๐ Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 10 dokumenSTUDI ARAH ALIRAN AIR BAWAH PERMUKAAN DI KAWASAN KAMPUS ITB JATINANGOR MENGGUNAKAN METODE SELF-POTENTIAL (SP)
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan arah aliran air bawah permukaan, mengidentifikasi karakteristik litologi akuifer, mengestimasi kedalaman perlapisan, serta menentukan zona recharge dan discharge di kawasan Kampus ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah integrasi antara metode pasif SelfPotential (SP) untuk analisis lateral dan data sekunder Time-Domain Electromagnetic (TDEM) untuk analisis vertikal. Pengukuran SP dilakukan menggunakan konfigurasi fixed-base dengan menerapkan koreksi base-shift sepanjang lintasan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali SP di lokasi penelitian bervariasi antara -15 mV hingga 105 mV. Zona resapan (recharge zone) teridentifikasi di dataran tinggi bagian utara kampus, tepatnya di area lapangan bola, yang ditandai oleh anomali SP rendah hingga negatif (mencapai -15 mV) akibat mekanisme potensial elektrokinetik (streaming potential) saat air meresap secara vertikal. Sebaliknya, zona luapan (discharge zone) berada di dataran rendah bagian selatan kampus yang berimpit dengan lokasi dua danau ITB Jatinangor, ditandai oleh akumulasi anomali SP positif tinggi berkisar antara 65 mV hingga 105 mV akibat penumpukan kation. Berdasarkan kontras anomali tersebut, arah aliran air tanah terindikasi kuat bergerak secara lateral dari utara menuju selatan. Analisis vertikal melalui inversi 1D data TDEM (RMSE 5,27%) berhasil memvalidasi sistem hidrogeologi ini dengan mengidentifikasi struktur selangseling (interbedded) vulkanik, berupa lapisan akuifer terbuka (unconfined aquifer) pasir jenuh air pada kedalaman 7,0โ13,0 meter (22,8 ?ยทm). Di bawahnya, ditemukan lapisan kedap air (aquitard) berupa lempung pada kedalaman 13,0โ18,0 meter (8,7 ?ยทm) yang menyekat rangkaian sistem akuifer tertutup (confined aquifer) berupa pasir jenuh air pada kedalaman 18,0โ25,0 meter (25,4 ?ยทm) dan 33,0โ45,0 meter (13,6 ?ยทm). Integrasi kedua metode ini memberikan indikasi kualitatif yang kuat mengenai model hidrogeologi yang utuh dan konsisten di kawasan Kampus ITB Jatinangor.
MODEL GEOLOGI LAPANGNAN STUPA DENGAN KONDISI HIDRODINAMIK,AREA SOUTH MAHAKAM, CEKUNGAN KUTAI
Hingga kini, minyak dan gas bumi (hidrokarbon) masih merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan energi dunia. Hidrokarbon, menurut asalnya, dapat dikategorikan sebagai sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan dunia akan sumber energi ini terus bertambah, sedangkan cadangan hidrokarbon yang ada terus menurun. Untuk mengantisipasi adanya krisis energi, kegiatan eksplorasi hidrokarbon terus dilakukan terutama di daerah frontier maupun pada daerah lama (yang telah dieksplorasi sebelumnya) yang kembali dilihat dengan menggunakan konsep yang baru. Lapangan Stupa, yang ditemukan pada tahun 1996, merupakan suatu contoh penemuan yang didapatkan dengan menerapkan konsep baru (hidrodinamisme) pada daerah yang sudah dieksplorasi sebelumnya. Struktur ini pertama kali dipenetrasi pada puncaknya oleh Sumur Telakai-1 (1980) yang hanya menjumpai reservoir batupasir berisi air yang bertekanan tinggi. Penemuan lapangan ini sendiri ditandai oleh hasil pemboran Sumur Stupa-1-ST2, yang dibor pada sayap utara Lapangan Stupa, sekitar 7 km utara Sumur Telakai-1. Penemuan ini diikuti oleh pemboran 5 sumur deliniasi (Stupa-2, Stupa-3, Stupa-4, Stupa-5 dan West Stupa-1) pada masa 1990-an akhir hingga 2000-an awal. Meskipun demikian, kegiatan pemboran ekplorasi/deliniasi yang telah dilakukan masih belum dapat mendefinisikan batas penyebaran hidrokarbon yang