📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenPENGEMBANGAN PROGRAM KOMPUTASI UNTUK LEG PENETRATION ANALYSIS (LPA) SPUDCAN BERDASARKAN ISO 19905-1/2016 MENGGUNAKAN PYTHON
Leg Penetration Analysis (LPA) merupakan analisis geoteknik yang digunakan untuk mengevaluasi kapasitas dukung fondasi spudcan selama proses penetrasi pada jack-up rig. Implementasi metode semi-empiris berdasarkan ISO 19905-1 umumnya masih dilakukan secara manual menggunakan spreadsheet atau perangkat lunak komersial yang bersifat tertutup (closed-source). Penelitian ini bertujuan melakukan pengembangan awal pada program berbasis Python yang mengimplementasikan metode LPA berdasarkan ISO 19905-1. Program dikembangkan menggunakan arsitektur modular yang mencakup identifikasi mekanisme kegagalan, perhitungan bearing capacity, penentuan governing bearing capacity, dan visualisasi hasil. Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil program terhadap perhitungan manual pada enam studi kasus yang berasal dari Hossain, ISSMGE (1994), dan FUGRO Report (2008). Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap hasil referensi melalui kajian pengaruh shape factor dan depth factor pada perhitungan kapasitas dukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program mampu menghasilkan kurva kapasitas dukung yang sangat mendekati hasil perhitungan manual pada seluruh studi kasus. Evaluasi juga menunjukkan bahwa shape factor dan depth factor memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil perhitungan, meskipun masih terdapat perbedaan dengan kurva referensi akibat parameter atau asumsi yang tidak dipublikasikan secara lengkap. Program yang dikembangkan diharapkan menjadi alternatif analisis LPA yang lebih efisien, transparan, dan mudah dikembangkan.
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR GRAND WISATA AREA TIMUR, KECAMATAN TAMBUN SELATAN, KABUPATEN BEKASI
Kawasan Grand Wisata Timur, Kabupaten Bekasi mengalami permasalahan banjir, salah satunya pada 12 November 2022. Tugas akhir ini merencanakan sistem pengendalian banjir melalui analisis hidrologi dan hidraulika menggunakan HEC-RAS 2D. Pemodelan eksisting menghasilkan luas genangan 34,5 ha dengan kedalaman 0,3–2 meter untuk debit rencana periode ulang 25 tahun. Solusi yang direncanakan berupa box culvert 4×2 meter dan kolam retensi instream seluas 5,25 Ha dengan kedalaman 5–5,2 meter. Kombinasi keduanya mampu mereduksi genangan banjir sebesar 100% dan menurunkan debit puncak dari 55,1 m³/s menjadi 43 m³/s. Analisis geoteknik dan stabilitas lereng pada seluruh kondisi memenuhi faktor keamanan yang disyaratkan. Total biaya konstruksi termasuk overhead 10% adalah sebesar Rp352.974.301.194,00.
PERANCANGAN STRUKTUR BREAKWATER DI PELABUHAN TAMPERAN, PACITAN
Pelabuhan Tamperan di pesisir selatan Pacitan sering mengalami kendala gelombang ekstrem akibat pengaruh Samudra Hindia, sehingga perancangan struktur pemecah gelombang (breakwater) menjadi krusial untuk mengoptimalkan ketenangan kolam bagi operasional kapal purse seine 20–30 GT. Studi ini menggunakan QGIS untuk pengolahan data batimetri serta simulasi Delft3DWAVE untuk analisis pemodelan gelombang, dengan menetapkan parameter HHWL sebesar 2.53 meter dan tinggi gelombang ekstrem 4.41 meter. Desain terpilih adalah breakwater tipe sisi miring (rubble mound) dengan elevasi puncak 4.88 meter, panjang 140 meter, lebar puncak 2 meter, kemiringan 1:1.5, serta lapisan pelindung utama tetrapod 500 kg. Evaluasi stabilitas daya dukung tanah menggunakan formulasi Terzaghi menghasilkan nilai faktor keamanan (safety factor) sebesar 4.25, yang mengindikasikan bahwa desain telah memenuhi kriteria keamanan standar (???????? > 2,0).
