligus membatasi daya saing produk Fillet patin di pasar yang menuntut standar mutu dan keamanan pangan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, dirancang sebuah fasilitas pengolahan Fillet patin berkapasitas 120.000 kg/tahun yang secara menyeluruh mengintegrasikan standar Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 22000, dan sistem HACCP guna memastikan keamanan, mutu, dan daya saing produk secara berkelanjutan. Sebagai inovasi utama, sistem ini menerapkan active packaging berbasis Edible Coating kitosan–Carboxymethyl Cellulose (CMC). Terpilih melalui analisis matriks keputusan sebagai solusi paling optimal, formulasi ini menghadirkan sinergi antara sifat antimikroba kitosan dan stabilitas mekanik CMC. Efektivitas formulasi ini dibuktikan melalui aktivitas antibakteri sebesar 12,7 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 12,6 mm terhadap Escherichia coli, yang mengindikasikan laju deteriorasi produk dapat berjalan lebih lambat sehingga mutu dan daya simpan produk lebih terjaga. Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan turut diwujudkan melalui penerapan prinsip zero waste industry, di mana seluruh hasil samping produksi dikonversi menjadi produk bernilai tambah, yaitu tepung ikan (fish meal) dan minyak ikan (crude fish oil). Kelayakan finansial perancangan ditentukan melalui analisis investasi dengan total Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp8.843.085.472. Hasil analisis menunjukkan bahwa perancangan ini layak untuk diimplementasikan, ditunjukkan oleh Net Present Value (NPV) bernilai positif sebesar Rp4.656.760.761, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,11% yang berada di atas BI-Rate acuan sebesar 5,25%, serta Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,527. Selain itu, diperoleh Gross Profit Margin (GPM) sebesar 33,93%, Return on Investment (ROI) sebesar 10,85%, dan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 5 tahun dari total umur proyek 10 tahun. Secara keseluruhan, perancangan sistem ini menunjukkan proposisi bisnis yang teruji secara teknis, berwawasan lingkungan, dan stabil secara finansial, sekaligus menjadi model modernisasi rantai pasok perikanan lokal yang berkelanjutan dan berstandar internasional. Mengingat analisis sensitivitas menunjukkan harga jual produk dan harga bahan baku ikan patin segar sebagai parameter paling kritis terhadap kelayakan proyek, disarankan penerapan strategi mitigasi risiko harga melalui kontrak jangka panjang dengan mitra distribusi dan pemasok, serta validasi lanjutan performa coating pada skala produksi komersial sebelum implementasi penuh.
PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN FILLET IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) DENGAN EDIBLE COATING KITOSAN DAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS DAN MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN
Industri pengolahan ikan patin (Pangasius sp.) saat ini menghadapi tantangan kritis berupa kehilangan pangan (food loss) pascapanen yang mencapai 35%, akibat degradasi mikrobiologis dan oksidatif yang berlangsung selama proses penanganan dan penyimpanan. Kondisi ini secara langsung menurunkan efisiensi rantai pasok sekaligus membatasi daya saing produk Fillet patin di pasar yang menuntut standar mutu dan keamanan pangan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, dirancang sebuah fasilitas pengolahan Fillet patin berkapasitas 120.000 kg/tahun yang secara menyeluruh mengintegrasikan standar Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 22000, dan sistem HACCP guna memastikan keamanan, mutu, dan daya saing produk secara berkelanjutan. Sebagai inovasi utama, sistem ini menerapkan active packaging berbasis Edible Coating kitosan–Carboxymethyl Cellulose (CMC). Terpilih melalui analisis matriks keputusan sebagai solusi paling optimal, formulasi ini menghadirkan sinergi antara sifat antimikroba kitosan dan stabilitas mekanik CMC. Efektivitas formulasi ini dibuktikan melalui aktivitas antibakteri sebesar 12,7 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 12,6 mm terhadap Escherichia coli, yang mengindikasikan laju deteriorasi produk dapat berjalan lebih lambat sehingga mutu dan daya simpan produk lebih terjaga. Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan turut diwujudkan melalui penerapan prinsip zero waste industry, di mana seluruh hasil samping produksi dikonversi menjadi produk bernilai tambah, yaitu tepung ikan (fish meal) dan minyak ikan (crude fish oil). Kelayakan finansial perancangan ditentukan melalui analisis investasi dengan total Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp8.843.085.472. Hasil analisis menunjukkan bahwa perancangan ini layak untuk diimplementasikan, ditunjukkan oleh Net Present Value (NPV) bernilai positif sebesar Rp4.656.760.761, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,11% yang berada di atas BI-Rate acuan sebesar 5,25%, serta Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,527. Selain itu, diperoleh Gross Profit Margin (GPM) sebesar 33,93%, Return on Investment (ROI) sebesar 10,85%, dan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 5 tahun dari total umur proyek 10 tahun. Secara keseluruhan, perancangan sistem ini menunjukkan proposisi bisnis yang teruji secara teknis, berwawasan lingkungan, dan stabil secara finansial, sekaligus menjadi model modernisasi rantai pasok perikanan lokal yang berkelanjutan dan berstandar internasional. Mengingat analisis sensitivitas menunjukkan harga jual produk dan harga bahan baku ikan patin segar sebagai parameter paling kritis terhadap kelayakan proyek, disarankan penerapan strategi mitigasi risiko harga melalui kontrak jangka panjang dengan mitra distribusi dan pemasok, serta validasi lanjutan performa coating pada skala produksi komersial sebelum implementasi penuh.