πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 17 dokumen

ANALISIS POLA TANAM AGROFORESTRI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KUALITAS POHON

Kualitas pohon merupakan hasil penilaian atribut visual pada pohon berdiri yang mencerminkan karakteristik pertumbuhan, berbeda dengan penilaian kualitas kayu pada produk olahan. Dalam konteks pengelolaan hutan, kualitas pohon dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah perlakuan budidaya melalui pola tanam agroforestri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola tanam agroforestri terhadap pertumbuhan dan kualitas pohon dalam menghasilkan kayu. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi diameter batang (DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang, serta riap menggunakan Mean Annual Increment (MAI), sedangkan kualitas pohon merupakan penilaian kumulatif melalui metode Forest Health Monitoring (FHM) sebagai representasi kualitas kesehatan pohon dan skoring pohon plus sebagai representasi kualitas visual eksternal pohon. Penelitian dilakukan di Desa Sindangsari, Kabupaten Sumedang, pada lima pola tanam agroforestri, yaitu Random Individual, Random Mix: Block/Group, Strips: Alley Cropping, Trees Along Border, dan Combination. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi struktur tegakan pada masing-masing pola yang memengaruhi dinamika pertumbuhan melalui tingkat kompetisi dan pemanfaatan ruang tumbuh. Pola Strips: Alley Cropping menunjukkan performa pertumbuhan terbaik dengan nilai diameter dan tinggi yang relatif tinggi. Misalnya, rata-rata DBH pola Strips: Alley Cropping 29,5 cm (rentang 9,3–70 cm) jauh lebih tinggi dibanding pola tanam lain. Demikian pula rata-rata tinggi total dan tinggi bebas v cabang, meski pola Strips: Alley Cropping memiliki outlier sangat tinggi. Pola Strips: Allry Cropping juga memiliki tingkat kerusakan terendah (CLI = 2,16), yang mengindikasikan kualitas tegakan paling sehat. Sementara itu, kualitas pohon kumulatif dengan skor tertinggi diperoleh pada pola Random Mix: Block/Group (skor rata-rata 41,46), yang diduga dipengaruhi oleh kompetisi yang mendorong pertumbuhan batang lebih lurus dan peningkatan tinggi bebas cabang sehingga diasumsikan pola paling unggul dalam menghasilkan batang kayu berkualitas. Namun, hasil uji Kruskal–Wallis menunjukkan bahwa perbedaan pola tanam tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pohon (p > 0,05), sehingga faktor lokal seperti kompetisi individu dan kondisi mikrohabitat lebih berperan. Misalnya, kesuburan tanah (bahan organik dan hara makro), keasaman tanah (pH tanah), ketersediaan air tanah, topografi, serta faktor mikroklimat seperti intensitas cahaya, suhu dan kelembapan udara. Penelitian ini menunjukkan adanya trade-off antara pertumbuhan, kualitas kesehatan, dan kualitas pohon secara kumulatif. Pemilihan pola tanam dapat disesuaikan dengan prioritas antara produksi kayu kuantitas atau kualitas. Untuk hasil kayu optimal secara luas, Strips: Alley Crop direkomendasikan. Untuk mutu batang, Random Mix Block/Group menjadi alternatif saat kualitas kayu solid (batang lurus) diutamakan dengan syarat pengelolaan intensif. Mengingat bahwa skor kualitas pohon merupakan indikator komposit yang mencakup parameter diameter batang, tinggi pohon, tinggi bebas cabang, kesehatan pohon, dan bentuk batang. Dengan demikian, pemilihan pola tanam agroforestri perlu disesuaikan dengan tujuan pengelolaan hutan yang diinginkan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Zhulal Zayd Dhudayev
🏷️ Agroforestri 🏷️ Pertumbuhan Pohon 🏷️ Kualitas Kayu

