📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 18 dokumen

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR ALFA-TOKOFEROL ASETAT DALAM SEDIAAN SERUM KOSMETIK MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Photoaging merupakan proses penuaan dini pada kulit yang disebabkan oleh akumulasi radikal bebas akibat paparan radiasi ultraviolet secara terus menerus. Salah satu senyawa antioksidan yang poten dan banyak digunakan untuk mencegah kerusakan kolagen serta menjaga kelembapan kulit adalah Vitamin E dalam bentuk turunannya yaitu ?-tokoferol asetat karena memiliki stabilitas fisikokimia yang lebih baik. Untuk menjamin efikasi, keamanan, dan perlindungan konsumen, kadar ?-tokoferol asetat di dalam sediaan kosmetik serum yang beredar dipasaran harus dipastikan kesesuaiannya dengan klaim etiket menggunakan metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis penetapan kadar ?-tokoferol asetat dalam sediaan serum kosmetik dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil optimasi menunjukkan metode yang optimum menggunakan spektrofotometer Beckman Coulter DU720, dengan kuvet kuarsa pada panjang gelombang maksimum 285 nm menggunakan pelarut etanol proanalisis. Hasil validasi metode menunjukkan spesifisitas yang baik dengan tidak adanya interferensi serapan komponen matriks serum blanko pada panjang gelombang maksimum analit. Linearitas dari metode pada rentang 50 – 175 ?g/mL dengan perolehan persamaan regresi y = 0,00442x – 0,0163, nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9996, dan nilai koefisien variansi regresi linear (Vx0) sebesar 1,259%. Batas deteksi dan batas kuantitasi dari metode adalah 4,674 dan 14,164 ?g/mL. Persentase perolehan kembali (% recovery) untuk sampel serum adalah 98,78 - 101,65%. Hasil presisi intraday dan interday seluruhnya memenuhi persyaratan dengan nilai %SBR ? 2% dan nilai HORRAT ? 2. Ketegaran metode baik dan memenuhi persyaratan. Penetapan kadar dengan menggunakan metode adisi standar tervalidasi menunjukkan kadar ?-tokoferol asetat pada produk komersial Sampel A, Sampel B, dan Sampel C berturut-turut adalah 0,402; 0,105; dan 4,188%. Dari nilai persentasi kadar tersebut, maka sampel A dan B memenuhi persyaratan rentang kelaziman ?- tokoferol asetat dalam sediaan serum dan sampel C memenuhi persyaratan konsentrasi zat aktif sebagai serum anti-aging.

2026
👤 Penulis: Yusriyah Maharani Malik
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS NITROSO DRUG SUBSTANCE-RELATED IMPURITIES (NDSRIS) PADA SEDIAAN CARVEDILOL TABLET DENGAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN UPLC MS-MS

Nitrosamine Drug Substance-Related Impurities (NDSRIs) merupakan cemaran genotoksik yang menjadi perhatian besar di kalangan industri farmasi karena sifat hazard tersebut. Carvedilol, senyawa yang mengandung gugus amina sekunder dalam strukturnya, berpotensi mengalami reaksi nitrosasi oleh pereaksi nitrosasi seperti nitrit selama proses sintesis, formulasi, atau penyimpanan, sehingga dapat membentuk cemaran N-Nitroso Carvedilol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode analisis yang valid untuk mendeteksi dan mengkuantifikasi cemaran N-Nitroso Carvedilol pada sediaan tablet carvedilol menggunakan instrumen Ultra Performance Liquid Chromatography–Mass Spectrometry/Mass Spectrometry (UPLC-MS/MS) dengan pendekatan Analytical Quality by Design (AQbD). Optimasi dilakukan terhadap parameter kritis instrumen MS, yaitu suhu desolvasi, capillary voltage, dan laju alir, dengan menggunakan Design of Experiments (DoE) dan Response Surface Methodology. Metode analisis dikembangkan untuk mendeteksi senyawa N-Nitroso Carvedilol, suatu cemaran nitrosamin yang memiliki dua bentuk atropisomer akibat adanya hambatan rotasi pada ikatan tunggal aromatiknya. Pemisahan dan kuantisasi kedua isomer dilakukan secara efisien menggunakan kolom L1, CORTECS C18+ (90 Å, 1,6 µm, 2,1 mm × 100 mm) dengan fase gerak berupa campuran 0,1% asam asetat dalam air dan metanol secara gradien, laju alir 0,25 mL/menit, dan suhu kolom 40 °C. Validasi metode menunjukkan nilai batas deteksi sebesar 0,25 ng/mL, batas kuantifikasi sebesar 1,0 ng/mL, serta linearitas yang baik dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,999 untuk kedua isomer. Nilai persen perolehan kembali masingmasing isomer adalah 98,8% dan 97,5%, dengan nilai Relative Standard Deviation (RSD) sebesar 2,1% dan 3,9%. Metode tersebut kemudian diaplikasikan untuk pengujian tablet Carvedilol, dan terbukti mampu mendeteksi keberadaan N-Nitroso Carvedilol secara selektif dan andal. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode analisis cemaran NNitroso Carvedilol berhasil didapatkan serta memenuhi kriteria validasi sehingga dapat diaplikasikan untuk pemantauan kualitas sediaan tablet.

