📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenPERANCANGAN PAKET LAYANAN CRISIS MANAGEMENT BERTINGKAT UNTUK PT SONAR ANALITIKA INDONESIA: STUDI SOLUSI BISNIS DAN IMPLEMENTASI BERBASIS SIMULASI
Layanan Crisis Management PT Sonar Analitika Indonesia saat ini bergantung pada mekanisme alert generik bervolume tinggi yang membutuhkan triase manual secara ekstensif, menciptakan kendala kapasitas yang mengikat pertumbuhan klien secara langsung terhadap jumlah tenaga analis dan membuat perusahaan belum memiliki penawaran komersial bertingkat yang terdiferensiasi. Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi business case untuk memposisikan ulang kapabilitas crisis-ready alert perusahaan, yang secara internal dikenal sebagai Smart Alert, menjadi penawaran layanan bertingkat yang terdiri dari paket Standard, Premium, dan High-Sensitivity, masing-masing dipetakan ke profil risiko dan kebutuhan pemantauan klien yang berbeda. Menggunakan simulasi backtesting pada episode krisis historis dan survei praktisi mengenai faktor pendorong adopsi serta preferensi performa, penelitian ini mengukur trade-off antara performa deteksi dan biaya operasional pada sembilan konfigurasi alert, serta mengintegrasikan temuan tersebut menggunakan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) dan analisis Pareto frontier untuk merekomendasikan struktur paket yang menyeimbangkan performa, biaya, dan kesesuaian segmen klien. Selain rekomendasi paket, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi yang mencakup roadmap peluncuran bertahap, pembagian tanggung jawab lintas departemen, dan kerangka key performance indicator pasca-peluncuran yang membedakan komitmen layanan kontraktual dari target tata kelola kualitas internal. Temuan penelitian ini dimaksudkan untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen terkait pengemasan komersial, penetapan harga, dan kesiapan organisasi untuk menskalakan lini layanan Crisis Management, sekaligus memberikan kontribusi metodologis dalam menerjemahkan evaluasi teknis berbasis simulasi menjadi strategi produk dan implementasi yang siap bisnis.
PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PESERTA PROGRAM UMKM NAIK KELAS DENGAN MULTI-CRITERIA DECISION ANALYSIS (MCDA)
Program UMKM Naik Kelas merupakan program pembinaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM di Jawa Barat. Namun, proses seleksi peserta masih menghadapi beberapa permasalahan, seperti penilaian yang rentan terhadap subjektivitas evaluator, belum adanya prosedur baku dalam pembobotan dan pemeringkatan, serta belum tersedianya sistem yang dapat membantu pengolahan data secara terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pendukung keputusan yang mampu menentukan prioritas peserta Program UMKM Naik Kelas secara lebih objektif, terukur, dan konsisten. Penelitian ini menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan kombinasi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). AHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas antar kriteria berdasarkan input perbandingan berpasangan, sedangkan TOPSIS digunakan untuk menghitung nilai preferensi dan menghasilkan peringkat calon peserta. Kriteria yang digunakan terdiri dari kriteria wajib dan kriteria penilaian. Kriteria wajib digunakan sebagai tahap penyaringan awal, sedangkan kriteria penilaian digunakan dalam proses pemeringkatan peserta. Rancangan sistem dikembangkan ke dalam prototipe berbasis Microsoft Excel dengan bantuan Visual Basic for Applications (VBA) yang mencakup pengelolaan data peserta, kriteria, perhitungan AHP, perhitungan TOPSIS, dan tampilan hasil rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan prototipe sistem pendukung keputusan mampu mengintegrasikan proses penyaringan kriteria wajib, konversi nilai kriteria, pembobotan kriteria, pemeringkatan alternatif, dan penyajian rekomendasi prioritas peserta dalam satu sistem. Evaluasi kesesuaian menunjukkan bahwa sistem telah memenuhi kebutuhan utama dalam mendukung proses seleksi peserta Program UMKM Naik Kelas secara lebih terstruktur, transparan, dan konsisten. Meskipun demikian, pengembangan lebih lanjut masih diperlukan, terutama dalam hal kelengkapan data peserta, integrasi database, validasi langsung dengan pengguna, serta penyesuaian sistem apabila terdapat perubahan kebutuhan seleksi di masa mendatang.