jelas pada Lapangan Stupa. Penelitian ini mempunyai target untuk membuat suatu model geologi yang mencerminkan penyebaran hidrokarbon di Lapangan Stupa pada Level Sepinggan Deltaic Sequence (SDS) berdasarkan integrasi dan sintesis dari berbagai macam data dan literatur yang ada dengan menggunakan berbagai pendekatan konsep geologi (termasuk hidrodinamisme). Diharapkan, hasil dari pemodelan geologi tersebut akan digunakan untuk mengkuantifikasi upside potential (jika ada) di luar batas-batas Lapangan Stupa yang didefinisikan saat ini Untuk mengkuantifikasi dampak dari hidrodinamisme pada Lapangan Stupa, pemodelan penyebaran hidrokarbon dalam kondisi kontak fluida hidrokarbon dan non-hidrokarbon yang tidak horizontal harus dilakukan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metoda pembuatan U Map. Metoda ini menganggap bahwa perbedaan ketinggian (kemiringan) posisi kontak antara hidrokarbon dan nonhidrokarbon (dalam kasus Lapangan Stupa adalah kontak antara air dengan gas; GWC) di suatu titik dengan titik lainnya akan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu perbedaan tekanan dan perbedaan densitas antara hidrokarbon dan air (buoyancy). Selanjutnya, pendefinisian kontak fluida (GWC) dilakukan dengan mencari perpotongan antara peta struktur kedalaman dengan peta isopotential (isopressure diekpresikan dalam bentuk water head). Karena dalam kenyataannya, kontak fluida (GWC) berbentuk miring, untuk memudahkan pendefinisian closure, dibuatlah suatu peta pseudo-struktur (U Map) yang pada prinsipnya menghorisontalkan bidang kontak fluida yang miring pada kenyataannya. Dalam aplikasinya, pendefinisian closure dilakukan dengan memastikan kemunculan hidrokarbon terluar dari data sumuran masih berada di dalam area yang didefinisikan oleh suatu nilai kontur U Map. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Petrel. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam membuat model geologi ini mengikuti workflow yang tersedia dalam perangkat lunak tersebut, yaitu pembuatan model struktur, pembuatan model kontak fluida, pembuatan model fasies dan pembuatan model petrofisika. Dikarenakan adanya unsur ketidakpatian dalam setiap parameter yang dimodelkan, maka tahapan analisis ketidakpastian dilakukan setelah langkah-langkah yang disebutkan diatas selesai dilaksanakan. Hasil dari analisis ketidakpastian menunjukkan bahwa parameter yang paling berpengaruh terhadap hasil perhitungan volumetrik adalah penyebaran nilai saturasi air. Sedangkan hasil perhitungan volumetrik sendiri mengindikasikan masih adanya upside potential diluar batas Lapangan Stupa yang dipercayai selama ini (terutama di daerah utara dari Lapangan Stupa).
DETEKSI PIPA BAWAH LAUT DENGAN TEKNOLOGI ROV (REMOTELY OPERATED VEHICLES)
Pipa bawah laut merupakan instalasi yang dibangun dengan suatu keperluan yang vital. Aktivitas yang dilakukan khususnya kegiatan konstruksi baru di area sekitar pipa bawah laut yang ada mesti memperhatikan pipa yang sudah ada. Untuk mendeteksi keberadaan pipa bawah laut diperlukan metode yang aman dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Pendeteksian pipa bawah laut dengan ROV merupakan salah satu metode yang ada sebagai suatu alternatif yang ada disaat penyelaman langsung oleh manusia dinilai tidak efisien atau berbahaya. Dalam tugas akhir ini akan dibahas pemanfaatan ROV dalam pendeteksian pipa bawah laut. Produk akhir dari aktivitas survei pendeteksian pipa bawah laut adalah gambar visual dari keberadaan pipa bawah laut dan jalur pipa bawah laut aktual berdasarkan data pergerakan ROV sewaktu merekam pipa sebagai suatu upaya meningkatkan tingkat kepercayaan hasil survey pendahuluan dengan sidescan sonar dan magnetometer.