PERANCANGAN KAWASAN AGROFORESTRI DENGAN PENDEKATAN BIODIVERSITY SENSITIVE URBAN DESIGN DI DESA CIJAMBU

Desa Cijambu memiliki karakteristik fisik dan lingkungan serta biodiversitas yang kaya. Sayangnya, hal ini tidak menjadi pendorong kesejahteraan masyarakat. Desa Cijambu memiliki kesejahteraan yang buruk dengan tingkat kemiskinan ekstrim yang tinggi. Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi karakteristik ekologis alam di Desa Cijambu adalah pengembangan agroforestri. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk merancang kawasan agroforestri dengan menerapkan pendekatan Biodiversity Sensitive Urban Design (BSUD) di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Biodiversity Sensitive Urban Design (BSUD) dipilih karena menawarkan solusi pembangunan yang meminimalkan dampak negatif lingkungan terutama terhadap biodiversitas alami kawasan dan dapat meningkatkan kualitas ekologis kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara mendalam dengan stakeholder Pemerintah Desa Cijambu, Focus Group Discussion dengan masyarakat, Pemerintah Desa Cijambu, dan dinas terkait. Selain itu, data sekunder juga digunakan untuk data penunjang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk memberikan gambaran kualitas kondisi fisik dan lingkungan serta biodiversitas eksisting di Desa Cijambu. Selain itu, untuk menghasilkan hasil perancangan kawasan, digunakan metode perancangan fragmetal. Metode ini dilakukan dalam penentuan prinsip dan kriteria BSUD yang sesuai dengan kondisi biodiversitas Desa Cijambu. Hasil penelitian ini adalah sebuah masterplan yang dapat menjadi rujukan dalam pembangunan kawasan agroforestri Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan pembangunan yang tidak hanya meminimalkan dampak negatif, tetapi juga berdampak positif terhadap biodiversitas dan ekologis Desa Cijambu yang dapat menjadi potensi daya tarik tersendiri. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi rujukan penelitian dengan konsep Biodiversitas Sensitive Urban Design (BSUD) di wilayah studi lain.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ferdiatma Budiarto
🏷️ Agroforestri 🏷️ Biodiversitas Sensitive Urban Design (Bsud) 🏷️ Desain Rantai Pasok Lingkungan

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK AGROFORESTRI KOPIARABIKA DI JAWA BARAT BERDASARKAN SIFAT FISIK-KIMIATANAH DAN MIKROKLIMAT

Jawa Barat merupakan wilayah strategis untuk pengembangan kopi arabika karena kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi. Namun, selama periode 2020–2024, terdapat tren peningkatan luas lahan kopi arabika yang rusak atau tidak produktif. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan terhadap sistem budidaya, baik akibat degradasi lahan maupun perubahan lingkungan tumbuh, sehingga berdampak pada rendahnya akumulasi biomassa tanaman dan penurunan produktivitas. Agroforestri dapat menjadi solusi karena mampu memperbaiki kualitas lahan serta menciptakan mikroklimat yang sesuai melalui keberadaan pohon penaung. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara karakteristik lingkungan dengan biomassa kopi arabika sebagai parameter pertumbuhan serta mengevaluasi kesesuaian lahannya dalam sistem agroforestri. Penelitian dilakukan di empat lokasi agroforestri kopi arabika di Jawa Barat, yaitu RPH Genteng Manglayang, Gunung Geulis, Gunung Puntang, dan RPH Cibatu Garut. Data dikumpulkan melalui pengukuran lapangan dan analisis laboratorium terhadap parameter mikroklimat (suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara) dan sifat fisik-kimia tanah (tekstur, bulk density, kadar air, pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd). Analisis data dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), korelasi Spearman, dan evaluasi kesesuaian lahan. Hasil PCA menunjukkan komponen utama F1 dipengaruhi oleh bulk density dan suhu udara (positif) serta kelembapan udara, C-organik, kadar air tanah, dan N-total (negatif), sedangkan komponen utama F2 dipengaruhi oleh pH. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif (? = –0,644) antara biomassa kopi dengan F1, artinya biomassa lebih rendah pada lokasi dengan C-organik, N-total, dan kadar air yang rendah, serta bulk density dan suhu udara yang tinggi. Evaluasi kesesuaian lahan menunjukkan Manglayang dan Garut tergolong sangat sesuai (S1), sedangkan Puntang dan Geulis termasuk sesuai (S2) dengan beberapa faktor pembatas. Disimpulkan bahwa keberhasilan budidaya kopi arabika dalam sistem agroforestri bergantung pada kesesuaian lahan, kondisi lingkungan, dan peran pohon penaung.

