📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

KAJIAN STRATEGI TRANSPORT DEMAND MANAGEMENT BERDASARKAN AKSESIBILITAS DAN PREFERENSI PERJALANAN COMMUTER DALAM PENGGUNAAN BUS RAPID TRANSIT DI DAERAH KHUSUS JAKARTA

Daerah Khusus Jakarta menghadapi permasalahan transportasi perkotaan berupa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas, serta rendahnya proporsi perjalanan menggunakan angkutan umum. Meskipun Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta telah berkembang menjadi sistem angkutan umum berbasis jalan terbesar di Indonesia, efektivitasnya dalam mendorong peralihan moda masih dipengaruhi oleh tingkat aksesibilitas layanan dan preferensi perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Transport Demand Management (TDM) berdasarkan aksesibilitas dan preferensi perjalanan commuter dalam penggunaan BRT di Daerah Khusus Jakarta. Secara khusus, penelitian ini menganalisis konektivitas jaringan jalan, aksesibilitas halte BRT dan feeder terhadap asal–tujuan perjalanan, preferensi perjalanan pengguna BRT, serta merumuskan strategi TDM yang dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum berbasis jalan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik. Data diperoleh melalui survei terhadap 410 responden commuter di Daerah Khusus Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode Space Syntax untuk mengidentifikasi tingkat konektivitas dan integrasi jaringan jalan, metode Isochrone dan Service Area untuk mengevaluasi aksesibilitas halte BRT dan feeder, serta Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi perjalanan. Selanjutnya, strategi TDM disusun menggunakan analisis SWOT yang didukung matriks IFAS, EFAS, dan TOWS. Hasil analisis Space Syntax menunjukkan bahwa sebagian besar koridor BRT Transjakarta berada pada ruas jalan dengan tingkat konektivitas dan integrasi yang tinggi, khususnya pada kawasan Jakarta Pusat, sehingga berperan penting dalam struktur jaringan transportasi perkotaan. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa sebagian besar asal dan tujuan perjalanan masyarakat telah terjangkau oleh halte BRT melalui akses berjalan kaki maupun layanan feeder. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan aksesibilitas pada beberapa wilayah pinggiran Jakarta yang memiliki jangkauan pelayanan lebih rendah dan tingkat ketergantungan yang lebihiv tinggi terhadap kendaraan pribadi. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 11,22% responden yang menggunakan feeder menuju halte, sedangkan 47,56% responden masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai halte BRT. Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa Facilitating Condition berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,352; p = 0,001) serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Disruption Response Perception (? = -0,262; p = 0,013). Information Perception berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,291; p = 0,001), Disruption Response Perception (? = 0,295; p = 0,003), dan Usage Behaviour (? = 0,246; p = 0,008). Selain itu, Performance Expectancy (? = -0,204; p = 0,006), Effort Expectancy (? = 0,173; p = 0,033), dan Perceived Value of Time (? = -0,151; p = 0,028) terbukti berpengaruh signifikan terhadap Anxiety pengguna. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan variasi konstruk Usage Behaviour sebesar 59,7%, Attitude sebesar 54,5%, Anxiety sebesar 50,9%, Future Transit Use sebesar 49,6%, dan Disruption Response Perception sebesar 44,6%. Berdasarkan hasil analisis aksesibilitas dan preferensi perjalanan, strategi TDM yang direkomendasikan meliputi peningkatan konektivitas first-mile dan last-mile menuju halte BRT, penguatan integrasi layanan feeder, penyediaan informasi perjalanan secara real-time, peningkatan keandalan dan kenyamanan layanan, serta penerapan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi yang terintegrasi dengan pengembangan angkutan umum. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan BRT Transjakarta, mendorong peralihan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mendukung terwujudnya sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan di Daerah Khusus Jakarta.