PERANCANGAN DECISION SUPPORT SYSTEM PROSES PAIRING MATCHING DAN MIDDLE END WEBSITE SEBAGAI KANAL TERINTEGRASI OPERASIONAL JASA LOGISTIK PT SERASI LOGISTICS INDONESIA
PT Serasi Logistics Indonesia (PT SLI) merupakan perusahaan penyedia jasa logistik terintegrasi dengan tiga lini layanan utama, yaitu warehouse management, freight forwarding, dan trucking solutions. Penelitian ini difokuskan pada layanan trucking solutions, khususnya proses pairing matching unit dan driver yang masih dilakukan secara manual menggunakan Microsoft Excel. Kondisi tersebut menyebabkan proses penugasan membutuhkan waktu lama, visibilitas ketersediaan unit dan driver belum aktual, serta berisiko tidak memenuhi service level agreement (SLA) customer. Selain itu, koordinasi antar Divisi Sales & Account, Operations, dan Finance & Administration masih bergantung pada komunikasi informal sehingga menimbulkan keterlambatan informasi terkait status order, UJP, perjalanan, POD, dan billing. Penelitian ini bertujuan merancang Decision Support System (DSS) untuk mendukung prioritisasi order dalam proses pairing matching serta merancang middle-end website operasional sebagai kanal terintegrasi pada proses pre-shipment, on-shipment, dan post-shipment. Metodologi yang digunakan mengacu pada System Development Life Cycle (SDLC). DSS dirancang menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot kriteria dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk menghasilkan peringkat prioritas order. Kriteria yang digunakan meliputi status AFFCO, kategori customer, profit, dan waktu tunggu order. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan DSS mampu menghasilkan prioritas order secara terstruktur dengan nilai consistency ratio AHP sebesar 0,07. Simulasi DSS menunjukkan bahwa order dengan waktu tunggu mencapai 20 menit dapat dinaikkan prioritasnya sesuai SLA pairing matching. Selain itu, rancangan middle-end website mengintegrasikan modul booking order, pairing matching, UJP, shipment tracking, e-POD, billing checklist, dan operational dashboard. Hasil verifikasi dan validasi menunjukkan bahwa rancangan telah memenuhi kebutuhan utama pengguna serta mampu mendukung percepatan penugasan, koordinasi lintas divisi, dan transparansi operasional bagi internal perusahaan maupun customer.
KERANGKA HYBRID AHP-TOPSIS UNTUK SELEKSI KONTRAKTOR INFRASTRUKTUR PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN: STUDI KASUS PT XYZ
Pemilihan kontraktor merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan proyek infrastruktur di industri pertambangan. Namun, proses pemilihan kontraktor umumnya masih didasarkan pada persyaratan kualifikasi minimum dan penawaran harga terendah, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kapabilitas yang dibutuhkan untuk keberhasilan pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan evaluasi kontraktor yang lebih terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, mengevaluasi, dan mengusulkan implementasi kerangka kerja Hybrid AHP TOPSIS untuk pemilihan kontraktor proyek infrastruktur di PT XYZ. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan studi literatur, analisis dokumen, wawancara, serta metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Sebanyak sebelas responden ahli terlibat dalam penilaian AHP, dan bobot yang diperoleh digunakan dalam TOPSIS untuk mengevaluasi alternatif kontraktor pada tiga proyek infrastruktur yang telah selesai. Kerangka kerja yang diusulkan terdiri atas enam kriteria utama dan sembilan belas subkriteria, yaitu Technical, Health Safety Environment and Security (HSES), Financial, Performance History, Local Capability–Participation, dan Commercial. Hasil AHP menunjukkan bahwa Technical (25,1%) dan HSES (24,9%) merupakan dua kriteria dengan bobot tertinggi, dengan selisih yang sangat kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa kapabilitas teknis dipandang sebagai prasyarat utama keberhasilan pelaksanaan proyek, sementara HSES tetap menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pemilihan kontraktor. Kerangka kerja yang diusulkan menghasilkan peringkat kontraktor yang transparan dan konsisten pada ketiga studi kasus. Dibandingkan pendekatan yang berorientasi pada kualifikasi minimum dan harga terendah, kerangka kerja ini menyediakan proses evaluasi yang lebih komprehensif, transparan, dan dapat ditelusuri, serta tetap sesuai dengan tata kelola pengadaan PT XYZ. Dengan demikian, kerangka kerja Hybrid AHP-TOPSIS dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas pemilihan kontraktor pada proyek infrastruktur pertambangan.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK EKSPANSI BISNIS RITEL TRADISIONAL: PADA INDUSTRI DISTRIBUSI FMCG INDONESIA: PT SAM
