📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 44 dokumenLEAK DETECTION AND LEAK LOCALIZATION FOR MULTIPOINT PIPELINE LEAKAGES USING DEEP LEARNING APPROACH
Pipeline leakage remains one of the major challenges in oil and gas transportation systems due to its potential to cause economic losses, environmental contamination, operational disruptions, and safety hazards. Conventional leak detection and localization methods, such as mass balance calculations and pressure-gradient analysis, often suffer from limited accuracy and long processing times, particularly under dynamic operating conditions and multiple-leak scenarios. With the increasing adoption of real-time monitoring systems equipped with pressure, flow rate, and temperature sensors, deep learning has emerged as a promising approach for improving leak detection and localization performance. Therefore, this study investigates the performance of deep learning-based leak detection and localization systems under both single-leak and dual-leak conditions using USAD (UnSupervised Anomaly Detection) and Transformer architectures. The proposed methodology consists of two main modules. The first module employs the USAD architecture for leak detection by learning normal operational patterns from multivariate time-series data. Anomaly scores generated by the model are evaluated using ROC-AUC analysis to determine the optimal detection threshold. The second module utilizes Transformer-based architecture to predict leak locations from segmented leak-event data. The dataset consists of pressure, flow rate, temperature, and leak-rate measurements collected from a controlled pipeline experimental setup equipped with multiple sensors and leak valves. Data preprocessing includes cleaning, missing-value handling, normalization, feature selection, and event segmentation. Hyperparameter tuning is performed using Optuna with a Tree-structured Parzen Estimator (TPE) sampler and Median Pruner strategy to improve model performance. The results demonstrate that the USAD model is capable of effectively detecting leak events in both singleleak and dual-leak scenarios, achieving high classification performance with strong sensitivity to abnormal operating conditions while maintaining low false-alarm rates. Furthermore, the Transformer model provides accurate leak localization results in the single-leak case, with low prediction errors and satisfactory regression metrics. However, localization performance decreases in the dual-leak case due to the complex interaction between multiple leak points and the similarity of pressure-drop patterns generated by different leak combinations. Comparative analysis indicates that leak multiplicity has a more significant impact on localization accuracy than on detection capability. The novelty of this study lies in the integration of an unsupervised anomaly detection model (USAD) with a Transformer-based localization framework for comparative evaluation under both single- and dual-leak conditions. Unlike previous studies that primarily focus on single-leak detection or localization separately, this study proposes a unified deep learning workflow capable of handling leak detection and localization simultaneously while assessing the influence of leak multiplicity on model performance. The findings provide valuable insights for developing intelligent real-time pipeline monitoring systems that enhance operational safety, environmental protection, and pipeline integrity management.
PERAMALAN DEBIT SUNGAI BERBASIS MODEL LSTM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR AKTIVITAS MANUSIA
Prediksi debit aliran sungai yang akurat sangat krusial bagi sistem peringatan dini banjir dan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan. Penelitian ini menyajikan sebuah pendekatan baru dalam memprediksi debit sungai dengan mengintegrasikan faktor aktivitas manusia di samping variabel hidrometeorologi ke dalam kerangka kerja deep learning melalui arsitektur model LSTM. Variabel hidrometeorologi berupa curah hujan dan debit sungai diperoleh melalui stasiun pengamatan sedangkan variabel temperatur dan faktor aktivitas manusia diekstraksi melalui platform Google Earth Engine. Faktor aktivitas manusia tersebut direpresentasikan melalui indeks spektral satelit multi-temporal selama 11 tahun (2015–2025), yang meliputi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan Nighttime Lights (NTL). Dengan menyertakan proksi aktivitas manusia ini, model yang dibangun bertujuan untuk menangkap hubungan kompleks antara transformasi tata guna lahan dan dinamika debit sungai. Model LSTM ini dipilih karena kemampuannya yang unggul dalam menangkap dependensi jangka panjang dan memproses input multivariat yang kompleks. Penelitian ini berfokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sebuah wilayah yang rawan terhadap peristiwa banjir. Penelitian ini membangun 3 model yang memiliki perbedaan pada input fitur dengan arsitektur dan hyperparameter model yang sama. Evaluasi performa model dilaksanakan melalui skema 5-fold time series split dan five-time running pada fold terakhir menggunakan metrik evaluasi RMSE, MAE, dan NSE, yang sering kali digunakan dalam pemodelan hidrologi. Selain itu, penelitian ini melakukan permutation feature importance di setiap model untuk mengetahui kontribusi tiap variabel input di dalam model. Temuan utama dari penelitian ini ialah pemilihan variabel aktivitas manusia secara selektif, khususnya indeks lahan terbangun (NDBI), mampu memberikan kontribusi yang moderat bagi performa model dibandingkan model yang hanya menggunakan variabel hidrometeorologi sebagai variabel input. Hal tersebut ditunjukkan melalui peningkatan metrik evaluasi NSE sebesar 7,42% dan penurunan RMSE sebesar 1,78%.
