📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 13 dokumenADSORPSI ZAT WARNA KRISTAL VIOLET MENGGUNAKAN ADSORBEN KOMPOSIT CAO-ALGINAT
Industri tekstil, percetakan, dan pewarnaan menghasilkan limbah cair berbahaya yang mengandung zat warna sintetis, salah satunya zat warna kristal violet (KV+). Kristal violet bersifat toksik, karsinogenik, mutagenik, dan persisten di lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap organisme akuatik dan kesehatan manusia. Adsorpsi merupakan teknik yang efektif, sederhana, dan tidak menghasilkan senyawa berbahaya untuk mengolah air limbah yang tercemar zat warna. Pada penelitian ini, kalsium oksida (CaO) yang disintesis melalui pendekatan sintesis hijau menggunakan ekstrak daun murbei dikombinasikan dengan kalsium alginat sebagai adsorben komposit untuk adsorpsi kristal violet. Kalsium oksida dikarakterisasi menggunakan FTIR, XRD dan PSA. Spektrum FTIR menunjukkan puncak vibrasi khas CaO pada bilangan gelombang 876 cm-1, karakterisasi XRD menunjukkan pola difraksi karakteristik CaO dengan kemurnian 95,36%, dan PSA menunjukkan ukuran partikel CaO 300,5 nm. Komposisi optimum adsorben komposit diperoleh pada perbandingan (%b/v) 4 alginat : 2 CaCl2 : 0,4 CaO. Adsorben dikarakterisasi menggunakan FTIR dan SEM. Spektrum FTIR sebelum dan setelah adsorpsi menunjukkan pergeseran pita serapan hidroksil (3447 cm-1 ? 3437 cm-1), dan karboksil (1611 cm-1 ? 1605 cm-1 dan 1441 cm-1 ? 1427 cm- 1), yang mengindikasikan adanya interaksi antara gugus fungsi pada permukaan adsorben dengan KV+. Karakterisasi SEM menunjukkan permukaan adsorben menjadi lebih halus setelah kontak dengan KV+. Adsorpsi kristal violet menggunakan adsorben komposit CaO- alginat mencapai kondisi optimum pada pH 4, massa adsorben 0,3 g, dan waktu kontak 180 menit. Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde satu semu dan model isoterm Langmuir dengan qmaks sebesar 12,81 mg/g pada suhu 333 K. Proses adsorpsi KV+ oleh adsorben komposit CaO- alginat bersifat endotermik (?H° = 10,31 kJ/mol), berlangsung spontan (?G° 333K = ?33,02 kJ/mol) dan disertai peningkatan entropi sistem (?S° = 130,14 J/mol.K). Larutan etanol p.a mendesorpsi KV+ dengan lebih baik dibandingkan larutan asam.
ADSORPSI RHODAMIN B MENGGUNAKAN ADSORBEN ?-KARAGENAN TERMODIFIKASI FORMALDEHID
Pencemaran air oleh limbah pewarna sintetis dari industri, seperti Rhodamin B, menimbulkan masalah lingkungan yang serius karena Rhodamin B bersifat toksik dan karsinogenik. Rhodamin B banyak digunakan dalam industri pewarna tekstil sehingga memerlukan solusi pengolahan limbah yang efektif. Adsorpsi merupakan metode yang efisien dalam menghilangkan limbah cair dengan proses yang sederhana, biaya rendah, dan efisiensi tinggi. ?-karagenan merupakan senyawa yang mengandung gugus hidroksil dan ester sulfat anionik dan dapat dimodifikasi untuk menjadi adsorben yang efektif dalam menghilangkan ion logam dan zat warna. Dalam penelitian ini, telah dibuat adsorben ?-karagenan termodifikasi formaldehid (FA) dengan perbandingan mol ?-karagenan:FA = 8:1 dalam perendaman larutan KCl 1 M selama 7 jam melalui metode pengeringan kipas angin. Adsorben ini kemudian dikarakterisasi menggunakan metode uji derajat penggembungan, spektroskopi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS). Hasil uji derajat penggembungan adsorben ?