📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenSTRATEGI PEMANFAATAN MATERIAL STRATEGIS RADIOAKTIF DOMESTIK UNTUK PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR REAKTOR NUKLIR DI INDONESIA : KAJIAN TEKNIS EKONOMIS DAN KEBIJAKAN
Indonesia memiliki cadangan uranium sebesar sekitar 81.090 ton U?O? dan thorium sekitar 142.000 ton ThO?, serta potensi logam tanah jarang (LTJ) yang besar sebagai produk sampingan pengolahan mineral. Meskipun demikian, hingga saat ini Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya ini secara strategis untuk mendukung program pengembangan energi nuklir nasional. Tesis ini mengkaji strategi teknis, ekonomis, dan kebijakan untuk mewujudkan kemandirian bahan bakar reaktor nuklir berbasis material domestik Indonesia, dengan fokus pada periode 2026–2045. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan analisis tekno-ekonomi kuantitatif dan analisis kebijakan kualitatif. Analisis tekno-ekonomi mencakup perhitungan Levelized Cost of Electricity (LCOE), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Present Value (NPV) untuk tiga jenis reaktor utama: APR-1400 (Korea), VVER-1200 (Rusia), dan ACP- 1000 (Cina). Analisis kebijakan menggunakan kerangka Actor-Network Theory (ANT) dengan Lima Loop Latour untuk memetakan jaringan aktor, artefak, dan institusi yang terlibat dalam pengembangan bahan bakar nuklir domestik. Enam skenario kemandirian bahan bakar dibangun berdasarkan tingkat partisipasi domestik dan konfigurasi rantai pasok. Hasil analisis menunjukkan bahwa ACP-1000 memiliki LCOE terendah sebesar dengan nilai IRR dan NPV tertinggi, diikuti APR-1400 dan VVER-1200 sebagai analisa komparasi berbasis pada PLTN berdaya besar. Namun demikian, pertimbangan geopolitik, rekam jejak transfer teknologi, dan keselarasan dengan ekosistem global menempatkan APR-1400 sebagai pilihan optimal untuk PLTN pertama Indonesia, mengikuti model Barakah UEA. Untuk skenario kemandirian bahan bakar, Skenario B/C (partisipasi domestik front-end/Plus fabrikasi fuel iv (C/menengah)) adalah target kemandirian bahan bakar yang optimal untuk jangka menengah. Skenario B/C (tambang + konversi UF6 domestik; pengayaan dan fabrikasi elemen masih impor (B/Front-end) atau fabrikasi fuel element domestic (C/menengah) memberikan penghematan 30–55% biaya bahan bakar dibanding impor penuh, dengan investasi yang jauh lebih terjangkau dibanding Skenario D-E. Target pencapaian Skenario B/C adalah 2035–2040, dengan first core loading dari uranium domestik diproyeksikan pada 2041–2045. Kemandirian bahan bakar nuklir membutuhkan penutupan lima gap strategis pada 2029–2032. Analisis ANT dengan Lima Loop Latour mengidentifikasi: (L1) gap agenda terkait kemandirian bahan bakar belum eksplisit dalam RUKN; (L2) gap eksperimen berhubungan dengan tidak ada pilot plant konversi UF6 domestik; (L3) gap objektifikasi berkaitan dengan standar nasional fabrikasi bahan bakar belum ada; (L4) gap publikasi berkorelasi dengan komunikasi kebijakan terbatas; dan (L5) gap institusionalisasi mengacu pada tidak ada koordinator tunggal rantai pasok bahan bakar. Penutupan kelima gap ini pada periode 2026–2032 adalah prasyarat untuk kemandirian bahan bakar pada 2040–2045. Penelitian ini merekomendasikan agar Pemerintah Indonesia menetapkan APR-1400 sebagai reaktor prioritas dengan target first core loading pada 2041– 2045, disertai penetapan peta jalan fabrikasi bahan bakar domestik bertahap. BRIN dan Universitas perlu memperkuat kapasitas riset dan sumber daya manusia dalam siklus bahan bakar nuklir, sementara industri perlu membangun konsorsium joint venture fabrikasi bahan bakar domestik yang mencakup PT Perminas, PT INUKI, PT Timah, MIND.ID dan mitra strategis internasional. Terbentuknya Nuclear Fuel Readiness Task Force (NFRTF) yang bertanggung jawab atas peta jalan kemandirian bahan bakar melalui Keputusan Presiden dengan mandat mengkoordinasikan: Kementerian ESDM, BRIN, BAPETEN, PT INUKI, PT Timah, MIND ID, PT Perminas dan Kementerian Keuangan
PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS PRODUK MIX MELALUI COSTING BERBASIS RUTE PRODUKSI: STUDI KASUS PADA INDUSTRI MANUFAKTUR POLYPROPYLENE
Produsen polypropylene menghadapi tekanan berkelanjutan dari volatilitas biaya bahan baku, pergerakan harga pasar, persaingan impor, dan keterbatasan kapasitas produksi. Dalam kondisi tersebut, keputusan product mix tidak hanya memerlukan pertimbangan permintaan dan operasional, tetapi juga visibilitas biaya dan margin kontribusi yang lebih rinci. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka costing berbasis route-level untuk mendukung perencanaan bauran produk yang mempertimbangkan margin pada perusahaan manufaktur polypropylene. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kuantitatif pada PT PRP, berdasarkan data sekunder internal periode 2024, yang mencakup data produksi, pemetaan grade-formula-route, Bill of Materials, konsumsi utilitas, data costing, dan data harga jual. Kerangka yang diusulkan mengombinasikan Bill of Materials dan logika Activity-Based Costing untuk menghitung variable cost dan route-sensitive pada tingkat grade-formula-route. Sebanyak 36 kombinasi grade-formula-route dianalisis dan dibandingkan dengan metode costing saat ini yang berbasis grade-level. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan margin kontribusi antara metode costing saat ini dan metode ABC-BOM yang diusulkan berkisar kurang dari USD 1 per ton hingga lebih dari USD 17 per ton. Hal ini menunjukkan bahwa grade-level costing dapat mengaburkan perbedaan biaya dan margin yang disebabkan oleh variasi formula dan rute produksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa route-level costing dapat mendukung pengambilan keputusan manajerial dengan membantu PT PRP menyeimbangkan komitmen permintaan, kelayakan operasional, dan prioritas margin dalam perencanaan product mix.
PERENCANAAN METODE PELAKASANAAN KONSTRUKSI PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG LABORATORIUM TEKNIK 1B ITB JATINANGOR
Perencanaan metode konstruksi merupakan hal yang penting dalam perancangan proyek konstruksi karena berkaitan langsung dengan penentuan durasi dan biaya konstruksi proyek yang dijelaskan terpisah. Perencanaan dimulai dengan pembuatan Work Breakdown Structure (WBS) dilanjutkan dengan menghitung kuantifikasi volume pekerjaan dan merancang metode konstruksi sesuai gambar dan spesifikasi proyek. Perencanaan metode diawali dengan pekerjaan persiapan yang kemudian dilanjutkan pekerjaan tanah yang terdiri dari pekerjaan galian dan timbunan. Pekerjaan dinding penahan tanah dilakukan setelah pekerjaan galian. Pekerjaan pondasi terdiri dari pekerjaan pondasi tiang pancang dan pile cap yang pekerjaannya dimulai dari utara gedung dan berakhir pada timur gedung. Pekerjaan struktur atas terdiri dari struktur baja dan struktur beton yang menggunakan struktur beton bertulang dengan metode cast in situ. Selain itu direncanakan pula pekerjaan arsitektural dan finishing yang meliputi pekerjaan dinding, pekerjaan lantai, pekerjaan kusen, pekerjaan plafond, dan pekerjaan pengecatan.
DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PUTAR PELABUHAN PONDOK DAYUNG TANJUNG PRIOK, JAKARTA
Pelabuhan Pondok Dayung merupakan pelabuhan yang dikelola oleh TNI AL berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta. Pada tahun 2025, Pelabuhan Pondok Dayung mampu menampung kapal kelas LPD dengan panjang (LOA) 122 meter, lebar (B) 22 meter, dan draft (D) 4,9 meter. Kondisi kedalaman perairan eksisting Pelabuhan Pondok Dayung rata-rata berkisar antara 6 – 7 meter dari LLWL. Pelabuhan Pondok Dayung direncanakan mampu menampung kapal dengan dimensi yang lebih besar, oleh karena itu pada Tugas Akhir ini akan dilakukan desain layout dan perencanaan pekerjaan pengerukan alur pelayaran dan kolam putar baru. Bahasan yang ada pada Tugas Akhir ini meliputi desain layout alur pelayaran dan kolam putar, estimasi volume keruk, estimasi durasi pekerjaan pengerukan, dan estimasi biaya pekerjaan pengerukan. Setelah melalui proses desain, didapatkan dimensi alur pelayaran dengan kedalaman 8 meter dari LLWL, lebar 99 meter, dan kemiringan tanah dasar perairan 1:1,5. Untuk kolam putar kedalamannya disamakan dengan alur pelayaran yaitu 8 meter dari LLWL serta diameternya sebesar 376,5 meter. Dengan menggunakan metode cross section, diperoleh estimasi volume keruk sebesar 328.053,373 m3. Pada perencanaan pekerjaan pengerukan ini, dibuat dua skenario, yaitu pengerukan menggunakan kapal backhoe dredger serta pengerukan menggunakan kapal CSD.
DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN MAKASSAR NEW PORT
Makassar New Port dirancang untuk meningkatkan kapasitas logistik dan perdagangan di kawasan timur Indonesia, dengan fasilitas modern yang mampu melayani kapal-kapal besar dan aktivitas bongkar muat skala besar. Target kedalaman Pelabuhan Makassar New Port (MNP) direncanakan mencapai 15 meter (LWS). Kedalaman ini memungkinkan pelabuhan untuk menampung kapal-kapal besar, termasuk kapal peti kemas berukuran besar (post-panamax), sehingga meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional pelabuhan. Dengan kedalaman tersebut, MNP diharapkan dapat menjadi hub maritim utama di kawasan timur Indonesia dan mendukung peningkatan arus perdagangan internasional. Kapal ini memiliki draft sebesar 13.5 meter. Sedangkan, kedalaman perairan di Pelabuhan ini ada di kisaran 6-15 meter. Oleh karena itu, dibutuhkan pengerukan dasar perairan untuk menambah kedalaman di Makassar New Port. Alur pelayaran hasil perancangan memiliki lebar sebesar 287 meter. Sedangkan, untuk kolam putar memiliki diameter sebesar 570 meter. Dasar perairan setelah perhitungan memiliki kedalaman 15 meter dan slope sebesar 25° dari garis horizontal. Dari hasil perhitungan volume pengerukan menggunakan metode cross section, didapatkan volume total sebesar 1,551,511.13 m3. Hasil material keruknya akan dialokasikan ke dumping area sesuai dengan syarat dari perundang-undangan. Pengerukan akan di-plot dengan 3 skenario dimana akan dikerjakan oleh 1 buah kapal TSHD King Athur 8,1 buah kapal TSHD King Richard 8,dan 1 buah TSHD Shoreway dengan durasi pekerjaan masing-masing selama 147 hari kerja, 239 hari kerja dan 465 hari kerja. Pekerjaan pengerukan ini memerlukan estimasi biaya masing-masing sebesar Rp276,141,455,673 atau sekitar Rp177,983/m3, Rp447,246,447,799 atau sekitar Rp288,265/m3, dan Rp296,101,527,942 atau sekitar Rp190,847/m3.
