π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenPEMETAAN PROFIL DEMOGRAFI PENDERITA TUBERKULOSIS DI INDONESIA TAHUN 2021-2024 DENGAN ANALISIS KORESPONDENSI DAN MODEL SEIR
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dengan distribusi kasus yang berbeda antarprovinsi, kelompok umur, dan jenis kelamin. Perbedaan karakteristik demografis tersebut perlu dianalisis secara tahunan agar pola profil penderita TB dan dinamika paparannya dapat dipahami secara lebih terstruktur. Tugas akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi kasus TB di Indonesia selama periode 2021β 2024, mengidentifikasi pola asosiasi antara provinsi dengan kelompok umur serta provinsi dengan jenis kelamin menggunakan Analisis Korespondensi Sederhana (AK), dan menganalisis dinamika paparan TB berdasarkan kelompok umur menggunakan model SEIR age-structured. Data yang digunakan merupakan data kasus TB berdasarkan provinsi, kelompok umur, dan jenis kelamin, dengan data tahun 2020 digunakan sebagai kondisi awal pemodelan SEIR. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa total kasus TB meningkat dari 397.377 kasus pada tahun 2021 menjadi 842.383 kasus pada tahun 2024. Jawa Barat konsisten menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, sedangkan kasus TB pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan sepanjang periode pengamatan. Berdasarkan kelompok umur, kelompok 0β14 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi pada tahun 2023 dan 2024. Hasil AK menunjukkan adanya asosiasi antara provinsi dengan kelompok umur serta provinsi dengan jenis kelamin pada setiap tahun, dengan dua dimensi pertama peta korespondensi provinsi-kelompok umur menjelaskan lebih dari 90% total inersia. Sebagian besar provinsi berasosiasi dengan kelompok umur produktif dan dewasa akhir, sedangkan asosiasi dengan perempuan muncul secara konsisten pada DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua Barat, dan Papua. Hasil model SEIR age-structured menunjukkan variasi laju paparan antar kelompok umur dan antarprovinsi. Sebanyak 32 dari 34 provinsi memiliki MAPE di bawah 10%, sedangkan Papua Barat dan Papua memiliki galat yang lebih besar karena pola data yang lebih fluktuatif. Keterkaitan hasil AK dan model SEIR menunjukkan bahwa terdapat beberapa provinsi dengan kesesuaian penuh maupun sebagian antara kelompok umur dominan hasil AK dan kelompok umur dengan ????! tertinggi. Kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa kedua pendekatan dapat saling memperkuat interpretasi, sedangkan perbedaan hasil menunjukkan bahwa AK dan SEIR membaca aspek yang berbeda dari data. Secara umum, AK memberikan gambaran profil relatif kasus TB, sedangkan model SEIR age-structured melengkapi analisis melalui dinamika paparan berdasarkan hasil kalibrasi model.
KAJIAN ANALISIS KORESPONDENSI PADA DATA FUZZY
Analisis korespondensi (Correspondence Analysis/CA) merupakan metode statistika multivariat yang digunakan untuk mengidentifikasi pola asosiasi antara dua variabel kategorikal melalui representasi geometris dalam ruang berdimensi rendah. Pada perkembangannya, CA klasik diperluas menjadi Analisis Korespondensi pada Data Fuzzy (Correspondence Analysis on Fuzzy Data/CAFD) untuk menangani tabel kontingensi yang elemennya tidak bersifat pasti, melainkan mengandung ketidakpastian intra-sel. Tugas akhir ini mengkaji konsep CAFD secara teoritis, meliputi konstruksi tabel kontingensi fuzzy, formulasi masalah fuzzy, dan prosedur defuzzifikasi untuk memperoleh representasi geometris dan struktur asosiasi data. Pada CAFD, tabel kontingensi crisp diperkaya menjadi tabel kontingensi fuzzy yang elemennya berupa bilangan fuzzy segitiga (Tringular Fuzzy Number/TFN) asimetris, dengan spread ditentukan oleh Coefficient of Variation dari faktor-faktor penjelas pada setiap sel. Masalah eigenvalue fuzzy yang muncul diselesaikan melalui two-step method, kemudian dilanjutkan dengan defuzzifikasi menggunakan metode Arithmetic Mean Output. Sebagai penerapan konsep yang telah dikaji, dilakukan analisis korespondensi pada data tingkat kepuasan hidup global tahun 2019 yang bersumber dari World Happiness Report, dengan variabel wilayah geografis dan tingkat kepuasan hidup sebagai 2 variabel kategorikal yang ditinjau. Penerapan ini sekaligus berfungsi sebagai ilustrasi yang menunjukkan bagaimana CAFD memberikan informasi tambahan dibandingkan dengan CA klasik ketika ketidakpastian intra-sel dipertimbangkan.
