📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 11 dokumenPERENCANAAN SISTEM PENGOLAHAN AIR MINUM DI UNIVERSITAS PERTAMINA
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk kehidupan orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menuntut terpenuhinya kebutuhan air bersih secara merata, tidak terbatas, dan berkelanjutan. Universitas Pertamina akan melakukan pembangunan ulang secara keseluruhan sehingga menyebabkan pelayanan kebutuhan air di Universitas Pertamina masih belum tersedia. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengolahan air minum untuk memenuhi kebutuhan air. Sumber air baku yang digunakan adalah air tanah dan air PDAM. Air tanah akan menjadi sumber air baku untuk air bersih, sedangkan air PDAM menjadi sumber air baku untuk air minum. Akan tetapi, kualitas air baku tersebut belum memenuhi baku mutu pada parameter besi, mangan, dan total coli. Sehingga direncanakan unit pengolahan berupa Multiple Tray Aerator, Saringan Pasir Cepat, dan desinfeksi. Setelah diolah, air bersih yang ada di dalam reservoar kemudian didistribusikan ke setiap gedung, sedangkan air minum akan disalurkan ke titik-titik water tap.
PENENTUAN NIKEL(II) SECARA VOLTAMMETRI MENGGUNAKAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI DMG, MAGNETIT, DAN NANOPARTIKEL PERAK
Nikel merupakan salah satu logam yang sering digunakan dalam industri seperti industri pelapisan logam, konstruksi dan mesin. Oleh sebab itu limbah yang mengandung nikel seringkali masuk ke dalam lingkungan perairan. Kadar nikel yang melebihi ambang batas dapat membahayakan kesehatan biota air maupun manusia sehingga dibutuhkan metode analitik yang sensitif, cepat, dan sederhana, untuk memantau kadar nikel dalam air. Pada penelitian ini, dikembangkan metode pengukuran nikel dalam sampel air secara voltammetri menggunakan elektroda pasta karbon (EPK) yang dimodifikasi dimetilglioksim (DMG), magnetit (Mag), dan nanopartikel perak (AgNPs). Elektroda kerja yang belum dan telah dimodifikasi dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS. Evaluasi arus puncak reduksi Ni(II) menggunakan EPK-DMG-Mag-AgNPs menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan elektroda lainnya. Serangkaian proses optimasi yang dilakukan untuk mendapatkan hasil pengukuran optimum antara lain optimasi teknik pengukuran, optimasi komposisi DMG dan magnetit, serta optimasi potensial dan waktu deposisi. Pada kondisi optimum, kinerja EPK-DMG-Mag- AgNPs menunjukkan keberulangan dan kebolehulangan yang baik dilihat dari nilai RSD pengukuran yang lebih kecil dibandingkan nilai RSD Horwitz. Pada analisis laju pindai diperoleh data bahwa proses transfer elektron lebih dominan dikontrol oleh proses adsorpsi. Untuk daerah linear pengukuran berada pada rentang 2-10 nM dengan nilai LOD sebesar 6x10-1 nM. EPK-DMG-Mag-AgNPs menunjukkan kinerja yang selektif terhadap ion Ni(II) pada penambahan ion pengganggu Zn(II), Mn(II), dan Cu(II). Untuk memvalidasi metode voltammetri dengan elektroda kerja EPK-DMG-Mag-AgNPs dilakukan perbandingan hasil pengujian dengan menggunakan AAS. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji-t. Hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua metode pada tingkat kepercayaan 95%. Pengujian sampel air sungai menggunakan EPK-DMG-Mag- AgNPs menunjukkan konsentrasi Ni(II) sebesar 12,036 nM atau dibawah ambang batas yang ditetapkan.
