📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 24 dokumenANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA PIT 302 PANEL 3 PT JEMBAYAN MUARABARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Pit 302 Panel 3 milik PT Jembayan Muarabara merupakan area penambangan batubara terbuka yang menunjukkan indikasi ketidakstabilan lereng berdasarkan pengamatan lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng tambang pada sisi highwall dan lowwall menggunakan metode kesetimbangan batas Morgenstern-Price melalui perangkat lunak Rocscience Slide2. Analisis dilakukan pada tiga penampang lereng (A-A', B-B', dan C-C') dalam kondisi statis dan dinamis dengan skenario muka air tanah (MAT) aktual dan jenuh sepenuhnya. Properti material diperoleh dari kombinasi data primer survei talipindai dan data sekunder hasil pengeboran geoteknik, sehingga analisis turut dilakukan pada dua skenario, yaitu skenario tanpa data primer dan skenario dengan data primer dan sekunder. Analisis probabilistik simulasi Monte-Carlo diterapkan untuk menghitung Probabilitas Keruntuhan (PK). Hasil analisis menunjukkan bahwa kestabilan lereng sangat dipengaruhi oleh kejenuhan MAT dan kondisi pembebanan seismik. Pada skenario tanpa data primer pada kondisi MAT aktual, seluruh lereng highwall berada dalam kondisi stabil sementara seluruh lereng lowwall dalam kondisi tidak stabil. Pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya, seluruh lereng highwall dan lowwall berada dalam kondisi tidak stabil dengan PK mencapai 100%, menunjukkan tingginya sensitivitas lereng terhadap kejenuhan muka air tanah. Pada skenario dengan data primer dan sekunder dengan MAT aktual, FK lereng highwall mengalami penurunan signifikan sehingga seluruh lereng berada dalam kondisi tidak stabil kecuali highwall B-B' pada kondisi dinamis, sedangkan pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya seluruh penampang berada dalam kondisi tidak stabil. Rekayasa geometri direkomendasikan berupa pelebaran jenjang pada highwall dan pembuatan jenjang baru yang memotong lapisan batulempung karbonatan pada lowwall, dikombinasikan dengan sistem drainase. Setelah penerapan rekomendasi, FK meningkat menjadi 1,217–1,458 (statis) dan 1,103–1,238 (dinamis) dengan PK 0% memenuhi standar Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
ESTIMASI POTENSI LIKUEFAKSI TANAH BERBASIS PENGUKURAN KECEPATAN GELOMBANG S PADA EKSPERIMEN LABORATORIUM MENGGUNAKAN MEDIUM PASIR GARUT
Likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan tanah akibat pembebanan dinamik yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada struktur di atasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi likuefaksi tanah pasir melalui pendekatan eksperimen laboratorium dengan meninjau pengaruh densitas dan ukuran butir terhadap kecepatan rambat gelombang geser (???????? ), serta pengaruh frekuensi guncangan terhadap potensi likuefaksi. Metodologi yang digunakan adalah pengujian laboratorium berbasis gelombang seismik menggunakan medium pasir dengan variasi densitas dan ukuran butir (nomor saringan 24 dan 30), serta pembebanan dinamik menggunakan shaking table. Nilai ???????? diperoleh dari analisis waktu rambat gelombang S, sedangkan frekuensi guncangan dihitung dari jumlah ayunan per satuan waktu dan dikaji bersama parameter percepatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan densitas tanah menyebabkan peningkatan nilai ???????? , sedangkan pasir dengan ukuran butir lebih besar menghasilkan nilai ???????? yang lebih tinggi dibandingkan pasir yang lebih halus. Selain itu, peningkatan frekuensi guncangan diikuti oleh kenaikan percepatan yang menunjukkan bertambahnya energi pembebanan dinamik, sehingga meningkatkan potensi terjadinya likuefaksi. Dengan demikian, parameter ???????? , densitas, ukuran butir, serta frekuensi dan percepatan guncangan dapat digunakan sebagai indikator dalam mengevaluasi potensi likuefaksi tanah pasir.