EVALUASI HINDCAST VARIABEL HIDROMETEOROLOGI MENGGUNAKAN MODEL WRF DENGAN KOPLING HIDROLOGI SATU ARAH DAN DUA ARAH DI CEKUNGAN BANDUNG
Penelitian ini mengevaluasi performa simulasi hindcast model WRF dan WRF/WRF-Hydro dalam merepresentasikan hujan ekstrem di Cekungan Bandung. Evaluasi dilakukan pada empat kasus tahun 2025 yang mewakili musim MAM, JJA, SON, dan DJF. Curah hujan digunakan sebagai variabel utama, sedangkan kelembapan tanah dan debit sungai digunakan sebagai variabel pendukung untuk menilai pengaruh representasi hidrologi permukaan dan musim meteorologis terhadap akurasi simulasi. Model WRF dijalankan pada tiga domain bersarang beresolusi 9 km, 3 km, dan 1 km, sementara WRF-Hydro menggunakan routing hidrologi 100 m. Evaluasi dilakukan terhadap data stasiun BBWS Citarum, GPM IMERG, GLEAM, dan debit hasil konversi tinggi muka air di Dayeuhkolot menggunakan metrik PBIAS, RMSE, CC, NSE, serta added value. Sebagai pelengkap, dilakukan eksperimen sensitivitas kelembapan tanah awal pada kasus Maret untuk menelusuri pengaruh kelembapan tanah terhadap hujan. Hasil menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro memberikan nilai tambah pada skala lokal dan evaluasi berbasis stasiun. Pada evaluasi spasial terhadap GPM, WRF masih lebih baik secara rata-rata domain. Analisis kelembapan tanah menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro menghasilkan pola spasial yang lebih detail karena adanya routing, redistribusi lateral air, dan re-infiltrasi. Namun, peningkatan kelembapan tanah tidak selalu langsung diikuti peningkatan akurasi hujan maupun debit. Eksperimen sensitivitas pada kasus Maret menunjukkan bahwa curah hujan responsif terhadap variasi kelembapan tanah awal, dengan perturbasi ±25% mengubah akumulasi hujan hingga +28,6% pada skenario basah dan -23,8% pada skenario kering di wilayah utara. Untuk debit sungai, WRF-Hydro menunjukkan performa lebih baik dibandingkan fully coupled. Secara keseluruhan, WRF/WRF Hydro memberikan nilai tambah lokal pada hujan dan lebih representatif untuk kelembapan tanah, sedangkan WRF-Hydro lebih andal untuk debit.
