📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenANALISIS VARIABILITAS SPASIAL DAN TEMPORAL GROUND WATER STORAGE DI PULAU SULAWESI
Penyimpanan air tanah memainkan peran krusial sebagai sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan berbagai keperluan seperti domestik, pertanian, dan industri. Air tanah di Pulau Sulawesi merupakan komponen vital dalam ketahanan sumber daya air di wilayah kepulauan tropis. Pulau Sulawesi Sendiri mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan di semua sektor, yang menyebabkan peningkatan permintaan air di pulau tersebut. Ancaman volatilitas iklim ekstrem menjadi kekhawatiran yang semakin nyata dimana keterbatasan jaringan pemantauan in-situ di wilayah dengan kompleksitas geologi seperti Sulawesi menghambat deteksi dini terhadap respons akuifer terhadap perubahan iklim tersebut, sehingga variabilitas dan juga sebaran geografis dari kondisi simpanan air tanah di Pulau Sulawesi belum tercerminkan dengan jelas. Studi ini bertujuan untuk mengamati dinamika spasial dan temporal penyimpanan air tanah di Pulau Sulawesi menggunakan data dari satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) dan GRACE-Follow On (GRACE-FO) unutk melihat bagaimana variabilitas spasial dan temporal yang terjadi di Pulau utama Sulawesi. Nilai perubahan penyimpanan air tanah GWS yang mencerminkan total penyimpanan air diisolasi dengan mengurangkan komponen kelembaban tanah (SMS) dan penyimpanan air kanopi (CWS) yang diperoleh dari model Global Land Data Assimilation System (GLDAS) terhadap total penyimpanan air terestrial (TWS) hasil observasi GRACE. Analisis statistik lebih lanjut menggunakan Uji Mann-Kendall dan Korelasi Spearman dilakukan untuk mengevaluasi tren, signifikansi, dan hubungan ketergantungan antara dinamika air tanah dengan variabel presipitasi serta indeks iklim global. Analisis PC dan juga EOF diterapkan guna melihat bagaimana pola dominan terjadi pada simpanan air tanah di Pulau Sulawesi. Hasil analisis deret waktu menunjukkan bahwa penyimpanan air tanah di Sulawesi mengalami fluktuasi yang signifikan akibat transisi fase hujan dan fase iklim. Secara keseluruhan peningkatan air tanah di Sulawesi mengalami peningkatan sebesar 0.2164 mm/tahun pada sebaran seluruh pulau dengan rataan sejak 2002 hingga 2024. Fenomena surplus ini berjalan selaras dengan intensitas curah hujan tahunan yang juga mencatatkan laju peningkatan sebesar 3.34 mm/tahun di Pulau Sulawesi secara menyeluruh selama 22 tahun juga. Secara spasial, teridentifikasi perbedaan respon antara wilayah selatan (Region A/Monsunal) yang memiliki fluktuasi musiman, dengan wilayah utara (Region C/Anti-Monsunal) yang relatif lebih stabil, mencerminkan dinamika ketersediaan air secara geografis di Pulau Sulawesi sangat dipengaruhi oleh pola hujan tersebut. Analisis hubungan hidroklimatologi mengungkapkan korelasi positif yang kuat antara curah hujan dan simpanan air tanah, dengan jeda waktu respons akuifer. Studi ini membuktikan adanya hubungan korelasi atmosfer yang kuat, di mana fase La Niña dan IOD Negatif seperti pada 2011, 2012, 2017, 2022-2023 menjadi pemicu utama lonjakan cadangan air tanah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar mengenai ketahanan air di masa depan. Meskipun saat ini terjadi tren surplus, dominasi kontrol iklim menyiratkan bahwa ketersediaan air tanah di Sulawesi sangat rentan terhadap pengaruh siklus iklim. Dalam skenario perubahan iklim global yang memprediksi peningkatan frekuensi dan intensitas El Niño di masa depan, sehingga kondisi dari fenomena iklim kedepannya perlu diperhatikan korelasinya dengan simpanan air tanah. Distribusi nilai loadings dari EOF ini secara tegas menunjukkan polarisasi dua wilayah yang selaras dengan pembagian pola hujan antara region monsunal dan antimonsunal yang mengonfirmasi bahwa variabilitas air tanah sangat dipengaruhi kondisi hujan setempat. Mode EOF utama dan PC-1 lebih lanjut mengungkapkan pola spasial yang sejalan dengan wilayah variabilitas air tanah di Pulau Suawesi, menunjukkan jejak yang kuat dari regim curah hujan dominan dan mode iklim IOD pada penyimpanan air tanah, dimana sebarannya sangat dipengaruhi dan sejalan dengan pola region curah hujan bagian utara dan selatan. Loadings dari EOF mennjukan dua pola dua region yang selaras dengan pembagian pola hujan di Pulau Sulawesi. Fluktuasi dari PC-1 membrikan informasi yang juga sejalan dengan waktu pada periode pembagian pola hujan di wilatyah utara maupun wilayah selatan.
ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL-TEMPORAL SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU KALIMANTAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Air tanah merupakan komponen penting dalam siklus hidrologi, berperan sebagai penyimpanan air utama yang mendukung kebutuhan dasar manusia dan ekosistem. Dinamika simpanan air tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi iklim, perubahan tutupan lahan, dan peningkatan permintaan air bersih. Pulau Kalimantan, salah satu pulau terbesar di Indonesia, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun menghadapi tekanan dari deforestasi, ekspansi pertanian, pertambangan, dan pertumbuhan penduduk, yang dapat memengaruhi ketersediaan dan dinamika air tanah. Mengingat keterbatasan pengamatan langsung di lapangan, penelitian ini memanfaatkan data satelit untuk memantau perubahan simpanan air tanah pada skala regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variabilitas spasial-temporal simpanan air tanah di Pulau Kalimantan selama periode April 2002 hingga Desember 2024 serta keterkaitannya dengan faktor iklim dan antropogenik. Data simpanan air tanah diperoleh dari GRACE, dengan komponen air tanah dihitung menggunakan pendekatan neraca air berbasis data GLDAS. Data curah hujan digunakan CHIRPS yang telah disesuaikan resolusi spasialnya agar konsisten dengan data GRACE dan GLDAS. Metode EOF digunakan untuk mengidentifikasi pola dominan simpanan air tanah, sedangkan analisis korelasi Spearman diterapkan untuk mengevaluasi keterkaitan komponen temporal utama dengan faktor yang diduga mempengaruhi simpanan air tanah. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan spasial yang jelas antara wilayah utara dan selatan Pulau Kalimantan, di mana wilayah utara cenderung mengalami anomali positif, sementara wilayah selatan didominasi anomali negatif pada beberapa periode. Variabilitas bulanan simpanan air tanah menunjukkan pola monsunal yang kuat dan berkorelasi dengan faktor iklim, khususnya curah hujan dan ENSO.
PERHITUNGAN STOK KARBON BERDASARKAN NDVI DI CEKUNGAN BANDUNG
Penginderaan jauh menawarkan cara yang lebih mudah, cepat, hemat serta mencakup area yang lebih luas untuk perhitungan stok karbon. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan stok karbon dengan metode penginderaan jauh di Cekungan Bandung dari data citra Satelit Landsat untuk tahun 1999, 2002 dan 2005. Stok karbon dihitung dengan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang diekstrak dari data citra satelit untuk kemudian digunakan dalam model perhitungan stok karbon. Berdasarkan perhitungan, diperoleh jumlah stok karbon pada tahun 1999 sebesar 522272.91 ton, tahun 2002 sebesar 494512.98 ton, dan tahun 2005 sebesar 561683.33 ton. Karena tidak adanya data pengukuran lapangan di Cekungan Bandung untuk melakukan validasi, maka hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai nilai pendekatan jumlah stok karbon di Cekungan Bandung sebagai informasi yang berguna untuk berbagai pihak dalam upaya pemantauan kondisi emisi gas di Cekungan Bandung.
TREND LINIER PERUBAHAN KEDUDUKAN MUKA LAUT BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI ERS2 (1995-2003) DAN ENVISAT (2003-2009)
Kemampuan satelit altimetri mengamati kedudukan muka laut dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia. Dalam tugas akhir ini, pemantauan perubahan kedudukan muka laut dilakukan menggunakan dua satelit altimetri ERS-2 (1995-2003) dan Envisat (2002-2009). Dari kedua data satelit tersebut dilakukan tren linier untuk melihat besarnya perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia. Hasil dari trend linier tersebut menunjukan perubahan kedudukan muka laut di perairan Indonesia berkisar antara -7,6 mm/tahun sampai 18,9 mm/tahun.
