📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPENYERAPAN KARBON, PRODUKTIVITAS BIOMASSA, DAN AKUMULASI LIPID PADA SPIROGYRA SP. DAN CHLORELLA VULGARIS
Banyak teknologi telah digunakan untuk mengatasi peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO?) di atmosfer, namun aspek biaya dan keberlanjutannya masih menjadi tantangan. Penggunaan alga muncul sebagai solusi hemat biaya dan berkelanjutan karena mampu menyerap CO? dan nutrien secara efektif sehingga menghasilkan biomassa bernilai tinggi. Dalam konteks ini, Chlorella vulgaris dikenal memiliki laju pertumbuhan dan kandungan lipid yang tinggi, sedangkan Spirogyra sp. memiliki kelimpahan besar namun potensinya jarang diteliti. Studi ini ditujukan untuk mengungkap perbandingan kedua spesies tersebut dalam penyerapan CO? serta konversinya menjadi biomassa dan lipid. Strain Chlorella vulgaris LIPI11-2-AIO12 diperoleh dari Laboratorim InaCC Bogor, sedangkan Spirogyra sp. dikoleksi dari perairan tawar Rancaekek, Bandung. Eksperimen dilakukan menggunakan fotobioreaktor tertutup berkapasitas 0,8 dm³ pada ruang terkontrol dengan suhu 24–26 °C, kelembapan 70–80%, pH 7,3–9, salinitas 30 ppt, intensitas cahaya 3000 lux, dan laju aerasi 0,6 L/menit selama 14 hari. Biomassa Chlorella vulgaris dikultivasi pada medium Bold Basal, sedangkan Spirogyra sp. menggunakan medium Blue Green-11 25%. Parameter kinetika pertumbuhan, efisiensi fiksasi karbon (metode Walkley-Black), serta akumulasi lipid (ekstraksi Bligh & Dyer) dianalisis. Kedua spesies menunjukkan kurva pertumbuhan sigmoid. Chlorella vulgaris mencatat laju pertumbuhan sebesar 218,6 mg/dm³·hari, laju penyerapan CO? sebesar 47,9 mg /dm³·hari, dan total serapan sebesar 27,38 mg CO?/dm³·hari, sedangkan Spirogyra sp. menunjukkan 170,3 mg/dm³·hari, 41,6 mg CO?/dm³·hari, dan total serapan 23,78 mg CO?/ dm³·hari. Pada akhir fase eksponensial (hari ke-12), Chlorella vulgaris menghasilkan akumulasi lipid 5,42%, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan Spirogyra sp. sebesar 3,46%. Dengan demikian, Chlorella vulgaris lebih efektif dalam menyerap CO? dan menyimpannya sebagai lipid dibandingkan Spirogyra sp.
SEKUESTRASI KARBON, AKUMULASI LIPID, DAN PROFIL ASAM LEMAK PADA KULTUR SPIROGYRA SP. DENGAN DURASI PENYINARAN YANG BERVARIASI
Makroalga seperti Spirogyra sp. mampu mensekuestrasi CO? dan menghasilkan senyawa bernilai tambah seperti lipid dan asam lemak omega-3. Efisiensi fotosintesis dan metabolisme alga sangat dipengaruhi oleh durasi penyinaran harian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi durasi penyinaran, 8:16, 16:8, dan 24:0, terang:gelap (T:G) terhadap pertumbuhan, penyerapan CO2 dan kadar lipid Spirogyra sp.. Kultivasi dilakukan menggunakan medium BG-11 25% selama 12 hari dengan pemanenan setiap dua hari sekali untuk mengukur berat basah dan berat kering. Laju penyerapan CO2 (RCO2) ditentukan berdasarkan produktivitas biomassa dan kadar karbon. Kadar lipid ditentukan melalui ekstraksi Bligh dan Dyer. Kinetika pertumbuhan dimodelkan menggunaan model logistik, sedangkan produksi lipid dimodelkan menggunakan persamaan Luedeking-Piret. Ekstrak lipid diesterifikasi lalu dianalisis dengan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk menentukan profil asam lemaknya. Hasil penelitian menunjukkan variasi 8:16, 16:8, dan 24:0 T:G secara berturut-turut memperoleh nilai µmax sebesar 0,075±0,024; 0,150±0,037; dan 0,095±0,012 /hari dan doubling time sebesar 10,235±3,165; 4,634±1,461; dan 7,389±1,026 hari. Kadar lipid pada hari ke-6 variasi 8:16, 16:8, dan 24:0 T:G secara berturut-turut diperoleh sebesar 2±0,272; 3,1±0,196; dan 2,333±0,272 %. RCO2 pada hari ke-6 variasi 8:16, 16:8, dan 24:0 T:G secara berturut-turut diperoleh sebesar 0,035±0,008; 0,104±0,028; dan 0,056±0,001 gCO2/L/hari. Pemodelan logistik dan Luedeking-Piret dapat menggambarkan dinamika pertumbuhan dan akumulasi lipid pada durasi penyinaran 8:16, 16:8, dan 24:0 T:G dengan nilai R2 masing-masing 0,998; 0,995; dan 0,995 untuk pemodelan logistik serta 0,818; 0,811; dan 0,702 untuk pemodelan Luedeking-Piret. Korelasi signifikan juga ditemukan antara biomassa dengan RCO2 dan biomassa dengan kadar lipid pada seluruh variasi durasi penyinaran. Profil asam lemak hasil analisis GC-MS menunjukkan keberadaan PUFA berupa asam heksadekatrienoat (C16:3 n-3) (40,71%) dan asam linoleat (7,13%) serta SFA berupa asam palmitat (C16:0) (52,16%). Penelitian ini mengindikasikan bahwa pengaturan durasi penyinaran yang seimbang, khususnya 16:8 T:G, merupakan kondisi optimal untuk mendukung sekuestrasi karbon serta produksi lipid dan asam lemak omega-3 Spirogyra sp..
