📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenEVALUASI METODE PENGUKURAN LATERAL FRACTION (LF) DAN INTERAURAL CROSS-CORRELATION (IACC) BERBASIS MIKROFON AMBISONIK
Evaluasi kualitas akustik ruang tidak hanya ditentukan oleh parameter energi dan peluruhan waktu, tetapi juga oleh parameter spasial yang menggambarkan kesan ruang secara komprehensif. Dua parameter objektif spasial yang esensial berdasarkan standar ISO 3382-1 adalah Lateral Fraction (LF) dan Interaural Cross-Correlation (IACC). Secara konvensional, pengukuran LF menuntut kombinasi mikrofon omnidireksional dan bidireksional yang tersusun secara koinsiden, sedangkan ekstraksi IACC mensyaratkan perangkat binaural fisis seperti Head and Torso Simulator (HATS). Mengingat tingginya keterbatasan biaya, kompleksitas konfigurasi fisis, serta sensitivitas orientasi dari instrumen referensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kelayakan instrumen alternatif yang lebih praktis, yakni mikrofon ambisonik komersial Zoom H3-VR, untuk karakterisasi parameter LF dan IACC. Pengujian fisis dilakukan di dalam Anechoic Chamber Laboratorium Adhiwijogo, Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, guna mengamankan kondisi medan bebas (free-field) tanpa interferensi akustik ruangan. Karakterisasi dilakukan dengan mengakuisisi sinyal eksitasi Exponential Sine Sweep (ESS) yang kemudian dikonversi dari ranah fisis A-format menjadi matriks ortogonal B-format. Kanal W dan Y pada matriks tersebut dialokasikan secara langsung untuk kalkulasi nilai LF, sementara keseluruhan sinyal B-format diproses secara komputasional melalui dekoding binaural untuk mensintesis nilai IACC. Seluruh perolehan nilai dari instrumen ini kemudian dikomparasikan terhadap nilai rujukan analitis dari simulasi medan bebas EASE 5 dengan mengevaluasi selisih deviasi, bias, rentang galat maksimum, serta batas toleransi Just Noticeable Difference (JND). Hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa ekstraksi nilai IACC dari perangkat Zoom H3-VR memiliki tingkat validitas yang tinggi pada pita frekuensi 125–500 Hz, menyentuh batas ambang toleransi pada 1 kHz, dan mulai menyimpang secara signifikan pada pita 2 kHz serta 4 kHz. Tercatat 26 dari 78 titik data pengujian melampaui ambang batas JND, dengan konsentrasi galat tertinggi pada rentang frekuensi 1–4 kHz yang dipicu oleh keterbatasan resolusi First-Order Ambisonics (FOA) serta fenomena spatial aliasing. Pada evaluasi parameter LF, instrumen ini mencatatkan nilai galat keseluruhan yang sangat rendah yakni sebesar 0,035, dengan penyimpangan yang hanya terjadi secara fokal pada sudut 90° di pita frekuensi rendah. Kesimpulannya, Zoom H3-VR terbukti layak difungsikan sebagai instrumen alternatif yang valid untuk pengukuran parameter spasial LF dan IACC pada pita frekuensi rendah hingga menengah, sementara pengukuran IACC pada frekuensi tinggi mensyaratkan koreksi tambahan atau validasi silang dengan instrumen standar ISO 3382.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS RISET MENGGUNAKAN SOFTWARE PRAAT PADA MATERI GELOMBANG BUNYI DENGAN PEMBELAJARAN MENDALAM
Proyek Akhir ini bertujuan mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis riset menggunakan software Praat pada materi Gelombang Bunyi dengan Pembelajaran Mendalam. Studi sebelumnya telah menghasilkan LKPD dengan beragam pendekatan, namun belum ada yang mengintegrasikan analisis akustik melalui Praat dan pendekatan Pembelajaran Mendalam. Pengembangan dilakukan berdasarkan model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) berbasis riset karakteristik akustik suara berdasarkan gender, rhotacism, dan partially edentulous. Khusus pada penyusunan dasar LKPD untuk siswa kelas VIII SMP berdasarkan frekuensi dasar perbedaan gender. Ditemukan perbedaan signifikan pada frekuensi dasar bunyi [a], [ra], dan [r] pada pasangan kelompok siswa laki-laki dan perempuan serta pasangan kelompok siswa laki-laki dengan kondisi partially edentulous dan gigi lengkap (p < 0,001) serta pasangan kelompok siswa laki-laki penderita dan bukan penderita rhotacism (p < 0,05). Selain itu, perbedaan signifikan terjadi antara laki-laki dan perempuan pada forman F1-F2 bunyi yang mengandung vokal (p < 0,05). Adapun kelompok penderita dan bukan penderita rhotacism tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada F3 bunyi [r] (p = 0,626). Adapun kelompok partially edentulous menghasilkan intensitas bunyi yang lebih tinggi dari kelompok gigi lengkap. Hasil validasi LKPD menunjukkan rata-rata skor 4,7 untuk keakuratan konsep, 4,4 untuk penyajian, dan 4,4 ? 0,5 untuk relevansi konsep dengan kategori ketiganya sangat valid. Nilai N-gain yang diperoleh sebesar 0,4 termasuk kategori sedang. Persentase rata-rata dari respons siswa terhadap LKPD sebesar (77,6 ? 10,6)% dengan kategori praktis. Maka, LKPD yang dikembangkan dinyatakan layak, efektif, dan praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran Gelombang Bunyi.
EVALUASI ESTIMASI KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI DARI INSTRUMEN HIDRO-AKUSTIK DAN SAMPEL LAPANGAN.
Tugas akhir ini membahas persamaan empirik hasil dari perbandingan langsung antara intensitas akustik dan sampel lapangan konsentrasi sedimen tersuspensi. Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas gema akustik menjadi konsentrasi sedimen tersuspensi dengan kalibrasi konsentrasi sedimen tersuspensi dari sampel lapangan. Data diperoleh dari tiga lokasi pengukuran yang terletak di pesisir utara pantai Jawa Barat, yaitu Pulau Semak Daun, Muara Gembong, dan Indramayu. Pengukuran dilakukan dengan instrumen hidro-akustik tipe Doppler yaitu AWAC (frekuensi 600kHz) dan Aquadopp? (frekuensi 600kHz dan 1000kHz). Pengambilan sampel air dilakukan pada ketiga lokasi pengukuran untuk mengetahui konsentrasi sampel sedimen tersuspensi. Persamaan empirik dievaluasi dengan membandingkan konsentrasi sampel dan konsentrasi hasil estimasi. Hasil menunjukkan bahwa estimasi konsentrasi tergantung pada frekuensi instrumen yang digunakan dan lokasi pengukuran. Sensitivitas pada instrumen berfrekuensi 1000kHz lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen berfrekuensi 600kHz. Penentuan akurasi berdasarkan tingkat kesesuaian yang diperoleh dengan membandingkan konsentrasi hasil estimasi dan konsentrasi hasil pengukuran dan digolongkan ke dalam faktor dua (nilai perbandingan berada diantara 0,5 dan 2). Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian faktor dua bernilai diatas 60% untuk lokasi pulau Semak Daun dan Muara Gembong, sedangkan untuk daerah Indramayu nilainya masih berada di bawah 60%. Perlu digarisbawahi bahwa hasil estimasi dengan menggunakan persamaan empirik dalam kajian ini bersifat relatif, karena tidak dilakukan kalibrasi karakteristik instrumen dan properti sedimen. Walaupun demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan instrumen hidro-akustik untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi.