π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 15 dokumenPERSEPSI PENGGUNA TENTANG INKLUSIVITAS RUANG PUBLIK PASCA-REVITALISASI: STUDI KASUS KAWASAN OLAHRAGA GELORA BUNG KARNO (GBK)
Revitalisasi Kawasan Olahraga Gelora Bung Karno (GBK) pada tahun 2018 telah mentransformasi fasilitas olahraga ini menjadi ruang publik urban berskala masif di Jakarta. Namun, peningkatan infrastruktur fisik tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan akses secara sosial, memunculkan kesenjangan antara ketersediaan fasilitas dan keleluasaan pengguna dari berbagai latar belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi pengguna terhadap tingkat inklusivitas GBK pasca-revitalisasi serta mengidentifikasi mekanisme pembentukan pengalaman yang terjalin dari interaksi antara pengguna dan ruang fisik. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, penelitian ini mengintegrasikan analisis konten tematik dari narasi pengguna, pemetaan deskriptif, dan triangulasi statistik berskala makro terhadap data persepsi dari 108 responden usia produktif. Hasil analisis mengungkap bahwa pengalaman inklusivitas di GBK beroperasi dalam tiga lapisan hierarkis yaitu Infrastruktur Dasar, Kesetaraan Akses, dan Kenyamanan Psikologis. Di balik skor persepsi penerimaan sosial yang tinggi, ditemukan empat kondisi pembatas berupa kualitas akses masuk, keterjangkauan layanan komersial, dinamika penyelenggaraan acara, dan tingkat keakraban kawasan, yang secara halus menciptakan diferensiasi pengalaman bagi kelompok tertentu. Temuan ini merumuskan konsep inti Inklusivitas Bersyarat (Conditional Inclusivity), di mana hak publik atas ruang tetap terfasilitasi secara formal, namun keleluasaan beraktivitas dan terbentuknya rasa memiliki (sense of belonging) masih tertahan oleh faktor tata kelola ekonomi dan mobilitas. Sebagai kontribusi praktis, penelitian ini merumuskan sepuluh kriteria desain untuk mengoptimalkan keadilan dan pengalaman keruangan pada kawasan olahraga multifungsi pasca-revitalisasi.
MENINGKATKAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN OPERASI PENGAPALAN PADA PERUSAHAAN PUPUK MELALUI DASHBOARD DINAMIS: SEBUAH ANALISIS KUALITATIF
Proyek akhir ini mempelajari bagaimana para pemangku kepentingan di PT Pupuk Indonesia (Persero) mengambil keputusan selama fase pelaksanaan distribusi kapal melalui kapal di Lini I ke II dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan pengambilan Keputusan yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas manajerial. Alih-alih membangun system operasional lengkap, studi ini mengambil pendekatan yang lebih praktis dan berorientasi pada pengambilan Keputusan dengan mengumpulkan informasi tentang tantangan operasional harian, memeriksa sistem informasi saat ini, dan mengidentifikasi kesenjangan dukungan pengambilan keputusan yang akan menentukan fitur dari system tersebut. Fokus proyek akhir ini adalah memahami bagaimana informasi yang ada dimanfaatkan untuk pengambilan Keputusan dan bagaimana informasi tersebut dapat disusun ulang dengan lebih baik untuk mendukung intervensi manajerial yang lebih cepat dan proaktif. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penulis melakukan tiga wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama di Kompartemen Distribusi yang bertanggung jawab atas perencanaan dan perutean operasional pengiriman. Transkrip wawancara mereka diproses dengan pengodean dua siklus dari SaldaΓ±a (2009) untuk mengidentifikasi masalah pada pola yang berulang. Analisis kualitatif menerjemahkan tantangan operasional ke kriteria pengambilan Keputusan terstruktur yang mewakili kebutuhan informasi dari pemangku kepentingan.selama proses pelaksanaan distribusi. Temuan dari proyek akhir ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan saat ini bergantung pada sumber informasi yang terfragmentasi, seperti laporan terpisah, grup WhatsApp, dan spreadsheet. Fragmentasi ini memperlambat respons manajerial dalam situasi operasional seperti keterlambatan kapal, kekurangan stok, atau deviasi pelaksanaan. Sistem digital saat ini menyediakan fungsi transaksional dan pelaporan dasar tetapi kurang memiliki visibilitas operasional untuk mendukung pengambilan keputusan yang efektif. Pastisipan juga menyoroti tidak adanya Key Performance Indocator (KPI) operasional yang terstandardisasi untuk kontrol pelaksanaan. Studi ini mengusulkan dasbor pendukung Keputusan sebagai Solusi bisnis. Desain dasbor didasarkan pada kriteria pengambilan Keputusan dari analisis kualitatif dan turunan dari House of Quality (HOQ). Adapun solusi yang ditawarkan meningkatkan visibilitas operasional, deteksi resiko dini, dan rensponsivitas pengambilan keputusan.
