📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

PENGEMBANGAN ALAT PENDETEKSI FERTILITAS TELUR BERBASIS KAMERA DAN MACHINE LEARNING

Industri peternakan ayam di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan naiknya kebutuhan protein hewani. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah proses pendeteksian telur fertil dan infertil yang umumnya dilakukan secara manual, sehingga kurang efisien dan rentan terhadap kesalahan identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah alat pendeteksi fertilitas telur berbasis sistem kotak tertutup berkapasitas 36 telur yang dilengkapi kamera Arducam IMX477 dan model machine learning YOLOv11. Proses pendeteksian dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan intensitas cahaya yang menembus telur, di mana telur fertil tampak gelap dan telur infertil tampak terang, kemudian dideteksi secara real-time melalui web dashboard . Hasil pelatihan model menunjukkan performa yang sangat baik dengan nilai mAP50 sebesar 0,9950, precision sebesar 0,9076, dan recall sebesar 0,9230. Pengujian sistem secara real-time menunjukkan bahwa alat mampu mendeteksi fertilitas telur secara otomatis dengan tingkat akurasi yang tinggi. Selain itu, pengujian terhadap 216 butir telur serta evaluasi 55 kombinasi parameter citra menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara konsisten dan optimal pada berbagai pengaturan kamera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendeteksi berbasis kamera dan machine learning yang dikembangkan memiliki potensi sebagai solusi pendeteksian fertilitas telur yang lebih objektif, cepat, dan efisien dibandingkan metode candling manual.

2026
👤 Penulis: Ilmania Syakira
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Peternakan Ayam 🏷️ Analisis Kualitas Produk

USULAN PERBAIKAN RANCANGAN EARPLUG DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KENYAMANANNYA

Penggunaan alat pelindung telinga atau earplug di lingkungan kerja di Indonesia masih menunjukkan tingkat kepatuhan yang rendah. Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terutama dalam aspek perlindungan terhadap paparan kebisingan. Ketidaknyamanan pengguna menjadi salah satu alasan utama rendahnya penggunaan earplug di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan penggunaan earplug di Indonesia serta memberikan usulan rancangan desain earplug yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penilaian kenyamanan dilakukan menggunakan kuesioner COmfort of hearing PROtection Device (COPROD) yang mencakup empat dimensi: physical comfort, functional comfort, acoustical comfort, dan psychological comfort. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 458 pengguna earplug dan dianalisis menggunakan metode partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM). Hasil pengolahan menunjukkan setiap dimensi memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kenyamanan keseluruhan atau overall comfort penggunaan earplug. Selanjutnya, dilakukan penentuan atribut kenyamanan yang memiliki kepentingan tinggi dan performa yang kurang baik menggunakan importance- performance map analysis (IPMA). Berdasarkan analisis yang dilakukan, dimensi physical comfort merupakan dimensi dengan atribut-atribut yang memiliki kepentingan tinggi dalam meningkatkan kenyamanan keseluruhan penggunaan earplug dan pada saat ini, performanya masih perlu diperbaiki. Dimensi functional comfort juga memiliki performa yang belum optimal, tetapi kepentingannya cukup rendah sehingga memiliki prioritas perbaikan yang lebih rendah. Perancangan solusi dilakukan dengan menerjemahkan atribut terpilih tersebut menjadi kebutuhan fungsional dan kebutuhan teknis kemudian menentukan aspek perancangan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan performanya.

2025
👤 Penulis: Aqila Fatima Pulungan
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Desain Alat Pelindung 🏷️ Analisis Kualitas Produk

