📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

STUDI GEOLOGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MESIN (UNSUPERVISED MACHINE LEARNING) UNTUK CLUSTERING PROFIL NIKEL LATERIT, DAERAH HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA

Permintaan nikel kian meningkat karena perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik. Indonesia memegang posisi krusial dalam pasar nikel dunia yang didukung oleh cadangan nikel yang besar. Walaupun demikian, eksplorasi nikel tetap membutuhkan banyak tenaga manusia dan memakan waktu. Salah satu tahap krusial dalam eksplorasi nikel adalah pembuatan domain profil nikel laterit yang bergantung pada data geokimia. Tahap ini rentan terhadap bias, kesalahan manusia, dan inefisiensi. Untuk menanggulangi tantangan ini, pembelajaran mesin dapat diaplikasikan sebagai alat untuk membuat domain nikel laterit. Dalam penelitian ini, studi geologi dan algoritma K-means digunakan untuk membuat tiga domain (limonit, saprolit, dan batuan dasar) pada sebuah endapan nikel laterit di Halmahera Timur dengan 745 data bor. Studi geologi meliputi pengambilan sampel batuan, analisis geomorfologi, interpretasi struktur geologi, dan analisis sayatan tipis. Pra-pemrosesan data meliputi transformasi Yeo-Johnson, scaling, dan Principal Component Analysis (PCA) untuk menormalisasi data dan mengurangi efek outlier. Within-cluster sum of squares, skor silhouette, dan confusion matrix digunakan sebagai indikator performa. Model pembelajaran mesin berhasil mencapai akurasi keseluruhan 81% relatif terhadap logging manual. Akurasi tinggi ditemukan pada zona limonit karena ciri khas geokimia dan pemisahan yang tegas oleh PCA, sedangkan akurasi rendah pada batuan dasar mencerminkan kondisi yang sebaliknya. Hasil pada studi ini mengimplikasikan bahwa pembelajaran mesin bersama studi geologi memiliki potensi kuat untuk membantu geolog dalam melakukan eksplorasi endapan nikel laterit.

2026
👤 Penulis: Christian Levi Gunawan
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Analisis Geokimia

KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT, PEMODELAN GEOLOGI TIGA DIMENSI, DAN ESTIMASI PERSEBARAN KOBALT DENGAN PENDEKATAN ORDINARY KRIGING DI SITE LOLEBA, WASILE SELATAN, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA

Pulau Halmahera merupakan salah satu lokasi di Indonesia dengan potensi cadangan nikel laterit terbesar di dunia, yaitu akibat proses pelapukan dari batuan ultramafik yang intensif. Nikel merupakan logam ekonomis dengan permintaan industri global yang terus meningkat, terutama sebagai bahan baku baterai dan logam tahan karat. Kobalt (Co) juga merupakan salah satu unsur ikutan penting dalam endapan nikel laterit yang terakumulasi di zona residual. Secara administratif, daerah penelitian terletak di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, Maluku Utara dengan luas area 1,1 km². Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, mengidentifikasi dan menganalisis zona pengayaan Co, menganalisis hubungan Co dengan unsur mayor dan minor pada endapan nikel laterit, mengidentifikasi model geologi tiga dimensi (3D), dan estimasi persebaran kobalt menggunakan Ordinary Kriging (OK). Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data assay geokimia titik bor, sayatan tipis batuan, data XRF trenching, data DEM, peta geologi regional, dan sampel lapangan. Profil pelapukan laterit di lokasi penelitian terdiri dari limonit, saprolit, dan batuan dasar berupa harzburgit, lherzolit, dan dunit dengan tingkat serpentinisasi sedang hingga tinggi. Tingkat laterisasi kuat dikategorikan pada zona limonit dan laterisasi lemah hingga sedang pada zona saprolit. Terdapat dua jenis endapan nikel laterit, yaitu tipe hydrous Mg-silicate dan oksida. Analisis geokimia downhole menunjukkan bahwa Co terkonsentrasi di zona limonit akibat pengayaan residual dengan pola sebaran vertikal yang serupa dengan unsur bermobilitas rendah, seperti Fe, Cr?O?, Al?O?, dan MnO. Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif kuat antara Co dan MnO pada titik trenching KAP4NU-1 (r = 0,97) serta berkorelasi sedang antara Co dengan Fe (r = 0,80), Cr?O? (r = 0,78), dan Al?O? (r = 0,67) di area penelitian. Faktor topografi juga memengaruhi rata-rata ketebalan limonit yang terindikasi pada area flat slope (16,5 m), slight slope (15 m), dan intermediate slope (10 m) yang masing-masing memiliki rata-rata kadar Co, yaitu 0,1017 wt%; 0,1026 wt%; dan 0,1007 wt%. Selain itu, kadar Co juga dipengaruhi oleh tingkat serpentinisasi dengan tingkat sedang dan tinggi menghasilkan nilai rata-rata Co, yaitu 0,102 wt% dan 0,122 wt%. Pemodelan geologi 3D dan estimasi persebaran Co dilakukan menggunakan model blok. Model geologi menunjukkan ketebalan limonit dipengaruhi oleh topografi dan struktur geologi yang juga memengaruhi tingkat pengikisan limonit. Estimasi kadar Co menggunakan metode Ordinary Kriging pada zona limonit bawah. Persebaran kadar Co ? 0,10 wt% cenderung mengikuti tren barat laut–tenggara dan timur laut–barat daya yang mengikuti topografi dan struktur geologi. Secara vertikal, pengayaan Co terkonsentrasi di limonit bawah dan menurun signifikan pada zona saprolit. Pada dasarnya, pengayaan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti topografi, batuan dasar, struktur geologi, dan drainase air tanah sehingga arah tren distribusi Co tidak terlalu dominan dan tidak homogen.