2025
πŸ‘€ Penulis: Amanindya Sakinah Alya
🏷️ Hidrologi 🏷️ Agroforestri 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK AGROFORESTRI KOPIARABIKA DI JAWA BARAT BERDASARKAN SIFAT FISIK-KIMIATANAH DAN MIKROKLIMAT

Jawa Barat merupakan wilayah strategis untuk pengembangan kopi arabika karena kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi. Namun, selama periode 2020–2024, terdapat tren peningkatan luas lahan kopi arabika yang rusak atau tidak produktif. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan terhadap sistem budidaya, baik akibat degradasi lahan maupun perubahan lingkungan tumbuh, sehingga berdampak pada rendahnya akumulasi biomassa tanaman dan penurunan produktivitas. Agroforestri dapat menjadi solusi karena mampu memperbaiki kualitas lahan serta menciptakan mikroklimat yang sesuai melalui keberadaan pohon penaung. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara karakteristik lingkungan dengan biomassa kopi arabika sebagai parameter pertumbuhan serta mengevaluasi kesesuaian lahannya dalam sistem agroforestri. Penelitian dilakukan di empat lokasi agroforestri kopi arabika di Jawa Barat, yaitu RPH Genteng Manglayang, Gunung Geulis, Gunung Puntang, dan RPH Cibatu Garut. Data dikumpulkan melalui pengukuran lapangan dan analisis laboratorium terhadap parameter mikroklimat (suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara) dan sifat fisik-kimia tanah (tekstur, bulk density, kadar air, pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd). Analisis data dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), korelasi Spearman, dan evaluasi kesesuaian lahan. Hasil PCA menunjukkan komponen utama F1 dipengaruhi oleh bulk density dan suhu udara (positif) serta kelembapan udara, C-organik, kadar air tanah, dan N-total (negatif), sedangkan komponen utama F2 dipengaruhi oleh pH. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif (? = –0,644) antara biomassa kopi dengan F1, artinya biomassa lebih rendah pada lokasi dengan C-organik, N-total, dan kadar air yang rendah, serta bulk density dan suhu udara yang tinggi. Evaluasi kesesuaian lahan menunjukkan Manglayang dan Garut tergolong sangat sesuai (S1), sedangkan Puntang dan Geulis termasuk sesuai (S2) dengan beberapa faktor pembatas. Disimpulkan bahwa keberhasilan budidaya kopi arabika dalam sistem agroforestri bergantung pada kesesuaian lahan, kondisi lingkungan, dan peran pohon penaung.

2025
πŸ‘€ Penulis: Amanindya Sakinah Alya
🏷️ Agroforestri 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRUKTUR DAN KOMPOSISI FLORISTIK POHON PENAUNG PADA AGROFORESTRI KOPI ARABIKA DI JAWA BARAT

Penelitian ini mengkaji struktur dan komposisi floristik pohon penaung pada sistem agroforestri kopi Arabika (Coffea arabica) di Jawa Barat serta hubungannya dengan produksi biomassa kopi. Penelitian dilakukan pada empat lokasi agroforestri dataran tinggi RPH Genteng (Manglayang Timur, Sumedang), Gunung Geulis (Sumedang), Gunung Puntang (Bandung), dan RPH Cibatu (Garut) yang merepresentasikan variasi elevasi, mikroklimat, dan komposisi pohon penaung. Data vegetasi dikumpulkan menggunakan plot berukuran 20 Γ— 20 m untuk pohon penaung dan subplot 5 Γ— 5 m untuk tanaman kopi, sedangkan keterbukaan kanopi diukur menggunakan fotografi hemisferis. Komposisi floristik dianalisis dengan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener, indeks kemerataan, dan Indeks Nilai Penting (INP), sementara biomassa kopi diestimasi menggunakan persamaan alometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa kopi optimal diperoleh pada tingkat keterbukaan kanopi sedang (0,20–0,43) yang mampu menyeimbangkan ketersediaan cahaya dan kestabilan mikroklimat. Meskipun secara keseluruhan keanekaragaman spesies tidak menunjukkan adanya hubungan yang kuat dengan biomassa kopi, komposisi jenis penaung tertentu terutama yang didominasi Pinus merkusii dan spesies pendamping yang tidak memiliki perakaran luas dan bersaing kuat terhadap tanaman kopi, berkaitan dengan biomassa kopi yang lebih tinggi. Lokasi dengan kondisi kanopi ekstrem (terlalu rapat atau terlalu terbuka) menunjukkan produksi biomassa yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan spesies penaung yang kompatibel secara ekologis dan pengelolaan struktur kanopi yang seimbang untuk mengoptimalkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekologi dalam sistem agroforestri kopi Arabika.