Industri fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia merupakan salah satu sektor yang dinamis di Asia Tenggara, didorong oleh pertumbuhan populasi yang kuat, peningkatan daya beli, serta perubahan perilaku konsumen. PT SAM, sebagai perusahaan distribusi dan logistik yang telah memiliki posisi kuat pada saluran modern trade (MT) dan e-commerce, berupaya melakukan ekspansi ke saluran general trade (GT) guna meningkatkan cakupan pasar dan posisi kompetitif perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pengambilan keputusan yang terstruktur dalam ekspansi bisnis GT dengan mengevaluasi kelayakan finansial, operasional, dan strategis dari berbagai alternatif strategi ekspansi. Penelitian mengadopsi kerangka Kepner–Tregoe yang berfokus pada Decision Analysis dan Potential Problem Analysis. Dalam Decision Analysis, pengambil keputusan mendefinisikan kriteria “Must” sebagai persyaratan yang tidak dapat ditawar, serta kriteria “Want” sebagai faktor yang diinginkan dan memengaruhi tingkat daya tarik masing-masing alternatif. Potential Problem Analysis diterapkan untuk mengidentifikasi potensi risiko pada setiap opsi strategis serta merumuskan tindakan pencegahan dan rencana kontingensi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) yang mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan dan laporan industri, sedangkan data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan Focus Group Discussion (FGD) dengan para pemangku kepentingan internal utama. Analisis dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, data sekunder digunakan untuk mengevaluasi kondisi dasar dari tiga alternatif strategi, yaitu akuisisi, pendirian perusahaan baru (greenfield), dan joint venture (JV). Kedua, data primer digunakan untuk menentukan kriteria keputusan dan menangkap perspektif para pemangku kepentingan. Ketiga, kerangka Kepner Tregoe Decision Analysis diterapkan untuk menilai dan menentukan peringkat alternatif strategi, yang kemudian dilanjutkan dengan Potential Problem Analysis untuk mengidentifikasi risiko dan strategi mitigasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi akuisisi dieliminasi pada tahap kriteria Must akibat adanya kewajiban pajak bawaan sebesar Rp22,7 miliar dan piutang pihak berelasi sebesar Rp58,8 miliar. Opsi JV NewCo memperoleh skor Want tertinggi sebesar 84,1%, menghasilkan Net Profit Before Tax yang positif sejak tahun pertama pada seluruh skenario, serta memberikan Net Present Value (NPV) sebesar Rp97,3 miliar dengan nilai investasi Rp5,25 miliar. Opsi JV memberikan PT SAM kecepatan implementasi seperti akuisisi dengan profil risiko yang lebih mendekati greenfield, sehingga memposisikan perusahaan sebagai distributor multi-channel dengan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Rencana implementasi terdiri atas lima fase, mencakup pendirian perusahaan, pengembangan sistem, serta pemenuhan aspek legal, keuangan, dan perpajakan, dengan pelaksanaan dimulai pada Juni 2026. Dalam jangka panjang, integrasi saluran MT, GT, dan e-commerce ke dalam satu platform terpadu akan memposisikan PT SAM sebagai distributor multi-channel yang mampu menyediakan akses pasar yang komprehensif serta menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
STRATEGI BERBASIS AHP UNTUK KEBERLANJUTAN BISNIS OPERATOR TRANSPORTASI PUBLIK DI INDONESIA
Studi ini menyusun dan menguji suatu proses pengambilan keputusan bagi Metro Line Jakarta (MLJ) dengan menilai opsi-opsi strategis melalui pendekatan mixed-methods yang dirancang secara jelas untuk mendukung business sustainability jangka panjang dalam konteks angkutan umum perkeretaapian perkotaan (urban rail public transportation). Elemen kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan para eksekutif MLJ dan pemangku kepentingan eksternal, yang kemudian direkam, ditranskrip, dikodekan ke dalam tema-tema utama (strategi, tata kelola, keuangan, operasi, isu pemangku kepentingan, risiko), ditelaah dan dikroscek antar kelompok responden, serta divalidasi menggunakan dokumen sekunder untuk melakukan triangulasi dan meminimalkan bias. Bagian kuantitatif mencakup kajian data sekunder yang tersedia serta pelaksanaan survei Analytic Hierarchy Process (AHP) kepada enam responden; seluruh jawaban kemudian diolah menggunakan AHP On-Line Software untuk memeriksa nilai rasio konsistensi. Kondisi keuangan MLJ menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tiga sumber pendapatan bergerak ke arah yang berbeda: subsidi mencapai 55,21% dari pendapatan operasi, non-fare sebesar 23,96% (sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, terutama karena penyesuaian ulang kontrak dan keterlambatan perizinan), dan fare sebesar 20,83%. Beban depresiasi yang besar timbul akibat besarnya aset tetap perkeretaapian yang dimiliki MLJ (depresiasi sekitar 38% dari total pendapatan tahunan MLJ). Seperti disebutkan sebelumnya, pendapatan fare mengikuti tren ridership, sedangkan pendapatan non-farebox menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Keterbatasan yang teridentifikasi dari wawancara meliputi