📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenDESAIN KONFIGURASI MOORING UNTUK SISTEM BONGKAR MUAT CURAH CAIR MENGGUNAKAN SINGLE POINT MOORING (SPM) TIPE CALM BUOY
Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengevaluasi konfigurasi sistem mooring untuk fasilitas bongkar muat curah cair menggunakan Single Point Mooring (SPM) tipe Catenary Anchor Leg Mooring (CALM) Buoy yang terhubung dengan Floating Storage and Offloading (FSO). Pemodelan dan analisis dinamik dilakukan menggunakan perangkat lunak OrcaWave untuk memperoleh koefisien hidrodinamika kapal dan OrcaFlex untuk simulasi respon dinamik secara keseluruhan. Input pemodelan mencakup variasi pembebanan lingkungan berdasarkan dua kondisi, Design Operating Condition (DOC) dan Design Environmental Condition (DEC). Evaluasi struktur didasarkan pada tinjauan tegangan efektif pada mooring chain dan hawser, minimum bending radius pada underbuoy hose dan floating hose, serta gaya lateral pada jangkar. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi DOC dan DEC, tegangan maksimum pada mooring chain dan hawser masih berda di bawah batas tegangan izin. Bend radius yang terjadi pada sistem hose juga tidak melampaui batas minimum bending radius. Selain itu, berdasarkan gaya lateral maksimum pada titik jangkar, sistem ini direkomendasikan menggunakan jangkar tipe STEVPRIS MK5 dengan berat 8 MT. Secara keseluruhan, konfigurasi mooring yang dirancang telah memenuhi seluruh kriteria desain.
EVALUASI KINERJA DAN PERILAKU RESPONS SEISMIK BANGUNAN BERTINGKAT DENGAN STRUKTUR RANGKA BAJA PENAHAN GEMPA TWO STORY X-BRACED FRAME, ZIPPER BRACED FRAME DAN STRUT-TO-GROUND BRACED
Zipper Braced Frame, Strut to Ground Braced Frame, dan Two Story X – Braced Frame merupakan 3 tipe sistem struktur yang sering dikategorikan kedalam Special Concentrically Braced Frame (SCBF) yang diatur dalam ASCE 7 – 16, Namun hal tersebut minimbulkan banyak pertanyaan dimana dengan bentuk konfigurasi brace terpasang yang berbeda tiap tipenya tentunya akan menghasilkan respons struktur yang bebeda pada struktur yang memiliki kategori ketinggian berbeda : tinggi, sedang dan rendah, oleh karena itu evaluasi kinerja serta analisis perilaku respons struktur tiap tipe struktur dengan beberapa variasi kategori ketinggian perlu dilakukan agar dapat mengetahui kinerja tiap tipe sekaligus dapat mengetahui apakah batasan ketinggian yang ditetapkan aturan untuk sistem SCBF setinggi 48 m untuk KDS D apakah masih relevan jika terhadap 3 tipe brace ini. Prosedur analisis nonlinier dinamik dengan metode Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) dipilih dalam menganalisis struktur bangunan, tiap objek telah melalui tahapan desain diawal dan sesuai aturan desain bangunan baja tahan gempa, selain itu elemen kolom dan balok pada portal penahan gempa didesain agar masih dalam kondisi elastis saat elemen brace gagal dengan menggunakan desain kapasitas. Metode evaluasi ini dinilai relevan untuk saat ini dilakukan, serta respons struktur yang dihasilkan dapat lebih akurat dibandingkan metode numerik lainnya, Hasil evaluasi kinerja untuk tiap tipe dilihat dari masing – masing DCR frame hinge yang dihasilkan seluruh elemen forced controlled dan deformation controlled memiliki DCR < 1 (Izin) serta simpangan struktur yang dihasilkan < 4% simpangan izin, namun terkhusus untuk TSXBF pada struktur kategori tinggi penggunaan profile yang digunakan terutama untuk brace tidak bisa berangkat dari ukuran yang sama dengan tipe ZF dan STG. Respons struktur yang diambil sebagai bahan analisis perilaku terdiri dari simpangan antar lantai, disipasi energi elemen brace tiap lantai dan persentase degradasi kekakuan struktur, Berdasarkan 3 respons struktur tersebut didapatkan bahwa tipe TSXBF memiliki kinerja seismik yang baik jika diterapkan pada bangunan bertingkat rendah hingga sedang sedangkan tipe ZF & STG memiliki kinerja yang baik jika diterapkan pada bangunan bertingkat tinggi.
