📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenANALISIS KOMPARATIF ELECTRO-GEOMETRIC METHOD DAN COLLECTION VOLUME METHOD PADA PEMODELAN AREA LINDUNG SISTEM PROTEKSI PETIR SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI
Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) merupakan bagian penting dari sistem transmisi tenaga listrik yang rentan terhadap gangguan sambaran petir, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Konfigurasi geometris menara, konduktor fasa, dan kawat tanah berpotensi menimbulkan gangguan berupa backflashover (BFO) dan shielding failure (SF), sehingga diperlukan sistem proteksi petir yang efektif. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi sistem proteksi petir pada SUTT melalui pemodelan dan simulasi tiga dimensi. Metode Electro-Geometric Method (EGM) dan Collection Volume Method (CVM) digunakan untuk menentukan area lindung terhadap sambaran petir langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa EGM menghasilkan satu nilai kritis berupa jarak sambaran 48,26 m dengan arus puncak 11,26 kA, sedangkan CVM menghasilkan rentang jarak sambaran 52,5–65,2 m dengan rentang arus puncak 6,85–9,85 kA. Kedua metode menunjukkan bahwa konfigurasi SUTT tipe AA+0 masih berpotensi mengalami BFO dan SF karena tegangan lebih yang dihasilkan melebihi Basic Insulation Level (BIL) isolator rantai sebesar 1105 kV dan arus puncaknya melebihi arus minimum terjadinya SF sebesar 5,525 kA. Berbeda dengan EGM yang bersifat deterministik, CVM merepresentasikan hubungan antara arus puncak dan jarak sambaran dalam bentuk rentang probabilistik, sehingga memberikan evaluasi area lindung dan kinerja sistem proteksi petir yang lebih representatif.
PROSEDUR PEMETAAN BANGUNAN REKAYASA DENGAN IMAGE STATION
Pada teknologi sebelumnya, pemetaan dilakukan dengan menggunakan peralatan jenis optis kemudian elektronik dan saat ini peralatannya menggunakan teknologi laser scanner. Dengan adanya perkembangan teknologi, pekerjaan survei dan pemetaan cenderung menjadi lebih mudah dan lebih cepat dalam pengambilan, pengolahan, dan penyajian data. Dengan adanya alat Image Station, maka dilakukan penelitian tentang aplikasi alat tersebut. Objek penelitian adalah stadion utama Gelora Bung Karno di Jakarta. Data yang diperlukan untuk membuat model 3D dari objek berupa data kalibrasi kamera, titik kontrol, dan foto objek. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Topcon Image Master sehingga diperoleh model 3D. Analisis hasil dilakukan terhadap nilai paralaks-y dari model foto yaitu kurang dari 1. Hasil model 3D dari Image Station ini memiliki nilai paralaks-y sebesar 0.78 piksel, yang memenuhi standar yaitu kurang dari 1. Hasil model 3D objek bangunan dapat digunakan untuk keperluan survey pada objek as-built, dan survey bangunan arsitektural.
STUDI PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT SECARA TERESTRIAL DAN AERIAL MENGGUNAKAN PESAWAT REMOTE CONTROL
Fotogrametri Rentang Dekat merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk merekonstruksi objek 3 Dimensi. Objek 3 dimensi ini dapat membantu memodelkan objek yang tidak dapat direpresentasikan dalam objek 2 Dimensi. Dalam penelitian tugas akhir ini metode yang digunakan adalah Fotogrametri Rentang dekat yang dilakukan dengan tiga cara pengambilan data yaitu pengambilan foto secara terrestris (menggunakan kamera yang dipegang langsung oleh fotografer), pengambilan foto secara aerial (meletakkan kamera pada wahana terbang seperti helicopter remote control) dan kombinasi keduanya (aerial dan terrestrial). Cara kombinasi ini membantu mendapatkan data yang tidak terlihat sebatas pandangan mata jika hanya menggunakan cara terrestris atau cara aerial saja. Perangkat lunak yang digunakan untuk membentuk model 3 dimensi dalam penelitian ini adalah photomodeler dengan menggunakan Objek bangunan berupa Observatorium Boscha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketelitian geometrik dari 3 cara pengambilan data diatas.