2026
👤 Penulis: Kelvin Andika Putra
🏷️ Lembaran Laterit 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Model Geologi 3D

STUDI GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK NIKEL LATERIT DI DAERAH SELOGIRI, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH

Kebutuhan akan nikel di Indonesia mengalami peningkatan pesat seiring dengan perkembangan teknologi dan tingginya permintaan industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, eksplorasi sumber daya nikel perlu dilakukan secara berkelanjutan. Nikel laterit yang berasal dari pelapukan batuan ultramafik tersebar di berbagai wilayah khusus di Indonesia, salah satunya adalah daerah Selogiri yang memiliki prospek nikel akibat kehadiran batuan ultramafik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nikel laterit serta kondisi geologi yang memengaruhi proses laterisasi. Pengambilan data lapangan dilakukan melalui pemetaan geologi dan pengeboran manual menggunakan hand auger. Pemetaan mencakup persebaran litologi, kondisi stratigrafi, dan struktur geologi. Data sampel dari pengeboran dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan kandungan unsur kimia dari masing-masing zona laterit. Sebanyak tujuh sampel tanah dan satu batuan dasar dianalisis untuk mewakili setiap zona laterit di daerah penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri atas satuan serpentinit, gabro, basalt, batulempung bersisik, dan aluvial. Struktur geologi yang berkembang mencakup dua jenis sesar, yaitu sesar naik menganan berarah timur laut – barat daya dan sesar geser menganan turun berarah utara – selatan. Profil laterit dilokasi penelitian terbagi menjadi tanah penutup setebal 0,9 m, zona limonit setebal 1,8 m, zona saprolit setebal 1,35 m dari hasil pengeboran dan batuan dasar berupa serpentinit. Satuan batuan daerah penelitian tersingkap pada umur Plio-Pleistosen dan dilanjutkan dengan proses laterisasi. Berdasarkan analisis geokimia, tingkat laterisasi di daerah penelitian tergolong dalam kategori laterisasi lemah. Nikel ditemukan terkonsentrasi pada zona saprolit, dengan kadar tertinggi sebesar 0,061%. Kehadiran mineral serpentin pada zona saprolit yang teridentifikasi melalui pengeboran serta pengayaan pada zona saprolit mengindikasikan bahwa tipe nikel laterit di daerah ini termasuk dalam kategori tipe silikat.