USULAN PERBAIKAN KUALITAS HINGE AFT AIRBUS A350 DENGAN METODOLOGI SIX SIGMA PADA PT DIRGANTARA INDONESIA

PT Dirgantara Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang kedirgantaraan. PT DI dan Airbus telah bekerja sama dalam pembuatan beberapa komponen pesawat Airbus A350, salah satunya adalah Hinge AFT. Berdasarkan data produksi Hinge AFT dari periode Januari 2018 - Februari 2023, terdapat 16,35% part cacat yang dihasilkan. Persentase ini sangat jauh berbeda dengan target perusahaan yang hanya sebesar 1% saja sehingga perlu diketahui penyebab tingginya persentase cacat Hinge AFT. Oleh karena itu, melalui penelitian ini akan dilakukan perbaikan kualitas pada proses produksi Hinge AFT memanfaatkan metodologi Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Melalui tahap define, dilakukan merumuskan permasalahan proyek Six Sigma, mengidentifikasi Hinge AFT dan proses produksinya, serta mengidentifikasi jenis cacat Hinge AFT. Lalu, pada tahap measure, diperoleh nilai kapabilitas proses dalam bentuk nilai sigma sebesar 2,97. Kemudian, pada tahap analyze dilakukan analisis penyebab cacat dengan memanfaatkan tools 5 whys. Hasilnya, didapatkan akar masalah yang kemudian ditentukan prioritasnya melalui FMEA, yaitu (1) tidak ada identifikasi umur pakai drill bit, (2) tidak ada pengecekan menyeluruh saat pemasangan workpart pada main operation, dan (3) tidak terdapat petunjuk pada rak penyimpanan tool yang sesuai dengan tool matrix . Lalu, pada tahap improve, dilakukan perancangan usulan perbaikan untuk ketiga akar masalah tersebut dengan hasil tiga rancangan usulan perbaikan, yaitu (1) pembuatan tool life card, (2) pembuatan label identifikasi pada tempat penyimpanan tool, dan (3) pembuatan tabel checklist verifikasi pemasangan workpart. Masing-masing usulan tersebut juga dilengkapi SOP yang menjelaskan alur pelaksanaannya. Terakhir, tahap control, hanya dilakukan sebatas pembuatan timeline rencana implementasi usulan perbaikan.

2025
👤 Penulis: Jezreeldo Ekabhima Lukas
🏷️ Keprofesian Manajemen Proses Industri 🏷️ Six Sigma 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PERANCANGAN SUBSISTEM PENGENDALI DAN PENGALIRAN AIR UNTUK POURFECT60: MESIN PENYEDUH KOPI OTOMATIS

Metode penyeduhan kopi V60 kini semakin digemari oleh para pecinta kopi di seluruh dunia karena mampu menghasilkan cita rasa yang khas. Namun, proses penyeduhan secara manual membutuhkan keterampilan dan konsistensi yang tidak semua orang miliki. Untuk mengatasi tantangan tersebut, dikembangkan sebuah sistem penyeduhan otomatis yang dirancang untuk meniru proses manual dengan bantuan sensor dan pengendalian otomatis. Sistem ini bertujuan untuk menyederhanakan proses penyeduhan V60 sekaligus mempertahankan kualitas hasil seduhan. Pengaturan suhu, volume air, dan waktu penuangan dilakukan secara otomatis melalui sistem kendali terpusat yang memanfaatkan sensor dan aktuator untuk menjaga konsistensi setiap tahapan penyeduhan. Secara keseluruhan, sistem terdiri atas beberapa subsistem utama, yaitu subsistem elektronik, mekanik, dan catu daya, yang bekerja secara terkoordinasi. Salah satu komponen penting adalah sistem pengendali utama, yang berfungsi untuk menerima data dari antarmuka pengguna dan mengatur seluruh proses penyeduhan berdasarkan parameter yang ditentukan. Sistem ini dilengkapi dengan modul komunikasi Bluetooth Low Energy (BLE) yang memungkinkan pengguna mengirim resep melalui aplikasi seluler. Sistem pengendali juga menangani proses pengeluaran air menggunakan motor yang dikontrol oleh sinyal PWM. Nilai PWM dikalibrasi terhadap debit air yang dihasilkan, sehingga volume air yang dikeluarkan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Untuk meningkatkan akurasi volume, sistem menerapkan mekanisme kompensasi berdasarkan pengukuran error sebelumnya, sehingga kesalahan pengeluaran air rata-rata dapat ditekan hingga sekitar 1,2%. Meskipun masih terdapat perbedaan kecil antara pembacaan sensor dan setpoint, sebagian besar error berada dalam batas toleransi yang dapat diterima. Proses kalibrasi lanjutan dan penyempurnaan perangkat lunak masih dibutuhkan untuk meningkatkan akurasi sistem secara keseluruhan. Tahapan berikutnya dari penelitian ini akan melibatkan evaluasi rasa dan kualitas kopi yang dihasilkan oleh sistem otomatis, dibandingkan dengan hasil seduhan manual, guna menilai efektivitas dan keberhasilan sistem dari sisi pengalaman pengguna.

