📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 8 dokumen

UJI AKTIVITAS KOMBINASI EKSTRAK PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA (L.) URB.), LADA HITAM (PIPER NIGRUM L.), KUNYIT (CURCUMA LONGA L.), DAN JAMUR LION’S MANE (HERICIUM ERINACEUS (BULL.) PERS.) TERHADAP FUNGSI KOGNITIF PADA MODEL PENYAKIT ALZHEIMER YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN INTRACEREBROVENTRICULAR PADA MENCIT GALUR BALB/C

Penyakit Alzheimer masih menjadi tantangan besar karena penurunan kognitif terjadi secara progresif, sementara terapi yang tersedia belum mampu menghentikan kerusakan neuron secara menyeluruh. Kondisi ini semakin kompleks karena patogenesis Alzheimer melibatkan berbagai proses yang saling berkaitan, seperti akumulasi ?-amyloid, hiperfosforilasi tau, neuroinflamasi, stres oksidatif, dan gangguan hipokampus. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan neuroprotektif multitarget, salah satunya melalui kombinasi bahan alam. Penelitian ini mengevaluasi aktivitas kombinasi ekstrak pegagan (Centella asiatica), kunyit (Curcuma longa), lada hitam (Piper nigrum), dan jamur Lion’s Mane (Hericium erinaceus) pada mencit BALB/c model Alzheimer yang diinduksi streptozotosin secara intracerebroventricular. Sebanyak 49 mencit jantan dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu kelompok vehicle, kontrol negatif STZ-ICV, kontrol positif donepezil, serta kelompok perlakuan kombinasi ekstrak komposisi A dan B pada dosis 71,5 dan 143 mg/kg bobot badan. Induksi STZ-ICV dilakukan pada hari ke-0 dan ke-2, dilanjutkan evaluasi perilaku pascainduksi, pemberian perlakuan oral selama 14 hari, evaluasi perilaku pascaterapi, dan terminasi untuk pengambilan jaringan otak. Evaluasi fungsi kognitif dilakukan menggunakan Morris Water Maze dan Y-Maze. Kadar ?-amyloid, phosphorylated tau, dan IL-1? dianalisis menggunakan metode ELISA, aktivitas asetilkolinesterase dianalisis menggunakan metode Ellman, kadar malondialdehyde dianalisis menggunakan metode TBARS, aktivitas katalase dianalisis menggunakan metode SSA-CAT, dan gambaran morfologi hipokampus diamati melalui pemeriksaan histopatologi. Induksi STZ-ICV menyebabkan gangguan kognitif, peningkatan biomarker patologis, dan degenerasi hipokampus. Kombinasi ekstrak mampu memperbaiki parameter dibandingkan kontrol negatif, dengan Komposisi B dosis 71,5 mg/kg bobot badan menunjukkan efek neuroprotektif paling konsisten.

2026
👤 Penulis: Marcia Agita Setiawan
🏷️ Alzheimer 🏷️ Kombinasi Ekstrak Alam 🏷️ Penyakit Kognitif

SINTESIS TURUNAN KUINAZOLIN TERDEUTERASI DAN POTENSINYA SEBAGAI INHIBITOR EGFR (ANTIKANKER) DAN BACE-1 (ALZHEIMER)

