📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPEMODELAN TINGKAT AKTIFITAS SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA PENGAMATAN DEFORMASI PERMUKAAN
Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang berada di daerah Sukabumi Selatan, yang memanjang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur sampai Padalarang. Sesar Cimandiri terbentuk akibat adanya gaya tekan yang timbul dari proses subduksi lempeng samudera Indoaustralia ke bawah lempeng benua Erasia di selatan Pulau Jawa. Sesar Cimandiri terletak pada kawasan yang relatif padat penduduk sehingga bila terjadi gempa akan menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang besar, sehingga tingkat aktivitas sesar Cimandiri perlu dipantau, agar dapat dilakukan antisipasi dan mitigasi terhadap bencana gempa yang akan terjadi. Untuk keperluan tersebut dilakukan pengukuran GPS dengan metode penentuan posisi statik geodetik (penentuan posisi differensial) tipe episodik sebanyak empat kali, yaitu pada 1-4 Desember 2006, 20-23 Agustus 2007, 8-12 Agustus 2008 dan 21-24 Juli 2009. Survei GPS dilaksanakan menggunakan sejumlah receiver GPS tipe geodetik dua frekuensi dan pengolahan datanya menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran, nilai parameter regangan dan pembuatan model tingkat aktivitas. Berdasarkan hasil pengolahan data memberikan kesimpulan bahwa sesar Cimandiri merupakan sesar geser mengiri dan kawasan zona sesar Cimandiri dan sekitarnya bergerak dengan kecepatan 1 hingga 20 mm/tahun, besarnya regangan berkisar 0,1 hingga 4 mikrostrain yang bervariasi secara spasial dan tingkat akumulasi pergeseran sebesar 10 mm/tahun.
PENELITIAN KARAKTERISTIK (LAJU GESER) SESAR AKTIF MENGGUNAKAN PEMODELAN DATA DEFORMASI PERMUKAAN
Sumatera adalah salah satu wilayah di indonesia dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Hal ini menyebabkan Sumatera mengalami pergeseran yang diakibatkan terjadinya tumbukan lempeng Eurasia dan Hindia-Australia dengan kecepatan 49 mm/tahun [Prawirodirdjo, 2000]. Akibatnya terdapat sesar aktif di sepanjang Sumatera yang terbagi menjadi beberapa segmen, salah satunya adalah segmen Aceh (sesar Aceh).Penelitian karakteristik sesar Aceh dilakukan dengan mengamati beberapa titik pantau yang tersebar di sepanjang sesar Aceh, baik titik pantau kontinyu maupun berkala. Pengolahan data dengan software Bernese 5.0, matlab dan excel menghasilkan vektor pergeseran titik-titik pantau yang berkisar antara 3-13 cm ke arah barat daya.Analisis deformasi dalam tugas akhir ini bertujuan untuk mengindikasikan pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser dan kedalaman bidang sesar yang terkunci. Berdasarkan penghitungan kecepatan sesar Aceh berkisar 18-39 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 10 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.
IDENTIFIKASI KERENTANAN PERMUKAAN BERDASARKAN DEFORMASI INSAR, DENSITAS KELURUSAN, DAN OBSERVASI GEOLOGI DI GUNUNG MERAPI, JAWA TENGAH, INDONESIA
Gunung Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di dunia, menunjukkan aktivitas vulkanik yang kompleks, sehingga memerlukan pemantauan deformasi permukaan untuk memahami fenomena geodetik dan implikasinya terhadap penilaian risiko bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara deformasi permukaan, densitas kelurusan geologi, dan distribusi kejadian longsoran untuk memetakan zona kerentanan serta memahami dinamika vulkanik Gunung Merapi. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) berbasis LiCSBAS (Looking Inside the Continents from Space using Sentinel Aperture Radar), densitas kelurusan geologi menggunakan metode mSTA (modified Segment Tracing Algorithm). Penelitian ini memantau aktivitas vulkanik menggunakan data Sentinel-1 selama periode 2018–2023. Sebanyak 534 citra descending dan 902 interferogram yang mencakup area seluas 88 km² dianalisis. Hasil menunjukkan deformasi yang terdeteksi di Gunung Merapi mencakup inflasi dan deflasi dengan laju -30 mm/tahun hingga 20 mm/tahun. Inflasi terdeteksi secara luas di lereng Gunung Merapi, sedangkan deflasi terkonsentrasi di sekitar kawah. Data deformasi konsisten dengan pengukuran lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS) yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yang menunjukkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,78. Kelurusan geologi yang diekstraksi dari citra Sentinel-1 SAR menunjukkan bahwa arah dominan kelurusan adalah Barat-Timur, sesuai dengan arah struktur geologi regional. Sebanyak 53 titik longsor telah diinventarisasi dengan jumlah kejadian 2–3 kali per tahun. Berdasarkan hasil analisis, zona kerentanan pada daerah penelitian terbagi atas 4, yaitu zona kerentanan rendah dengan luas 84.17 km2, zona kerentanan menengah dengan luas 24.63 km2, zona kerentanan tinggi dengan luas 36.35 km2, dan zona kerentanan sangat tinggi dengan luas area 13.71 km2.
ANALISIS TINGKAT KEGEMPAAN SEGMEN ACEH MENGGUNAKAN METODE PERGESERAN PERMUKAAN BERDASARKAN PENGAMATAN GPS
Dari sejarah kegempaan yang terjadi, rata-rata gempa >8 Mw di dunia ini sekali dalam setahun. Di Sumatra, Gempa Sumatra-Andaman pada tanggal 26 Desember 2004 dengan kekuatan Mw>9.0 dan gempa Nias-Simeulue pada tanggal 28 Maret 2005 yang berkekuatan Mw=8.7 terjadi dalam waktu dan lokasi yang berdekatan. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pelepasan energi yang cukup besar pada kawasan tersebut. Hal ini dapat diteruskan ke daratan Sumatra di bagian Utara, terutama kawasan ujung Pulau Sumatra, yang dikhawatirkan memicu terjadinya gempa di darat, tempat Segmen Aceh berada. Untuk memantau indikasi tersebut pada kawasan Segmen Aceh dilakukan analisis deformasi terhadap Segmen Aceh setelah terjadi dua gempa besar tersebut untuk mengetahui tingkat kegempaannya. Analisis untuk meneliti tingkat kegempaan ini menggunakan metode pergeseran permukaan yang mendasarkan pada pengamatan GPS (Global Positioning System). Titik-titik ukur GPS ditempatkan melingkupi area patahan dengan mengikuti kaidah dengan target laju geser (slip rate) dan kedalaman terkunci (locking depth) patahan. Aktivitas patahan salah satunya dicirikan oleh adanya pergeseran relatif kedua blok pada patahan tersebut. Dengan metode pengukuran diferensial dan lama pengukuran delapan hingga sepuluh jam akan didapatkan hasil pengukuran GPS dengan ketelitian hingga dalam orde mm. Dengan ketelitian ini mampu mengamati pergeseran yang terjadi meskipun kecil. Pada tahap berikutnya hasil pengukuran ini digunakan untuk pemodelan mekanisme pergeseran menggunakan model dislokasi elastis untuk mengetahui besar pergeseran yang terjadi di Segmen Aceh. Dalam penelitian ini digunakan formulasi matematis elastic half space-Okada yang mampu menghubungkan interaksi gerakan slab (pergeseran) di subduksi terhadap gerakan yang terjadi di permukaaa