ANALISIS KORESPONDENSI BERGANDA DALAM MENGEVALUASI KETERCAPAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Capaian literasi matematika siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata internasional sehingga diperlukan pendekatan evaluasi yang mampu mengkaji struktur hubungan antarvariabel penilaian secara multidimensi. Penelitian ini menerapkan Analisis Komponen Utama (AKU), Analisis Korespondensi (AK), dan Analisis Korespondensi Berganda (AKB) pada data ketercapaian pembelajaran matematika dari 157 SMA di Provinsi Jawa Barat. Data tersebut mencakup tiga dimensi penilaian, yaitu proses kognitif, tingkat kesulitan soal, dan konten materi. Hasil AKU menunjukkan bahwa Komponen Utama Pertama (KU1) mampu menjelaskan lebih dari 83% variansi pada tiga dimensi penilaian sehingga dapat diinterpretasikan sebagai ukuran capaian keseluruhan tiap sekolah. Hasil AK mengungkap bahwa penalaran dan pemecahan masalah berkorelasi positif, tetapi berlawanan dengan konsep. Sementara itu, soal bertipe mudah dan sukar berkorelasi negatif dan membentuk dua kutub yang berlawanan. Adapun geometri dan trigonometri berasosiasi searah, tetapi berlawanan dengan data, peluang, dan statistika. Hasil AKB dengan inersia terkoreksi kumulatif sebesar 87,6% menunjukkan bahwa soal bertipe sukar cenderung menuntut penalaran dan pemecahan masalah. Sementara itu, soal matematika lanjutan dan trigonometri cenderung bersifat lebih prosedural. Di sisi lain, soal aljabar berasosiasi dengan pemahaman konsep dasar. Selain itu, status sekolah negeri dan swasta tidak menunjukkan perbedaan profil yang ekstrem. Tiga metode tersebut secara bersamasama memberikan gambaran komprehensif mengenai ketercapaian pembelajaran matematika sebagai dasar perancangan strategi peningkatan yang lebih tepat sasaran.
ANALISIS KORESPONDENSI TERHADAP VARIABEL RISIKO KEGAGALAN MOBIL FORD DI AMERIKA SERIKAT PADA TAHUN 2012-2021
Peningkatan pengeluaran biaya asuransi kendaraan di Amerika Serikat menimbulkan tantangan finansial yang cukup berat bagi perusahaan asuransi. Oleh karena itu, diperlukan strategi dalam mengelola risiko kegagalan kendaraan dengan menganalisis usia saat klaim mobil Ford sebagai representasi waktu kegagalan. Usia saat klaim dihitung berdasarkan selisih tahun saat klaim dengan tahun registrasi, lalu dilakukan fitting distribution menggunakan metode hazard empiris dengan distribusi Weibull yang fleksibel dalam menggambarkan pola kegagalan. Estimasi parameter terbaik diperoleh melalui metode Least Squares dan digunakan untuk memprediksi peluang keandalan dan risiko kegagalan mobil Ford dengan fungsi reliabilitas dan hazard. Hasil menunjukkan bahwa semakin tua usia kendaraan, maka semakin tinggi risiko kegagalannya. Usia saat klaim kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu muda, sedang, dan tua. Untuk melihat hubungan variabel usia saat klaim mobil Ford terhadap karakteristik kendaraan, maka digunakan analisis korespondensi dengan visualisasi peta asimetris kolom satu dan dua dimensi. Karakteristik kendaraan yang telah direkategorisasi tersebut, mencakup genmodel, jenis kerusakan, dan jarak tempuh mobil. Temuan ini menunjukkan bahwa keterhubungan signifikan ditunjukkan oleh peta usia saat klaim dengan genmodel. Pendekatan ini memberikan wawasan bagi pihak asuransi dan teknisi untuk memahami pola risiko kegagalan, serta menekankan pentingnya kesesuaian karakteristik data dalam menghasilkan interpretasi yang tepat.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA DAUN TIGA KULTIVAR PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN 2,2β-AZINO-BIS(3-ETILBENZOTIAZOLIN-6-ASAM SULFONAT) (ABTS)
Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan di orbit terluarnya, sehingga sangat reaktif menyerang elektron molekul yang berada di sekitarnya. Dampak negatif radikal bebas dapat diredam oleh antioksidan. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antioksidan daun dari tiga kultivar pepaya, yaitu bangkok, burung, dan callina melalui penentuan IC50 peredaman DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan IC50 peredaman !??????????-azino-bis(3-etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat)); menetapkan total fenol, flavonoid, dan karotenoid; menguji korelasi antara total fenol, flavonoid, dan karotenoid terhadap IC50 DPPH dan ABTS; serta menguji korelasi metode DPPH dan ABTS pada sampel uji. Ekstraksi dengan metode refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat. Penetapan IC50 peredaman DPPH, IC50 peredaman ABTS, fenol total, flavonoid total dan karotenoid total secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan korelasinya dianalisis menggunakan metode Pearson. Aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH (IC50 0,84 Β± 0,06 Β΅g/mL) diberikan oleh ekstrak etanol daun pepaya callina, sedangkan dengan metode ABTS diberikan oleh ekstrak etanol daun pepaya bangkok (IC50 1,79 Β± 0,1 Β΅g/mL). Ekstrak daun pepaya bangkok, burung, dan callina merupakan antioksidan sangat kuat dengan metode DPPH. Senyawa golongan fenol merupakan kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak daun pepaya bangkok dan callina dengan metode DPPH. Metode DPPH dan ABTS tidak memberikan hasil yang linier pada semua sampel uji.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK TEH OOLONG DARI BANTEN, BENGKULU, DAN JAWA BARAT DENGAN METODE 2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL (DPPH) DAN 2,2β-AZINO-BIS(3- ETHYLBENZOTHIAZOLINE-6-SULFONIC ACID (ABTS)
Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan di orbit terluarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. Dampak negatif radikal bebas dapat diredam oleh antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas. Sebagian besar tanaman dapat memiliki aktivitas antioksidan bila mengandung senyawa yang mampu menangkal radikal bebas seperti flavonoid dan fenol. Teh oolong memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antioksidan teh oolong dari tiga daerah yaitu Banten, Bengkulu, dan Jawa Barat melalui penentuan IC50 peredaman DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan IC50 ?Β±?Β±ΒΈΒ ?Β ?!????0 ??????-azino-bis(3- etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat)); menetapkan total fenol, flavonoid, dan karotenoid; menguji korelasi antara total fenol, flavonoid, dan karotenoid terhadap IC50 DPPH, ABTS dan menguji korelasi metode DPPH dan ABTS pada sampel uji. Ekstraksi dengan metode refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat. Masing-masing ekstrak dipantau dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Penetapan IC50 peredaman radikal DPPH, IC50 peredaman ABTS, fenol total, flavonoid total dan karotenoid total dari masing-masing ekstrak secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan korelasinya dengan IC50 peredaman DPPH dan ABTS dengan menggunakan metode Pearson. Aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode DPPH (IC50 0,31 Β± 0,01 Β΅g/mL) diberikan oleh ekstrak etil asetat teh oolong Jawa Barat, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode ABTS diberikan oleh ekstrak etanol teh oolong Banten (IC50 0,02 Β± 0,008 Β΅g/mL). Ekstrak teh oolong Banten, Bengkulu dan Jawa Barat merupakan antioksidan sangat kuat. Senyawa golongan fenol merupakan kontributor utama pada aktivitas antioksidan ekstrak teh oolong dari Banten, Bengkulu dan Jawa Barat dengan metode DPPH dan ABTS. Metode DPPH dan ABTS memberikan hasil yang linier pada semua sampel uji.
PEMODELAN FASA SIGMA BERDASARKAN CITRA MIKROSTRUKTUR STAINLESS STEEL DENGAN PROSES STOKASTIK TITIK SPASIAL BERBASIS GRID LINGKARAN, PERSEGI, DAN BELAH KETUPAT
Proses stokastik yang mewakili realisasi adalah proses titik, karena memperluas ruang parameter mengikuti pola probabilistik. Aplikasi proses titik spasial di berbagai bidang seperti gempa, analisis citra, dan lainnya, namun belum pernah diaplikasikan pada objek berskala mikro. Proses titik spasial akan digunakan untuk memodelkan kejadian fasa sigma di Stainless steels (SS) berdasarkan citra mikronya. SS merupakan material tahan karat, namun jika dipapar dengan suhu tinggi dalam waktu lama, dapat membentuk endapan intermetalik Fe-Cr (fasa sigma). Fasa ini mengurangi kemampuan material menahan korosi dan dapat diamati melalui transformasi warna yang terjadi secara bertahap. Proses titik spasial pada disertasi ini untuk mengidentifikasi pola distribusi βtitikβ kejadian fasa sigma di permukaan SS. Eksplorasi pola ini berdasarkan lokasi dan warna dengan Analisis Korespondensi (AK). Untuk memperoleh citra struktur mikro SS, prosedur di laboratorium material dilakukan dan dipilih tiga lokasi pengamatan A, B, dan C. Kemudian, indikator fasa sigma diamati berdasarkan warna Coklat Muda (CM), Coklat Tua (CT), Coklat Kebiruan (CKB), Biru Muda (BM), dan Biru Tua (BT). Warna pada permukaan citra SS dikelompokkan menjadi lima warna indikator dengan analisis klaster K-Means. Selain itu, dihitung frekuensi warna pada grid yang berbentuk lingkaran, persegi, atau belah ketupat untuk tiap lokasi. Grid terus dibuat hingga Chi-square jenuh (konvergen). Di sini, aspek inferensial penentuan wilayah kepercayaan elips AK pun dibahas. Dari peta korespondensi didapat hasil lokasi A tidak saling bebas dengan BT, B dengan CKB dan CT, sedangkan C dengan CM. Dengan demikian fasa sigma banyak dijumpai di A dan risiko terjadinya korosi di A lebih tinggi daripada lokasi lain, sedangkan di B dan C hampir sama namun risiko di A itu sendiri homogen. Dihasilkan beberapa hal dari penelitian ini yaitu, (i) beberapa teorema batas parameter grid hingga konvergen, (ii) terdapat hubungan signifikan antara lokasi dan warna, (iii) lokasi A dan BM berkontribusi terhadap asosiasi, dan (iv) proporsi varians yang dijelaskan oleh sumbu horizontal dan vertikal menampilkan 100% varians dalam data.