MODEL KOPEL LAUT-ATMOSFER DI SELAT LOMBOK MENGGUNAKAN MITGCM-WRF: SKENARIO SIMULASI KONTINU
model laut dan atmosfer dalam satu sistem terpadu, memungkinkan pertukaran informasi dua arah selama simulasi berlangsung. Berbeda dengan pendekatan uncoupled yang hanya mempertimbangkan pengaruh satu arah, model kopel memberikan representasi yang lebih realistis terhadap proses fisis laut-atmosfer. Output model atmosfer menjadi input bagi model laut, dan sebaliknya, membentuk interaksi dua arah yang saling memengaruhi. Meskipun memiliki keunggulan tersebut, penerapan model kopel masih jarang dilakukan di wilayah Indonesia seperti di Selat Lombok. Dalam studi ini, sistem model kopel dibangun dengan mengintegrasikan MITgcm sebagai model laut dan WRF sebagai model atmosfer melalui ESMF sebagai mediator. Analisis dilakukan untuk periode Juni 2004 hingga Agustus 2004. Hasil menunjukkan bahwa model kopel mampu mereduksi bias pemanasan berlebih yang muncul sekitar 1,54°C pada simulasi model uncoupled. Efek reduksi ini terlihat signifikan di wilayah pesisir dan zona sempit yang sangat sensitif terhadap pengaruh atmosfer. Perbandingan nilai SPL dengan citra satelit MODIS Aqua dan OISST menunjukkan bahwa model kopel menghasilkan distribusi SPL yang lebih mendekati kondisi sebenarnya. Selain itu, model kopel juga memperlihatkan performa yang lebih stabil dan realistis dalam mensimulasikan kecepatan angin, dengan pola yang lebih mendekati data QuikSCAT. Model kopel menunjukkan kemampuan dalam meningkatkan akurasi simulasi kecepatan angin dengan mereduksi bias hingga mencapai 0,1 m/s. Selain itu, model kopel juga menunjukkan peningkatan akurasi dalam simulasi arus permukaan laut. Dibandingkan dengan simulasi uncoupled, model kopel mampu menghasilkan pola arus yang lebih fokus di wilayah pesisir dan selatan Jawa–Bali, serta lebih mendekati data observasi CMEMS. Secara statistik, model kopel berhasil mereduksi bias kecepatan arus permukaan hingga 0,14 m/s. Penelitian ini menegaskan bahwa model kopel dapat meningkatkan akurasi simulasi, baik untuk SPL, angin permukaan, maupun arus permukaan.
PEMBANGUNAN APLIKASI PENANGKAPAN IKAN LAUT BERBASIS ANDROID UNTUK NELAYAN DI DESA BATUKARAS
Pembuatan aplikasi berbasis android TANGKAP merupakan upaya strategis untuk menggunakan teknologi satelit yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan di Desa Batukaras. Data dikumpulkan secara menyeluruh dengan memanfaatkan data citra satelit open-source yang diunduh melalui Application Programming Interface (API) yang menghasilkan data dasar seperti Sea Surface Temperature (SST) dan konsentrasi Klorofil-A. Sementara itu, data curah hujan, kecepatan angin, dan tinggi gelombang diperoleh dari API resmi BMKG. Data tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi informasi praktis yang dapat digunakan pada aplikasi android TANGKAP yang terunduh pada gawai pintar nelayan. Selain itu juga, dihasilkan produk berupa Peta Daerah Potensi Penangkapan Ikan (PDPPI). Dengan adanya aplikasi TANGKAP dan PDPPI, nelayan Desa Batukaras dapat memaksimalkan hasil tangkapan ikan.
PEMBANGUNAN APLIKASI PENANGKAPAN IKAN LAUT BERBASIS ANDROID UNTUK NELAYAN DI DESA BATUKARAS
Pembuatan aplikasi berbasis android TANGKAP merupakan upaya strategis untuk menggunakan teknologi satelit yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan di Desa Batukaras. Data dikumpulkan secara menyeluruh dengan memanfaatkan data citra satelit open-source yang diunduh melalui Application Programming Interface (API) yang menghasilkan data dasar seperti Sea Surface Temperature (SST) dan konsentrasi Klorofil-A. Sementara itu, data curah hujan, kecepatan angin, dan tinggi gelombang diperoleh dari API resmi BMKG. Data tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi informasi praktis yang dapat digunakan pada aplikasi android TANGKAP yang terunduh pada gawai pintar nelayan. Selain itu juga, dihasilkan produk berupa Peta Daerah Potensi Penangkapan Ikan (PDPPI). Dengan adanya aplikasi TANGKAP dan PDPPI, nelayan Desa Batukaras dapat memaksimalkan hasil tangkapan ikan.
