📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 15 dokumenPERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO DENGAN KAPASITAS TERPASANG 2 X 0,75 MW PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN CIJUREY PAKET I, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Bendungan Cijurey, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan upaya pemanfaatan infrastruktur bendungan untuk mendukung penyediaan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan teknis PLTM serta mengevaluasi kelayakan ekonominya. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi, perencanaan hidrolika bangunan, penentuan elevasi rumah pembangkit, serta analisis finansial. Elevasi powerhouse ditentukan berdasarkan pemodelan banjir rencana periode ulang 100 tahun dengan debit puncak sebesar 341,99 m³/s untuk menjamin keamanan infrastruktur. Hasil analisis menunjukkan daya bangkitan rata-rata sebesar 1.586,81 kW pada tahun basah, 1.002,36 kW pada tahun normal, dan 976,30 kW pada tahun kering. Produksi energi listrik tahunan masing-masing mencapai 7,69 GWh, 6,23 GWh, dan 5,00 GWh. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp32.452.805.332, proyek ini dinilai layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp6.620.704.916,16, IRR 13,48%, BCR 1,204, dan Payback Period 8,71 tahun.
STUDI KELAYAKAN DARI JOINT OPERATION DI PLANT FLOTASI TAILING EMAS
Perusahaan XYZ, bagian dari perusahaan multinasional dengan pengalaman luas memasok bahan kimia ke perusahaan pengolahan mineral di seluruh dunia, sedang mengeksplorasi Model Bisnis baru untuk memperluas jangkauannya dan menjadi pengelola bisnis pengolahan mineral. Dalam inovasi model bisnis ini, XYZ telah membuka studi kelayakan untuk bermitra dengan Perusahaan A. Beberapa aspek yang menjadi focus perhatian adalah capital budgeting untuk pendanaan project, aspek kritikal operasional dalam joint operational, analisis joint operation dan risk assessment. Project joint operation XYZ dengan perusahaan A berpotensi memberikan return investasi rata-rata sebesar USD 5.94 M over a 6-year project untuk lama project selama 6 tahun. Hal ini mennujukkan joint operation dengan menerapkan vertical integration bisa memberi return investasi yang lebih optimal jika dibandingkan dengan peran konvensional XYZ sebagai supplier chemical. Strategi awal Perusahaan untuk menggunakan 100% capital budgeting dengan menggunakan equity terbukti bukanlah opsi yang optimal. Berdasarkan analisis finansial, penggunaan ratio debt 50% untuk capital budgeting adalah pilihan yang lebih optimal untuk perusahaan. Penggunaan rasio ini tidak hanya memberikan advantage secara finansial tapi juga membatasi resiko dari debt bagi XYZ, terutama ketika XYZ akan membentuk strategic alliance. Untuk bisa memberikan added value bagi perusahaan A, sehingga perusahaan A mau bekerja sama membuat joint operation dengan XYZ, maka XYZ harus bisa memperbaiki operasional di plant flotasi XYZ. Berdasarkan analisis finansial, kombinasi dari feed grade, recovery dan gold price adalah kombinasi yang akan menginfluence keberlangsungan proyek ini. Risk Mitigasi yang perlu dilakukan oleh XYZ adalah menerapkan hedging untuk mitigasi price commodity dan menerapkan advanced resource study. Penerapan hedging dilakukan di level alliances, untuk bisa mendapatkan manfaat optimal dari hedging. Penerapan advance resource study akan membantu perusahaan untuk membuat forecast dan planning production. Untuk menjaga recovery, penerapan SOP dan pemantauan pabrik sangat penting.
STUDI KELAYAKAN PERANCANGAN PABRIK PT X UNTUK PRODUKSI RESIN POLYUREA-SILICATE
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan perancangan pabrik PT X yang akan memproduksi resin polyurea-silicate melalui studi kelayakan menyeluruh mencakup aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial-lingkungan, dan finansial. Produk resin ditujukan untuk sektor pertambangan dan konstruksi dengan potensi pasar yang terus meningkat. Analisis dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, termasuk proyeksi permintaan dengan metode compound annual growth rate (CAGR) dan quadratic linear regression, pemilihan lokasi dengan hybrid analysis, serta perhitungan indikator finansial seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan payback period. Hasil menunjukkan bahwa proyek memiliki prospek permintaan jangka panjang, proses produksi yang efisien, struktur organisasi yang fungsional, serta memenuhi regulasi yang relevan. Secara keseluruhan, proyek memenuhi kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial-lingkungan, dan finansial. Proyek dinyatakan layak dilaksanakan dengan nilai NPV sebesar Rp 5,925 miliar, IRR sebesar 13,015%, dan periode pengembalian investasi selama 8,579 tahun. Proyek ini juga diperkirakan akan memberikan dampak positif secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan efisiensi rantai pasok bahan kimia domestik. Implikasi manajerial dari hasil penelitian ini adalah pentingnya kesiapan organisasi dalam tahap implementasi, serta pengawasan berkelanjutan terhadap aspek teknis dan finansial.
PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH, AIR BUANGAN, VENT, AIR HUJAN, DAN SISTEM PEMADAM KEBAKARAN PADA GEDUNG RUMAH SUSUN X DI JAKARTA PUSAT: FOKUS AIR HUJAN DAN PEMADAM KEBAKARAN
Pembangunan hunian vertikal seperti Gedung Rumah Susun X di Jakarta Pusat, memerlukan perancangan sistem plambing yang andal untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang sistem plambing air hujan dan sistem pemadam kebakaran yang efektif, serta menganalisis kelayakan teknis dan ekonominya. Metodologi yang digunakan meliputi studi literatur terhadap standar SNI dan NFPA, serta evaluasi tiga alternatif sistem (konvensional, pengolahan terpusat, dan daur ulang) menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) berdasarkan enam kriteria. Hasil analisis menunjukkan bahwa Alternatif 3, yang mengintegrasikan pemanenan air hujan dan daur ulang air limbah domestik (grey water), merupakan sistem yang paling unggul. Desain teknis sistem terpilih mencakup jaringan perpipaan air hujan dengan talang dan pipa PVC berdiameter hingga 100 mm, serta sistem pemadam kebakaran gabungan (sprinkler dan hidran) yang membutuhkan debit pompa total 997,284 L/menit pada tekanan 12,998 bar dengan volume tangki 70 m³. Analisis finansial dengan umur proyek 20 tahun menunjukkan kelayakan proyek dengan total biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp2.662.833.555,00, Net Present Value (NPV) sebesar Rp1.526.033.475,84 dan Benefit-Cost Ratio (BCR) 1,102.
PRODUKSI UMBI BENIH KENTANG G0 (SOLANUM TUBEROSUM L.) VARIETAS ZARINA DAN GRANOLA PADA SISTEM AEROPONIK
Aeroponik adalah metode budidaya tanpa tanah yang dirancang untuk memproduksi benih secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efisiensi produksi umbi benih kentang G0 var. Zarina dan var. Granola mulai dari kultivasi in vitro hingga pemanenan, serta menentukan pemodelan pertumbuhan tanaman var. Zarina dan Granola untuk mendukung scale up produksi ke skala industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju multiplikasi plantlet in vitro var. Zarina dan var. Granola berbeda signifikan, yaitu 5,33 dan 3,34 nodus/eksplan. Laju pertumbuhan batang dan akar plantlet aklimatisasi kedua varietas tidak berbeda signifikan, yaitu 0,34 cm/hari; 0,10 cm/hari dan 0,31 cm/hari; 0,26 cm/hari. Pada sistem aeroponik, pertumbuhan kedua varietas mengikuti pola sigmoidal, di mana siklus pertumbuhan var. Zarina lebih cepat dengan kecepatan pertumbuhan tertinggi pada 14-42 HST, sementara var. Granola pada 28-49 HST. Perolehan dan produktivitas umbi benih G0 var. Granola secara signifikan lebih tinggi, yaitu 12,14 umbi/tanaman dan 24,28 umbi/tanaman/tahun dibandingkan var. Zarina, yaitu 3,95 umbi/tanaman dan 11,85 umbi/tanaman/tahun. Namun, kualitas umbi kedua varietas tidak berbeda signifikan dengan berat, kadar air, dan persentase umbi G0 grade besar var. Zarina dan Granola, yaitu 9,56 g/umbi; 80,35%; 69,41% dan 9,73 gram; 83,12%; dan 76,58%. Analisis finansial menunjukkan produksi var. Zarina dan var. Granola layak untuk scale up, dengan R/C ratio mencapai 1,39 dan 3,96 serta keuntungan tahunan mencapai Rp57.093.606,00 dan Rp315.042.070,00. Kedua varietas ini diharapkan dapat mendukung produksi umbi benih kentang G0 pada skala industri di Indonesia secara berkelanjutan.