PREDIKSI STRESS RATIO TANAH LEMPUNG JENUH PADA UJI TRIAXIAL CU MENGGUNAKAN DUAL-MODEL LSTM
Penelitian ini mengembangkan dual-model berbasis Long Short-Term Memory (LSTM) untuk memprediksi stress ratio (rasio tegangan deviatorik terhadap tekanan overburden efektif) tanah lempung jenuh dari data uji triaxial Consolidated Undrained (CU). Model menggunakan regangan aksial dan sepuluh parameter karakteristik tanah sebagai input. Dataset terdiri dari 105 kurva yang dipisahkan menjadi dua kelompok berdasarkan nilai maksimum tegangan deviatorik: Kelompok I (? 0,9 kg/cm²) dengan 73 kurva dan Kelompok II (< 0,9 kg/cm²) dengan 32 kurva. Kelompok I dimodelkan menggunakan Bi-LSTM dengan mekanisme attention yang dioptimasi melalui Bayesian Optimization dan 3-fold cross-validation, menghasilkan MAE 0,073, RMSE 0,11, dan R² 0,942. Kelompok II menggunakan LSTM sederhana dengan regularisasi ketat dan augmentasi data (menjadi 96 kurva), mencapai MAE 0,035, RMSE 0,072, dan R² 0,948. Studi ablasi mengungkapkan bahwa kadar air merupakan parameter paling krusial, di mana penghilangannya menyebabkan peningkatan MAE dari 0,059 menjadi 0,089 dan penurunan R² dari 0,959 menjadi 0,926. Penelitian ini memberikan panduan efektif untuk pemilihan fitur dalam pengembangan model prediktif geoteknik.
GEOLOGI DAN KARAKTERISASI BATUAN DI AREA AKSES TAMBANG BAWAH TANAH KUCING LIAR, PAPUA TENGAH, DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN TIGA DIMENSI
Endapan Kucing Liar yang terletak di selatan Distrik Grasberg, Papua Tengah, merupakan salah satu endapan porfiri dan skarn Cu-Au terbesar di dunia. Di area infrastruktur tambang bawah tanah Kucing Liar, terdapat tantangan geoteknik dalam perencanaan penambangan akibat zona hancuran yang diduga terbentuk karena intrusi batuan beku, yakni Intrusi Kay. Studi geologi dilakukan untuk memahami kondisi bawah permukaan yang memengaruhi karakterisasi batuan, mencakup identifikasi litostratigrafi, zona alterasi hidrotermal, struktur geologi, serta analisis karakteristik batuan melalui pendekatan pemodelan tiga dimensi. Penelitian dilakukan melalui observasi geologi bawah permukaan, pengamatan enam sumur inti bor, serta analisis megaskopis, mikroskopis, dan x-ray diffraction kuantitatif untuk identifikasi litologi dan mineralogi. Enam satuan batuan teridentifikasi, yaitu Satuan Hornfels, Batugamping A, Batugamping B, Batupasir, Batugamping C, dan Intrusi Diorit. Zona alterasi terdiri atas Zona Potasik (K-feldspar–kuarsa ± biotit), Zona Propilitik (klorit– epidot), Zona Filik (kuarsa–serisit–pirit), Zona Skarn Prograd (garnet–diopsid ± forsterit ± flogopit), dan Zona Skarn Retrograd (serpentin–magnetit ± epidot ± pirit). Struktur utama berupa dua sesar mendatar mengiri berarah barat laut–tenggara (NW–SE) dan tiga sesar mendatar mengiri berarah timur laut–barat daya (NE–SW). Analisis kinematika menunjukkan tegasan utama berarah timur laut–barat daya (NE–SW). Hasil karakterisasi batuan berdasarkan model numerik menunjukan bahwa nilai RQD dan point load yang buruk cenderung diakibatkan oleh sesar, zona dan intensitas alterasi, kontak antar batuan, jenis batuan, serta kegagalan teknis dalam pengukuran data. Karakterisasi batuan berdasarkan domain zona alterasi menunjukkan bahwa zona skarn retrograd memiliki kualitas batuan paling rendah, dengan nilai RQD berkisar very poor (<25%) hingga fair (50–75%), serta nilai point load weak (<1 MPa) hingga medium (1–2 MPa).