akuisisi dan penguasaan lahan, perizinan, serta kredibilitas pasar untuk layanan pelatihan dan konsultasi. Proses Strategi menggunakan PESTLE dan SWOT untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang penting, menerapkan Kepner Tregoe (KT) Decision Analysis untuk menyaring ide berdasarkan persyaratan yang harus dipenuhi, kemudian menggunakan AHP untuk memberi skor dan memeringkat alternatif berdasarkan kriteria yang merepresentasikan tujuan dan kendala MLJ. Model AHP menggunakan empat kriteria utama: Financial, Operations, Reputation/Stakeholder Perceptions, dan Legal/Regulatory. Tiga alternatif dianalisis. Alternative A (Non-farebox Enhancement) mengusulkan perluasan pendapatan dari ritel, iklan, naming rights dan proyek transit-oriented development (TOD) untuk menghasilkan pendapatan komersial yang stabil. Alternative B (Holding and Subsidiaries Re-strategy) bertujuan memperjelas peran anak perusahaan, menghilangkan tumpang tindih, dan memosisikan anak perusahaan agar menawarkan produk/jasa yang unik. Alternative C (Infrastructure Asset Restructuring) berupaya mengalihkan MLJ menuju pure operator model dengan memindahkan aset berat untuk menurunkan tekanan depresiasi dan mengelola biaya sewa/konsesi baru yang terkait. Alternative A ditetapkan sebagai pilihan utama dengan global priority sebesar 40,74%. Sensitivity testing dengan mengubah bobot pada kriteria utama sebesar +/- 10–20 persen tidak mengubah urutan peringkat alternatif. Berdasarkan hasil tersebut, rencana yang direkomendasikan berfokus pada dua workstream: mewujudkan transit-oriented development (TOD) yang bankable dan mengembangkan MLJ Academy menjadi produk yang berulang (repeatable product). Sebagai tuas kebijakan pendukung, rumus subsidi disarankan untuk direvisi sehingga sebagian pembayaran dikaitkan dengan ridership dan kualitas layanan, sambil tetap menjaga keterjangkauan melalui batas atas dan batas bawah yang jelas. Langkah-langkah ini diharapkan meningkatkan rata-rata pendapatan per kontrak, menurunkan ketergantungan pada subsidi, dan menyediakan template yang dapat direplikasi di lokasi-lokasi berikutnya. Penelitian ini menghasilkan dua kontribusi utama. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana operator urban rail tingkat kota di negara berkembang dapat mengombinasikan property-based value generation dan service-based revenue generation untuk menyeimbangkan sumber pendapatannya di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Kedua, penelitian ini menyajikan metodologi KT + AHP yang sederhana dan dapat direplikasi, yang mengubah beragam bukti dan pendapat pakar menjadi peringkat preferensi yang valid untuk memandu operator perkeretaapian perkotaan lain dengan kendala yang serupa.
MENGEMBANGKAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH LOKASI RITEL DALAM EKSPANSI BERBAGAI MEREK: STUDI KASUS DARI PERUSAHAAN RITEL TERKEMUKA DI INDONESIA
Industri ritel di Indonesia telah berubah dari waktu ke waktu tapi pemilihan lokasi ritel tetap menjadi salah satu elemen penting untuk menentukan kesuksesan dalam bisnis ritel. Dalam studi kasus ini, Arkana Group sebagai operator dari berbagai brand internasional dimana menjangkau berbagai macam kebutuhan konsumen di Indonesia, dimana salah satu tantangannya adalah dalam memilih lokasi ritel yang optimal dan sejalan dengan strategi tujuan dari suatu brand. Biaya premis, lokasi, perilaku konsumen dan pemangku kepentingan adalah pertimbangan penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan lokasi ritel. Salah satu tantangannya adalah kurangnya standar dan data pendukung sebagai pendekatan dalam menentukan lokasi ritel. Saat ini keputusan-keputusan sering terpengaruh berdasarkan pengalaman manajemen dan histori data perusahaan, dimana menjadi formalitas daripada tolak ukur perusahaan. Alhasil, bias subjektif dan penilaian yang tidak konsisten di berbagai divisi menjadi penilaian yang salah dalam pemilihan lokasi, kinerja toko-toko yang buruk, dan kerugian profit. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur dan objektif dalam pemilihan lokasi ritel pada konteks ekspansi multi-merek. Pendekatan metode campuran digunakan. Pertama, wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama termasuk Brand Manager, Business Development, dan Project Manager dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses yang ada serta kriteria utama. Temuan kualitatif kemudian disintesis dan disusun ke dalam model pengambilan keputusan multi-kriteria dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah kerangka pengambilan keputusan yang praktis untuk meningkatkan konsistensi, mengurangi bias subjektif, dan menyelaraskan antar pemangku kepentingan dalam pemilihan lokasi ritel. Di kemudian hari, kerangka yang baru tidak hanya untuk praktik para manajemen tapi bisa bahan diskusi akademik dalam pengambilan keputusan di pasar ritel yang sedang berkembang.