IDENTIFIKASI EXTREME SEA LEVELS DAN CONCURRENT MARINE HEATWAVES-EXTREME SEA LEVELS DI PERAIRAN SETIO TAHUN 1993-2022
Pemanasan global yang terus meningkat setiap tahunnya memicu peningkatan suhu muka air laut. Peningkatan suhu muka air laut memengaruhi berbagai parameter, terutama tinggi muka air laut. Ketika peristiwa tinggi muka air laut ekstrem (Extreme Sea Levels/ESLs) terjadi bersamaan dengan peristiwa MHWs, muncul fenomena yang disebut CHESLs (Concurrent Marine Heatwaves-Extreme Sea Levels/CHESLs) dengan dampak yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peristiwa ESLs dan CHESLs di perairan SETIO (Southeastern Tropical Indian Ocean), yang mencakup barat Sumatra, selatan Jawa, dan Nusa Tenggara, selama rentang waktu 1993–2022 (30 tahun). Fokus penelitian adalah empat lokasi stasiun, yaitu Padang (lokasi A), Cilacap (lokasi B), Prigi (lokasi C), dan Benoa (lokasi D). Data utama yang digunakan adalah anomali tinggi muka air laut (SLA) dan anomali suhu permukaan laut (SSTA) yang diperoleh dari satelit altimetri. Metode analisis yang digunakan adalah metode statistika. Hasil analisis menunjukkan trend linear positif dari SLA dan SSTA dengan nilai yang bervariasi di setiap lokasi. Selama periode 30 tahun, ditemukan 21 kejadian ESLs dan 4 kejadian CHESLs di Padang, 16 kejadian ESLs dan 4 CHESLs di Cilacap, 17 kejadian ESLs dan 4 kejadian CHESLs di Prigi, dan 22 kejadian ESLs dan 4 kejadian CHESLs di Benoa. ESLs dominan terjadi ketika monsun Australia aktif saat periode DJF (45%), fase La Niña (76%), dan N-IOD (40%). CHESLs dominan terjadi ketika menuju monsun India aktif saat periode MAM (53%), fase La Niña (76%), dan N-IOD (82%). Pengaruh N-IOD lebih dominan di stasiun Padang. Sebaliknya, pengaruh La Niña lebih dominan di stasiun Cilacap, Prigi, dan Benoa. Kejadian ESLs lebih sering ditemukan di wilayah onshore, sedangkan CHESLs lebih sering ditemukan di wilayah offshore. Total frekuensi kejadian ESLs dan CHESLs meningkat sebesar 66,7% selama dekade terakhir.
PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN DI DAERAH JAWA TIMUR MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK : STUDI KASUS GUNUNG API LAMONGAN
Gunung Api Lamongan merupakan salah satu gunung api yang unik di dunia. Dari berbagai penelitian yang telah dipublikasikan, gunung api ini termasuk ke dalam tipe Monogenetic Volcanic Field (MVF) berdasarkan kompleksitas magma, batuan, dan titik letusannya. Sebuah MVF umumnya membutuhkan fenomena penipisan kerak bumi, sehingga magma dari mantel bumi yang umumnya bersifat basa dapat menembus dan meletus di permukaan. Penelitian ini menggunakan data satelit magnetik-gravitasi yang bertujuan untuk memodelkan bawah permukaan Gunungapi Lamongan dan sekitarnya untuk mengetahui kedalaman fenomena penipisan kerak bumi. Pemodelan vertikal dari kedua metode tersebut memberikan informasi ketebalan kerak bumi sebesar 20-30 km dengan suseptibilitas dan densitas kerak bumi masing-masing sebesar 0,00081 dan 2,7 gr/cc. Sementara itu, suseptibilitas dan densitas mantel bumi adalah 0,00054 dan 2,9 gr/cc. Jadi, kedalaman diskontinuitas Mohorovic di bawah LVF yang dianggap sebagai penipisan kerak bumi adalah 20 km.