PENGEMBANGAN SISTEM PEMANDU PEREMUKAN CRASH BOX UNTUK PENINGKATAN PENYERAPAN ENERGI PADA APLIKASI KERETA KECEPATAN TINGGI
Kelaiktabrakkan pada kereta kecepatan tinggi sangat peka terhadap ketidaksempurnaan perakitan—terutama ketidakselarasan—yang dapat mengalihkan beban dari kotak serap energi tumbukan (crash box) ke sambungan dan memicu kegagalan dini. Hal ini bertentangan dengan maksud Manajemen Energi Tabrakan (EN 15227) yang menuntut deformasi terkontrol pada komponen penyerap. Berangkat dari temuan uji tumbuk skala penuh yang menunjukkan bahwa ketidakselarasan dan integritas sambungan mendominasi jalur beban, studi ini mengembangkan serta memvalidasi sistem pemandu peremukan. Metodologi menggabungkan tiga uji tumbuk skala penuh dengan analisis elemen-hingga dinamik eksplisit; model elemen-hingga dikalibrasi terhadap set uji paling andal dan diperkaya untuk merepresentasikan degradasi las/daerah terpengaruh panas (HAZ) serta konektor baut dengan kapasitas/prategang. Kajian sensitivitas mengeksplorasi ketidakselarasan sudut dan kapasitas sambungan, kemudian dilanjutkan dengan prototipe virtual sistem pemandu. Validasi menekankan metrik yang relevan bagi aplikasi—gaya–perpindahan, fitur kecepatan–waktu serta kesesuaian mode kegagalan—bukan semata dekomposisi energi.
PERBANDINGAN PRESTASI UNTUK TIGA METODE PENYEIMBANGAN DINAMIK
Proses penyeimbangan rotor merupakan langkah penting dalam menjaga umur operasional mesin rotasi di berbagai sektor industri. Setiap rotor yang berputar memerlukan penyeimbangan untuk memastikan distribusi massa merata dan menghindari getaran berlebih. Ketakseimbangan pada rotor dapat meningkatkan risiko kerusakan serta memperpendek umur operasional mesin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membandingkan prestasi tiga metode penyeimbangan dinamik, yaitu Metode A (tanpa pemotongan sinyal), Metode B (dengan pemotongan sinyal), dan Metode C (Time Synchronous Averaging). Penelitian ini dilakukan pada perangkat uji rotor satu tingkat dan dua tingkat, masing-masing dengan satu dan dua bidang penyeimbangan. Pada tahap awal, dilakukan proses penyeimbangan pada rotor satu tingkat untuk mendapatkan kondisi referensi, sedangkan pada rotor dua tingkat dilakukan pengukuran getaran guna memperoleh spektrum sebagai dasar penentuan massa tak seimbang yang dipasang agar amplitudonya berbeda cukup jauh dari kondisi tersebut. Selanjutnya, pengujian pada rotor satu tingkat difokuskan untuk melihat pengaruh variasi massa tak seimbang terhadap prestasi penyeimbangan, sedangkan pada rotor dua tingkat difokuskan pada pengaruh ketakseimbangan rotor bawah terhadap prestasi penyeimbangan rotor atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode dengan TSA menghasilkan prestasi penyeimbangan terbaik pada pengujian satu bidang penyeimbangan, baik pada rotor satu maupun dua tingkat. Pada pengujian dua bidang penyeimbangan, ketiga metode menunjukkan keunggulan masing-masing bergantung pada pengujian. Selain itu, metode tanpa pemotongan sinyal cenderung menghasilkan standar deviasi sudut fasa yang lebih besar dibandingkan metode dengan pemotongan sinyal.
