📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 10 dokumen

PEMODELAN INVERSI 3D ANOMALI TIME-LAPSE MICROGRAVITY MENGGUNAKAN METODE STOKASTIK PADA LAPANGAN “ARUNIKA

Aktivitas produksi hidrokarbon menyebabkan perubahan distribusi fluida reservoir yang berdampak pada perubahan massa bawah permukaan, yang dapat dipantau menggunakan metode time-lapse microgravity (TLM) karena metode ini sensitif terhadap perubahan densitas. Penelitian ini bertujuan memodelkan distribusi perubahan densitas fluida reservoir pada Lapangan Arunika menggunakan inversi stokastik tiga dimensi, dengan tahap awal berupa pemodelan sintetik untuk tiga skenario mekanisme produksi, yaitu solution gas drive (???????? = ?0,015 ????/ ????????³), gas cap drive (???????? = ?0,0075 ????/????????³), dan water drive (???????? = +0,005 ????/????????³), yang selanjutnya diikuti oleh pengolahan dan inversi data anomali TLM lapangan. Hasil pemodelan sintetik menunjukkan bahwa perubahan densitas negatif menghasilkan anomali gravitasi negatif, sedangkan perubahan densitas positif menghasilkan anomali gravitasi positif. Pada data lapangan, peta anomali TLM menunjukkan nilai sekitar ?0,0030 hingga +0,0009 mGal dan didominasi oleh anomali negatif. Hasil inversi stokastik menunjukkan perubahan densitas minimum sebesar ?0,063036 g/cm³, maksimum sebesar +0,047953 g/cm³, rata-rata sebesar ?0,001463 g/cm³, dan simpangan baku sebesar 0,006996 g/cm³, dengan nilai rata-rata negatif yang mengindikasikan dominasi penurunan densitas bawah permukaan, sejalan dengan pola anomali gravitasi negatif pada data lapangan. Nilai misfit menurun dari sekitar 0,045 mGal menjadi 0,018–0,021 mGal dan relatif stabil hingga akhir iterasi. Distribusi perubahan densitas negatif terutama terlihat pada kedalaman 450 m dan 550 m, dan overlay dengan data sumur produksi menunjukkan bahwa beberapa sumur berproduksi tinggi berada dekat dengan zona densitas negatif, yang mengindikasikan bahwa zona perubahan densitas negatif berkaitan dengan deplesi fluida reservoir akibat aktivitas produksi hidrokarbon.

2026
👤 Penulis: Risa Rismawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KAJIAN SEMBILAN KOMPONEN PASUT UTAMA TERHADAP PENDEFINISIAN CHART DATUM DI INDONESIA

Selama ini pendefinisian chart datum di Indonesia menggunakan sembilan komponen pasut utama (M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, M4, dan MS4) yang diperoleh dengan menggunakan metoda Admiralty yang diadopsi sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Kenyataannya adalah komponen-komponen gaya pembangkit pasut yang sudah diketahui adalah lebih dari 300 komponen. Dalam tugas akhir ini dikaji sembilan komponen tersebut sejauh mana pengaruhnya terhadap penentuan chart datum di Indonesia yang memiliki karakteristik perairan yang beragam. Untuk mengetahui pengaruh komponen-komponen pasut tersebut hal-hal yang dilakukan adalah mencari komponen pasut yang dominan, setelah mengetahui mana komponen pasut dominan maka ditentukan chart datum sesuai dengan standar IHO (Organisasi Hidrografi Internasional). Chart datum yang sudah didefinisikan kemudian diuji dengan chart datum hasil hitungan dan diuji dengan nilai air rendah hasil prediksi. Hasil dari pengujian adalah chart datum yang sudah didefinisikan dapat digunakan untuk perairan di Indonesia, chart datum tersebut identik dengan penentuan chart datum menggunakan cara yang direkomendasikan IHO di antara lima komponen dan enam komponen. Penentuan chart datum di Indonesia menggunakan paling sedikit lima komponen pasut. Kesimpulan akhir yang dapat diambil adalah terdapat lima komponen pasut dominan mempengaruhi penentuan chart datum yaitu komponen M2, K1, S2, O1, dan P1.

