📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenPENENTUAN BEDA TINGGI GEODETIK MENGGUNAKAN GPS UNTUKPENENTUAN TINGGI ORTHOMETRIK
Hingga saat ini, ketelitian komponen vertikal dari penentuan posisi menggunakan GPS tidak sebaik komponen horisontalnya yang diakibatkan oleh bias dan kesalahan yang ada. Untuk memperoleh komponen vertikal (tinggi geodetik) yang memiliki kualitas yang baik pada penentuan posisi menggunakan GPS, maka bias dan kesalahan yang ada harus dapat tereduksi secara optimal. Untuk dapat mereduksi bias dan kesalahan yang ada dapat dilakukan dengan melakukan metoda pengamatan dan metoda pengolahan data yang baik. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data menggunakan metoda GPS diferensial moda radial dari satu titik ikat. Pengolahan data dilakukan secara “single baseline” menggunakan perangkat lunak Bernese 5.0 dan TGO 1.62 dengan melakukan pengoreksian serta pengestimasian bias dan kesalahan secara optimal sesuai dengan kemampuan algoritma pengolahan data yang digunakan. Data yang digunakan adalah data dalam fungsi baseline dan lama pengamatan, sehingga dari pengolahan data dapat dihasilkan nilai beda tinggi geodetik dalam variasi spasial dan temporal. Dari hasil pengolahan data, semakin pendek baseline pengamatan dan semakin lama pengamatan, maka kualitas nilai beda tinggi geodetik akan semakin baik dilihat dari variasi nilai beda tinggi geodetik. Pada baseline pengamatan yang lebih panjang dengan lama pengamatan yang lebih pendek dihasilkan kualitas beda tinggi geodetik yang kurang baik. Hal ini disebabkan karena bias dan kesalahan seperti bias troposfir, kesalahan orbit, multipath, dan lainnya tidak dapat tereduksi dengan optimal. Dari bias dan kesalahan tersebut, bias troposfer memberikan dampak yang lebih dominan karena belum dapat tereduksi secara optimal. Dilihat dari segi perangkat lunak yang digunakan, perangkat lunak Bernese 5.0 memberikan kualitas tinggi geodetik yang lebih baik daripada penggunaan perangkat lunak TGO 1.62
REGANGAN TEKTONIK DI SUMATERA BERDASARKAN PENGAMATAN KONTINU SUMATRAN GPS ARRAY (SUGAR) TAHUN 2007-2008
Sumatera terletak dekat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Saat Lempeng Indo-Australia bergerak kebawah Lempeng Eurasia, terjadi kontak bidang antar lempeng sehingga terakumulasi regangan. Regangan yang telah melewati batas elastisitas akan dilepaskan sebagai gempa bumi. Pengamatan GPS dilakukan untuk mempelajari kecepatan vektor pergeseran dan variasi regangan tektonik di permukaan. Hasil pengolahan data menunjukkan vektor pergeseran di sumatera mengarah ke timur-laut yang mengindikasikan inter-seismic dan ke baratdaya yang mengindikasikan post-seismic. Distribusi regangan berupa ekstensi yang mengindikasikan post-seismic tersebar merata dominan di zona tempat terjadinya gempa Aceh 2004, gempa Nias 2005, gempa Bengkulu 12 September 2007 dan gempa Kepulauan Mentawai 13 September 2007. Adapun regangan berupa kompresi menunjukkan sumatera masih dipengaruhi inter-seismic.