PENGARUH PEMODELAN BADAN KERETA FLEKSIBEL DAN KONFIGURASI UNDER-CHASSIS EQUIPMENT TERHADAP STABILITAS DAN KENYAMANAN BERKENDARA PADA KERETA CEPAT
Industri kereta cepat mengalami peningkatan di era modern seperti saat ini, sehingga penting untuk memperhatikan faktor keamanan dan kenyamanan penumpang dalam mendesainnya. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah getaran atau vibrasi yang berasal dari badan kereta (carbody) dan komponen yang dipasang di bawah carbody (under-chassis equipment). Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian terkait pengaruh posisi peletakan dan konfigurasi suspensi penggantung dari komponen under-chassis equipment. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis dinamik dengan melakukan pemodelan badan kereta cepat sebagai benda fleksibel (flexible body) disertai dengan variasi nilai kekakuan pegas (k) dan koefisien redaman (c) pada suspensi penggantung under-chassis equipment. komponen. Selain itu, dilakukan pula variasi posisi peletakan komponen under-chassis equipment untuk mendapatkan hasil posisi yang menghasilkan reduksi vibrasi paling optimal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan dari posisi peletakan komponen under-chassis equipment. Peletakan komponen yang semakin menjauh dari titik pusat referensi carbody menghasilkan reduksi vibrasi vertikal yang paling optimal, yaitu 1 – 2 Hz. Selain itu, variasi nilai k dan c pada suspensi penggantung komponen juga memiliki pengaruh terhadap penurunan amplitudo dan spektrum vibrasi yang mampu meningkatkan kenyamanan penumpang dan kestabilan gerak kereta cepat. Diketahui bahwa reduksi vibrasi terbesar terjadi pada bagian tengah (middle) carbody dengan besar reduksi mencapai 20%.
EVALUASI TEKNIS DAN PERANCANGAN BESS UNTUK SISTEM DENGAN PENETRASI ENERGI TERBARUKAN VARIABEL: STUDI KASUS SISTEM KELISTRIKAN TERISOLASI DI INDONESIA
Untuk mendukung target Indonesia dalam mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060, pemerintah terus mendorong percepatan pemanfaatan sumber Energi Terbarukan Variabel (Variable Renewable Energy/VRE), khususnya tenaga surya dan angin. Meskipun transisi ini meningkatkan keberlanjutan dan menurunkan biaya operasional, sifat intermiten dan tidak terduga dari VRE menimbulkan tantangan besar bagi sistem kelistrikan kecil dan terisolasi seperti di Lombok khususnya dalam menjaga stabilitas frekuensi dan keandalan sistem. Studi ini menyajikan evaluasi menyeluruh yang menggabungkan simulasi produksi berbasis model optimalisasi dispatch pembangkit dengan kajian teknis, termasuk analisis aliran daya dan deviasi frekuensi. Perangkat lunak PLEXOS digunakan untuk perencanaan dispatch jangka panjang, sedangkan simulasi kuasi-dinamis di DIgSILENT PowerFactory digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pada skenario penetrasi VRE yang tinggi. Selain itu, dampak integrasi Battery Energy Storage System (BESS) dianalisis untuk meredam deviasi frekuensi dan meningkatkan ketahanan sistem. Temuan studi ini memberikan wawasan strategis yang aplikatif dalam perencanaan sistem kelistrikan terisolasi dengan penetrasi energi terbarukan tinggi, dengan tetap mempertimbangkan aspek teknis dan keekonomian.