2025
πŸ‘€ Penulis: Annisa Dwi Amalliah Ramadhani
🏷️ Agroforestri 🏷️ Kopi Arabika 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN AGROFORESTRI KOPI (COFFEA ARABICA) BERBASIS PRODUKSI DAN BIOMASSA DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DI KHDTK GUNUNG GEULIS, KAB SUMEDANG, JAWA BARAT

IPCC menyatakan produksi kopi akan terdampak negatif akibat perubahan iklim, peningkatan suhu akibat perubahan iklim menyebabkan penyusutan luas lahan sesuai kopi dan mengurangi hasil panen rata-rata kopi. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi perubahan iklim adalah perubahan penggunaan menjadi sistem agroforestri. Agroforestri dapat memitigasi dampak perubahan iklim dengan membentuk iklim mikro yang sesuai untuk kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk pola agroforestri, menganalisis hubungan pola agroforestri dengan mikroklimat melalui perubahan suhu dan intensitas cahaya, dan mengukur produktivitas kopi melalui biomassa kopi dan hasil buah. Metode pengambilan data menggunakan sampling non-destruktif. Hasil penelitian menunjukkan pola agroforestri modern sederhana, dengan 6 pola (Pinus dominan, Mahoni dominan, Pinus sangat dominan, Mahoni sangat dominan, seimbang Pinus-Mahoni, dan jenis beragam). Suhu rata-rata agroforestri lebih rendah 2,378Β°C (Pc), 1,046Β°C (Ph), dan 1,872Β°C (Pe) dibanding suhu udara sekitar. Terdapat penurunan intensitas cahaya dibandingkan suhu sekitar akibat naungan kanopi pohon, dengan intensitas cahaya tertinggi di Pe (1.640,46 Lux), diikuti Ph (1.015,806 Lux), dan Pc (1.014,2 Lux). Produksi kopi tertinggi di Ph Utara dengan 41.825 buah/ha (kanopi 30%, kerapatan 3.175 kopi/ha), sedangkan biomassa tertinggi di Pe Selatan dengan 867,20 Kg/ha (kanopi 5%, kerapatan 2.025 kopi/ha).

2025
πŸ‘€ Penulis: Antonius Hanindya Surya T
🏷️ Agroforestri 🏷️ Mitigasi Perubahan Iklim 🏷️ Kebijakan Pertanian

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KERAPATAN KANOPI POHON DENGAN SIFAT FISIK – KIMIA TANAH SERTA MIKROKLIMAT PADA SISTEM AGROFORESTRI DI DESA MEKARMANIK, KECAMATAN CIMENYAN, JAWA BARAT

Agroforestri merupakan sistem pemanfaatan lahan yang mengombinasikan tanaman kehutanan dan pertanian untuk menyeimbangkan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial, salah satunya perbaikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara karakteristik sifat fisik-kimia tanah dengan variasi persentase kerapatan kanopi serta mikroklimat pada agroforestri kopi-pinus di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada Blok 51 seluas 159 Ha dengan 16 titik sampel menggunakan metode random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi persentase kerapatan kanopi, parameter mikroklimat (intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara, suhu tanah, kelembaban tanah), dan sifat fisik-kimia tanah (bobot isi, porositas, kadar air, tekstur, pH, dan C-Organik). Analisis data menggunakan Korelasi Pearson dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan area agroforestri Kopi Pinus Desa Mekarmanik didominasi kerapatan kanopi tinggi (58–82%) dengan intensitas cahaya rendah hingga sedang, suhu dan kelembaban yang cukup ideal (tidak ekstrem), serta sifat fisik-kimia tanah yang cukup baik seperti porositas dan C-Organik tinggi, pH netral-masam, kadar air dan bobot isi ideal, dengan tekstur tanah yang didominasi oleh tekstur debu. Hasil Korelasi antara kerapatan kanopi dengan mikroklimat dan sifat tanah menunjukkan nilai korelasi lemah hingga sedang (r= -0,068–0,448), dimana kerapatan kanopi yang semakin tinggi menyebabkan intensitas cahaya dan suhu yang semakin rendah diiringi dengan kelembaban yang semakin tinggi. Selain itu, kerapatan kanopi yang semakin tinggi menyebabkan kandungan C-Organik, porositas, kadar air, dan tekstur debu tanah semakin tinggi diiringi dengan bobot isi, tekstur liat, dan tekstur pasir yang semakin rendah. Hasil korelasi antara mikroklimat dan sifat tanah menunjukkan pH yang berkorelasi dengan mikroklimat (r= 0,412–0,661), namun tidak berkorelasi dengan sifat tanah lainnya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Syaira Gita Alifah
🏷️ Agroforestri 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA SEKTOR AFOLU DAN AKTIVITAS WISATA BERBASIS TUTUPAN LAHAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT)