PERANCANGAN KENDALI INVERTER 1 FASA TERHUBUNG KE JARINGAN UNTUK APLIKASI MICROINVERTER
Kebutuhan energi yang terus meningkat sejak Revolusi Industri kedua telah mendorong ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil, yang berdampak signifikan terhadap lingkungan. Pada tahun 2022, sekitar 56% emisi karbon di Asia berasal dari pembakaran energi fosil. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 207.898 MWp, namun pemanfaatannya masih sangat rendah yaitu sekitar 0,07%, sementara lebih dari 80% kapasitas pembangkitan listrik nasional masih ditopang oleh energi fosil melalui jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap skala rumah tangga menjadi salah satu solusi potensial untuk mendukung transisi menuju energi bersih. Namun, integrasi sistem PLTS dengan jaringan listrik memerlukan sistem inverter yang mampu menjaga sinkronisasi tegangan, frekuensi, dan fasa dengan standar jaringan listrik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis sistem kendali inverter grid-tied satu fasa dalam mikroinverter untuk aplikasi PLTS skala rumah tangga. Sistem yang dirancang menggunakan konfigurasi dua tahap yang terdiri dari konverter DC–DC tipe boost dan inverter jembatan penuh satu fasa dengan tegangan keluaran 220 Vac, 50 Hz. Sinkronisasi dengan jaringan dilakukan menggunakan Orthogonal Signal Generator berbasis metode T/4 delay yang dipadukan dengan Synchronous Reference Frame Phase-Locked Loop (SRF-PLL). Pengaturan daya aktif dilakukan menggunakan DQ Synchronous Current Controller berbasis Proportional-Integral (PI) Controller, sementara pada sisi konverter boost digunakan Hysteresis Current Controller untuk mengatur arus PV serta menjaga stabilitas tegangan DC-link. Operasi daya maksimum dicapai menggunakan pendekatan berbasis lookup table yang menghasilkan referensi daya dan pembatas arus PV berdasarkan kondisi iradiansi.Performa sistem diuji melalui simulasi pada MATLAB/Simulink menggunakan tiga skenario iradiansi, yaitu iradiansi konstan, iradiansi berubah bertingkat, dan profil iradiansi harian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem mampu mempertahankan sinkronisasi dengan jaringan pada frekuensi 50 Hz, menjaga stabilitas tegangan DC-link, serta menginjeksikan daya aktif ke jaringan dengan baik. Daya yang dikirim mengikuti daya referensi dengan galat kecil pada kondisi iradiansi menengah hingga tinggi, menunjukkan bahwa sistem kendali yang dirancang mampu mendukung operasi PLTS atap skala rumah tangga secara stabil dan efektif.
KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI SADIA DI KOTA BIMA, NUSA TENGGARA BARAT
Kota Bima merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan banjir relatif tinggi dan secara konsisten mengalami kejadian banjir hampir setiap tahun. Salah satu peristiwa banjir terbesar terjadi pada tahun 2016 dan dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena menimbulkan dampak luas, antara lain kerusakan infrastruktur, genangan pada kawasan permukiman, serta gangguan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengendalian banjir yang ada belum sepenuhnya mampu mereduksi risiko banjir secara optimal. Salah satu faktor utama penyebab terjadinya banjir di wilayah ini adalah keterbatasan kapasitas Sungai Sadia dalam menampung debit aliran yang berasal dari hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Sadia, sehingga limpasan air meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya, terutama pada saat terjadi hujan dengan intensitas dan durasi tinggi. Sebagai upaya penanggulangan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I (BBWS NT I) melaksanakan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai Sadia sepanjang ±4,57 km serta pembangunan revetment pada beberapa segmen sungai yang dinilai rawan terhadap erosi dan limpasan. Namun demikian, efektivitas dari upaya penanganan tersebut dalam mengurangi potensi banjir dan dampaknya terhadap perubahan morfologi dasar sungai masih perlu dievaluasi secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja penanganan struktural yang telah dilakukan dalam mereduksi luas dan kedalaman genangan banjir, serta menganalisis pengaruhnya terhadap proses transpor sedimen dan perubahan morfologi dasar Sungai Sadia. Kajian dilakukan pada segmen Sungai Sadia sepanjang 4,5 km. Analisis hidrologi diawali dengan kajian karakteristik daerah aliran sungai (DAS) untuk menentukan debit masukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Data curah hujan yang digunakan bersumber dari satelit Global Precipitation Measurement (GPM) selama periode 24 tahun (2001–2024), yang selanjutnya dikalibrasi dan diuji korelasinya terhadap data curah hujan dari pos pencatatan hujan (PCH) guna meningkatkan keandalan hasil analisis. Penentuan debit banjir rencana dilakukan untuk kala ulang 25 tahun (Q25) melalui pemodelan HEC-HMS, yang dikalibrasi terhadap debit bankfull sungai sehingga metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling merepresentasikan kondisi hidrologi Sungai Sadia. Analisis hidraulika dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak HEC-RAS satu dimensi (1D) untuk memperoleh profil muka air sepanjang alur sungai serta HEC-RAS dua dimensi (2D) untuk memetakan sebaran genangan banjir secara spasial. Pemodelan hidraulika disimulasikan dalam tiga skenario, yaitu kondisi eksisting tanpa penanganan, kondisi pasca-penanganan berupa normalisasi sungai dan pembangunan revetment, serta skenario alternatif dengan penambahan struktur pengendali berupa tanggul dan parapet. Selain itu, dilakukan analisis transpor sedimen untuk mengevaluasi perubahan pola sedimentasi dan erosi dasar sungai sebagai dampak dari normalisasi serta alternatif penanganan tambahan berupa pembangunan check dam. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Sungai Sadia belum mampu menampung debit banjir rencana Q25 sebesar 167 m³/det. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya limpasan di beberapa segmen tinjauan dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,1 hingga 4,0 m dan luas genangan mencapai 89,87 ha. Penanganan berupa normalisasi sungai mampu mengurangi luas genangan banjir, namun tingkat efektivitasnya masih terbatas dengan persentase reduksi sebesar 40,74%. Sementara itu, skenario alternatif dengan penambahan tanggul dan parapet menunjukkan kinerja yang jauh lebih efektif, dengan kemampuan mereduksi luas genangan hingga 96,27%. Hasil analisis transpor sedimen menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting terjadi kecenderungan agradasi, dengan volume sedimen terdeposisi sebesar 3.283,06 m³/tahun dan volume erosi dasar sungai sebesar 2.782,89 m³/tahun. Setelah dilakukan normalisasi sungai, laju sedimentasi meningkat menjadi 3.345,97 m³/tahun, atau mengalami kenaikan sebesar 1,91%, sementara volume erosi dasar sungai menurun menjadi 2.491,84 m³/tahun, atau berkurang sebesar 10,45%. Selanjutnya, penerapan skenario alternatif berupa penambahan bangunan check dam mampu menurunkan laju sedimentasi menjadi 3.285,64 m³/tahun dibandingkan kondisi pascanormalisasi, serta mengurangi volume erosi dasar sungai menjadi 2.454,13 m³/tahun. Penurunan laju sedimentasi yang relatif kecil tersebut diduga dipengaruhi oleh lokasi check dam yang berada sekitar 1,6 km dari bagian hulu sungai, sehingga efektivitasnya dalam menahan suplai sedimen dari daerah hulu belum optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan struktural di Sungai Sadia efektif dalam menurunkan risiko banjir, terutama melalui penerapan skenario alternatif tambahan. Namun demikian, permasalahan sedimentasi belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan DAS yang terintegrasi melalui kombinasi penanganan struktural dan non-struktural, seperti konservasi tanah dan air, reboisasi, serta rehabilitasi vegetasi di wilayah hulu. Sinergi antarinstansi di tingkat pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian banjir dan pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan
STUDI PENDAHULUAN UNTUK INVENTARISASI POTENSI UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN DI PULAU BELITUNG, PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG
Unsur tanah jarang (UTJ), dapat dijumpai pada berbagai jenis endapan, merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang perkembangan teknologi di permukaan bumi ini. Mineral yang mengandung unsur tanah jarang terdapat sebagai mineral ikutan pada komoditas utama, salah satunya timah aluvial, yang mempunyai peluang untuk diusahakan sebagai produk sampingan yang dapat memberikan nilai tambah dari seluruh potensi bahan galian. Namun, masih sedikit penelitian yang membahas mengenai inventarisasi potensi unsur tanah jarang pada endapan plaser di Indonesia, terutama di Pulau Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mendata sebaran potensi unsur tanah jarang yang berasal dari endapan plaser di Pulau Belitung serta menentukan strategi eksplorasi yang akan dilakukan terhadap potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung agar dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik. Pengambilan sampel dilakukan pada 34 titik sampel yang direduksi menjadi 20 titik sampel representatif mengikuti aliran sungai purba di Pulau Belitung. Sampel dianalisis menggunakan metode perhitungan butir yang bertujuan untuk mendapatkan persentase berat mineral dan metode Inductively Coupled Plasma – Mass Spectrometry (ICP–MS) yang bertujuan untuk mendapatkan kadar unsur tanah jarang. Berdasarkan analisis ICP– MS, diperoleh potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung lebih terkayakan pada unsur tanah jarang ringan pada endapan plaser dibandingkan pada endapan primer. Analisis mineral butir menunjukkan sebaran potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung berada pada daerah Kecamatan Sijuk (arah baratlaut Pulau Belitung), Kecamatan Kalapa Kampit meluas kearah Kecamatan Damar hingga Kecamatan Gantung bagian atas (arah timurlaut ke arah timur Pulau Belitung), dan Kecamatan Membalong bagian bawah (arah baratdaya Pulau Belitung).