OPTIMALISASI UNIT FILTRASI, DISINFEKSI DAN RESERVOIR INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PULOGADUNG JAKARTA TIMUR
Air merupakan sumber daya vital bagi makhluk hidup dan aktivitas manusia, namun ketersediaan dan kualitasnya semakin terancam oleh perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan peningkatan populasi, khususnya di wilayah padat seperti DKI Jakarta. IPA Pulogadung, dengan kapasitas desain awal 4.000 liter/detik ditingkatkan menjadi 4.600 liter/detik sejak tahun 2020, namun belum terdapat uprating dan modifikasi sehingga mengurangi kinerja proses dan operasional proses pengolahan. Evaluasi teknis menunjukkan masalah pada unit filtrasi, terutama nilai Effective Size (ES) yang melebihi desain, menurunnya Uniformity Coefisien (UC), peningkatan kecepatan filtrasi, dan proses backwash yang kurang efektif akibat headloss yang heterogen karena area filter yang luas. Unit reservoir yang ada juga belum memenuhi kebutuhan kapasitas udara produksi. Solusi optimalisasi yang direkomendasikan meliputi perbaikan proses backwash dengan penambahan pompa khusus untuk area terjauh serta pembangunan reservoir tambahan berkapasitas 10.000 m³. Estimasi biaya investasi untuk optimalisasi unit Filtrasi, disinfeksi dan reservoir IPA Pulogadung yaitu Rp13,4 miliar dan total biaya operasional yaitu Rp89,4 miliar. Sedangkan untuk investasi keseluruhan mencapai Rp26,1 miliar dan operasional Rp137,6 miliar, dengan analisis finansial menunjukkan kelayakan proyek melalui nilai NPV > 0, BCR > 1, serta periode pengembalian modal kurang dari satu tahun. Dengan demikian, optimalisasi IPA Pulogadung layak dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan operasional penyediaan air bersih di Jakarta Timur
UNIT INTAKE DAN SALURAN TRANSMISI INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PESANGGRAHAN KOTA JAKARTA SELATAN
Di perkotaan yang padat seperti DKI Jakarta, ketersediaan layanan air perpipaan menjadi faktor krusial dalam menjamin akses terhadap air bersih yang layak. Namun, cakupan pelayanan air perpipaan di DKI Jakarta hingga saat ini masih belum mencapai 100%, karena terdapat wilayah yang belum mendapatkan akses air perpipaan secara optimal, salah satunya adalah Kota Jakarta Selatan. Sesuai dengan komitmen yang dibuat oleh PAM Jaya yaitu 100% capaian pelayanan air perpipaan di Provinsi DKI Jakarta pada 2030, maka diperlukan upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi air bersih dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air. Lokasi dibangunnya IPA Pesanggrahan terdapat di tanah kosong milik PAM JAYA di Jalan Cireunde Permai Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan survey lapangan, lokasi Intake direncakan berada sekitar 200 meter dari Lokasi Instalasi Pengolahan Air yang direncanakan dengan memanfaatkan Sungai Pesanggrahan sebagai sumber air baku, Luas Lokasi intake Pesanggrahan kurang lebih sebesar 2000 m2 . Pada unit intake terdapat barscreen, pintu air, pipa inlet, sumur pengumpul, pipa suction, rumah pompa, pipa discharge, rumah genset, dan pos satpam. Proyek ini direncanakan mulai dari Tahun 2025, kemudian pembangunan dimulai dari Tahun 2026 dan ditargetkan selesai pada 2028, sehingga dapat mulai beroperasi pada Tahun 2029. Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air, debit pengolahan IPA Pesanggrahan untuk 24 tahun kedepan sebesar 860 L/s. Analisis ekonomi juga dilakukan dan didapatkan anggaran biaya investasi (CAPEX) untuk unit intake dan saluran transmisi adalah sebesar Rp31.009.866.197,71, sedangkan untuk biaya operasional (OPEX) pertahunnya adalah sebesar Rp7.970.043.808,00. IPA Pesanggrahan direncanakan akan mendapatkan pemasukan dari penjualan air dengan tarif per m3 sebesar Rp5.500 dan akan naik 10% per 5 tahun. Berdasarkan analisis finansial dengan metode NPV didapati nilai positif sebesar Rp78.389.173.723,49 sehingga proyek dinyatakan layak, begitu juga dengan metode BCR yang mendapat angka lebih dari 1 yaitu 1,1 sehingga proyek untuk IPA Pesanggrahan dikatakan layak secara finansial. Untuk Payback period nya adalah 14 tahun.