- karagenan termodifikasi FA menunjukkan bahwa adsorben mampu menjaga kestabilan struktur fisiknya pada waktu periode uji 30 menit sampai 48 jam. Hasil spektra FTIR dari adsorben menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang yang mengindikasikan interaksi ?-karagenan dengan FA dan atau K+ serta mengonfirmasi keberhasilan adsorben dalam mengadsorpsi Rhodamin B. Citra adsorben dari hasil karakterisasi SEM-EDS menunjukkan adanya perubahan morfologi permukaan adsorben yang semula lebih kasar menjadi lebih halus serta munculnya unsur N pada adsorben sesudah kontak dengan Rhodamin B. Adsorpsi Rhodamin B menggunakan adsorben ?-karagenan termodifikasi FA mencapai kondisi optimum pada pH 2, massa adsorben 0,078 gram, dan waktu kontak 120 menit. Adsorpsi Rhodamin B menggunakan adsorben ?-karagenan termodifikasi FA mengikuti kinetika orde satu semu, model isoterm Sips dengan kapasitas adsorpsi maksimum (qmaks) sebesar 229,25 mg/g pada temperatur 303 K. Adsorben ?-karagenan termodifikasi FA dapat digunakan berulang hingga tujuh siklus adsorpsi-desorpsi menggunakan larutan pendesorpsi KCl 0,5 M dalam air. Penelitian ini memberikan alternatif solusi untuk menghadapi isu lingkungan dengan adanya adsorben hijau berbasis polimer alami yang dapat digunakan berulang serta memperluas ilmu pengetahuan mengenai pemanfaatan polimer alam Indonesia untuk pencemaran lingkungan.
PENGHILANGAN 3-MCPDE DAN GLISIDIL ESTER DARI MINYAK SAWIT MENGGUNAKAN ZEOLIT?KARBON AKTIF DALAM SISTEM UNGGUN TETAP
Minyak sawit olahan mengandung kontaminan karsinogenik dan genotoksik, yaitu 3-monochloropropane-1,2-diol ester (3-MCPDE) dan glisidil ester (GE), yang terbentuk saat pemurnian suhu tinggi dan berpotensi mengancam keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode pemurnian minyak sawit menggunakan konfigurasi unggun tetap dengan campuran karbon aktif dan zeolit mordenit teraktivasi, serta mengoptimasi kondisi operasi menggunakan response surface methodology (RSM) tipe face-centered central composite design (FCCCD). Aktivasi adsorben dengan HNO? meningkatkan luas permukaan spesifik karbon aktif hingga 665,4 m²/g dan zeolit mordenit hingga 185,6 m²/g berdasarkan analisis BET. Adsorpsi 3-MCPDE murni mengikuti model Temkin dengan dengan konstanta Temkin (kT) sebesar 2,322 L/mg dan energi interaksi molekuler sebesar –15.666 J/mol, yang menunjukkan bahwa proses adsorpsi bersifat eksotermik dengan energi interaksi menurun seiring peningkatan jumlah adsorbat teradsorpsi, serta adanya heterogenitas permukaan adsorben. Pada sistem kontinu, proses adsorpsi dimodelkan menggunakan model Thomas, Adams-Bohart, dan Yoon- Nelson, dengan model Thomas memberikan representasi terbaik terhadap proses adsorpsi. Kapasitas adsorpsi maksimum (q?) untuk 3-MCPDE berkisar 1,1–2,1 mg/g dan GE berkisar 1,3–2,8 mg/g, serta konstanta laju Thomas (kTh) untuk 3- MCPDE sebesar 7–12 mL/mg/menit dan GE sebesar 9,7–10,8 mL/mg/menit. Kondisi optimal diperoleh pada tinggi unggun 1,5 cm dan waktu adsorpsi 10 menit dengan konfigurasi unggun campuran merata, memberikan efisiensi penurunan hingga 89% untuk 3-MCPDE dan 97% untuk GE. ANOVA menunjukkan tinggi unggun, waktu adsorpsi, dan konfigurasi penyusunan berpengaruh signifikan terhadap efisiensi adsorpsi, dengan interaksi signifikan antara waktu adsorpsi dan konfigurasi unggun. Hasil optimasi statistik RSM memprediksi efisiensi adsorpsi 90%–99% pada kondisi optimal.