Lembang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang terkenal akan objek pariwisata. Perkembangan pariwisata ini memicu perluasan kegiatan pariwisata dengan mendorong perubahan pemanfaatan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi objek wisata. Perlu ditetapkan perencanaan tata ruang dalam rangka mitigasi emisi GRK pada sektor AFOLU di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Diperoleh jumlah emisi gas rumah kaca hasil proyeksi pada tahun 2030 di sektor AFOLU (Agroforestry, Forest, and Oher Land Use ) sebesar 778.665,4 Ton CO2-eq/tahun. Aktivitas pariwisata yang ada juga menghasilkan emisi sebesar 1.021,52 Ton CO2/tahun. Untuk mengurangi emisi yang ada, pada skenario ambisius dan moderat ditetapkan beberapa kebijakan seperti reboisasi kawasan konservasi dan sempadan sungai sesuai dengan peraturan yang berlaku, meningkatkan tutupan pohon pada kawasan semak dan lahan kosong, mempertahankan plantation hutan rakyat, menggunakan model mitigasi pada sektor peternakan berupa peningkatan kualitas pakan ternak dan pengelolaan kotoran ternak, mengaplikasikan model agroforestri dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) pertanian. Didapatkan nilai total emisi yang dihasilkan dari perancangan skenario ambisius adalah -978.222,19 Ton CO2-eq/tahun sedangkan skenario moderat menghasilkan nilai total emisi sebesar -16.459,44 Ton CO2-eq/tahun.

2025
πŸ‘€ Penulis: Naurahasna Fitri Ichwanudin
🏷️ Efisiensi Energi Dan Sumber Daya Alam 🏷️ Perencanaan Tata Ruang 🏷️ Agroforestri

PERANCANGAN MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA SEKTOR AFOLU DAN AKTIVITAS PARIWISATA BERBASIS TUTUPAN LAHAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT)

Lembang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang terkenal akan objek pariwisata. Perkembangan pariwisata ini memicu perluasan kegiatan pariwisata dengan mendorong perubahan pemanfaatan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi objek wisata. Perlu ditetapkan perencanaan tata ruang dalam rangka mitigasi emisi GRK pada sektor AFOLU di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Diperoleh jumlah emisi gas rumah kaca hasil proyeksi pada tahun 2030 di sektor AFOLU (Agroforestry, Forest, and Oher Land Use ) sebesar 778.665,4 Ton CO2-eq/tahun. Aktivitas pariwisata yang ada juga menghasilkan emisi sebesar 1.021,52 Ton CO2/tahun. Untuk mengurangi emisi yang ada, pada skenario ambisius dan moderat ditetapkan beberapa kebijakan seperti reboisasi kawasan konservasi dan sempadan sungai sesuai dengan peraturan yang berlaku, meningkatkan tutupan pohon pada kawasan semak dan lahan kosong, mempertahankan plantation hutan rakyat, menggunakan model mitigasi pada sektor peternakan berupa peningkatan kualitas pakan ternak dan pengelolaan kotoran ternak, mengaplikasikan model agroforestri dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) pertanian. Didapatkan nilai total emisi yang dihasilkan dari perancangan skenario ambisius adalah -978.222,19 Ton CO2-eq/tahun sedangkan skenario moderat menghasilkan nilai total emisi sebesar -16.459,44 Ton CO2-eq/tahun.

2025
πŸ‘€ Penulis: Roselyna Marta Ayu Sinaga
🏷️ Efisiensi Energi Dan Sumber Daya Alam 🏷️ Perencanaan Tata Ruang 🏷️ Agroforestri

PERANCANGAN \TEXTIT{GREEN BUFFER ZONE} ADAPTIF PRODUKTIF EFISIEN DAN LESTARI (GBZ APEL) BERBASIS AGROFORESTRI DI KAWASAN GUNUNG GEULIS, SUMEDANG