Kuinazolin merupakan senyawa N-heterosiklik yang telah banyak dimanfaatkan sebagai kerangka dasar dalam pengembangan obat antikanker, khususnya sebagai inhibitor EGFR generasi pertama dan kedua, seperti gefitinib, erlotinib, afatinib, dan dacomitinib. Selain itu, kerangka kuinazolin berpotensi dikembangkan sebagai inhibitor BACE-1 pada penyakit Alzheimer. Pada domain tirosin kinase EGFR, cincin kuinazolin berikatan pada kantong pengikatan ATP (ATP-binding site), di mana atom nitrogen pada cincin kuinazolin membentuk ikatan hidrogen dengan residu Met793 yang berada pada daerah hinge, sehingga menstabilkan pengikatan ligan pada situs aktif dan menghambat aktivitas tirosin kinase. Sementara itu pada BACE-1, cincin kuinazolin berinteraksi dengan residu katalitik Asp32 dan Asp228 pada sisi aktif enzim sehingga menghambat pemotongan amyloid precursor protein (APP) menjadi peptida ?-amiloid. Selain kerangka kuinazolin, substituen pada posisi C-4 juga diketahui berkontribusi terhadap interaksi dengan kantong hidrofobik protein target sehingga modifikasi pada posisi ini banyak dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dan selektivitas senyawa. Meskipun demikian, keberadaan gugus metoksi pada posisi C-7 cincin kuinazolin rentan mengalami reaksi O-demetilasi yang dikatalisis oleh CYP450 terutama CYP2D6, menghasilkan metabolit hidroksi (–OH). Proses metabolisme ini meningkatkan polaritas senyawa sehingga mempercepat eliminasi, menurunkan stabilitas metabolik, dan berpotensi mengurangi efektivitas senyawa. Salah satu strategi yang banyak dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah deuterasi, yaitu penggantian atom hidrogen dengan deuterium pada gugus metoksi di posisi C-7 yang rentan mengalami reaksi O-demetilasi oleh enzim CYP2D6. Ikatan C–D yang lebih kuat dibandingkan ikatan C–H menyebabkan tahap pemutusan ikatan selama reaksi O-demetilasi berlangsung lebih lambat sehingga laju metabolisme oksidatif dapat diperlambat melalui kinetic isotope effect, tanpa mengubah sifat elektronik maupun interaksi senyawa dengan residu penting pada kantong pengikatan ATP EGFR dan sisi aktif BACE-1. Pendekatan ini telah diterapkan pada beberapa obat, seperti deutetrabenazine yang disetujui FDA pada tahun 2017 untuk pengobatan korea pada penyakit Huntington (Huntington's disease-associated chorea) dan tardive dyskinesia, serta deuruxolitinib yang memperoleh persetujuan FDA pada tahun 2024 untuk pengobatan alopecia areata. Kedua obat tersebut menunjukkan peningkatan stabilitas farmakokinetik dan tolerabilitas dibandingkan senyawa induknya (nonterdeuterasi). Pada penelitian ini telah disintesis delapan turunan 4- anilinokuinazolin terdeuterasi (4a–h) melalui reaksi substitusi nukleofilik aromatik menggunakan CD3OD dan NaOH 50% (w/v) dengan rendemen sekitar 90–97%. Senyawa 4a–h kemudian direduksi gugus -NO2 menjadi delapan turunan kuinazolin-4,6-diamina (5a–h) dengan kondisi optimum reaksi menggunakan tiourea dioksida 5 ekivalen dan NaOH 1 M dalam metanol, menghasilkan rendemen sekitar 82–90%. Struktur senyawa 4h dikonfirmasi lebih lanjut melalui analisis Single-Crystal X-ray Diffraction (SC-XRD) yang menunjukkan bahwa senyawa ini mengkristal dalam sistem ortorombik dengan grup ruang Pbca (No. 61) sebagai solvat DMSO. Struktur yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dengan nilai final R-index sebesar 0,0443 dan telah didaftarkan pada Cambridge Crystallographic Data Centre (CCDC No. 2527423). Hasil analisis menunjukkan bahwa cincin kuinazolin bersifat hampir planar dengan sudut torsi gugus anilino sebesar ?30,4° terhadap cincin kuinazolin, menyerupai konformasi twisted aniline pada inhibitor EGFR seperti gefitinib. Kisi kristal distabilkan oleh ikatan hidrogen N–H···O antara gugus NH anilin dengan molekul DMSO solvat. Seluruh senyawa kemudian diuji aktivitas penghambatannya terhadap EGFR dan BACE-1 secara in vitro. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa senyawa 4g yang memiliki substituen 3,4-dikloroanilin memiliki aktivitas penghambatan EGFR tertinggi dengan persen inhibisi sebesar 65,96 ± 0,72% pada konsentrasi 100 nM. Sementara itu, senyawa 4h yang memiliki substituen 4-trifluorometilanilin menunjukkan aktivitas penghambatan BACE-1 tertinggi dengan persen inhibisi sebesar 101,93 ± 1,08% pada konsentrasi 100 µM. Secara keseluruhan, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa deuterasi pada posisi C-7 berpotensi meningkatkan aktivitas penghambatan terhadap BACE-1 pada beberapa turunan, yang ditunjukkan oleh peningkatan aktivitas inhibisi senyawa 4a, 4d, dan 4e dibandingkan senyawa nonterdeuterasinya.