PERANCANGAN FONDASI DAN SISTEM BASEMENT DENGAN SECANT PILE DAN STRUT MENGGUNAKAN ANALISIS 3D PADA PROYEK GEDUNG 22 LANTAI
Proyek XYZ di Jakarta Pusat merupakan gedung bertingkat dengan 1 lantai basement dan 22 lantai yang berfungsi sebagai perkantoran. Tugas akhir ini berfokus pada perencanaan desain dan analisis pada sistem fondasi tiang dan proteksi galian basement menggunakan dinding penahan tanah beserta perkuatannya. Di tugas akhir ini telah dibagi menjadi proses desain 2 tahap. Tahap pertama adalah perancangan fondasi dan tahap kedua adalah perancangan dinding penahan tanah. Pada proyek ini, diperlukan fondasi untuk mendukung beban struktur dan mentransfer beban tersebut ke dalam tanah. Fondasi yang digunakan berupa fondasi dalam berupa tiang bor dengan spesifikasi sesuai dengan besarnya beban yang ditransfer ke dalam tanah. Tahapan yang dilakukan adalah melakukan interpretasi data tanah sesuai dengan hasil pengujian baik dari hasil pengujian langsung ataupun dari hasil pengujian laboratorium. Untuk penentuan kapasitas daya dukung aksial tiang tunggal telah digunakan metode static berdasarkan Reese & Wright. Kemudian kapasitas lateral tiang tunggal ditentukan dengan menggunakan software RSPILE. Selanjutnya, analisis kelompok tiang dilakukan menggunakan software Ensoft Group. Dari analisis tersebut telah diperoleh keluaran berupa gaya dalam dan deformasi yang terjadi pada sistem fondasi dan pada masing-masing tiang ii tunggal. Kemudian dilakukan analisis settlement yang terjadi pada kelompok tiang dengan perhitungan analitikal. Didapatkan bahwa desain fondasi telah memenuhi kriteria, sehingga dilakukan desain penulangan untuk fondasi tiang bor dan juga pile cap nya menggunakan software SpColumn. Selanjutnya, dinding penahan tanah telah didesain sesuai dengan acuan yang ada agar memenuhi kekuatan, kestabilan dan faktor keamanan. Tipe dinding yang digunakan adalah secant pile dengan perkuatan strut 2 lapis. Profil penampang baja yang dipakai untuk strut adalah H-Beam 350 x 350. Selanjutnya, telah perhitungan kedalaman penetrasi menggunakan metode free-earth support untuk kondisi undrained dan drained kemudian dihasilkan preliminary depth sebesar 45 m. Lalu telah dicek keamanan keruntuhan galian terhadap basal heave, upheaval, dan sand boiling, dimana dihasilkan nilai faktor keamanan yang melebihi persyaratan pada masing-masing kondisi sehingga dapat dikatakan rencana galian di proyek yang ditinjau tidak akan mengalami keruntuhan akibat kondisi-kondisi tersebut. Selanjutnya, telah dilakukan pemodelan galian dan dinding penahan tanah untuk dicek hasilnya terhadap deformasi dan faktor keamanan dengan software RS3. Hasil akhirnya adalah nilai defleksi, settlement di belakang dinding, dan faktor keamanan sudah memenuhi persyaratan.
PERANCANGAN FONDASI TIANG BOR PADA STRUKTUR UTAMA DAN DINDING DIAFRAGMA DENGAN PERKUATAN ANGKUR PADA KOLAM DOLPHINARIUM AQUAMARINE PARK, PULAU SERANGAN, BALI
Aquamarine Park merupakan kawasan wisata edukatif bertema akuarium raksasa yang ditujukan untuk menarik wisatawan domestik maupun internasional. Proyek ini mencakup pembangunan struktur utama dan kolam Dolphinarium, dengan fokus perancangan pada sistem fondasi dan dinding penahan tanah. Sistem fondasi yang digunakan untuk mendukung struktur utama yang akan dibangun diatas tanah dengan menggunakan tiang bor berdiameter 800 mm dan akan diikat pada pile cap dengan konfigurasi 2 tiang, 4 tiang, dan 6 tiang. Analisis akan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak LPILE dan GROUP. Dinding penahan tanah dirancang sebagai dinding diafragma setebal 1.000 mm untuk mendukung galian sedalam 9 meter, dengan sistem angkur pada elevasi -3,00 m dan -7,00 m. Struktur kolam Dolphinarium turut didukung oleh 24 tiang bor berdiameter 800 mm sebagai tension pile. Untuk mengendalikan muka air tanah selama pekerjaan galian, dilakukan pemodelan dewatering dari elevasi 0 m hingga -9 m menggunakan perangkat lunak PLAXIS 2D.
