📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenESTIMATION OF JOINT ANGLES OF THE UPPER EXTREMITY USING MACHINE LEARNING AND EMG SIGNALS
Musculoskeletal disorders are among the leading causes of disability worldwide and often affect the functionality of the upper extremity. Monitoring joint angles is important for understanding human movement, rehabilitation, and biomechanical analysis. Conventional measurement methods such as optical motion capture systems provide accurate results but require expensive equipment and controlled laboratory environments. Surface electromyography (sEMG) offers a more accessible alternative because muscle activation signals contain information related to joint movement. Therefore, this study aims to estimate the joint angles of the upper extremity using sEMG signals combined with machine learning techniques. The research methodology involves collecting sEMG and motion capture data from approximately ten participants performing several upper extremity movements, including elbow flexion–extension, shoulder flexion–extension, shoulder hyperextension, and composite movements. sEMG signals are processed through filtering, rectification, and envelope extraction, while joint angle data are obtained from optical motion capture recordings processed using OpenSim inverse kinematics. The processed data are then used to train a Long Short- Term Memory (LSTM) machine learning model to learn the relationship between muscle activation patterns and joint angles. The results show that the machine learning model can estimate upper extremity joint angles from sEMG signals, particularly when the predicted joint is actively involved in the movement. Composite movements produce better prediction performance due to stronger and more consistent muscle activation patterns. However, the model performance decreases when predicting joints not directly involved in the movement and when tested on participants outside the training dataset. These findings indicate that sEMG-based joint angle estimation using machine learning is feasible but requires further improvements in data diversity and model generalization.
MODIFIKASI SCREEN PRINTED CARBON ELECTRODE (SPCE) DENGAN MENGGUNAKAN NANOPARTIKEL FE3O4@AU DAN POLIMER BERCETAKAN MOLEKUL UNTUK PENENTUAN IBUPROFEN
Ibuprofen merupakan obat populer yang tergolong ke dalam kelompok obat anti- inflamasi nonsteroid yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat artritis. Ibuprofen dapat menjadi polutan yang menimbulkan efek toksik bagi organisme akuatik diantaranya gangguan endokrin, kerusakan sel dan gen, serta gangguan darah dan aktivitas enzim hati. Oleh karena itu, deteksi ibuprofen dalam lingkungan air sangat diperlukan. Screen-printed carbon electrode (SPCE) termodifikasi nanopartikel Fe?O?@Au dan polimer bercetakan molekul dikembangkan untuk mendeteksi ibuprofen pada limbah air. Nanopartikel Fe?O?@Au dipilih untuk meningkatkan laju transfer elektron pada permukaan elektroda dan polimer bercetakan molekul untuk meningkatkan selektivitas dari analit. Hasil karakterisasi nanomaterial dengan menggunakan FTIR, XRD, SEM-EDX dan TEM menunjukkan bahwa Fe?O?@Au/MIP telah berhasil disintesis. SPCE dimodifikasi dengan 2,5 ?L Fe?O?@Au/MIP yang didispersi dalam air dan etanol dengan konsentrasi 1 mg/mL. Kondisi optimum untuk pengukuran 1 mM ibuprofen dengan menggunakan teknik voltammetri pulsa diferensial dilakukan pada pH 6,5 dengan waktu inkubasi 6 menit. Mekanisme yang terjadi pada permukaan elektroda didominasi oleh laju difusi. Pada kondisi optimum, arus puncak anodik ibuprofen memiliki hubungan linear pada rentang konsentrasi 10 µM sampai 800 µM dengan batas deteksi sebesar 4,579 µM. Selain itu, SPCE yang dimodifikasi oleh Fe?O?@Au/MIP memiliki reproduksibilitas yang cukup baik dengan nilai %RSD sebesar 5,710 lebih kecil dari %RSD Horwitz sebesar 6,910. Pengukuran selektifitas dengan kehadiran senyawa pengganggu salah satunya dengan kehadiran naproxen tidak mengganggu pengukuran secara signifikan. SPCE yang telah dimodifikasi dengan Fe?O?@Au/MIP digunakan untuk mendeteksi ibuprofen pada sampel air kemudian dibandingkan dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil perbandingan pengukuran ibuprofen menggunakan teknik voltammetri dan HPLC menunjukkan akurasi yang cukup baik dengan persen perolehan kembali sebesar 93,25 – 97,56%. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil voltammetri dan HPLC sehingga dapat dikonfirmasi bahwa metode yang dikembangkan dapat digunakan untuk penentuan ibuprofen.