PEMODELAN TINGKAT REKATAN SUBDUKSI DI SELATAN SUMATERA, BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS
Bagian barat Indonesia merupakan wilayah dari batas lempeng antara lempeng Australia dan lempeng Sunda dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya subduksi dari lempeng tektonik yang terus berlangsung sampai ke selatan dan timur/tenggara sepanjang Palung Jawa.Keseluruhan batas lempeng sepanjang Sumatera yang memanjang dari utara sampai Pulau Enggano sangat berpotensi untuk menghasilkan gempa yang sangat besar. Sedangkan informasi kegempaan pada bagian selatan Sumatera masih merupakan sebuah tanda tanya. Untuk itu perlu dilakukan analisis lebih dalam mengenai kondisi subduksi di bagian wilayah tersebut, terutama bagian selatan Pulau Sumatera.GPS sendiri telah banyak digunakan untuk mempelajari dinamika Bumi (geodinamika) seperti yang berkaitan dengan pergerakan sesar-sesar maupun lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi atau letusan gunung berapi [Segall and Davis, 1997]. Data titik hasil pengamatan GPS di bagian selatan Pulau Sumatera kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran dan nilai parameter regangannya, sehingga tingkat rekatan pada zona subduksi tersebut dapat dimodelkan.Berdasarkan nilai perhitungan, pergeseran dari titik-titik pengamatan di bagian selatan Sumatera mengalami pergeseran horizontal dalam kisaran 1-6 cm/tahun ke arah Timur Laut. Dan berdasarkan hasil pemodelan tingkat rekatan yang terjadi adalah sebesar 33.3 %. Deformasi bagian selatan Sumatera dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pergerakan lempeng sunda, pengaruh subduksi, dan pengaruh lokal.
STUDI POSTSEISMIK GEMPA PANGANDARAN DARI DATA PENGAMATAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) TAHUN 2006-2008
Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 3 sore hari mengakibatkan kerugian matrial dan korban juwa yang tidak sedikit. Gempa tersebut tercatat dengan kekuatan 7,7 Mw (BMG, 2006). Gempa tersebut memiliki titik episenter yang terletak 200 km dari daratan terdekat. Gempa tersebut menghasilkan sebuah efek pasca gempa yang disebut dengan fase postseismik, yang mana postseismik itu sendiri merupakan salah satu siklus gempa. Dengan mempelajari siklus gempa diharapkan dapat diketahui periode pengulangan gempa. Dengan melihat fase setelah gempa (postseismik) diharapkan dapat memprediksi pengulangan gempa di masa mendatang, sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Salah satu upaya untuk mempelajari siklus gempa ini adalah dengan metode survei GPS. Survei GPS dilakukan dengan mengamati titik-titik pengamatan GPS di sekitar Pangandaran. Pada tanggal 23-30 Juli 2006 survei GPS kala-1 dilakukan dengan melakukan pengamatan di 24 titik pengamatan. Pada kala-2 pada tanggal 9-14 Agustus 2007 diamati 24 titik pengamatan. Dan pada kala-3 1-5 Agustus 2008 diamati 23 titik. Metode yang digunakan adalah metode diferensial dengan moda jaring. Dari hasil pengolahan dan analisis mengindikasikan bahwa titik-titik di sekitar Pangandaran mengalami penurunan deformasi dari tahun 2006-2007 ke tahun 2007-2008, artinya postseismik semakin melemah. Gerakan pergeserannya menuju ke arah selatan, sama dengan tahapan koseismiknya.
ANALISIS POLA DEFORMASI MEGATHRUST JAWA DARI DATA GPS DI GARUT-KEBUMEN
Kondisi tektonik Indonesia yang terletak pada pertemuan lempeng besar dunia mengakibatkan gempa besar, salah satunya gempa Pangandaran tahun 2006. Gempa dengan magnitudo Mw 7.8 ini terjadi di zona subduksi Jawa yang merupakan pertemuan Lempeng Australia dan Blok Sunda. Empat stasiun Global Positioning System (GPS) yang dipasang oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dan berlokasi di sekitar Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kabupatern Cilacap, dan Kabupaten Kebumen dapat digunakan untuk memahami pola deformasi setelah gempa Pangandaran 2006. Model slip deficit rate pada zona megathrust digunakan untuk mendapatkan nilai velocity locking pada empat stasiun GPS. Model velocity viscoelastic relaxation digunakan dari hasil penelitian sebelumnya. Kemudian nilai velocity afterslip didapatkan dengan mengurangkan vektor GPS terhadap velocity locking dan velocity viscoelastic relaxation pada setiap stasiun GPS. Nilai velocity afterslip ini kemudian digunakan untuk mencari nilai afterslip pada zona megathrust. Hasil penelitian, hingga saat ini, menunjukkan adanya deformasi post- seismic afterslip yang terjadi pasca gempa Pangandaran pada bagian Barat daerah penelitian dengan nilai yang berkurang seiring berjalannya waktu dan deformasi inter-seismic yang terjadi dan semakin mendominasi pada daerah penelitian.