📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 37 dokumenPERENCANAAN DESAIN STRUKTUR KOLAM PELABUHAN D DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA, KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH
Pelabuhan Perikanan Samuder (PPS) Cilacap adalah salah satu pusat kegiatan perikanan tangkap di Pesisir Selatan Pulau Jawa yang mempunyai peran penting dalam mendukung aktivitas pendaratan ikan, tambat kapal, dan distribusi hasil perikanan. Seiring meningkatnya jumlah armada kapal dan intensitas operasional, fasilitas kolam pelabuhan eksisting belum mampu melayani kebutuhan secara optimal terutama dari segi kapasitas, kedalaman, serta ketenangan perairan. Studi ini bertujuan untuk merencanakan desain Kolam Pelabuhan D di PPS Cilacap dengan menggunakan software Delft3d, dimana analisis ini menggunakan data batimetri, topografi, angin, gelombang, pasang surut, dan kapal rencana. Berdasarkan desain perencanaan pada kedalaman untuk alur pelayaran yaitu 3,9 m yang diperoleh berdasarkan kapal rencana terbesar. Selain itu, kedalaman kolam pelabuhan direncanakan sebesar 3,05 m. Sehingga untuk mencapai kedalaman tersebut perlu adanya pengerukan pada area yang direncanakan. Volume pengerukan yang dilakukan yaitu 19.973 m3. Estimasi biaya keseluruhan dalam perencanaan kolam pelabuhan ini pada alternatif 1 yaitu Rp66.587.934.393,82 dan pada alternatif 2 yaitu Rp76.791.694.348,47. Berdasarkan hasil analisis, alternatif 1 dipilih sebagai desain terpilih karena telah memenuhi kriteria ketenangan perairan untuk operasional kapal serta memiliki biaya pembangunan yang lebih ekonomis
STUDI POTENSI PEMBANGUNAN INDUSTRI MESIN KAPAL SEBAGAI KOMPONENSTRATEGIS MARITIME INDONESIA (MARITIME ID)
Ketergantungan Indonesia pada impor mesin induk kapal menciptakan paradoks pembangunan industri maritim nasional. Negara kepulauan dengan kebutuhan armada yang masif justru belum berhasil membangun kapasitas industri komponen maritim bernilai tambah tinggi di dalam negeri. Estimasi kebocoran devisa akibat ketiadaan industri ini mencapai Rp 20,46 triliun selama periode 2020–2025. Penelitian ini bertujuan menyusun strategi hilirisasi industri maritim yang fokus pada substitusi impor mesin kapal melalui orkestrasi pasar domestik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data registrasi klas Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) periode 2020–2025. Analisis klasterisasi daya mesin berbasis Prinsip Pareto menunjukkan bahwa 77,8% dari total 5.374 unit mesin induk yang tercatat terkonsentrasi pada segmen daya menengah 500–1.500 HP yang didominasi armada kapal tunda sepanjang tahun 2020–2025. Jumlah ini melampaui ambang batas Minimum Efficient Scale pabrik mesin dan memberikan basis rasional bagi fokus investasi. Dengan CAPEX sebesar USD 110 juta (Rp 1,815 triliun), proyeksi finansial pada horizon 15 tahun menghasilkan NPV Rp 2,04 triliun, IRR 21,8%, ROI 442,7%, dan payback period 7 tahun 5 bulan. Selain itu proyeksi dampak ekonomi menciptakan penyerapan 25.691 tenaga kerja, penghematan devisa Rp 9,07 triliun, total kontribusi PDB Rp 12,42 triliun, dan SROI sebesar 1,88. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi industrialisasi berbasis orkestrasi permintaan (demand-driven) adalah solusi yang paling optimal untuk menginisiasi industri mesin induk kapal dalam negeri. Hal ini layak secara finansial dan berdampak makroekonomi signifikan bagi penguatan kedaulatan industri maritim Indonesia.
DAMPAK SPASIAL KEK PARIWISATA MANDALIKA : PENDEKATAN MODEL KONTRAFAKTUAL DAN DEEP LEARNING DALAM MENILAI TRANSFORMASI KAWASAN
Pembangunan pariwisata KEK Mandalika sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) memicu transformasi ruang masif di Lombok Tengah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh intervensi kebijakan tersebut terhadap perubahan tutupan lahan dan kualitas visual mikro menggunakan pendekatan skenario kontrafaktual untuk membedakan dampak murni kebijakan dari tren pertumbuhan alami yang sulit diukur secara organik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan multi-scalar. Analisis makro menggunakan klasifikasi tutupan lahan citra Landsat (2009–2024) dan pemodelan Cellular Automata-Markov untuk simulasi kontrafaktual. Analisis mikro menerapkan teknik Semantic Segmentation untuk ekstraksi pixel ratio visual dan analisis Place Pulse berbasis machine learning pada citra Google Street View (2015–2025) guna mengukur persepsi publik secara temporal. Hasil penelitian menunjukkan intervensi KEK Mandalika mengakselerasi pembangunan lahan terbangun sebesar 206,6% (3,06 kali lipat) dibandingkan skenario organik, dengan selisih dampak tambahan seluas 744 Ha pada 2024. Secara mikro, densitas bangunan meningkat dari pixel ratio 1,8% menjadi 4,0%, yang berkorelasi positif dengan peningkatan skor persepsi keamanan dan kemakmuran koridor. Kebijakan ini secara efektif memaksa wilayah melompati fase pertumbuhan dari Involvement langsung menuju Development stage. Rekomendasi penelitian difokuskan pada penguatan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah penyangga dan manajemen beban puncak (peak-load) infrastruktur. Strategi integratif ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dampak positif pembangunan KEK Mandalika bagi lingkungan dan masyarakat lokal sebagai destinasi kelas dunia.
PENGEMBANGAN KERANGKA KERJA LABOR MARKET ANALYTICS BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL (LLM) UNTUK TRANSFORMASI TRAINING NEEDS ANALYSIS (STUDI KASUS: BALAI LATIHAN KERJA PROVINSI JAWA BARAT)
Akselerasi teknologi di era Industri 4.0 memicu kesenjangan kompetensi (skill mismatch) yang signifikan khususnya pada sektor industri manufaktur. Ditinjau dari perspektif Socio-Technical System, fenomena ini merupakan wujud asinkronisasi antara subsistem sosial dan subsistem teknis, di mana laju adaptasi kurikulum pendidikan atau pelatihan kerap tertinggal oleh pesatnya evolusi teknologi industri. Dampak dari ketidakselarasan struktural ini melandasi tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jawa Barat, yang secara ironis justru didominasi oleh lulusan pendidikan vokasi (SMK) di tengah masifnya konsentrasi kawasan industri. Kondisi tersebut mengonfirmasi adanya ketidakefektifan pada program pendidikan atau pelatihan berjalan. Mengangkat Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Jawa Barat sebagai studi kasus, ketidakseimbangan ini berakar pada implementasi metode Training Needs Analysis (TNA) konvensional yang kurang optimal karena keterbatasan ukuran sampel, inefisiensi waktu operasional, risiko bias informasi akibat responden non-teknis, serta tingginya beban anggaran dalam pelaksanaanya. Guna memutus siklus tersebut, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja Labor Market Analytics otomatis berbasis data pipeline Large Language Model (LLM) untuk mentransformasi metodologi TNA menjadi sistem pengambilan keputusan yang objektif, efisien, dinamis, dan berbasis data. Metodologi penelitian ini mengoperasikan sebuah kerangka kerja analitik yang dirancang untuk memetakan kesenjangan kompetensi dua arah dan berskala besar dengan menyandingkan parameter kebutuhan (skill demand) dan pasokan (skill supply). Parameter demand diekstraksi melalui proses web scraping iklan lowongan kerja daring (JobStreet Indonesia) yang diintegrasikan dengan direktori Perusahaan Manufaktur Indonesia, menghasilkan 1.188 dataset terstruktur di bawah standardisasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kategori C (Industri Pengolahan). Fokus analisis dibatasi pada profil pekerjaan operator dan teknisi di 6 sektor industri manufaktur yang menjadi prioritas. Parameter supply diekstraksi dari dokumen kurikulum pelatihan kejuruan manufaktur di BLK Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menawarkan tiga kebaruan untuk ii mengatasi keterbatasan literatur terdahulu yaitu analisis kesenjangan dua arah (supply vs demand), pemetaan kompetensi subsektor manufaktur terintegrasi KBLI, dan efisiensi komputasi lokal (on-premise). Berbasis pendekatan Unsupervised Semantic menggunakan Google Gemma-3-4b dan Sentence Transformer, kerangka kerja ini mengatasi kelemahan NLP tradisional (belum memahami makna kata secara semantik) sekaligus beroperasi sepenuhnya tanpa API berbayar, sehingga sangat adaptif diimplementasikan pada instansi publik Hasil pengujian menunjukkan pipeline analitik ini efektif dijalankan pada infrastruktur standar dengan performa di atas ambang batas kelayakan 80%, mencatatkan F1-Score ekstraksi demand 87,05%, supply 81,76%, akurasi normalisasi semantik 80,18%, serta F1-Score klasifikasi 92,8%. Kerangka kerja ini berhasil menjaring data dari 751 entitas perusahaan unik yang terklasifikasi sektoral nasional KBLI dan mengekstraksi 3.099 entitas kompetensi unik. Skill gap analysis mengindentifikasi 179 kesenjangan kompetensi unik, dimana kurikulum eksisting baru mengakomodasi 19,4% kebutuhan industri. Melalui Analisis Pareto, diisolasi 47 kompetensi utama (vital few) pada kategori hard skills yang didominasi kebutuhan operasional, troubleshooting, dan pemahaman sistem mutu. Pada kategori soft skills, teridentifikasi 14 atribut kesenjangan unik yang didominasi aspek teamwork dan adaptability. Sementara pada pilar software skills, ditemukan kesenjangan mutlak pada penguasaan perangkat lunak administrasi dasar (Microsoft Office) dan rekayasa manufaktur (CAD/CAM). Berdasarkan temuan ini, dirumuskan tiga pilar rekomendasi strategis yakni adopsi pipeline LLM lokal sebagai instrumen utama TNA berkala; intervensi kurikulum terstruktur mencakup modul troubleshooting praktikum, pembelajaran berbasis project (Project-Based Learning), integrasi literasi computer khususnya CAD/CAM; serta tata kelola aspek surplus skills menjadi regulasi SOP dan job sheet wajib bengkel pelatihan.
PENGEMBANGAN MODEL ALOKASI SUBSIDI TIPPING FEE UNTUK KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA BARAT (STUDI KASUS TEMPAT PENGOLAHAN DAN PEMROSESAN AKHIR SAMPAH REGIONAL LEGOK NANGKA)
Pengelolaan sampah regional memerlukan skema subsidi tipping fee yang adil, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam skema pengelolaan sampah regional, kewajiban pembayaran tipping fee dapat memengaruhi kemampuan kabupaten/kota untuk berpartisipasi secara berkelanjutan dalam layanan pengolahan dan pemrosesan akhir sampah regional. Perbedaan kemampuan fiskal, beban timbulan sampah, dan kesiapan daerah menyebabkan mekanisme subsidi perlu dirancang secara proporsional agar dukungan pembiayaan yang diberikan tidak bersifat seragam, tetapi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model alokasi subsidi tipping fee untuk kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat dengan studi kasus Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka. Model disusun dalam kerangka pengambilan keputusan multi-stage terintegrasi berbasis Cut-Off Point (COP), Best-Worst Method (BWM), Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dan Linear Programming (LP). Kerangka ini diterapkan secara bertahap, di mana output dari satu metode menjadi input bagi metode berikutnya. COP digunakan untuk menyeleksi kriteria, BWM untuk menentukan bobot kriteria, TOPSIS untuk menentukan prioritas kabupaten/kota, dan LP untuk mengoptimalkan proporsi subsidi. Melalui pendekatan ini, proses pengambilan keputusan tidak berhenti pada seleksi kriteria, pembobotan, atau pemeringkatan alternatif, tetapi dapat diterjemahkan menjadi proporsi subsidi yang memenuhi batas anggaran dan kebijakan. Data yang digunakan terdiri atas data primer melalui focus group discussion (FGD), wawancara, dan kuesioner responden ahli, serta data sekunder dari dokumen resmi pemerintah, data kabupaten/kota, dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) TPPAS Regional Legok Nangka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 7 kriteria dan 11 subkriteria. Kriteria dengan bobot tertinggi adalah timbulan sebesar 0,316, diikuti ekonomi sebesar 0,169 dan regulasi/kebijakan sebesar 0,165. Hasil TOPSIS menunjukkan urutan prioritas subsidi, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Hasil optimasi LP menghasilkan proporsi subsidi tipping fee yang berbeda antar daerah, yaitu berada pada rentang 30,00% sampai 55,57% dari tipping fee sebesar Rp386.000 per ton. Kota Bandung memperoleh proporsi subsidi tertinggi sebesar 55,57%, diikuti Kota Cimahi sebesar 52,49%, Kabupaten Bandung sebesar 45,10%, Kabupaten Garut sebesar 30,48%, Kabupaten Bandung Barat sebesar 30,00%, dan Kabupaten Sumedang sebesar 30,00%. Total alokasi subsidi harian yang dihasilkan tetap sesuai dengan pagu anggaran sebesar Rp403.057.340 per hari. Model ini menghasilkan alokasi subsidi yang terukur, proporsional, dan tetap memenuhi batas kebijakan serta anggaran.
