πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 8 dokumen

ANALISIS PROGRAM PEMELIHARAAN JALAN TERDAMPAK BANJIR (STUDI KASUS : JALAN PAUH-SAROLANGUN, JAMBI)

In addition to traffic loading, flooding has a significant impact on pavement deterioration. If not promptly addressed, flooding can accelerate pavement deterioration, preventing the road from maintaining its intended level of service throughout its design life. Therefore, flood management should not only focus on evaluating pavement damage but should also include an appropriate maintenance program to preserve pavement performance, optimize the remaining service life, and minimize long term maintenance costs. This study employed the Integrated Road Management System (IRMS) V.3 to develop a road maintenance program based on the structural condition of the pavement. Pavement deflection data and Remaining Service Life (RSL) were used to determine maintenance recommendations using the Decision Tree specified in Bina Marga Guideline No. 07/P/BM/2021. To improve the reliability of the analysis, the RSL obtained from IRMS V.3 was compared with that calculated using the AASHTO 1993 method. In addition, the drainage system performance of floodaffected road sections was evaluated. The maintenance program was then developed under two budget scenarios and two scenarios for the timing of floodcause mitigation. The results indicate that the flooding was not caused by inadequate drainage system performance, as the existing drainage channels along the flood affected road sections were capable of conveying the design flood discharge. The structural evaluation showed that the Remaining Service Life (RSL) estimated using the IRMS V.3 method was more optimistic than that obtained using the AASHTO 1993 method due to differences in the calculation approach, including the use of temperature uncorrected pavement deflection and the exclusion of the subgrade resilient modulus (MR). The analysis of the flood affected road sections indicates that flooding has the potential to accelerate pavement deterioration. However, it cannot be identified as the dominant deterioration factor because accelerated deterioration was also observed in road sections that were not affected by flooding. Based on the maintenance program scenarios, implementing flood cause mitigation in the first year was identified as the most recommended strategy, as it resulted in better pavement performance, reflected by a lower International Roughness Index (IRI), and lower total maintenance costs at the end of the analysis period

2026
πŸ‘€ Penulis: Niana Fitriasari
🏷️ Pengelolaan Jalan 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATRA BERDASARKAN SIMULASI RUNOFF MENGGUNAKAN MODEL VIC (VARIABLE INFILTRATION CAPACITY)

Pulau Sumatra memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi akibat kejadian hujan ekstrem, namun kajian hidrologi di Indonesia masih didominasi pada skala daerah aliran sungai (DAS). Penelitian ini bertujuan mengembangkan pemodelan hidrologi regional menggunakan Variable Infiltration Capacity (VIC) yang dikombinasikan dengan model river routing RAPID untuk menganalisis potensi banjir di Pulau Sumatra. Parameter model dikalibrasi menggunakan algoritma Dynamically Dimensioned Search (DDS) pada DAS Sei Wampu dan divalidasi pada DAS Batanghari tanpa dilakukan kalibrasi ulang untuk mengevaluasi transferabilitas parameter. Hasil kalibrasi menghasilkan NSE sebesar 0,42 dan KGE sebesar 0,60, sedangkan validasi menghasilkan NSE sebesar 0,07 dan KGE sebesar 0,60. Meskipun nilai NSE menurun, nilai KGE yang tetap menunjukkan bahwa model masih mampu merepresentasikan dinamika hidrologi pada DAS yang berbeda. Simulasi regional menunjukkan bahwa distribusi spasial surface runoff memiliki kesesuaian dengan lokasi kejadian banjir pada periode 25–27 November 2025, sehingga surface runoff dapat digunakan sebagai indikator awal potensi banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter hasil kalibrasi memiliki transferabilitas yang baik dan model VIC–RAPID berpotensi digunakan untuk analisis banjir regional pada wilayah dengan keterbatasan data hidrologi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Yasyfa Kharima
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Model Simulasi Runoff

ANALISIS KORELASI FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DAN BENCANA BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG

Cekungan Bandung adalah suatu wilayah dataran tinggi Bandung yang merupakan sebuah zona depresi antar pegunungan yang cukup luas. Cekungan Bandung memiliki luas sekitar 2.300 km2 dan dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih dari 2000 m. Berdasarkan pengamatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung dengan pengamatan GPS dari tahun 2000-2012, kecepatan penurunan muka tanah rata-rata dari tahun berkisar 6,3 cm/tahun dan dapat mencapai 19 cm/tahun di beberapa lokasi. Sedangkan total penurunan muka tanah di titik pengamatan sepanjang tahun 2000-2012, dapat mencapai hingga 229 cm. Penurunan muka tanah yang terjadi di Cekungan Bandung diduga disebabkan oleh pengambilan airtanah, pembangunan bangunan dan infrastruktur, konsolidasi dari tanah berjenis alluvial, dan juga penurunan tanah akibat proses geotektonik. Fenomena penurunan muka tanah ini diduga dapat berakibat memperparah kondisi banjir yang seringkali terjadi di beberapa wilayah sekitar Sungai Citarum yang terdapat pada Cekungan Bandung. Tulisan ini membahas tentang keterkaitan fenomena penurunan muka tanah dengan bencana banjir di Cekungan Bandung.