ANALISIS JADWAL SHUTDOWN DI CRUSHER MASTER PLANT STUDI KASUS DI PT FREEPORT INDONESIA
Divisi Mill Concentrating adalah salah satu divisi operasi di PT Freeport Indonesia yang memiliki peran penting dan fungsi signifikan pada pengolahan bebatuan sampai menjadi hasil akhir (konsentrat). Untuk menghasilkan konsentrat, bebatuan akan melalui berbagai proses dan peralatan. Serupa dengan divisi lain, biaya pengadaan peralatan dan pemeliharaannya termasuk sebagai elemen utama dalam pengoperasiannya. Di divisi Concentrating, ada pabrik yang bernama CRUSHER MASTER PLANT (CMP). Dalam sistem pabrik ini, ada tiga jalur untuk mengalirkan bijih yaitu South Train, North Train, and Middle Train. Saat ini, ada jadwal shutdown yang rutin dilakukan seminggu sekali selama 12-14 jam dengan tujuan untuk perawatan peralatan. Dalam project shutdown ini dibutuhkan tenaga tambahan dari sumber daya eksternal (kontraktor), sumber daya outsource tersebut akan digabungkan dengan sumber daya senior PTFI (karyawan) untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dikarenakan situasi perusahaan saat ini dan kebijakan perusahaan, tim maintenance CMP masih belum dapat merekrut karyawan baru untuk mengisi posisi kosong di dalam Bagan Organisasinya. Dengan hanya 34 karyawan, mereka perlu merawat lebih dari 200 peralatan di CMP. Oleh karena itu, mereka sangat kekurangan tenaga kerja senior untuk menyekesaikankan semua pekerjaan dalam program shutdown di CMP. Apalagi ditambah dengan lebih dari 94 tugas rutin yang perlu diselesaikan di setiap shutdown, dan jika ada permintaan tambahan pekerjaan maka beberapa tugas rutin harus dibatalkan. Kejadian ini telah berulang dan sangat berkontribusi dalam peningkatan Backlog yang belum dikerjakan. Dengan jumlah tugas cukup banyak dan belum dilakukan oleh tim perawatan, perubahan tipe perawatan terjadi di CMP menjadi perawatan reaktif (maintenance breakdown) yang berarti beberapa peralatan akan dirawat saat terjadi kegagalan. Pada akhirnya, akan meningkatkan shutdown tak terjadwal (downtime). Dengan demikian, perlu dikembangkan jadwal shutdown yang tepat untuk meningkatkan ketersediaan alat dan tonase. Berdasarkan diskusi kelompok terarah (FGD) secara internal dengan departemen Operasi, Pemeliharaan, dan Perencanaan di CMP, beberapa skenario telah diajukan seperti; mengubah jadwal shutdown, perubahan jadwal kerja bagi karyawan dan merekrut subkontraktor untuk melakukan beberapa tugas di CMP. Skenario tersebut dianalisis dengan metode SMART untuk mendapatkan hasil optimal. Umur liner, biaya kontraktor, biaya tenaga kerja, dan biaya material akan menjadi pertimbangan untuk menentukan skenario. Sedangkan prestasi keselamatan, pendapatan, retensi tenaga kerja, dan manajemen kelelahan akan menjadi keuntungan yang perlu dicapai. Skenario terbaik yang diambil adalah skenario 6 yaitu memakai jadwal kerja saat ini, yakni: lima hari kerja dan dua hari libur (5-2) dan menggabungkannya dengan mengalihkan dua jenis pekerjaan ke kontraktor yaitu pergantian roller di Belt Conveyor dan pergantian panel Deck di Primary Wet Screen, Secondary Wet Screen dan tertiary Dry Screen yang. Yang terakhir adalah merubah jadwal shutdown menjadi satu kali per dua minggu. Skenario ini merupakan pilihan yang efisien dengan pencapaian tertinggi berdasarkan analisis SMART. Dengan skenario ini, walaupun biaya untuk kontraktor meningkat 48% namun untuk atribut lainnya meningkat sebagai berikut: kinerja keselamatan meningkat 60%, retensi tenaga kerja meningkat 40%, manajemen kelelahan meningkat 60%, dan terakhir pendapatan meningkat 4%.