IDENTIFIKASI TUTUPAN PASIR DAN ZONA PASUT DARI CITRA SATELIT SPOT
Tugas akhir ini bertujuan untuk menghasilkan serta memperlihatkan identifikasi tutupan pasir (sand cover) dan zona pasut (tidal zone) dari citra satelit SPOT (Satellite Pour l’Observation de la Terre). Lokasi penelitian terletak di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara yang dikelilingi dataran karang seluas 12 km². Metodologi penelitian ini diawali dengan identifikasi tutupan pasir hasil rekaman radiometrik citra SPOT dengan klasifikasi terawasi (supervised classification). Hasil klasifikasi tutupan pasir diverifikasi dengan data inspeksi bawah air yang dideteksi sebagai pasir pada lokasi penelitian. Verifikasi dilakukan dengan pertampalan titik-titik inspeksi bawah air (28 titik) ke dalam area hasil identifikasi tutupan pasir. Kesesuaian hasil identifikasi tutupan pasir pada lokasi penelitian memiliki prosentase sebesar 70%. Tujuan lain penelitian ini adalah mengetahui distribusi kedalaman tutupan pasir, yang didapat dari data batimetri dan citra satelit untuk mengidentifikasi zona pasut. Pembagian zona pasut yang dibedakan menjadi zona supratidal, intertidal, dan subtidal dilakukan dengan tahapan klasifikasi dari citra satelit SPOT. Luas area untuk masing-masing zona pasut memiliki nilai yang berbeda, zona supratidal memiliki luas area 4,83×106 hektar (ha), zona intertidal 4,95×106 hektar (ha), dan sisanya zona pasut subtidal. Hasil identifikasi tutupan pasir dan zona pasut ditampalkan dengan kontur kedalaman untuk mengetahui distribusi kedalaman pada lokasi penelitian. Kedalaman tutupan pasir memiliki distribusi kedalaman antara –0,1 hingga 24,6 meter, dengan distribusi yang dominan terdapat pada kedalaman –0,1 hingga 3,7 meter.
PENILAIAN KAPASITAS KOMUNITAS DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO RIMBA LESTARI DI DESA GUNUNGHALU KABUPATEN BANDUNG BARAT
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu bentuk alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat. Di Indonesia, pada awalnya PLTMH ini dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kebutuhan elektrifikasi penduduk di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional. Ketersediaan air yang melimpah serta teknologi yang relatif sederhana menjadi pertimbangan untuk diaplikasikannya PLTMH bagi masyarakat perdesaan. Dalam suatu program PLTMH pada umumnya setelah selesai pembangunan fisik, operasional dan pemeliharaan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat atau komunitas lokal penerima manfaat dari PLTMH tersebut. Oleh karena itu keberlanjutan suatu PLTMH sangat ditentukan dan tergantung pada kapasitas komunitas penerima manfaatnya. Dalam penelitian ini dilakukan suatu penilaian terhadap kapasitas komunitas dalam mendukung keberlanjutan PLTMH Rimba Lestari dengan metode deskriptif kualitatif menggunakan indeks kapasitas komunitas (IKK) yang dikembangkan oleh Bush dkk.(2002) namun disesuaikan terhadap konteks penelitian dengan domain utama terdiri dari kemitraan komunitas, transfer informasi, pemecahan masalah, dan infrastruktur. Pengumpulan data dilakukan melalui penilaian indeks dan wawancara terhadap perwakilan dari komunitas sendiri, pihak pemerintah serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa komunitas penerima manfaat PLTMH Rimba Lestari telah memiliki kapasitas yang cukup dalam hal kemitraan, transfer pengetahuan, pemecahan masalah, dan infrastruktur. Demikian pula halnya dengan tingkat keberlanjutan yang juga menunjukan bahwa komunitas cukup mampu untuk mempertahankan keberlanjutan dari program PLTMH Rimba Lestari ini, akan tetapi ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu dalam aspek finansial serta kaderisasi. Hasil cukup yang didapatkan disini mengindikasikan bahwa komunitas memiliki cukup kapasitas dalam mendukung keberlanjutan program PLTMH Rimba Lestari namun masih tersedia ruang untuk peningkatan dan perbaikan.
