📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenGEOLOGI, ALTERASI HIDROTERMAL, DAN PARAGENESIS MINERAL SEKUNDER PADA DAERAH BIG GOSSAN BAGIAN BARAT LAUT, DISTRIK ERTSBERG, PAPUA
Daerah penelitian berada pada area Kontrak Karya A (COW-A) PT. Freeport Indonesia, Distrik Pertambangan Ertsberg, Kabupaten Mimika, Papua. Penelitian dilakukan menggunakan data batuan inti dari 6 sumur bor yaitu BG403W-01, BG389W-01, BG330W-01, BG320W-01, BG209W-01, dan BG207W-01. Metode penelitian yang digunakan berupa analisis megaskopik, mikroskopik yang meliputi analisis petrografi dan mineragrafi, dan digitasi kontur kadar unsur geokimia assay untuk menentukan satuan batuan, zona alterasi, zona mineralisasi, dan paragenesis mineral sekunder. Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas 5 satuan litostratigrafi, dari tua ke muda, yaitu: (1) Satuan Batupasir Arenite Kuarsa, (2) Satuan Batulempung, (3) Satuan Batupasir Wacke Kuarsa, (4), Satuan Serpih, yang seluruhnya termasuk ke dalam Formasi Ekmai berumur Kapur Akhir, dan (5) Satuan Dolomit dari Formasi Waripi berumur Paleosen diendapkan secara selaras di atas Formasi Ekmai. Daerah penelitian telah mengalami proses alterasi hidrotermal dengan intensitas lemah-total dan dibagi menjadi 3 zona berdasarkan himpunan mineral alterasinya yaitu: (1) Zona Kalsit-Pirit-Magnetit (skarn), (2) Zona Aktinolit-Tremolit- Kalsit±Klorit (skarn), dan (3) Zona Epidot-Aktinolit-Kalsit-Klorit-Kuarsa (propilitik). Mineral bijih utama pada daerah penelitian merupakan kalkopirit (CuFeS2) yang hadir secara tersebar pada batuan. Berdasarkan nilai geokimia assay Cu dengan batas cutoff grade 2%, daerah penelitian dibagi menjadi 3 zona mineralisasi yaitu: (1) Zona Cu 1-2%, (2) Zona Cu 2-4%, dan (3) Zona Cu >4%. Zona dengan kadar Cu tinggi (>2%) berasosiasi dengan Zona Aktinolit-Tremolit- Kalsit±Klorit. Intrusi berumur Pliosen menyebabkan terjadinya metamorfisme kontak pada daerah penelitian. Fluida hidrotermal sisa magma masuk ke batuan karbonat pada daerah penelitian (Satuan Dolomit) menyebabkan terjadinya alterasi skarn tahap progradasi yang dicirikan dengan terbentuknya mineral-mineral anhidrat. Kemudian terjadinya alterasi skarn tahap retrogradasi menyebabkan hadirnya mineral-mineral hidrat menggantikan mineral-mineral anhidrat yang telah terbentuk sebelumnya. Hal ini ditunjukkan khususnya pada Zona Aktinolit- Tremolit-Kalsit±Klorit. Seiring alterasi skarn tahap retrogradasi juga terjadi pengayaan mineral sulfida.
STUDI GEOKIMIA UNSUR JEJAK PADA ENDAPAN EMAS OROGENIK DI SEKAYAM, KALIMANTAN BARAT
Daerah Sekayam, Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi endapan emas orogenik yang berasosiasi dengan zona deformasi dan alterasi hidrotermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur jejak yang berasosiasi dengan mineralisasi emas menggunakan pendekatan analisis geokimia unsur jejak dan mengklasifikasikan batuan berdasarkan pola unsur tanah jarang (REE) untuk memahami karakter litologi dan sumber batuannya. Sebanyak 10 sampel batuan dari berbagai zona (milonitik, urat, sedimen, dan sesar) dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF), X-ray Diffraction (XRD), Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), dan Loss on Ignition (LOI). Hasil analisis XRF dan ICP-MS menunjukkan bahwa unsur As, Sb, dan S memiliki korelasi positif dengan Au, hal ini mengindikasikan presipitasi emas bersama mineral pembawa seperti arsenopirit dan stibnit, unsur K yang berkorelasi positif dengan Au merefleksikan proses serisitisasi akibat fluida hidrotermal kaya K+, serta hasil XRD dan LOI menunjukkan alterasi pada lokasi penelitian yaitu serisitisasi, karbonatisasi, dan silisifikasi. Analisis pola REE memperlihatkan bahwa zona milonitik dan sesar mengalami pengayaan LREE (light rare earth elements) signifikan akibat pengaruh fluida metasomatik, sementara zona urat cenderung mengalami deplesi REE akibat mobilisasi oleh fluida. Pola REE dan multi-elemen tiap sampel dikomparasi dengan batuan dari Pegunungan Schwaner , Kompleks Luk Ulo, Kompleks Meratus, dan Area Mineralisasi Emas Timburu untuk menginterpretasi kesamaan litologi sumber berupa material busur magmatik yang telah terdeformasi dan teralterasi.
KONTROL MINERALOGI PADA KEKUATAN BATUAN TERALTERASI HIDROTERMAL, PROSPEK KERTA, PROVINSI BANTEN, INDONESIA
Penelitian ini mengkaji kontrol mineralogi terhadap kekuatan batuan pada sistem batuan teralterasi hidrotermal di Prospek Kerta, Banten, dengan mengintegrasikan petrografi sayatan tipis dan X-ray Diffraction (XRD) untuk karakterisasi mineralogi, pengukuran ukuran butir dari fotomikrograf menggunakan ImageJ, serta data uji mekanik (UCS dan kuat tarik tak langsung) pada delapan litologi dari satu lubang bor geoteknik; analisis dilakukan secara deskriptif-semi kuantitatif. Rentang hasil menunjukkan UCS 4,41–71,96 MPa dan Tensile Strength 4,29–14,79 MPa; nilai tertinggi dijumpai pada Volcanic Breccia dan Sinter Breccia, sedangkan yang terendah pada Siltstone. Ukuran butir cenderung berbanding terbalik dengan kekuatan batuan, meskipun Siltstone menjadi anomali karena kandungan mineral lempung dan void yang tinggi. Komposisi mineral menunjukkan korelasi positif antara kandungan Kuarsa dan kekuatan batuan, sedangkan K-Feldspar berkorelasi negatif. Secara alterasi, mayoritas litologi mengalami Silisifikasi (moderate–intense) yang cenderung membuat batuan menjadi lebih kuat, sementara Undiff Tuff yang didominasi Kloritisasi memperlihatkan kekuatan relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa komposisi mineral (terutama Kuarsa), derajat/tipe alterasi, dan tekstur (ukuran butir) merupakan pengendali utama variasi kekuatan batuan, serta mendukung penerapan zonasi geoteknik berbasis mineralogi pada batuan hidrotermal teralterasi.