PENENTUAN PROBABILITAS KESTABILAN LERENG KERING MENGGUNAKAN METODE REGRESI LOGISTIK BINER
Kestabilan lereng merupakan aspek penting dalam perencanaan dan mitigasi risiko geoteknik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan probabilitas kestabilan lereng kering menggunakan metode regresi logistik biner. Metode ini dipilih karena mampu memodelkan hubungan antara variabel-variabel independen seperti berat jenis, kohesi, sudut gesek dalam, kemiringan lereng dan ketinggian lereng terhadap peluang terjadinya longsor (stabil atau tidak stabil). Data yang digunakan merupakan data sekunder hasil pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan serta pengujian laboratorium. Hasil analisis menunjukkan bahwa regresi logistik biner dapat digunakan untuk memperkirakan probabilitas kestabilan lereng dengan tingkat akurasi sebesar 87%.
PENGEMBANGAN MODEL KONSTITUTIF TANAH BERBASIS DATA UNTUK MEMPREDIKSI HUBUNGAN TEGANGAN DAN TEKANAN AIR PORI TERHADAP REGANGAN MENGGUNAKAN INDEKS PROPERTI TANAH
Permasalahan geoteknik yang semakin kompleks menuntut pemahaman perilaku tanah hingga ke level elemen. Model konstitutif, seperti Hardening Soil (HS), banyak digunakan untuk merepresentasikan perilaku non-linear tanah. Namun, model konstitutif umumnya memerlukan parameter input yang kompleks, tidak intuitif, serta bergantung pada korelasi atau asumsi tambahan yang dapat menurunkan akurasi prediksi. Hingga saat ini, belum ada model konstitutif yang mampu merepresentasikan perilaku non-linear tanah secara akurat menggunakan parameter tanah dasar yang diperoleh melalui uji laboratorium sederhana. Seiring dengan berkembangnya teknologi Machine Learning, pendekatan berbasis data (data-driven) membuka peluang baru dalam membangun model perilaku tanah yang lebih efisien. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kurva stress–strain dan pore water pressure (PWP)–strain berbasis data dengan menggunakan algoritma Random Forest (RF), Multi-Output Random Forest (MORF), dan Backpropagation Neural Network (BPNN). Model dikembangkan dengan pendekatan direct dan increment prediction menggunakan parameter indeks tanah sebagai satu-satunya input dan tambahan variabel historis tegangan, tanpa korelasi tambahan. Dataset yang digunakan merupakan hasil uji triaxial Consolidated Undrained (CU) dari berbagai sampel tanah. Secara umum, model ensemble ML terbukti lebih unggul dibanding deep learning, terutama dalam stabilitas prediksi di zona initial loading dan non-failure. Error terbesar ditemukan pada zona failure untuk tanah berplastisitas rendah, dan pada zona non-linear awal untuk tanah plastis. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik plastisitas dan tingkat deformasi sangat memengaruhi akurasi prediksi. Hasil studi ini menegaskan potensi pendekatan data-driven sebagai alternatif model konstitutif yang lebih sederhana dan efisien untuk aplikasi rekayasa geoteknik ke depan.