VERIFIKASI POSISI PIPA BAWAH LAUT PASCA PEMASANGAN (STUDI KASUS : BALIKPAPAN PLATFORM)
Pipa bawah laut memerlukan desain awal yang sempurna dan proses instalasi yang teliti agar keseluruhan proses pembangunan pipa berhasil dan cost effective. Pembangunan pipa dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu survei pra-pemasangan pipa bawah laut, pemasangan pipa bawah laut, dan survei pasca-pemasangan pipa bawah laut. Verifikasi pipa bawah laut termasuk ke dalam kegiatan survei pasca-pemasangan dengan tujuan utama untuk mendapatkan posisi absolute dari pipa bawah laut tersebut. Penulis melakukan pengolahan data multibeam echosounder dengan menggunakan perangkat lunak QINSy. Selain itu, dilakukan juga analisis mengenai perbandingan posisi dari rencana pipa dengan posisi pipa hasil dari pengolahan data multibeam echosounder. Hasil analisis kemudian akan digunakan untuk pertimbangan dalam perencanaan pembangunan pipa pada wilayah yang sama. Hasil pengolahan data multibeam echosounder menunjukkan terdapat perbedaan posisi perencanaan dan posisi aktual dari pipa. Perbedaan posisi tersebut terjadi pada bagian lengkungan dari pipa dengan perbedaan sejauh 5.4 m. Perbedaan yang terdapat pada lengkungan dari pipa ini masih dapat diterima, dikarenakan tidak ada posisi pipa yang free-span dan juga tidak mengakibatkan pipa ini berbenturan dengan pipa yang lainnya.
PERANCANGAN ULANG BASEMENT DAN FONDASI TAHAN GEMPA GEDUNG PENDIDIKAN RSPON MAHAR MARDJONO UNTUK INSTITUT NEUROSAINS NASIONAL
Dalam membangun sebuah struktur gedung, diperlukan ketelitian dan konsiderasi yang kritis untuk mengurangi risiko terjadinya fatalitas, terutama gedung rumah sakit. Jakarta sebagai wilayah perkotaan yang padat mengharuskan banyaknya konsiderasi yang dilakukan dalam pembangunan gedung rumah sakit, salah satunya pembuatan basement untuk mengakomodasi banyaknya kebutuhan sektor kesehatan tanpa harus membuat gedung terlalu tinggi. Gedung yang direncakan mempunyai satu tingkat semi-basement dan dua tingkat basement dengan fondasi dari dua elevasi yang berbeda. Perancangan struktur bawah, yaitu dinding basement dan fondasi dalam dilakukan dengan mengonsiderasi data tanah dan kegempaan pada situs proyek. Dengan mengacu pada standar yang ada, perancangan struktur bawah mempertimbangkan angka keamanan, deformasi, dan daya dukung dari sistem dinding dan fondasi. Perancangan menggunakan metode finite element method dari perangkat lunak PLAXIS 2D dan PLAXIS 3D untuk simulasi keadaan tanah dan konstruksi menggunakan metode Top-Down di lapangan. Deformasi dari tanah dan struktur akibat adanya perbedaan elevasi tiang fondasi dianalisis dengan model tersebut, beserta gaya dalam yang terjadi pada struktur bawah. Model yang dibuat telah menghasilkan desain struktur bawah yang layak sebagai gedung rumah sakit di daerah Cawang, Jakarta.
