📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN PADA TAMBANG TERBUKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN PADA PIT “X”, KABUPATEN BARITO UTARA, KALIMANTAN TENGAH, PT PAMAPERSADA NUSANTARA
Lereng merupakan komponen penting dalam pertambangan terbuka. Dalam hal ini, pada Pit “X” yang terletak pada Cekungan Barito pada Formasi Tanjung perlu dilakukan analisis dalam mengoptimalkan kegiatan penambangan dan menjamin keselamatan. Perlu adanya analisis kestabilan lereng dalam pelaksanaannya sehingga pertambangan dapat aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi, karakterisasi massa batuan, mengetahui potensi jenis longsoran pada lereng, dan menganalisis Faktor Keamanan (FK) lereng, serta memberikan rekomendasi optimisasi pada lereng. Metode penelitian yang mencakup pemetaan lapangan, survei talipindai, Rock Mass Rating (RMR), Slope Mass Rating (SMR), analisis kinematik, dan metode kesetimbangan bata menggunakan perangkat lunak Slide2. Pemodelan dengan menggunakan kriteria keruntuhan Generalized Hoek-Brown. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas satuan batulanau A, satuan batupasir, satuan batulempung A, satuan batulanau B, dan satuan batulempung B. Kualitas massa batuan berdasarkan nilai RMR pada setiap lereng memiliki kelas III (fair rock) dengan rentang 46,826 sampai dengan 52,812. Potensi longsoran pada lereng bervariasi antara wedge sliding, oblique toppling, dan planar sliding. Sementara nilai SMR pada setiap lereng memiliki nilai 43,023 sampai 53,869 dengan klasifikasi kelas III (normal) dengan stabilitas yang dikategorikan sebagai partially stable. Dalam analisis metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa penampang A-A’, C-C’, dan E-E’ highwall memiliki kondisi tidak aman pada kondisi jenuh sepenuhnya, sementara penampang B-B’, D-D’, dan E-E’ lowwall memiliki kondisi yang aman. Nilai FK yang ada mengharuskan lereng dioptimisasi agar dapat lebih aman dan ekonomis dalam penambangannya. Rekomendasi yang dilakukan dengan mengubah bentuk geometri, mengubah sudut, dan menambah lereng tunggal pada area pertambangan.
OPTIMASI REKOMENDASI STABILISASI LERENG SIDEWALL MENGGUNAKAN MATRIKS IMPACT-EFFORT DI PT XYZ
Analisis kestabilan lereng bertujuan untuk mengetahui apakah suatu lereng dalam kondisi stabil atau tidak dengan menggunakan parameter nilai faktor keamanan (FK) dan probabilitas kelongsoran (PK) berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018. Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan analisis kestabilan lereng sidewall PT XYZ di Kalimantan Timur menggunakan perangkat lunak Rocscience Slide2 dengan kondisi muka air tanah jenuh, nilai tekanan air pori (Hu) sebesar 1 dan pembebanan seismik sebesar 0.045 g. Metode analisis yang digunakan adalah metode kesetimbangan batas Bishop dengan tipe longsoran circular. Hasil analisis kestabilan lereng menunjukkan nilai FK dinamis 0.4 dan PK 100% yang tidak memenuhi kriteria FK dinamis minimum sebesar 1.1 dan PK maksimum sebesar 5%. Oleh karena itu, diperlukan rekomendasi stabilisasi lereng agar dapat memenuhi nilai FK dinamis minimum dan PK maksimum. Dibuat sebanyak tiga skenario rekomendasi stabilisasi lereng menggunakan parameter penurunan sudut lereng, penurunan tinggi lereng, penurunan muka air tanah, dan penambahan bench. Tiga skenario tersebut kemudian dilakukan analisis nilai FK dan PK lalu dianalisis menggunakan Matriks Impact-Effort untuk menentukan rekomendasi skenario mana yang optimal. Skenario optimal yang dipilih yaitu skenario ke-2. Diperoleh nilai FK 1.65 dan PK 2.5% dengan bobot nilai impact sebesar 4.00. dan effort sebesar 1.00