PENENTUAN RANKING POTENSI WKP PLN DENGANMULTI CRITERIA DECISION ANALYSIS (MCDA) MELALUI GABUNGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) – WEIGHTED DECISION MATRIX (WDM)
Abstrak dapat dilihat pada file
STRATEGI PENANGANAN RISIKO KETERLAMBATAN PENGADAAN TANAH PADA PROYEK KERJA SAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA (KPBU) JALAN TOL DI INDONESIA
Pengadaan tanah merupakan tahap kritis dalam pembangunan infrastruktur dan menjadi sumber risiko utama pada proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sektor jalan tol di Indonesia. Keterlambatan pengadaan tanah dapat mengganggu keberlangsungan proyek KPBU jalan tol, baik dari sisi waktu pelaksanaan, pembiayaan, maupun kelayakan investasi proyek. Jika masalah ini tidak ditangani, dapat berpotensi meningkatkan biaya proyek dan menurunkan minat investor. Keterbaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan aspek finansial, regulasi, dan kontraktual dalam perumusan strategi. Selain itu, penelitian ini memberikan pemodelan finansial yang realistis terhadap skenario keterlambatan pengadaan tanah yang selama ini belum banyak dikaji secara mendalam dalam penelitian sebelumnya. Penelitian ini juga memberikan pendekatan berbasis risiko yang lebih aktual karena melalui proses validasi dari sudut pandang regulator, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), dan Badan Usaha untuk memperoleh strategi yang mampu menjawab permasalahan keterlambatan pengadaan tanah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dampak keterlambatan pengadaan tanah pada proyek KPBU sektor jalan tol, memperoleh hasil analisis kajian dari aspek regulasi dan kontraktual, dan merumuskan strategi penanganan risiko keterlambatan pengadaan tanah pada proyek KPBU jalan tol yang sesuai dengan prinsip implementasi KPBU. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods). Analisis kuantitatif dilakukan dengan membuat pemodelan finansial dan analisis sensitivitas durasi keterlambatan 1 hingga 6 tahun terhadap Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), serta pemodelan berbagai skema kompensasi eksisting. Pendekatan kualitatif meliputi gap analysis aspek regulasi dan kontraktual serta validasi strategi melalui wawancara dengan regulator dan pelaku. Analisis pemodelan finansial Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan dan Jalan Tol Semarang–Demak menunjukkan bahwa keterlambatan pengadaan tanah selama 1 iii hingga 6 tahun dapat mengakibatkan penurunan nilai kelayakan finansial, baik dari sisi Net Present Value (NPV) maupun Internal Rate of Return (IRR). Hal tersebut berdampak pada perubahan status kelayakan proyek. Beberapa skema kompensasi telah diterapkan untuk mengurangi dampak tersebut, seperti perpanjangan masa konsesi, penyesuaian tarif tol, dan kompensasi tunai. Akan tetapi bentuk kompensasi tersebut belum sepenuhnya efektif untuk menjaga kelayakan proyek, terutama apabila durasi keterlambatan pengadaan tanah terlalu panjang. Meninjau hasil analisis kesenjangan dari aspek regulasi dan kontrak, diperoleh hasil bahwa Dokumen PPJT eksisting belum secara optimal mengatur mekanisme mitigasi risiko pengadaan tanah. Beberapa klausul masih bersifat umum dalam mengatur kompensasi dan tanggung jawab masing-masing pihak. Selain itu, perlu adanya pertimbangan terkait urgensi penggunaan jaminan risiko keterlambatan pengadaan tanah. Risiko pengadaan tanah adalah risiko yang paling tepat dialokasikan kepada Pemerintah sehingga pihak Badan Usaha seharusnya tidak memerlukan jaminan tambahan dan membayar biaya imbal jasa penjaminan. Hal tersebut bertujuan untuk menekankan prinsip KPBU berupa kerja sama dalam bentuk partnership sehingga seluruh risiko proyek dialokasikan secara adil dan tepat. Oleh karena itu, diperlukan strategi penanganan yang lebih sistematis dan terukur, baik dari sisi finansial, regulasi, dan kontraktual. Kombinasi ketiga aspek tersebut menghasilkan objektif strategi yang kemudian diturunkan menjadi strategi jangka pendek dan jangka panjang. Strategi tersebut diperoleh melalui tahapan kajian literatur praktik implementasi internasional dan analisis kesenjangan. Strategi penanganan risiko keterlambatan pengadaan tanah yang dapat dilakukan di Indonesia adalah penggunaan kombinasi skema kompensasi dan pembentukkan Satuan Tugas khusus untuk proyek yang sudah berjalan. Dalam jangka panjang ke depannya, diperlukan pihak regulator yang jujur, independen, dan profesional serta diperlukannya kemampuan perencanaan yang tinggi pada pihak asset manager, dilakukannya harmonisasi regulasi lintas sektoral dan kementerian, pengembangan sistem terintegrasi lintas sektoral, penyempurnaan sistem pendataan dan inventarisasi tanah, pelaksanaan capacity building, penggunaan konsep dynamic pricing, reformasi dan harmonisasi regulasi, serta konsiderasi penggunaan skema pembelian jalan tol siap beroperasi. Strategi-strategi tersebut dapat diimplementasikan pada proyek KBPU Jalan Tol di Indonesia dengan batasan proyek BOT solicited. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan kebijakan pengadaan tanah proyek KPBU sektor jalan tol. Strategi yang diusulkan dapat meningkatkan kualitas regulasi, efisiensi proyek, serta kepercayaan investor terhadap kepastian hukum dan kebijakan Pemerintah di Indonesia. Temuan ini juga diharapkan mampu menjadi dasar pengembangan sistem monitoring dan evaluasi digital pengadaan tanah di masa mendatang.