PERANCANGAN DESAIN UNIT SCREENING, UNIT SEDIMENTASI, UNIT DISINFEKSI DAN UNIT RESERVOIR INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM (IPA) II KARAWANG DI KECAMATAN KARAWANG TIMUR
Pertumbuhan penduduk dan sektor industri di Kabupaten Karawang, khususnya di Kecamatan Karawang Timur, menyebabkan peningkatan kebutuhan air minum. Tahun 2025 cakupan pelayanan air minum oleh PERUMDAM Tirta Tarum baru mencapai 21,2% dengan kapasitas produksi 1.366 lps dari total target 40,2% pada tahun 2029. Untuk meningkatkan cakupan layanan, dirancang Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) II Karawang berkapasitas 100 lps yang ditargetkan dapat melayani hingga 85% kebutuhan wilayah Palawad, Palumbonsari, dan Tegalsawah hingga tahun 2043. Rencana pembangunan berlokasi di dekat area IPA I Karawang dengan sumber air baku dari Saluran Induk Tarum Tengah. Kualitas air baku memenuhi standar PP No. 22 Tahun 2021 dan Permenkes No. 2 Tahun 2023, kecuali untuk parameter total coliform, fecal coliform, dan kekeruhan. Unit pengolahan dirancang menggunakan pendekatan multi-metode (JICA, Kawamura, SNI, Notodarmojo) dan pemilihan teknologi dilakukan dengan metode Simple Additive Weighting (SAW) berdasarkan aspek CAPEX, OPEX, efisiensi lahan, kemudahan operasional, dan pengadaan material. Unit fine screen, unit sedimentasi tube settler, unit desinfeksi klorin, dan unit ground reservoir dirancang berdasarkan SNI 6774-2008 Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Pengolahan Air. Sistem dirancang dengan profil hidrolis yang mempertimbangkan elevasi, dilengkapi pompa booster, dan memanfaatkan lahan sebesar 0,45 ha. Pembangunan direncanakan dimulai tahun 2026 dan beroperasi pada 2029. Nilai investasi proyek sebesar Rp22,15 miliar dengan biaya operasional bulanan Rp236 juta. Kebutuhan CAPEX unit fine screen, sedimentasi tube settler, disinfeksi klorin dan reservoir masing-masing unit rancangan sebesar Rp737.898.704, Rp1.655.965.884, Rp215.611.266 dan Rp7.296.647.049. Analisis finansial menunjukkan proyek ini layak dengan nilai NPV sebesar Rp28,5 miliar dan BCR sebesar 1,52.
EVALUASI PENINGKATAN KINERJA PLTS DENGAN PENERAPAN SISTEM PEMBERSIHAN OTOMATIS DI AREA TERDAMPAK SOILING
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan solusi energi terbarukan yang potensial, namun kinerjanya sering terdegradasi oleh soiling. Fenomena soiling secara signifikan menghalangi penyerapan radiasi matahari, yang berakibat pada penurunan efisiensi energi dan percepatan degradasi modul. Metode pembersihan manual yang umum diterapkan seringkali tidak efisien, memakan biaya operasional yang tinggi, dan berisiko merusak permukaan panel. Sebagai solusi, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja PLTS dengan penerapan sistem pembersih otomatis di area terdampak soiling. Penelitian ini dilaksanakan pada sistem PLTS berkapasitas 10 kWp yang terpasang di atap Gedung Center for Advanced Sciences (CAS), Institut Teknologi Bandung (ITB). Desain eksperimen dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan, yaitu satu string dibersihkan menggunakan sistem otomatis, string kedua dibersihkan secara manual, dan string ketiga dibiarkan tanpa perlakuan sebagai kontrol. Untuk memastikan kondisi pengujian yang konsisten, soiling disimulasikan menggunakan debu batu bata merah halus yang diaplikasikan secara merata. Hasil penelitian menunjukkan keunggulan dari sistem pembersihan otomatis. Secara operasional, sistem ini bekerja jauh lebih cepat, menyelesaikan rata-rata siklus pembersihan dalam 20 menit dibandingkan 60 menit yang dibutuhkan untuk pembersihan manual pada area yang sama. Secara kuantitatif, dampaknya sangat signifikan. Panel yang dibersihkan secara otomatis menghasilkan energi hingga 8% lebih tinggi dibandingkan dengan yang dibersihkan manual, dan hingga 152% lebih tinggi dari panel yang dibiarkan kotor. Rata-rata rugi daya nominal (Pnom Loss) pada sistem otomatis tercatat sebesar 18,94%, lebih rendah dari metode manual yang mencapai 22,07%. Dari sisi finansial, analisis proyeksi selama 5 tahun menunjukkan bahwa investasi pada PV Cleaning System secara ekonomi jauh lebih menguntungkan. Total biaya untuk sistem otomatis sebesar Rp5.888.747 hampir 6,5 kali lebih rendah dibandingkan biaya metode manual sebesar Rp44.053.550. Kesimpulannya, sistem pembersihan otomatis terbukti menjadi solusi yang baik, tidak hanya dalam hal efisiensi teknis dan pemulihan energi, tetapi juga sebagai investasi yang layak secara finansial untuk menjaga kinerja optimal PLTS.
