📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenALGORITMA OPTIMASI PERIODE REMANUFACTURING ENGINE CATERPILLAR 777E DI LAPANGAN PERTAMBANGAN ADARO TUTUPAN
Industri pertambangan menuntut penggunaan alat berat dengan tingkat keandalan dan durabilitas yang tinggi untuk mendukung operasi berintensitas tinggi. Heavy Duty Dump Truck Caterpillar 777E merupakan salah satu peralatan utama yang berperan penting dalam kelancaran produksi. Seiring bertambahnya jam operasi, engine mengalami degradasi performa akibat keausan dan faktor operasional, sehingga penentuan usia pakai yang tidak tepat berpotensi menyebabkan pemborosan biaya atau peningkatan risiko kegagalan. Hingga saat ini, banyak keputusan remanufacturing masih didasarkan pada interval jam operasi tetap tanpa mempertimbangkan kondisi aktual dan implikasi ekonomi secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan usia pakai optimum engine Caterpillar 777E berdasarkan pendekatan berbasis data yang mengintegrasikan aspek keandalan, ekonomi, dan lingkungan. Metodologi penelitian ini menggunakan data operasional aktual yang meliputi Vital Information Management System (VIMS), Scheduled Oil Sampling (SOS), data biaya perawatan, serta data emisi karbon. Analisis degradasi performa dilakukan melalui pemodelan tren parameter sensor VIMS, sedangkan degradasi internal engine dianalisis menggunakan metode akumulasi wear metal dan pemodelan statistik berbasis distribusi Weibull marginal yang dikombinasikan dengan Gaussian Copula. Estimasi reliabilitas dan Remaining Useful Life (RUL) dilakukan secara probabilistik dengan pendekatan bootstrap. Selanjutnya, analisis Life Cycle Cost (LCC) digunakan untuk menentukan usia pakai optimum secara ekonomis, serta analisis emisi karbon dilakukan untuk mengevaluasi dampak lingkungan sepanjang siklus hidup engine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter VIMS dan wear metal tertentu memiliki korelasi yang kuat terhadap degradasi engine dan waktu kegagalan. Pemodelan Weibull–Copula mampu memberikan estimasi reliabilitas dan RUL yang lebih representatif dibandingkan pendekatan deterministik. Analisis LCC mengindikasikan adanya titik optimum biaya siklus hidup yang tidak selalu bertepatan dengan umur teknis engine. Selain itu, integrasi analisis emisi karbon menunjukkan bahwa keputusan remanufacturing berpengaruh signifikan terhadap total emisi CO? kumulatif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kerangka kuantitatif yang komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan perawatan dan remanufacturing engine secara lebih efisien dan berkelanjutan.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR SOLAR 53 TERHADAP MESIN DIESEL 2400 CC BERSTANDAR EMISI EURO-2 DAN EURO-4
Transportasi berperan penting dalam mendukung ekonomi dan mobilitas masyarakat, namun sektor ini juga menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) dan polutan udara yang memperburuk pencemaran lingkungan serta perubahan iklim. Mesin diesel pada kendaraan niaga menghasilkan emisi, seperti CO, NOx, HC, PM, dan SOx. Dalam upaya mengurangi dampak negatifnya, Indonesia menerapkan standar emisi EURO melalui PERMEN LHK No. 20 Tahun 2017 untuk standar EURO-4 dan PERMEN LHK No. 141 Tahun 2003 untuk standar EURO-2, yang mensyaratkan penggunaan bahan bakar berkualitas tinggi, seperti Solar 53. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh penggunaan Solar 53 pada mesin diesel 2400 cc berstandar emisi EURO-2 dan EURO-4 melalui uji driveability, dinamometer, emisi, pelumas, dan road test sejauh 10.000 km, yang kemudian dilakukan evaluasi pembongkaran mesin. Hasil penelitian menunjukkan kedua kendaraan mengalami penurunan performa sesudah road test sejauh 10.000 km. Degradasi pelumas lebih signifikan pada kendaraan EURO-4 dibandingkan EURO-2. Pengujian driveability dan dinamometer menunjukkan penurunan performa yang lebih besar pada EURO-4. Pengujian emisi menunjukkan perubahan yang variatif pada kedua kendaraan uji, bergantung pada jenis emisi. Evaluasi pembongkaran mesin menunjukkan penurunan volume injeksi lebih besar pada kendaraan EURO-4, serta peningkatan injector flow loss yang lebih signifikan. Meskipun demikian, pola semprotan injektor dan kondisi filter tetap baik pada kedua kendaraan. Pembentukan deposit lebih banyak terjadi pada ruang pembakaran kendaraan EURO-4, sedangkan pada intake valve dan exhaust valve, kendaraan EURO-2 menunjukkan pembentukan deposit yang lebih banyak. Meskipun memenuhi standar emisi EURO-4, Solar 53 belum sepenuhnya kompatibel untuk kendaraan EURO-4, mengingat penurunan performa yang lebih besar pada kendaraan EURO-4.