2025
👤 Penulis: Raynald Ariyaputera
🏷️ Geologi 🏷️ Karakteristik Mineral Nikel 🏷️ Analisis Geokimia

PEMODELAN GEOLOGI TIGA DIMENSI (3D) DAN ESTIMASI SUMBER DAYA TERUKUR NIKEL LATERIT DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHT (IDW) DI AREA TAMBANG Y, DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Nikel merupakan salah satu komoditas utama dalam industri pertambangan global, dengan peranan penting dalam produksi stainless steel dan baterai kendaraan listrik. Menurut USGS, pada tahun 2023 Indonesia menyumbang 50% produksi nikel dunia, dengan 54% sumber dayanya berasal dari endapan nikel laterit. Karakteristik endapan ini dipengaruhi oleh iklim, topografi, tektonik, batuan induk, dan struktur geologi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik endapan nikel laterit, memodelkan zona laterit secara tiga dimensi, serta mengestimasi tonase dan kadar nikel di Area Tambang Y, Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Analisis dilakukan melalui observasi profil lapangan, sayatan tipis batuan dasar, dan uji geokimia sebagai dasar pembagian zona laterit (domaining). Pemodelan geologi 3D menggunakan perangkat lunak Datamine Studio RM, mencakup penarikan batas zona dan pembuatan blok model. Estimasi sumber daya dilakukan dengan metode Inverse Distance Weight (IDW), berdasarkan kadar dari titik bor di sekitarnya. Blok dengan kadar di atas cut-off grade dikategorikan sebagai sumber daya, dengan klasifikasi terukur menggunakan data bor berjarak 25 meter. Hasil penelitian menunjukkan profil laterit terdiri atas top soil, zona limonit, zona saprolit, dan batuan dasar yang didominasi peridotit. Zona limonit tidak ditemukan di bagian selatan area, sementara zona saprolit umumnya tersebar lebih merata dan lebih tebal. Rata-rata kadar nikel zona limonit adalah 1,3% dengan tonase basah 91 ribu ton, sedangkan rata-rata kadar nikel di zona saprolit adalah 1,7% dengan tonase basah 234 ribu ton.

2025
👤 Penulis: Amelia Indri Nastari S.
🏷️ Geologi Tiga Dimensi 🏷️ Estimasi Sumber Daya Mineral 🏷️ Analisis Geokimia

PEMODELAN PREDIKTIF KARAKTERISTIK AIR ASAM TAMBANG BERBASIS RANDOM FOREST REGRESSION

Air asam tambang (AAT) akibat aktivitas penambangan batubara terbuka merupakan isu lingkungan karena berpotensi menurunkan kualitas air permukaan. Prediksi karakteristik AAT yang akurat sangat diperlukan sebagai dasar mitigasi dan pengelolaan dampak lingkungan secara efektif. Metode prediksi konvensional saat ini dengan mengkombinasikan uji statik, uji kinetik dan pemodelan geokimia memiliki keterbatasan dari sisi waktu, biaya, dan akurasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja pemodelan prediksi kualitas AAT berbasis algoritma Random Forest Regression (RFR) dengan membandingkan hasilnya terhadap pemodelan geokimia deterministik menggunakan PHREEQC untuk mengkaji potensi pengunaan model prediksi dengan pendekatan data-driven dibandingkan model geokimia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder hasil uji laboratorium, meliputi uji mineralogi (XRD), Uji Kinetik Free Draining Column Leach Test (FDCLT), dan data kualitas air leachate pada sampel batuan dari salah satu tambang batubara di Indonesia. Pemodelan machine learning dibangun menggunakan algoritma RFR berbasis Python untuk memprediksi parameter fisik dan kimia leachate. Sebagai pembanding, pemodelan geokimia menggunakan perangkat lunak PHREEQC dengan mempertimbangkan kinetika reaksi juga dilakukan. Evaluasi kinerja kedua pendekatan dilakukan melalui validasi dengan data aktual menggunakan metrik R², RMSE, dan MAE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geokimia PHREEQC maupun algoritma RFR mampu memprediksi karakteristik AAT dengan akurasi yang baik untuk beberapa parameter tertentu. Model PHREEQC menunjukkan kinerja prediksi pH yang tinggi (R² > 0.91; MAE < 0.13), serta mampu merepresentasikan kesetimbangan asam–basa dan kapasitas buffering mineral sekunder, termasuk tren laju oksidasi pirit. Sementara itu, model RFR berbasis data-driven berhasil memprediksi parameter TDS dan SO? pada kondisi moderat (R² > 0.80) dengan baik melalui korelasi kuat terhadap parameter fisik seperti EC, pH, dan ORP. Namun demikian, kedua model memiliki keterbatasan dalam memprediksi konsentrasi Fe serta pada domain data ekstrem, yang disebabkan oleh belum terakomodasinya aspek kinetika reaksi redoks, presipitasi mineral sekunder, serta efek batch dalam sistem pelindian. Temuan ini membuka peluang untuk mengembangkan model prediktif yang lebih andal dengan mengintegrasikan parameter geokimia dan aspek kinetik dalam input machine learning, agar model menjadi lebih komprehensif dan representatif terhadap sistem AAT yang kompleks dan dinamis.