EVALUASI PERENCANAAN DAN KELAYAKAN JALAN TOL GEDEBAGE - TASIKMALAYA - CILACAP (GETACI) RUAS GEDEBAGE - NAGREG (STA. 0+000 - STA. 22+850)
Proyek Jalan Tol Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap (Getaci) bertujuan untuk meningkatkan konektivitas di Pulau Jawa, khususnya pada segmen tinjauan Gedebage – Nagreg (STA. 0+000 – STA. 22+850). Untuk mencapai hal tersebut, perlu dilakukan perencanaan jalan tol secara tepat yang terdiri atas estimasi lalu lintas, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, estimasi biaya, dan evaluasi kelayakan finansial pada ruas tinjauan. Estimasi lalu lintas selama masa konsesi diperoleh melalui model perencanaan transportasi empat tahap, yaitu trip generation, trip distribution, modal split, dan trip assignment. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2025, ruas jalan ini akan dilalui 10.238 kendaraan/hari dengan pertumbuhan lalu lintas rata-rata 7,61% per tahun hingga mencapai 87.017 kendaraan/hari pada akhir masa konsesinya di tahun 2065. Kemudian, dilakukan perancangan teknis yang mencakup perencanaan desain geometrik, perkerasan jalan, sistem drainase, struktur jembatan dan dinding penahan tanah, serta rambu dan marka jalan. Perancangan geometrik menghasilkan jalan tol tipe 4/2 – T sepanjang 23,648 km yang akan diperlebar menjadi 6/2 – T pada tahun 2055. Ruas memiliki 7 tikungan dan 15 lengkung vertikal. Selain itu, didesain simpang susun terompet di Gedebage dan Nagreg dengan 4 ramp dan tipe jalan 1/1. Perkerasan yang dirancang adalah perkerasan kaku Beton Bersambung dengan Tulangan (BBDT) setebal 325 mm dengan fondasi bawah beton kurus. Sistem drainase dirancang berupa saluran samping trapesium dengan dimensi b = 0,6 m dan h = 1 m dan 7 buah gorong-gorong box culvert berukuran 1,5 x 1,5 m. Jembatan yang dirancang sepanjang 21 m menggunakan gelagar beton PC-I Girder tipe H-125 dan abutment counterfort setinggi 13,2 m. Rambu dan marka jalan, serta metode konstruksi disesuaikan dengan desain dan acuan yang digunakan. Estimasi biaya konstruksi untuk ruas tinjauan mencapai Rp4.233.876.573.506. Analisis finansial dilakukan berdasarkan biaya investasi dan analisis pendapatan dengan metode NPV, BCR, IRR, serta payback period. Berdasarkan analisis, proyek ini layak untuk dilaksanakan dan dapat memberikan manfaat optimal bagi peningkatan konektivitas dan perekonomian, khususnya di wilayah Jawa Barat.
