📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

PENENTUAN DATUM PASUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sejumlah datum pasut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, dengan menggunakan data tinggi muka air laut. Datum pasut yang ditentukan adalah berupa HAT (Highest Astronomical Tide), MSL (Mean Sea Level), dan LAT (Lowest Astronomical Tide). Metodologi yang diterapkan agar diperoleh nilai LAT adalah dengan cara melakukan analisis harmonik terhadap data tinggi muka air laut selama 10 bulan. Berdasarkan analisis harmonik tersebut, didapatkan nilai MSL serta 59 komponen pasut dilengkapi dengan nilai Amplitudo, Fase, dan SNR (Signal to Noise Ratio). Kemudian, dilakukan prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan komponen pasut tersebut. Dalam melakukan prediksi, komponen pasut yang digunakan adalah komponen yang memiliki nilai SNR lebih besar dari 2. Setelah diperoleh data prediksi pasut selama 18,6 tahun, maka nilai HAT dan LAT dapat ditentukan dengan memilih nilai ketinggian tertinggi dan terendah dalam selang data prediksi tersebut. Sedangkan MSL didapatkan dengan menghitung rata-rata tinggi model prediksi pasut selama 18,6 tahun. Nilai HAT, MSL, dan LAT yang didapatkan adalah sebesar -480,0 cm, -547,9 cm, dan -601,6 cm mengacu kepada nol alat, dengan standar deviasi sebesar +9,3 cm. Tingkat keterandalan dari datum pasut tersebut dapat diketahui secara kualitatif berdasarkan jumlah komponen pasut yang terlibat dalam melakukan prediksi pasut, yaitu sebanyak 45 komponen pasut.

2026
👤 Penulis: RIFAKHRYZA AQFALA MUGIARAYA (NIM: 15109054); Pembimbing: Dr.rer.nat. Poerbandono
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Meteorologi

PENENTUAN LAT (LOWEST ASTRONOMICAL TIDE) BERDASARKAN PERIODE WAKTU PENGAMATAN PASUT

LAT (Lowest Astronomical Tide) adalah datum vertikal yang direkomendasikan oleh IHO (International Hydrographic Organization). IHO menyatakan bahwa LAT didapatkan dari prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan data pengamatan minimal selama 12 bulan atau dengan metode lain yang terbukti dapat memberikan hasil yang dapat diandalkan. Pernyataan IHO tersebut menunjukkan bahwa belum ada metode yang baku dalam penentuan LAT khususnya dalam hal panjang data pengamatan. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan selisih nilai LAT pendekatan terhadap nilai LAT dari data pengamatan 12 bulan. LAT pendekatan adalah LAT yang didapatkan berdasarkan data pengamatan di bawah satu tahun. Data pengamatan pasut yang digunakan adalah data pasut Batam, Tarakan, dan Ambon. LAT ditentukan dengan cara melakukan analisis harmonik untuk mencari komponen pasut, kemudian diprediksi selama 18,6 tahun dan dicari nilai ketinggian muka air terendahnya. Pada penelitian ini didapatkan selisih nilai LAT pendekatan dari variasi panjang data pengamatan terhadap nilai LAT 12 bulan. Penyimpangan yang didapatkan adalah 0,5 cm hingga 11,4 cm di daerah Batam, 28,9 cm hingga 79,8 cm di daerah Tarakan, dan 4,2 cm hingga 53,0 cm di daerah Ambon. Nilai pergeseran garis pantai terbesar akibat selisih dari nilai LAT tersebut adalah 45,7 m dan terkecil adalah 0,002 m.

2026
👤 Penulis: ARDHI FEBRIAWAN (NIM: 15109089); Tim Pembimbing: Dr. Ir. Eka Djunarsjah, M.T.; Dr. rer. nat. Poerban
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Geodesi

PENENTUAN KONSTANTA PASUT LAUT DI WILAYAH PERAIRAN SIBOLGA DARI DATA TOPEX/ POSEIDON (1992-2002) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS HARMONIK

Pemanfaatan satelit altimetri pada berbagai bidang umumnya memerlukan model pasut laut untuk pereduksian datanya. Dalam hal ini biasanya digunakan model pasut laut global, misalnya FES 2004 tanpa komponen harmonik Sa dan Ssa. Model pasut laut global tersebut secara umum berkualitas baik apabila digunakan di perairan dalam. Pada skripsi ini dicoba pemanfaatan data satelit altimetri Topex/ Poseidon untuk menentukan konstanta-konstanta pasut laut di wilayah perairan dalam tanpa dan dengan komponen harmonik Sa dan Ssa. Dalam hal ini wilayah perairan sekitar Sibolga adalah sebagai wilayah investigasi. Hasilnya menunjukkan bahwa konstanta pasut laut tanpa Sa dan Ssa sebanding dengan model FES 2004. Sedangkan apabila konstanta-konstanta Sa dan Ssa diestimasi, hasilnya lebih baik dibandingkan dengan model FES2004.