DAMPAK FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPASTIAN HARGA KOMODITAS TEMBAGA TERHADAP STRATEGI PRODUKSI
Disertasi ini menganalisis volatilitas harga tembaga melalui pendekatan sistem dinamis, dengan mengintegrasikan faktor-faktor mikro dan makroekonomi sebagai determinan harga. Dengan menggunakan data pasar global dari tahun 1992 hingga 2023, penelitian ini mengaplikasikan analisis regresi, model Value at Risk berbasis EGARCH, serta pemodelan System Dynamics untuk mengevaluasi interaksi harga yang kompleks. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa permintaan, Produk Domestik Bruto (PDB), pasokan, indeks Dolar Amerika Serikat, dan strategi lindung nilai (hedging) merupakan variabel yang paling signifikan, menjelaskan 78,4% variasi harga. Model EGARCH mengungkap adanya volatility clustering dengan tingkat persistensi tinggi (? = 0,842), yang mengindikasikan dampak jangka panjang dari guncangan pasar. Simulasi menggunakan System Dynamics memperlihatkan bahwa penggabungan berbagai strategi—seperti penyesuaian produksi, hedging, integrasi vertikal, dan diversifikasi portofolio—dapat meredam volatilitas hingga 28% dalam skenario ekstrem, jauh lebih efektif dibanding pendekatan yang hanya mengandalkan satu variabel. Penelitian ini juga mengidentifikasi efek asimetris antara guncangan pasokan dan permintaan, di mana gangguan pasokan menyebabkan ketidakstabilan harga 15–20% lebih besar dibanding fluktuasi permintaan dengan skala yang sama. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan, dengan menekankan pentingnya kerangka manajemen risiko yang terintegrasi, yang secara simultan mencakup dimensi operasional, finansial, dan strategis dalam menghadapi eksposur pasar tembaga.
ANALISIS RESPON TANAH PERBAIKAN MENGGUNAKAN DEEP SOIL MIXING PADA TANAH TERLIKUEFAKSI
Likuefaksi umumnya terjadi pada tanah lepas jenuh air yang mengalami beban siklik, seperti gempa bumi. Akumulasi Air pori yang tidak terdisipasi menyebabkan berkurangnya tegangan efektif hingga mendekati nol, sehingga tanah sepenuhnya kehilangan kuat gesernya. Salah satu metode perbaikan tanah yang umum digunakan untuk mitigasi likuefaksi adalah Deep Soil Mixing (DSM). Penelitian terhadap efektifitas DSM dalam memitigasi likuefaksi telah banyak dilakukan, beberapa diantaranya memperlihatkan respon yang positif berupa penurunan angka rasio tegangan air pori berlebih (Ru) pada tanah disekitar kolom perbaikan. Namun hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Rayamajhi (2015) memperlihatkan bahwa DSM tidak memberikan efek yang signifikan dalam mereduksi tegangan air pori berlebih pada nilai intensitas percepatan batuan dasar (PBA) gempa yang besar (contoh: 0.46 g) . Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi efektifitas dari DSM model grid dalam mereduksi terbentuknya air pori berlebih di area yang tidak diperbaiki di tengah grid. Selain itu efek dari adanya struktur eksisting berupa MSE Wall juga ditinjau untuk mengetahui pengaruh tegangan confining yang sering diabaikan pada penelitian-penelitian sebelumya. Evaluasi dilakukan menggunakan analisis tegangan efektif dan analisis dinamik dengan konsolidasi, dengan mempertimbangkan variasi kondisi pembebanan struktur, Karakteristik beban gempa (mekanisme dan intensitas), area replacement ratio (Ar%), dan kepadatan tanah. Performa DSM dievaluasi berdasarkan deformasi timbunan, penurunan tanah, dan terbentuknya tegangan air pori dari tanah perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DSM model grid dengan Ar%=0-30% tidak signifikan dalam mengurangi potensi likuefaksi pada tanah di tengah-tengah grid ketika intensitas PBA gempa berada pada rentang penelitian ini yaitu 0.3g - 0.5 g, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai r? yang tetap mencapai 1 selama pembebanan berlangsung. Secara performa, kenaikan nilai Ar% secara linear memperkecil penurunan yang terjadi pada tanah disekitar kolom perbaikan. Namun tidak secara signifikan memberikan respon kekangan terhadap deformasi arah lateral. Selain itu efek timbunan diatas DSM secara efektif mereduksi tegangan air pori berlebih sehingga penurunan Ru jelas terlihat pada tegangan confining yang lebih besar.