2025
👤 Penulis: Yanuar Ayu Widowati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Model Prediktif Air Asam Tambang

PENGAMATAN KONTINYU DEFORMASI PERMUKAAN GUNUNG API SEMERU MENGGUNAKAN DATA SATELIT DAN TERESTRIAL

Gunung Ruang, yang terletak di wilayah kepulauan Sulawesi Utara, mengalami dua erupsi eksplosif signifikan pada 17 dan 30 April 2024. Peristiwa ini mengakibatkan perubahan morfologi kawah secara drastis serta distribusi produk vulkanik yang meluas, khususnya di wilayah sekitar Pulau Tagulandang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan topografi pasca-erupsi dan karakteristik geokimia produk erupsi, sebagai landasan ilmiah dalam upaya mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, dan pengembangan sistem peringatan dini di kawasan kepulauan vulkanik aktif. Metodologi yang digunakan dalam studi ini mencakup pendekatan fotogrametri berbasis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) untuk memperoleh data foto udara dan menghasilkan Digital Elevation Model (DEM) sebelum dan sesudah erupsi. Analisis perbandingan DEM menunjukkan perubahan topografi signifikan, terutama di sektor barat dan tenggara kawah. Luas area kawah mengalami peningkatan dari sekitar ±6.9 hektar sebelum erupsi menjadi ±28.7 hektar setelah erupsi kedua. Penyebaran produk erupsi seperti aliran piroklastik dan abu vulkanik teridentifikasi mengarah ke barat daya dan barat laut, dengan ketebalan abu mencapai beberapa sentimeter di Pulau Tagulandang. Untuk memahami karakter material vulkanik yang terbentuk, dilakukan analisis geokimia terhadap sampel abu dan batuan menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence (XRF) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil XRF menunjukkan bahwa batuan pasca-erupsi didominasi oleh jenis andesit basaltik hingga basalt, dengan kadar SiO? berkisar antara 50–57%. Kandungan unsur utama dan jejak mengindikasikan adanya proses diferensiasi magma yang dinamis. Analisis SEM memperlihatkan tekstur vesikular tinggi pada permukaan partikel, menunjukkan pelepasan gas (degassing) yang kuat selama proses erupsi berlangsung. Mikrostruktur yang diamati juga menguatkan indikasi bahwa erupsi terjadi dalam waktu yang relatif cepat dan disertai tekanan gas yang tinggi, sehingga menghasilkan fragmentasi magma yang efisien. Kejadian erupsi Gunung Ruang tahun 2024 dapat diklasifikasikan dalam skala VEI 4 (Volcanic Explosivity Index), menandakan letusan besar dengan dampak signifikan terhadap morfologi kawah dan lingkungan sekitarnya. Perubahan topografi yang drastis berimplikasi langsung terhadap pola aliran material pada erupsi mendatang serta potensi bencana sekunder seperti longsoran dan banjir lahar. Hasil penelitian ini memperlihatkan pentingnya integrasi data geomatika dan geokimia dalam menganalisis dampak erupsi gunung api. Data yang diperoleh dapat menjadi acuan dalam pembaruan peta bahaya, penataan ruang kawasan rawan bencana, serta penyusunan sistem pemantauan dan peringatan dini yang lebih adaptif. Pendekatan terpadu seperti ini sangat relevan untuk diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia yang memiliki banyak gunung api aktif dan rentan terhadap bencana vulkanik.