PERANCANGAN SALURAN TERBUKA DENGAN OPTIMALISASI ALIRAN AIR TAMBANG DI TIMBUNAN SELATAN SJS PIT 3 BANKO TENGAH BLOK B PT. BUKIT ASAM, TBK.
PT Bukit Asam Tbk adalah perusahaan tambang batubara terbuka di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang mengoperasikan Pit 3 di wilayah IUP Banko Barat dan Banko Tengah B. Intensitas kegiatan penambangan di area Pit 3 menuntut optimalisasi sistem drainase untuk mengantisipasi permasalahan limpasan air hujan dari Timbunan Selatan SJS yang masuk ke Pit 3 dan mengganggu produksi. Penelitian ini merancang saluran terbuka berbasis evaluasi hidrologi untuk mengalirkan limpasan air hujan menuju Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) secara efisien. Perencanaan ini dimulai dengan analisa data hujan selama periode Januari 2000 hingga Juni 2025 menggunakan distribusi Log Pearson Tipe III sehingga didapatkan curah hujan rencana sebesar 149,72 mm dan intensitas hujan rencana sebesar 26,77 mm/jam untuk periode ulang 10 tahun. Debit limpasan yang mengalir menuju Pit 3 dari Timbunan Selatan SJS dengan daerah tangkapan hujan seluas 6,48 km2 adalah sebesar 33,79 m3/s. Proses recontouring topografi dilakukan agar limpasan air terekayasa tidak masuk ke dalam Pit 3. Saluran berbentuk trapesium dirancang dalam dua tipe dimensi (3×9×3 m dan 2×7×2m) dengan kemiringan 1,04% menuju KPL BTB 02 dan 1,52% menuju KPL BB 08 serta tetap mempertahankan aliran dalam bentuk subcritial flow. Hasil perancangan menunjukkan efektivitas dalam menurunkan debit limpasan sebesar 34,8% dan mempercepat proses dewatering hingga 18,6% dari kondisi aktual dengan kebutuhan volume galian mencapai 384.300 BCM untuk merealisasikan rancangan saluran terbuka ini.
DESAIN INTAKE DAN SALURAN PENGARAH UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO BENDUNGAN MBAY(LAMBO), KABUPATEN NAGEKEO PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Bendungan Mbay (Lambo) di Kabupaten Nagekeo memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala minihidro guna mendukung transisi energi di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini merancang sistem intake dan saluran pengarah (headrace dan penstock) melalui analisis hidrologi, simulasi operasi waduk, serta perhitungan hidrolika untuk meminimalkan kehilangan energi. Hasil desain menunjukkan debit andalan sebesar 6,22 m³/detik, dengan tinggi jatuh bersih (net head) 38,46 m, sehingga diperoleh daya bangkitan sekitar 1,8 MW. Sistem intake dan penstock yang direncanakan mampu menyalurkan debit rencana secara efisien dengan kehilangan energi minimal. Selain itu, Rancangan Anggaran Biaya (RAB) menunjukkan kebutuhan biaya konstruksi sebesar Rp17,67 miliar, meliputi pekerjaan sipil dan instalasi hidromekanikal. Desain ini dinilai layak baik dari sisi teknis maupun estimasi biaya, sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan PLTA Bendungan Mbay.
PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA PADA PROYEK KONSTRUKSI JAKARTA SEWERAGE SYSTEM (JSS) DI PT ADHI KARYA
Proyek Jakarta Sewerage System (JSS) merupakan program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas sanitasi dan mengurangi pencemaran air di Jakarta. Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan proyek ini adalah perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang belum optimal, sehingga menghambat efisiensi waktu dan biaya konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan SDM pada proyek JSS Zona 1 Paket 6 di PT Adhi Karya serta menyusun strategi perencanaan yang efektif dalam mendukung percepatan proyek. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif-deskriptif melalui wawancara dengan pihak manajemen proyek serta analisis dokumen teknis seperti Bill of Quantity (BoQ) dan Analisis Harga Satuan (AHS). Data yang diperoleh diolah menggunakan Microsoft Project dan metode kalkulator HR dengan mempertimbangkan beban kerja, produktivitas, serta biaya tenaga kerja. Analisis mencakup perhitungan kebutuhan SDM, estimasi biaya, serta simulasi skenario percepatan menggunakan overtime, fast tracking, dan crashing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan proyek lebih banyak disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja dibanding faktor teknis. Perhitungan kebutuhan SDM mengindikasikan tambahan pekerja sebanyak 619 orang dengan biaya Rp19,77 miliar. Skenario lembur dapat menghemat ±4.668 hari namun menimbulkan biaya tinggi, sedangkan fast tracking memberikan penghematan ±2.252 hari dengan biaya relatif lebih murah. Kombinasi strategi crashing menghasilkan potensi percepatan hingga ±5.349 hari dengan dominasi pendekatan fast tracking sebagai opsi paling efisien. Kesimpulannya, perencanaan SDM yang sistematis dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proyek JSS. Strategi percepatan yang direkomendasikan adalah memprioritaskan fast tracking berbiaya rendah, menambahkan tenaga kerja pada aktivitas kritis, serta menggunakan lembur secara selektif. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ketepatan jadwal proyek, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan sistem pengelolaan air limbah di Jakarta.
ANALISIS POLA CURAH HUJAN KLASTER STASIUN DI BOGOR MENGGUNAKAN ANALISIS DATA TOPOLOGI
Penelitian ini menerapkan Topological Data Analysis (TDA) untuk mengeksplorasi pola struktural dalam data curah hujan harian yang dikumpulkan dari enam stasiun meteorologi di Bogor, Indonesia, selama periode 2010 hingga 2020. Dengan menggunakan Takens' embedding, setiap deret waktu curah hujan ditransformasikan menjadi point cloud dalam ?3. Penulis berfokus pada fitur homologi satu dimensi, yang merepresentasikan lingkaran (loops) dan mengekstraksi beberapa fitur: jangka hidup maksimum (????1???????????? ), rata-rata jangka hidup (?????1), ????????-norm dari persistence landscape (PL), dan banyaknya pasangan lahir-mati (????????). Fitur-fitur ini digunakan untuk menghitung matriks ketidaksamaan dan melakukan agglomerative hierarchical clustering (AHC). Hasil menunjukkan bahwa klasterisasi berbasis ???????? norm memberikan pengelompokan stasiun yang stabil dan bermakna, terutama bagi stasiun-stasiun dengan dinamika curah hujan yang serupa, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi kophenetik (CCC = 0,973) yang lebih tinggi. Sementara itu, ???????? mampu menyoroti pengelompokan geografis antar stasiun. Penulis membandingkan hasil ini dengan pendekatan berbasis jarak Dynamic Time Warping (DTW), yang merupakan metode populer untuk membandingkan deret waktu sebagai alat validasi performa klaster. Studi ini menunjukkan kemampuan TDA dalam menangkap dan mengukur struktur temporal dari data curah hujan, serta menghadirkan pendekatan yang menjanjikan untuk analisis komparatif deret waktu hidrologi.
ANALYSIS AND OPTIMIZATION OF PROPELLER APPLIED IN VESSEL MT RATU RENGGANIS
Desain propeller menentukan efisiensi propulsi, beban mesin, dan konsumsi bahan bakar kapal. Di banyak galangan domestik, termasuk PT Barokah Galangan Perkasa (BGP), pemilihan propeller sering didasarkan pada pengalaman, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara daya mesin dan kebutuhan propeller. Penelitian ini mengkaji kasus tersebut pada MT Ratu Rengganis, kapal tanker 8000 DWT milik PT Armada Samudra Global (ASG), melalui evaluasi ulang kinerja dan optimasi propeller tanpa mengganti mesin. Tahanan kapal dihitung dengan metode Holtrop dan Mennen, daya terpasang diestimasi sesuai panduan ITTC, dan kinerja propeller dianalisis menggunakan diagram Wageningen B-series B4-85. Tiga konfigurasi diuji: propeller diameter 2.15 m (gearbox ratio 6.00), propeller eksisting diameter 2.50 m (gearbox ratio 7.17), dan propeller optimal diameter 3.00 m (gearbox ratio 10.40), seluruhnya dengan pitch-diameter 0.901, expanded area ratio 0,75, dan jumlah daun propeller 4. Hasil menunjukkan propeller 2.15 m melebihi batas daya mesin, 2.50 m memiliki margin daya terbatas pada pengoperasian, sedangkan 3.00 m menurunkan daya terpasang dari 1.341 kW menjadi 1239 kW, meningkatkan efisiensi open-water dari 54% menjadi 60%, dan mengurangi konsumsi bahan bakar. Dengan bahan bakar B35 (SFC 211 g/kWh, densitas 0.85 kg/L, harga IDR 21000/L), penghematan mencapai ±26 L/jam atau IDR 65,5 juta per pelayaran lima hari, setara lebih dari IDR 1,5 miliar per tahun. Optimasi propeller terbukti memberikan manfaat teknis dan ekonomis signifikan bagi perencanaan kinerja kapal.