PEMILIHAN PEMASOK KAIN PARASUT UNTUK MEREK FESYEN TAHAP AWAL MENGGUNAKAN WEIGHTED SUM MODEL: STUDI KASUS CHUTE UP
Industri fesyen di Indonesia sedang berkembang pesat, dengan estimasi nilai sebesar USD 8,75 miliar pada tahun 2025. Dengan pertumbuhan yang pesat ini, muncul tekanan bagi perusahaan fesyen untuk mengambil strategi yang efisien agar tetap kompetitif, termasuk mengoptimalkan proses pemilihan pemasok mereka. Bagi Chute Up, sebuah merek fesyen yang memproduksi jaket parasut 3-in-1 yang dapat diubah bentuk, pemilihan pemasok kain parasut sangat penting dalam hal kualitas produk, efisiensi biaya, dan ketepatan waktu produksi. Penelitian ini menggunakan Weighted Sum Model (WSM) untuk membantu pengambilan keputusan yang terstruktur dalam pemilihan pemasok. Weighted Sum Model memungkinkan perbandingan antar alternatif berdasarkan evaluasi yang diberi bobot. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kualitas, biaya, pengiriman, keandalan, keberlanjutan, dan kapasitas, yang diperoleh melalui tinjauan literatur dan divalidasi melalui wawancara dengan para eksekutif tingkat C dari Chute Up. Setiap kriteria diberikan bobot berdasarkan penilaian para eksekutif, dengan kualitas (0.308) dan biaya (0.283) ditemukan sebagai yang paling penting, diikuti oleh pengiriman (0.133), keberlanjutan (0.116), kapasitas (0.083), dan keandalan (0.075). Tiga pemasok yang masuk daftar pendek (BLT, AMZ, dan BRL) dinilai untuk masing-masing kriteria, dan hasilnya dihitung menggunakan metode perhitungan WSM. Berdasarkan skor akhir berbobot, BRL memperoleh skor tertinggi yaitu 84.79, diikuti oleh AMZ (69.93) dan BLT (66.08). Oleh karena itu, BRL direkomendasikan sebagai pemasok kain parasut yang paling sesuai untuk produksi batch selanjutnya milik Chute Up. Temuan dari penelitian ini memberikan kerangka kerja yang praktis untuk pemilihan pemasok pada bisnis fesyen skala kecil dan menunjukkan penerapan Weighted Sum Model dalam pengambilan keputusan bisnis yang nyata.
PEMILIHAN VENDOR LOKAL POLYETHYLENE TEREPHTHALATE (PET) UNTUK AHATEX
Penelitian ini mengatasi tantangan strategis dalam pemilihan vendor limbah PET (Polyethylene Terephthalate) untuk AHATEX di tengah pesatnya pertumbuhan industri daur ulang plastik Indonesia. PET yang dikenali dengan kode daur ulang #1 merupakan polimer termoplastik serbaguna yang banyak digunakan dalam botol minuman, kemasan makanan, dan serat tekstil berkat rasio kekuatan-terhadap-berat yang unggul, kejernihan, serta kemampuannya didaur ulang. Pasar PET Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan signifikan dengan valuasi mencapai $1,2 miliar pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh 4,88% CAGR hingga 2026, didorong oleh meningkatnya kesadaran lingkungan dan inisiatif keberlanjutan pemerintah. Penelitian ini menerapkan pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) terstruktur menggunakan Weighted Sum Method (WSM) dengan bobot yang sama, yang biasa disebut sebagai metode Simple Additive Weighting (SAW) dan pembobotan kriteria Mean Weight (MW) untuk memastikan evaluasi yang objektif. Lima parameter kunci pemilihan vendor diidentifikasi melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan jajaran eksekutif AHATEX: kapasitas produksi, standar kualitas material, daya saing harga, kedekatan geografis dengan operasional AHATEX di Bandung, serta keandalan pengiriman. Pengumpulan data dilakukan melalui tinjauan literatur komprehensif terhadap tolok ukur industri daur ulang dan wawancara mendalam dengan tim eksekutif AHATEX. Analisis terhadap tiga vendor terpilih (IJP, MSP, MST) menunjukkan IJP sebagai mitra optimal (skor WSM: 0,90) dengan keunggulan khusus dalam efisiensi logistik dan kinerja rantai pasok yang konsisten. MST muncul sebagai opsi sekunder yang kuat (0,79) dengan skalabilitas produksi yang unggul, sementara MSP (0,59) menunjukkan keterbatasan dalam kapasitas operasional. Penelitian ini menyediakan kerangka kerja yang dapat direplikasi untuk penilaian vendor di sektor daur ulang, sekaligus menegaskan pentingnya strategis solusi ekonomi sirkular PET dalam lanskap keberlanjutan Indonesia yang terus berkembang. Temuan ini mendukung transisi AHATEX dari manufaktur garmen menjadi pemain kunci dalam rantai nilai valorisasi limbah plastik di Indonesia, selaras dengan tren global menuju pengelolaan material berkelanjutan.