2026
👤 Penulis: Pipih Lutfi Sa'adah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Alzheimer

PENGENDALIAN PENYEBARAN PROTEIN TOKSIKMELALUI INTERVENSI CLEARANCEPADA PENYAKIT NEURODEGENERATIFALZHEIMER

Penelitian ini mengembangkan dan menganalisis model matematika untuk menggambarkan interaksi dinamik antara akumulasi protein toksik dan kapasitas clearance pada penyakit neurodegeneratif Alzheimer serta merumuskan strategi kontrol optimal untuk menekan progresi penyakit. Model yang dibangun menangkap mekanisme umpan balik positif, yaitu peningkatan protein toksik mempercepat degradasi kapasitas clearance dan mendorong akumulasi protein toksik lebih lanjut. Analisis kualitatif sistem menunjukkan keberadaan dua titik tetap utama, yakni Keadaan Sehat yang stabil secara kondisional dan Keadaan Sakit yang selalu stabil serta menghasilkan parameter bibit toksik kritis pcrit sebagai batas toleransi sistem terhadap beban awal patologis. Untuk menentukan strategi intervensi yang optimal, penelitian ini menerapkan Forward-Backward Sweep Method (FBSM) yang dimodifikasi dengan pendekatan Gradient Descent dan Backtracking Line Search untuk menjamin stabilitas numerik dan konvergensi indeks performansi dengan dua mekanisme kontrol utama berupa eliminasi protein toksik dan pemulihan kapasitas clearance. Hasil simulasi menunjukkan bahwa efektivitas strategi kontrol sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan sistem dan nilai parameter saturasi ? yang merepresentasikan kekuatan mekanisme regulasi diri. Pada kondisi dengan beban protein toksik yang rendah dan nilai ? yang relatif besar, kontrol parsial masih mampu menjaga stabilitas sistem, sedangkan pada simulasi berbasis data pasien Alzheimer dengan nilai ? yang rendah, penghilangan salah satu mekanisme kontrol menyebabkan peningkatan indeks performansi secara drastis dan berujung pada kegagalan sistem. Temuan ini menegaskan bahwa pada kondisi klinis realistis dengan mekanisme saturasi yang lemah, intervensi ganda merupakan syarat mutlak untuk mencapai pemulihan sistem yang stabil. Selain itu, kombinasi kontrol yang seimbang antara eliminasi protein toksik dan pemulihan clearance memberikan performa paling stabil dan konsisten di seluruh skenario simulasi.

2026
👤 Penulis: Athaya Nazala Aliyani
🏷️ Alzheimer 🏷️ Kontrol Penyakit Neurodegeneratif 🏷️ Model Matematika

SINTESIS TURUNAN 6,7-DIMETOKSIKUINAZOLIN-4(3 H)-ON DAN POTENSI BIOAKTIVITASNYA SEBAGAI INHIBITOR ASETILKOLINESTERASE

Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan penderitanya kehilangan daya ingat dan kemampuan berpikir. Penderita Alzheimer mengalami penurunan jumlah neurotransmiter asetilkolin yang disebabkan oleh asetilkolinesterase. Pengobatan dibutuhkan untuk menghambat kerja asetilkolinesterase. Terdapat beberapa inhibitor asetilkolinesterase yang sudah diakui oleh FDA, seperti donepezil, rivastigmin, dan galantamin. Namun, inhibitor tersebut menimbulkan efek samping dan kinerjanya terbatas sehingga penelitian mengenai inhibitor asetilkolinesterase masih terus dilakukan. Kuinazolinon merupakan senyawa heterosiklik yang berpotensi sebagai inhibitor asetilkolinesterase. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyintesis turunan 6,7-dimetoksikuinazolin-4(3H)-on melalui reaksi alkilasi, amidasi, dan pembentukan hidrazon menggunak:an berbagai jenis aromatik aldehid, serta uji potensinya sebagai inhibitor asetilkolinesterase. Semua produk hasil sintesis dikarak:terisasi menggunakan spektroskopi resonansi magnet inti (NMR) dan spektrometri massa resolusi tinggi (HRMS). Pada penelitian ini diperoleh produk alkilasi berupa senyawa etil 2-(6,7-dimetoksi-4-oksokuinazolin- 3(4H)-il)asetat (1) dengan rendemen sebesar 71,7% dan amidasi berupa senyawa 2-(7- fluoro-4-oksokuinazolin-3(4H)-il)asetohidrazid (2) dengan rendemen sebesar 64,8%. Selain itu, sebanyak: lima belas senyawa produk hidrazon diperoleh (3A-30) dengan rendemen sebesar 32,5-71,1%. Senyawa produk hidrazon terdiri atas tiga belas senyawa baru dan dua senyawa yang pemah diteliti sebelurnnya. Hasil pengujian dari senyawa hasil sintesis menunjukkan bahwa senyawa 1 memiliki ak:tivitas inhibisi asetilkolinesterase tertinggi, yaitu sebesar 64,4 ± 13,7% pada konsentrasi 200 µM. Sedangkan senyawa lainnya cenderung tidak: ak:tif dalam menghambat asetilkolinesterase.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rafi Aulia
🏷️ Alzheimer 🏷️ Inhibitor Asetilkolinesterase 🏷️ Ksenyawa Heterosiklik

