📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPENILAIAN KESESUAIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH (STUDI KASUS: JAKARTA UTARA)
Penurunan muka tanah merupakan ancaman kritis bagi kawasan perkotaan pesisir, yang diperparah oleh faktor antropogenik berupa tingginya intensitas pembangunan dan beban bangunan makro di atas lapisan tanah lunak. Regulasi rencana tata ruang pada umumnya belum mengintegrasikan aspek geo-lingkungan, khususnya daya dukung tanah, dalam pengaturan intensitas pemanfaatan ruang, sehingga berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara arahan pemanfaatan ruang dan kapasitas tanah. Kota Administrasi Jakarta Utara dipilih sebagai kasus studi karena merepresentasikan kawasan bertanah lunak dengan tekanan pembangunan tinggi, sekaligus telah memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 sebagai acuan intensitas pemanfaatan ruang yang dapat diuji kesesuaiannya. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian rencana intensitas pemanfaatan ruang dalam RDTR tersebut terhadap nilai daya dukung tanah di wilayah kajian. Metode yang digunakan adalah metode campuran bersifat eksploratif-evaluatif dengan pendekatan fisik dan geo-lingkungan, melalui teknik desk study terhadap data sekunder spasial dan teknis tanah yang diolah dengan analisis deskriptif kualitatif, spasial, dan kuantitatif. Analisis batas nilai intensitas difokuskan pada zona-zona yang berkaitan langsung dengan tekanan aktivitas manusia, seperti zona peruntukan industri, perumahan, dan zona lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas tekanan bangunan aktual di Jakarta Utara tidak melampaui daya dukung tanah, meski masih terdapat beberapa bangunan yang melebihinya. Sementara itu, evaluasi terhadap ketentuan RDTR Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 menunjukkan bahwa batas lantai maksimal yang ditetapkan justru melebihi kemampuan tanah. Kedua temuan ini menunjukkan bahwa arahan intensitas ruang dalam RDTR DKI Jakarta Tahun 2022 belum sepenuhnya selaras dengan kapasitas geo-lingkungan wilayah terkait, sehingga direkomendasikan peninjauan kembali ketentuan intensitas pemanfaatan ruang yang diintegrasikan langsung berbasis zonasi daya dukung tanah untuk memitigasi risiko penurunan muka tanah yang lebih masif.
KEBIJAKAN PENGGUNAAN PETA GARISAN RENCANA KOTA DALAM KEGIATAN PENATAAN RUANG DI KOTA BANDUNG
Rencana Tata Ruang (RTR) adalah dokumen yang berfungsi untuk mengatur penggunaan lahan dan pengembangan wilayah pada suatu daerah. Pada praktiknya, regulasi dalam penataan ruang dapat bervariasi di setiap daerah dan tidak harus melakukan mekanisme yang sama. Seperti yang terjadi di Kota Bandung, kegiatan penataan ruangnya juga diatur oleh Peta Garisan Rencana Kota yang dirancang untuk mengatur pengembangan berbagai elemen infrastruktur fisik. Namun, terdapat berbagai kendala dalam penggunaan peta tersebut, yang kemudian mengakibatkan rencana dirasa semakin sulit untuk diwujudkan. Hingga saat ini, kajian terhadap produk perencanaan lain, khususnya Peta Garisan Rencana Kota juga belum banyak dilakukan secara mendalam, terutama di tengah perkembangan kebijakan nasional yang lebih mengutamakan RTRW dan RDTR sebagai dokumen perencanaan utama. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara harapan dari kebijakan yang telah diterapkan, dengan kenyataan yang terdapat di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi penggunaan Peta Garisan Rencana Kota dalam kegiatan penataan ruang di Kota Bandung. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang kemudian di analisis menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relevansi penggunaan peta tersebut telah berkurang. Ditinjau dari fungsi jalan arteri dan kolektor, sekitar 91% rencana lebar jalan tersebut tidak sesuai lagi dengan kondisi eksistingnya. Tidak jelasnya landasan hukum dan justifikasi dalam proses perencanaan juga memperkuat kesimpulan bahwa peta tersebut saat ini kurang relevan lagi untuk digunakan. Kemudian, perubahan kebijakan nasional juga menyebabkan peta tersebut tidak lagi memiliki peran formal dalam sistem perencanaan yang berlaku. Oleh karena itu, peta tersebut perlu disusun kembali berdasarkan kajian mendalam yang solid dan peningkatan pelibatan sektor-sektor terkait termasuk pimpinan sebagai pengambilan keputusan, agar komitmen terhadap implementasi rencana mendapatkan dukungan yang cukup. Pendekatan yang fleksibel dapat dimanfaatkan agar rencana yang digariskan mampu beradaptasi dengan kondisi yang dinamis dalam kegiatan penataan ruang guna mewujudkan kota yang berkualitas dan berkelanjutan.
PERANCANGAN BUKU PANDUAN WISATA KOTA BANJARMASIN
Industri pariwisata adalah pilar penting dalam perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu kota yang berpotensial dalam bidang pariwisata adalah Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Namun, penyebaran informasi akan pariwisata di kota ini masih belum dilakukan dengan maksimal. Berangkat dari masalah tersebut, perancang mengusulkan sebuah solusi dari sudut pandang desain grafis dengan membuat buku panduan wisata Kota Banjarmasin untuk masyarakat, khususnya dewasa muda. Perancangan ini bertujuan untuk mengenalkan keunikan Kota Banjarmasin dari perspektif pariwisata. Perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara ahli, oberservasi, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari perancangan ini merupakan buku panduan berbentuk digital dan fisik yang berisikan informasi yang komprehensif dan visual yang menunjukkan keunikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai. Melalui perancangan ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mencari informasi mengenai pariwisata di Kota Banjarmasin, sekaligus menjadi sebuah sumber informasi sejarah perkembangan pariwisata di Kota Banjarmasin yang terpadu.
EVALUASI INFRASTRUKTUR PARIWISATA DI TANJUNG KELAYANG BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI WISATAWAN DAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN
Pandemi COVID-19 mengubah tren pariwisata karena pembatasan perjalanan dan kekhawatiran wisatawan, menekankan pentingnya pariwisata berkelanjutan. Pengembangan pariwisata di Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diarahkan untuk mendukung keberlanjutan. Pemerintah daerah berupaya meningkatkan infrastruktur pendukung pariwisata, namun perlu dipastikan bahwa infrastruktur tersebut telah memenuhi kriteria keberlanjutan serta sesuai dengan persepsi dan preferensi wisatawan dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi infrastruktur pariwisata di Tanjung Kelayang berdasarkan persepsi dan preferensi wisatawan serta masyarakat dalam upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan. Berdasarkan tujuan tersebut, terdapat tiga sasaran penelitian, yakni teridentifikasinya infrastruktur pariwisata Tanjung Kelayang berdasarkan prinsip pariwisata berkelanjutan, teridentifikasinya persepsi dan preferensi wisatawan serta masyarakat terhadap infrastruktur pariwisata berkelanjutan, dan rumusan arahan kebijakan pengembangan infrastruktur pariwisata Tanjung Kelayang berdasarkan persepsi dan preferensi wisatawan serta masyarakat sesuai dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan menggabungkan analisis deskriptif kuantitatif (Importance Performance Analysis) dan analisis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa prioritas utama yang perlu dikembangkan di Tanjung Kelayang, khususnya dalam hal infrastruktur transportasi udara, infrastruktur darat dan pelabuhan, serta aspek ekonomi dan lingkungan. Rekomendasi pengembangan pariwisata didasarkan pada delapan strategi prioritas yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pariwisata di Tanjung Kelayang di masa depan.