MITIGASI MINERAL OIL SATURATED HYDROCARBONS (MOSH) DAN MINERAL OIL AROMATIC HYDROCARBONS (MOAH) MENGGUNAKAN KOMPOSIT KARBON AKTIF DAN MONTMORILLONITE
Crude Palm Oil (CPO) yang tersedia dalam jumlah banyak di Indonesia kerap digunakan untuk menghasilkan produk olahan seperti minyak goreng ataupun produk olekomia. Namun, CPO diindikasikan terkontaminasi Mineral Oil Hydrocarbons (MOH), termasuk Mineral Oil Saturated Hydrocarbons (MOSH) dan Mineral Oil Aromatic Hydrocarbons (MOAH), yang bersifat genotoksik dan karsinogenik. Berbagai metode seperti ekstraksi, hidrogenasi parsial, dan deodorisasi telah diterapkan untuk menghilangkan kontaminan ini, namun memiliki keterbatasan berupa biaya operasi tinggi dan kebutuhan alat tambahan dalam proses pengolahan. Penelitian ini mengusulkan metode adsorpsi sebagai alternatif menggunakan karbon aktif sebagai adsorben karena kemampuannya menyerap senyawa non-polar. Untuk meningkatkan efisiensi pemisahan dan memperkuat struktur adsorben, karbon aktif dikompositkan dengan montmorillonite (MMT). Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik dan kinerja adsorben dalam pemisahan MOH dari minyak sawit serta mengoptimalkan kondisi operasi pada sistem batch dan kontinu. Hasil percobaan menunjukkan bahwa adsorben komposit dengan perbandingan karbon aktif terhadap montmorillonite sebesar 2:1 memiliki kinerja terbaik, dengan %removal MOSH (heksadekana) sebesar 12,1% dan MOAH (antrasena) sebesar 88,5% dalam sistem batch setelah 2 jam. Perbedaan efektivitas adsorpsi dikarenakan ukuran heksadekana (2,323 nm) melebihi radius pori dominan adsorben (2-5 nm), sedangkan ukuran antrasena yang tergolong kecil (0,745 nm) membuatnya lebih mudah teradsorpsi. Pada sistem kontinu, variasi tinggi unggun adsorben 1 cm menunjukkan efisiensi terbaik, sementara peningkatan suhu hingga 70°C tidak signifikan meningkatkan adsorpsi heksadekana tetapi menurunkan efisiensi adsorpsi antrasena. Analisis karakterisasi menunjukkan bahwa komposit memiliki struktur dominan mesopori (90,1%), mengikuti model isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Qm) sebesar 84,03 mg/g dan nilai pHpzc sebesar 6,25.