2025
👤 Penulis: Nico Oktavianto Aritonang
🏷️ Elektronika 🏷️ Manajemen Proses Pengendalian 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PERANCANGAN INDUSTRI PRODUKSI CABAI MERAH KERITING (CAPSICUM ANNUM L.) GILING DAN BUBUK : ANALISIS KADAR AIR, PH, TOTAL SENYAWA FENOLIK DAN CEMARAN JAMUR PADA OPTIMASI BLANSIR DAN PENGERINGAN CABAI MERAH KERITING (CAPSICUM ANNUM L.) DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM)

Cabai merah keriting (Capsicum annum L.) merupakan produk hortikultura yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Total produksi cabai di Indonesia selama tiga tahun terakhir berturut-turut dari tahun 2021 sampai dengan 2023 mencapai mencapai 1.360.571 ton, 1.475.821 ton, dan 1.554.498 ton. Cabai merah keriting merupakan komoditas yang memiliki kadar air mencapai 85%. Kadar air yang tinggi ini mengakibatkan cabai rentan akan kerusakan secara fisik, kimia dan biologis. Akumulasi kerusakan tersebut dapat mencapai 40% dari total keseluruhan cabai yang telah dipanen. Salah satu solusi yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya adalah dengan melakukan proses diversifikasi produk cabai segar menjadi cabai kering melalui proses pengeringan. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air sehingga dapat meningkatkan umur simpan cabai . Tetapi, proses pengeringan yang melibatkan suhu dapat mengakibatkan kerusakan beberapa senyawa yang terkandung pada cabai segar seperti senyawa fenolik. Oleh sebab itu, perlakuan blansir dengan penambahan Natrium Metabisulfit diajukan sebagai perlakuan awal untuk mengurangi kerusakan pada cabai segar sebagai akibat dari proses pengeringan. Penelitian ini menggunakan metode Response Surface Methodology melalui program Minitab 22®, dengan model Box-Behnken Design untuk optimasi blansir dan Central Composite Design untuk optimasi pengeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kombinasi optimum suhu, waktu, dan konsentrasi natrium metabisulfit pada proses blansir, serta suhu dan waktu pada proses pengeringan. Parameter yang menjadi tolak ukur adalah kadar air, pH, total senyawa fenolik dan total cemaran jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blansir optimum adalah suhu 89 °C, waktu 20 menit, dan konsentrasi natrium metabisulfit 0,7% (w/v). Sedangkan optimasi pengeringan berada pada suhu 43,79 °C dan waktu 23,31 jam. Perlakuan optimum yang didapatkan menghasilkan cabai merah keriting kering dengan kadar air sebesar 0,12% (bb) dan total senyawa fenolik sebesar 368,61 mg GAE/100g dengan nilai pH dan total cemaran jamur berdasarkan pemodelan regresi berturut-turut sebesar 5,27 dan 3,64 Log CFU/g.

2025
👤 Penulis: Audy Firdausa
🏷️ Kebijakan Produksi 🏷️ Optimisasi Proses Pengolahan 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI CACAT PERMUKAAN LEMPENGAN BAJA BERBASIS MACHINE LEARNING

Aplikasi industrial dari material baja cold-rolled sangat bergantung pada kesempurnaan permukaan, akurasi dimensi, dan properti mekaniknya. Namun, proses deteksi cacat yang dilakukan secara manual menjadi penghambat efisiensi produksi dan sering kali menghasilkan penilaian yang tidak konsisten. Penelitian ini memperkenalkan sebuah solusi otomatis berbasis kecerdasan buatan untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan mengimplementasikan model machine learning YOLO (You Only Look Once), sistem ini dikembangkan untuk melakukan deteksi cacat permukaan pada lembaran baja secara presisi, akurat, dan dengan kecepatan real-time, guna menggantikan metode inspeksi visual konvensional.