STUDI KARAKTERISTIK TRIBOLOGI DENGAN METODE AIR JET EROSION PADA KOMPOSIT SERAT KARBON DENGAN MATRIKS EPOXY
Komposit serat karbon adalah salah satu material yang sangat penting dalam berbagai industri seperti industri pesawat terbang, industri otomotif bahkan sampai kepada industri energi. Walaupun kekuatan komposit serat karbon sudah terbukti sangat baik dalam berbagai aplikasi, terdapat tantangan yang perlu diatasi yaitu dalam sifat tribologi, khususnya keausan erosi .Studi ini bertujuan untuk dapat mengetahui sifat keausan erosif dari komposit serat karbon-epoxy (epoksi) dengan berbagai parameter pengujian yaitu, tekanan, sudut serang, orientasi serat, dan perlakuan aging. Penelitian ini menggunakan alat air jet erosion dengan metode analisis Yates’s algorithm. Pengujian FTIR, uji keras Durometer shore D, uji densitas, dan pengamatan visual dilakukan untuk karakterisasinya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perubahan tekanan dari 1 Kg/cm! ke 0,5 Kg/cm! menurunkan pengurangan massa sebesar rata-rata 5 mg secara signifikan. Perubahan sudut serang dari 90° ke 60° meningkatkan pengurangan massa sebesar rata-rata 0,9 mg secara signifikan. Perubahan faktor orientasi serat yang dipilih pada percobaan yaitu 0° dan 45° tidak memengaruhi pengurangan massa secara signifikan. Perubahan faktor aging yang dipilih pada percobaan yaitu sampel virgin dan degraded tidak memengaruhi pengurangan massa secara signifikan.
STUDI WAKTU EKUILIBRIUM METODE KERTAS SARING KURVA KARAKTERISTIK TANAH-AIR (SOIL-WATER CHARASTERISTIC CURVE/SWCC) SHALE TERHANCURKAN TERKOMPAKSI DAERAH CISOMANG UNTUK WAKTU PEMERAMAN LEBIH DARI EMPAT MINGGU
Salah satu permasalahan geoteknik adalah karakteristik dari jenis tanah clay shale di daerah Cisomang. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah mekanika takjenuh dengan kurva karakteristik tanah-air (Soil-Water Characteristic Curve/SWCC). SWCC merupakan parameter penting dalam mekanika tanah takjenuh yang menggambarkan hubungan antara kadar air dan isapan tanah. Penelitian dilakukan pada clay shale terhancurkan terkompaksi daerah Cisomang untuk memperoleh kurva kadar air terhadap waktu untuk mencapai waktu ekuilibrium dalam waktu pemeraman lebih dari empat minggu. Pengujian yang digunakan adalah metode kertas saring dengan variasi terhadap waktu pemeraman kertas saring terhadap kadar air sampel tertentu. Kurva kadar air kertas saring terhadap waktu akan dilakukan pendekatan kurva regresi untuk menentukan waktu ekuilibrium. Penelitian bertujuan untuk mengkaji waktu ekuilibrium menggunakan metode kertas saring yang dapat menentukan kurva karakteristik tanah-air (Soil-Water Characteristic Curve/SWCC) pada clay shale yang terhancurkan dan terkompaksi di daerah Cisomang dengan waktu pemeraman lebih dari empat minggu. Metode kertas saring dipilih karena kemudahan dalam aplikasi untuk pengukuran SWCC. Hasil yang diperoleh dari metode ini adalah nilai kertas saring ketika ekuilibrium yang kemudian dapat dilakukan kalibrasi untuk pengukuran isapan matric berdasarkan ASTM D5298-16. Penelitian difokuskan untuk pengujian dengan kadar air target sampel tanah 10% untuk wetting dan 25% untuk drying. Data hasil pengujian laboratorium dianalisis menggunakan pendekatan regresi hiperbolik untuk menentukan waktu ekuilibrium. Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu ekuilibrium sekitar 14 - 55 hari. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam bidang mekanika tanah takjenuh, khususnya dalam pengukuran SWCC. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya memperhatikan waktu pemeraman dalam eksperimen laboratorium untuk memperoleh hasil yang representatif.