MITIGASI MINERAL OIL SATURATED HYDROCARBONS (MOSH) DAN MINERAL OIL AROMATIC HYDROCARBONS (MOAH) MENGGUNAKAN KOMPOSIT KARBON AKTIF DAN MONTMORILLONITE
Crude Palm Oil (CPO) yang tersedia dalam jumlah banyak di Indonesia kerap digunakan untuk menghasilkan produk olahan seperti minyak goreng ataupun produk olekomia. Namun, CPO diindikasikan terkontaminasi Mineral Oil Hydrocarbons (MOH), termasuk Mineral Oil Saturated Hydrocarbons (MOSH) dan Mineral Oil Aromatic Hydrocarbons (MOAH), yang bersifat genotoksik dan karsinogenik. Berbagai metode seperti ekstraksi, hidrogenasi parsial, dan deodorisasi telah diterapkan untuk menghilangkan kontaminan ini, namun memiliki keterbatasan berupa biaya operasi tinggi dan kebutuhan alat tambahan dalam proses pengolahan. Penelitian ini mengusulkan metode adsorpsi sebagai alternatif menggunakan karbon aktif sebagai adsorben karena kemampuannya menyerap senyawa non-polar. Untuk meningkatkan efisiensi pemisahan dan memperkuat struktur adsorben, karbon aktif dikompositkan dengan montmorillonite (MMT). Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik dan kinerja adsorben dalam pemisahan MOH dari minyak sawit serta mengoptimalkan kondisi operasi pada sistem batch dan kontinu. Hasil percobaan menunjukkan bahwa adsorben komposit dengan perbandingan karbon aktif terhadap montmorillonite sebesar 2:1 memiliki kinerja terbaik, dengan %removal MOSH (heksadekana) sebesar 12,1% dan MOAH (antrasena) sebesar 88,5% dalam sistem batch setelah 2 jam. Perbedaan efektivitas adsorpsi dikarenakan ukuran heksadekana (2,323 nm) melebihi radius pori dominan adsorben (2-5 nm), sedangkan ukuran antrasena yang tergolong kecil (0,745 nm) membuatnya lebih mudah teradsorpsi. Pada sistem kontinu, variasi tinggi unggun adsorben 1 cm menunjukkan efisiensi terbaik, sementara peningkatan suhu hingga 70°C tidak signifikan meningkatkan adsorpsi heksadekana tetapi menurunkan efisiensi adsorpsi antrasena. Analisis karakterisasi menunjukkan bahwa komposit memiliki struktur dominan mesopori (90,1%), mengikuti model isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Qm) sebesar 84,03 mg/g dan nilai pHpzc sebesar 6,25.
ADSORPSI ION PB(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN ?-KARAGENAN TERMODIFIKASI GLUTARALDEHID
Aktivitas industri yang memanfaatkan logam berat menjadi sumber utama pencemaran air dari limbah yang dihasilkan. Keberadaan ion Pb(II) di perairan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Paparan Pb(II) pada tubuh manusia mengakibatkan anemia, penurunan tingkat kecerdasan, dan gangguan fungsi ginjal. Adsorpsi menjadi salah satu metode pengolahan air limbah yang efisien untuk menghilangkan logam berat. Salah satu kelompok senyawa untuk dikembangkan sebagai adsorben adalah ?-karagenan yang memiliki gugus hidroksil dan ester sulfat anionik. Pada penelitian ini, telah dibuat adsorben ?-karagenan termodifikasi ikat silang menggunakan glutaraldehid (GA) dan direndam KCl untuk meningkatkan stabilitas adsorben dan kapasitas adsorpsi. Adsorben ?-karagenan termodifikasi glutaraldehid rendam KCl (?-kar+GA rendam KCl) dikarakterisasi menggunakan pengujian derajat penggembungan, FTIR, dan SEM-EDS. Hasil FTIR dari adsorben menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang yang mengindikasikan interaksi ?-karagenan dengan glutaraldehid dan atau K+ serta terjadinya pergantian ion ketika adsorben telah mengadsorpsi ion Pb(II). Karakterisasi SEM-EDS menunjukkan perubahan morfologi permukaan adsorben dan keberadaan Pb(II) pada adsorben setelah kontak. Adsorben memiliki ketahanan dalam air lebih dari 30 hari dengan derajat penggembungan maksimum pada waktu 12 jam. Adsorpsi Pb(II) menggunakan ?-kar+GA rendam KCl mencapai kondisi optimum pada pH 3, massa adsorben 0,06 gram, dan waktu kontak 120 menit. Adsorpsi Ion Pb(II) menggunakan ?-kar+GA rendam KCl mengikuti kinetika orde satu semu, model isoterm Langmuir dengan qm sebesar 93,37 mg/g pada suhu 313 K. Berdasarkan studi termodinamika, proses adsorpsi berlangsung secara eksotermik, dengan sistem yang semakin teratur, dan spontan. Adsorben ?-kar+GA rendam KCl dapat digunakan hingga dua siklus.