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter jagung yang signifikan dipengaruhi oleh naungan pada agroforestri dan cekaman kekeringan, untuk menentukan genotipe terbaik untuk dikembangkan di bawah tegakan agroforestri dan untuk merumuskan peran genotipe jagung hibrida toleran naungan untuk mendukung kehidupan masyarakat. Materi genetik jagung diperoleh dari laboratorium pemuliaan tanaman Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan pada kawasan Gunung Geulis di Desa Jatiroke, Sumedang dengan menggunakan desain rancangan acak berblok yang terdiri dari dua blok dengan 20 genotipe sebagai perlakuan, masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Pengukuran dilakukan terhadap karakter pertumbuhan fase vegetatif meliputi nilai kecambah, jumlah dan panjang daun, tinggi serta diameter tanaman. Analisis GT Biplot digunakan untuk menentukan genotipe hibrida yang unggul pada seluruh parameter. Terdapat enam genotipe jagung hibrida pada blok ternaung yang berkecambah lebih dari 50% setelah 15 HST, sedangkan pada blok terbuka hanya empat genotipe. Hasil pengamatan awal terhadap pertumbuhan semai jagung berumur 30 HST di blok ternaung untuk parameter jumlah daun berkisar 0.79 – 3.88, panjang daun 3.39 – 30 cm, tinggi tanaman 0.91 – 6.19 cm dan diameter tanaman 0.06 – 0.44 cm, sedangkan di blok terbuka jumlah daun berkisar 0.77 – 4.27, panjang daun 2.2 – 15.52 cm, tinggi tanaman 0.09 – 2.38 cm, dan diameter tanaman 0.07 – 0.5 cm. Penelitian ini menunjukkan bahwa persentase kecambah, jumlah daun dan tinggi tanaman merupakan parameter tanaman jagung yang signifikan dipengaruhi oleh perbedaan blok. Selain itu juga ditemukan bahwa genotipe DC43, DC4, DC52, SC4, DC 16 dan DC9 merupakan genotipe jagung hibrida terbaik karena berpotensi ditanam dengan naungan menggunakan sistem agroforestri sehingga berperan dalam meningkatkan produktivitas petani dan juga menjaga kelestarian lingkungan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Angelina Gabriella Wangke
🏷️ Agroforestri 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ESTIMASI BIOMASSA DAN SIMPANAN KARBON AGROFORESTRI JAGUNG DAN MONOKULTUR JAGUNG

Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian jagung monokultur menjadi salah satu penyebab berkurangnya simpanan karbon, sebaliknya penanaman lahan hutan melalui agroforestri jagung berpotensi untuk meningkatkan simpanan karbon. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur dan membandingkan nilai biomassa serta simpanan karbon beberapa galur tanaman jagung yang ditanam pola agroforestri dengan jagung yang ditanam pola monokultur. Penelitian ini menggunakan desain rancangan percobaan acak berblok dengan dua blok percobaan dan masing-masing diulang tiga kali ulangan. Pengambilan sampel jagung dilakukan secara purposive sampling yaitu dengan cara mengambil sampel enam galur terbaik berdasarkan parameter vegetatif dari 20 galur yang diuji di lapangan. Pengukuran nilai simpanan karbon jagung dilakukan dengan metode loss on ignition yang sedikit dimodifikasi. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa biomassa jagung berkisar antara 0,80-4,69 ton/ha pada blok agroforestri dan berkisar antara 2,09-6,54 ton/ha pada blok monokultur. Nilai biomassa tertinggi terdapat pada galur SC4 di blok agroforestri, sedangkan pada blok monokultur terdapat pada galur DC52. Persentase karbon tertinggi terdapat pada bagian malai. Simpanan karbon tertinggi terdapat pada bagian biji pada blok agroforestri dan batang pada blok monokultur. Total simpanan karbon jagung tertinggi pada blok agroforestri terdapat pada galur SC4 sebesar 2,48 ton/ha dan galur DC52 sebesar 3,18 ton/ha pada blok monokultur. Total simpanan karbon pohon dan jagung SC4 pada blok agroforestri yaitu 27,14 ton/ha. Nilai biomassa dan simpanan karbon jagung yang ditanam pada blok agroforestri lebih rendah dibandingkan dengan jagung blok monokultur, tetapi menjadi lebih tinggi ketika dikombinasikan dengan nilai biomasssa dan simpanan karbon pohon.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fahreza Yudhistira
🏷️ Agroforestri 🏷️ Simpanan Karbon Jagung