ANALISIS DINAMIK SUSPENSI KENDARAAN RODA TIGA TADPOLE UNTUK KENYAMANAN BERKENDARA
Suspensi sebagai sistem yang paling kritis yang menentukan performa berkendara, kenyamanan penumpang, dan juga keamanan berkendara. Dalam merancang sebuah sistem suspensi, pemilihan kekakuan pegas dan konstanta peredam harus dipertimbangkan dengan aspek yang berbeda. Salah satu metode untuk menentukan sistem suspensi yang tepat dapat dilakukan dengan melakukan simulasi menggunakan program Multi Body Dynamic (MBD) dengan beberapa jenis kondisi jalanan. Untuk menentukan parameter dinamis suspensi yang sesuai dengan kendaraan roda 3 Tadpole, dilakukan analisa secara dinamik dan teoritis untuk mengetahui nilai konstanta pegas, peredam, dan performanya dalam berbagai kondisi permukaan jalan. Performa yang ingin diuji dalam penelitian ini adalah konstanta pegas dan peredam serta pengaruhnya terhadap respons dinamis percepatan kendaraan pada arah vertikal, lateral, dan longitudinal. Parameter dinamis suspensi diperoleh melalui analisis secara teoretis sedangkan respons dinamis kendaraan berupa percepatan diperoleh dari simulasi menggunakan program Multi Body Dynamic (MBD) dengan beberapa kondisi profil permukaan jalan sesuai dengan ISO 8606. Hasil dari pengujian kendaraan roda tiga Tadpole dengan menggunakan nilai parameter dinamis suspensi dari hasil perhitungan teoritis akan dibandingkan dengan ISO 2631 untuk menentukan tingkat kenyamanan berkendara. Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa kendaraan tersebut nyaman digunakan pada kondisi jalan baik, cukup tidak nyaman pada kondisi jalan rata-rata, dan tidak nyaman pada kondisi jalan jelek.
STUDI KARAKTERISTIK DINAMIK SISTEM SUSPENSI SEMIAKTIF DENGAN PEREDAM SKYHOOK UNTUK PENINGKATAN KENYAMANAN BERKENDARA KERETA API
Suspensi merupakan komponen kendaraan yang sangat krusial karena sangat menentukan respons dinamik suatu kendaraan saat terjadi gangguan saat berkendara. Pengaturan suspensi dapat mengubah respons dinamik dengan mengatur kekakuan pegas dan kemampuan peredaman suspensi. Dengan kemajuan teknologi di era sekarang, pengaturan karakteristik suspensi dapat dilakukan secara simultan dengan bentuk gangguan yang diberikan oleh jalan, teknologi tersebut dikenal dengan suspensi semiaktif. Suspensi semiaktif mengubah karakteristik dinamik dilakukan dengan cara mengubah nilai peredaman pada damper. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan variabel damper. Sistem kontrol yang digunakan dapat memanfaatkan gangguan yang diberikan pada kendaraan menjadi feedback input agar percepatan yang dirasakan oleh pengendara menjadi lebih kecil. Penelitian ini akan difokuskan untuk melihat efek dari respons dinamik secara vertikal sebuah badan kereta pada suspensi pasif dan suspensi semiaktif. Akan dilakukan simulasi secara numerik pada MATLAB Simulink untuk mendapatkan respons dinamik dalam arah vertikal, baik yang dimiliki oleh suspensi pasif maupun suspensi semiaktif. Respons dinamik tersebut akan menjadi informasi peningkatan performa dinamik kereta api. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam perancangan suspensi kereta api sehingga dapat meningkatkan kenyamanan berkendara. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan petunjuk penelitian-penelitian mendatang.