2025
👤 Penulis: Septiana Akbar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Hidrologi

VALIDASI METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI UNTUK PENENTUAN KADAR METOTREKSAT DALAM PLASMA DARAH SEBAGAI BAGIAN DARI PEMANTAUAN TERAPI OBAT

Metotreksat (MTX) dosis tinggi merupakan komponen penting dalam kemoterapi berbagai keganasan, namun penggunaannya dibatasi oleh jendela terapi yang sempit dan risiko toksisitas parah. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) menjadi krusial untuk memandu terapi penyelamatan dan memastikan keamanan pasien. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang andal untuk kuantifikasi MTX dalam matriks biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) untuk penetapan kadar metotreksat dalam plasma darah manusia guna mendukung pelaksanaan PKOD yang efektif dan aman. Analisis dilakukan menggunakan sistem KCKT dengan detektor UV pada panjang gelombang 304 nm. Pemisahan kromatografi dicapai menggunakan kolom Enduro C18G (250 mm×4,6 mm, 5 ?m) dengan fase gerak yang terdiri dari campuran dapar fosfat 10 mM dan pelarut organik (metanol:asetonitril, 2:1 v/v) pada perbandingan 81:19 (v/v) secara isokratik. Sampel plasma dipreparasi menggunakan metode presipitasi protein dengan metanol. Validasi metode mencakup parameter selektivitas, linearitas, batas kuantifikasi, akurasi, presisi, rekoveri ekstraksi, efek matriks, dan stabilitas. Metode yang dikembangkan menunjukkan linearitas yang sangat baik pada rentang konsentrasi 0,044-11,00 ?M dengan koefisien determinasi (R2) 0,999. Batas kuantifikasi bawah (LLOQ) yang diperoleh adalah 0,066 ?M, yang secara klinis relevan untuk memantau klirens akhir obat di bawah ambang batas keamanan 0,1 ?M. Akurasi (% galat) dan presisi (% koefisien variasi) untuk analisis within-run dan between-run masing-masing berada di bawah 5% dan 9%. Rekoveri ekstraksi rata-rata melebihi 92% dan analit terbukti stabil pada kondisi bench-top, tiga siklus beku-cair, dan penyimpanan dalam autosampler selama 24 jam. Metode KCKT yang telah divalidasi ini terbukti selektif, akurat, presisi, dan andal untuk penetapan kadar metotreksat dalam plasma manusia. Metode ini memenuhi kriteria penerimaan berdasarkan pedoman internasional dan sesuai untuk diaplikasikan dalam layanan PKOD klinis.

2025
👤 Penulis: Ignatius Gilbert Syah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR TITANIUM DIOKSIDA DALAM SEDIAAN KOSMETIK ALAS BEDAK DENGAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM NYALA

Titanium dioksida banyak digunakan dalam produk kosmetik sebagai pigmen warna putih dan agen penyaring sinar UV untuk melindungi kulit dari radiasi ultraviolet. Sebagai tabir surya fisik, titanium dioksida bekerja dengan memblokir, memantulkan, dan menyebarkan sinar UVA dan UVB, sehingga membantu mencegah kerusakan DNA, penuaan dini, dan risiko kanker kulit. Penggunaan titanium dioksida dalam kosmetik harus memperhatikan batas konsentrasi aman terhadap penetrasi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi metode analisis penetapan kadar titanium dioksida dalam produk alas bedak menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom Nyala (SSA). Sistem destruksi sampel paling optimal menggunakan pelarut asam H?SO?, HNO?, dan HCl dengan penambahan KHSO? sebagai agen pengompleks. Parameter optimal SSA meliputi penggunaan lampu katoda Ti pada panjang gelombang 364,3 nm, arus 12 mA, lebar celah 0,7 nm, gas pembakar N?O/C?H?, laju alir 7,8 L/menit, waktu ukur 5 detik, dan waktu tunggu baca 3 detik. Metode tervalidasi menunjukkan selektivitas dan linearitas yang baik (rentang 25–200 ?g/mL; r = 0,9999), serta batas deteksi dan kuantitasi masing-masing sebesar 5,152 dan 15,613 ?g/mL. Hasil recovery berkisar antara 95,93%–98,09%, dan presisi intra dan antarhari memenuhi kriteria. Kadar titanium dioksida dalam enam sampel alas bedak berada pada kisaran 0,269% hingga 1,15%, dan telah memenuhi ketentuan BPOM yang mengizinkan penggunaan hingga 25%. Metode ini terbukti akurat, presisi, dan andal untuk analisis rutin dalam produk kosmetik.