ANALISIS GRADIEN RESISTIVITAS DARI DATA MAGNETOTELLURIK UNTUK DELINIASI AREA PROSPEK DI LAPANGAN PANAS BUMI NAGE, NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA
Temperatur adalah aspek penting dan merupakan salah satu target eksplorasi panas bumi. Magnetotellurik (MT) sering digunakan dalam eksplorasi panas bumi untuk menggambarkan daerah prospek dengan mencari anomali resistivitas rendah, yaitu kurang dari 10 Ohm.m yang diasumsikan berkorelasi dengan batuan penudung yang konduktif. Pada tahap awal, biasanya dilakukan analisis kualitatif hanya berdasarkan peta resistivitas semu pada periode berbeda. Pendekatan seperti ini memiliki kemungkinan keberhasilan yang relatif rendah karena terdapat banyak faktor yang mempengaruhi nilai resistivitas di bawah permukaan. Penelitian ini menggunakan konsep yang menghubungkan penurunan resistivitas dengan peningkatan temperatur untuk memperkirakan nilai gradien temperatur dari gradien resistivitas. Gradien resistivitas dihitung dari penurunan kurva resistivitas semu dan resistivitas sebenarnya hasil pemodelan data MT. Kedua gradien resistivitas tersebut menunjukkan gambaran prospek panas bumi yang lebih baik, yaitu gradien resistivitas tinggi terdapat pada daerah upflow atau di sekitar pusat erupsi yang mungkin menjadi sumber panas. Data temperatur dari sumur terdekat juga digunakan untuk mengkalibrasi pendekatan ini. Hasil dari proses kalibrasi dengan data sumur didapatkan peta distribusi gradien temperatur dan model isotermal yang menunjukkan korelasi dengan model konseptual sebelumnya.
INTEGRASI PETA 3D DARI PUTA DENGAN PETA UTILITAS BAWAH TANAH DARI GPR STUDI KASUS ASRAMA ITB JATINANGOR
Pembangunan infrastrukur bawah tanah di Indonesia saat ini mulai meningkat, seperti telah dibangunnya kereta bawah tanah atau MRT. Pembangunan bawah tanah ini membutuhkan informasi tentang keadaan tanah dalam bentuk peta utilitas bawah tanah. Ketidak tersediannya peta utilitas bawah tanah ini dapat menghambat pembangunan, bahkan dapat menimbulkan bahaya. Pembangunan bawah tanah akan berhubungan dengan informasi di atas tanah, tidak hanya secara fisik tapi juga kepemilikan. Integrasi keduanya diperlukan terlebih dalam bentuk 3D dengan sistem Building Information Model atau BIM tentunya akan lebih bermanfaat. Pembuatan peta 3D di atas tanah dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, diantaranya dengan menggunakan foto dari pesawat udara tanpa awak atau PUTA. Sedangkan pembuatan peta utilitas bawah tanah dapat dilakukan dengan metode Ground Penetrating Radar atau GPR. Pada penelitian ini dilakukan uji akurasi dari integrasi kedua metode tersebut dalam bentuk 3D dengan mengambil studi area Asrama ITB-Jatinangor. Hasil penelitian, Peta 3D PUTA selaras dengan Peta Utilitas dari GPR pada skala 1:1000 dengan akurasi horisontal < 0.2 m dan akurasi vertikal < 0.06 m. Integrasi dalam sistem BIM ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengelola aset dan juga perencanaan pembangunan berkelanjutan di Asrama ITB-Jatinangor.