EVALUASI PERENCANAAN DAN KELAYAKAN JALAN TOL GEDEBAGE - TASIKMALAYA - CILACAP (GETACI) RUAS GEDEBAGE - NAGREG (STA. 0+000 - STA. 22+850)
Proyek Jalan Tol Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap (Getaci) bertujuan untuk meningkatkan konektivitas di Pulau Jawa, khususnya pada segmen tinjauan Gedebage – Nagreg (STA. 0+000 – STA. 22+850). Untuk mencapai hal tersebut, perlu dilakukan perencanaan jalan tol secara tepat yang terdiri atas estimasi lalu lintas, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, estimasi biaya, dan evaluasi kelayakan finansial pada ruas tinjauan. Estimasi lalu lintas selama masa konsesi diperoleh melalui model perencanaan transportasi empat tahap, yaitu trip generation, trip distribution, modal split, dan trip assignment. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2025, ruas jalan ini akan dilalui 10.238 kendaraan/hari dengan pertumbuhan lalu lintas rata-rata 7,61% per tahun hingga mencapai 87.017 kendaraan/hari pada akhir masa konsesinya di tahun 2065. Kemudian, dilakukan perancangan teknis yang mencakup perencanaan desain geometrik, perkerasan jalan, sistem drainase, struktur jembatan dan dinding penahan tanah, serta rambu dan marka jalan. Perancangan geometrik menghasilkan jalan tol tipe 4/2 – T sepanjang 23,648 km yang akan diperlebar menjadi 6/2 – T pada tahun 2055. Ruas memiliki 7 tikungan dan 15 lengkung vertikal. Selain itu, didesain simpang susun terompet di Gedebage dan Nagreg dengan 4 ramp dan tipe jalan 1/1. Perkerasan yang dirancang adalah perkerasan kaku Beton Bersambung dengan Tulangan (BBDT) setebal 325 mm dengan fondasi bawah beton kurus. Sistem drainase dirancang berupa saluran samping trapesium dengan dimensi b = 0,6 m dan h = 1 m dan 7 buah gorong-gorong box culvert berukuran 1,5 x 1,5 m. Jembatan yang dirancang sepanjang 21 m menggunakan gelagar beton PC-I Girder tipe H-125 dan abutment counterfort setinggi 13,2 m. Rambu dan marka jalan, serta metode konstruksi disesuaikan dengan desain dan acuan yang digunakan. Estimasi biaya konstruksi untuk ruas tinjauan mencapai Rp4.233.876.573.506. Analisis finansial dilakukan berdasarkan biaya investasi dan analisis pendapatan dengan metode NPV, BCR, IRR, serta payback period. Berdasarkan analisis, proyek ini layak untuk dilaksanakan dan dapat memberikan manfaat optimal bagi peningkatan konektivitas dan perekonomian, khususnya di wilayah Jawa Barat.
EVALUASI PERENCANAAN DAN KELAYAKAN JALAN TOL GEDEBAGE - TASIKMALAYA - CILACAP (GETACI) RUAS GEDEBAGE - NAGREG (STA. 0+000 - STA. 22+850)
Proyek Jalan Tol Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap (Getaci) bertujuan untuk meningkatkan konektivitas di Pulau Jawa, khususnya pada segmen tinjauan Gedebage – Nagreg (STA. 0+000 – STA. 22+850). Untuk mencapai hal tersebut, perlu dilakukan perencanaan jalan tol secara tepat yang terdiri atas estimasi lalu lintas, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, estimasi biaya, dan evaluasi kelayakan finansial pada ruas tinjauan. Estimasi lalu lintas selama masa konsesi diperoleh melalui model perencanaan transportasi empat tahap, yaitu trip generation, trip distribution, modal split, dan trip assignment. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2025, ruas jalan ini akan dilalui 10.238 kendaraan/hari dengan pertumbuhan lalu lintas rata-rata 7,61% per tahun hingga mencapai 87.017 kendaraan/hari pada akhir masa konsesinya di tahun 2065. Kemudian, dilakukan perancangan teknis yang mencakup perencanaan desain geometrik, perkerasan jalan, sistem drainase, struktur jembatan dan dinding penahan tanah, serta rambu dan marka jalan. Perancangan geometrik menghasilkan jalan tol tipe 4/2 – T sepanjang 23,648 km yang akan diperlebar menjadi 6/2 – T pada tahun 2055. Ruas memiliki 7 tikungan dan 15 lengkung vertikal. Selain itu, didesain simpang susun terompet di Gedebage dan Nagreg dengan 4 ramp dan tipe jalan 1/1. Perkerasan yang dirancang adalah perkerasan kaku Beton Bersambung dengan Tulangan (BBDT) setebal 325 mm dengan fondasi bawah beton kurus. Sistem drainase dirancang berupa saluran samping trapesium dengan dimensi b = 0,6 m dan h = 1 m dan 7 buah gorong-gorong box culvert berukuran 1,5 x 1,5 m. Jembatan yang dirancang sepanjang 21 m menggunakan gelagar beton PC-I Girder tipe H-125 dan abutment counterfort setinggi 13,2 m. Rambu dan marka jalan, serta metode konstruksi disesuaikan dengan desain dan acuan yang digunakan. Estimasi biaya konstruksi untuk ruas tinjauan mencapai Rp4.233.876.573.506. Analisis finansial dilakukan berdasarkan biaya investasi dan analisis pendapatan dengan metode NPV, BCR, IRR, serta payback period. Berdasarkan analisis, proyek ini layak untuk dilaksanakan dan dapat memberikan manfaat optimal bagi peningkatan konektivitas dan perekonomian, khususnya di wilayah Jawa Barat.