KORELASI UCS, UTS, PLI, DAN MODULUS YOUNG BATUAN SEDIMEN PADA CEKUNGAN KUTAI, KALIMANTAN TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi antara UCS dengan E, UTS dengan UCS, dan PLI dengan UCS melalui persamaan empiris. Data yang digunakan beasal dari hasil pengujian yang dilakukan di Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang FTTM-ITB tahun 2008-2023 dan sampel pengujian berasal berasal dari Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Kemudian, distribusi probabilitas unconfined compressive strength (UCS), uniaxial tensile strength (UTS), point load index (PLI), dan Modulus Young batuan sedimen sangat penting dalam desain dan konstruksi rekayasa batuan. Namun memerlukan waktu dan biasya untuk menentukan jenis distribusinya. Oleh karena itu, dilakukan fitting distribusi dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Hasil koefisien korelasi UCS dengan E didapatkan 110, 15 β 187,96 serta R-squared antara 0,745 β 0,856. Hasil koefisien korelasi UTS dengan UCS didapatkan 4,98β 14,76 serta R-squared antara 0,722 β 0,919. Hasil koefisien korelasi PLI dengan UCS didapatkan 5,87β 12,12 serta Rsquared antara 0,780 β 0,848. Kemudian dilakukan perbandingan lanjutan dengan penelitian sebelumnya yang berada di Cekungan Kutai dan di luar Cekungan Kutai.
PERAN NILAI SINGULAR PADA UJI KEBEBASAN DUA VARIABEL KUALITATIF (STUDI KASUS: KOROSI PADA STAINLESS STEEL)
Korosi adalah serangan destruktif pada logam yang dipicu oleh reaksi kimia atau elektrokimia dengan oksigen dan air, yang menghasilkan lubang-lubang kecil di permukaan (pitting). Stainless steel (SS) memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi, terutama karena kandungan kromium (Cr), nikel (Ni), dan niobium (Nb), dengan penambahan molibdenum (Mo) pada SS modern untuk meningkatkan ketahanan. Ketika SS dipanaskan cukup lama pada suhu 5600C hingga 9800C, Cr membentuk fase intermetalik ? yang dapat menurunkan sifat mekanik dan ketahanan korosi SS. Fase ? menghasilkan korosi dengan tingkat yang bervariasi, ditunjukkan oleh perubahan warna dari coklat muda (CM) hingga biru tua (BT).Tesis ini menganalisis data korosi menggunakan analisis korespondensi (AK) untuk memberikan informasi hubungan antara dua variabel kategorikal dalam ruang berdimensi rendah dalam bentuk peta AK. Dalam analisis ini digunakan metode tradisional dan metode penyederhanaan. Data korosi pada studi kasus memiliki tiga kategori baris dan lima kategori kolom dalam tabel kontingensi ????Γ????. Kemudian dilakukan perubahan pada distribusi marginal baris berdasarkan asumsi (uji Goodness of fit). Pada tahap akhir dilakukan uji ????2 dari kedua kasus, yaitu distribusi marginal berdasarkan observasi dan asumsi. Sehingga diperoleh hasil analisis bahwa metode penyederhanaan akan lebih sederhana dan lebih akurat karena meminimalisir pembulatan. Kemudian untuk perubahan distribusi marginal berdasarkan asumsi penulis, digunakan data ukuran populasi. Pada analisis ini menghasilkan peta AK yang hampir serupa dengan hasil peta AK yang diperoleh berdasarkan data observasi. Sehingga uji goodness of fit dengan menerapkan uji ????2 pada prosesnya menghasilkan hasil yang baik. Artinya marginal baris yang diasumsikan penulis sesuai dengan distribusi berdasarkan data observasinya.