📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PLACE ATTACHMENT KONSUMEN PEREMPUAN PADA INTERIOR KEDAI KOPI DALAM BANGUNAN HERITAGE DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE DI KOTA BANDUNG

Penelitian ini mengeksplorasi keterikatan tempat (place attachment) pada interior kedai kopi adaptive reuse yang berlokasi di bangunan cagar budaya, ditinjau dari persepsi konsumen perempuan. Fenomena adaptive reuse mampu menghidupkan kembali fungsi bangunan bersejarah, membangkitkan memori kolektif dan personal serta nostalgia melalui pengalaman spesifik yang dirasakan pengunjung. Hal ini menciptakan keterikatan emosional dan rasa kebetahan yang kuat pada pengguna ruang. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi faktorfaktor serta elemen-elemen desain interior yang memengaruhi keterikatan tempat, serta bagaimana elemen-elemen tersebut dapat memunculkan kelekatan emosional bahkan rasa kepemilikan bagi konsumen perempuan. Metode studi ini memiliki desain metode campuran menggunakan etnografi kualitatif dan analisis faktor eksploratori kuantitatif (EFA) yang didukung oleh Principal Component Analysis (PCA). Dua studi kasus dilakukan pada Jabarano Coffee di Jalan Braga dan Two Hands Full di Jalan Dago). Langkah-langkah yang dilakukan meliputi observasi partisipatif di kedai kopi adaptive reuse, wawancara mendalam dengan konsumen perempuan untuk menggali pengalaman subjektif mereka, dokumentasi visual yang mencakup elemen-elemen desain interior, serta analisis spasial yang berfokus pada relasi pengguna dengan ruang. Perspektif teoritis yang digunakan mencakup place attachment, adaptive reuse, teori ruang ketiga, psikologi lingkungan, serta teori gender. Kombinasi teori ini digunakan untuk mendalami persepsi dan preferensi konsumen perempuan terhadap interior kedai kopi di bangunan cagar budaya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen-elemen desain interior, seperti penggunaan material autentik, furnitur klasik, pencahayaan yang hangat, serta pelestarian elemen historis, berperan penting dalam membangkitkan kenangan masa lalu dan menciptakan suasana yang nyaman. Selain itu, pengalaman multisensori, seperti aroma kopi, suara mesin kopi, dan nuansa visual interior, turut memperkuat keterikatan emosional. Pola penataan ruang yang fleksibel dan inklusif memberikan kesempatan bagi konsumen perempuan untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari pertemuan sosial, pekerjaan, hingga relaksasi, yang mencerminkan kebutuhan gaya hidup masyarakat urban. Studi ini menegaskan bahwa kedai kopi adaptive reuse bukan sekadar ruang komersial, tetapi juga ruang sosial yang memiliki makna emosional dan simbolik. Bagi konsumen perempuan, keterhubungan dengan ruang ini dipengaruhi oleh faktor psikologis, historis, dan spasial yang saling berinteraksi. Perancangan interior yang memperhatikan elemen historis, kenyamanan, serta kebutuhan fungsional konsumen dapat memfasilitasi ikatan emosional yang kuat. Dengan demikian, kedai kopi adaptive reuse berpotensi menjadi ruang yang membentuk place attachment, terutama bagi konsumen perempuan, melalui perpaduan nilai historis, estetika, dan pengalaman emosional yang mendalam.

2026
👤 Penulis: Mila Andria Savitri
🏷️ Place Attachment 🏷️ Interior Kedai Kopi 🏷️ Adaptive Reuse

MEMORI INDUSTRIAL SEBAGAI URBAN ANCHOR : STRATEGI ADAPTIVE REUSE DAN PERANCANGAN BANGUNAN MIXED USE PENDUKUNG PADA KAWASAN EKS GUDANG KAI CIKUDAPATEUH

Eks Gudang KAI Cikudapateuh merupakan bangunan Cagar Budaya Golongan A di Kota Bandung yang memiliki nilai historis dan arsitektural sebagai bagian dari perkembangan sistem perkeretaapian di Indonesia. Meskipun memiliki karakter industrial yang masih kuat, kawasan ini telah kehilangan fungsi utamanya sehingga aktivitas urban di dalamnya menurun dan bangunan menjadi dorman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya tidak hanya memerlukan upaya konservasi fisik, tetapi juga strategi yang mampu mengembalikan relevansi fungsi bangunan terhadap kebutuhan kota masa kini. Perancangan revitalisasi kawasan Eks Gudang KAI Cikudapateuh dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse dengan konsep memorial industrial urban anchor. Konsep ini menjadikan memori industrial sebagai identitas utama kawasan sekaligus landasan dalam membentuk hubungan antara bangunan heritage, bangunan baru, dan ruang publik. Proses perancangan dilakukan melalui analisis sejarah kawasan, regulasi cagar budaya, kondisi tapak, studi preseden, analisis pengguna, serta penyusunan kriteria perancangan berdasarkan prinsip konservasi dan pengembangan kawasan perkotaan. Hasil perancangan mempertahankan bangunan heritage sebagai wadah museum, perpustakaan, ruang komunitas, galeri, dan fasilitas edukasi, sementara bangunan baru mengakomodasi fungsi hotel, SOHO, capsule hotel, ruang komersial, serta fasilitas pendukung lainnya. Hubungan antara bangunan lama dan bangunan baru dibentuk melalui plaza, jalur pedestrian, dan sunken courtyard yang menjaga orientasi visual terhadap bangunan heritage, sedangkan massa bangunan baru dirancang dengan pendekatan arsitektur kontemporer yang menghormati karakter industrial eksisting tanpa menciptakan imitasi historis. Melalui strategi tersebut, kawasan diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai urban anchor yang menghidupkan kembali memori kolektif perkeretaapian, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Helmi Abdillah Faza
🏷️ Memori Industri 🏷️ Adaptive Reuse 🏷️ Kawasan Eks Gudang