DESAIN DERMAGA DAN TRESTLE TIPE DECK ON PILE DI PULAU KALUKALUKUANG PROPINSI SULAWESI SELATAN
Pelabuhan (port) merupakan kawasan perairan yang terlindung terhadap gelombang. Fasilitas yang terdapat di pelabuhan adalah fasilitas terminal yang meliputi dermaga, di mana kapal dapat bertambat untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang dan penumpang , fasilitas bongkar muat berupa crane, serta areal pergudangan. Untuk mendapatkan kedalaman perairan yang sesuai dengan draft kapal rencana, maka dermaga dibuat menjorok ke laut dengan arah sejajar pantai dan dihubungkan dengan daratan oleh causeway dan struktur jembatan (trestle) yang membentuk sudut dengan struktur tertentu dengan dermaga. Struktur dermaga dan trestle tipe deck on pile merupakan tipe struktur yang menggunakan tiang pancang sebagai pondasi bagi lantai dermaga dan trestle . Seluruh beban yang bekerja di lantai diterima sistem lantai dan tiang pancang tersebut. Struktur dermaga dan trestle tipe deck on pile ini didesain kuat terhadap beban-beban yang bekerja padanya baik berat sendiri maupun yang berasal dari lingkungan yang meliputi gelombang, arus dan gempa serta beban akibat aktivitas di dermaga meliputi beban tumbukan kapal ( berthing), mooring, dan beban kendaraan. Pada tugas akhir ini dilakukan analisis data-data kondisi fisik lapangan meliputi analisis data pasang surut, data angin dan detail desain dermaga, trestle, dan tanggul. Analisis data pasang surut dilakukan untuk mendapatkan karakteristik pasang surut di lokasi kajian. Hasil analisis ini digunakan untuk perencanaan fasilitas penting yaitu dermaga, trestle, dan tanggul. Data angin digunakan untuk memprediksi karakteristik gelombang di sekitar lokasi dermaga dan trestle. Detail desain struktur dermaga, trestle, dan tanggul meliputi dimensi struktur, analisis kekuatan struktur dengan SAP2000, dan analisis mekanika tanah.
EVALUASI POTENSI LIKUEFAKSI KAITANNYA DENGAN PENURUNANTANAH DAN PERPINDAHAN LATERAL DI HUMENE, KECAMATN GUNUNGSITOLI IDANOI, GUNUNGSITOLI, KEPULAUAN NIAS
Desa Humene, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kabupaten Gunungsitoli, Nias didominasi oleh endapan Kuarter yang terdiri dari endapan, material lempung, pasir lempungan, pasir lanuan, dan pasir. Daerah tersebut dan Pulau Nias sendiri merupakan bagian depan busur Pulau Sumatra yang termasuk dalam sistem subduksi Sunda dengan letaknya dekat dengan zona subduksi memungkinkan terjadinya potensi likuefaksi. Penelitian dilakukan di Desa Humene bertujuan untuk mengetahui karakteristik material endapan Kuarter, potensi likuefaksi, penurunan tanah akibat likuefaksi, dan perpindahan lateral. Metode yang digunakan berdasarkan pengamatan 2 titik bor teknik dan 12 hasil grafik sondir (CPT) serta pengujian laboratorium dari hasil sampel bor berupa berat jenis tanah, ukuran butir, dan plastisitas tanah. Pada lokasi penelitian disimulasikan potensi gempa yang berpengaruh menggunakan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 SNI (987-602-5489-01-3) dengan menggunakan persamaan Robetson, Boulanger dan Idriss dan serta nilai magnitudo gempa 7,5 Mw sebagai standar dan 8,1 Mw gempa yang terbesar yang pernah tercatat di lokasi penelitian. Nilai faktor keamanan (fs) mencerminkan potensi likuefaksi serta hubungannya dengan penurunan tanah dan perpindahan lateral. Berdasarkan hasil pengamatan in situ berupa inti bor, grafik sondir, dan analisis laboratorium, karakteristik tanah yang terdapat pada lokasi penelitian terbagi menjadi 3 yaitu lingkungan pengendapan fluvial, lingkungan pengendapan pematang pantai, dan skala kecil lingkungan laut. Secara umum material pasir lanauan di daerah penelitian berpotensi likuefaksi. Material ini merupakan karakteristik material lingkungan fluvial mayoritas berada pada kedalaman 2-10 m. Hal tersebut dikarenakan nilai NSPT berkisar 4-24 dan tahanan konus kurang dari 100 kg/cm2. Nilai indeks potensi likuefaksi dari simulasi percepatan gempa dan menggunakan 2 persamaan, semuanya masuk dalam kategori tinggi potensi likuefaksi, sedangkan nilai LSI dengan simulasi percepatan gempa menunjukkan nilai yang lebih bervariasi, dari potensi likuefaksi rendah hingga sangat tinggi. Kaitannya dengan penurunan tanah dan perpindahan lateral, lokasi penelitian termasuk kategori kerusakan berat akibat adanya likuefaksi, dengan nilai penurunan tanah pada simulasi persamaan Robetson, Boulanger dan Idris pada magnitudo standar Mw 7,5 adalah 23,3 cm โ 54,04 cm dan 32,48 cm โ 54,06 cm. Sedangkan pada magnitudo 8,1 Mw adalah 40,02 cm โ 66,36 cm dan 42,12 cm โ 66,36 cm. Kaitannya dengan persamaan tersebut memiliki perbedaan setelah nilai fs dibandingkan dengan nilai penurunan tanah. Persamaan Robetson nilai R2 0,8436 dan nilai R-nya 0,9272 untuk magnitudo standar sedangkan untuk magnitudo 8,1 Mw adalah R2 0,8553 dan R 0,91274. Pada persamaan Boulanger dan Idriss nilai R2 0,6288 dan R 0,7280 pada magnitudo standar, sedangkan pada magnitudo 8,1 Mw nilai R2 0,6191 dan nilai R 0,7131, sehingga persamaan Robetson lebih optimal diaplikasikan di lokasi penelitian pada pengujian sondir.