ADSORPSI ION LOGAM PB(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN PVA-ALGINAT-BIJI PEPAYA
Timbal atau Pb(II) adalah logam yang terdapat dalam industri produksi aki baterai, industri otomofis dan sejenisnya. Limbah cair dengan kandungan logam berat ini dapat menyebabkan dampak buruk terhadap lingkungan dan bersifat toksik pada kesehatan manusia. Dengan demikian, perlu adanya pemisahan ion logam Pb(II) dari larutan limbah sebelum dibuang ke lingkungan perairan. Beberapa metode pemulihan yang umum digunakan antara lain ekstraksi pelarut, pertukaran ion, filtrasi serta adsorpsi. Adsorpsi merupakan salah satu metode alternatif yang banyak digunakan pada saat ini. Metode ini menjadi pilihan karena pembuatan adsorben yang sederhana, efisien serta murah karena sebagian bahan adsorben cukup melimpah di alam. Pada penelitian ini, telah disintesis adsorben berbasis PVA-alginat-biji pepaya (PAB) untuk mengadsorpsi ion logam Pb(II). Penggunaan biji pepaya berpotensi meningkatkan kapasitas adsorpsi karena mengandung selulosa dan hemiselulosa, yang memiliki gugus hidroksil (-OH) melimpah. Komposisi optimum adsorben didapatkan dengan variasi perbandingan 1:1 alginat dan biji papaya. Adsorben dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), hasil dibuktikan dengan adanya pergeseran nilai panjang gelombang pada gugus-gugus tertentu, dilanjutkan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM)-Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) dengan di dapatkan nilai kandungan Pb(II) sebesar 2%. Adsorpsi dengan menggunakan 0,05 gram adsorben mencapai kondisi optimum pada pH 4 serta waktu kontak 1440 menit, dengan efisiensi adsorpsi mencapai 90%. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde dua semu dengan kapasitas adsorpsi pada eksperimen (qm) 22,4125 mg/g dan model isoterm adsorpsi Langmuir dengan kapasitas adsorpsi (qmax) = 66 mg/g. Analisis termodinamika menunjukkan bahwa adsorpsi bersifat endotermik dengan ?H= 0,0146 kJ/mol, ?S= 1,1492 kJ/K mol dan proses adsorpsi berlangsung secara spontan. Penggunaan adsorben secara berulang sebanyak 3 kali siklus adsorpsi-desorpsi dengan agen pendesorpsi HNO3 0,1 M memberikan nilai yang cukup baik.
PENYISIHAN AMONIA DAN FOSFAT DARI AIR AKUAKULTUR MELALUI ADSORPSI MENGGUNAKAN SORBEN BERBASIS-ALGA YANG DIMODIFIKASI
Fosfat dan amonia berkontribusi terhadap eutrofikasi dan ledakan populasi alga yang berbahaya dan mengancam ekosistem perairan. Penelitian ini menyelidiki sorben berbasis alga yang dimodifikasi untuk menyisihkannya dari air akuakultur. Sorben disiapkan dari biomassa alga dari kolam di Kabupaten Karawang yang dimodifikasi dengan 0,1M HCl, 0,1M NaOH, dan A-FeCl3 (A-HCl, A-NaOH, AA-FeCl3). Analisis FTIR tidak menunjukkan perubahan gugus fungsi yang penting untuk penyerapan fosfat, sementara SEM mengungkapkan peningkatan kekasaran permukaan, yang meningkatkan efisiensi penyerapan. Kapasitas penyerapan sorben mengikuti urutan A-FeCl3 > A-HCl > A-NaOH, dengan A-FeCl? mencapai penyerapan fosfat maksimum sebesar 0,3763 mg/g. Model kinetik dan isotermal menunjukkan bahwa adsorpsi fosfat pada A-FeCl3 terutama bersifat kemisorptif, yang melibatkan interaksi ?-?, gugus yang mengandung oksigen, dan kompleksasi Fe-O, dengan penghilangan optimal pada 3 g/L selama 5 jam pada pH 3. A-FeCl3 menunjukkan harapan sebagai solusi berkelanjutan untuk menghilangkan fosfat dari perairan eutrofik.