ANALISA MENINGKATNYA COST PER BARREL DI ZONA 14, REGIONAL 4, PT PERTAMINA EP CEPU
Zona 14 Regional 4 PT. Pertamina EP Cepu (PT. PEPC) berdiri pada tanggal 1 April 2021 bersamaan dengan Go Live Transformasi Sub Holding Upstream. Zona 14 Regional 4 PT. PEPC memiliki wilayah kerja di area kepala burung Papua bergerak di bidang minyak dan gas bumi. Zona 14 sendiri memiliki 1 (satu) Wilayah Kerja sebagai operator yaitu Field Papua. Produksi minyak Field Papua didapatkan dari 3 (tiga) struktur utama yaitu Klamono, Salawati dan Sele Linda. Zona 14 sendiri menghadapi situasi dinamis terkait dengan penurunan produksi, cost per barrel tinggi, penurunan pendapatan, peningkatan kerugian dan peningkatan biaya produksi. Menggunakan Fishbone Diagram atau Cause and Effect Diagram untuk mengidentifikasi akar penyebab dari suatu permasalahan, mendapatkan ide-ide yang dapat memberikan solusi untuk pemecahaan suatu masalah serta membantu dalam pencarian dan penyelidikan fakta lebih lanjut. Akar penyebab permasalahan dari tingginya Cost per Barrel seperti tingginya biaya gaji karyawan, biaya bahan bakar, biaya maintenance dan laju penurunan produksi Field Papua. Selain itu, dengan menggunakan SWOT analysis dan TOWS analysis untuk mencari solusi terpilih. Studi analisis peningkatan biaya produksi per unit Field Papua akan digunakan untuk menghitung rasio produktifitas. Rasio produktifitas ini didapatkan dari biaya produksi selama setahun dibagi dengan kumulatif equivalen produksi minyak dan gas dalam setahun. Upaya-upaya yang akan dilakukan untuk menekan Cost per Barrel seperti mengurangi biaya pemeliharaan, meminimalisir Loss Production Opportunity (LPO), melepas struktur Sele Linda yang kurang ekonomis yang menjadi beban besar bagi perusahaan, melaksanakan komitmen Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), dan mencari peluang pengembangan bisnis gas. Rencana pada tahun 2025 Proyek Blok Masela akan masuk ke Zona 14 dan akan on stream pada tahun 2030 dimana di dalam proyek tersebut Participating Interest (PI) Pertamina sebesar 20%. Proyek ini diperkirakan akan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun dan sekitar 35 ribu barel kondensat per hari. Proyek ini juga akan memasok 150 juta kaki kubik gas alam per hari melalui pipa untuk memenuhi kebutuhan gas alam lokal. Kondisi ini diharapkan dapat memperbaiki rasio produktifitas Zona 14.
ANALISIS BIAYA OPTIMUM TERHADAP PERCEPATAN JADWAL PROYEK (STUDI KASUS: PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DR HASAN SADIKIN BANDUNG)
Indonesia, dengan lebih dari 275 juta penduduk, menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan infrastruktur akibat bentuk geografisnya yang kepulauan. Pemerintah Indonesia telah berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 guna mendukung Visi Indonesia Emas 2045, termasuk memperkuat infrastruktur kesehatan. Penelitian ini fokus pada akselerasi jadwal proyek Pembangunan Pusat Pelayanan Ibu dan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, khususnya pada pekerjaan struktural seperti balok, kolom, pelat, dan dinding geser. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi alternatif percepatan yang dapat diterapkan, serta menganalisis dampaknya terhadap jadwal proyek konstruksi. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data empiris untuk mengembangkan model optimalisasi penjadwalan proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tidak langsung tidak signifikan terhadap biaya optimal percepatan proyek, dengan persentase antara 4-6%. Skenario optimal ditemukan pada alternatif floor-to-floor 6 hari dengan tambahan biaya per hari Rp302.206.723,20 atau 0.397% dari total biaya dalam kondisi normal. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengelolaan proyek konstruksi melalui pendekatan deduktif dan analisis kuantitatif, yang dapat membantu praktisi dan peneliti meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan proyek.