ESTIMASI KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN INSTRUMEN HIDRO-AKUSTIK (Studi Kasus: Muara Gembong, Bekasi)
Tugas akhir ini membahas teknik pengukuran, keterandalan instrumen dan persamaan empirik yang digunakan untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi. Area studi tugas akhir ini terletak di Muara Gembong, Bekasi. Instrumen hidroÂÂÂakustik yang digunakan adalah Acoustic Doppler Current profiler (ADCP) berfrekuensi 600 kHz. Selain kecepatan arus, ADCP juga mengukur intensitas pantulan balik. Intensitas pantulan balik tersebut merupakan nilai relatif konsentrasi sedimen tersuspensi. Penggunaan ADCP juga harus dikalibrasi dengan pengambilan sampel (direct sampling) sedimen tersuspensi. Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas pantulan balik menjadi konsentrasi sedimen tersuspensi. Konstanta persamaan empirik tersebut merupakan hasil kalibrasi di Meldorf Bight, Laut Utara Jerman. Persamaan empirik dievaluasi dengan membandingkan hasil estimasi ADCP dan direct sampling. Hasil evaluasi menunjukkan kesalahan rata-rata absolut = 0,06 kg/m3, kesalahan rata-rata relatif = 74%, dan tingkat kesesuaian faktor 2 = 64%. Berdasarkan hasil evaluasi, konstanta persamaan empirik hasil kalibrasi pengukuran di Meldorf Bight dapat digunakan untuk pengukuran di Muara Gembong.
PROFIL DISTRIBUSI PENCEMARAN LOGAM BERAT (CD, CR, CU, MN, PB DAN ZN) PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI CITARIK, SUB DAS HULU CITARUM
Sungai Citarik merupakan bagian dari Sub DAS Hulu Citarum yang menerima efluen dari 58 industri yang dibuang melalui anak-anak sungainya. Potensi pencemaran oleh limbah domestik, pertanian dan industri yang didominasi oleh industri tekstil dengan karakteristik mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi, mengetahui profil distribusi dan tingkat pencemaran oleh logam berat pada air dan sedimen di Sungai Citarik. Pemeriksaan air dan sedimen mengacu pada Standard Methods, 20th Ed., 1998 dan EPA Method 200.2. Hasil pemeriksaan, menunjukkan logam Cr, Cu dan Zn di semua titik sampling melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Jawa Barat No. 30 tahun 2000. Logam Pb kebanyakan tidak terukur konsentrasinya. Di beberapa titik bagian hilir sungai, logam Cd dan Mn melebihi baku mutu. Konsentrasi logam berat di sedimen untuk semua unsur melebihi baku mutu yang diatur Departement Water Resources Sate of California, 1995. Konsentrasi pada sedimen lebih besar dibandingkan konsentrasi pada air. Korelasi antara air dan sedimen dianalisis menggunakan software SPSS (Korelasi Pearson) dan uji regresi linear. Hasil korelasi yang berhubungan (>0,5) ditunjukan antara konsentrasi logam berat Cu pada air dan sedimen. Tingkat pencemaran logam berat pada air dan sedimen di semua titik berada pada 1 ? PLI < 2,5.
PENGEMBANGAN MATERIAL SENSOR BERBASIS RESONANSI PLASMON PERMUKAAN DAN KOLORIMETRI CITRA DIGITAL UNTUK DETEKSI ION LOGAM HG(II) MENGGUNAKAN NANOPARTIKEL PERAK TERMODIFIKASI POLIMER BERCETAK ION
Air merupakan komponen vital dalam kehidupan manusia dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor seperti industri, pertanian, rumah tangga, serta sebagai sumber air minum. Namun, ketersediaan air bersih kini semakin menurun akibat aktivitas industri, pertanian, irigasi, dan meningkatnya kepadatan penduduk. Pembuangan limbah yang tidak terkendali menyebabkan air tercemar oleh berbagai polutan, termasuk logam berat. Salah satu ancaman serius terhadap kualitas air adalah penggunaan merkuri (Hg) dalam kegiatan penambangan emas ilegal. Ion merkuri (Hg2+) merupakan polutan logam berat yang sangat toksik, bahkan dalam konsentrasi rendah, karena dapat mengganggu sistem saraf pusat, merusak ginjal, dan menyebabkan efek toksik kronis pada manusia maupun organisme akuatik. Di lingkungan perairan, Hg(II) dapat mengalami transformasi menjadi Hg+, Hg0, dan metil merkuri (MeHg) melalui interaksi dengan senyawa organik-anorganik dan mikroorganisme. Pengolahan air tercemar menjadi sangat penting agar tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Beberapa metode pengolahan seperti pengendapan, penyaringan, adsorpsi, penukar ion, dan fotodegradasi