2025
👤 Penulis: Heruningtyas Desi Purnamasari
🏷️ Geologi Vulkanologi 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Pengelolaan Bencana

INTEGRASI DATA GEOLOGI, GEOKIMIA, GEOFISIKA (INDUCED POLARIZATION & RESISTIVITY) UNTUK PENENTUAN ZONA POTENSI MINERAL LOGAM DI DAIRI SUMATRA UTARA

Daerah Bukit Dolok Pangkuruhan pada Kabupaten Dairi berdasarkan dari beberapa kegiatan penyelidikan terdahulu oleh Pusat Sumberdaya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) diketahui terdapat daerah prospek mineral logam dan ditemukan adanya kandungan emas yang mengindikasikan adanya proses endapan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mineralisasi dan alterasi daerah penelitian, mengidentifikasi serta mengintegrasi data geologi dan geofisika untuk penentuan zona potensi mineral logam di Dairi Sumatra Utara. Metode analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis data hasil pengamatan laboratorium meliputi data petrografi, mineragrafi, X-ray Difraction (XRD) dan Portable Infrared Mineral Analyzer (PIMA) diperoleh hasil pemetaan litologi serta pemetaan alterasi dan mineralisasi. Selain itu, dilakukan analisis statistik geokimia untuk menmperoleh pemetaan kadar unsur logam dan pemetaan zona anomali kadar unsur mineral logam. Metode analisis geofisika diterapkan untuk menghasilkan penampang dari lintasan pengukuran geolistrik induced polarization dan resistivity. Seluruh hasil analisis dari semua metode tersebut kemudian diintegrasikan untuk memberikan gambaran distribusi zona potensi mineralisasi bawah permukaan di daerah penelitian. Satuan batuan pada daerah penelitian terdiri dari 3 satuan litologi yaitu satuan filit, satuan batupasir metasediment dan satuan tufa. Tipe alterasi pada daerah penelitian terdapat alterasi argilik (illite-halloysite-kaolinite), argilik-propilitik (illite-intchlorite), filik (quatrz-phyrite-chlorite) dan filik-silifikasi (quatrz-muscovite-illite). Hasil interpretasi dari mengintegrasikan data geologi, geokimia dan geofisika maka dapat diidentifikasi zona potensi mineral logam terdapat pada lintasan 5 zona prospek (Zn-Pb-Ag) dan lintasan 8 zona prospek (Au-Pb) dengan masing-masing lintasan memiliki nilai chargeability tinggi (107-190 msec) dan nilai resistivity sedang-tinggi (100-31623 ohm.m). Kadar unsur Zn memiliki nilai tertinggi yaitu (11000 ppm), kadar unsur Pb sebesar (2324-4753 ppm), kadar unsur Ag memiliki nilai yang terkecil yaitu (10-25 ppm), dan kadar unsur Au sebesar (1525-3 ppm).

2024
👤 Penulis: Nazirah Saina
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Geokimia

PENERAPAN TEKNIK SPASIAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EKSPLORASI POTENSI ENDAPAN EMAS EPITERMAL DI JAWA BARAT

Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi potensi endapan emas epitermal di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia, dengan menggunakan teknik spasial dalam sistem informasi geografis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya permintaan global terhadap emas dan potensi besar yang dimiliki Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta potensi mineralisasi emas epitermal berdasarkan analisis geokimia, geologi, dan struktur geologi menggunakan metode fuzzy logic. Dalam penelitian ini, data geologi regional, geokimia, dan digital elevation model (DEM) digunakan sebagai basis utama analisis. Data geokimia dianalisis untuk memahami distribusi unsur-unsur yang berasosiasi dengan emas epitermal, yaitu Cu dan Zn. Data geologi diolah untuk mengklasifikasikan litologi batuan dan memahami struktur geologi yang mengendalikan keberadaan endapan emas. DEM digunakan untuk menganalisis topografi dan kelurusan yang berkorelasi dengan struktur geologi. Hasil dari analisis tersebut menghasilkan peta prospektivitas yang membagi area studi menjadi zona prospektivitas sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah.