2026
πŸ‘€ Penulis: Adrian Muchlis Rahmansyah
🏷️ Geotektonika 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Konsolidasi Tanah

KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR DAN MORFOLOGI SUNGAI CIJANGKELOK DESA CIBINGBIN KABUPATEN KUNINGAN

Sungai Cijangkelok merupakan salah satu anak Sungai Cisanggarung yang berada di wilayah hulu. Sungai Cijangkelok melewati dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Banjir akibat luapan Sungai Cijangkelok merupakan salah satu masalah yang sering terjadi khususnya di Desa Cibingbin. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis upaya pengendalian banjir yang paling optimal serta menganalisis perubahan morfologi sungai Cijangkelok akibat upaya pengendalian banjir yang diusulkan. Analisis utama yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu analisis hidroplogi, hidraulika dan morfologi sungai. Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan debit banjir desain rencana dan debit harian. Debit banjir dihitung pada periode ulang 25 tahunan (Q25) dan 50 tahunan (Q50) yang kemudian akan menjadi input dalam simulasi banjir sedangkan debit harian dianalisis dengan metode Sacramento yang akan menjadi input pada simulasi sedimen. Pemilihan Debit Banjir Q25 mempertimbangkan desain penanganan yang dilakukan, sementara Q50 merupakan debit banjir yang pernah terjadi. Kalibrasi debit banjir dilakukan dengan membandingkan debit simulasi Hec-HMS dengan debit banjir pada Pos Duga Air (PDA) Cibendung, begitu juga dengan debit harian Sacramento. Simulasi banjir dan sedimen dilakukan dengan menggunakan program HEC-RAS versi 6.3. Kalibrasi model sedimen dilakukan dengan membandingkan data pengukuran di waktu yang berbeda. Debit banjir Q25 dan Q50 sungai Cijangkelok adalah sebesar 291,7 m3/detik dan 326,10 m3/detik. Pada kondisi eksisting Sungai Cijangkelok tidak mampu menampung dan mengalirkan debit kala ulang 25 dan 50 tahun. Pada kala ulang 25 tahun, terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,51 meter dan luas genangan 29,62 hektar. Sementara pada kala ulang 50 tahun terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,72 meter dan luas genangan 32,65 hektar. Kondisi ini telah divalidasi kesesuaiannya dengan kondisi banjir yang pernah terjadi. Dengan penanganan berupa normalisasi dan tanggul, tidak terjadi limpasan baik debit banjir kala 25 dan 50 tahun, namun akibat adanya segmen penyempitan yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas sungai sehingga terjadi kenaikan elevasi muka air banjir pada segmen ini, serta diikuti dengan peningkatan kecepatan aliran. Kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan lain kedepannya. Penanganan lain yang dapat dilakukan berupa penambahan groundsill maupun melakukan pembebasan lahan pada segmen penyempitan. Kedua alternatif penanganan ini menghasilkan elevasi muka air banjir dan kecepatan aliran yang lebih stabil. Secara keseluruhan, pada kondisi 1, 2, dan 3, tidak terjadi limpasan atau banjir dari Sungai Cijangkelok ke Desa Cibingbin, tereduksi 100%. Pada kondisi debit banjir Q50 terjadi degradasi pada ke-empat kondisi, dengan volume degradasi pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.079 ton, kondisi 2 (tanggul dan normalisasi) sebesar 1.844 ton, kondisi 3 (tanggul perkuatan, normalisasi, dan groundsill) sebesar 316 ton, serta kondisi 4 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 561 ton. Kondisi 3 dan 4 cukup optimal dalam mengurangi degradasi pada pada segmen penyempitan. Pada kondisi harian selama 1 tahun terjadi sedimentasi pada ke-empat kondisi, dengan sedimen tertahan pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.561 ton/tahun, kondisi 1 (tanggul dan normalisasi) sebesar 2.403 ton/tahun, kondisi 2 (tanggul perkuatan, normalisasi dan groundsill) sebesar 15.388 ton/tahun, serta kondisi 3 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 2.608 ton/tahun. Setelah dilakukan normalisasi, cenderung terjadi peningkatan sedimentasi karena sedimen membentuk kesetimbangan baru. Sedimen tertahan terbesar pada kondisi 2 karena sedimen tertahan di hulu groundsill dimana dalam kurun waktu 1 tahun, 2 groundsill sudah dipenuhi sedimen.