PENERAPAN KONSEP ADAPTIVE REUSE DAN INFILL DEVELOPMENT PADA BANGUNAN DI KALI BESAR TIMUR, KOTA TUA JAKARTA

Kota Tua, yang dahulu merupakan pusat ibukota Batavia pada tahun 1600-an, kini mengalami ketertinggalan. Hal ini disebabkan oleh berbagaimacam permasalahan khususnya kurangnya pengembangan pada kawasan inti dan sub inti Kota Tua. Salah satu kawasan yang paling terdampak disana adalah Kawasan Kali Besar Timur, yang menjadi zona inti pengembangan Kota Tua, alih-alih menjadi area yang berpotensi menarik wisatawan dan pengunjung malah saat ini kondisi area tersebut tidak mencerminkan karakteristik area wisata yang diharapkan. Banyak bangunan Cagar Budaya yang terbengkalai dan area ini sepi ketika malam hari. Hal ini ditambah dengan kurangnya kepadatan penduduk pada area Kota Tua karena fungsi hunian tersebar di luar kawasan, dan di area dalam didominasi oleh fungsi komersial. Diperlukan upaya yang memicu pengembangan dan perekonomian kawasan di area tersebut. Salah satu cara yang dapat diimplementasikan adalah dengan menerapkan konsep adaptive reuse dan infill development pada bangunan tua bersejarah di Kawasan Kali Besar, Kota Tua. Hal ini bertujuan untuk menghidupkan kembali area yang terbengkalai dengan menginjeksi fungsi atau program ruang baru pada bangunan- bangunan tua terbengkalai dan penambahan bangunan baru sebagai fungsi penunjang. Melalui pendekatan ini, penulis bertujuan menciptakan fungsi baru yang tepat tepat bagi pengunjung dengan melakukan analisa mendalam terhadap Bangunan Cagar Budaya dan kawasan tersebut. Salah satu bangunan yang akan dilakukan preservasi dan dilakukan adaptive reuse adalah Ex. Bank Dagang Negara, Bangunan PT. Jasindo, Toko Kopi Dian, & Gudang di Jl.Teh. Diharapkan dengan penambahan fungsi baru pada Bangunan Cagar Budaya & penambahan bangunan baru sebagai addition, lalu dibantu dengan kolaborasi antara UMKM, seniman, dan komunitas sekitar, mampu membuat kawasan ini bertransformasi menjadi ruang baru yang dinamis dan berkelanjutan. Sehingga memberikan kontribusi yang baik kepada permasalahan dan pengembangan kota Jakarta.

2025
👤 Penulis: Rico Yohanes Juahta Tarigan
🏷️ Kawasan Kota Tua 🏷️ Adaptive Reuse 🏷️ Infill Development

GULA REJA: ADAPTIVE REUSE BEKAS PABRIK GULA KARANGSUWUNG SEBAGAI BANGUNAN MULTIFUNGSI DI KABUPATEN CIREBON

Industri gula di Indonesia mencapai puncak kejayaannya pada masa kolonial belanda, hal itu dibuktikan dengan banyak tersebarnya pabrik gula di pulau Jawa. Namun seiring berjalannya waktu lebih dari setengah pabrik gula yang ada di pulau jawa terbengkalai, hilang atau berubah fungsi akibat masa krisis dan modernisasi. Upaya pelestarian telah dilakukan pada beberapa pabrik gula, seperti PG. Tjolomadoe, PG. Tasikmadoe, dan PG. Kartasura yang kini menjadi tempat wisata, museum, komersial, dan lainnya. Namun, sebagian besar pabrik gula bersejarah lain masih dibiarkan saja terlantar padahal dapat berisiko dilupakan dan lenyap di masa depan. Hal itu selaras dengan kondisi Pabrik Gula Karangsuwung yang terletak di Kab Cirebon, kondisi pabrik yang didirikan pada tahun 1867 ini terbengkalai sejak dinonaktifkan pada tahun 2014. saat ini terdapat wacana pengembangan dari DISBUDPAR Kab. Cirebon untuk mengembangkan pabrik gula ini menjadi sarana wisata sejarah, sebagai bagian dari upaya konservasi bangunan cagar budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi adaptive reuse untuk menghidupkan kembali bangunan pabrik gula yang terbengkalai dengan memperhatikan pentingnya pelestarian bangunan yang memiliki nilai sejarah, mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, serta mempertimbangkan kontribusi bangunan terhadap peningkatan ekonomi lokal. Kajian yang relevan dengan konsep dan pendekatan meliputi bangunan cagar budaya, adaptive reuse, desain arsitektural hibrid, dan bangunan mixed use dalam perancangan bangunan yang adaptif dan kontekstual. Melalui seragkaian studi, analisis dan simulasi, hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu memberikan dampak yang positif bagi kawasan. Diharapkan rancangan tesis ini dapat menjadi contoh bangunan bersejarah uang bisa bertransformasi menjadi ruang hidup yang inklusif, fungsional, dan ramah lingkungan.

2025
👤 Penulis: Zahrina Hazmi
🏷️ Bangunan Cagar Budaya 🏷️ Adaptive Reuse 🏷️ Desain Arsitektural Hibrid
💬