📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPENGUKURAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)UNTUK STUDI DEFORMASI KAWASAN GUNUNG MURIA DALAM RANGKA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu sumber energi alternatif. Salah satu lokasi di sekitar Gunung Muria direncanakan menjadi PLTN di Indonesia. Pemilihan lokasi pembangunan PLTN harus pada lokasi yang aman dari kemungkinan terjadinya gempa yang disebabkan oleh pergerakan lempeng maupun aktivitas vulkanik. IAEA (International Atomic Energy Agency) memberikan garis besar panduan keselamatan lokasi yang aman untuk dibangun PLTN, yaitu pada lokasi pergerakan lempeng yang stabil dianggap tidak terjadi deformasi. Dengan demikian, dilakukan metode survei GPS untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi. Data pengukuran GPS yang digunakan adalah data GPS kontinu yang dikelola BIG sebanyak empat titik di sekitar Gunung Muria tahun 2010 sampai tahun 2012 dan data pengukuran berkala lima titik pada lokasi Gunung Muria sebanyak 3 kala pada bulan November 2011, Januari 2013, dan September 2013 dengan lama pengamatan 12 jam. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0 dengan metode radial terhadap ITRF 2008. Setelah nilai vektor pergeseran yang dihasilkan dinyatakan lolos oleh uji statistik, maka akan didapat vektor pergeseran dan nilai regangan. Hasil pengolahan data pengukuran kontinu menunjukkan hasil nilai vektor kecepatan pergeseran sekitar 2 mm/tahun ± 1mm ke arah tenggara, sedangkan pengolahan data pengukuran berkala pada Gunung Muria nilai kecepatan pergeserannya sekitar 5 mm/tahun ± 4mm ke arah barat daya dengan nilai regangan maksimum sekitar 8.8x10-7strain. Berdasarkan nilai regangan yang didapat, kawasan Gunung Muria termasuk kedalam kawasan pergerakan lempeng yang stabil.
ANALISIS DEFORMASI GEMPA PADANG TAHUN 2009 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2009 - 2010
Pulau Sumatera terletak pada jalur batas konvergen antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia. Pada batas lempeng konvergen ini terjadi aktivitas tektonik yang saling menekan dan mengunci antar kedua lempeng, sehingga menimbulkan akumulasi energi. Jika energi tersebut terlepas secara tiba-tiba, maka akan menyebabkan gempa bumi. Salah satu gempa yang terjadi di Pulau Sumatera adalah gempa Padang 30 september 2009. Pola deformasi dari gempa ini dapat diamati dengan pengamatan GPS (Global Positioning System). Pengamatan GPS dilakukan untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi yang terkait gempa tersebut. Dari hasil pengolahan data, vektor pergeseran titik-titik pengamatan GPS di Sumatera cenderung bergerak ke arah timur laut (NE) yang mengindikasikan adanya akumulasi energi. Sedangkan vektor pergeseran yang mengarah ke barat daya (SW) mengindikasikan adanya pelepasan energi. Gempa 30 september 2009 mengakibatkan pergeseran maksimum dari titik-titik pengamatan GPS sebesar 0.055 m ke arah barat daya. Kecepatan vektor pergeseran rata-rata dari titik-titik pengamatan GPS sebelum gempa adalah sebesar 0.033m/tahun dan setelah gempa sebesar 0.031 m/tahun dengan pergerakan mengarah ke timur laut. Regangan di sekitar daerah kajian menunjukkan adanya pola kompresi dengan nilai maksimum sebesar 1.226 x 10-7 strain yang mengindikasikan potensi terjadinya gempa bumi. Gempa 30 September 2009 tidak menunjukkan deformasi setelah gempa dari hasil yang teramati. Gempa ini tidak mempengaruhi vektor kecepatan pergeseran serta tidak menghilangkan distribusi regangan pola kompresi di sekitar daerah pusat gempa setelah gempa terjadi. Meskipun demikian, gempa ini berdampak cukup besar, khususnya untuk daerah di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera.
STUDI DEFORMASI POST-SEISMIC GEMPA ACEH 2004 DENGAN MENGGUNAKAN METODE GPS
Gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan sekitarnya, merupakan salah satu bencana alam yang sangat besar. Bencana ini mengakibatkan kerusakan berbagai macam infrastruktur yang ada. Untuk itu, mitigasi bencana alam diperlukan sebagai tindakan preventif jika suatu saat terjadi pengulangan suatu bencana. Salah satu cara untuk melakukan mitigasi ialah mempelajari tahap post-seismic dari suatu siklus gempa. Dengan mempelajari tahap post-seismic diharapkan dapat melihat kemungkinan terjadinya pengulangan gempa dan mengetahui besarnya pergeseran yang terjadi sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Pengamatan post-seismic dapat dilakukan dengan metode survey GPS. GPS dapat memberikan nilai vektor pergeseran dengan tingkat presisi sampai beberapa milimeter. Penggunaan GPS dalam studi post-seismic adalah tindakan yang tepat, karena ketelitian pergeseran posisi yang dicari adalah dalam level milimeter. Berdasarkan pengamatan tahun 2007 sampai 2009, besar pergeseran akibat post-seismic gempa tsunami Aceh 2004, berkisar antara 5 sampai 15 cm pertahun. Berdasarkan penghitungan model, nilai deformasi post-seismic pada bidang gempa yaitu sebesar 35 cm pertahun.
PEMANTAUAN SECARA KOMPREHENSIF DEFORMASI BENDUNGAN JATILUHUR, JAWA BARAT
Tidak ada deskripsi.