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE KAWASAN PERKOTAAN NEW TOWNSITE AREA, KABUPATEN SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Seiring dengan berjalannya urbanisasi di Indonesia yang semakin meningkat, semakin berkurang pula ketersediaan lahan hijau. Maka dari itu, pentingnya perencanaan sistem drainase untuk mengatur limpasan air akibat hujan. Penyusunan Tugas Akhir ini bertujuan merencanakan desain drainase pada pembangunan kawasan perkotaan New Townsite Area yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Metodologi yang digunakan dalam perencanaan ini yaitu analisis hidrologi, analisis hidraulika, dan rencana anggaran biaya. Analisis hidrologi menghasilkan curah hujan rencana dalam periode ulang tertentu. Curah hujan yang digunakan dalam perencanaan ini yaitu periode ulang selama lima tahun metode gumbel dengan total curah hujannya selama enam jam sebesar 275,520 mm. Analisis hidraulika langsung menggunakan SWMM dengan langsung memasukkan data curah hujan periode ulang selama lima tahun yang telah diperoleh dari analisis hidraulika. Desain drainase rencana yang dihasilkan yaitu berupa saluran beton bertulang cetak U-Ditch dengan dimensi yaitu [0,3 x 0,3 x1,2]m, [0,4 x 0,4 x 1,2]m, [0,5x 0,5 x 1,2]m, [0,6 x 0,6 x 1,2]m [0,7x 0,7 x 1,2]m [0,8 x 0,8 x 1,2]m, [1,0 x 1,0 x 1,2]m dan [1,2 x 1,2 x 1,2]m. Terdapat gorong-gorong dan bangunan terjun bertangga pada perencanaan drainase ini. Perencanaan drainase ini membutuhkan biaya sebesar Rp7.987.233.550.
DESAIN SISTEM DRAINASE DI PT. PERTAMINA PATRA NIAGA BANJARMASIN
PT Pertamina Patra Niaga Terminal BBM Banjarmasin merupakan fasilitas strategis yang berperan penting dalam distribusi energi di wilayah Kalimantan Selatan. Namun, lokasi yang berada di kawasan rendah dekat Sungai Barito menyebabkan kawasan ini rentan terhadap genangan akibat sistem drainase yang belum optimal menyalurkan limpasan hujan, terutama pada periode ulang tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pengendalian banjir yang efektif dengan mengevaluasi kondisi eksisting serta melakukan perencanaan ulang saluran drainase menggunakan pendekatan hidrologi dan hidraulik. Analisis hidrologi menggunakan data hujan maksimum tahunan 10 tahun dengan distribusi Gumbel untuk menentukan hujan rencana, intensitas dihitung dengan metode Mononobe, dan debit rencana ditentukan menggunakan metode Rasional. Pemodelan hidraulik dilakukan menggunakan perangkat lunak EPA SWMM 5.2. Hasil simulasi menunjukkan sistem drainase hasil perencanaan memiliki flooding loss sebesar 0, yang menandakan desain mampu mengalirkan debit puncak tanpa menimbulkan banjir. Estimasi biaya pembangunan sistem drainase mencapai Rp 926.194.697,03. Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan teknis pengembangan sistem drainase kawasan industri yang andal, efisien, dan mendukung keberlanjutan operasional.