ANALISIS KESTABILAN LERENG SECARA 3 DIMENSI DI LERENG HIGHWALL TAMBANG BATUBARA PT XYZ
Kestabilan lereng merupakan aspek krusial dalam operasi penambangan batubara terbuka, terutama pada area highwall yang juga berfungsi sebagai front penambangan. Kelongsoran lereng highwall dapat menyebabkan kerugian signifikan, mulai dari kerusakan alat dan fasilitas, ancaman keselamatan kerja, hingga dampak produksi jangka panjang seperti kontaminasi batubara, penundaan produksi, dan hilangnya cadangan. Tantangan ini semakin besar dengan adanya material lunak yang memiliki kekuatan mekanik rendah, serta dipengaruhi oleh infiltrasi air dan keberadaan bidang lemah yang berpotensi menjadi bidang gelincir. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi penyebab kelongsoran pada lereng highwall di PT XYZ dan menganalisis kestabilannya secara 3-dimensi. Metode yang digunakan adalah metode kesetimbangan batas dengan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb dengan menggunakan perangkat lunak Slide 3. Analisis awal menunjukkan nilai faktor keamanan (FK) sebesar 1.776 artinya lereng dalam kondisi stabil, hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi aktual di lapangan. Melalui analisis balik trial dan error, teridentifikasi adanya penurunan kekuatan (deteriorasi) material penyusun lereng, khususnya carbonaceous clay dan mudstone, sehingga menghasilkan faktor keamanan (FK) mendekati nilai 1.0. Sebagai tindakan penanganan dan penanggulangan, direkomendasikan penyesuaian geometri lereng (resloping) dan pemantauan. Rekomendasi ini menghasilkan nilai faktor keamanan (FK) sebesar 1.181, yang dianggap aman.
PENINGKATAN TINGKAT KEDETAILAN-2 MODEL BANGUNAN 3D PADA PETA KOTA DIGITAL MENGGUNAKAN TEKNIK MONOPLOTTING BERBASIS ARSITEKTUR CLIENT-SERVER WEB
Model bangunan tiga dimensi (3D) pada peta kota digital umumnya tersedia dalam Level of Detail 2 (LoD2), yang hanya menyajikan bentuk dasar geometri bangunan tanpa detail fasad. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kedetailan semantik model LoD2 dengan menambahkan informasi bukaan seperti jendela melalui teknik monoplotting berbasis citra fasad. Sistem dikembangkan dalam arsitektur web client-server, memungkinkan pengguna melakukan segmentasi langsung pada citra dan memproyeksikannya ke model 3D secara spasial. Frontend dikembangkan dengan React.js dan CesiumJS, sedangkan backend menggunakan Node.js. Citra fasad diambil dengan kamera ponsel dan disegmentasi manual oleh pengguna. Validasi dilakukan secara semantik dan geometrik. Hasil semantik menunjukkan bahwa semua jendela berhasil diproyeksikan ke sisi bangunan yang tepat. Validasi geometrik melalui pengukuran lapangan menunjukkan rata-rata selisih proyeksi terhadap ukuran nyata berada di kisaran ±15–30 cm. Sistem ini terbukti mampu memperkaya model LoD2 dengan informasi tambahan tanpa membangun model LoD3 dari awal. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan kedetailan hingga ±20% pada sisi fasad, serta mendukung kebutuhan validasi objek pajak bangunan secara spasial dan terukur.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Ketahanan pangan menjadi permasalahan di sektor pertanian yang dipengaruhi oleh efisiensi pengelolaan saluran irigasi. Bendung Pataruman di Kota Banjar merupakan infrastruktur yang belum memiliki sistem manajemen aset terstruktur, sehingga berpotensi menurunkan efisiensi distribusi air. Proyek ini bertujuan membangun sistem manajemen aset berbasis Building Information Modeling (BIM) dalam bentuk WebBIM. Metode yang digunakan mencakup survei lapangan dan akuisisi data spasial berupa titik kontrol dari pengukuran GNSS, pemindaian area dengan UAV LiDAR untuk memperoleh Digital Terrain Model (DTM), serta pemindaian bangunan menggunakan TLS, GeoSLAM, dan iPad LiDAR. Dari alat tersebut akan menghasilkan data point cloud yang kemudian dilakukan registrasi, filtering, dan integrasi sehingga menjadi model 3D bangunan. Model ini dilengkapi dengan atribut teknis dan diekspor dalam format IFC (Industry Foundation Classes). Selanjutnya, model diunggah ke platform WebBIM berbasis CesiumJS dengan sistem koordinat global. Hasil implementasi menunjukkan bahwa WebBIM dapat menampilkan informasi spasial dan non-spasial dari bangunan utama, pembagi, dan siphon dalam bentuk 3D BIM. Analisis Geometrik menunjukkan nilai RMSE (Root Mean Square Error) dimensi sebesar 0,032 meter, yang masih berada dalam batas toleransi akurasi geometrik. Sementara itu, pengujian ketelitian koordinat menghasilkan nilai Root Mean Square Error gabungan horizontal (RMSEr) sebesar 0,128 meter. Pengujian fungsionalitas website menggunakan metode black-box menunjukkan seluruh fitur utama berjalan sesuai harapan dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem ini berhasil memenuhi tujuannya sebagai alat bantu manajemen aset irigasi yang efisien, informatif, dan berbasis data.