2026
πŸ‘€ Penulis: Vika Febriyani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Morfologi Sungai 🏷️ Analisis Banjir

ANALISIS BAHAYA BANJIR DENGAN MODEL HYDRODYNAMIC CAMA-FLOOD DI PULAU KALIMANTAN

Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang sering mengalami banjir, terutama selama musim hujan. Banjir di wilayah ini seringkali membutuhkan waktu lama untuk surut, terkadang berlangsung selama beberapa hari atau bahkan minggu sebelum benar-benar surut. Kondisi ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, karakteristik topografi, bentuk jaringan sungai dan deforestasi yang luas yang telah secara signifikan mengubah sistem hidrologi wilayah tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, analisis bahaya banjir diperlukan untuk mengidentifikasi risiko potensial di wilayah tersebut. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah pemodelan hidrodinamik, yang digunakan untuk mensimulasikan, memprediksi, dan mengevaluasi bahaya banjir pada berbagai skala spasial, termasuk skala global. Studi ini menerapkan model hidrodinamika global CaMa-Flood untuk mensimulasikan bahaya banjir pada skala regional di Kalimantan, Indonesia. Model ini menggunakan data aliran harian (resolusi 0,25Β°) dari data runoff reanalisis ERA5, sementara data jaringan sungai dan topografi diperoleh dari dataset MERIT Hydro dan MERIT DEM. Simulasi dilakukan pada resolusi spasial 1 menit (~1 km), dengan memasukkan mekanisme percabangan saluran dan representasi dataran banjir skala subgrid. Validasi model dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, dengan membandingkan hasil simulasi debit terhadap data observasi dari beberapa stasiun hidrologi utama di Kalimantan. Kedua, dengan membandingkan peta genangan hasil simulasi dengan area banjir yang terdeteksi menggunakan citra radar Sentinel-1 SAR. Hasil validasi menunjukkan bahwa debit rata-rata simulasi cenderung 9–35% lebih tinggi dibandingkan debit observasi, meskipun pola temporal keduanya cukup sejalan. Ketidaksesuaian antara data hasil simulasi ERA-5 dan observasi menunjukkan bahwa perlunya ada faktor koreksi. Pada beberapa stasiun, korelasi (RΒ²) antara simulasi dan observasi meningkat setelah dilakukan koreksi faktor pengali, yang mengindikasikan perbaikan performa model. Dari sisi spasial, peta genangan hasil simulasi CaMa-Flood memperlihatkan area tergenang yang terdistribusi luas di sepanjang sungai utama, rawa, lahan basah, dan dataran banjir. Pola genangan ini secara umum selaras dengan hasil deteksi Sentinel-1, khususnya pada wilayah dataran rendah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Namun, hasil simulasi cenderung menghasilkan luas genangan lebih besar dibandingkan citra satelit. Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh keterbatasan Sentinel-1 dalam mendeteksi genangan dangkal yang tertutup vegetasi atau sawah, keterlambatan waktu satelit terhadap puncak banjir, serta pengaruh speckle noise pada data radar. Sebaliknya, CaMa-Flood menghitung banjir secara kontinu, sehingga mampu menangkap potensi maksimum luapan air sungai. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa CaMa-Flood dapat digunakan secara efektif untuk mensimulasikan banjir di Pulau Kalimantan. Model ini mampu menggambarkan baik dinamika debit maupun distribusi genangan dengan tingkat kesesuaian yang memadai terhadap data observasi dan citra satelit. Meskipun demikian, masih terdapat kebutuhan untuk kalibrasi lebih lanjut, khususnya dalam penyesuaian parameter data input runoff dan hidrolik sungai (lebar, kedalaman, dan koefisien Manning) agar hasil simulasi semakin mendekati kondisi aktual. Dengan demikian, CaMa-Flood berpotensi besar sebagai alat analisis risiko banjir, perencanaan pengelolaan sumber daya air, serta mendukung strategi mitigasi bencana di wilayah tropis dengan keterbatasan data observasi seperti Kalimantan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Adristi Shafiya
🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Model Hydrometeorologi 🏷️ Perencanaan Pengelolaan Sumber Air