SINTESIS TURUNAN LAWSON MELALUI REAKSI KNOEVENAGEL DAN POTENSINYA SEBAGAI INHIBITOR ASETILKOLINESTERASE

Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang disebabkan oleh penurunan kadar asetilkolin di otak, yang berdampak pada gangguan memori dan kognisi. Penurunan kadar asetilkolin ini terjadi karena asetilkolinesterase menghidrolisis asetilkolin. Untuk mengurangi penurunan tersebut, diperlukan senyawa yang dapat menghambat aktivitas asetilkolinesterase. Lawson merupakan senyawa yang diisolasi dari tanaman pacar kuku (Lawsonia inermis) dan dilaporkan memiliki banyak aktivitas biologis, seperti antikanker, antibakteri, dan inhibitor asetilkolinesterase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mensintesis turunan lawson melalui reaksi Knoevenagel dan mengidentifikasi potensinya sebagai inhibitor asetilkolinesterase. Sintesis dilakukan dengan mereaksikan lawson dengan amina primer dan formaldehid selama 12 jam. Optimasi reaksi juga dilakukan melalui variasi beberapa pelarut, yaitu etanol, metanol, gliserin, BMIM–BF4 (1–butil–3–metilimidazolium tetrafloroborat), tetrahidrofuran, dan asetonitril. Karakterisasi dilakukan menggunakan 1D–NMR (1H–NMR, 13C–NMR, TOCSY1D, dan NOESY1D), 2D–NMR (HSQC dan HMBC), dan MS. Sedangkan uji aktivitas biologis terhadap asetilkolinesterase dilakukan dengan metode Ellman. Pada penelitian ini telah berhasil disintesis delapan senyawa turunan lawson, dimana dua diantaranya merupakan senyawa baru, yaitu 2 hidroksi–3–(((4–metoksibenzil)amino)metil)naftalen–1,4–dion (1) dan 2–hidroksi–3–(((4 metilbenzil)amino)metil)naftalen–1,4–dion (2). Selain itu, terdapat enam senyawa yang telah dilaporkan oleh penelitian sebelumnya, yaitu 2–((benzilamino)metil)–3–hidroksinaftalen–1,4 dion (3), 2–((etilamino)metil)–3–hidroksinaftalen–1,4–dion (4), 2–((butilamino)metil)–3 hidroksinaftalen–1,4–dion (5), 2–((heksilamino)metil)–3–hidroksinaftalen–1,4–dion (6), 2 hidroksi–3–((piridin–2–ilamino)metil)naftalen–1,4–dion (7), dan 2–hidroksi–3–((piridin–4 ilamino)metil)naftalen–1,4–dion (8). Kedelapan senyawa tersebut memiliki rendemen sebesar 43,8–67,8%. Reaksi antara lawson dengan 4–metoksianilin dan 3,4–dimetilanilin diharapkan menghasilkan senyawa 2–hidroksi–3–(((4–metoksifenil)amino)metil)naftalen–1,4–dion (9) dan 2–(((3,4–dimetilfenil)amino)metil)–3–hidroksinaftalen–1,4–dion (10). Namun, hasil sintesis menunjukkan terbentuknya senyawa 3,3'–metilenbis(2–hidroksinaftalen–1,4–dion) (11) yang diduga dipengaruhi oleh rendahnya sifat nukleofilik dari amina aromatik yang digunakan sehingga tidak mendukung pembentukan turunan lawson yang diharapkan. Uji inhibisi terhadap asetilkolinesterase menunjukkan senyawa 1, 2 dan 3 menginhibisi dengan persentase 52,9%, 15,3%, dan 35,6% secara berturut–turut pada konsentrasi 50 ?M. Pada konsentrasi yang sama, lawson menunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 20,6%. Berdasarkan hasil penelitian ini, sintesis turunan lawson dengan penambahan gugus benzilamin dapat meningkatkan aktivitas inhibisi terhadap asetilkolinesterase.

2025
👤 Penulis: Habibah Azmiyatus Sholihah
🏷️ Alzheimer 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

XESTOSAPROL, FITOKONSTITUEN XESTOSPONGIA SP., KANDIDAT POTENSIAL MULTI-TARGET DIRECTED LIGAND (MTDL) PADA PENYAKIT ALZHEIMER : FARMAKOLOGI JARINGAN TERINTEGRASI DENGAN MOLECULAR DOCKING DAN MOLECULAR DYNAMIC

Alzheimer merupakan salah satu penyakit neurodegeneratif yang diprediksi akan semakin meningkat signifikan setiap tahun. Saat ini, eksplorasi biodiversitas senyawa bahan alam dari laut menjadi pusat perhatian dengan berbagai manfaat biologis yang dapat digunakan sebagai obat dengan mekanisme multitarget. Xestospongia sp. merupakan salah satu jenis spons laut yang ditemukan di Sangalaki, Indonesia. Pada penelitian ini akan digunakan farmakologi jaringan untuk mengeksplorasi potensi metabolit sekunder Xestospongia sp. yaitu Xestosaprol G, Xestosaprol J, dan Xestosaprol K sebagai kandidat multi targeted direct ligand pada berbagai jalur molekular yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Metabolit sekunder tersebut diperoleh dari sumber literatur dan pubchem untuk mengetahui struktur kimia. Selanjutnya, protein yang ditargetkan oleh metabolit sekunder diperoleh dari basis data SwissTargetPrediction. Sedangkan, protein yang berkaitan dengan Alzheimer diidentifikasi dari basis data GeneCards dan OMIM. protein yang berpotongan dari protein target metabolit sekunder dan Alzheimer dihasilkan melalui aplikasi FunRich 3.1.3. Jaringan interaksi protein –protein dibuat berdasarkan protein yang berpotongan dengan menggunakan basis data STRING 12.0 dan dilakukan analisis topologi jaringan pada aplikasi Cytoscape 3.10.2 untuk menentukan 10 protein utama yang ditargetkan oleh metabolit sekunder. Analisis pengayaan gene ontology dan KEGG menggunakan basis data ShinyGo 0.81. Kemudian, metode molecular docking dan molecular dynamics digunakan untuk verifikasi hasil farmakologi jaringan. Hasil analisis pengayaan dan topologi jaringan menetapkan PSEN1, MAPK8, MAPK9, dan MAPK14 dipilih berdasarkan skor MCC tertinggi serta keterlibatan dalam jalur pensinyalan notch, Alzheimer dan neurotrofin. Hasil verifikasi dengan molecular docking menunjukan Xestosaprol G memiliki afinitas lebih baik dari metabolit sekunder yang lain. Terakhir, analisis molecular dynamic Xestosaprol G terhadap PSEN1 dan MAPK 8 menunjukan potensi sebagai inhibitor dengan energi bebas pengikatan lebih kecil dari ligan kontrol. Selain itu, pada MAPK 9 dan MAPK 14 masih menunjukan adanya potensi sebagai inhibitor walaupun dengan nilai binding affinity lebih besar dari ligan pembanding.

2025
👤 Penulis: Ibnu Dharsono Faizal
🏷️ Alzheimer 🏷️ Farmakologi Jaringan 🏷️ Molecular Docking

FORMULASI DAN KARAKTERISASI LIPOSOM EKSTRAK HERBA PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA (L.) URB.) SERTA UJI AKTIVITAS INHIBITOR ENZIM ASETILKOLINESTERASE DAN ANTIOKSIDAN SECARA IN VITRO