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK UNTUK MEMPREDIKSI BENTUK KESALAHAN GEOMETRIK BENDA KERJA YANG DIHASILKAN BERDASARKAN KESALAHAN GEOMETRIK MESIN CNC MILLING VERTIKAL TIGA SUMBU
Suatu mesin perkakas dapat menghasilkan produk dengan kualitas keakuratan dan kepresisian yang tinggi. Namun, seiring penggunaan mesin secara terus-menerus, dapat mengakibatkan penurunan kinerja dan ketelitiannya. Salah satu penyebabnya yaitu kesalahan geometrik. Setiap sumbu gerak dari mesin perkakas dapat mengalami kesalahan geometrik yang dapat mempengaruhi geometrik dari benda kerja. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran kesalahan geometrik agar dapat melakukan perbaikan yang tepat. Salah satu metode untuk pengukuran geometrik adalah dengan menggunakan laser interferometer. Metode ini dianggap paling akurat dan efisien. Penelitian dilakukan dengan mengukur 18 kesalahan geometrik mesin yang berupa kesalahan pemosisian, kesalahan kelurusan, dan kesalahan rotasi. Data kesalahan geometrik tersebut akan dijadikan persamaan sebagai bentuk penyederhanaan dengan menggunakan Matriks Transformasi Homogen (MTH). Dengan MTH, dapat diperkirakan bentuk kesalahan geometrik benda kerja berdasarkan kesalahan geometrik mesin CNC milling vertikal tiga sumbu. Pemodelan benda kerja yang dibuat yaitu berupa silinder aktual yang dapat dimesin (hasil dari MTH). Hasil simulasi menunjukkan terdapat nilai kesalahan kesilindrisan sebesar 0,239 milimeter.
ANALISIS PARAMETER KEBERLIKUAN GEOMETRIK JALUR PORI TERHUBUNG DENGAN MENGGUNAKAN NEURITE TRACER
Pemahaman mengenai sifat fisis dari media berpori seperti batuan sangat penting untuk mengetahui karakteristiknya di alam. Beberapa aspek yang penting untuk dipahami adalah mengenai sifat struktur, sifat aliran fluida dalam pori, mauupun berbagai sifat fisis lainnya. Salah satu karakteristik media berpori yang cukup penting untuk dipahami adalah kompleksitas jalur pori terhubung, terkait dengan bagaimana fluida dapat mengalir di dalamnya. Perbedaan kompleksitas jalur pori dapat berpengaruh pada parameter fisis aliran seperti permeabilitas. Parameter yang akan dibahas pada penelitian ini adalah parameter keberlikuan dan hubungannya dengan besaran fisis media berpori lainnya. Parameter keberlikuan merupakan pengenmbangan dari konsep tortuositas yang diusulkan oleh Dougherty yang berbasis pada perhitungan sudut keberlikuan dari suatu jalur pori. Untuk menggunakan parameter keberlikuan, pelacakan jalur pori dilakukan secara geometrik dengan menggunakan metode neurite tracer. Dari geometri jalur yang terlacak kemudian dapat ditentukan sudut keberlikuannya untuk kemudian didapatkan parameter keberlikuan. Pelacakan dilakukan pada beberapa sampel jalur pori yang memiliki panjang yang sama namun dengan perbedaan sudut keberlikuan yang dibentuk. Selanjutnya dibandingkan hasil parameter keberlikuan dari pelacakan pori secara langsung dan pada skeleton dari jalur pori untuk menentukan representasi jalur pori yang paling tepat. Didapatkan bahwa skeleton dapat menjadi representasi jalur pori yang sesuai. Perbandingan antara parameter keberlikuan dan parameter lain seperti porositas dan permeabilitas pada suatu model media berpori juga ditentukan untuk mencari hubungan antara masing masing parameter. Didapatkan bahwa terdapat korelasi parameter keberlikuan dengan porositas dan hubungan dengan korelasi porositas dan permeabilitas, namun tidak terdapat hubungan langsung antara parameter keberlikuan dan permeabilitas untuk model jalur pori tertentu sehingga diperlukan parameter pendukung untuk mendapatkan korelasi langsung antar parameter.