2026
👤 Penulis: Firman Sunu Wibowo
🏷️ Geodesi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Data Geofisika

RELOKASI HIPOSENTER DENGAN METODE DOUBLE DIFFERENCE MENGGUNAKAN DATA KATALOG DAN KORELASI SILANG WAVEFORM PADA LAPANGAN PANAS BUMI

Lapangan Panas Bumi “Severa” berada pada wilayah yang memiliki potensi energi panas bumi dengan aktivitas seismik yang signifikan. Penentuan hiposenter seringkali berbeda dari lokasi sebenarnya karena dipengaruhi oleh penentuan waktu tiba gelombang, model kecepatan, dan nonlinearitas gempa sehingga perlu dilakukan relokasi hiposenter. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi hiposenter melalui relokasi hiposenter dengan metode doubledifference serta mengidentifikasi keberadaan klaster event mikroseismik dan keterkaitannya dengan mekanisme sumber dan struktur geologi Lapangan Panas Bumi ”Severa”. Korelasi silang waveform diterapkan pada 80 event mikroseismik yang tersebar pada bagian Barat (injeksi) dan Timur (produksi) area penelitian untuk memperbaiki waktu tiba gelombang berdasarkan kesamaan gelombang. Relokasi hiposenter dilakukan dengan menggunakan data katalog dan korelasi silang untuk menentukan posisi relatif dari hiposenter. Prinsip metode double difference adalah dengan membandingkan dua hiposenter yang berdekatan terhadap stasiun perekaman dengan asumsi bahwa jarak kedua hiposenter yang berdekatan harus lebih dekat daripada jarak hiposenter ke stasiun perekaman. Pasangan beda waktu tiba katalog dibentuk pada program ph2dt, korelasi silang waveform diterapkan dengan kriteria CC > 0.7, dan relokasi hiposenter dilakukan pada perangkat lunak hypoDD. Relokasi hiposenter dengan kombinasi data katalog dan korelasi silang berhasil dilakukan pada 78 event. Distribusi hiposenter yang telah direlokasi menunjukkan pola yang lebih mengelompok dibandingkan hiposenter awal serta kedalaman event menjadi lebih dangkal yaitu pada kedalaman 0-4 km. Parameter yang digunakan pada relokasi hiposenter sudah sesuai dengan menghasilkan nilai ketidakpastian pada komponen horizontal menjadi 300 m dan vertikal menjadi 400 m. Klaster Timur membentuk tren hiposenter dengan orientasi Timur Laut-Barat Daya yang menunjukkan bahwa klaster tersebut dipengaruhi oleh struktur yang berorientasi Timur Laut-Barat Daya dengan kemiringan ke arah Utara. Klaster Barat menunjukkan persebaran hiposenter yang lebih acak yang dipengaruhi oleh terbentuknya zona depresi akibat aktivitas injeksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan korelasi silang waveform dapat meningkatkan kualitas relokasi secara signifikan dan mendukung interpretasi bawah permukaan lebih detail

2026
👤 Penulis: Haniva Saydina
🏷️ Seismologi Bumi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Geofisika

APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER SYSTEM (MBES) UNTUK KEPERLUAN BATIMETRIK

Standar ketelitian survei hidrografi untuk orde spesial (2008) mensyaratkan penggunaan teknologi multibeam. Di Indonesia penggunaan teknologi multibeam masih terkendala terhadap jumlah dan penguasaan alat (sumber daya manusia). Pemahaman serta penguasaan teknologi multibeam ini merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu di masa mendatang dalam tuntutan kebutuhan survei hidrografi (orde spesial) di Indonesia akan semakin meningkat. Dalam skripsi ini akan dikaji tentang aplikasi Multibeam Sonar Echosounder System (MBES) tipe SIMRAD EM 3002 berdasarkan buku-buku petunjuk (manual), studi literature serta para nara sumber, melakukan uji coba lapangan (sea trial) serta pengolahan sampel data didalam menghasilkan data yang bebas dari kesalahan sistematik maupun blunder. Tujuan penulisan dimaksudkan untuk memperkenalkan teknologi Multibeam Sonar Echosounder (MBES) untuk berbagai keperluan sesuai prosedur survei batimetrik dan kalibrasi yang tepat.