KAJIAN EFEKTIVITAS PEMBANGUNAN TANGGUL KALI BEKASI DAN KERUGIAN EKONOMI PADA BANJIR DI KECAMATAN BABELAN, KABUPATEN BEKASI
Kecamatan Babelan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bekasi yang sedang berkembang dalam sektor industri dan properti. Namun, terdapat berbagai macam permasalahan yang salah satunya adalah banjir yang diakibatkan oleh meluapnya Kali Bekasi. Tinggi banjir yang terjadi berkisar antara 20-100 cm. Banjir tersebut sering kali menghambat aktivitas masyarakat setempat dan dapat menyebabkan kerugian fisik dan ekonomi. Salah satu cara yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah pembangunan tanggul pada Kali Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pembangunan tanggul dalam menampung debit banjir yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis spasial, analisis hidrologi, dan analisis hidraulika untuk menilai kapasitas tanggul dalam menahan debit banjir. Selain itu dilakukan juga analisis ekonomi dengan Metode ECLAC untuk mengestimasi kerugian ekonomi yang timbul akibat bencana banjir. Data yang digunakan diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan, serta wawancara dengan masyarakat terdampak. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir puncak pada bulan Maret 2025 sebesar 261 m³/s. Sementara itu, hasil perhitungan debit periode ulang berada pada rentang 174 m3/s untuk Q1.1 dan terus meningkat hingga 657 m³/detik untuk Q50. Di Kecamatan Babelan, banjir yang terjadi didominasi pada wilayah pertanian dengan luas banjir pada bulan Maret 2025 adalah 970 ha. Sedangkan luasan banjir yang terjadi akibat debit banjir Q1.1 adalah 513 ha dan terus meningkat hingga 3.013 ha akibat debit banjir Q50. Estimasi kerugian ekonomi yang timbul akibat banjir pada bulan Maret 2025 adalah sebesar 224 miliar rupiah. Sedangkan kerugian akibat debit banjir Q1.1 adalah 110 miliar rupiah dan terus meningkat hingga 620 miliar rupiah akibat debit banjir Q50. Desain normalisasi dan pembangunan tanggul Kali Bekasi yang telah dibuat efektif 100% menampung debit banjir bulan Maret 2025 serta mampu menampung debit banjir hingga 700 m³/s yang merupakan periode ulang 70 tahunan. Hasil analisis Benefit Cost Ratio (BCR) menunjukkan bahwa semakin awal proyek dilaksanakan, semakin cepat rata-rata nilai BCR > 1 tercapai, sehingga manfaat ekonomi dapat segera dirasakan dan kerugian akibat banjir dapat diminimalkan.
PERENCANAAN BANGUNAN PELIMPAH (SPILLWAY) PADA BENDUNGAN BUDONG-BUDONG KABUPATEN MAMUJU TENGAH
Bendungan Budong-Budong terletak di Sungai Lebo, Desa Salulebo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Bendungan Budong-Budong berfungsi untuk melimpaskan kelebihan air pada waduk agar tidak melebihi kapasitas tampungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada bendungan. Perencanaan bangunan pelimpah meliputi analisis hidrologi, perencanaan desain hidrolik, stabilitas, dan analisis struktur. Bangunan pelimpah direncanakan dengan tipe pelimpah samping dan mercu tipe Ogee. Bangunan pelimpah dilengkapi dengan saluran samping, saluran transisi, saluran peluncur, dan kolam olak. Perencanaan bangunan pelimpah didasari oleh curah hujan Probable Maximum Precipitation (PMP) yang akan diolah menjadi debit banjir Probable Maximum Flood (PMF). Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) yang digunakan adalah Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) metode ITB-1b. Penelusuran banjir dilakukan dengan menggunakan aplikasi HEC-HMS 4.11. Dari hasil analisis hidrologi didapatkan debit banjir rencana inflow QPMF yaitu 1925.3 m3/s dan outflow QPMF yaitu 1572.5 m3/s. Melalui hasil analisis hidrolika, didapatkan lebar pelimpah sebesar 70 m dengan tinggi muka air diatas mercu 4.8 m. Analisis stabilitas bangunan pelimpah dilakukan terhadap guling dan geser yang dapat dinyatakan bahwa bangunan pelimpah Bendungan Budong-Budong memenuhi faktor kemanan. Analisis struktur dirancang sesuai dengan SNI 2847:2019.