PENGARUH FLEKSIBILITAS BADAN KERETA TERHADAP RESPON GETARAN YANG TERJADI PADA KERETA API KECEPATAN TINGGI
Kereta api cepat merupakan salah satu teknologi kereta api yang masih dikembangkan hingga saat ini. Sesuai dengan namanya, kereta api cepat merupakan kereta api dengan kecepatan maksimum yang tinggi, yaitu di atas 200 km/h. Oleh sebab itu, kereta api cepat harus menggunakan material yang ringan dengan tujuan menghemat energi. Permasalahan yang timbul adalah material yang ringan umumnya memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Dengan begitu, pemodelan badan kereta sebagai benda yang kaku sempurna sudah tidak dapat digunakan lagi pada analisis dinamik kereta api cepat. Pada penelitian ini, penulis akan melakukan simulasi dinamik untuk mengetahui perbedaan respon getaran yang terjadi pada badan kereta kaku dan fleksibel sebagai akibat dari eksitasi ketidakrataan jalan rel. Pemodelan badan kereta fleksibel akan dilakukan dengan menggunakan metode elemen hingga pada perangkat lunak ANSYS Mechanical dan model tersebut akan diintegrasikan ke perangkat lunak sistem benda jamak, yaitu Universal Mechanism (UM) dengan aturan file yang sudah diubah terlebih dahulu sesuai dengan persyaratan yang diminta UM untuk melakukan simulasi dinamik. Hasil FFT menunjukkan bahwa badan kereta fleksibel memiliki puncak yang paling tinggi di sekitar frekuensi 10 Hz dan tidak dimiliki oleh badan kereta yang kaku, sehingga badan kereta fleksibel memiliki amplitudo getaran yang tinggi dengan bentuk modus getar vertical bending ketika dioperasikan.
PENGEMBANGAN PROGRAM PENGOLAHAN DATA KETIDAKTERATURAN JALAN REL HASIL PENGUKURAN KERETA UKUR SEBAGAI INPUT DATA KETIDAKTERATURAN JALAN REL DI PERANGKAT LUNAK UNIVERSAL MECHANISM
Data ketidakteraturan jalan rel dibutuhkan dalam perancangan kereta api sebagai input simulasi dinamik. Data ketidakteraturan rel hasil pengukuran kereta ukur perlu diolah sebelum digunakan. Program untuk mengolah data ketidakteraturan rel telah dikembangkan oleh lab PPTI KA FTMD ITB dan perlu divalidasi serta disempurnakan sebelum diimplementasikan oleh industri. Penelitian dimulai dengan pemodelan dan validasi kereta ukur. Data ketidakteraturan hasil program dan respon akselerasi simulasi dibandingkan dengan ketidakteraturan lainnya untuk evaluasi program. Evaluasi yang dilakukan menemukan permasalahan pada program. Berdasarkan evaluasi, maka dilakukan modifikasi pada program. Modifikasi yang dilakukan berhasil dan dibuktikan dengan akselerasi simulasi setelah modifikasi. Setelah itu, dibandingkan akselerasi simulasi dengan akselerasi pengukuran. Analisis akselerasi setelah modifikasi menunjukkan bahwa akselerasi vertikal pada axle kiri simulasi menyerupai akselerasi pengukuran. Akselerasi badan kereta vertikal simulasi juga sudah menyerupai akselerasi pengukuran, tetapi akselerasi badan kereta lateral berbeda. Perbedaan ini dapat disebabkan kualitas pengukuran, pengolahan data, dan pemodelan kereta ukur.