2026
👤 Penulis: DENNY KURNIA SASMITA (NIM 15104062)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Teknologi Perkapalan 🏷️ Analisis Data Geofisika

OPTIMASI MODEL GEOMETRI SISA HASIL PENGOLAHAN TIMAH ALUVIAL MENGGUNAKAN METODE CO-SIMULATION BERDASARKAN DATA PEMBORAN DAN GEOFISIKA

Sisa hasil pengolahan (SHP) merupakan hasil akhir dari pengolahan dimana seiring dengan penurunan kadar bijih yang ada di alam maka volume SHP yang dihasilkan akan semakin meningkat. Selain hanya sebagai limbah, umumnya SHP banyak mengandung material yang berharga. Dalam material SHP timah aluvial terdapat mineral yang dikenal dengan mineral ikutan timah (MIT) dan salah satunya adalah pasir kuarsa. Pasir kuarsa yang diperoleh pada penambangan timah aluvial memiliki kelimpahan kandungan silika yang cukup tinggi, dimana saat ini pasir kuarsa merupakan bahan galian industri yang cukup banyak dimanfaatkan untuk keperluan konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan atau memodelkan kondisi bawah permukaan dan mengestimasi potensi kelimpahan pasir kuarsa yang ada pada SHP timah aluvial. Metode yang digunakan untuk memodelkan bawah permukaan dalam penelitian ini adalah metode Ground Penetrating Radar (GPR) dan metode pemboran. Kedua metode tersebut diintegrasikan dengan bantuan metode geostatistik untuk mendapatkan model bawah permukaan yang optimum dan rinci. Model dan estimasi tonase yang akurat perlu memerhatikan aspek ketidakpastian dan menghindari efek smoothing, di mana analisis aspek tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan teknik geostatistik yaitu simulasi. Salah satu metode simulasi yang ada adalah metode Sequential Gaussian Co-simulation (SGCS). Data pemboran digunakan sebagai variabel primer dan data GPR sebagai variabel sekunder dalam inputan metode SGCS. Data GPR yang didapatkan memiliki resolusi yang cukup baik dalam memetakan kondisi bawah permukaan khususnya dalam penentuan batas antara lapisan SHP dan lapisan bedrock. Hasil simulasi metode SGCS memberikan model geometri SHP yang optimum dan aktual berdasarkan 100 realisasi yang selanjutnya dikelompokkan menjadi 4 kelompok data berdasarkan persentil (P25, P50, P75, dan P90). Kelompok data P50 memberikan korelasi yang sangat kuat serta didukung dengan nilai evaluasi error (ME, MAE, dan RMSE) yang paling kecil terhadap data pemboran. Total estimasi pasir kuarsa yang terdapat pada blok penelitian di Pulau Bangka, yaitu sebesar 23.816.000 m3 sedangkan blok penelitian di Pulau Belitung, yaitu sebesar 26.525.000 m3.

2025
👤 Penulis: Petryan Paulus Pangihutan
🏷️ Geostatistik 🏷️ Optimasi Model Geometri 🏷️ Analisis Data Geofisika