2025
👤 Penulis: Abraham Wellmart Marudut Tua S
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Proses Tekstil 🏷️ Analisis Kualitas Produk

USULAN STRATEGI PENGELOLAAN HUBUNGAN PEMASOK-PESAING: STUDI KASUS PT WIDYATAMA AGUNG LESTARI

PT WAL merupakan perusahaan pemasok alat pelindung diri (APD) yang menawarkan produk berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengek-splorasi strategi kolaborasi yang efektif dengan para pemasok guna meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Para pemasok PT WAL saat ini merupakan mantan pesaing yang telah menjadi mitra strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat rantai pasokan. Akan tetapi, beberapa pesaing tetap tidak mau berkolaborasi. Tujuan dari proyek akhir ini adalah untuk membantu PT WAL dalam menyempurnakan strategi penjualan APD melalui strategi korporat, strategi bisnis co-opetition, strategi pengadaan, serta evaluasi dan pemilihan pemasok. Penelitian ini diawali dengan analisis lingkungan internal dan eksternal. Secara internal, wawancara dilakukan dengan Presiden Direktur, Direktur Operasional, dan karyawan yang terlibat dalam penjualan APD. Secara eksternal, data sekunder digunakan untuk menilai strategi perusahaan, strate-gi bisnis ko-opetisi, pendekatan pengadaan, dan metode evaluasi pemasok. Selain itu, evaluasi kuanti-tatif dan multidimensi dilakukan pada beberapa perspektif penting: kinerja keuangan, kualitas produk, kepuasan pelanggan, pengetahuan produk, dan kinerja pengiriman. Hasilnya mengungkapkan be-berapa kesenjangan kinerja pada pemasok yang ada yang memerlukan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi perusahaan PT WAL fokus pada pencapaian per-tumbuhan jangka panjang dan keunggulan kompetitif melalui kombinasi kepemimpinan biaya, diferen-siasi, inovasi digital (e-commerce), dan strategi bisnis ko-opetisi dengan mengubah pesaing menjadi pemasok. Strategi terpadu ini meningkatkan kekuatan rantai pasokan, efisiensi proyek, dan loyalitas pelanggan. Untuk mengelola kolaborasi pemasok, PT WAL membina kemitraan jangka panjang dan transparan berdasarkan manfaat bersama, termasuk pembiayaan proyek bersama. Pemasok kinerja dievaluasi secara berkala untuk memastikan keselarasan berkelanjutan dengan tujuan perusahaan. Pendekatan strategis ini meningkatkan operasional dan daya saing dalam lingkungan pasar yang dinamis.

2025
👤 Penulis: Pramitha Sri Maharani Santoso
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI SURFAKTAN PALM KERNELAMIDOPROPYL BETAINE (PKAPB) DARI SPLITTED PALM KERNEL FATTY ACID (SPKFA)