2025
👤 Penulis: Daffa' 'Aziizah Putri Setiady
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PRODUKSI SORBITAN MONOOLEAT

Sorbitan monooloeat banyak digunakan sebagai surfaktan (pengemulsi) dalam berbagai produk kimia seperti, produk pembersih, kosmetik, farmasi hingga pangan. Sorbitol dan asam oleat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan sorbitan monooleat. Kandungan asam oleat yang terkadung di dalam minyak kelapa sawit memiliki nilai sebesar 37,3-40,8% yang berpotensi sebagai bahan baku dalam memproduksi sorbitan monooleat. Sorbitan monooleat diproduksi dengan reaksi esterifikasi. Pada reaksi esterifikasi, asam oleat direaksikan dengan sorbitol menggunakan katalis ZnO sehingga menghasilkan produk yaitu sorbitan monooleat. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi sorbitan monooleat pada skala laboraturium dengan sorbitol dan asam oleat sebagai reaktan dengan katalis ZnO. Reaksi esterifikasi dilakukan pada tekanan kurang dari 0,08 MPa dan suhu 210°C selama 3 jam. Variasi perbandingan mol asam oleat dan sorbitol 1,28; 1,11; 1 serta variasi konsentrasi katalis ZnO 0,1%-b; 0,2%-b; 0,3%-b; 0,4%-b. Sorbitan monooleat yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan beberapa parameter, yaitu angka asam, angka penyabunan, konversi reaksi, kadar air, serta analisis gugus fungsi dengan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan produk sorbitan monooleate dengan konsenstrasi katalis ZnO sebesar 0,4% memiliki angka asam terendah yaitu sebesar 4,7 mg-KOH/g. Sementara produk sorbitan dengan rasio mol reaktan 1,28 dan konsenstrasi katalis ZnO 0,1% memiliki angka asam 6,9 mg-KOH/g, angka penyabunan 147,61 mgKOH/g, dan kadar air sebesar 1,33%, serta uji FTIR mengkonfirmasi pembentukan sorbitan monooleat melalui esterifikasi yang ditandai dengan bergeseran puncak C=O dan kemunculan gugus O-H. Penelitian ini menghasilkan produk sorbitan monooelat yang memenuhi standar JEFCA (2006). Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis angka hidroksil dan mengoptimasi warna produk.

2025
👤 Penulis: Kharisma Diva Hartanti
🏷️ Esterifikasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia

PRODUKSI SORBITANMONOOLEAT

Sorbitan monooloeat banyak digunakan sebagai surfaktan (pengemulsi) dalam berbagai produk kimia seperti, produk pembersih, kosmetik, farmasi hingga pangan. Sorbitol dan asam oleat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan sorbitan monooleat. Kandungan asam oleat yang terkadung di dalam minyak kelapa sawit memiliki nilai sebesar 37,3-40,8% yang berpotensi sebagai bahan baku dalam memproduksi sorbitan monooleat. Sorbitan monooleat diproduksi dengan reaksi esterifikasi. Pada reaksi esterifikasi, asam oleat direaksikan dengan sorbitol menggunakan katalis ZnO sehingga menghasilkan produk yaitu sorbitan monooleat. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi sorbitan monooleat pada skala laboraturium dengan sorbitol dan asam oleat sebagai reaktan dengan katalis ZnO. Reaksi esterifikasi dilakukan pada tekanan kurang dari 0,08 MPa dan suhu 210°C selama 3 jam. Variasi perbandingan mol asam oleat dan sorbitol 1,28; 1,11; 1 serta variasi konsentrasi katalis ZnO 0,1%-b; 0,2%-b; 0,3%-b; 0,4%-b. Sorbitan monooleat yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan beberapa parameter, yaitu angka asam, angka penyabunan, konversi reaksi, kadar air, serta analisis gugus fungsi dengan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan produk sorbitan monooleate dengan konsenstrasi katalis ZnO sebesar 0,4% memiliki angka asam terendah yaitu sebesar 4,7 mg-KOH/g. Sementara produk sorbitan dengan rasio mol reaktan 1,28 dan konsenstrasi katalis ZnO 0,1% memiliki angka asam 6,9 mg-KOH/g, angka penyabunan 147,61 mgKOH/g, dan kadar air sebesar 1,33%, serta uji FTIR mengkonfirmasi pembentukan sorbitan monooleat melalui esterifikasi yang ditandai dengan bergeseran puncak C=O dan kemunculan gugus O-H. Penelitian ini menghasilkan produk sorbitan monooelat yang memenuhi standar JEFCA (2006). Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis angka hidroksil dan mengoptimasi warna produk.

2025
👤 Penulis: Reiner Jeremy Imawanto
🏷️ Esterifikasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia

SINTESIS POLI(TRIMETOKSISILILPROPIL METAKRILAT KO-DIVINILBENZENA) TERMODIFIKASI METIL SEBAGAI FASA DIAM KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Salah satu metode untuk memisahkan suatu analit dari komponen-komponennya adalah dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan suatu metode pemisahan dan penentuan kadar suatu komponen berdasarkan luas puncak ataupun tinggi puncak yang dihasilkan. Pada proses pemisahannya, analit dan fasa gerak dialirkan ke dalam suatu kolom yang berisi fasa diam. Pemisahan yang terjadi didasarkan pada interaksi analit dengan fasa diam dan fasa geraknya. Umumnya, fasa diam yang digunakan pada KCKT berbasis silika atau polimer. Namun, pengembangan fasa diam sintetik berbasis polimer terus dilakukan untuk memperoleh material dengan sifat tertentu, seperti kestabilan kimia dan kemampuan selektif yang lebih baik. Dalam penelitian ini, telah disintesis fasa diam disintesis dari 3-trimetoksisililpropil metakrilat (TMSPMA) dan divinilbenzena (DVB) menghasilkan Poli(TMSPMA-ko-DVB). TMSPMA dipilih karena memiliki gugus alkena yang reaktif untuk polimerisasi. DVB berfungsi sebagai agen pengikat silang untuk membentuk struktur jaringan polimer yang stabil. Inisiator benzoil peroksida (BPO) digunakan untuk memulai proses polimerisasi radikal bebas. Untuk meningkatkan sifat hidrofobik dari fasa diam, polimer yang telah disintesis kemudian dimodifikasi menggunakan metil trimetoksisilan (MTMS) menghasilkan poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil. Modifikasi ini bertujuan untuk menghasilkan permukaan fasa diam yang bersifat hidrofobik sehingga dapat memisahkan analit dengan polaritas berbeda secara lebih efisien. Karakterisasi fasa diam dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscope (SEM). FTIR menunjukkan keberhasilan sintesis poli(TMSPMA-ko-DVB) dan poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil dengan adanya serapan khas gugus C–H alifatik (2922 cm?1), C–H aromatik (3020 cm?1), C=C aromatik khas benzena (1617 cm?1), dan Si-O (1091 cm?1). Sementara itu, hasil SEM menunjukkan partikel berbentuk sferis dengan ukuran antara 2,04–2,78 µm, mendekati ukuran ideal untuk fasa diam dalam KCKT. Fasa diam poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil kemudian diuji kinerjanya dalam memisahkan campuran analit berupa parasetamol, p-hidroksiasetofenon oksim, dan p-hidroksiasetofenon. Ketiga senyawa ini dipilih karena p-hidroksiasetofenon dan p-hidroksiasetofenon oksim berturut-turut merupakan senyawa antara atau pengotor dalam sintesis parasetamol. Penggunaan kolom komersial berbasis silika tidak selalu mampu memisahkan ketiganya secara efektif, sehingga perlu dikembangkan fasa diam alternatif. Fasa diam hasil sintesis telah dikemas ke dalam kolom berukuran 100 mm × 4,6 mm dan digunakan untuk pemisahan menggunakan dua jenis eluen, yaitu campuran asetonitril:air dan metanol:air, dengan laju alir 1 mL/menit. Hasil optimasi menunjukkan bahwa elusi gradien menghasilkan pemisahan terbaik. Pada penggunaan eluen asetonitril:air, diperoleh resolusi 1,64 dan selektivitas 2,49 antara parasetamol dan p-hidroksiasetofenon oksim, serta resolusi 2,59 dan selektivitas 3,29 antara p-hidroksiasetofenon oksim dan p-hidroksiasetofenon. Jumlah pelat teoritis yang diperoleh menunjukkan efisiensi kolom yang cukup baik: 121,5 untuk parasetamol; 44,4 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 130,0 untuk p-hidroksiasetofenon. Selain itu, diperoleh nilai R2 sebesar 0,9956 untuk parasetamol; 0,9820 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 0,9956 untuk p-hidroksiasetofenon pada rentang konsentrasi 20 – 100 ppm Sementara itu, pada penggunaan eluen metanol:air, diperoleh resolusi 1,07 dan selektivitas 2,99 antara parasetamol dan oksimnya, serta resolusi 1,80 dan selektivitas 2,74 antara oksim dan p-hidroksiasetofenon. Jumlah pelat teoritis yang diperoleh adalah 40,7; 14,4; dan 151,6 berturut-turut untuk parasetamol, p-hidroksiasetofenon oksim, dan p-hidroksiasetofenon. Kurva kalibrasi yang dihasilkan pada rentang konsentrasi 20–100 ppm menunjukkan linieritas yang sangat baik, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9901 untuk parasetamol; 0,9955 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 0,9977 untuk p-hidroksiasetofenon . Hasil ini menunjukkan bahwa fasa diam poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil berpotensi tinggi untuk digunakan sebagai alternatif dalam pemisahan analit menggunakan KCKT.

2025
👤 Penulis: Ardine Zada Alzena
🏷️ Kromatografi Cair Kinerja Tinggi 🏷️ Polimerasi Radikal Bebas 🏷️ Analisis Kimia