ANALISIS BALIK TERHADAP FLOW LIQUEFACTION PADA BENDUNGAN TAILINGS BERMATERIAL GETAS (STUDI KASUS: BENDUNGAN FEIJãO DI BRUMADINHO, BRASIL)
Keruntuhan Bendungan Tailings Feijão di Brasil pada 25 Januari 2019 menyebabkan bencana lingkungan, menelan ratusan korban jiwa, serta mengakibatkan kerugian materiil sebesar 1.6 miliar USD. Kejadian ini diduga disebabkan oleh likuefaksi statis akibat sifat getas material tailings. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab keruntuhan melalui analisis balik serta mengevaluasi berbagai mekanisme pemicu, termasuk curah hujan tinggi selama 2018-2019 dan aktivitas pengeboran yang berlangsung hingga hari keruntuhan. Analisis balik dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan model konstitutif NorSand untuk merepresentasikan perilaku getas material tailings. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas global bendungan berada dalam kondisi marginal (SF = 1.05). Aktivitas pengeboran yang dilakukan menyebabkan perubahan distribusi tekanan air pori ekses, memperluas zona likuefaksi (ru ? 1,0), dan menurunkan stabilitas global bendungan (SF = 0.82). Sementara itu, curah hujan tinggi yang diklaim menghilangkan matric suction pada zona takjenuh di area permukaan bendungan terhitung tidak memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas bendungan (SF = 1.05).
PERBANDINGAN METODE INTERPOLASI LINEAR DAN FAST RADIAL BASIS FUNCTION UNTUK PEMODELAN SUBSURFACE PADA ANALISIS PENURUNAN TANAH (STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL RUAS BINJAI –PANGKALAN BRANDAN, SUMATERA UTARA)
SNI 8460:2017 mengatur terkait standar survey penyelidikan tanah yang dilakukan pada konstruksi jalan tol yang mana interval maksimum adalah 200 meter. Hasil penyelidikan tanah akan digunakan untuk karakteristik dari ground profile seperti kedalaman lapisan tanah dan juga sifat fisik ataupun mekanisnya. Ketidakpastian dalam interpretasi pada ground profile mempengaruhi tingkat akurasi analisis untuk prediksi penurunan tanah. Phoon et al. (2022) juga menyebutkan pada proses analisis hal yang umumnya terjadi adalah penggunaan model-model numerik yang kompleks, akan tetapi input seperti ground profile yang digunakan adalah model yang sederhana dan deterministik. Dalam analisis geoteknik proses soil profiling merupakan hal utama yang perlu dilakukan, Pada umumnya analisis dilakukan secara deterministik, penyelidikan tanah akan dilakukan pada titik analisis yang ditinjau. Namun tidak jarang juga karena keterbatasan data, maka pada lokasi-lokasi yang tidak dilakukan penyelidikan tanah, perlu menginterpolasi data untuk mengetahui kedalaman lapisan jenis-jenis tanah. Metode interpolasi linear merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam pembuatan subsurface model atau stratigrafi tanah. Saat ini, penggunaan subsurface model yang menggunakan metode inteprolasi fast radial basis function cukup populer digunakan pada perangkat lunak komersial sebagai alternatif soil profiling. Pada metode ini nilai numerik ataupun litologi tanah dapat dimodelkan dan di interpolasi pada ruang tiga dimensi. Metode radial basis function diperkenalkan pertama kali pada literatur oleh Hardy (1971) untuk menginterpolasi data topografi dan saat ini juga dapat digunakan untuk menginterpolasi data geologi. Pada lokasi studi timbunan jalan tol di konstruksi di atas tanah dasar lempung lunak dengan kedalaman maksimum 12 meter. Dilakukan perbaikan tanah dengan kombinasi menggunakan prefabricated vertical drain (PVD) dan preloading untuk mempercepat proses konsolidasi untuk meminimalkan penurunan tanah baik saat konstruksi hingga operasi jalan tol. Selanjutnya penelitian ini akan membahas analisis penurunan tanah antara stratigrafi hasil subsurface model yang oleh dua metode interpolasi yakni linear dan fast radial basis function. Studi akan meninjau pada 3 titik, yakni pada titik pengamatan settlement plate. Analisis akan menggunakan 1-D Terzaghi untuk evaluasi awal dan finite element method lalu dibandingkan dengan data pengamatan settlement plate. Terakhir, akan ditarik kesimpulan dari penggunaan dua metode interpolasi dan bagaimana implikasinya dalam hasil analisis penurunan tanah. Diperoleh bahwa hasil analisis menggunaan hasil stratigrafi fast radial basis function cukup akurat dengan deviasi yakni 6% dan 7% pada dua lokasi titik tinjau. Pada titik tinjau terakhir di STA. 43+625 didapatkan bahwa deviasi cukup tinggi sebesar 42%, dimana inteprolasi linear lebih akurat dengan deviasi hanya 9%.