ANALISIS KETIDAKPASTIAN KADAR DAN MODEL GEOLOGI MENGGUNAKAN TEKNIK SIMULASI KONDISIONAL PADA ESTIMASI SUMBERDAYA NIKEL DI LOKASI X
Penambangan memerlukan tingkat keyakinan yang tinggi sehingga dibutuhkan metode estimasi yang akurat. Tingkat kesalahan atau penyimpangan dari data reconciliation terhadap data estimasi sering terjadi sehingga mempengaruhi kinerja proses maupun pemanfaatan tambang itu sendiri. Sementara estimasi sumberdaya adalah fondasi keputusan tambang namun sering mengalami deviasi. Estimasi yang dianggap terbaik saat ini yaitu metode Ordinary Kriging (OK) mengalami efek smoothing dan underestimated ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian domain geologi sering diabaikan padahal berdampak signifikan pada tonase dan kadar. Penelitian ini mengembangkan Internal Confidence Framework (ICF) berbasis simulasi kondisional untuk mengintegrasikan ketidakpastian kadar dan domain guna klasifikasi sumberdaya berbasis risiko. Metode meliputi Sequential Gaussian Simulation (SGS) dengan metrik Relative Uncertainty 90 (RU90), Sequential Indicator Simulation (SIS) untuk domain, serta integrasi melalui prinsip weakest link. Hasil menunjukkan ICF konsisten antar domain yang berbeda pada Relative Kriging Standard Daeviation (RKSD) yang inkonsisten. Data yang berisi analisa kimia nikel laterit dan juga spasialnya menghasilkan hubungan spasi data dengan ketidakpastian terkonfirmasi negatif kuat, dengan peningkatan spasi 25 menjadi 100 m meningkatkan RU90 59% pada limonit (0,22 menjadi 0,35) dan 78% pada saprolit (0,41 menjadi 0,73). OK menghasilkan smoothing kuat dengan penurunan varians 61% pada nikel saprolit, sementara simulasi mempertahankan varians data dan mengungkapkan ketidakpastian domain sebagai weakest link. Penelitian menegaskan keunggulan ICF dalam merefleksikan realitas geologi melalui multiple realization. Implikasi praktisnya, ICF memungkinkan risk-based mine planning, optimasi infill drilling, serta pelaporan sumberdaya sesuai standar di Indonesia.
PEMETAAN 3 DIMENSI TERESTRIS DENGAN BANTUAN FOTO NON TOPO (STUDI KASUS GEDUNG UTAMA KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG-JATINANGOR)
Pemetaan tiga dimensi (3D) bukan hanya dinyatakan dalam bentuk permukaan saja, melainkan dengan obyek yang ada di atas permukaan tanah. Pemetaan 3D obyek di atas permukaan bumi bertujuan untuk mendapatkan bentuk, ukuran, dan keadaan situasi di sekitar obyek tersebut. Untuk mempercepat proses pengukuran, maka dilakukan pengukuran terestris dengan bantuan foto agar mudah dipastikan titik detail pemetaan. Hasil pengukuran terestris sebagai acuan utama dan foto untuk pembuatan detail. Detail foto didapat dengan mentransformasi koordinat foto ke koordinat lokal yang sama dengan pengukuran terestris. Studi kasus dalam pemetaan ini adalah Gedung Utama kampus ITB-Jatinangor yang ditujukan untuk mendapatkan peta 3D digital. Adapun pengukuran terestris dalam pemetaan dilakukan beberapa metode pemetaan sekaligus.
