📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenADSORPSI ZAT WARNA KRISTAL VIOLET MENGGUNAKAN ADSORBEN KOMPOSIT CAO-ALGINAT
Industri tekstil, percetakan, dan pewarnaan menghasilkan limbah cair berbahaya yang mengandung zat warna sintetis, salah satunya zat warna kristal violet (KV+). Kristal violet bersifat toksik, karsinogenik, mutagenik, dan persisten di lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap organisme akuatik dan kesehatan manusia. Adsorpsi merupakan teknik yang efektif, sederhana, dan tidak menghasilkan senyawa berbahaya untuk mengolah air limbah yang tercemar zat warna. Pada penelitian ini, kalsium oksida (CaO) yang disintesis melalui pendekatan sintesis hijau menggunakan ekstrak daun murbei dikombinasikan dengan kalsium alginat sebagai adsorben komposit untuk adsorpsi kristal violet. Kalsium oksida dikarakterisasi menggunakan FTIR, XRD dan PSA. Spektrum FTIR menunjukkan puncak vibrasi khas CaO pada bilangan gelombang 876 cm-1, karakterisasi XRD menunjukkan pola difraksi karakteristik CaO dengan kemurnian 95,36%, dan PSA menunjukkan ukuran partikel CaO 300,5 nm. Komposisi optimum adsorben komposit diperoleh pada perbandingan (%b/v) 4 alginat : 2 CaCl2 : 0,4 CaO. Adsorben dikarakterisasi menggunakan FTIR dan SEM. Spektrum FTIR sebelum dan setelah adsorpsi menunjukkan pergeseran pita serapan hidroksil (3447 cm-1 ? 3437 cm-1), dan karboksil (1611 cm-1 ? 1605 cm-1 dan 1441 cm-1 ? 1427 cm- 1), yang mengindikasikan adanya interaksi antara gugus fungsi pada permukaan adsorben dengan KV+. Karakterisasi SEM menunjukkan permukaan adsorben menjadi lebih halus setelah kontak dengan KV+. Adsorpsi kristal violet menggunakan adsorben komposit CaO- alginat mencapai kondisi optimum pada pH 4, massa adsorben 0,3 g, dan waktu kontak 180 menit. Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde satu semu dan model isoterm Langmuir dengan qmaks sebesar 12,81 mg/g pada suhu 333 K. Proses adsorpsi KV+ oleh adsorben komposit CaO- alginat bersifat endotermik (?H° = 10,31 kJ/mol), berlangsung spontan (?G° 333K = ?33,02 kJ/mol) dan disertai peningkatan entropi sistem (?S° = 130,14 J/mol.K). Larutan etanol p.a mendesorpsi KV+ dengan lebih baik dibandingkan larutan asam.
PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK DARI AIR LIMBAH MENGGUNAKAN NANOKOMPOSIT MONTMORILLONIT DAN KARBON AKTIF
Pencemaran air terus meningkat seiring bertambahnya kegiatan industri yang dilakukan oleh manusia. Salah satu usaha mitigasi yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran air adalah usaha pengolahan air limbah. Adsorpsi merupakan salah satu opsi pengolahan air limbah yang sering digunakan pada pengolahan air limbah. Restiawaty dkk (2021) sudah melakukan adsorpsi dengan nanokomposit montmorillonit-karbon aktif-alginat untuk memisahkan kontaminan GE dan MCPD pada RBDPO. Percobaan ini akan mengujikan adsorben dengan bahan baku yang sama untuk memisahkan senyawa organik berupa methylene blue dan rhodamine B dari air limbah. Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu komposisi montmorillonit, karbon aktif, dan alginat dengan efisiensi adsorpsi terbaik serta karakteristik dari adsorben yang akan digunakan. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel terhadap kinerja adsorpsi adsorben dengan menggunakan metode partaian dan kontinu. Melalui percobaan dengan model partaian menunjukkan bawah adsorben dengan perbandingan MMT:KA:Alginat sebanyak 1:1:1 merupakan variasi dengan efisiensi terbaik pada durasi adsorpsi selama 120 menit. Adsorpsi pada larutan limbah Methylene Blue 248 mg/L menghasilkan persen removal hingga 82% sementara adsorpsi pada larutan limbah Rhodamine B 213 mg/L menghasilkan persen removal hingga 58%. Adsorben dengan 3 penyusun utama berupa karbon, oksigen, dan kalsium ini memiliki ukuran pori rata-rata sebesar 2.997 dengan kuat tekan sebesar 4.31 N/mm2 . Sementara dengan metode kontinu menunjukkan bahwa laju alir memiliki pengaruh pada persen removal limbah dengan laju alir paling kecil (22 mL/detik) memiliki hasil adsorpsi yang paling baik. Kondisi optimum adsorpsi terjadi pada tinggi kolom tertinggi (1.5 cm) dengan waktu breakthrough (4.94 menit) dan waktu jenuh (230 menit) yang paling lama pula. Nanokomposit MMT-NA-Alginat memiliki waktu breakthrough dan waktu jenuh yang menyerupai adsorben serupa, tetapi qmax masih lebih kecil.