telah banyak digunakan. Namun, proses monitoring kualitas air secara berkala menggunakan sensor yang cepat, sensitif, dan selektif menjadi langkah awal yang krusial. Teknik konvensional seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), Atomic Emission Spectrophotometry (AES), Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), dan metode elektrokimia memiliki sensitivitas dan akurasi tinggi. Namun, metode-metode ini relatif mahal, rumit, dan kurang cocok untuk analisis lapangan. Nanopartikel perak (AgNPs) melalui sintesis hijau menjadi alternatif menarik dalam pengembangan sensor karena memanfaatkan bahan alami seperti ekstrak polong buah Kabau yang merupakan limbah rumah tangga dan pasar tradisional. Ekstrak polong buah Kabau mengandung senyawa metabolit aktif (flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid) yang berfungsi sebagai agen pereduksi dan penstabil. AgNPs dapat digunakan dalam bentuk terdispersi maupun dikembangkan ke dalam paper-based analytical devices (PADs). Meski menawarkan kelebihan seperti biaya rendah dan kemudahan penggunaan, tantangan tetap ada terkait selektivitas, sensitivitas, dan kestabilan AgNPs yang terbatas oleh waktu dan interferensi matriks lingkungan. Ion-imprinted polymer/polimer bercetak ion (IIP) hadir sebagai solusi karena memiliki situs pengenalan spesifik terhadap ion target dan stabil dalam berbagai kondisi. Dalam penelitian ini, dikembangkan sensor berbasis resonansi plasmon permukaan (SPR) dan kolorimetri citra digital (DIC) menggunakan AgNPs yang dimodifikasi dengan IIP spesifik untuk Hg(II), menghasilkan material AgNPs@IIP-Hg. AgNPs disintesis secara ramah lingkungan menggunakan ekstrak polong Kabau, menghasilkan nanopartikel berbentuk spherical berukuran rata-rata 16,01 nm yang stabil berdasarkan karakterisasi spektrofotometer UV-Vis, Transmission Electron Microscope (TEM), Particle size analyzer (PSA), zeta potensial, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan X-ray Diffraction (XRD). IIP-Hg disintesis dengan metode presipitasi menggunakan 4-vinil piridin, etilen glikol dimetakrilat (EGDMA), Benzoil peroksida (BPO), dan etanol, kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR, Scanning Electrom Microscopy-Energy-Dispersive Spectrometer (SEM-EDS), PSA, zeta potensial, serta thermogravimetric analysis (TGA-DTG). Hasil studi adsorpsi menunjukkan kondisi optimum pada pH 4, waktu kontak 60 menit, dan massa adsorben 20 mg, dengan kapasitas adsorpsi maksimum 41,32 mg.g-1 untuk ion-imprinted polymer Hg (IIP-Hg) dan 23,31 mg.g-1 untuk non-imprinted polymer (NIP). Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde dua semu dan isoterm Langmuir. IIP-Hg menunjukkan kemampuan adsorpsi terhadap Hg(II) yang lebih tinggi dibandingkan polimer non-imprinted (NIP), dengan nilai imprinting factor sebesar 1,77, yang mengindikasikan adanya situs pengenalan spesifik terhadap ion target pada IIP-Hg. Selain itu, IIP-Hg juga menunjukkan selektivitas tinggi terhadap Hg(II) dibanding logam lain (Cu2+, Pb2+, Cd2+). Parameter termodinamika menunjukkan proses berlangsung spontan (?G < 0), eksoterm (?H < 0), dan disertai peningkatan ketidakteraturan pada sistem adsorpsi (?S > 0). IIP-Hg dapat digunakan ulang hingga lima siklus tanpa kehilangan performa signifikan. Modifikasi material AgNPs@IIP-Hg berhasil disintesis dan dikarakterisasi melalui UV-Vis, FTIR, SEM, HRTEM, EDS, dan SAED. Hasil menunjukkan AgNPs terdistribusi merata di permukaan IIP-Hg dengan struktur polikristalin. Sensor AgNPs@IIP-Hg memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan AgNPs tanpa modifikasi, dengan LOD dan LOQ yang lebih rendah. Pengujian visual dengan metode DIC menunjukkan perubahan intensitas warna blue yang linier terhadap konsentrasi Hg(II). Pengujian pada sampel nyata dari tambang emas rakyat dengan metode spike menunjukkan hasil tidak berbeda signifikan dibandingkan metode standar CVAAS, yang menegaskan keandalan sensor ini. Dengan demikian, material AgNPs@IIP-Hg berbasis SPR dan DIC menunjukkan potensi besar sebagai sensor lapangan yang efisien, selektif, ramah lingkungan, dan aplikatif untuk deteksi ion logam Hg(II) di lingkungan perairan.