STUDI PENYEBAB DAN IDENTIFIKASI DAMPAK PENURUNAN TANAH DI WILAYAH SEMARANG
Wilayah Semarang merupakan salah satu kota pesisir yang secara umum terbentuk dari endapan aluvial. Adapun karakteristik dari endapan aluvial ini adalah tanahnya masih mengalami proses konsolidasi. Proses konsolidasi ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah pada daerah tersebut. Selain itu, pengambilan airtanah dan pengaruh beban permukaan juga berkontribusi dalam terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Dengan adanya fenomena ini, maka dilakukanlah pengukuran penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Pengukuran penurunan muka tanah Semarang dilakukan dengan metode survey GPS. Data pengamatan didapat dari pengukuran lapangan tahun 2008,2009,2010 dan 2011. Data tersebut diolah dengan menggunakan software Bernesse 5.0 sehingga didapat besarnya penurunan muka tanah di wilayah Semarang selama 3 periode yaitu 2008-2009, 2009-2010 dan 2010-2011. Hasil pengolahan data ini kemudian dikorelasikan dengan penurunan muka airtanah (MAT), peta geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Hasil dari pengolahan data menunjukkan adanya terjadinya penurunan muka tanah di beberapa titik pemantauan GPS yang tersebar di wilayah Semarang mulai dari 0.7 cm sampai 11.2 cm pertahun dan adanya hubungan antara penurunan muka tanah dengan penurunan muka airtanah (MAT) kota Semarang, kondisi geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Dengan melihat fenomena penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Semarang, maka perlu pemantauan dan pengkajian lebih lanjut mengenai karakteristik dan faktor faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Penelitian pemantauan terhadap penurunan muka tanah di wilayah Semarang ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.
PENGARUH ALTERASI TERHADAP KUALITAS MASSA BATUAN DAN KESTABILAN TEROWONGAN PADA TAMBANG BAWAH TANAH DI WILAYAH IUP PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Gunung Pongkor adalah daerah dengan endapan epitermal sulfidasi rendah yang ditambang di bawah tanah sehingga memerlukan analisis geologi dan geoteknik. Proses pengambilan data dilakukan dengan metode inspeksi muka terowongan pada tujuh bukaan terowongan produksi yang akan digunakan untuk mengklasifikasikan kualitas massa batuan serta analisis kestabilan terowongan dengan metode elemen hingga. Kualitas massa batuan ditentukan dengan menggunakan klasifikasi Sistem-Q. Tipe alterasi ditentukan melalui pengamatan megaskopis, analisis petrografi, serta Analytical Spectral Devices (ASD). Hasil analisis telah diidentifikasi empat tipe alterasi di lokasi penelitian, yaitu klorit-kuarsa ± ilit, klorit-ilit, klorit-montmorilonit, dan kuarsa-kalsit ± ilit. Tipe klorit-kuarsa ± ilit memiliki kualitas massa batuan yang paling baik dengan nilai Q sebesar 5,39–6,17 (kelas sedang) dan kondisi terowongan paling stabil. Tipe klorit-ilit memiliki nilai Q sebesar 3,24–3,5 (kelas buruk) namun masih tetap dalam kondisi stabil. Tipe kuarsa-kalsit ± ilit memiliki nilai Q sebesar 2,79–6,63 (kelas buruk–sedang) dengan kecenderungan tidak stabil, sedangkan tipe klorit–montmorilonit memiliki kualitas terburuk dengan nilai Q sebesar 2,1–3,31 (kelas buruk) dan kondisi terowongan tidak stabil. Alterasi pada batuan memengaruhi mineralogi batuan, dengan kehadiran mineral sekunder yang paling berpengaruh terhadap kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan adalah mineral lempung (montmorilonit dan ilit), kalsit, dan kuarsa. Kandungan mineral lempung, terutama montmorilonit dan kalsit, menyebabkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan semakin buruk, sedangkan kandungan kuarsa yang tinggi menghasilkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan yang semakin baik.
PEREDAMAN GELOMBANG OLEH PEMECAH GELOMBANG BERPORI TERENDAM
Wilayah pesisir memiliki peranan vital bagi aktivitas manusia, namun sangat rentan terhadap erosi yang mengancam keberlanjutan lingkungan. Salah satu pendekatan mitigasi yang banyak digunakan adalah pemecah gelombang, termasuk jenis berpori terendam. Studi ini mengkaji pengaruh pemecah gelombang berpori terendam melalui pendekatan analitik dan numerik. Kajian analitik dilakukan dengan menggunakan model berbasis teori potensial dan diselesaikan melalui metode separasi variabel. Sementara itu, kajian numerik memanfaatkan persamaan air dangkal yang dimodifikasi dengan penambahan gaya gesek dan porositas, kemudian diselesaikan menggunakan metode volume hingga pada grid setengahan. Untuk memastikan akurasi, koefisien gesek pada model numerik diaproksimasi dari solusi analitik dengan bantuan algoritma genetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa porositas, tinggi, dan lebar pemecah gelombang, serta koefisien gesek, memberikan pengaruh signifikan terhadap koefisien transmisi gelombang (Kt). Simulasi numerik menghasilkan nilai Kt yang sangat mendekati solusi analitik dengan koefisien determinasi (R2) tinggi. Selain itu, pendekatan empiris untuk koefisien gesek terbukti mampu memberikan estimasi yang akurat terhadap solusi analitik. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan koefisien gesek, lebar, dan tinggi pemecah gelombang menurunkan nilai Kt, sehingga meningkatkan redaman gelombang, sementara peningkatan porositas justru menaikkan Kt. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi perancangan pemecah gelombang berpori yang optimal guna mendukung perlindungan pesisir berkelanjutan.