PENGGUNAAN TEKNOLOGI ADSORPSI PADA PEMISAHAN LOGAM BERAT PADA LIMBAH INDUSTRI
Industri petrokimia merupakan salah satu jenis industri yang berkembang pesat di masa sekarang karena menghasilkan beragam produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Proses-proses industri petrokimia menghasilkan limbah cair dalam jumlah besar yang mengandung beragam kandungan berbahaya seperti logam berat. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk menurunkan kadar logam berat dalam limbah industri petrokimia. Penelitian ini berfokus pada penggunaan metode adsorpsi dalam memisahkan kandungan logam berat yang umum ditemukan dalam limbah industri petrokimia yaitu kromium. Adsorben yang akan digunakan merupakan kombinasi kaolin dan chitosan dalam bentuk kaolin-chitosan beads. Adsorben yang disintesis terlebih dahulu akan dikarakterisasi menggunakan metode FTIR, XRD, SEM, serta BET untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia. Lalu, performa pemisahan adsorben akan diuji dengan menganalisis hasil proses adsorpsi dan regenerasi adsorben sejumlah dua siklus yang dilakukan dengan sistem partaian. Dalam penelitian ini, pengaruh dari komposisi kaolin dan chitosan dalam adsorben dan juga konsentrasi Cr (VI) dalam umpan akan dianalisis terhadap nilai efisiensi penghilangan maupun kapasitas adsorpsi. Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa adsorben kaolin-chitosan beads dapat menghilangkan Cr(VI) dalam larutan dengan rentang efisiensi penghilangan 11,85% - 99,56% dan kapasitas adsorpsi berada pada rentang 1,113 sampai 5,047 mg adsorbat per gram adsorben. Komposisi adsorben memberikan pengaruh signifikan terhadap efisiensi penghilangan dan kapasitas adsorpsi dengan adsorben yang memiliki efisiensi penghilangan terbaik adalah adsorben dengan 25% chitosan dan 75% kaolin pada konsentrasi umpan rendah sampai sedang atau 20 – 50 mg/L dan adsorben dengan komposisi 75% chitosan dan 25% kaolin pada konsentrasi umpan tinggi atau 80 mg/L. Pengaruh konsentrasi umpan terhadap performa adsorpsi hanya signifikan pada efisiensi penghilangan dengan efisiensi penghilangan tertinggi yang tercapai saat konsentrasi Cr(VI) dalam umpan bernilai rendah atau 20 mg/L.
KARAKTERISASI ADSORPSI DARI ANTIBIOTIK TRIMETOPRIM DENGAN GRANULAR ACTIVATED CARBON (GAC) DAN POWDERED ACTIVATED CARBON (PAC)
Keberadaan antibiotik di lingkungan perairan diketahui telah menyebabkan berkembangnya bakteri dengan gen resisten. Salah satu jenis antibiotik yang telah ditemukan di lingkungan adalah trirmetoprim, sehingga dibutuhkan metode untuk menyisihkan bahan tersebut dari lingkungan. Adsorpsi merupakan proses yang telah banyak diteliti dalam bidang remediasi air. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi adsorpsi trimetoprim oleh granulated activated carbon (GAC) dan powdered activated carbon (PAC). Percobaan dilakukan dengan membuat air limbah artifisial yang mengandung air suling serta trimetoprim, dimana dikontakkan dengan adsorben dengan variasi pH dan konsentrasi trimetoprim diukur secara berkala. Deteksi trimetoprim dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Waktu kontak yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan untuk GAC adalah 120 menit dan untuk PAC adalah 100 menit. Efisiensi penyisihan saat kesetimbangan dari GAC dan PAC berada di atas 97% untuk berbagai varian konsentrasi awal. pH optimum untuk penyisihan trimetoprim adalah 4. Proses adsorpsi yang terjadi antara trimetoprim dengan GAC dan PAC adalah proses adsorpsi yang menguntungkan, dibuktikan dengan nilai ????? untuk model isoterm Freundlich untuk GAC sebesar 1,299 serta untuk PAC sebesar 1,799. Proses adsorpsi trimetoprim oleh GAC terjadi secara cepat dengan rata-rata nilai ?????1 menggunakan GAC adalah 0,0404. Sedangkan rata-rata dari nilai ?????1 menggunakan PAC adalah 0,0489.