ANALISIS KESTABILAN LERENG TIMBUNAN IN-PIT DUMP PT ARUTMIN INDONESIA TAMBANG ASAMASAM PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Kajian geoteknik dalam hal kestabilan lereng tambang merupakan aspek yang sangat penting dalam menunjang aktivitas penambangan. Penelitian ini menganalisis kestabilan lereng timbunan di area in-pit dump PT Arutmin Indonesia Tambang Asamasam dengan menggunakan metode Kesetimbangan Batas (LEM) dan Metode Elemen Hingga (FEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa desain awal tidak memenuhi nilai minimum Faktor Keamanan (FK), dengan hasil yaitu 1.023 (statis) dan 0.908 (dinamis), serta deformasi yang cukup besar sehingga direkomendasikan modifikasi geometri lereng. Perubahan rancangan berupa penurunan tinggi jenjang menjadi 8 meter pada tiga jenjang terbawah dan pelebaran pada jenjang terbawah terbukti meningkatkan FK dan menurunkan deformasi secara signifikan, dengan nilai FK statis dan dinamis, serta deformasi statis dan dinamis secara berurutan adalah 1.361 dan 1.185; serta 5.7 cm dan 12.4 cm. Desain pengembangan hingga Blok B15 dan B14 juga dievaluasi, menghasilkan rekomendasi lereng yang aman secara teknis dengan FK statis dan dinamis, serta deformasi statis dan dinamis secara berurutan adalah 1.332 dan 1.139; serta 3.8 cm dan 9.3 cm untuk Blok B15, sedangkan pada Blok B14 bernilai 1.319 dan 1.122; serta 2.9 cm dan 4.2 cm. Penyesuaian desain khususnya dilakukan di sekitar zona lumpur sebagai bidang lemah utama dengan pendekatan konservatif untuk menghindari potensi longsor akibat beban vertikal berlebih.
ANALISIS KESTABILAN LERENG TAMBANG BATUBARA MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DI PIT X, KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Kestabilan lereng merupakan aspek krusial dalam operasi tambang terbuka batubara di Pit X, yang secara geologis terletak di Cekungan Asam-Asam dan didominasi oleh litologi Formasi Warukin. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya indikasi ketidaksesuaian antara data geoteknik yang ada dengan kondisi pemantauan di lapangan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kondisi geologi, mengkarakterisasi massa batuan, menganalisis Faktor Keamanan (FK) dan Probabilitas Keruntuhan (PK), serta merumuskan rekomendasi geoteknik. Metode penelitian mencakup survei talipindai untuk rock mass rating dan analisis kestabilan lereng dengan metode kesetimbangan batas (Morgenstern-Price) menggunakan perangkat lunak Slide2. Pemodelan menggunakan kriteria keruntuhan Generalized Hoek-Brown dan Mohr-Coulomb yang dianalisis secara deterministik dan probabilistik (Monte-Carlo) untuk skenario statis, dinamis, serta kondisi muka airtanah aktual dan jenuh penuh pada lima penampang (AA’, BB’, CC’, DD’, dan EE’) Hasil analisis menunjukkan daerah penelitian tersusun atas satuan batulempung dan batupasir-batulempung (Formasi Warukin Atas) dengan kemiringan lapisan 15–20°. Kualitas massa batuan tergolong Kelas II (good Rock) dan III (fair Rock) dengan rentang RMR 49 hingga 69. Pada kondisi statis aktual, lereng keseleuruhan pada penampang BB', CC', dan DD' highwall tidak memenuhi standar keamanan. Kondisi jenuh penuh terbukti signifikan menurunkan stabilitas pada beberapa skenario yang diuji. Oleh karena itu, dirumuskan dua jenis rekomendasi utama yaitu rekayasa geometri berupa pelandaian lereng dan pelebaran jenjang yang terbukti mampu menaikkan nilai FK dan menurunkan PK hingga memenuhi standar, serta manajemen airtanah melalui pembuatan sumur pantau dan saluran drainase vertikal atau horizontal untuk mengantisipasi risiko pada kondisi jenuh.