EVALUASI PENENTUAN SEISMIK UNTUK ANALISIS PSEUDOSTATIK PADA BENDUNGAN WAY APU.
Evaluasi stabilitas dinamik bendungan urugan umumnya dilakukan dengan analisis pseudo-statik berbasis metode keseimbangan batas karena sifatnya yang sederhana dan mudah diterapkan. Aspek utama dalam analisis ini adalah penentuan koefisien seismik yang diaplikasikan pada bidang gelincir potensial. Di Indonesia, prosedur tersebut diatur dalam pedoman PdT-14-2004-A mengenai analisis stabilitas bendungan urugan akibat beban gempa. Pedoman ini diadaptasi dari standar desain Jepang Tahun 1992 yang disusun berdasarkan kondisi kegempaan dan geologi setempat, sehingga berpotensi kurang sesuai dengan karakteristik seismik Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian penentuan koefisien seismik pada PdT-14-2004-A terhadap kondisi ground motion di Indonesia dengan studi kasus Bendungan Way Apu. Analisis dilakukan dengan mengadaptasi metode Ghanbari dan Davoodi (2010), yang mempertimbangkan dua faktor utama, yaitu faktor reduksi percepatan horizontal maksimum di permukaan (?) dan faktor amplifikasi akibat geometri bendungan (?). Parameter ? diperoleh dengan membandingkan koefisien seismik leleh terhadap percepatan horizontal maksimum yang menghasilkan deformasi permanen sebesar 0,3 m berdasarkan analisis deformasi Newmark. Sementara itu, parameter ? ditentukan dari kecenderungan variasi koefisien seismik terhadap elevasi bendungan dengan asumsi linier, menggunakan variasi bidang gelincir pada Y/H = 1, 0,75, 0,5, dan 0,25 sebagaimana diatur dalam Pd T-14-2004-A. Pemodelan 2D dengan QUAKE/W digunakan untuk analisis rambatan gelombang dan penentuan periode natural bendungan, yang selanjutnya dimanfaatkan dalam seismic hazard analysis guna memperoleh ground motion sintetis sesuai kondisi lokasi. Hasil analisis dibandingkan dengan pendekatan terdahulu (Makdisi-Seed, 1978; Hynes-Griffin, 1984; Bray-Travasarou, 2009; Ghanbari dan Davoodi, 2010; Langit, 2021; Aghnat, 2021) serta pedoman negara lain (Jepang dan India). Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien seismik yang diperoleh relatif lebih rendah dibandingkan Pd T-14-2004-A, namun mendekati nilai pada pedoman Jepang. Dengan demikian, pedoman Pd T-14-2004-A dapat dikatakan bersifat konservatif, namun tetap relevan sebagai acuan dalam desain stabilitas dinamik bendungan urugan di Indonesia.