Minyak kelapa merupakan bahan baku utama yang digunakan pada pembuatan surfaktan betaine atau cocamidopropyl betaine (CAPB), yang banyak digunakan dalam produk pembersih serta perawatan diri. Namun, Indonesia masih mengimpor CAPB sebesar 15.000 ton yang senilai dengan 20 juta USD pada tahun 2020. Salah satu bahan baku yang berpotensi menjadi padanan minyak kelapa dalam pembuatan surfaktan tersebut adalah minyak ini kelapa sawit. Surfaktan betaine yang berasal dari minyak inti kelapa sawit (palm kernelamidopropyl betaine, PKAPB) diproduksi melalui dua tahap reaksi, yaitu reaksi amidasi dan reaksi karboksimetilasi. Saat ini, produksi PKAPB masih dilakukan pada skala laboratorium dan belum memenuhi spesifikasi produk CAPB komersial. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas surfaktan PKAPB dan meningkatkan skala produksi PKAPB dengan umpan sebesar 1,25 kg splitted palm kernel fatty acid (SPKFA)/batch. Produksi PKAPB dilakukan secara duplo pada skala laboratorium dengan variasi reaksi amidasi, yaitu laju alir nitrogen (dalam ml/menit) sebesar 25; 50; 75; 100; 150; 200; tanpa nitrogen; dan flushing nitrogen di awal reaksi dengan laju 100 ml/menit selama 15 menit serta variasi jumlah make-up dimethylaminopropyl amine (DMAPA) di tengah reaksi amidasi sebesar 0%; 15%; 30%; dan 45%. Parameter analisis PKAPB, yaitu kandungan bahan aktif, angka asam, viskositas, warna produk, pH, densitas, kadar NaCl, dan kadar air. Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan laju aliran nitrogen hingga 100 ml/menit dan penambahan minimal 30% DMAPA selama reaksi amidasi dapat meningkatkan kualitas PKAPB. Kombinasi laju alir nitrogen 75 ml/menit dan 45% DMAPA pada skala semi pilot menghasilkan surfaktan PKAPB yang mendekati spesifikasi CAPB komersial, meskipun penyesuaian lebih lanjut diperlukan untuk warna dan viskositas produk.

2024
👤 Penulis: Denisa Putri Bunda
🏷️ Kemurnian Minyak Kelapa 🏷️ Proses Pembuatan Surfaktan Betaine 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI SURFAKTAN PALM KERNELAMIDOPROPYL BETAINE (PKAPB) DARI SPLITTED PALM KERNEL FATTY ACID (SPKFA)

Minyak kelapa merupakan bahan baku utama yang digunakan pada pembuatan surfaktan betaine atau cocamidopropyl betaine (CAPB), yang banyak digunakan dalam produk pembersih serta perawatan diri. Namun, Indonesia masih mengimpor CAPB sebesar 15.000 ton yang senilai dengan 20 juta USD pada tahun 2020. Salah satu bahan baku yang berpotensi menjadi padanan minyak kelapa dalam pembuatan surfaktan tersebut adalah minyak ini kelapa sawit. Surfaktan betaine yang berasal dari minyak inti kelapa sawit (palm kernelamidopropyl betaine, PKAPB) diproduksi melalui dua tahap reaksi, yaitu reaksi amidasi dan reaksi karboksimetilasi. Saat ini, produksi PKAPB masih dilakukan pada skala laboratorium dan belum memenuhi spesifikasi produk CAPB komersial. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas surfaktan PKAPB dan meningkatkan skala produksi PKAPB dengan umpan sebesar 1,25 kg splitted palm kernel fatty acid (SPKFA)/batch. Produksi PKAPB dilakukan secara duplo pada skala laboratorium dengan variasi reaksi amidasi, yaitu laju alir nitrogen (dalam ml/menit) sebesar 25; 50; 75; 100; 150; 200; tanpa nitrogen; dan flushing nitrogen di awal reaksi dengan laju 100 ml/menit selama 15 menit serta variasi jumlah make-up dimethylaminopropyl amine (DMAPA) di tengah reaksi amidasi sebesar 0%; 15%; 30%; dan 45%. Parameter analisis PKAPB, yaitu kandungan bahan aktif, angka asam, viskositas, warna produk, pH, densitas, kadar NaCl, dan kadar air. Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan laju aliran nitrogen hingga 100 ml/menit dan penambahan minimal 30% DMAPA selama reaksi amidasi dapat meningkatkan kualitas PKAPB. Kombinasi laju alir nitrogen 75 ml/menit dan 45% DMAPA pada skala semi pilot menghasilkan surfaktan PKAPB yang mendekati spesifikasi CAPB komersial, meskipun penyesuaian lebih lanjut diperlukan untuk warna dan viskositas produk.

2024
👤 Penulis: Adhelya Zahra Nafisa
🏷️ Kemurnian Minyak Kelapa 🏷️ Proses Pembuatan Surfaktan Betaine 🏷️ Analisis Kualitas Produk
💬