USULAN MODEL PERHITUNGAN DAN PERBAIKAN PROSES BISNIS PADA PENYUSUNAN HARGA PERKIRAAN SENDIRI (HPS) UNTUK IMPOR BAHAN BAKU PUPUK NPK MELALUI PENGADAAN TERSENTRALISASI
PT Pupuk Kujang (PKC) melakukan pemenuhan kebutuhan bahan baku untuk produksi pupuk NPK, sebagian besar diperoleh dari proses impor (68,28% dari harga pupuk NPK berasal dari biaya pembelian bahan baku secara impor). Pengadaan bahan baku secara impor dilakukan menggunakan sistem pengadaan tersentralisasi di PT Pupuk Indonesia (PIHC) sebagai induk perusahaan. Proses pengadaan bahan baku secara impor yang dilakukan PIHC dimulai dari proses perencanaan sampai dengan proses tender selesai. Pada proses perencanaan dilakukan penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk melakukan evaluasi penawaran dan negosiasi harga kepada calon Supplier. Sehingga proses penyusunan HPS memiliki peran penting, apabila HPS jauh lebih rendah dari nilai perolehan tender maka proses tender harus diulang (retender) atau akan dilakukan penyesuaian anggaran pembelian (rebudgeting). Sebaliknya jika HPS jauh di atas nilai perolehan tender maka terjadi pemborosan dalam penggunaan anggaran pembelian (over budgeting). Pada sistem sentralisasi yang diterapkan PIHC penyusunan HPS dilakukan melalui dua tahap, yaitu penyusunan HPS awal oleh PKC dan penyusunan HPS tender oleh PIHC. Pada penyusunan HPS awal dan HPS tender terdapat proses kerja yang sama atau berulang yaitu pada kegiatan mencari sumber data sebagai referensi pembentuk HPS dan perhitungan komponen-komponen biaya pembentuk HPS. Proses yang sama atau berulang tersebut terjadi karena tidak adanya standar atau kesepakatan antara PKC dan PIHC dalam penyusunan HPS, sehingga waktu proses perencanaan menjadi lama. Penyusunan HPS awal oleh PKC harus dilakukan karena PKC adalah pemilik anggaran pembelian dan sebagai acuan input data anggaran pada sistem. Meskipun PKC sudah menyusun HPS yang sudah sesuai dengan kriteria tender, pencarian sumber data dan perhitungan ulang tetap dilakukan kembali oleh PIHC. Hal tersebut dimaksudkan agar HPS masih relevan untuk digunakan pada saat tender. Tujuan dari penelitian ini adalah mengusulkan model perhitungan (pengembangan model matematis), menyusun alur proses atau langkah-langkah pembuatan HPS dan membuat format standar HPS bahan baku impor untuk perbaikan proses bisnis penyusunan HPS. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas mengenai pembentukan harga (pricing), usulan pengembangan model matematis pada penelitian ini mempertimbangkan biaya angkutan laut (freight), jenis incoterm yang digunakan dan metode pembayaran menggunakan Letter of Credit (LC). Model usulan ini digunakan untuk mencari nilai minimum dari komponen pembentuk harga yang mendekati harga pasar dan sesuai dengan kriteria tender. Sehingga didapatkan penghematan dari anggaran pembelian. Dari pengembangan model matematis yang diusulkan didapatkan alur dan standar proses penyusunan HPS baru yang akan digunakan sebagai dasar perbaikan proses bisnis penyusunan HPS. Dengan menggunakan streamlining pada model Business Process Improvement (BPI) oleh Harrington (1991) dan dilakukan proses eliminasi aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah, penyederhanaan proses kerja dan mengurangi waktu proses. Nilai HPS minimum yang dihasilkan dari model usulan adalah dengan memilih pengiriman dalam bentuk curah, pembayaran menggunakan LC UPAS, incoterm CFR dan menetapkan pelabuhan bongkar di pelabuhan Tanjung Priok. Model HPS usulan dapat memberikan total penghematan anggaran sebesar 56,38% atau sebesar Rp. 35.674.605.957,- jika dibandingkan dengan model HPS existing. Kemudian dilakukan perbandingan keakuratan antara model penyusunan HPS usulan dengan existing menggunakan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) terhadap nilai hasil tender (data untuk validasi). Didapatkan hasil model usulan memiliki keakuratan yang lebih baik dibandingkan dengan model existing, dengan nilai MAPE HPS usulan sebesar 6,91% dan model existing memiliki nilai MAPE sebesar 16,11% terhadap nilai tender. Pada perbaikan proses bisnis dilakukan simulasi dengan Business Process Management Notation (BPMN) untuk menganalisis waktu kerja. Hasil dari simulasi perbaikan proses bisnis, diperoleh penghematan waktu kerja sebesar 36,82%. Perbaikan tersebut dilakukan dengan menghilangkan aktivitas pencarian sumber data dan perhitungan ulang HPS pada perencana bahan baku dan jasa forwarding PIHC.