MENINGKATKAN KINERJA PENJUALAN MELALUI SEGMENTASI PELANGGAN BERBASIS DATA: PENDEKATAN K-MODES DI DEALER SEPEDA MOTOR INDONESIA
Salah satu dealer motor Honda di Kabupaten Hulu Sungai Tengah kesulitan memenuhi target penjualan yang fluktuatif, karena hanya dua dari sepuluh bulan yang mencapai target pada tahun 2025. Segmentasi pasar yang buruk menyebabkan strategi penjualan yang tidak berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan segment pasar yang berbeda berdasarkan transaksi bisnis mereka, (2) menemukan segmen pasar yang berdasarkan beberapa kriteria, yang meliputi profitabilitas, pangsa pasar, dan pertumbuhan, dan (3) merumuskan rencana penjualan yang efektif untuk setiap segmen pasar sehingga dapat meningkatkan kinerja penjualan mereka saat ini. Pendekatan CRISP-DM denan metode analisis dua fase digunakan pada 4,289 data penjualan dari januari 2022 hingga Oktober 2025. Fase pertama melibatkan algoritma K-Modes pada enam variable kategorikal, mengidentifikasi nilai K optimal (K=3), menggunakan Teknik triangulasi Elbow Method, Silhouette Score, dan Davies-Bouldin Index dilanjutkan dengan fase kedua melibatkan MCDM-TOPSIS. Kerangka validasi berlapis diterapkan yang mencakup analisis pra-cluster (Cramér's dan Chi Square), stabilitas algoritma (Bootstrap ARI 0.489), uji signifikansi statisti (Kruskal-Wallis p<0.0001), analisis diskriminan (LDA), penilaian profitabilitas, temporal analysis (MAPE 6,93%), analisis sensitivitas TOPSIS (6 skenario). Analisis tersebut menemukan 3 kluster pelanggan yang berbeda: Klaster 0 (Pembeli Tunai Scoopy, pangsa pasar 63,3%, keuntungan Rp 629,000 per pelanggan, CAGR -1.4%), Klaster 1 (Pembeli Kredit Scoopy, pangsa pasar 21.9%, keuntungan Rp 596,000 per pelanggan, CAGR +3.8%), dan Klaster 2 (Pembeli Tunai Beat, pangsa pasar 14.8%, keuntungan Rp 367,000 per pelanggan, CAGR +31.4%). TOPSIS mengidentifikasi Klaster 2 sebagai segmen prioritas tertinggi (Skor 0.565, Peringka 1) meskupun keuntungan per pelanggan rendah. Analisis sensitivitas mengkonfirmasi kekokohan peringkat dengan stabilitas 66.7% (bobot scenario 4/6). Dealer sepeda motor disarankan untuk mengadopsi pendekatan alokasi sumber daya yang tersegmentasi, dengan investasi 60% pada segmen pertumbuhan tertinggi (Klaster 0) melalui penetrasi pasar yang agresif, 30% pada segmen dengan margin tinggi (Klaster 0) untuk pemeliharaan defensive, dan 10% pada segment stabil (Klaster 1).