PENGARUH EKSTRAK LAVENDER, RICE MILK, ROSE OIL, DAN WHITE TEA TERHADAP INTEGRITAS SEL KULIT MELALUI ANALISIS EKSPRESI GEN FILAGGRIN (FLG), INVOLUCRIN (IVL), DAN LORICRIN (LOR) PADA SEL HACAT
Kulit memiliki peran vital sebagai pelindung utama tubuh terhadap patogen, sinar UV, dan kerusakan kimiawi maupun mekanik. Keutuhan struktur kulit ini dikenal sebagai integritas kulit. Ekstrak lavender, rice milk, rose oil, dan white tea memiliki berbagai macam aktivitas biologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekstrak lavender, rice milk, rose oil, dan white tea terhadap integritas sel kulit melalui analisis ekspresi mRNA Filaggrin, Involucrin, dan Loricrin pada sel HaCaT menggunakan metode qPCR. Sitotoksisitas ekstrak pada sel HaCaT diuji dengan reagen Resazurin untuk menentukan konsentrasi non-toksik. Pengaruh ekstrak lavender, rice milk, rose oil, dan white tea terhadap tingkat ekspresi mRNA Filaggrin, Involucrin, dan Loricrin pada sel HaCaT dianalisa menggunakan qPCR. Primer yang digunakan dianalisis secara in silico dan divalidasi dengan uji spesifisitas dan efisiensi primer secara in vitro. Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak uji tidak bersifat toksik. Primer yang menarget FLG, IVL, dan LOR memiliki efisiensi dan spesifisitas yang baik, sejalan dengan nilai yang baik pada parameter in silico. Ekstrak lavender (1000 ppm) meningkatkan level mRNA Involucrin dan Loricrin (32.43x dan 18.21x). Ekstrak rice milk (1000 ppm) meningkatkan level mRNA Involucrin dan Loricrin (3.15x dan 4.14x). Ekstrak rose oil (200 ppm) meningkatkan level mRNA Filaggrin dan Involucrin (1.42x dan 1.38x). Ekstrak white tea (100 ppm) meningkatkan level mRNA Filaggrin, Involucrin, dan Loricrin (25.63x, 2.21x, dan 13.46x). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak lavender, rice milk, rose oil, dan white tea memiliki potensi sebagai bahan aktif kosmetik untuk meningkatkan integritas sel kulit dan fungsi skin barrier.