PROSEDUR PENGGUNAAN ETS TOPCON GPT 7500 UNTUK PEMETAAN OBJEK BANGUNAN 3D (Studi Kasus: Gedung B, Asrama Bumi Ganesha ITB)
Salah satu perkembangan teknologi alat survei pemetaan dengan metode terestris adalah Electronic Total Station (ETS) TOPCON GPT 7500. Dengan kelebihan yang dimiliki, ETS ini mampu melakukan penguknran tanpa menggunakan reflector atau reflectorless. Teknologi Electronic Distance Measurement (EDM) yang dimiliki ETS, mampu melakukan pengukuran reflectorless dengan jarak 2000 m dan mernpunyai akurasi (ΓβΓΒ±lOmm+lOppm*D). Penggunaan alat ETS TOPCON GPT 7500 untuk penguknran detail objek bangunan masih tergolong baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian penggunaan ETS TOPCON GPT 7500, khususnya dalam prosedur pernetaan objek bangunan 3D. Studi kasus objek bangunan pada tugas akhir ini adalah Gedung B, Asrama Bumi Ganesha ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI TURNAMEN DAN PERINGKAT OLAHRAGA BERBASIS APLIKASI WEB
Komunitas tenis meja di Indonesia menghadapi tantangan fundamental akibat konflik dualisme kepengurusan di tingkat nasional yang menyebabkan kevakuman informasi, jadwal turnamen yang tidak terkoordinasi, serta penggunaan sistem peringkat atlet yang subjektif dan tidak terstandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan merancang dan mengembangkan sebuah sistem informasi independen berbasis aplikasi web. Sistem ini berfungsi sebagai platform terpusat untuk manajemen turnamen dan mengimplementasikan mekanisme peringkat yang objektif. Metodologi yang digunakan adalah Evolutionary Prototyping. Artefak yang dihasilkan adalah sebuah purwarupa aplikasi web fungsional yang dibangun menggunakan kerangka kerja Django untuk back-end dan Bootstrap 5 untuk front-end, serta menerapkan sistem rating ELO untuk mengukur kekuatan relatif atlet secara dinamis. Evaluasi terhadap purwarupa dilakukan melalui dua tahap: pengujian fungsional dengan metode black box dan usability testing melibatkan 24 responden dari dua kelompok pengguna utama, yaitu Event Organizer (EO) dan Atlet. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa 100% dari 22 skenario pengujian berhasil, memverifikasi bahwa semua fitur inti berjalan sesuai harapan. Hasil usability testing menunjukkan penerimaan yang positif, dengan skor Single Ease Question (SEQ) yang tinggi di semua skenario, yang mengindikasikan sistem mudah digunakan. Analisis kualitatif juga mengonfirmasi bahwa sistem ini diterima dengan baik oleh pengguna dan dianggap sebagai solusi yang adil dan objektif. Penelitian ini menghasilkan sebuah purwarupa tervalidasi yang berfungsi sebagai bukti konsep untuk platform independen yang mampu mendukung ekosistem kompetisi tenis meja di Indonesia menjadi lebih terstruktur, transparan, dan adil.