ANALISIS POTENSI BISNIS PENGELOLAAN LUMPUR TINJA MENGGUNAKAN BLACK SOLDIER FLIES BERDASARKAN PENDEKATAN PASAR (STUDI KASUS: IPLT DURI KOSAMBI KOTA JAKARTA)
Pengelolaan lumpur tinja memainkan peran krusial dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah perkotaan. Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 5 Tahun 2021, Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) berperan atas aspek sosial dan ekonomi dalam pengelolaan limbah. Pengelola IPLT menghadapi tantangan terkait kapasitas penyimpanan lumpur kering yang semakin terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini mengeksplorasi potensi pemanfaatan hasil pengolahan lumpur tinja seperti maggot dan pupuk organik Kasgot. Penelitian ini mencakup identifikasi rantai pasok produk, analisis penerimaan pasar terhadap produk, serta analisis finansial menggunakan Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR). Pada studi kasus IPLT Duri Kosambi, lumpur hasil olahan yang dihasilkan dan belum dikelola dengan baik dapat mencapai 100 m3 per bulan. Melalui manajemen menyeluruh oleh pengelola IPLT, lumpur olahan setengah kering dapat dimanfaatkan dan didistribusikan melalui truk tinja ke peternakan Black Soldier Flies (BSF) di Kota Jakarta. Selanjutnya, lumpur olahan akan digunakan sebagai bahan pakan ternak (maggot) dan pupuk organik Kasgot, masing-masing sejumlah 8 dan 50 ton/bulan, yang diperoleh berdasarkan estimasi perhitungan. Berdasarkan aspek penerimaan pasar, volume pasar untuk produk pengelolaan lumpur tinja mencapai Rp169.091.699/ 100 m3 dengan tingkat pertumbuhan 7% setiap bulan. Adapun faktor yang mempengaruhi aspek penerimaan pasar terdiri dari 9 faktor dengan indikator tertinggi dipengaruhi oleh variabel permintaan pasar. Pengelolaan lumpur tinja menggunakan BSF ini layak secara finansial berdasarkan analisis NPV sebesar 1,1 milliar/ tahun dan BCR senilai 1,1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pandangan holistik tentang potensi pasar dan kelayakan finansial dalam implementasi pengelolaan lumpur tinja dengan memanfaatkan BSF.
PERANCANGAN DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) KERTASARI KABUPATEN BANDUNG
Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Raharja merupakan instansi penyediaan air minum untuk wilayah Kabupaten Bandung. Menurut Rencana Induk Pengembangan Sistem Air Minum (RISPAM), Kabupaten Bandung memiliki target pelayanan air minum dengan 80% perpipaan dan 20% non-perpipaan. Dalam memenuhi capaian akses air minum tersebut, PDAM Tirta Raharja merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kertasari. IPA Kertasari direncanakan akan melayani enam kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung yaitu Kecamatan Paseh, Cikancung, Rancaekek, Cicalengka, Majalaya dan Solokan Jeruk. IPA Kertasari direncanakan akan dibangun secara 2 tahap pembangunan dengan kapasitas sebesar 425 L/s dan kapasitas debit total sebesar 850 L/s untuk periode 20 tahun dari tahun 2024 hingga tahun 2044. Sumber air baku yang digunakan untuk IPA Kertasari adalah Sungai Citarum. Berdasarkan hasil analisis air baku, terdapat 4 parameter yang belum sesuai baku mutu air minum yaitu Total coliform, fecal coliform, Total Dissolved Solid (TDS) dan kekeruhan. Pada proses penentuan konfigurasi unit pengolahan digunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk pemilihan alternatif terbaik. Perbedaan pada masing-masing alternatif berada pada unit flokulasi yaitu flokulasi mekanis, flokulasi hidrolis, dan gabungan flokulasi mekanis-sedimentasi (Clearator). Alternatif unit pengolahan terpilih untuk IPA Kertasari yaitu alternatif kedua dengan konfigurasi unit terdiri dari koagulasi mekanis dengan curve blade, flokulasi hidrolis aliran vertikal dengan baffle channel, sedimentasi dengan plate settler, saringan pasir cepat dengan dual media, dan desinfeksi dengan bak kontak klorinasi. Biaya modal yang dibutuhkan pada pembangunan IPA Kertasari pada periode 1 sebesar Rp23 milyar dan periode kedua sebesar Rp22 milyar. Hasil analisis finansial pada periode pertama didapatkan nilai NPV < 0 dan BCR <1 sehingga proyek dikatakan tidak layak akan tetapi pada periode kedua didapatkan nilai NPV > 1 dan BCR ? 1 yang artinya proyek layak secara finansial.