KAJIAN PENETAPAN NJOP PBB-P2 UNTUK KOTA BANDUNG
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD), PBB Pedesaan dan Perkotaan (disingkat PBB-P2) diserahkan pengelolan pemungutannya kepada Kabupaten/Kota untuk menjadi Pajak Daerah. Dasar pengenaan PBB-P2 adalah Nilai Jual Objek Pajak atau biasa disingkat NJOP. Seiring dengan beralihnya kewenangan pemungutan PBB-P2, dipandang perlu dilakukan kajian terhadap NJOP di Kota Bandung. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengakomodir hal-hal tersebut sebagai langkah lanjutan Pemerintah Kota Bandung dalam mempersiapkan pemungutan PBB-P2 di awal tahun 2014. Literatur penelitian ini bersumber dari sejumlah tulisan ilmiah, serta peraturan perundang-undangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Quickbird wilayah kota Bandung, Peta Rencana Pola Ruang Kota Bandung 2011-2031, Peta Tata Guna Lahan Eksisting Tahun 2011, dan Peta Analisa Kelas Tanah tiap kelurahan. Adapun 5 kelurahan yang diteliti pada penelitian ini adalah Kelurahan Citarum, Kelurahan Pasir Jati, Kelurahan Hegarmanah, Kelurahan Pasirluyu dan Kelurahan Cisaranteun Kidul. Pengolahan serta pengidentifikasian tentang data yang berkaitan dengan penentuan NJOP PBB-P2 dilakukan dengan menggunakan software Arcmap 10 dengan hasil berupa overlay antara peta tata ruang dengan peta analisa kelas tanah. Dan, berdasarkan Tabel Kenaikan NJOP dari tahun 2000 hingga tahun 2007, dilakukan perhitungan proyeksi NJOP dengan menggunakan prinsip perhitungan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis prediksi kenaikan NJOP tahun 2000, 2004 dan 2007 kenaikan nilai NJOP di lima kelurahan yaitu Kelurahan Citarum (61%), Kelurahan Pasir Jati (70%), Kelurahan Hegarmanah (64%), Kelurahan Pasirluyu (75%) dan Kelurahan Cisaranteun Kidul (72%). Nilai rata-rata kenaikan terhadap kelima kelurahan adalah 68%.
SIMULASI KRITERIA PREDIKSI PASUT UNTUK PRAKIRAAN TINGGI MUKA AIR DALAM KURUN WAKTU KRITIS (NOWCASTING) DI DELTA MAHAKAM
Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu prosedur yang dapat melakukan prediksi pasut untuk kurun waktu kritis (nowcasting), atau dapat juga disebut sebagai prediksi pasut untuk kurun waktu beberapa jam ke depan. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan tingkat keakuratan terbaik yang dapat bekerja secara efisien sehingga menghasilkan hasil yang optimal. Penelitian ini merupakan studi kasus di wilayah Delta Mahakam. Data yang digunakan adalah data pengamatan pasut pada tiga stasiun pasut, yaitu stasiun CPU, stasiun Handil, dan stasiun NPU. Data pengamatan pasut yang diperoleh dari ketiga stasiun tersebut kemudian dilihat tingkat kesalahannya dengan menggunakan nilai variansi, root-mean-square (RMS), dan nilai kesalahan relatif rata-rata (ē), dengan asumsi data tersebut sudah tidak memiliki faktor non-pasut lagi. Tingkat kesalahan pada ketiga stasiun tersebut kemudian dibandingkan hasilnya berdasarkan konstanta harmonik pasut yang digunakan, selang waktu penerapan teknik nowcasting, dan panjang data awal yang akan digunakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah teknik nowcasting terbaik dilakukan dengan menggunakan semua konstanta harmonik yang diperoleh dari analisis pasutnya, dengan program T_TIDE dari data awal sepanjang 15 hari ke belakang, untuk pelaksanaan teknik nowcasting dengan selang waktu yang berbeda-beda di setiap tempatnya. Selang waktu penerapan teknik nowcasting terbaik di stasiun CPU adalah setengah hari, sedangkan selang waktu penerepan teknik nowcasting terbaik di stasiun Handil dan stasiun NPU adalah seperempat hari.