PEMODELAN BANJIR BERDASARKAN VARIASI BASEFLOW TERHADAP DEBIT BANJIR DI DAS CITARUM HULU (STUDI KASUS: BANJIR BALEENDAH)

Baleendah merupakan wilayah rawan banjir yang terletak di hilir DAS Citarum Hulu, di mana kejadian banjir berdurasi panjang menjadi permasalahan tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi variasi aliran dasar (baseflow) terhadap karakteristik banjir di wilayah tersebut. Nilai baseflow dipisahkan dari data debit observasi menggunakan metode recursive digital filter dan dikategorikan ke dalam lima skenario kuantil (Q0, Q10, Q50, Q90, dan Q100). Setiap skenario kemudian disimulasikan menggunakan model hidraulika HEC-RAS 2D untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap debit puncak, kedalaman genangan, durasi, dan luas area terdampak banjir.Hasil simulasi model hidrolika HEC-RAS menunjukkan bahwa peningkatan nilai baseflow berbanding lurus dengan peningkatan parameter banjir. Pada seluruh skenario kuantil, baik untuk kejadian banjir tunggal maupun jamak, baseflow yang lebih tinggi menyebabkan debit puncak meningkat, kedalaman genangan melebihi 5 meter, durasi banjir melampaui 900 jam, serta perluasan area terdampak hingga lebih dari 10 kmΒ². Temuan ini menegaskan bahwa baseflow memiliki peran signifikan dalam memperparah dampak banjir dan penting untuk dipertimbangkan dalam strategi mitigasi dan perencanaan pengelolaan banjir di DAS Citarum Hulu khususnya daerah Baleendah

2025
πŸ‘€ Penulis: Fattah Ghiffari
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Model Hec-Ras

ANALISIS KONTRIBUSI PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP BANJIR DI KECAMATAN GEDEBAGE, KOTA BANDUNG

Fenomena Penurunan Muka Tanah (PMT) di Cekungan Bandung telah lama diidentifikasi dengan menggunakan teknik geodetik seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Interferometric Synthetic Arperture Radar (InSAR). Hingga saat ini, fenomena PMT di wilayah ini diduga masih terjadi sehingga berdampak terhadap kondisi infrastruktur, termasuk peningkatan potensi perluasan genangan banjir. Kecamatan Gedebage merupakan salah satu daerah di Cekungan Bandung yang dilaporkan mengalami laju PMT yang signifikan dan kerap mengalami banjir. Banjir hampir selalu terjadi di kawasan ini, terutama ketika curah hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PMT terhadap banjir perkotaan di Kecamatan Gedebage akibat curah hujan tinggi dan luapan debit, melalui analisis berbasis data citra SAR serta pemodelan hidraulik menggunakan HEC-RAS 2D. Penelitian diawali dengan melakukan pemetaan laju PMT secara spasial dan temporal menggunakan metode InSAR berbasis citra Sentinel-1 dari tahun 2016-2023. Hasil dari InSAR kemudian akan divalidasi dengan GNSS. Selanjutnya, informasi laju PMT dari InSAR digunakan untuk menyimulasikan topografi pada beberapa skenario tahun: tahun 2014, tahun 2025, dan tahun 2050. Pemodelan banjir dilakukan menggunakan HEC-RAS unsteady flow dengan mempertimbangkan curah hujan serta debit dengan periode ulang 10 tahun yang kemudian disimulasikan terhadap tiga skenario topografi. Model banjir skenario tahun 2025 divalidasi menggunakan data observasi lapangan dan menggunakan parameter statistik Root Mean Square Error (RMSE) serta koefisien korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju PMT di Kecamatan Gedebage berada pada rentang -0,04 hingga -0,15 m/tahun dengan rata-rata laju penurunan sebesar -0,093 m/tahun. Sementara itu, hasil dari GNSS menunjukkan bahwa laju PMT di kawasan ini sebesar -0,086 m/tahun. Hasil laju PMT yang diperoleh dengan metode InSAR menunjukkan kesesuaian yang baik dengan hasil yang diperoleh dari GNSS dan tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antar keduanya. Hasil pemodelan banjir di HEC-RAS menunjukkan bahwa PMT memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kedalaman genangan. Pada skenario proyeksi tahun 2050, perubahan kedalaman maksimum banjir meningkat hingga 86 cm. Terdapat korelasi yang kuat antara laju PMT dan peningkatan perubahan kedalaman (r = 0,8) yang mengindikasikan hubungan linier yang konsisten antara keduanya. Kontribusi PMT terhadap perluasan genangan juga mulai terlihat signifikan pada kedalaman ?0,4 m dengan peningkatan sebesar +5.99% pada kondisi saat ini (2025) dan meningkat menjadi +9,15% di kondisi mendatang (2050). Perubahan topografi akibat PMT menyebabkan terbentuknya cekungan yang mendorong redistribusi aliran ke wilayah yang lebih rendah sehingga memperbesar konsentrasi genangan dalam.