ESTIMASI BIOMASSA DAN SIMPANAN KARBON AGROFORESTRI JAGUNG DAN MONOKULTUR JAGUNG

Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian jagung monokultur menjadi salah satu penyebab berkurangnya simpanan karbon, sebaliknya penanaman lahan hutan melalui agroforestri jagung berpotensi untuk meningkatkan simpanan karbon. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur dan membandingkan nilai biomassa serta simpanan karbon beberapa galur tanaman jagung yang ditanam pola agroforestri dengan jagung yang ditanam pola monokultur. Penelitian ini menggunakan desain rancangan percobaan acak berblok dengan dua blok percobaan dan masing-masing diulang tiga kali ulangan. Pengambilan sampel jagung dilakukan secara purposive sampling yaitu dengan cara mengambil sampel enam galur terbaik berdasarkan parameter vegetatif dari 20 galur yang diuji di lapangan. Pengukuran nilai simpanan karbon jagung dilakukan dengan metode loss on ignition yang sedikit dimodifikasi. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa biomassa jagung berkisar antara 0,80-4,69 ton/ha pada blok agroforestri dan berkisar antara 2,09-6,54 ton/ha pada blok monokultur. Nilai biomassa tertinggi terdapat pada galur SC4 di blok agroforestri, sedangkan pada blok monokultur terdapat pada galur DC52. Persentase karbon tertinggi terdapat pada bagian malai. Simpanan karbon tertinggi terdapat pada bagian biji pada blok agroforestri dan batang pada blok monokultur. Total simpanan karbon jagung tertinggi pada blok agroforestri terdapat pada galur SC4 sebesar 2,48 ton/ha dan galur DC52 sebesar 3,18 ton/ha pada blok monokultur. Total simpanan karbon pohon dan jagung SC4 pada blok agroforestri yaitu 27,14 ton/ha. Nilai biomassa dan simpanan karbon jagung yang ditanam pada blok agroforestri lebih rendah dibandingkan dengan jagung blok monokultur, tetapi menjadi lebih tinggi ketika dikombinasikan dengan nilai biomasssa dan simpanan karbon pohon.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fahreza Yudhistira
🏷️ Agroforestri 🏷️ Biomassa Jagung 🏷️ Simpanan Karbon

APLIKASI MULSA GEDEBOG PISANG DAN ROCKWOOL TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG DALAM POLA TANAM AGROFORESTRI PADA KONDISI KEKERINGAN EKSTRIM

Penggunaan areal hutan menjadi areal pertanian jagung monokultur menyebabkan kerusakan pada hutan. Meningkatkan produktivitas lahan agroforestri menjadi solusi yang dapat digunakan. Selain masalah lahan, kekeringan ekstrim juga mengganggu pertumbuhan jagung. Pemberian mulsa diharapkan mampu mengurangi kerusakan pada jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian mulsa rockwool dan gedebog pisang pada jagung hibrida dengan pola tanam agroforestri. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Gunung Geulis, Sumedang pada musim kemarau ekstrim. Materi genetik jagung yang digunakan adalah genotipe jagung hibrida potensial toleran naungan dari laboratorium pemuliaan Universitas Padjadjaran (Unpad). Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak berblok (blok agroforestri dan blok monokultur) dengan tiga perlakuan (tanpa mulsa, rockwool dan gedebog pisang). Pemilihan sampel menggunakan sistem purposive sampling dengan faktor penentu diameter dan tinggi tanaman terbaik. Terdapat 60 sampel (30 sampel dari blok agroforestri dan 30 sampel dari blok monokultur). Parameter yang diukur adalah konsentrasi klorofil relatif daun, tinggi tanaman, diameter batang, skor penggulungan daun, lebar dan panjang daun. Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali pengukuran dengan interval waktu sembilan hari. Kemudian dilakukan uji annova dan uji tukey menggunakan software Excel dan Minitab untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan yang diberikan pada tanaman. Pemberian mulsa rockwool memiliki nilai paling baik berdasarkan parameter yang diukur pada blok agroforestri dan blok monokultur. Berdasarkan uji beda nyata yang dilakukan diketahui bahwa blok agroforestri berbeda signifikan (P<0.05) dengan blok monokultur kecuali pada parameter lebar dan panjang daun. Uji beda nyata antar perlakuan menunjukkan bahwa antar perlakuan hanya berbeda signifikan (P<0.05) pada parameter konsentrasi klorofil relatif daun dan tinggi tanaman.