PEMBUATAN BASIS DATA dan PROSES KARTOGRAFIK PETA LINGKUNGAN PANTAI INDONESIA (DAERAH STUDI: PANTAI BARAT SUMATERA UTARA)
Indonesia adalah negara kepulauan dengan panjang pantai 95,181 kilometer. Dengan pantai sepanjang itu, lingkungan pantai menjadi aset yang sangat potensial untuk dikembangkan demi kemajuan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah pantai. Peta merupakan salah satu syarat untuk mengembangkan suatu wilayah. Dalam pengembangan daerah pantai, peta harus memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir dan laut, terutama tentang kedalaman, jenis pantai (berpasir, berlumpur, atau berbatu), serta informasi dasar lainnya terkait dengan navigasi dan administrasi di wilayah laut. Peta pada zaman sekarang ini sudah dibuat dalam format basis data spasial. Jadi pada pembuatannya, pertama dilakukan pembuatan basis datanya terlebih dahulu, setelah itu dilakukan proses kartografik untuk keperluan penampilan (visualisasi) dan pencetakan .Hasil akhir yang diharapkan adalah peta Lingkungan Pantai Indonesia dalam format basis data yang sesuai dengan standard.
ANALISIS DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DENGAN METODE PEMBOBOTAN LAND USE DENSITY
Data kependudukan di Indonesia yang disajikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) diperoleh melalui sensus penduduk. Namun data kependudukan ini hanya bersifat tekstual dan belum mewakili keadaan sebenarnya. Mengingat kependudukan merupakan aspek penting dalam pertumbuhan pembangunan di Indonesia, maka pemerintah memerlukan informasi yang jelas mengenai data kependudukan. Penelitian ini mencoba untuk memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pada penalitian ini digunakan teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra Satelit Quickbird, yaitu citra dengan resolusi yang sangat tinggi sehingga bisa digunakan untuk mengidentifikasi objek kecil seperti perumahan. Dengan menggunakan metode pembobotan land use density, maka tipe perumahan yang diidentifikasi dapat digunakan untuk menggambarkan distribusi penduduk dalam bentuk peta distribusi kepadatan penduduk yang mewakili keadaan yang sebenarnya.
SIMULASI PEMANTAUAN INJEKSI CO2 MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN KEDEPAN SEISMIK REFLEKSI 3D SELANG WAKTU PADA LAPANGAN
Perubahan iklim merupakan masalah penting yang berdampak pada skala lokal maupun global. Iklim yang bersifat dinamis dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, salah satunya adalah peningkatan emisi karbon dalam bentuk gas CO?. Oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi dan salah satunya melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Untuk memastikan keamanannnya, setiap proyek CCS memerlukan sistem pemantauan guna melacak sebaran CO?. Salah satu metode pemantauan adalah seismik refleksi 3D selang waktu yang dilakukan dengan cara mendeteksi perubahan respon seismik. Salah satu lokasi yang berpotensi untuk implementasi CCS di Indonesia adalah Lapangan "FD", wilayah Cekungan Banggai, Sulawesi Tengah. Target reservoir pada Lapangan ”FD” adalah Formasi Mentawa dengan Formasi Poh sebagai batuan penutup. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan simulasi pemantauan CO? dengan menggunakan metode pemodelan kedepan seismik 3D selang waktu untuk periode injeksi selama 20 tahun serta pasca injeksi. Model kecepatan gelombang P dan densitas batuan dibangun berdasarkan data sumur dan peta struktur kedalaman lalu dimodifikasi dengan menambahkan plume CO? pada Formasi Mentawa yang berada pada kedalaman 1100–1200 meter. Properti fisik plume CO? dihitung dengan pendekatan substitusi fluida Gassman dan DEM. Hasil subtitusi fluida menunjukkan penurunan kecepatan gelombang P dan densitas masing-masing sebesar 6.62% dan 7.0%. Selanjutnya didesain suatu survey akuisisi seismik refleksi 3D untuk mensimulasikan perambatan gelombang seismik. Simulasi ini menghasilkan seismogram sintetik untuk kondisi sebelum dan sesudah injeksi CO?. Data seismogram kemudian diproses melalui tahapan penentuan geometri, stacking, dan time migration. Hasil simulasi dan pengolahan data mampu mencitrakan geometri plume CO? dengan baik dalam arah vertikal maupun lateral. Ditemukan perubahan amplitudo pada top Formasi Mentawa serta delay pada refleksi top Formasi Minahaki dan Matindok di sekitar area plume CO?.