SINTESIS POLI(TRIMETOKSISILILPROPIL METAKRILAT KO-DIVINILBENZENA) TERMODIFIKASI METIL SEBAGAI FASA DIAM KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Salah satu metode untuk memisahkan suatu analit dari komponen-komponennya adalah dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan suatu metode pemisahan dan penentuan kadar suatu komponen berdasarkan luas puncak ataupun tinggi puncak yang dihasilkan. Pada proses pemisahannya, analit dan fasa gerak dialirkan ke dalam suatu kolom yang berisi fasa diam. Pemisahan yang terjadi didasarkan pada interaksi analit dengan fasa diam dan fasa geraknya. Umumnya, fasa diam yang digunakan pada KCKT berbasis silika atau polimer. Namun, pengembangan fasa diam sintetik berbasis polimer terus dilakukan untuk memperoleh material dengan sifat tertentu, seperti kestabilan kimia dan kemampuan selektif yang lebih baik. Dalam penelitian ini, telah disintesis fasa diam disintesis dari 3-trimetoksisililpropil metakrilat (TMSPMA) dan divinilbenzena (DVB) menghasilkan Poli(TMSPMA-ko-DVB). TMSPMA dipilih karena memiliki gugus alkena yang reaktif untuk polimerisasi. DVB berfungsi sebagai agen pengikat silang untuk membentuk struktur jaringan polimer yang stabil. Inisiator benzoil peroksida (BPO) digunakan untuk memulai proses polimerisasi radikal bebas. Untuk meningkatkan sifat hidrofobik dari fasa diam, polimer yang telah disintesis kemudian dimodifikasi menggunakan metil trimetoksisilan (MTMS) menghasilkan poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil. Modifikasi ini bertujuan untuk menghasilkan permukaan fasa diam yang bersifat hidrofobik sehingga dapat memisahkan analit dengan polaritas berbeda secara lebih efisien. Karakterisasi fasa diam dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscope (SEM). FTIR menunjukkan keberhasilan sintesis poli(TMSPMA-ko-DVB) dan poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil dengan adanya serapan khas gugus C–H alifatik (2922 cm?1), C–H aromatik (3020 cm?1), C=C aromatik khas benzena (1617 cm?1), dan Si-O (1091 cm?1). Sementara itu, hasil SEM menunjukkan partikel berbentuk sferis dengan ukuran antara 2,04–2,78 µm, mendekati ukuran ideal untuk fasa diam dalam KCKT. Fasa diam poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil kemudian diuji kinerjanya dalam memisahkan campuran analit berupa parasetamol, p-hidroksiasetofenon oksim, dan p-hidroksiasetofenon. Ketiga senyawa ini dipilih karena p-hidroksiasetofenon dan p-hidroksiasetofenon oksim berturut-turut merupakan senyawa antara atau pengotor dalam sintesis parasetamol. Penggunaan kolom komersial berbasis silika tidak selalu mampu memisahkan ketiganya secara efektif, sehingga perlu dikembangkan fasa diam alternatif. Fasa diam hasil sintesis telah dikemas ke dalam kolom berukuran 100 mm × 4,6 mm dan digunakan untuk pemisahan menggunakan dua jenis eluen, yaitu campuran asetonitril:air dan metanol:air, dengan laju alir 1 mL/menit. Hasil optimasi menunjukkan bahwa elusi gradien menghasilkan pemisahan terbaik. Pada penggunaan eluen asetonitril:air, diperoleh resolusi 1,64 dan selektivitas 2,49 antara parasetamol dan p-hidroksiasetofenon oksim, serta resolusi 2,59 dan selektivitas 3,29 antara p-hidroksiasetofenon oksim dan p-hidroksiasetofenon. Jumlah pelat teoritis yang diperoleh menunjukkan efisiensi kolom yang cukup baik: 121,5 untuk parasetamol; 44,4 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 130,0 untuk p-hidroksiasetofenon. Selain itu, diperoleh nilai R2 sebesar 0,9956 untuk parasetamol; 0,9820 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 0,9956 untuk p-hidroksiasetofenon pada rentang konsentrasi 20 – 100 ppm Sementara itu, pada penggunaan eluen metanol:air, diperoleh resolusi 1,07 dan selektivitas 2,99 antara parasetamol dan oksimnya, serta resolusi 1,80 dan selektivitas 2,74 antara oksim dan p-hidroksiasetofenon. Jumlah pelat teoritis yang diperoleh adalah 40,7; 14,4; dan 151,6 berturut-turut untuk parasetamol, p-hidroksiasetofenon oksim, dan p-hidroksiasetofenon. Kurva kalibrasi yang dihasilkan pada rentang konsentrasi 20–100 ppm menunjukkan linieritas yang sangat baik, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9901 untuk parasetamol; 0,9955 untuk p-hidroksiasetofenon oksim; dan 0,9977 untuk p-hidroksiasetofenon . Hasil ini menunjukkan bahwa fasa diam poli(TMSPMA-ko-DVB)-metil berpotensi tinggi untuk digunakan sebagai alternatif dalam pemisahan analit menggunakan KCKT.

2025
👤 Penulis: Syaehul Islam
🏷️ Kromatografi Cair Kinerja Tinggi 🏷️ Polimerasi Radikal Bebas 🏷️ Analisis Kimia

SINTESIS DAN KARAKTERISASI PENGISI KOLOM KROMATOGRAFI CAIR BERBASIS POLIMER@SILIKA DAN SILIKA-ORGANIK SERTA APLIKASINYA UNTUK PEMISAHAN