KAJIAN KEBUTUHAN AIR MINUM RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU
Studi ini menganalisis kebutuhan air minum rumah tangga di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Indonesia. Tujuannya adalah untuk menilai pola konsumsi air, mengidentifikasi faktor sosial ekonomi dan lingkungan yang memengaruhi, serta mengevaluasi kemampuan dan kemauan masyarakat untuk terhubung dengan layanan PDAM. Studi ini juga mengkaji persepsi kualitas air rumah tangga serta implikasinya terhadap rekomendasi tarif yang sesuai dengan standar keterjangkauan. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari survei rumah tangga terstruktur melalui platform mWater serta data primer dari pengambilan sampel kualitas air di beberapa kecamatan terpilih. Hasil menunjukkan rata-rata konsumsi air sebesar 133,18 liter per orang per hari, dengan ukuran rumah tangga berpengaruh signifikan terhadap jumlah penggunaan. Faktor sosial ekonomi seperti pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan juga memengaruhi tingkat konsumsi dalam berbagai tingkat. Rata-rata kemampuan membayar (ATP) masyarakat adalah sebesar Rp. 217.095 per bulan, yang melebihi batas keterjangkauan 4% berdasarkan UMR Kabupaten Bengkalis. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa banyak sumber air non-PDAM tidak memenuhi standar kualitas air minum nasional, memperkuat urgensi pengembangan layanan air perpipaan. Untuk menjaga keterjangkauan, direkomendasikan tarif maksimum sebesar Rp. 157.345 per bulan, setara dengan Rp. 9.530 per meter kubik untuk 10 m³ pertama.
PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK TERPADU BESERTA PEMANFAATAN LUMPUR DAN EFLUEN SKALA PERKOTAAN DI KOTA SUKABUMI, VOLUME 2 PERANCANGAN UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK
Setelah konfigurasi pengolahan ditentukan pada volume 1, dilakukan penentuan kriteria desain unit pengolahan; perhitungan dimensi dan jumlah unit pengolahan; penentuan desain tata letak IPAL; pembuatan gambar teknik; penentuan spesifikasi teknis unit; perhitungan RAB; pembuatan SOP operasional; dan penyusunan laporan. Kapasitas IPAL dirancang sebesar 26.102 m³/hari hingga tahun 2055 untuk melayani 58% populasi kota. Data kualitas air limbah yang perlu diolah didapatkan dari data sekunder, dengan nilai pH; BOD; COD; TSS; Minyak dan Lemak; Amonia; dan Total Koliform sebesar 7,8; 271 mg/L; 311 mg/L; 192 mg/L; 61 mg/L; 45 mg/L; dan 4,5 x 108 Jml/100 mL. Parameter tersebut belum memenuhi baku mutu air limbah domestik kecuali pH sehingga diperlukan adanya konfigurasi unit pengolahan untuk menyisihkan berbagai parameter pencemar seperti padatan tersuspensi, materi organik, nutrien, serta bakteri patogen. Unit pengolahan yang digunakan sebagai penyisihan padatan tersuspensi: bar coarse screen tipe mechanically-cleaned bar screen; Horizontal-flow Grit Chamber; Bak Ekualisasi; dan sedimentasi primer. Unit pengolahan untuk penyisihan nutrien dan zat organik: MBBR dan clarifier sekunder. Unit penyisihan patogen: bak klorinasi. Total CAPEX untuk tahap 1 dan tahap 2 adalah Rp64,198,992,000 (enam puluh empat miliar seratus sembilan puluh delapan juta sembilan ratus sembilan puluh dua ribu rupiah).
PENDEKATAN KOMPARATIF DAN SISTEMATIS UNTUK MEMFORMULASIKAN SISTEM ALKALI-SURFAKTAN BERKINERJA TINGGI: DARI PEMILIHAN SURFAKTAN ANIONIK (LABS VS. LABS/AOS) HINGGA PENINGKATAN ALKALI UNTUK PENINGKATAN PEMULIHAN MINYAK RINGAN
Tidak ada deskripsi.