ANALISIS KORELASI CERCHAR ABRASIVITY INDEX (CAI) TERHADAP KOMPOSISI KUARSA DAN UKURAN BUTIR PADA BATUAN TERALTERASI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Cerchar Abrasivity Index (CAI) dengan Equivalent Quartz Content (EQC) serta ukuran butir kuarsa pada batuan teralterasi, dan menyusun model empiris dari hubungan tersebut. Delapan sampel batuan dari Lebak, Banten diuji menggunakan metode Cerchar Test untuk memperoleh nilai CAI, serta dilakukan analisis mikroskopis untuk menentukan EQC dan ukuran butir kuarsa. Hasil analisis menunjukan bahwa CAI memiliki hubungan positif dengan EQC, CAI memiliki hubungan negatif dengan ukuran butir kuarsa. Namun, ukuran butir kuarsa akan mendapat hubungan yang positif jika dilakukan uji abrasivitas schimazek f. Secara umum, kandungan kuarsa ekuivalen dan ukuran butir kuarsa berpengaruh terhadap tingginya nilai abrasivitas batuan.
ANALISIS KESTABILAN LERENG LOW WALL TAMBANG BATUBARA PT PQR DI KALIMANTAN SELATAN
Kestabilan lereng low wall merupakan aspek penting yang harus diperhatikan demi menjamin keselamatan kerja dan kelangsungan operasional tambang terbuka batubara. Penelitian ini dilakukan sebagai respon terhadap kejadian longsor di lereng low wall tambang PT PQR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kestabilan lereng low wall aktual dan LOM menggunakan metode kesetimbangan batas (Limit Equilibrium Method/LEM), kemudian memvalidasinya dengan hasil pemantauan radar SSR-XT, serta mengoptimasi rancangan geometri lereng low wall yang lebih stabil dan mendukung optimasi perolehan penambangan. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Rocscience Slide 6.0 pada dua penampang kritis, yaitu A–A? dan B–B?. Desain awal LOM menunjukkan bahwa lereng belum memenuhi kriteria aman, penampang A–A? memiliki FK sebesar 1,095 (statis) dan 0,947 (dinamis), sedangkan penampang B–B? memiliki FK 1,016 (statis) dan 0,923 (dinamis), dengan probabilitas kelongsoran (PoF) sebesar 26,3% (statis) dan 99,9% (dinamis). Pada kondisi aktual ketika lereng mengalami longsor, nilai FK hasil perhitungan sebesar 1,108 (statis) dan 0,95 (dinamis) untuk A–A?, serta 1,169 (statis) dan 0,990 (dinamis) untuk B–B?, dengan PoF sebesar 0% (statis) dan 60,6% (dinamis). Hasil pemantauan dari radar SSR-XT menunjukkan pergerakan yang signifikan, deformasi yang terjadi mencapai ±250 mm/hari dengan kecepatan pergerakan mencapai ????100 mm/hari. Maka dari itu, pemantauan dengan Radar SSR-XT dapat mengonfirmasi kondisi ketidakstabilan lereng yang teridentifikasi melalui perhitungan LEM. Berdasarkan hal tersebut, maka lereng perlu perbaikan melalui pelandaian. Setelah dilakukan pelandaian, Penampang A–A? menunjukkan peningkatan FK menjadi 1,423 (statis) dan 1,255 (dinamis), sementara B–B? mencapai FK 1,792 (statis) dan 1,576 (dinamis), dengan PoF 0% pada seluruh kondisi. Hasil pemantauan radar pun menunjukkan deformasi sangat kecil, yaitu ±0,5 mm/hari dengan kecepatan deformasi ????100 mm/hari hingga mendekati 0 mm/hari. Dengan demikian lereng low wall setelah pelandaian dapat dikatakan stabil. Mengingat nilai FK dinilai masih bisa dioptimalkan, maka dilakukan analisis terhadap tiga alternatif desain geometri lereng untuk mengoptimalkan perolehan penambangan dengan tetap memenuhi standar kestabilan. Alternatif kedua direkomendasikan untuk diterapkan karena nilai FK tetap aman (1,251) dengan jumlah batubara tertambang bertambah.