ADSORPSI SENYAWA FENOLIK DENGAN BIOSORBEN KULIT JERUK: PENGARUH KONDISI OPERASI DAN METODE REGENERASI
Industri pangan dalam prosesnya menghasilkan berbagai jenis limbah, salah satunya adalah limbah cair. Pada limbah cair sering ditemukan kandungan berbahaya seperti adanya senyawa fenolik pada konsentrasi yang tinggi sehingga tergolong dalam limbah berbahaya dan beracun (B3). Salah satu metode untuk menindaklanjuti pengurangan senyawa fenolik pada limbah industri adalah dengan metode adsorpsi, salah satunya menggunakan adsorben karbon aktif yang berasal dari kulit jeruk. Selain memiliki biaya yang rendah, pemanfaatan kulit jeruk sebagai adsorben ini mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah dari industri pangan dan mendaur ulang sumber daya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis adsorben, waktu kontak, dan metode regenerasi biosorben terhadap kapasitas dan efisiensi penjerapan senyawa fenolik serta menentukan model isoterm dan model kinetika yang sesuai untuk menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode adsorpsi partaian menggunakan larutan fenol sintetis sebagai adsorbat. Pada tahap pertama, dilakukan proses adsorpsi (siklus 1) dengan variasi dosis 12 g/L ; 24 g/L ; 48 g/L dan variasi waktu kontak dalam rentang antara 0-180 menit. Tahap selanjutnya dilakukan variasi metode regenerasi (siklus 2) dengan regenerasi fisika pada suhu 800oC, regenerasi kimia (HNO3 dan H2SO4). Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh dosis terbaik dalam menyerap senyawa fenolik adalah sebesar 48 g/L karena memiliki kapasitas dan efisiensi penjerapan paling tinggi yaitu 5,9 mg/g dan 90,43% pada menit ke-180. Metode regenerasi yang menghasilkan efisiensi penjerapan tertinggi (99,95%) adalah regenerasi kimia. Adsorpsi karbon aktif regenerasi kimia (HNO3) diteliti hingga tiga siklus dan menghasilkan efisiensi penjerapan yang lebih tinggi sebesar 99,69%. Dalam penelitian ini, model isoterm Langmuir dan model kinetika pseudo orde dua paling representatif dalam menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi.