KARAKTERISASI DAN PEMODELAN FASIES BATUPASIR RESERVOIR GAS FORMASI LOWER ARANG LAPANGAN ALPHA, CEKUNGAN NATUNA BARAT
Abstrak bisa dilihat di filenya
GENESA DAN KUALITAS BATU BARA METALURGI FORMASI TANJUNG DI KABUPATEN BARITO UTARA, KALIMANTAN TENGAH
Di tengah urgensi pengembangan dan pemanfaatan batu bara metalurgi di Indonesia, Formasi Tanjung yang terletak di Kalimantan Tengah memiliki potensi batu bara metalurgi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian mengenai keterkaitan antara proses geologi dan kualitas batu bara yang terbentuk menawarkan suatu dasar ilmiah untuk merumuskan strategi eksplorasi yang lebih mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas batu bara metalurgi dan faktor-faktor geologi yang memengaruhinya. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan referensi ilmiah dalam pengembangan dan pemanfaatan batu bara metalurgi di Indonesia. Karakterisasi batu bara metalurgi dilakukan berdasarkan nilai kalori, reflektansi vitrinit, crucible swelling number, dan kadar abu batu bara. Meskipun memiliki nilai crucible swelling number lebih dari tujuh, batu bara dalam penelitian ini juga memiliki nilai kadar abu pada rentang 10 hingga 25 persen dalam basis air-dried sehingga menunjukkan karakteristik yang sangat tidak ideal untuk memproduksi kokas. Faktor geologi yang memengaruhi peringkat batu bara diketahui berdasarkan analisis pola kematangan batu bara, analisis mineral matter, analisis anomali gravitasi, dan analisis tekanan pemendaman. Berdasarkan burial history, paleotemperatur Formasi Tanjung ketika mencapai kematangan batu bara memiliki nilai pada rentang 125 hingga 145 derajat Celsius, sesuai dengan dengan temperatur pemendaman berdasarkan nilai reflektansi vitrinit sehingga tekanan pemendaman yang berlangsung sejak Kala Eosen merupakan faktor utama yang memengaruhi peringkat batu bara dalam penelitian ini. Sementara itu, faktor geologi yang memengaruhi mutu batu bara diketahui berdasarkan asal usul material anorganik, lingkungan pengendapan, dan peta fasies dan isopach. Berdasarkan interpolasi nilai kadar abu pada peta fasies dan isopach, nilai kadar abu batu bara di lingkungan dengan asosiasi fasies channel dapat melebihi 10 hingga lebih dari 20 persen dalam basis air-dried, lebih tinggi dibandingkan kadar abu batu bara di lingkungan dengan asosiasi fasies backswamp yang hanya mencapai nilai kurang dari 10 persen dalam basis air-dried sehingga lingkungan pengendapan berupa sistem fluvial bermeander secara signifikan memengaruhi kadar abu atau mutu batu bara dalam penelitian ini.
PERSEBARAN KUALITAS BATUBARA DAN OPTIMASI SPASI LUBANG BOR DENGAN METODE GEOSTATISTIKA PADA SEAM X, SUB-BLOK “Y”, KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Dalam eksplorasi sumber daya batubara, metode geostatistika menjadi pendekatan yang krusial untuk memberikan evaluasi mengenai estimasi, klasifikasi, dan pengeboran yang telah dilakukan. Penerapan metode geostatistika digunakan untuk memodelkan persebaran spasial kualitas dan blok tingkat keyakinannya untuk pertimbangan pengolahan lanjutan batubara dengan Ordinary Kriging (OK). Selain itu, untuk menentukan nilai optimal dari spasi lubang bor guna meningkatkan kepercayaan terhadap sumber daya dengan Global Estimation Variance (GEV). Penerapan ini juga perlu diperkuat dengan pemahaman geologi berupa karakteristik batubara dan kompleksitas geologi daerah penelitian. Penelitian ini berada pada Sub-blok “Y”, PT Borneo Indobara, yang merupakan bagian dari Formasi Warukin, Cekungan Asam-Asam dan difokuskan pada seam X yang terendapkan pada Miosen Akhir. Data yang digunakan meliputi 133 data hasil pengeboran dengan informasi koordinat dan 98 data hasil analisis proksimat milik PT Borneo Indobara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas geologi daerah ini tergolong sederhana dengan batubara seam X berperingkat Subbituminous A. Pada analisis geostatistika, dilakukan interpolasi dengan metode OK yang menunjukan persebaran pada kualitas batubara ash, total sulfur, volatile matter, dan calorific value relatif menurun ke arah barat, sedangkan untuk fixed carbon dan inherent moisture relatif menurun ke arah timur. Dengan pendekatan ini juga menunjukkan diperlukannya infill drilling di bagian barat daerah penelitian karena memiliki nilai Kriging Variance (KV) yang relatif tinggi. Pendekatan GEV dilakukan dengan pendekatan diskritisasi blok dua dimensi pada setiap komponen batubara dengan mengacu pada klasifikasi relative error. Didapatkan hasil spasi lubang bor optimum untuk skema pertambangan 10 tahun sebesar 400 m untuk sumber daya terukur, 800 m untuk sumber daya tertunjuk, dan 1600 m untuk sumber daya tereka. Berdasarkan spasi lubang bor optimum, hasil estimasi dengan metode circular pada seam X, Sub-blok “Y” adalah 67.677.686 ton untuk sumber daya terukur, 33.662.563 ton untuk sumber daya tertunjuk, 3.185.898 ton untuk sumber daya tereka dengan spasi bor existing sebesar 150 m - 350 m termasuk klasifikasi sumber daya batubara terukur.
ANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI MASSA BATUAN DAN KESETIMBANGAN BATAS PADA AREA TAMBANG TERBUKA PIT X, PT PAMAPERSADA NUSANTARA, KALIMANTAN TENGAH
Abstrak bisa dilihat di filenya
PEMODELAN SPASIAL UNTUK ZONA TITIK INJEKSI DAN RENCANA JALUR PIPA DISTRIBUSI PADA PERENCANAAN CARBON CAPTURE AND STORAGE (CCS) ONSHORE
Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan solusi penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menangkap dan menyimpan karbon dioksida secara aman di bawah permukaan bumi. Penelitian ini mengembangkan pemodelan spasial sebagai alat bantu untuk mendukung prosedur perencanaan CCS Onshore, dengan studi kasus Lapangan X PT Pertamina Hulu Energi. Produk utama yang dihasilkan meliputi model spasial 3D subsurface yang memvisualisasikan lintasan sumur, formasi geologi, dan Zona Titik Injeksi (ZTI), dan peta 2D jalur optimal pengangkutan karbon. Metode yang digunakan adalah metode Multi Criteria Evaluation (MCE) dan Least Cost Path Analysis (LCPA), dan prosedur perencanaan CCS yang mengacu pada regulasi nasional. Pemodelan spasial mengintegrasikan data teknis dan spasial secara komprehensif untuk memaksimalkan efisiensi operasional dan mitigasi risiko dalam implementasi CCS. Prosedur perencanaan yang digunakan telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi MCE dan LCPA pada perencanaan jalur pengangkutan karbon dan penggunaan metode Minimum curvature untuk pemodelan lintasan sumur dapat meningkatkan akurasi dan efektivitas perencanaan CCS Onshore.
MODEL KONSEPTUAL ZONA OUTFLOW SISTEM PANAS BUMI GUNUNG UNGARAN, SEMARANG, JAWA TENGAH BERDASARKAN STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA MANIFESTASI
Sistem panas bumi Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah merupakan sistem panas bumi volkanik yang berasosiasi dengan Kaldera Ungaran. Manifestasi panas bumi yang muncul yaitu fumarola, mata air panas dan hangat, tanah beruap, sinter karbonat, dan batuan teralterasi. Zona upflow sistem panas bumi Gunung Ungaran berada di daerah Gedongsongo, sementara zona outflow berada di bagian utara (Nglimut) dan timur (Kendalisodo). Penelitian dilakukan pada salah satu zona outflow sistem panas bumi Gunung Ungaran, yaitu Kendalisodo dan sekitarnya yang berada di timur dan tenggara Gunung Ungaran. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model konseptual sistem panas bumi Kendalisodo dan bertujuan untuk mengetahui tipe sistem panas bumi, karakteristik fluida hidrotermal, serta pola aliran fluida hidrotermal di bawah permukaan. Metode penelitian yang dilakukan berupa studi literatur, pembuatan lintasan geologi di daerah manifestasi, serta pengambilan sampel air untuk studi geokimia yaitu analisis anion, kation, gas, serta isotop stabil ?18O, ?2H, dan ?13C. Manifestasi panas bumi yang muncul di daerah penelitian yaitu mata air hangat Kendalisodo, Diwak, Derekan, dan Kaliulo; di beberapa tempat disertai sinter karbonat dan endapan garam. Fumarola dan mata air panas muncul di zona upflow Gedongsongo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litologi di daerah penelitian meliputi, dari tua ke muda, batugamping (ooids packstone) dari Formasi Kerek, breksi piroklastik dan tuf gelas dari unit Volkanik Merangkang, dan Intrusi Andesit. Di