ANALISIS KUALITAS PERAIRAN SUNGAI MAHAKAM TAHUN 2018-2022
Indonesia dengan curah hujannya yang tinggi memiliki banyak sungai salah satunya Sungai Mahakam. Sungai Mahakam digunakan masyarakat penunjang kegiatan sehari-hari, pertanian, transportasi dan jalur bagi kapal tongkang yang membawa batu bara, sehingga menjadikan kualitas air Sungai Mahakam berpotensi menurun. Untuk mengetahui seberapa tercemarnya Sungai Mahakam, makalah ini akan membahas beberapa parameter polutan seperti parameter fisika, parameter kimiadan parameter biologi.Data yang digunakan berasal dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur yang diambil dari 10 lokasi pengamatan pada tahun 2018-2022 secara langsung serta diuji di laboratorium. Identifikasi dan perhitungan kualitas air diproses sesuai panduan penentuan status kualitas air menggunakan metode Indeks Pencemaran dengan parameter pencemar yang digunakan yaitu suhu, TSS, TDS, BOD, COD, DO, pH, nitrit, nitrat, amonia, fosfat, besi terlarut dan Fecal coliform. Nilai dan klasifikasi Indeks Pencemaran dihubungkan terhadap data pencemar dan kondisi di lokasi pengamatan secara statistik maupun kualitatif untuk dilihat pengaruh masing-masing faktor.Berdasarkan rata-rata nilai Indeks Pencemaran, status mutu air Sungai Mahakamuntuk baku mutu kelas I, II dan III memiliki rata-rata nilai IP 3,07, 1,99 dan 1,33.atau tercemar ringan. Hasil untuk baku mutu kelas IV diperoleh status mutu air tergolong dalam kondisi baik dengan rata–rata nilai IP 0,06. Kualitas air cenderung memburuk dari hulu ke hilir. Profil parameter pencemar mayoritas semakin bertambah tiap tahun dikarenakan berbagai aktivitas penduduk di sekitar sungai.
KAJIAN PENETAPAN DEBIT LINGKUNGAN DAN KUALITAS AIR (ENVIRONMENTAL FLOW): STUDI KASUS SUNGAI CITARUM DI HILIR BENDUNGAN CIRATA
abstrak bisa dilihat di filenya
PENGEMBANGAN METODE PERHITUNGAN INDEKS KUALITAS AIR DALAM UPAYA PENILAIAN KUALITAS AIR SUNGAI (STUDI KASUS: SUNGAI CITARUM HULU, PROVINSI JAWA BARAT)
Indeks kualitas air (IKA) adalah alat penentuan status mutu air yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air. IKA diharapkan mampu memberikan representasi kualitas sungai sesungguhnya kepada publik dan pengambil keputusan. DAS Citarum Hulu yang merupakan salah satu aliran terbesar di Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu badan air yang erat kaitannya dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan indeks kualitas air yang sesuai untuk menggambarkan kualitas air di DAS Citarum Hulu. Tujuan utama dari penelitian ini adalah memvalidasi metode pengembangan indeks kualitas air sehingga sesuai untuk DAS Citarum Hulu. Data yang digunakan meliputi data primer yang diperoleh dari wawancara dan kuesioner kepada panelis di bidang air serta data sekunder yang berasal dari DLH Jawa Barat serta penelitian sebelumnya mengenai komparasi indeks kualitas air DAS Citarum Hulu. Analisis yang dilakukan terhadap hasil wawancara dan kuesioner menemukan bahwa terdapat 9 parameter beserta bobotnya yang mewakili 4 kategori penurunan untuk DAS Citarum Hulu yakni TSS (0,07), warna (0,038), dan pH (0,059) yang mewakili kategori karakteristik fisik; BOD (0,139), COD (0,094), dan DO (0,088) yang mewakili penurunan oksigen dan kadar organik; nitrat (0,096) dan total fosfat (0,102) yang mewakili eutrofikasi; serta fekal koli (0,313) yang mewakili bahaya kesehatan. Hal ini memiliki implikasi bahwa parameter terpilih melalui metode pengembangan sesuai dengan beberapa indeks kualitas air yang berlaku di Indonesia.