ANALISIS KESTABILAN LERENG OPERASIONAL PENAMBANGAN BATUBARA BERDASARKAN DESAIN LIFE OF MINE (LOM) PT XYZ, KALIMANTAN TIMUR
PT XYZ merupakan perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur. Saat ini, PT XYZ ingin mengembangkan wilayah penambangannya untuk memaksimalkan perolehan cadangan, sehingga dirancang desain Life of Mine (LOM) untuk pit baru di PT XYZ. Namun, desain LOM tersebut belum diuji keamanannya secara aspek geoteknik. Lereng dalam desain LOM tersebut terdiri dari low wall, high wall, side wall, dan waste dump. Kemudian, dibuat lima penampang dari desain LOM untuk dilakukan analisis kestabilan lereng dengan terlebih dahulu mengorelasikan lapisan litologi yang ada dengan data-data log bor yang tersedia di sekitar lima penampang tersebut. Analisis kestabilan lereng perlu dilakukan dengan menentukan nilai Faktor Keamanan (FK) secara statis dan dinamis serta nilai Probabilitas Kelongsoran (PK) yang telah sesuai berdasarkan batas minimum pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018. Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan perangkat lunak Slide2 dimana pada low wall dilakukan perhitungan dengan metode Janbu dan lereng lainnya dilakukan perhitungan dengan metode Bishop. Material properties yang digunakan untuk perhitungan FK merupakan data hasil uji lab pada sampel yang diperoleh dari bor geoteknik dengan faktor pembebanan 0,05 g. Untuk perhitungan PK, data hasil uji lab diolah terlebih dahulu dengan metode Kolmogorov-Smirnov untuk pengujian normalitas. Dari hasil analisis, dari kelima penampang pada desain LOM disimpulkan 1 penampang (low wall) tidak aman dan 4 penampang aman berdasarkan peraturan yang ada. Maka dari itu, perlu dilakukan redesain pada LOM bagian low wall dengan tinggi lereng tunggal 12,5 meter, lebar bench 20 meter, dan kemiringan 23????.
ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGHWALL TAMBANG BATUBARA PIT A PT XYZ DI SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR
Kegiatan pertambangan sering dihadapi dengan permasalahan kestabilan lereng berupa longsoran maupun runtuhan. PT XYZ sedang melakukan penambangan batubara menggunakan metode open pit dan telah dirancang suatu bukaan tambang sampai batas akhir sehingga terbentuk desain Ultimate Pit Limit (UPL). Salah satu aspek penting dalam perencanaan tambang ialah geoteknik tambang. Analisis kestabilan suatu lereng tambang direpresentasikan pada tingkat kestabilan lereng berupa nilai Faktor Keamanan (FK) dengan tujuan untuk mengetahui lereng tersebut aman atau tidak aman berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827K/30/MEM/2018 dengan kriteria minimum FK yaitu FK statis ? 1,3 dan FK dinamis ? 1,1.Metode analisis kestabilan lereng yang digunakan pada penilitian tugas akhir ini adalah metode elemen hingga dengan pendekatan shear reduction factor sesuai kriteria keruntuhan mohr - coulomb menggunakan perangkat lunak Rocscience RS2. Pemodelan lereng didapatkan berdasarkan data – data masukkan seperti topografi, litologi batuan, desain pit, penampang melintang, dan data hasil uji laboratorium. Asumsi – asumsi yang digunakan pada analisis kestabilan lereng ini ialah nilai tekanan air pori sebesar 1; 0,6; dan 0,4; faktor pembebanan alat berat pada lereng sebesar 0,3 MPa, serta nilai faktor kegempaan sebesar 0,05g. Analisis awal dilakukan pada desain lereng highwall rencana yang menghasilkan nilai FK statis ? 1,3 dan FK dinamis ? 1,3 sehingga lereng tersebut dikategorikan tidak stabil dan tidak aman. Maka dari itu, dilakukan perubahan rancangan lereng dengan memberikan 2 (dua) alternatif, yaitu alternatif pertama dengan melakukan perubahan geometri lebar jenjang menjadi 15 meter, mengubah single slope menjadi 40 derajat, dan mengurangi tekanan air pori menjadi Hu sama dengan 0,6 serta alternatif 2 dengan melakukan perubahan geometri lebar jenjang menjadi 15 meter serta meengurangi tekanan air pori menjadi Hu sama dengan 0,4. Berdasarkan alternatif yang diberikan didapatkan nilai FK statis dan FK dinamis untuk lereng alternatif 1 (satu) berturut – turut sebesar 1,64 dan 1,13 serta nilai FK statis dan FK dinamis untuk lereng alternatif 2 (dua) berturut – turut sebesar 1,42 dan 1,1. Jika mengacu pada kriteria Faktor Keamanan sesuai Keputusan Menteri ESDM 1827K/30/MEM/2018 lereng alternatif 1 (satu) dan 2 (dua) dapat dikategorikan aman dan stabil sehingga terhindar dari kelongsoran.
ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGHWALL AKTUAL DI PIT X, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batubara Indonesia pada 2023 mencapai 775 juta ton. Angka ini meningkat sebesar 13% dari realisasi produksi pada tahun 2022. Peningkatan produksi ini meningkatkan aktivitas pekerjaan dalam tambang batubara. Dengan begitu area tempat kerja harus sesuai dengan K3L yang berlaku sehingga kestabilan pada lereng tambang menjadi penting. Maksud dari penelitian kali ini adalah mengaplikasikan teori ilmu geologi dan geologi teknik untuk menganalisis kestabilan lereng highwall aktual di Pit X, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan metode klasifikasi massa batuan rock mass rating (RMR) dan slope mass rating (SMR), metode kinematik, dan metode analitik kesetimbangan batas. Survei talipindai dilakukan pada lima lokasi yang memiliki litologi bervariasi antara batubara, batupasir, dan batulempung. Hasil perhitungan dengan metode RMR menunjukkan bahwa lokasi SCP-01, SCP- 03, dan SCP-05 termasuk dalam kelas III (Fair Rock), sedangkan pada SCP-02 dan SCP-04 termasuk ke dalam kelas II (Good Rock). Hasil perhitungan dengan metode SMR menunjukkan bahwa lereng SCP-01, SCP-03, dan SCP-05 termasuk dalam kelas III (Normal/Partially Stable) dengan potensi keruntuhan 40%, sedangkan pada SCP-02 dan SCP-04 termasuk dalam kelas II (Good/Stable) dengan probabilitaas keruntuhan 20%. Potensi jenis runtuhan tertinggi berdasarkan analisis kinematik pada SCP-01, SCP-02, dan SCP- 05 adalah jungkiran, pada SCP-03 adalah planar, sedangkan pada SCP-04 adalah baji. Berdasarkan analisis dengan metode kesetimbangan batas, nilai faktor keamanan pada penampang 1 hingga 5 secara umum sudah lebih dari 1,3 (stabil), namun pada penampang 4 dan 5 dalam skenario 4 (tinggi muka airtanah 80% dari tinggi lereng) dan penampang 1, 4, dan 5 dalam skenario 5 (tinggi muka airtanah 100% dari tinggi lereng) memiliki nilai faktor keamanan kurang dari 1,3 (tidak stabil).
EVALUASI KESTABILAN LERENG ANDESIT MENGGUNAKAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN DAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DI KAWASAN GUNUNG BATU DAN GRAHA PUSPA, KABUPATEN BANDUNG BARAT, JAWA BARAT
Fakta bahwa Jawa Barat memiliki kerawanan tinggi terhadap longsoran, potensi bahaya gempa akibat aktivitas sesar, dan merupakan provinsi dengan populasi tertinggi di Indonesia mendorong dilakukannya penelitian mengenai potensi longsoran yang dipicu oleh gempa di lokasi tersebut. Sebuah penelitian dilakukan untuk menentukan kestabilan lereng andesit yang berada di kawasan Gunung Batu dan Graha Puspa, Kabupaten Bandung Barat menggunakan klasifikasi massa batuan dan metode kesetimbangan batas. Data yang digunakan meliputi hasil uji properti batuan, hasil deskripsi sayatan tipis batuan, referensi mengenai kegempaan regional, hasil survei kekerasan batuan, hasil survei talipindai, dan foto drone. Metode yang digunakan meliputi studi literatur (mengenai geologi dan kegempaan regional, teknik pemerolehan dan pengolahan data, serta teknik analisis dan evaluasi), pencarian data sekunder (hasil uji properti batuan dan hasil deskripsi sayatan tipis batuan), survei kekerasan batuan, survei talipindai, pengambilan foto drone, klasifikasi massa batuan menggunakan Rock Mass Rating (RMR), analisis kinematika diskontinuitas, analisis pengaruh gempa, analisis kestabilan lereng menggunakan Slope Mass Rating (SMR) (empirik) dan metode kesetimbangan batas (deterministik), serta evaluasi kestabilan lereng. Lereng andesit di Gunung Batu dan Graha Puspa memiliki nilai RMR 74-81 yang termasuk dalam kategori massa batuan baik-sangat baik. Parameter desain dan properti keteknikan yang dapat diterapkan pada lereng andesit di kedua lokasi tersebut adalah sebagai berikut: kohesi massa batuan 0,3-0,4 hingga >0,4 MPa, sudut geser dalam massa batuan 35-45 hingga >45°, dan sudut pemotongan lereng yang aman 65 hingga >70°. Lereng GB-01, GB-02, GB-03, GP-02, dan GP-03 memiliki potensi keruntuhan tipe guling, sementara