daerah penelitian terdapat dua sistem panas bumi, yaitu sistem Kendalisodo (dengan manifestasi mata air hangat Kendalisodo) dan Diwak (dengan manifestasi mata air hangat Diwak, Derekan, dan Kaliulo) yang dipisahkan oleh Kaldera Ungaran Tua. Kedua sistem tersebut merupakan sistem panas bumi non-volkanik berentalpi sedang. Reservoir sistem Kendalisodo memiliki temperatur 170±10oC. Fluida hidrotermal sistem Kendalisodo berasal dari resapan air meteorik di lereng tenggara Gunung Ungaran yang terpanaskan oleh sisa panas dari intrusi Gunung Kendalisodo. Fluida tersebut mendingin dan bercampur dengan air dingin, sebelum keluar di zona upflow di daerah Kendalisodo. Sistem panas bumi Kendalisodo secara geologi dan geokimia merupakan sistem panas bumi yang berbeda dari sistem panas bumi utama Gunung Ungaran (Gedongsongo). Sistem panas bumi Diwak mempunyai reservoir bertemperatur 160±10oC. Fluida hidrotermal pada sistem Diwak berasal dari air meteorik yang diduga terpanaskan oleh aliran panas dan/atau tekanan yang tinggi. Fluida hidrotermal kemudian mengalir ke atas dan keluar pada zona upflow sebagai mata air Diwak dan Derekan; fluida hidrotermal juga mengalir secara lateral melalui Sesar Derekan dan bercampur dengan air formasi membentuk mata air Kaliulo di zona outflow.
STUDI ALTERASI DAN MINERALISASI BLOK DORO JATI, DESA TOLO'OI, KECAMATAN TARANO, KABUPATEN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Sumbawa merupakan salah satu lokasi yang menghasilkan endapan logam emas dalam jumlah besar. Daerah penelitian berada di Desa Tolo’ Oi, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di lokasi tersebut, penelitian ini difokuskan pada salah satu prospek, yaitu Blok Doro Jati dengan luas daerah penelitian 2.2 x 2.1 km. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi daerah penelitian, menentukan zona alterasi, dan menentukan karakteristik mineralisasi. Pengambilan data lapangan dilakukan dengan pemetaan skala 1:11.500 dengan metode penelitian pemetaan geologi daerah penelitian, analisis petrografi, analisis mineragrafi, analisis AAS (Atomic Absorption Spectrometry), dan analisis PIMA (Portable Infrared Mineral Analyzer). Daerah penelitian berada pada morfologi perbukitan volkanik dengan kemiringan curam hingga sangat curam dan pola kelurusan umum berarah timur laut–barat daya dan barat laut–tenggara. Stratigrafi terdiri atas empat satuan, yaitu satuan tuf, satuan lava andesit piroksen, dan satuan kubah lava andesit olivin yang ketiganya berumur Miosen Awal–Miosen Tengah dan satuan aluvial berumur Holosen. Struktur geologi berupa breksiasi sesar dengan orientasi timur laut–barat daya, rekahan gerus, urat silika, kekar tarik, dan veinlet. Alterasi terbagi menjadi lima zona, yaitu zona vuggy silica (leached silicic), zona kuarsa + alunit ± opal (argilik lanjut), zona alunit + kuarsa + kaolinit ± pirofilit ± anhidrit (argilik lanjut), zona smektit (argilik) dan zona klorit ± smektit (propilitik). Mineralisasi tersebar pada zona alterasi vuggy silica dan alunit + kuarsa ± opal yang dicirikan dengan kehadiran pirit, magnetit, dan sfalerit dengan hematit dan gutit sebagai produk oksidasi. Mineralisasi terkonsentrasi pada breksi hidrotermal yang tersebar di zona breksiasi sesar berarah timur laut–barat daya.