Partikel kolom kromatografi cair umumnya terbuat dari bahan berbasis silika atau polimer. Berbagai modifikasi dilakukan pada permukaan material untuk mendapatkan kinerja pemisahan terbaik. Pada penelitian ini, material silika-organik baru disintesis dari viniltrimetoksisilan dan divinilbenzen, yang dibandingkan hasilnya dengan material polimer@silika disintesis dari metil metakrilat dan divinilbenzen yang dimodifikasi silika dan fenil. Material polimer@silika diperoleh hasil optimum pada komposisi 18,80 x 10-3 mol MMA + 25,25 x 10-3 mol DVB, setelah dimodifikasi silika dan fenil diperoleh bentuk spheric homogen diameter 3,03 µm. FTIR spektrum memiliki puncak 722, 1081 and 2855 cm-1 masing-masing ikatan Si-C, Si-O, dan C-H. Kondisi optimum untuk kolom 100 mm × 4,6 mm dicapai pada fase gerak asetonitril:air 15:85, laju alir 1,0 mL/menit, dan ? 274 nm, dengan Rs 3,96 dan faktor simetris 1,05. Linearitas baik pada rentang 10-100 ppm yaitu R2 0,994 untuk parasetamol dan R2 0,996 untuk kafein. Polimer@silika mampu memisahkan parasetamol dan kafein, namun tidak dapat memisahkan prekursor parasetamol (oksim dan asetofenon). Material silika-organik diperoleh hasil optimum pada komposisi 23,51 x 10-3 mol VTMS + 28,05 x 10-3 mol DVB, dengan bentuk spheric homogen diameter 2,3 µm. FTIR spektrum memiliki puncak 1000, 1081 and 2855 cm-1 masing-masing ikatan Si-C, Si-O, dan C-H. Kondisi optimum untuk kolom 100 mm × 4,6 mm dicapai pada fase gerak asetonitril:air 15:85, laju alir 1,0 mL/menit, dan ? 274 nm dengan Rs 3,96 dan faktor simetris 1,10. Linearitas baik pada rentang 10-100 ppm yaitu R2 0,994 untuk parasetamol dan R2 0,996 untuk kafein. Silika-organik ini mampu memisahkan analisis parasetamol, prekursor parasetamol, dan kafein.

2024
👤 Penulis: Annisa Mutiara Fitri
🏷️ Kromatografi Cair 🏷️ Polimer@Silika 🏷️ Analisis Kimia

PEMBUATAN GARAM LEVOFLOKSASIN-KETOPROFEN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KELARUTAN DAN STABILITA KIMIA

Levofloksasin merupakan antibiotik yang tidak stabil terhadap cahaya. Ketoprofen merupakan antiinflamasi nonsteroid yang praktis tidak larut dalam air. Penelitian ini membuat garam levofloksasin-ketoprofen (LK) yang diharapkan mampu meningkatkan stabilitas levofloksasin terhadap cahaya dan kelarutan ketoprofen. Penelitian dilakukan dengan tahap pembuatan, karakterisasi, dan pengujian kelarutan serta stabilitas. LK dibuat dalam rasio molar 1:1 dengan metode solvent drop grinding. LK dikarakterisasi menggunakan instrumen elektrotermal, PXRD, FTIR, dan H-NMR. Kemudian, LK ditetapkan kelarutannya dalam pelarut akuades pH 7,0; dapar fosfat pH 6,8 dan pH 7,4, dengan metode spektrofotometri UV derivatif, serta diuji stabilitasnya dengan mengamatinya selama empat minggu dalam kondisi pengujian dan ditetapkan kadarnya dengan spektrofotometri UV. Perbedaan struktur LK yang mengindikasikan terbentuknya fasa padat baru ditunjukkan oleh perbedaan titik leleh dan pola difraksi antara LK dan campuran fisiknya. Pembentukan garam ditunjukkan dari spektrum IR yang menunjukkan adanya protonasi pada gugus piperazin levofloksasin dan transfer proton dari ketoprofen. Hal tersebut diperkuat dengan spektrum H-NMR yang menunjukkan protonasi pada gugus piperazin levofloksasin. Berdasarkan pengujian, kelarutan levofloksasin dalam LK menurun sekitar 1,3 hingga 7,7 kali lipat dalam pelarut, sedangkan kelarutan ketoprofen dalam LK meningkat ratusan kali lipat. LK teramati stabil secara visual dan penurunan kadar levofloksasin dalam LK 6,8 kali lebih rendah dibanding levofloksasin tunggal. Dengan demikian, pembentukan LK meningkatkan stabilitas levofloksasin serta kelarutan ketoprofen.

2024
👤 Penulis: Hana Fauziah
🏷️ Kimia Farmasi 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Stabilitas Kimia

ISOLATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF SECONDARY METABOLITE FROM DARK SEPTATE ENDOPHYTE (DSE) FUNGI DIAPORTHE PANDANICOLA TM1

Bacterial infection is a health problem that keeps increasing, yet antimicrobial resistance (AMR) is a major public health threat in the 21st century. Naturally produced secondary metabolites have been used as sources of new drug discovery, including new antibacterial agents. Diaporthe, a genus of dark septate endophyte (DSE) fungi, is known to have potential antibacterial activity. This paper aims to investigate the antibacterial activity of Diaporthe pandanicola TM1 against Escherichia coli and Streptococcus aureus and isolate the compounds contained in the fungi. The liquid culture of D. pandanicola is first centrifuged to obtain its biomass and media. The biomass was extracted by maceration with methanol as a solvent and the media was extracted by liquid-liquid extraction (LLE) using ethyl acetate. Then, fractionation of the media extract was done using vacuum liquid chromatography (VLC) which produced five fractions. Antibacterial susceptibility test was then done on extracts and fractions using agar disk diffusion method. Lastly, isolation and purification was done to the dominant fraction using radial chromatography. The result from the antibacterial susceptibility test shows that the extract and fraction do not produce any zone of inhibition, indicating no antibacterial activity towards tested bacteria. The isolation and purification process yielded 4.5 mg of pure isolate which was not tested for antibacterial activity due to no promising activity of the extracts and fractions that was previously observed. Despite the weak antibacterial properties, the isolation aimed to obtain a pure dominant compound for further studies, such as structure elucidation, testing for other biological activities, or discovering potential synergies with other compounds.