PERENCANAAN SISTEM SANITASI LIMBAH CAIR DOMESTIK PASCA BENCANA GEMPA BUMI DESA WANGUNJAYA, KECAMATAN CUGENANG, KABUPATEN CIANJUR
Permasalahan yang dihadapi Desa Wangunjaya, Kecamatan Cugenang terutama di kawasan terdampak bencana gempa bumi adalah rusaknya fasilitas sanitasi pengolahan limbah cair domestik. Hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, akibat kualitas kesehatan lingkungan yang buruk. Sanitasi pasca bencana merupakan metode yang potensial diimplementasikan di daerah terdampak bencana alam karena diperlukan kemampuan bekerja sama antara pembuat kebijakan, masyarakat dan stakeholder lain untuk pemecahan permasalahan terkait sanitasi pasca bencana. Dusun 1 terpilih menjadi lokasi penyaluran dan pengolahan limbah cair domestik karena selisih elevasi tanah yang rendah, dengan mengikuti jalan yang ada di Dusun 1, titik elevasi tertinggi adalah sekitar 690 meter dan titik terendah adalah sekitar 545 meter. Dusun 1 dibagi menjadi empat blok perencanaan. Lokasi pembangunan secara spesifik akan diprioritaskan untuk dilaksanakan pada Blok 4 mempertimbangkan beberapa aspek. Terdapat lahan kosong sebesar 1.169 m2 yang dimiliki oleh desa sehingga dapat dimanfaatkan tanpa mengeluarkan biaya pembebasan lahan. Untuk elevasi jalur perpipaan tertinggi menuju IPAL adalah 580 meter dan terendah adalah 553 meter, hasil pengolahan direncanakan akan dibuang kembali ke badan air yaitu sungai di dekat lokasi IPAL. Periode perencanaan dilakukan selama 10 tahun (2024 – 2034) dengan melayani 100% penduduk Blok 4 dan 56% penduduk Dusun 1 dengan melayani penduduk total pada tahun 2034 berdasarkan proyeksi penduduk sebesar 5.385 jiwa. Sistem penyaluran air limbah menggunakan shallow bore sewer dengan timbulan sebesar 377,61 m3/hari dan perpipaan menggunakan jenis pipa PVC diameter 4’ atau 160 mm sebanyak lima jalur dengan penggalian tanah berada pada range 0,56 – 6,81 m. Konfigurasi teknologi pengolahan limbah cair domestik yang terpilih berdasarkan pembobotan Simple Additive Weighting dan akan diaplikasikan di Desa Wangunjaya adalah ABR dan Aerobic Filter sebagai teknologi utama dengan menggunakan prinsip kombinasi pengolahan fisik dan biologis. Konfigurasi unit pengolahan secara keseluruhan dimulai dari Bar Screen dan Bak Ekualisasi yang terintegrasi, kemudian masuk ke Bak Sedimentasi Pertama, ABR, Aerobic Filter, Bak Sedimentasi Kedua, Bak Pengumpul Lumpur, dan proses desinfeksi dilakukan sebelum dikembalikan ke lingkungan dalam bentuk efluen. Terkait dengan biaya perencanaan pembangunan SPAL dan IPAL, Rencana Anggaran Biaya (RAB) membutuhkan biaya konstruksi sebesar Rp2.026.174.000,00. Biaya operasional dan pemeliharaan untuk SPAL dan IPAL mencapai Rp96.612.000,00 per tahunnya. Analisis finansial diperlukan untuk menentukan kelayakan pelaksanaan proyek dari aspek ekonomi. Terdapat dua variabel penentu yang umum digunakan untuk menentukan kelayakan ekonomi suatu proyek yaitu Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR). Nilai NPV sebesar Rp165.021.444,25 atau NPV positif, nilai BCR sebesar 1,232. Kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa proyek perencanaan IPAL layak secara ekonomi.