PENGARUH PEMBEBANAN BERULANG DENGAN METODE IMPACT TEST TERHADAP PERUBAHAN KEKUATAN BATU MARMER
Kegiatan penambangan dilakukan untuk mengambil mineral yang dilakukan secara mekanis menggunakan alat berat seperti excavator dan backhoe. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rock fatigue akibat pembebanan berulang oleh aktivitas alat berat. Dampak dari pembebanan berulang tersebut dapat diketahui dengan melakukan penelitian menggunakan impact test. Penelitian diawali dengan uji sifat fisik dan uji cepat rambat gelombang ultrasonik, selanjutnya dilakukan uji kuat tekan uniaksial. Sampel uji yang digunakan adalah batu marmer. Pembebanan berulang yang diberikan terhadap sampel uji berasal dari energi yang ditimbulkan akibat dijatuhkannya besi dalam pada ketinggian 0,5 m (27,30 MPa), 0,6 m (29,90 MPa), 0,7 m (32,30 MPa), 1 m (38,61 MPa), dan 1,5 m (47,28 MPa) yang kemudian akan dihitung jumlah tumbukan yang diperlukan untuk memecahkan sampel uji. Pada pengujian selanjutnya, dilakukan impact test terhadap sampel uji dengan variasi jumlah tumbukan berturut-turut yaitu 15, 24, 33 kali untuk ketinggian 0,5 m; 11, 17, 23 kali untuk ketinggian 0,6 m; dan 8, 12, 16 kali untuk ketinggian 0,7 m. Setelah itu, dilakukan uji kuat tekan uniaksial terhadap sampel uji untuk membandingkan nilai kuat tekan, Modulus Young, dan Nisbah Poisson pada kondisi setelah dan sebelum impact test. Hasil dari penelitian adalah semakin tinggi besi penekan dijatuhkan, maka semakin besar tegangan dinamik yang diberikan sehingga jumlah tumbukan yang diperlukan untuk membuat sampel uji pecah semakin sedikit. Berdasarkan fenomena pecahnya sampel uji, ada empat tahapan pecahnya sampel uji yaitu terkikisnya permukaan sampel uji, terbentuknya rekahan awak, terbentuknya rekahan sepanjang sampel uji, dan pecahnya sampel uji. Setelah dilakukan impact test, terjadi penurunan nilai kuat tekan dan Modulus Young dan untuk Nisbah Poisson tidak mengalami perubahan signifikan oleh adanya impact test.
STUDI PARAMETRIK INTERAKSI STRUKTUR REL DENGAN ANALISIS DINAMIK PADA JEMBATAN KERETA CEPAT BENTANG PANJANG
Penggunaan CWR (continuous welded rail), sebuah rel yang bersifat panjang dan kontinu, dapat menyebabkan terakumulasinya tegangan sehingga permasalahan keamanan dapat saja terjadi pada rel. Pada jembatan kereta cepat yang turut menggunakan CWR, perilaku dari jembatan dapat menyebabkan terjadinya interaksi antara struktur dan rel (rail structure interaction) sehingga menghasilkan tegangan dan deformasi tambahan pada rel. Oleh karena itu, fenomena rail structure interaction perlu untuk ditinjau lebih lanjut agar dapat mengetahui tegangan dan deformasi tambahan yang dialami oleh rel sebagai akibat dari beban yang dialami oleh CWR yang bersifat kontinu tersebut. Pada saat kereta berkecepatan tinggi melewati sebuah struktur jembatan, struktur tersebut dapat mengalami efek dinamik yang tinggi sehingga berpotensi menimbulkan respon berlebih pada struktur seperti peningkatan akselerasi ataupun terjadinya efek resonansi. Pada pendesainan jembatan, efek dinamik umumnya diperhitungkan dengan menggunakan sebuah faktor amplifikasi dinamik (FAD) yang digunakan pada pembebanan analisis statik sehingga hasil yang diperoleh berdasarkan analisis statik diharapkan dapat menggambarkan hasil analisis dinamik yang sesungguhnya. Namun, berdasarkan berbagai studi terdahulu, terdapat beberapa keterbatasan dari penggunaan FAD. Pada standar-standar terkait analisis dinamik jembatan, faktor amplifikasi dinamik umumnya merupakan sebuah fungsi dari panjang bentang jembatan saja, namun sebenarnya banyak variabel lainnya yang berpengaruh terhadap penentuan faktor amplifikasi dinamik saja sehingga dinilai kurang akurat. FAD juga dianggap tidak dapat merepresentasikan respon dinamik dengan akurat. Selain itu, FAD tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan terjadinya peningkatan akselerasi dan efek resonansi pada struktur. Dalam kasus bentang panjang, struktur yang lebih fleksibel, penggunaan CWR yang panjang, serta keterbatasan FAD konvensional terhadap kasus bentang panjang dapat menyebabkan respon struktur yang berlebih sehingga peninjauan rail structure interaction pada kasus jembatan bentang panjang menjadi lebih krusial......