STUDI PENGGUNANAAN METODE DEEP SOIL MIXING (DSM) UNTUK PERBAIKAN KELONGSORAN TIMBUNAN TANAH
Pelaksanaan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera adalah salah satu Proyek Strategis Nasional dimana meliputi Provinsi Aceh di sebelah Utara sampai dengan Provinsi Lampung di sebelah Selatan. Pelaksaan Jalan Tol di Sumatera Utara merupakan salah satu yang dilaksanakan dan pada pelaksanaannya terdapat tanah lunak pada kedalaman 17 sampai 22 meter. Pada Rencana awal disepakati penggunaan metode PVD dan preloading untuk perbaikan tanah lunak. Namun pada proses pelaksanaannya tepatnya setelah timbunan mencapai elevasi rencana / Top Subgrade terjadi kelongosoran pada timbunan badan jalan tersebut. Kelongsoran yang terjadi pada pelaksanaan Timbunan Badan jalan tol kemungkinan disebabkan oleh belum padatnya tiap layer timbunan dikarenakan proses pemadatan yang kurang demi mengejar target penyelesaian proses konstruksi Jalan Tol. Pada Studi ini akan diberikanan alternatif solusi berupa Penggunaan Metode Deep Soil Mixing (DSM) untuk perbaikan kelongsoran timbunan tanah pada Badan Jalan. Dalam analisinya digunakan parameter – parameter tanah berdasarkan hasil uji tanah yang telah dilaksanakan di lapangan. Kata
DESAIN PERPANJANGAN DERMAGA NUSANTARA II DI PELABUHAN LEMBAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT
Lombok merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang memiliki potensi wisata alam yang melimpah. Saat ini masih banyak potensi wisata yang belum dikembangkan di Lombok. Dalam jangka panjang, pariwisata di Lombok akan makin berkembang dan menarik minat wisatawan dari seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan infrastruktur di Lombok agar dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pengembangan dermaga pelabuhan untuk meningkatkan konektivitas antar pulau. Berdasarkan hal tersebut, pihak Pelindo Regional III berencana untuk mengembangkan Pelabuhan Lembar, yaitu dengan perpanjangan Dermaga Nusantara II dan pembangunan trestle baru. Dermaga Nusantara II merupakan dermaga khusus penumpang dan Ro-Ro yang berlokasi di Kota Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Topik yang dibahas dalam Tugas Akhir ini adalah perancangan struktur dermaga dan trestle pada pengembangan Dermaga Nusantara II di Pelabuhan Lembar. Tugas Akhir ini melingkupi bahasan mengenai pengumpulan dan pengolahan data, perancangan desain struktur dermaga, pemodelan dan analisis struktur dengan perangkat lunak SAP2000, perancangan tulangan elemen struktural dermaga, serta analisis daya dukung tanah pada lokasi dermaga. Struktur dermaga dirancang agar dapat menghasilkan nilai UCR dan defleksi yang dapat diterima oleh struktur sesuai dengan standard yang berlaku. Pemodelan struktur dilakukan untuk mendapatkan desain optimum beserta dengan gaya dalam dan reaksi perletakannya. Output dari pemodelan struktur kemudian akan digunakan untuk mendesain tulangan pada elemen struktural dermaga dan analisis daya dukung tanah. Selain itu, dalam Tugas Akhir ini, dilakukan juga pengujian gaya dalam pada elemen pelat ketika area pelat dibagi dan tidak dibagi serta pengujian gaya dalam pada elemen pelat pada empat tipe pelat berbeda. Dermaga Nusantara II saat ini memiliki panjang 133 m dengan lebar 16 m. Perancangan perpanjangan dermaga sepanjang 100 m menghasilkan struktur dermaga dengan total panjang 233 m dan lebar 16 m. Struktur perpanjangan dermaga dirancang sesuai dengan kondisi eksisting Dermaga Nusantara II dengan elevasi dermaga sebesar +4.3 m dari LWS. Pondasi yang digunakan adalah tiang pancang diameter 600 mm dengan ketebalan 14 mm untuk struktur dermaga dan tiang pancang diameter 400 mm dengan ketebalan 14 mm untuk struktur trestle. Pondasi pada struktur dermaga perlu dipancang hingga kedalaman 33 m di bawah dasar laut sedangkan pondasi struktur trestle perlu dipancang hingga kedalaman 36 m di bawah dasar laut. Hasil dari Tugas Akhir ini meliputi desain struktur perpanjangan dermaga dan trestle, hasil pengujian gaya dalam pada pelat, detail penulangan elemen struktural dermaga, serta kedalaman tiang pancang yang dibutuhkan.