2026
👤 Penulis: Khana Unsa Wibowo
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Jaringan

PENGEMBANGAN ORKESTRASI MULTI-AGENT AI BERBASIS LLM LOKAL UNTUK KONFIGURASI DAN ANALISIS JARINGAN SKALA MENENGAH

Penelitian ini membahas pengembangan orkestrasi multi-agent Artificial Intelligence (AI) berbasis Large Language Model (LLM) lokal untuk mendukung konfigurasi dan analisis jaringan skala menengah. Kompleksitas jaringan modern, tingginya volume telemetri, serta keberadaan perangkat multi-vendor menyebabkan pengelolaan jaringan secara manual menjadi tidak efisien, rawan human error, dan membutuhkan waktu penanganan yang lama. Penelitian ini berfokus pada pengembangan subsistem Backend-AI yang mampu membantu proses analisis jaringan dan otomatisasi konfigurasi menggunakan antarmuka bahasa alami tanpa ketergantungan terhadap layanan cloud eksternal. Sistem dikembangkan menggunakan pendekatan agentic AI berbasis multi-agent yang terdiri atas engineer agent, analyst agent, dan verifier agent. Engineer agent bertugas menghasilkan konfigurasi perangkat jaringan berdasarkan instruksi pengguna, analyst agent melakukan pemantauan telemetri jaringan untuk mendeteksi anomali dan memberikan rekomendasi perbaikan, sedangkan verifier agent bertugas memvalidasi keseluruhan rencana konfigurasi dan hasil analisis. Backend-AI dibangun menggunakan model LLM lokal yang dijalankan melalui Ollama serta dipadukan dengan Retrieval-Augmented Generation (RAG) menggunakan ChromaDB untuk memperkaya konteks inferensi dan mengurangi hallucination pada model. Penelitian ini juga mengintegrasikan Model Context Protocol (MCP) sebagai middleware untuk menghubungkan sistem AI dengan perangkat jaringan melalui protokol SSH, serial, dan telnet. Pengujian dilakukan pada berbagai skenario konfigurasi jaringan, seperti OSPF, DHCP, VLAN, Etherchannel. Pengujian juga dilakukan pada berbagai skenario analisis lalu lintas jaringan seperi link down, native VLAN mismatch, dan DHCP pool exhaustion menggunakan simulator jaringan GNS3. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan konfigurasi jaringan dengan tingkat keberhasilan di atas 90% serta memberikan analisis anomali jaringan dengan tingkat akurasi di atas 4.50/5.00 menggunakan sumber daya lokal tanpa koneksi internet. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi agentic AI, RAG, dan MCP dalam sebuah orkestrasi multi-agent berbasis LLM lokal untuk kebutuhan otomasi jaringan multi-vendor. Sistem yang dikembangkan tidak hanya mampu memberikan rekomendasi, tetapi juga mendukung analisis dan eksekusi konfigurasi secara terintegrasi pada lingkungan jaringan nyata maupun simulasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan otomasi jaringan cerdas yang lebih efisien, aman, dan adaptif pada lingkungan jaringan skala menengah.

2026
👤 Penulis: Achmad Shafwan Zuhair
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Jaringan

ANALISIS KONDISI AKSESIBILITAS FISIK SMA NEGERI DI KOTA BOGOR MENGGUNAKAN ANALISIS JARINGAN

Perwujudan akses yang adil terhadap pendidikan dapat dilakukan melalui pemenuhan tiga dimensi aksesibilitas pendidikan, salah satunya adalah aksesibilitas fisik. Upaya pemerintah mewujudkan aksesibilitas fisik salah satunya adalah kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi dengan mekanisme seleksi berupa kedekatan jarak tempat tinggal siswa dengan sekolah. Namun, pelaksanaannya masih bermasalah akibat ketimpangan antara kapasitas dan persebaran sekolah dengan kebutuhan calon siswa baru hingga muncul praktik kecurangan seperti rekayasa data terkait domisili dan koordinat tempat tinggal seperti yang terjadi pada PPDB jalur zonasi di Kota Bogor, terutama pada jenjang SMA. Kecurangan yang terjadi pada PPDB SMA jalur zonasi di Kota Bogor menunjukkan indikasi permasalahan spasial sebagai penyebab kecurangan yang berkaitan dengan aksesibilitas fisik sehingga diperlukan kajian mengenai kondisi aksesibilitas fisik SMA negeri di Kota Bogor karena berkaitan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geospasial (SIG). Fungsi SIG yang sesuai untuk digunakan adalah analisis jaringan karena komponen aksesibilitas fisik seperti jarak dan waktu tempuh erat kaitannya dengan jaringan jalan. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi aksesibilitas fisik SMA negeri di Kota Bogor menggunakan analisis jaringan. Kondisi aksesibilitas fisik ditinjau dari jangkauan pelayanan dan kapasitas SMA negeri serta area yang belum terlayani (blankspot). Penelitian ini menggunakan metode buffer, service area, locationallocation, dan statistik deskriptif dengan memanfaatkan hasil dokumentasi data sekunder yang berasal dari Dinas Pendidikan Kota Bogor dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi aksesibilitas fisik tergolong kurang karena meskipun SMA negeri yang ada sudah mampu melayani 79,31% siswa calon lulusan SMP tetapi kapasitas penerimaan SMA negeri hanya mampu menerima 49,97%, serta terdapat blankspot di Kecamatan Bogor Barat dan Kecamatan Bogor Selatan yang memerlukan pembangunan SMA negeri baru di kedua wilayah tersebut.