lereng GP-01 memiliki potensi keruntuhan tipe baji. Lereng andesit di Gunung Batu dan Graha Puspa memiliki nilai SMR 72-96 yang termasuk dalam kelas I-II. Lereng dengan kategori tersebut memiliki karakteristik stabil-sangat stabil, memiliki kemungkinan keruntuhan blok hingga tak ada keruntuhan, serta probabilitas keruntuhan 0,2-0. Hampir tidak ada perkuatan mayor yang diperlukan. Terdapat beberapa opsi perkuatan minor yang dapat diterapkan, seperti scaling, toe ditch, fence, dan spot bolting. Lereng GP-02 tidak dapat dimodelkan kestabilannya karena memiliki kemiringan diskontinuitas yang sangat kecil (ditolak oleh sistem peranti lunak keruntuhan guling). Pada kondisi faktual (kering-statik), semua lereng di Gunung Batu dan Graha Puspa berada pada kondisi stabil (faktor keamanan (FK) ? 1,1). Secara umum, semua lereng mengalami kenaikan nilai FK ketika lereng divariasikan pada kondisi dengan urutan: jenuh-pseudostatik, jenuh-statik, kering-pseudostatik, kering-statik; kecuali lereng GB-03 (karena FK lereng tidak sensitif terhadap perubahan kh dan %w). Peningkatan FK yang ekstrem pada lereng GB-01 dan GP-03 disebabkan oleh konfigurasi diskontinuitas yang favorable terhadap kestabilan lereng. Di Gunung Batu, lereng GB-02 stabil di semua variasi kondisi kadar air, lereng GB-01 tidak stabil pada %w = 100 dengan kh ? 0,08 g, dan lereng GB-03 tidak stabil di semua variasi kondisi kadar air dengan kh ? 0,175 g (%w = 0), 0,15 g (%w = 50), dan 0,05 g (%w = 100). Lereng GB-02 stabil di semua variasi kondisi kegempaan, lereng GB-03 sepenuhnya tidak stabil pada kh = 0,15 g dan 0,3 g, serta lereng GB-01 tidak stabil pada kondisi yang sama dengan %w ? 92 (kh = 0,15 g) dan 70 (kh = 0,3 g). Di Graha Puspa, lereng GP-01 sepenuhnya tidak stabil pada %w = 100, lereng GP-03 tidak stabil pada kondisi yang sama dengan kh ? 0,09 g. Lereng GP-01 tidak stabil di semua variasi kondisi kegempaan dengan %w ? 93 (kh = 0 g), 80 (kh = 0,15 g), dan 60 (kh = 0,3 g) sementara lereng GP-03 tidak stabil pada kh = 0,15 g (%w ? 88) dan kh = 0,3 g (%w ? 58).
ANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA LERENG DOMAIN 7 FASE 8 TAMBANG BATU HIJAU, PT AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA
Tambang Batu Hijau menerapkan sistem penambangan terbuka dan saat ini memasuki penambangan fase 8. Penambangan fase 8 membuat penggalian semakin dalam sehingga membutuhkan analisis geologi teknik untuk menjamin kestabilan lereng. Lokasi penelitian berada pada area Domain 7 Tambang Batu Hijau. Penelitian ini menggunakan metode klasifikasi massa batuan, metode kinematik, serta metode kesetimbangan batas. Data yang digunakan adalah data primer berupa survei diskontinuitas serta data sekunder seperti piezometer, model rock mass rating (RMR) bawah permukaan, dan parameter keteknikan batuan. Pengambilan data diskontinuitas dilakukan dengan window mapping pada 30 titik di area Domain 7 yang termasuk ke dalam satuan Breksi Litik Vulkanik. Nilai RMR pada ke-30 titik tersebut bervariasi dari kelas II (massa batuan baik) hingga kelas IV (massa batuan buruk) dengan nilai 30-70. Analisis kinematik pada lima penampang (A, B, C, D, dan E) menunjukkan potensi longsoran terbesar adalah longsoran baji, dengan persentase masing-masing 2,5%; 5,42%; 2,84%; 4,64%; dan 1,1%. Analisis kesetimbangan batas dilakukan pada lima penampang lereng yang sama, dengan variasi musim (hujan dan kemarau) serta beban gempa (skenario tanpa beban gempa dan penambahan beban gempa). Lereng yang dianalisis untuk setiap penampang adalah keseluruhan lereng yang sudah terbentuk pada Domain 7 fase 8 serta tiga inter-ramp. Hasil analisis kesetimbangan batas menunjukkan bahwa kelima lereng termasuk stabil karena memenuhi nilai faktor keamanan minimum dan probabilitas keruntuhan maksimum yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827K/30/MEM/2018. Skenario dengan faktor keamanan terendah yaitu musim hujan dengan penambahan beban gempa dan skenario dengan faktor keamanan tertinggi adalah musim kemarau tanpa beban gempa.