ANALISIS KRITERIA KERUNTUHAN MOHR-COULOMB DAN HOEK-BROWN PADA BATUAN SEDIMEN DAN BATUBARA
Kestabilan batuan adalah aspek penting dalam teknik sipil, pertambangan, dan geoteknik. Dua kriteria keruntuhan yang umum digunakan untuk memprediksi kestabilan batuan adalah Mohr-Coulomb dan Hoek-Brown. Mohr-Coulomb dikenal karena kesederhanaannya dalam menghubungkan tegangan geser dengan tegangan normal, sementara Hoek-Brown lebih sesuai untuk batuan utuh dan rekahan yang kompleks. Penelitian ini menganalisis dan memodelkan kedua kriteria keruntuhan tersebut menggunakan data uji triaksial pada batuan sedimen dan batubara, dengan fokus utama pada penentuan rentang tegangan utama minor (????????) di mana kedua kriteria memberikan hasil yang sebanding. Data uji laboratorium diolah dengan perangkat lunak Rocscience RSData, dan hasilnya digunakan untuk membuat model grafik kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb dan Hoek-Brown. Selanjutnya, parameter-parameter yang diperoleh diaplikasikan pada model lereng hipotetik, dengan perhitungan Faktor Keamanan (FK) menggunakan perangkat lunak Rocscience Slide2 (Metode Bishop). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai FK yang dihasilkan oleh kriteria Mohr-Coulomb relatif lebih besar dibandingkan dengan kriteria Hoek-Brown dengan menggunakan data uji triaksial yang sama.
ANALISIS KESTABILAN LERENG TIMBUNAN MATERIAL OVERBURDEN DI TAMBANG BATUBARA PT XYZ, MUARA MAUNG, SUMATERA SELATAN
Penambangan batubara terbuka di PT XYZ, Muara Maung, Sumatera Selatan, melakukan penimbunan material di area Highwall pit namun mengalami longsoran yang diduga akibat adanya bekas timbunan lumpur didalamnya. Analisis kestabilan lereng timbunan tersebut dilakukan untuk mendapatkan solusi, sehingga usaha-usaha perbaikan desain lereng dapat dilaksanakan. Data material fisik dieproleh dari uji laboratorium yang diolah dan dimasukkan sebagai parameter analisis kestabilan lereng. Kemudian, hasil analisis kestabilan desain lereng timbunan yang berupa nilai faktor keamanan disesuaikan dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827K/30/MEM/2018. Setelah dilakukan rekomendasi dengan mengubah kemiringan lereng timbunan menjadi 30º dan pada bagian depan timbunan dibuat counterweight berjenjang dengan ketinggian masing masing jenjang sekitar 7.9 meter dengan lebar jenjang didepan counterweight sekitar 6.3 meter, dapat dilihat terjadi peningkatan nilai faktor keamanan lereng secara bertahap menjadi 0.64 , 0.79, 1.24. Dengan demikian rekomendasi Counterweight yang diterapkan pada bagian depan timbunan dapat digunakan karena nilai faktor keamanan 1.24, ini telah sesuai dengan Kepmen ESDM RI Nomor 1827 K/30/MEM/2018.