SEKUESTRASI KARBON DAN AKUMULASI LIPID OLEH KOKULTUR CHLORELLA VULGARIS DAN SPIRULINA PLATENSIS PADA MEDIUM CAMPURAN ZARROUK DAN BOLD BASAL MEDIUM
Mikroalga merupakan agen biologis yang potensial untuk mitigasi pemanasan global melalui sekuestrasi karbon. Organisme fotosintetik ini menyerap karbondioksida dari udara dan mengubahnya menjadi senyawa organik, seperti karbohidrat, protein, pigmen, dan lipid. Dengan efisiensi fotosintetik yang 10-50 kali lebih tinggi daripada tanaman terrestrial, mikroalga adalah organisme yang penting untuk dimanfaatkan sebagai agen penyerap karbon anorganik di udara. Kokutur Chlorella vulgaris dan Spirulina platensis dilaporkan dapat meningkatkan pertumbuhan, penyerapan karbondioksida, dan akumulasi lipid pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah performa kokultur Spirulina platensis dan Chlorella vulgaris pada sistem autotrofik dalam medium campuran Zarrouk dan Bold Basal Medium (BBM). Variasi rasio medium Zarrouk dan BBM pada kokultur adalah 25:75; 50:50; dan 75:25 (v/v). Performa kokultur S. platensis dan C. vulgaris dibandingkan juga dengan monokultur S. platensis pada Zarrouk 100% dan C. vulgaris pada Bold Basal Medium 100%. Mikroalga dikultivasi selama 16 hari pada botol jamu kaca 1 liter dengan aerasi 0,4 l/min. Pengukuran konsentrasi biomassa dilakukan setiap dua hari. Konsentrasi biomassa digunakan untuk menentukan parameter kinetika laju pertumbuhan spesifik maksimum dan konsentrasi biomassa maksimum melalui pemodelan logistik. Laju penyerapan karbondioksida ditentukan melalui perhitungan antara produktivitas biomassa, jumlah karbon pada biomassa, serta rasio antara massa molekuler karbon dan karbondioksida. Ekstraksi lipid dilakukan dengan metode Bligh dan Dyer. Hasil menunjukkan laju pertumbuhan spesifik maksimum berturut-turut untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM (25:75; 50:50; dan 75:25 v/v) berturut-turut sebesar 0,28; 0,30; 0,26; 0,21; dan 0,25 /hari dengan nilai tertinggi dicapai oleh monokultur C. vulgaris sebesar 0,30/hari. Tidak ada beda nyata dalam pertumbuhan antarvariasi. Laju penyerapan CO2 sebesar 0,605±0,11; 0,120±0,01; 0,275±0,08; 0,210±0,05; 0,259±0,05 gCO2/l/hari serta jumlah CO2 yang terserap setelah 16 hari sebesar 3,71±0,22; 0,87±0,03; 1,90±0,12; 1,72±0,20; dan 1,79±0,11 gCO2/0,8 liter medium berturut-turut untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM=25:75; 50:50; dan 75:25 (v/v). Penyerapan CO2 tertinggi dicapai oleh monokultur S. platensis dengan laju penyerapan CO2 sebesar 0,605±0,11 gCO2/l/hari dan CO2 yang terserap setelah 16 hari sebanyak 3,71±0,22 gCO2/0,8 L medium. Terdapat beda nyata dalam penyerapan CO2 pada kelima variasi. Akan tetapi, berdasarkan uji post hoc Tukey tidak terdapat beda nyata antar variasi kokultur. Akumulasi lipid untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM (25:75; 50:50; dan 75:25 v/v) berturut-turut adalah 0,16±0,04; 0,21±0,04; 0,11±0,01; 0,15±0,07; 0,13±0,01 % (glipid/gbiomassa) dengan nilai tertinggi dicapai oleh monokultur C. vulgaris. Tidak terdapat beda nyata dalam akumulasi lipid antarvariasi. Singkatnya, kokultur S. platensis dan C. vulgaris dapat mensekuestrasi karbon lebih banyak daripada monokultur C. vulgaris, namun lebih sedikit daripada monokultur S. platensis. Pertumbuhan dan akumulasi lipid tertinggi diperoleh pada monokultur C. vulgaris dibandingkan pada monokultur S. platensis maupun kokultur S. platensis dan C. vulgaris