2026
👤 Penulis: WIRA RAHMAD DAELI (NIM 15103038)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Model Pasut Laut

ANALISIS HARMONIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KUADRAT TERKECIL UNTUK PENENTUAN KOMPONEN-KOMPONEN PASUT DI PERAIRAN DANGKAL DARI DATA TOPEX/POSEIDON

Teknologi satelit altimetri mempunyai peran penting dalam studi oseanografi dan hidrografi di perairan Indonesia. Pada banyak aplikasi pemanfaatan teknologi satelit altimetri, sinyal yang disebabkan oleh pasut laut harus dihilangkan dari data pengamatan satelit altimetri. Biasanya informasi dari sinyal pasut laut ini diperoleh dari model pasut laut global. Namun, model pasut global tersebut tidak dapat digunakan wilayah perairan Indonesia yang mempunyai karakteristik beragam. Oleh karena itu, diperlukan adanya informasi sinyal pasut lokal untuk menggantikan model pasut global di wilayah perairan Indonesia. Tugas akhir ini membahas mengenai penggunaan data TOPEX/Poseidon untuk menentukan komponen-komponen pasut laut di daerah perairan dangkal menggunakan analisis harmonik. Metode kuadrat terkecil digunakan dalam penentuan komponen-komponen pasut laut tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa data satelit altimetri dapat digunakan untuk menghitung konstanta-konstanta pasut di perairan Indonesia. Namun masih terdapat masalah yang ditemui dalam penelitian ini yaitu pada penentuan fase komponen pasut yang mempunyai perbedaan cukup besar pada data pass ascending dan descending. Yang menjadi masalah dari perbedaan ini yaitu apabila dari hasil proses analisis harmonik menggunakan TOPEX/Poseidon ini akan dibuat co-tidal chart. Tetapi untuk keperluan prediksi pasut hal ini sudah dapat digunakan.

2026
👤 Penulis: FANANI HENDY KHUSUMA (NIM 15104011)
🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Data Satelit Altimetri 🏷️ Perairan Indonesia

INKLUSI DI RUANG BOURGAIN-MORREY DAN PERUMUMANNYA

Penelitian ini mengkaji inklusi dalam beberapa varian ruang Bourgain-Morrey, yaitu ruang Bourgain-Morrey, ruang Bourgain-Morrey campuran, dan ruang Bourgain-Morrey lemah. Ruang Bourgain-Morrey adalah generalisasi dari ruang Morrey klasik yang banyak digunakan dalam analisis harmonik dan teori fungsi. Pertama, dibahas kembali sifat-sifat dan inklusi pada ruang Bourgain-Morrey. Dibahas pula syarat agar suatu ruang Bourgain-Morrey memiliki anggota tak trivial. Selanjutnya, mengadaptasi suatu definisi ruang Morrey campuran, diperkenalkan definisi ruang Bourgain-Morrey campuran dan diteliti sifat-sifat inklusinya. Terakhir, mengadaptasi definisi ruang Morrey lemah, diperkenalkan pula definisi ruang Bourgain-Morrey lemah serta diteliti sifat-sifat inklusinya.

2024
👤 Penulis: Aria Pratama
🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Teori Fungsi 🏷️ Generalisasi Ruang Norma

PENENTUAN KONSTANTA PASUT LAUT DI WILAYAH PERAIRAN SIBOLGA DARI DATA TOPEX/POSEIDON (1992 - 2002) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS HARMONIK

Pemanfaatan satelit altimetri pada berbagai bidang umumnya memerlukan model pasut laut untuk pereduksian datanya. Dalam hal ini biasanya digunakan model pasut laut global, misalnya FES 2004 tanpa komponen harmonik Sa dan Ssa. Model pasut laut global tersebut secara umum berkualitas baik apabila digunakan di perairan dalam. Pada skripsi ini dicoba pemanfaatan data satelit altimetri Topex/ Poseidon untuk menentukan konstanta - konstanta pasut laut di wilayah perairan dalam tanpa dan dengan komponen harmonik Sa dan Ssa. Dalam hal ini wilayah perairan sekitar Sibolga adalah sebagai wilayah investigasi. Hasilnya menunjukkan bahwa konstanta pasut laut tanpa Sa dan Ssa sebanding dengan model FES 2004. Sedangkan apabila konstanta - konstanta Sa dan Ssa diestimasi, hasilnya lebih baik dibandingkan dengan model FES2004.

2024
👤 Penulis: Wira Rahmad Daeli
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Model Pasut Laut
💬