2024
👤 Penulis: Sarah Humaira
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Sistem Informasi Geografis

STUDI KARAKTERISTIK PENGAYAAN LOGAM SKANDIUM (SC) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Lokasi penelitian berada di IUP OP UBPN Kolaka, PT Antam Tbk, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Daerah penelitian dapat dicapai dengan menempuh jalur udara dari Jakarta ke Makasar sekitar 2 jam perjalanan, kemudian dilajutkan penerbangan udara dari Makasar ke Kolaka sekitar 1 jam perjalanan, kemudian dilanjutkan lewat jalur darat dari Bandara Kolaka menuju daerah penelitian sekitar 45 menit perjalanan. Metode penelitian yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu melakukan pemetaan geologi, pengeboran dengan total titik bor sebanyak 52 titik dan percontohan sampel bor sebanyak 1253 sampel. Evaluasi pengayaan skandium pada endapan nikel laterit di daerah penelitian menggunakan data sampel inti bor yang kemudian dilakukan analisis geokimia dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) untuk mengetahui kadar major element sebanyak 1253 sampel dan Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectometry (ICP-OES) sebanyak 1253 sampel untuk mengetahui kadar skandium. Petrografi sampel inti bor dilakukan untuk mendapatkan nama batuan sebanyak 30 sampel sedangkan untuk mengetahui presentase mineral penyusun dilakukan analisis X-Ray Diffraction (XRD) sebanyak 230 sampel atau 5 titik bor. Daerah penelitian dibagi menjadi tiga prospek yaitu Prospek Blok Utara, Prospek Blok Tengah dan Prospek Blok Maniang. Unsur skandium mengalami pengayaan pada zona limonit. Berdasarkan karakteristik fisik, zona limonit dibagi menjadi dua jenis yaitu zona red limonite dan yellow limonite. Korelasi unsur skandium dengan senyawa oksida menggunakan metode korelasi Spearmen dan klasifikasi tingkat hubungan antar variabel merujuk pada Schober, 2018. Pada zona red limonite unsur skandium berkorelasi positif lemah dengan senyawa Fe2O3 memiliki nilai 0.31 dan korelasi positif sedang dengan senyawa Al2O3 memiliki nilai 0.51, sedangkan memasuki zona yellow limonite, unsur skandium menunjukan kenaikan korelasi dengan senyawa Al2O3 yang memiliki nilai korelasi positif kuat yaitu 0.80 karena terbentuk mineral ubahan seperti gibbsite dan nacrite kemudian kenaikan korelasi positif sedang dengan senyawa Fe2O3 yang memiliki nilai yaitu 0.52 karena berkurangnya mineral hematite dan lebih dominan terbentuk mineral goethite. Senyawa Cr2O3 ketika memasuki zona yellow limonite memiliki pola korelasi positif sedang terhadap pengayaan skandium yaitu dengan nilai 0.53. Jenis batuan dasar memiliki korelasi terhadap pengayaan skandium pada daerah penelitian. Pada Prospek Blok Utara kadar pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan dunite memiliki kadar rata-rata 62.32 ppm dan kadar skandium pada batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 72.43 ppm. Pada Prospek Blok Tengah pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 72.85 ppm dan kadar skandium pada batuan lhezorlite memiliki kadar rata-rata 64.25 ppm. Pada Prospek Blok Maniang pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan harzburgite memiliki kadar rata-rata 83.22 ppm dan kadar skandium pada batuan serpentinite memiliki kadar rata-rata 79.32 ppm. Batuan dasar jenis harzburgite dan serpentinite memiliki rata-rata kadar skandium yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pengayaan skandium yang berhubungan dengan batuan dunite dan lhezorlit. Mineral piroksen jenis orthopiroksen diinterpretasikan lebih banyak membawa skandium dibandingan dengan mineral klinopiroksen dominan ataupun mineral olivine dominan. Pada daerah penelitian pengayaan skandium pada zona limonit memiliki kadar berkisar 55 ppm - 127 ppm, kemudian memasuki zona saprolit kadar skandium akan turun yaitu berkisar 11 ppm – 20 ppm dan semakin turun kadarnya pada zona batuan dasar yaitu memiliki kadar skandium berkisar 5 ppm – 15 ppm.

2024
👤 Penulis: Erwin Setiawan
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Petrografi
💬