INVERSI NON-LINEAR MAGNETOTELURIK 2D BERBASIS ELEMEN HINGGA ADAPTIF MENGGUNAKAN METODE BROYDEN

Magnetotelurik (MT) merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan sumber medan elektromagnetik alami (pasif) yang dapat memberikan informasi mengenai distribusi konduktivitas listrik bawah permukaan bumi. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur medan listrik dan medan magnet alami yang bervariasi terhadap waktu di permukaan. MT telah diakui secara luas sebagai salah satu metode geofisika yang paling efektif untuk eksplorasi panas bumi, karena kemampuannya dalam memetakan distribusi konduktivitas listrik bawah permukaan secara langsung. Meski demikian, interpretasi MT menghadapi tantangan yang signifikan di mana proses inversi data MT bersifat non-linear, illposed, dan menuntut biaya komputasi yang tinggi, terutama untuk pemodelan tiga dimensi (3D). Studi ini secara fundamental berfokus pada pengembangan dan implementasi sebuah program inversi MT 2D yang efisien dan andal. Pendekatan 2D dipilih sebagai fokus utama karena efisiensinya yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendekatan 3D. Kontribusi utama dari studi ini terletak pada integrasi beberapa inovasi metodologi yang spesifik. Inversi dilakukan dengan skema inversi non-linear Occam yang diimplementasikan menggunakan pendekatan elemen hingga (FEM) berbasis mesh segitiga yang adaptif. Untuk mengatasi akurasi pada area dengan topografi kompleks seperti lapangan panas bumi, dikembangkan sebuah alur kerja pra-pemrosesan data lapangan yang sistematis. Untuk meningkatkan resolusi pada zona target tanpa mengorbankan efisiensi, penelitian ini menerapkan desain mesh elemen hingga yang adaptif, di mana grid vertikal dibuat jauh lebih rapat di dekat permukaan dan lebih renggang di kedalaman. Untuk mencapai efisiensi komputasi, diimplementasikan skema quasi-Newton. Skema ini menghitung matriks Jacobian di awal, kemudian untuk ribuan iterasi berikutnya, matriks tersebut diperbarui secara cepat menggunakan metode Broyden, sebuah pendekatan yang secara signifikan menghemat waktu dan mengurangi memori komputasi sehingga memungkinkan dilakukannya iterasi dalam jumlah besar. Data yang digunakan pada proses inversi adalah data sintetik dan data lapangan. Kinerja program divalidasi melalui serangkaian uji pada data sintetik. Berbagai model geologi berupa model bumi homogen, model bumi berlapis (konduktif-resistif dan resistif-konduktif), dan model kontak vertikal (konduktif-resistif dan resistif-konduktif) diuji dengan dan tanpa topografi. Validasi program pada beragam model sintetik menunjukkan kemampuan merekonstruksi struktur asli dengan RMSE < 1.5. Proses inversi pada data sintetik ini menggunakan iterasi sebanyak 300 kali untuk inversi modus TE maupun modus TM dan iterasi sebanyak 500 kali untuk joint inversion TE-TM, toleransi 0.01 dan pengali Lagrange 1000. Berdasarkan hasil, modus TE lebih responsif terhadap struktur resistif dan perubahan resistivitas secara lateral. Sedangkan modus TM lebih responsif terhadap keberadaan lapisan konduktif secara vertikal. Hasil analisis mengonfirmasi bahwa joint inversion TETM dalam mengurangi ambiguitas dibandingkan model modus tunggal. Sebagai validasi akhir, program diaplikasikan pada data lapangan dari sepuluh titik MT di area panas bumi Patuha. Dengan menjalankan inversi hingga 1000 iterasi, model joint inversion TE-TM berhasil memperoleh misfit RMSE yang cukup kecil (0.203 untuk resistivitas dan 0.174 untuk fasa). Interpretasi geologis dari model akhir secara jelas menunjukkan zona konduktif dangkal (< 10 ?m) pada kedalaman 500 – 1500 m yang diinterpretasikan sebagai lapisan cap rock yang umum pada sistem panas bumi. Di bawahnya, teridentifikasi zona dengan resistivitas menengah yang berpotensi sebagai zona reservoir. Hasil ini konsisten dengan inversi 1D sebelumnya. Hasil–hasil ini membuktikan bahwa program yang dikembangkan merupakan perangkat yang valid, efisien, dan tangguh untuk karakterisasi bawah permukaan yang kompleks. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mengembangkan sebuah program inversi MT 2D dari dasar yang terbukti valid, efisien dari segi komputasi, dan andal untuk karakterisasi struktur konduktivitas bawah permukaan pada kasus-kasus di mana asumsi 2D dapat dibenarkan, seperti pada survei satu atau dua lintasan dan pada area dengan arah jurus geologi yang dominan.

2025
👤 Penulis: Elfitra Desifatma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Desain Mesh Adaptif