IDENTIFIKASI PERSEBARAN CO2 MENGGUNAKAN METODE ANALISIS AVO DAN SEISMIC ENHANCEMENT FAR-ANGLE PADA LOWER TALANG AKAR FORMATION (LTAF) DI LAPANGAN โGโ, BLOK JABUNG, SUB-CEKUNGAN JAMBI
Lapangan โGโ telah menjadi sebuah lapangan minyak dan gas bumi yang saat ini dan kedepannya akan dilakukan pengembangan, tepatnya berlokasi di Blok Jabung disebelah tenggara Kota Jambi. Konten CO2 pada lapangan ini, khususnya pada interval Lower Talang Akar Formation (LTAF), sering ditemukan pada keseluruhan sampel batupasir gas. Sehingga, konten CO2 dapat diidentifikasian menggunakan metode analisis Amplitude Versus Offset (AVO) serta dapat dilihat pengaruhnya terhadap presentase kehadiran CO2. Metode AVO yang akan digunakan memiliki rentang sudut yang cukup jauh, sekitar 0o-45o, serta pada rentang sudut paling jauh (far-angle) data seismik relatif tidak akan menunjukkan respon AVO yang cukup baik. Oleh karena itu perlu dilakukannya metode seismic enhhancement. Hasil dari seismic enhancement memperoleh data seismik dengan resolusi vertikal (lapisan tipis) dan konsistensi amplitudo lateral yang sangat baik, dengan hasil analisis gradient menggunakan data seismik hasil enhancement telah mengoreksi inkonsistensi amplitudo secara vertikal dan lateral, terutama pada sudut far (30o-45o), mempertahankan pola crossplot yang konsisten, dan peningkatan nilai koefisien korelasi AVO modelling gradient analysis dari data-data sampel sumur. Hasil yang telah diperoleh melalui metode AVO ini yaitu setelah dilakukannya pemodelan AVO pada data sumur dan analisis gradient pada data seismik, rata-rata respon AVO yang dimiliki pada interval LTAF yaitu kelas 4 AVO. Hasil analisis AVO terhadap kehadiran CO2 menunjukkan bahwa interval reservoir yang memiliki konten CO2 akan menunjukkan respon kelas 4 AVO serta peningkatan presentase konten fluida tersebut akan mengakibatkan intercept lebih positif dan gradient lebih negatif (menuju kelas 1 AVO). Dalam memetakan persebaran CO2, atribut terbaik yang digunakan yaitu atribut AVO volume blending dengan bobot intercept 2.62, gradient 2.62, product 2.31, amplitude weighted 2.47, dengan nilai korelasi AVO blending 0.89. Pengaruh CO2 dapat memiliki efek perubahan atribut AVO yang sama diseluruh kompartemen, interval sikuen flooding surface, dan fasies, serta persebaran anomali AVO kelas 4 dengan konten CO2 memiliki persebaran yang sama dengan persebaran fasies dari hasil korelasi data sumur.