EVALUASI KINERJA PERBAIKAN TANAH DENGAN METODE RIGID INCLUSION DAN STONE COLUMN PADA KASUS GEMPA PALU 2018
Perbaikan tanah tipe kolom berupa rigid inclusion dan stone column umum digunakan sebagai solusi dalam mitigasi potensi likuefaksi. Mitigasi potensi likuefaksi pada umumnya dilakukan berdasarkan tiga prinsip yaitu melalui mekanisme pemadatan akibat proses konstruksi, reduksi tegangan geser sebagai efek perkuatan akibat kekakuan kolom yang lebih tinggi, dan drainase tegangan air pori ekses. Rigid inclusion meningkatkan ketahanan tanah terhadap potensi likuefaksi melalui mekanisme pemadatan dan reduksi tegangan geser akibat kekakuan kolom. Sementara stone column bekerja melalui ketiga mekanisme tersebut. Saat ini metode perancangan rigid inclusion dan stone column umum dilakukan dengan asumsi terjadi kompatibilitas regangan geser antara kolom diskrit dan tanah di sekitarnya, sehingga memberikan estimasi reduksi tegangan geser yang relatif besar. Namun terdapat perbedaan pendapat bahwa tidak terjadi kompatibilitas regangan geser yang berdampak pada estimasi reduksi tegangan geser yang lebih kecil. Pada penelitian ini dievaluasi kinerja rigid inclusion dan stone column yang berfokus pada mekanisme reduksi tegangan geser akibat kekakuan kolom yang lebih tinggi pada kondisi Gempa Palu 2018 di Desa Petobo. Evaluasi dilakukan melalui pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan analisis dinamik. Analisis parametrik dilakukan dengan variasi nilai area replacement ratio, rasio kekakuan kolom terhadap tanah, dan diameter kolom untuk menentukan kompatibilitas regangan geser dan reduksi tegangan geser yang terjadi. Hasil pemodelan numerik menunjukkan bahwa reduksi tegangan geser yang terjadi dengan instalasi rigid inclusion lebih kecil daripada yang diperkirakan dengan asumsi kompatibilitas regangan geser. Pada stone column diperoleh hasil serupa dimana reduksi tegangan geser yang terjadi relatif lebih kecil terutama pada area replacement ratio yang tinggi. Kompatibilitas regangan geser yang terjadi antara rigid inclusion maupun stone column dan tanah di sekitarnya tidak terjadi di permukaan, namun mulai terjadi pada kedalaman tertentu. Parameter yang mempengaruhi terjadinya reduksi tegangan geser dan kompatibilitas regangan geser pada rigid inclusion maupun stone column adalah area replacement ratio, sementara rasio modulus geser dan diameter kolom tidak terlalu berpengaruh secara signifikan.