2025
πŸ‘€ Penulis: Yovani
🏷️ Geodetika 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Model Hidraulik

KAJIAN ANCAMAN BANJIR SUNGAI CITARUM HILIR PROVINSI JAWA BARAT

Sungai Citarum ditetapkan sebagai wilayah sungai strategis nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 dengan kode WS : 02.06.A3 yang berada di wilayah admiistrasi Provinsi Jawa Barat. Bagian dari sungai Citarum yaitu Citarum Hilir dimulai dari pembuangan Waduk Jatiluhur, Purwakarta hingga bermuara di Muara Gembong, Kab. Bekasi. Permasalahan daya rusak air di sunga Citarum Hilir cukup tinggi dikarenakan salah satu anak sungai yaitu sungai Cibeet dengan luas DAS 915 km2 selalu berpotensi untuk mengirimkan debit yang besar saat intensitas hujan tinggi. Pada penelitian ini batasan pemodelan dimulai dari pertemuan Sungai Citarum Hilir dengan sungai Cibeet hingga ke bagian hilir yang berlokasi di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Dengan input debit di bagian hulu yaitu debit operasional Bendung Walahar secara steady sebesar 400 m3/s serta input DAS Cibeet dengan skenario debit berbagai periode ulang yaitu 2 tahun dengan Qp = 1151,9 m3/s; 5 tahun dengan Qp = 1650,9 m3/s; 10 tahun dengan Qp = 20773 m3/s; 25 tahun dengan Qp = 3324,5 m3/s ; 50 tahun dengan Qp = 3661,9 m3/s. Selain itu terdapat input debit lateral inflow atau aliran sungai-sungai kecil di sepanjang sungai Citarum dengan total sebanyak 66 lateral inflow menggunakan metode rasional. Untuk input di bagian hilir memperhitungkan kondisi pasang surut dengan menggunakan tinggi muka air rata-rata dengan besar nilai amplitudo rata-rata setinggi 1,2 m dan termasuk ke dalam tipe pasang surut campuran condong ke harian tunggal. Pada bagian muara pantai utara Jawa termasuk ke dalam kategori perairan laut dangkal. Pada penelitian ini dilakukan analisis kejadian banjir yang terjadi pada tanggal 21 Februari 2021 sebagai verifikasi pemodelan banjir. Metode perhitunan debit yang menggunakan hidrograf metode SCS-CN dengan besar debit sebesar 1131,5 m3/s dengan abntuan perangkat lunak HEC-HMS. Selain itu dilakukan verifikasi menggunakan citra satelit Sentinel 1 dengan hasil akhir berupa hasil model raster dan Sentinel 2 dengan hasil akhir berupa gambar asli . Penggunaan citra satelit ini bisa dijadikan alternatif lain untuk melakukan verifikasi pemodelan genangan banjir dengan membandingkan besar luasan banjir dari hasil citra satelit dan hasil pemodelan. Dalam pemodelan banjir menggunakan perangkat lunak HEC-RAS dan jenis terrain berupa MERIT DEM yang dikoreksi dengan data pengukuran lapangan serta elevasi datum asli yang diturunkan sebesar 2,5 meter. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji besar genangan banjir untuk mendapatkan tingkat ancaman banjir dengan pengaruh kedalaman, kecepatan dan durasi serta mengetahui besar kerugian akibat banjir. Tingkat ancaman banjir di Citarum Hilir terbagi menjadi empat kategori rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banjir menggenangi kawasan pertanian, industri, perumahan, hutan, badan air, jalan utama dan jalan lokal dengan kawasan yang paling tinggi luasan genangan dan tinggi tingkat ancaman banjir yaitu kawasan perumahan warga dan pertanian. Selain itu besar kerugian total untuk seluruh skenario mencapai lebih dari 1 Triliun Rupiah. Dua wilayah tersebut merupakan kawasan yang berpengaruh bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitar sungai Citarum Hilir karena hampir seluruh kawasan didominasi oleh pertanian. Sehingga perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah setempat untuk mampu merencanakan alternatif solusi pengendalian banjir terbaik untuk mengurangi besar kerugian banjir di wilayah terdampak.

2024
πŸ‘€ Penulis: Salsa Alfadhila Permana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Banjir 🏷️ Kecerdasan Buatan
πŸ’¬