2024
👤 Penulis: Raden Salmaa Aulifya Salsabiil
🏷️ Fungi Endopithe 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia

SINTESIS SILIKA TERMODIFIKASI FENILTRIETOKSISILAN (PTES) UNTUK MATERIAL PENGISI KOLOM KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) sudah diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti farmasi, bioteknologi, polimer hingga industri makanan. Salah satu komponen penting dan merupakan inti dari sistem KCKT yaitu kolom. Bahan pengisi kolom umumnya berupa modifikasi silika terhadap gugus fungsi tertentu, seperti Feniltrietoksisilan (PTES). Potensi PTES digunakan untuk memodifikasi silika menghasilkan silika termodifikasi fenil karena gugus tersebut dapat melakukan interaksi ?-? dengan elektron ikatan rangkap pada analit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menyintesis silika termodifikasi fenil sebagai bahan pengisi kolom KCKT. Silika disintesis dengan metode sol-gel St?ber menggunakan prekursor tetraetilortosilikat (TEOS), pelarut etanol dan amonia sebagai katalis. Lalu, dimodifikasi dengan menggunakan PTES dan pelarut isopropanol. Berdasarkan hasil IR diperoleh puncak serapan pada rentang bilangan gelombang 2918,3 cm-1 dan 2850,79 cm-1 yang menunjukan vibrasi C-H, puncak serapan 1099,43 cm-1 yang menunjukan vibrasi Si-O-Si, vibrasi O-H pada 3433,29 cm-1, vibrasi C=C pada 1637,56 cm-1 dan vibrasi ulur C-O ditunjukan pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1. Karakterisasi SEM menunjukan silika yang spheric dengan ukuran 1-2 ?m. Kolom silika-fenil telah berhasil dimuat serta mampu memisahkan parasetamol dan kafein pada kondisi eluen MeOH:Air (20:80), laju alir 1 mL/menit, konsentrasi standar analit 40 ppm, volume injektor 20 ?L dan panjang gelombang 274 nm menggunakan detektor DAD. Resolusi yang diperoleh sebesar 4,005 dan selektivitas sebesar 2,0341 dengan nilai R2 sebesar 0,9973 pada parasetamol rentang 0,5 ppm – 100 ppm dan 0,9957 pada kafein rentang 0,5 ppm – 100 ppm

2024
👤 Penulis: Salsabila Mardhiyah
🏷️ Kromatografi Cair Kinerja Tinggi 🏷️ Silika Termodifikasi 🏷️ Analisis Kimia

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS CEMARAN ETILEN GLIKOL DAN DIETILEN GLIKOL DALAM SERUM WAJAH MENGGUNAKAN GC-MS

Di Indonesia, kosmetik terutama serum wajah merupakan salah satu produk yang diminati dengan berbagai manfaat yang ditawarkan. Pada pembuatan serum sering digunakan pelarut campur atau bahan tambahan yang dapat meninggalkan sisa pelarut seperti etilen glikol dan dietilen glikol. Menelan dietilen glikol dalam dosis relatif tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Sedangkan etilen glikol dapat menyebabkan iritasi ringan pada membran mukosa atau kulit. European Pharmacopoeia saat ini menetapkan batasan dietilen glikol dalam gliserol tidak lebih dari 0,1% dan dalam polietielen glikol 0,4% sebagai total etilen glikol dan dietilen glikol. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan metode analisis untuk penentuan etilen glikol dan dietilen glikol dalam serum wajah dengan metode GC-MS. Penelitian dimulai dengan optimasi kondisi kromatografi dan preparasi sampel, uji keseuaian sistem, dan validasi metode analisis yang meliputi spesifisitas, linearitas, presisi, akurasi. Matriks sampel dapat dikurangi melalui ekstraksi cair-cair dengan heksana. Pada penelitian ini digunakan kromatogafi gas dengan kolom DB Wax UI 0,25 mm x 30 m, gas pembawa helium, perbandingan split 10 : 1, laju alir 0,5 mL per menit, dan detektor spektrometri massa. Parameter linearitas dinyatakan sebagai koefisien korelasi sebesar 0,9973 untuk etilen glikol dan 0,9953 untuk dietilen glikol. Batas deteksi dan batas kuantisasi untuk etilen glikol masing-masing 1,299 µg/mL dan 3,170 µg/mL, sedangkan untuk dietilen glikol 3,435 µg/mL dan 7,936 µg/mL. Pada pengujian presisi keberulangan didapat nilai %RSD untuk etilen glikol dan dietilen glikol masing-masing 5,535% dan 6,508%, sedangkan pada presisi antara nilai %RSD untuk etilen glikol dan dietilen glikol masing-masing 6,524% dan 3,901%. Hasil pengujian akurasi dinyatakan sebagai % perolehan kembali etilen glikol dan dietilen glikol, masing-masing berada pada rentang 90,7 – 100,4% dan 95,1 – 111,2%. Berdasarkan keseluruhan hasil dapat disimpulkan, metode analisis telah berhasil dikembangkan dan divalidasi serta dapat digunakan untuk penentuan etilen glikol dan dietilen glikol dalam serum wajah. Kadar etilen glikol dan dietilen glikol dalam produk serum wajah yang diuji berada pada kisaran 0,001% - 0,258%.