Alzheimer merupakan penyakit yang dapat menyebabkan penurunan pada fungsi otak, termasuk penurunan perilaku dan fungsi kognitif. Salah satu penyebab Alzheimer adalah jumlah asetilkolin yang terlalu rendah dalam otak. Hal ini disebabkan oleh pemecahan asetilkolin oleh enzim asetilkolinesterase menjadi bentuk tidak aktifnya. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa dengan aktivitas inhibitor enzim asetilkolinesterase sehingga dapat digunakan untuk mengatasi gejala Alzheimer. Namun, ekstrak pegagan memiliki kelarutan dan bioavailabilitas yang rendah. Sediaan liposom dipilih untuk meningkatkan bioavailabilitas, kelarutan dan dapat diterima dengan baik oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi optimum dan karakterisasi liposom yang mengandung ekstrak herba pegagan serta menguji aktivitas inhibitor enzim asetilkolinesterase dan antioksidan secara in vitro. Pada penelitian, juga dilakukan uji stabilitas untuk mengevaluasi stabilitas liposom ekstrak herba pegagan (LEP) pada suhu 4°C, 25°C, dan 40°C. LEP dibuat dengan metode hidrasi lapis tipis dan dikarakterisasi dengan menentukan ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, morfologi, dan efisiensi enkapsulasi. Pengujian aktivitas inhibitor enzim asetilkolinesterase dilakukan menggunakan metode Ellman sedangkan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Pengujian aktivitas dilakukan pada ekstrak pegagan dan LEP, serta kontrol positif berupa donepezil pada pengujian inhibitor enzim asetilkolinesterase dan asam askorbat pada pengujian antioksidan. Formula liposom optimal yang diperoleh berdasarkan optimasi adalah liposom dengan perbandingan fosfatidilkolin-kolesterol sebesar 2:1 dan ekstrak herba pegagan 1 mg/mL. LEP memiliki ukuran partikel yang sesuai untuk pemberian secara oral, yaitu 113,00 ± 13,49 nm, indeks polidispersitas 0,22 ± 0,08 yang menandakan LEP homogen, zeta potensial –34,09 ± 3,41 mV, pH sediaan 7,40 ± 0,03, berbentuk sferis, dan efisiensi enkapsulasi yang cukup tinggi, yaitu 93,61 ± 3,69%. Sediaan LEP menunjukkan kestabilan secara fisik ketika disimpan pada suhu 4°C selama 14 hari. LEP dapat meningkatkan aktivitas inhibitor enzim asetilkolinesterase sebanyak 6,5 kali dari ekstrak herba pegagan dengan nilai IC50 sebesar 88,50 ± 4,81 ?g/mL. Selain itu, LEP juga dapat meningkatkan aktivitas antioksidan sebanyak 2 kali jika dibandingkan dengan ekstrak herba pegagan dengan nilai kesetaraan sebesar 65,17 ± 4,51 mg asam askorbat dalam 1 gram sampel.

2024
👤 Penulis: Hayfa Clarissa Puan Adira
🏷️ Alzheimer 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPS) PADA PENGOBATAN PASIEN ALZHEIMER DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

Alzheimer merupakan penyakit progresif yang belum diketahui penyebabnya, yang ditandai dengan hilangnya fungsi kognitif dan fisik, umumnya dengan gejala berupa perubahan perilaku. Salah satu faktor risiko Alzheimer adalah usia, yaitu di atas 65 tahun (lansia). Pada lansia dapat terjadi penurunan fungsi tubuh, yang berpotensi menyebabkan munculnya berbagai morbiditas, sehingga pasien memerlukan banyak pengobatan. Dengan banyaknya obat yang digunakan, dapat timbul potensi terjadinya masalah terkait obat atau drug related problems (DRPs), yaitu suatu peristiwa atau keadaan yang melibatkan terapi pengobatan, yang dapat atau berpotensi mengganggu hasil dari terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian DRPs pada pasien Alzheimer di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung tahun 2022-2023. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental observasional dengan rancangan penelitian deskriptif. Data penelitian merupakan data retrospektif yang diambil dari rekam medis pasien periode Januari 2022 hingga Desember 2023. Data yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan klasifikasi PCNE V9.1 dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kejadian DRPs, yaitu 38,10% interaksi obat, 28,57% indikasi tanpa obat, 19,05% instruksi waktu pemberian salah atau kurang jelas, 9,52% regimen dosis tidak cukup sering, 9,52% obat tanpa indikasi, 9,52% subdosis, 4,76% ketidaktepatan tatalaksana, dan 4,76% overdosis. Penyakit penyerta dan jumlah obat yang digunakan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DRPs. Dengan demikian, masih diperlukan pemantauan yang seksama dalam terapi untuk pasien penyakit Alzheimer.

2024
👤 Penulis: Salsabila Andiyanti Putri
🏷️ Alzheimer 🏷️ Drug Related Problems (Drps) 🏷️ Manajemen Obat
đź’¬