STUDI EFEK ANTIDEPRESAN EKSTRAK DAUN KRATOM (MITRAGYNA SPECIOSA (KORTH.) HAVIL.) PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS WEBSTER
Depresi merupakan gangguan neurologis yang memiliki insidensi tinggi. Bahan alam dapat menjadi alternatif, dan salah satunya adalah kratom (Mitragyna speciosa Korth.), yang telah ditunjukkan memiliki aktivitas biologi pada sistem saraf. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas antidepresan ekstrak etanol kratom pada model mencit depresi. Sebanyak 25 ekor mencit dan dibagi menjadi 5 kelompok ekstrak etanol, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif (fluoksetin 5 mg/kgBB) dan kelompok perlakuan dengan konsentrasi dosis 50mg/kgBB, 100mg/kgBB dan 200mg/kgBB. Tingkat depresi diukur dengan 5 parameter yang didapat melalui open-field test (Tcenter, Tborder, Tperiphere, dan jarak tempuh) dan forced swimming test (immobility time). Di akhir percobaan dilakukan pengukuran kadar kortisol otak. Mencit pada kelompok perlakukan ekstrak 100 mg/kg memiliki immobility time yang signifikan lebih rendah dibandingkan kontrol. Mencit pada kelompok ini juga menunjukkan persentase menempati zone tengah lebih tinggi dan jarak tempuh lebih panjang yang berbeda signifikan dibanding kontrol. Kadar kortisol pada mencit yang diberi perlakuan ekstrak 100 mg/kg juga signifikan lebih rendah dibanding kontrol. Kratom pada dosis 100 mg/kg menunjukkan aktivitas antidepresan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif pada pengamatan Tcenter (6,92% ± 4,27% vs. 1,38% ± 1,96%), Tperiphere (80,02% ± 12,44% vs. 95.92% ± 5,58%), jarak tempuh (7.033,08 ± 1.541,85 cm vs. 3.860,98 ± 1.872,16 cm), dan immobility time (98,89 ± 13,95 detik vs. 168,74 vs 26,62 detik).
<P ALIGN=
<p align="justify"> Korosi adalah ancaman serius pada industri pesawat terbang, regulasi juga sudah menyebutkan pentingnya proteksi terhadap struktur pesawat untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat korosi. Maka perlindungan berupa proses anodisasi untuk struktur pesawat berbahan dasar aluminium amatlah penting, namun fasilitas anodisasi PTDI menunjukkan ketidakoptimalan proses anodisasi dilihat dari ketebalan lapisan yang dihasilkan untuk material Al 2024-T3 selalu berada diambang batas persyaratan yaitu 2,6 ?m (syarat 2 – 7,5 ?m), hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kegagalan dalam proses pengujian korosi. Untuk itu dilakukan penelitian untuk meningkatkan ketebalan lapisan dan ketahanan korosi. Penelitian dilakukan berupa proses anodisasi asam kromat, pada variasi rapat arus (0,5, 1, dan 3 A/dm2) dengan waktu proses 60 menit dan variasi waktu proses (30, 52, dan 90 menit) dengan rapat arus 0,4 A/dm2. Pengujian ketahanan korosi dilakukan dengan metode salt pray dan karakterisasi permukaan pasivasi dengan pengujian EIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketebalan lapisan oksida dengan meningkatnya rapat arus dan waktu proses. Spesimen anodisasi dengan rapat arus 3 A/dm2 memiliki ketebalan tertinggi yaitu 5,00 ± 0,19 ?m dan spesimen anodisasi dengan waktu proses 30 menit memiliki ketebalan terendah yaitu 1,33 ± 0,26 ?m Selain itu terjadi peningkatan diameter pori dengan meningkatnya rapat arus dan waktu proses. Spesimen anodisasi dengan rapat arus 3 A/dm2 memiliki diameter pori terbesar yaitu 166,42 ± 55,89 nm dan spesimen anodisasi dengan waktu proses 30 menit memiliki diameter pori terkecil yaitu 28,09 ± 5,24 nm. Berdasarkan hasil pengujian korosi salt spray menunjukkan terbentuknya pitting korosi di permukaan lapisan oksida melalui pengamatan dengan mikroskop dan hasil pengujian kekasaran permukaan. Hasil EIS, menunjukkan dengan meningkatnya rapat arus dan waktu menghasilkan grafik nyquist yang meningkat diameter dan nilai impedansinya dan penurunan diameter grafik nyqust setelah proses salt spray. Hasil anodisasi setelah salt spray menunjukkan terbentuknya produk korosi di lapisan aluminium karakterisasi FTIR dan XRD. <p align="justify">