PEMANTAUAN SECARA KOMPREHENSIF DEFORMASI BENDUNGAN JATILUHUR

Bendungan Jatiluhur merupakan infrastruktur yang berperan dalam penyediaan air, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir di Jawa Barat. Stabilitas struktur bendungan menjadi sangat penting untuk memastikan keamanan operasionalnya. Proyek ini bertujuan untuk melakukan pemantauan deformasi secara komprehensif di Bendungan Jatiluhur dengan menggunakan metode Interferometric Satellite Aperture Radar (InSAR), terestris, inklinometer, dan satu metode baru yang menjadi luaran dari proyek ini, yakni pemantauan dengan Global Navigation Satellite System (GNSS) berbiaya rendah. Hasil pemantauan metode-metode tersebut digunakan sebagai dasar analisis deformasi Bendungan Jatiluhur berupa besaran, kecepatan, dan arah deformasi yang disimpan dalam satu sistem Basis Data Pemantauan Deformasi Bendungan Jatiluhur tahun 2016- 2025. Basis data memuat data displacement dan settlement pada masing-masing metode pemantauan berdasarkan data-data yang telah diolah relatif terhadap posisi referensinya. Berdasarkan hasil analisis data, settlement yang terjadi berada pada rentang 0,02 – 0,84 cm/tahun menggunakan metode sipat datar dan 0,04 – 1,09 cm/tahun menggunakan metode InSAR. Displacement yang terjadi berada pada rentang 0,02 – 0,39 cm/tahun menggunakan metode terestris dan 0,009 – 0,41 cm/tahun menggunakan metode InSAR. Displacement pipa pemantauan berada pada rentang 0,23 – 2,49 cm/tahun menggunakan metode inklinometer. Displacement dan settlement yang terjadi di Bendungan Jatiluhur tergolong pada batas aman karena berada di bawah ambang batas bahaya deformasi berdasarkan standar International Commission on Large Dams (ICOLD), Clements, dan United State Bureau of Reclamation (USBR). Data displacement dan/atau settlement dikorelasikan dengan tinggi muka air dan hasilnya menunjukkan korelasi yang lemah hingga kuat. Hasil pemantauan deformasi disimpan dalam satu sistem basis data dalam format Structured Query Language (SQL) sesuai standar International Organization for Standardization (ISO) 19156 dan ISO 8601. Pembangunan sistem GNSS berbiaya rendah dimulai dengan pembuatan receiver yang terdiri dari komponen penerima sinyal GNSS, komponen daya, dan komponen penyimpanan yang diintegrasikan dalam web sebagai controller. Sebelum pemasangan sistem GNSS, dilakukan pengecekan kualitas alat untuk memastikan fungsinya. Setelah uji coba, dilakukan pemasangan GNSS berbiaya rendah pada satu titik pantau. Sistem GNSS berbiaya rendah dapat merekam data secara kontinu dan terintegrasi dengan laman web sehingga memudahkan proses pemindahan data untuk pemantauan jarak jauh. Sistem basis data deformasi dan sistem GNSS berbiaya rendah diharapkan dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan bendungan secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Arsyad Nawawi
🏷️ Deformasi Struktur Bendungan 🏷️ Gnss Berbiaya Rendah 🏷️ Analisis Data Geofisika

PEMANTAUAN SECARA KOMPREHENSIF DEFORMASI BENDUNGAN JATILUHUR, JAWA BARAT

Bendungan Jatiluhur merupakan infrastruktur yang berperan dalam penyediaan air, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir di Jawa Barat. Stabilitas struktur bendungan menjadi sangat penting untuk memastikan keamanan operasionalnya. Proyek ini bertujuan untuk melakukan pemantauan deformasi secara komprehensif di Bendungan Jatiluhur dengan menggunakan metode Interferometric Satellite Aperture Radar (InSAR), terestris, inklinometer, dan satu metode baru yang menjadi luaran dari proyek ini, yakni pemantauan dengan Global Navigation Satellite System (GNSS) berbiaya rendah. Hasil pemantauan metode-metode tersebut digunakan sebagai dasar analisis deformasi Bendungan Jatiluhur berupa besaran, kecepatan, dan arah deformasi yang disimpan dalam satu sistem Basis Data Pemantauan Deformasi Bendungan Jatiluhur tahun 2016-2025. Basis data memuat data displacement dan settlement pada masing-masing metode pemantauan berdasarkan data-data yang telah diolah relatif terhadap posisi referensinya. Berdasarkan hasil analisis data, settlement yang terjadi berada pada rentang 0,02 – 0,84 cm/tahun menggunakan metode sipat datar dan 0,04 – 1,09 cm/tahun menggunakan metode InSAR. Displacement yang terjadi berada pada rentang 0,02 – 0,39 cm/tahun menggunakan metode terestris dan 0,009 – 0,41 cm/tahun menggunakan metode InSAR. Displacement pipa pemantauan berada pada rentang 0,23 – 2,49 cm/tahun menggunakan metode inklinometer. Displacement dan settlement yang terjadi di Bendungan Jatiluhur tergolong pada batas aman karena berada di bawah ambang batas bahaya deformasi berdasarkan standar International Commission on Large Dams (ICOLD), Clements, dan United State Bureau of Reclamation (USBR). Data displacement dan/atau settlement dikorelasikan dengan tinggi muka air dan hasilnya menunjukkan korelasi yang lemah hingga kuat. Hasil pemantauan deformasi disimpan dalam satu sistem basis data dalam format Structured Query Language (SQL) sesuai standar International Organization for Standardization (ISO) 19156 dan ISO 8601. Pembangunan sistem GNSS berbiaya rendah dimulai dengan pembuatan receiver yang terdiri dari komponen penerima sinyal GNSS, komponen daya, dan komponen penyimpanan yang diintegrasikan dalam web sebagai controller. Sebelum pemasangan sistem GNSS, dilakukan pengecekan kualitas alat untuk memastikan fungsinya. Setelah uji coba, dilakukan pemasangan GNSS berbiaya rendah pada satu titik pantau. Sistem GNSS berbiaya rendah dapat merekam data secara kontinu dan terintegrasi dengan laman web sehingga memudahkan proses pemindahan data untuk pemantauan jarak jauh. Sistem basis data deformasi dan sistem GNSS berbiaya rendah diharapkan dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan bendungan secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Alfrida Insani Shabira
🏷️ Deformasi Struktur Bendungan 🏷️ Gnss Berbiaya Rendah 🏷️ Analisis Data Geofisika