2024
πŸ‘€ Penulis: Darmo Ebenezer Silaban
🏷️ Agroforestri 🏷️ Kekeringan Ekstrem 🏷️ Mulsa

PERANCANGAN SUSTAINABLE RIVERSIDE AGROFORESTRY DI KAWASAN HULU DAS CITANDUY (SUNGAI CIMUNTUR), KAB. CIAMIS, JAWA BARAT

Emisi gas rumah kaca khususnya karbon dioksida (CO2) menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Salah satu penyebab peningkatan emisi CO2 tersebut berasal dari alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian yang meliputi penebangan pohon dan berakibat pada menurunnya karbon yang tersimpan di atas tanah dalam bentuk biomassa tumbuhan. Biomassa berasal dari proses fotosintesis yang menyerap CO2 dan sekitar 47% terdiri dari karbon sehingga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan daur karbon di ekosistem. Penggunaan lahan dengan sistem agroforestri dapat menjadi upaya untuk mengurangi laju emisi karbon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengestimasi biomassa, simpanan karbon, dan penyerapan CO2 pada sembilan pola agroforestri di kawasan hulu DAS Citanduy, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, (2) menentukan pola agroforestri dengan potensi biomassa, simpanan karbon, dan penyerapan CO2 terbaik, serta (3) menentukan rata-rata biomassa, simpanan karbon, dan penyerapan CO2 per jenis tanaman pada sembilan pola agroforestri di kawasan hulu DAS Citanduy, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada lahan-lahan agroforestri yang terletak di kawasan hulu DAS Citanduy (Sungai Cimuntur), Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling pada nested plot berukuran 20 m x 20 m yang meliputi pengukuran diameter, tinggi, identifikasi spesies, dan pencuplikan sampel. Biomassa pohon diestimasi menggunakan persamaan allometrik sementara biomassa tumbuhan bawah, serasah, dan bahan organik tanah diestimasi melalui proses pengovenan. Estimasi simpanan karbon dan serapan CO2 dianalisis menggunakan default value. Total biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 secara berurutan pada sembilan pola agroforestri berkisar antara 130,944 – 371,534 ton/ha, 81,839 – 192,045 ton/ha, dan 299,834 – 701,407 ton/ha. Total biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 terendah terdapat pada pola P3 (A2F1) dan tertinggi pada pola P8 (A8F2). Pola dengan potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 paling baik adalah P8 (A8F2). Rata-rata biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 per jenis tanaman secara berurutan berkisar antara 0,205 – 9,796 ton/ha, 0,096 – 4,604 ton/ha, dan 0,354 – 16,897 ton/ha dengan biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 terendah pada jeruk (Citrus sp.) dan tertinggi pada jati (Tectona grandis).

2024
πŸ‘€ Penulis: Laurencia Larasati
🏷️ Agroforestri 🏷️ Karbon Dioksida 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SUSTAINABLE RIVERSIDE AGROFORESTRY DI KAWASAN HULU DAS CITANDUY (SUNGAI CIMUNTUR), KAB. CIAMIS, JAWA BARAT

DAS Citanduy merupakan DAS di Jawa Barat dengan kondisi kritis. DAS ini telah menjadi tumpuan sumber penghidupan masyarakat, salah satunya melalui pengelolaan agroforestri. Praktik agroforestri di kawasan DAS Citanduy masih belum optimal, tercermin dari kurangnya sistem silvikultur yang diaplikasikan dan tidak maksimalnya keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola tanam dan sistem silvikultur yang diaplikasikan oleh masyarakat, mengestimasi potensi tegakan berbasis riap, volume panen tanaman kayu, potensi pendapatan total dan nilai harapan lahan serta mengukur kontribusi keuntungan agroforestri terhadap pendapatan total. Metode pengambilan data dilakukan secara purposive sampling melalui inventarisasi tegakan dan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif, interpretasi dari hasil persamaan yang digunakan dan didukung uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 9 pola di Kawasan Hulu DAS Citanduy (Sungai Cimuntur) dengan rata-rata nilai intensitas silvikultur adalah 11,5; tertinggi pada pola 9 (A7F2D35) yaitu 15. Rata-rata riap tegakan tanaman kayu adalah 6,31 m3/Ha/tahun, terbesar pada pola 2 (A5F1D10) yaitu 15,11 m3/Ha/tahun. Rata-rata volume panen kayu kumulatif adalah 169,48 m3/Ha/daur akhir, terbesar pada pola 7 (A5F5D35) yaitu 284,94 m3/Ha/daur akhir. Rata-rata potensi pendapatan total Rp9,10 miliar, terbesar pada pola 9 (A7F2D35) Rp24,4 miliar. Rata-rata nilai harapan lahan Rp12,04 miliar, terbesar pada pola 8 (A8F2D10) yaitu Rp22,59 miliar. Rata-rata kontribusi keuntungan agroforestri 84,59%; terbesar pada pola 2 (A5F1D10) yaitu 98,04%.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fardan M. R. J. F.
🏷️ Agroforestri 🏷️ Manajemen Lahan 🏷️ Hidrologi
Halaman 1 dari 2
πŸ’¬