EVALUASI INVESTASI KILANG: KASUS ALTERNATIF PADA PROYEK KEPATUHAN DALAM MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN
Kelayakan proyek terus berkembang dan matang seiring dengan perkembangan proyek, dan pemilik selalu mengambil kesempatan untuk meninjau kelayakan proyek selama review gerbang proyek FEL2 dan FEL-3. Menavigasi kelayakan sebuah proyek kepatuhan mungkin lebih rumit dan menghadapi berbagai ketidakpastian, karena sifatnya yang berorientasi mengikuti tujuan wajib yang diberikan oleh pemerintah, sehingga dalam beberapa kasus kelayakan proyek bisa jatuh di bawah ambang batas kelayakan. Studi ini berfokus pada bagaimana kelayakan proyek pengolahan bensin (gasoline hydrotreating) di Plaju, Indonesia, yang merupakan proyek kepatuhan dengan tujuan memenuhi persyaratan sulfur rendah dari pemerintah, dapat mencapai tingkat ambang ekonomi dengan menentukan strategi rescoping melalui kombinasi antara Proses Hierarki Analitik (AHP) dan metodologi penilaian opsi nyata (ROV). Studi ini menguraikan kombinasi antara AHP, sebuah alat proses pengambilan keputusan untuk mencari aksi terbaik, dan ROV, alat penilaian opsi nyata yang akan meningkatkan tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan dalam menyetujui proyek kepatuhan di Indonesia. ROV mengakui adanya fleksibilitas dan ketidakpastian, dan memberi pemilik proyek opsi—bukan kewajiban—untuk mengambil tindakan seperti menunda, memperluas, atau membatalkan berdasarkan bagaimana kondisi berkembang. Kemampuan untuk mempelajari risiko di depan sendiri menunjukkan bahwa kondisi yang akan mempengaruhi langsung kelayakan proyek dan kemampuan untuk mengubah perilaku berdasarkan pembelajaran tersebut dapat menjadi alat penilaian risiko yang sempurna. Menurut Damodaran (1995), berbeda dengan pendekatan yang fokus pada risiko downside (nilai yang disesuaikan risiko), opsi nyata (simulasi dan decision tree) membawa pandangan yang optimis terhadap ketidakpastian. Opsi untuk menunda teridentifikasi sebagai alternatif terbaik, dan kasus alternatif analisis penganggaran modal dibuat. Untuk model kasus alternatif, analisis DCF terdiri dari model arus kas dan perhitungan BCR, dilanjutkan dengan pengujian sensitivitas terhadap parameter proyek dan analisis probabilitas BCR menggunakan analisis Monte Carlo. Penundaan selama 3 tahun dianggap cukup bagi pemilik untuk meninjau kembali lingkup proyek dan diharapkan terdapat pengurangan biaya utama dalam kasus alternatif ini. Perubahan konfigurasi yang berdampak pada sedikit perubahan spesifikasi produk dari maksimal 10 wtppm hingga 50 wtppm sulfur. Melihat hasil dari kasus penundaan 3 tahun dan penundaan 3 tahun ditambah rescoping, pengurangan CAPEX sebesar 155 juta USD, memberikan nilai opsi sebesar 18,5 juta USD, dan meningkatkan Extended NPV sebesar 60,09 juta USD. NPV ekstended yang positif menunjukkan bahwa menunda dan merescope definisi proyek merupakan keputusan investasi yang baik.
SELECTING THE BEST SERVICE PROVIDER FOR CASH REPLENISHMENT & FIRST LEVEL MAINTENANCE ATM PROCUREMENT PROJECT AT BANK BJB USING ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Tidak ada deskripsi.
PENINGKATAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN ALTERNATIF DESAIN KONSTRUKSI PROYEK JALAN TOL TINGGI UTARA STUDI KASUS PT XYZ
Penelitian ini membahas ketidakefisienan dalam proses pengambilan keputusan PT XYZ dalam pemilihan desain dasar proyek Jalan Tol Layang Utara (NETR). Pendekatan sebelumnya yang hanya berfokus pada aspek biaya dinilai mengabaikan faktor penting lainnya seperti dampak lingkungan, implikasi sosial, kompleksitas konstruksi, dan proses pembebasan lahan. Melalui penerapan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Value Engineering (VE), studi ini mengusulkan model pengambilan keputusan yang lebih komprehensif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner mendalam dan diskusi kelompok terarah (FGD) bersama para pemangku kepentingan utama di PT XYZ. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya kerangka kerja multi-kriteria guna menghindari keterlambatan proyek, meminimalkan risiko, dan meningkatkan kelayakan jangka panjang. Dengan menggabungkan kriteria finansial dan non-finansial, studi ini berhasil mengidentifikasi alternatif desain paling tepat dan menyusun rencana implementasi untuk pelaksanaannya. Model ini diharapkan dapat mendukung keputusan infrastruktur yang lebih akuntabel dan strategis, baik di PT XYZ maupun perusahaan sejenis pada proyek-proyek selanjutnya.