📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)
Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.