2024
👤 Penulis: Afra Restu Putriyani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR TILIROSIDA DALAM EKSTRAK DAN NANO EKSTRAK DAUN JATI BELANDA (GUAZUMA ULMIFOLIA L.) MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Daun jati belanda (Guazuma ulmifolia L.) diketahui mengandung senyawa tilirosida dalam ekstraknya yang memiliki aktivitas biologis untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Melihat aktivitas biologis yang dimiliki, daun jati belanda dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif dislipidemia. Dalam pemantauan mutu ekstrak dan nano ekstrak daun jati belanda, diperlukan suatu metode analisis yang tervalidasi untuk menetapkan kadar tilirosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi metode analisis penetapan kadar tilirosida dalam ekstrak dan nano ekstrak daun jati belanda menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Berdasarkan hasil optimasi, sistem kromatografi yang digunakan yaitu fase diam Agilent ZORBAX Eclipse XDB-C18 yang dilengkapi dengan guard column, fase gerak asetonitril 100% dan asam format 0,1% dalam asetonitril 10% dengan metode elusi gradien, volume injeksi 10 ?L, laju alir 1 mL/menit, dan panjang gelombang deteksi 330 nm. Pada kondisi optimum, metode analisis yang dikembangkan telah memenuhi kriteria pemisahan dan terbukti memiliki ketegaran yang baik. Kurva kalibrasi menunjukkan hubungan yang linier dengan nilai r = 0,999 dan Vxo = 1,669% pada rentang konsentrasi 1,8 – 14,4 ?g/mL. Batas deteksi dan batas kuantisasi diperoleh sebesar 0,482 ?g/mL dan 1,460 ?g/mL. Pada pengujian presisi metode dan presisi interday, diperoleh nilai RSD sebesar 1,496% dan 3,622% untuk ekstrak, 1,265% dan 1,651% untuk nano ekstrak. Nilai rata-rata perolehan kembali pada pengujian akurasi berada dalam rentang 99,535 – 101,604 % untuk ekstrak dan 97,123 – 98,323 % untuk nano ekstrak. Penetapan kadar tilirosida menggunakan metode yang tervalidasi menunjukkan kadar tilirosida pada sampel ekstrak dan nano ekstrak daun jati belanda sebesar 0,127 ? 0,002 % dan 0,294 ? 0,001 %.

2024
👤 Penulis: Kaynola Cecilia Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Hidrologi

PENERAPAN ANALYTICAL QUALITY BY DESIGN DALAM PENGEMBANGAN METODE ANALISIS PENENTUAN KADAR SUGAMMADEX SODIUM DAN MONOHYDROXY SUGAMMADEX SODIUM DENGAN METODE KCKT

Sugammadex Sodium adalah senyawa yang digunakan untuk membalikkan blokade neuromuskular pada pasien yang menjalani pembedahan dengan penggunaan pelemas otot rocuronium dan vecuronium. Analisis yang presisi dan akurat terhadap kandungan serta pengotor dari bahan baku diperlukan untuk memastikan kualitas produk. Penelitian ini menerapkan pendekatan Analytical Quality by Design (AQbD) untuk mengembangkan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang andal dalam menentukan Sugammadex Sodium dan Monohydroxy Sugammadex Sodium (SGT-R1) pada bahan aktif Obat. Teknik KCKT fase balik dikembangkan dengan pendekatan AQbD dan divalidasi untuk menentukan Sugammadex Sodium dan SGT-R1 sesuai dengan pedoman ICH Q2 (R2). Parameter metode kritis dipilih berdasarkan studi penilaian risiko dan percobaan pendahuluan, selanjutnya dioptimalkan menggunakan desain Box-Behnken. Berdasarkan optimasi didapatkan metode optimal yang menggunakan kolom Symmetry C18 (250 x 4.6 mm, 5µ) dengan fase gerak yang terdiri dari 0.025 mol/L buffer fosfat (pH 2.5) dan asetonitril, yang disuntikkan secara bertahap pada laju alir 0.28 mL/menit dan suhu kolom 30°C. Validasi metode analisis menunjukkan linearitas yang baik dengan nilai r = 0.9999 untuk Sugammadex Sodium dan r = 0.9997 untuk SGT-R1. Peroleh kembali untuk Sugammadex dan SGT-R1 masing-masing adalah 100.4% dan 109.1%. RSD untuk sembilan replikasi adalah 0.48% untuk Sugammadex Sodium dan 5.46% untuk SGT-R1. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwa pengembangan metode analisis untuk menentukan kadar Sugammadex Sodium dan SGT-R1 menggunakan pendekatan AQbD dapat menghasilkan metode yang optimal dan tervalidasi.

2024
👤 Penulis: Zaqy Saputra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Manajemen Kualitas Produk Farmasi
Halaman 1 dari 2
💬