ADSORPSI SENYAWA FENOLIK DENGAN BIOSORBEN KULIT JERUK: PENGARUH KONDISI OPERASI DAN METODE REGENERASI
Industri pangan dalam prosesnya menghasilkan berbagai jenis limbah, salah satunya adalah limbah cair. Pada limbah cair sering ditemukan kandungan berbahaya seperti adanya senyawa fenolik pada konsentrasi yang tinggi sehingga tergolong dalam limbah berbahaya dan beracun (B3). Salah satu metode untuk menindaklanjuti pengurangan senyawa fenolik pada limbah industri adalah dengan metode adsorpsi, salah satunya menggunakan adsorben karbon aktif yang berasal dari kulit jeruk. Selain memiliki biaya yang rendah, pemanfaatan kulit jeruk sebagai adsorben ini mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah dari industri pangan dan mendaur ulang sumber daya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis adsorben, waktu kontak, dan metode regenerasi biosorben terhadap kapasitas dan efisiensi penjerapan senyawa fenolik serta menentukan model isoterm dan model kinetika yang sesuai untuk menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode adsorpsi partaian menggunakan larutan fenol sintetis sebagai adsorbat. Pada tahap pertama, dilakukan proses adsorpsi (siklus 1) dengan variasi dosis 12 g/L ; 24 g/L ; 48 g/L dan variasi waktu kontak dalam rentang antara 0-180 menit. Tahap selanjutnya dilakukan variasi metode regenerasi (siklus 2) dengan regenerasi fisika pada suhu 800oC, regenerasi kimia (HNO3 dan H2SO4). Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh dosis terbaik dalam menyerap senyawa fenolik adalah sebesar 48 g/L karena memiliki kapasitas dan efisiensi penjerapan paling tinggi yaitu 5,9 mg/g dan 90,43% pada menit ke-180. Metode regenerasi yang menghasilkan efisiensi penjerapan tertinggi (99,95%) adalah regenerasi kimia. Adsorpsi karbon aktif regenerasi kimia (HNO3) diteliti hingga tiga siklus dan menghasilkan efisiensi penjerapan yang lebih tinggi sebesar 99,69%. Dalam penelitian ini, model isoterm Langmuir dan model kinetika pseudo orde dua paling representatif dalam menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi.
PENGGUNAAN TEKNOLOGI ADSORPSI PADA PEMISAHAN LOGAM BERAT PADA LIMBAH INDUSTRI
Industri petrokimia merupakan salah satu jenis industri yang berkembang pesat di masa sekarang karena menghasilkan beragam produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Proses-proses industri petrokimia menghasilkan limbah cair dalam jumlah besar yang mengandung beragam kandungan berbahaya seperti logam berat. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk menurunkan kadar logam berat dalam limbah industri petrokimia. Penelitian ini berfokus pada penggunaan metode adsorpsi dalam memisahkan kandungan logam berat yang umum ditemukan dalam limbah industri petrokimia yaitu kromium. Adsorben yang akan digunakan merupakan kombinasi kaolin dan chitosan dalam bentuk kaolin-chitosan beads. Adsorben yang disintesis terlebih dahulu akan dikarakterisasi menggunakan metode FTIR, XRD, SEM, serta BET untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia. Lalu, performa pemisahan adsorben akan diuji dengan menganalisis hasil proses adsorpsi dan regenerasi adsorben sejumlah dua siklus yang dilakukan dengan sistem partaian. Dalam penelitian ini, pengaruh dari komposisi kaolin dan chitosan dalam adsorben dan juga konsentrasi Cr (VI) dalam umpan akan dianalisis terhadap nilai efisiensi penghilangan maupun kapasitas adsorpsi. Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa adsorben kaolin-chitosan beads dapat menghilangkan Cr(VI) dalam larutan dengan rentang efisiensi penghilangan 11,85% - 99,56% dan kapasitas adsorpsi berada pada rentang 1,113 sampai 5,047 mg adsorbat per gram adsorben. Komposisi adsorben memberikan pengaruh signifikan terhadap efisiensi penghilangan dan kapasitas adsorpsi dengan adsorben yang memiliki efisiensi penghilangan terbaik adalah adsorben dengan 25% chitosan dan 75% kaolin pada konsentrasi umpan rendah sampai sedang atau 20 – 50 mg/L dan adsorben dengan komposisi 75% chitosan dan 25% kaolin pada konsentrasi umpan tinggi atau 80 mg/L. Pengaruh konsentrasi umpan terhadap performa adsorpsi hanya signifikan pada efisiensi penghilangan dengan efisiensi penghilangan tertinggi yang tercapai saat konsentrasi Cr(VI) dalam umpan bernilai rendah atau 20 mg/L.