📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenANALISIS SPASIAL DEFORMASI TEKTONIK DI PULAU SUMATERA MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI MOVING AVERAGE
Pulau Sumatera berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedua lempeng tersebut bertabrakan di sepanjang lepas pantai Sumatera dimana lempeng Indo-Australia bergerak ke bawah lempeng Eurasia. Tumbukan tersebut menghasilkan energi dan tersimpan dalam lapisan bumi hingga mencapai batas elastisitas. Regangan yang telah melewati batas akan dilepas sebagai gempa bumi. Pemantauan deformasi Pulau Sumatera dilakukan untuk mempelajari karakteristik pergeseran dan aktivitas tektonik yang terjadi. Data vektor pergeseran hanya tersedia pada beberapa titik pengamatan. Interpolasi moving average digunakan untuk mengestimasi besarnya vektor pergeseran yang terjadi di seluruh Pulau Sumatera. Vektor pergeseran pada titik interpolasi kemudian digunakan untuk menghitung besarnya regangan yang terjadi. Model vektor pergeseran Pulau Sumatera yang dibentuk berdasarkan interpolasi menunjukkan adanya aktivitas interseismic yang ditandai dengan arah pergeseran ke timur laut dan postseismic dengan arah pergeseran ke barat daya.
ANALISIS SPASIAL DEFORMASI TEKTONIK WILAYAH JAWA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI MOVING AVERAGE
Wilayah Jawa Barat merupakan salah satu daerah rawan gempa bumi karena posisinya yang terletak di daerah subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo Australia. Wilayah Jawa Barat juga memiliki beberapa patahan (sesar) yang merupakan salah satu pemicu terjadinya gempa bumi. Pemahaman mengenai deformasi di wilayah Jawa Barat penting untuk selalu dilakukan karena adanya potensi bahaya tersebut. Pengamatan deformasi di wilayah Jawa Barat telah dilakukan di beberapa titik pengamatan. Hasilnya adalah data vektor kecepatan pergeseran tanah wilayah Jawa Barat di setiap titik pengamatan. Untuk pemahaman yang lebih baik diperlukan suatu model yang dapat menggambarkan pergeseran tanah di wilayah Jawa Barat secara menyeluruh bukan hanya di titik-titik pengamatan. Untuk itu dilakukan proses interpolasi dengan metode Moving Average yang membentuk suatu grid tertentu di wilayah Jawa Barat untuk memberikan data pergeseran yang kontinyu. Hasil interpolasi Moving Average yang didapatkan kemudian dijadikan model untuk melakukan analisis regangan dengan menggunakan metode segmen segitiga.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil interpolasi Moving Average terbaik yang dapat memberikan data kontinyu adalah yang dilakukan dengan ukuran window 0,940. Hasil analisis regangan menunjukkan bahwa deformasi wilayah Jawa Barat dipengaruhi oleh postseismic akibat gempa Pangandaran pada tahun 2006, fenomena subduksi antar lempeng, dan aktifitas sesar.