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN DI CENTRAL ANATOLIAN VOLCANIC PROVINCE (CAVP), TURKI MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK

Central Anatolian Volcanic Province (CAVP) yang berlokasi di Turki, merupakan wilayah yang terjadi interaksi antara Lempeng Eurasia, Afrika, dan Arab. Interaksi lempeng ini menciptakan kondisi geologi yang sangat dinamis, yang memicu aktivitas vulkanik dan tektonik yang signifikan melalui proses subduksi dan pergerakan lempeng. Kompleksitas geologi di wilayah ini terutama ditandai oleh keberadaan gunung berapi monogenetik yang tersebar luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya penipisan kerak bumi di CAVP, khususnya pada area yang terdapat gunung berapi monogenetik, serta untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan, termasuk kedalaman Moho dan ruang magma di wilayah tersebut. Data magnetik dan gravitasi akan digunakan untuk mengungkapkan fitur-fitur penting di wilayah ini. Di wilayah CAVP, terjadi peristiwa Slab Break-off yang menyebabkan material panas dari astenosfer naik untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh lempeng yang terputus. Proses ini dapat menghasilkan magma yang naik ke permukaan, sehingga memicu aktivitas vulkanik. Naiknya material panas dari astenosfer juga menyebabkan pemanjangan dan penipisan kerak bumi (crustal thinning). Hasil pemodelan menunjukkan adanya dua ruang penyimpanan magma di wilayah CAVP, yaitu ruang magma pada kedalaman 8-12 km dan reservoir magma pada kedalaman 17-20 km di bawah permukaan. Kedalaman Moho di Central Anatolian Volcanic Province (CAVP) diperkirakan berada pada 35 km. Selain itu, terdapat indikasi penipisan kerak bumi karena kenaikan Moho dari kedalaman 47 hingga 35 km di wilayah ini.

2024
👤 Penulis: Farid Muafa
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Penelitian Struktur Bawah Permukaan

STUDI SEISMIC HAZARD FUNCTION (SHF) SEBELUM GEMPA BESAR DI SEPANJANG PANTAI PULAU SUMATRA: ANALISA SHF BERDASARKAN PERUBAHAN B-VALUE

Analisa fungsi bahaya gempa (SHF) di sepanjang pulau Sumatra diinvestigasi berdasarkan perubahan b-value menggunakan katalog data gempa kerak dangkal. Area studi dianalisa di sekitar event gempa-gempa besar yang terjadi pada tahun 2000 sampai 2010. Perubahan b-value diestimasi menggunakan metode maximum likelihood dengan angka yang konstan. Pertama-tama, b-value di sekitar epissenter gempa dengan radius 150 km dihitung berdasarkan katalog data gempa dari tahun 193 sampai 2016 (b50). Kedua, b-value berdasarkan 5 tahun dengan satu tahun moving window (b5) diestimasi sebelum gempa besar dari tahun 2000 sampai 2010. Nilai b5 dihitung berdasarkan konstan. Kemudian, SHF dari b50 dan b5 dihitung dan dikomparasi. Hasilnya menunjukan bahwa probabilitas melebihi dari SHF b5 lebih tinggi setidaknya 5 tahun sebelum gempa besar terjadi. Maka dari itu, hasil yang diperoleh dari studi ini kemungkinan dapat sangat membantu untuk mitigasi gempa dan pemodelan dari studi kemungkinan bahaya gempa dan analisa selanjutnya.

2024
👤 Penulis: Joshua Billy Kurniawan
🏷️ Seismologi 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Manajemen Risiko Gempa Bumi
💬