2025
👤 Penulis: Abdillah Naf'an
🏷️ Analisis Jaringan 🏷️ Kepemilikan Sistem Informasi Geospasial (Sig)

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM MENGEMBANGKAN LAYANAN LUMPUR TINJA TERJADWAL DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung menghadapi tantangan dalam pengelolaan lumpur tinja karena keterbatasan kapasitas Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan layanan pengelolaan lumpur tinja yang efektif melalui pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Interactive Septage Management Toolkit (ISMT). Metode analisis jaringan pada SIG digunakan untuk menentukan pembagian daerah layanan bagi tiga lokasi IPLT potensial (Andir, Cinambo, dan Gedebage) berdasarkan jarak tempuh terdekat. Dua skenario operasional pengangkutan dikembangkan: skenario 1 berdasarkan prioritas jarak dan skenario 2 berdasarkan pembagian zona geografis. Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 2 menawarkan model operasional yang lebih unggul dengan distribusi beban kerja yang lebih seimbang dan stabil, dibuktikan dengan nilai standar deviasi jarak tempuh armada truk yang lebih rendah pada ketiga IPLT. Berdasarkan skenario 2, kapasitas terpilih adalah 49.141,55 m³/tahun untuk IPLT Andir, 18.670,25 m³/tahun untuk IPLT Cinambo, dan 16.257,87 m³/tahun untuk IPLT Gedebage. Hasil perhitungan kebutuhan jumlah truk pada skenario 2 adalah rata-rata 11 truk untuk IPLT Andir, 4 truk untuk IPLT Cinambo, dan 4 truk untuk IPLT Gedebage. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi skenario operasional terpilih, pembagian wilayah layanan, serta perhitungan kebutuhan jumlah truk yang optimal untuk mendukung sistem pengelolaan lumpur tinja yang efisien dan berkelanjutan di Kota Bandung hingga tahun proyeksi 2041.

2025
👤 Penulis: Andreas Morin Manurung
🏷️ Sistem Informasi Geografis 🏷️ Manajemen Lumpur Tinja 🏷️ Analisis Jaringan

PERENCANAAN RUTE PRIORITAS ANGKUTAN UMUM UNTUK MENDUKUNG KONEKTIVITAS DESTINASI WISATA DI KABUPATEN PANGANDARAN

Transportasi merupakan bagian penting dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata, khususnya melalui peningkatan aksesibilitas ke destinasi wisata. Kabupaten Pangandaran, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat, memiliki potensi wisata, namun belum didukung oleh sistem transportasi umum yang memadai. Penelitian ini bertujuan merumuskan perencanaan rute layanan angkutan umum yang efektif dan efisien untuk meningkatkan aksesibilitas antar daya tarik wisata di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan adalah analisis jaringan (network analysis), memetakan simpul-simpul destinasi wisata, menganalisis kondisi eksisting layanan angkutan umum, dan merumuskan koridor prioritas pengembangan. Hasil kajian merekomendasikan pengembangan koridor utama (trunk line) untuk moda berkapasitas besar seperti BRT pada ruas jalan lebar, serta koridor pengumpan (feeder) yang dilayani angkutan desa pada jalan sempit, guna menjangkau destinasi sekunder. Strategi integrasi ini didukung oleh kolaborasi antar pemangku kepentingan serta penyediaan layanan yang terjangkau dan terintegrasi secara spasial maupun kelembagaan. Penerapan strategi ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas wisatawan dan masyarakat, mengurangi dominasi kendaraan pribadi, serta mendukung pertumbuhan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Pangandaran.

2025
👤 Penulis: Nurul Aini
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Wisata 🏷️ Analisis Jaringan
💬