TEKNIK IMPUTASI DATA UNTUK UNSUPERVISED DETEKSI ANOMALI, STUDI KASUS: PEMAKAIAN LISTRIK DARI AUTOMATIC METER READING (AMR)
Automatic Meter Reading (AMR) merupakan salah satu solusi digital PLN dalam meningkatkan efisiensi pencatatan konsumsi listrik konsumen secara real-time. Tantangan utama dalam hasil pencatatan dari AMR yaitu keberadaan data yang hilang, dikarenakan beberapa hal seperti gangguan transmisi, kesalahan jaringan atau perangkat, dan human error. Data yang hilang akan menyulitkan dalam melakukan proses analisis, sehingga dapat memunculkan bias terhadap kehadiran anomali dalam konsumsi listrik. Pendekatan deteksi anomali umumnya menggunakan data yang lengkap, namun dalam praktiknya kondisi selain Missing Completely At Random justru lebih sering dijumpai pada data AMR. Hal ini memerlukan penggunaaan metode imputasi yang mampu mempertahankan karakteristik asli dari data konsumsi listrik. Proses penelitian meliputi praproses data, imputasi nilai yang hilang, pemilihan fitur yang relevan, serta transformasi data. Beberapa metode imputasi yang dapat digunakan seperti interpolasi linier, Multiple Chain by Chained Equation (MICE), MICE K-Nearest Neighbor (MICE KNN), hybrid interpolasi liner dan Long Short-Term Memory (LSTM). Penelitian ini menghasilkan pendekatan antara imputasi dengan deteksi anomali berbasis unsupervised learning, studi kasus pada data konsumsi listrik Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) dari AMR. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode interpolasi linier mampu melakukan imputasi pola konsumsi listrik yang selanjutnya dapat meningkatkan kinerja model deteksi anomali seperti Local Outlier Factor (LOF) dan Isolation Forest (IF). Pada metode yang menggunakan interpolasi linier, kombinasi Interpolasi Linier dengan IF menghasilkan jumlah true positive tertinggi yaitu 63 data, meningkat sekitar 70,27% dibandingkan IF tanpa imputasi. Sementara itu, Interpolasi Linier dengan LOF dapat mendeteksi 51 true positive, atau meningkat sekitar 168,42% dibandingkan LOF tanpa imputasi.
PERANCANGAN STRATEGI PEMASARAN KONTEN UNTUK MAINAN EDUKASI: STUDI KASUS PADA EDUTURE BERDASARKAN WAWASAN PELANGGAN DAN ANALISIS KONTEN
Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi konten pemasaran yang relevan bagi Eduture, sebuah merek mainan edukasi baru yang mengusung nilai-nilai lokal Indonesia. Dengan fokus pada pemahaman mendalam terhadap audiens dan analisis performa konten internal, penelitian ini menggabungkan wawasan kualitatif dari wawancara mendalam, analisis deskriptif engagement konten, dan benchmarking kompetitor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun uji ANOVA terhadap engagement tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antar pilar konten dan format, pola rata-rata deskriptif serta wawasan dari target audiens memberikan dasar praktis dalam merumuskan strategi konten. Strategi yang diusulkan meliputi penguatan konten edukasi dan storytelling, prioritas pada format Reels untuk menjangkau audiens yang lebih luas, pemanfaatan micro-influencer, serta penyampaian informasi produk yang transparan dan interaktif. Rekomendasi ini diharapkan dapat membantu Eduture meningkatkan engagement media sosial secara lebih bermakna, memperluas jangkauan di luar jaringan personal pendirinya, dan membangun kepercayaan audiens secara berkelanjutan.
ANALISIS MASALAH PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN JADWAL PROYEK PADA KONTRAKTOR KECIL DI WILAYAH BANDUNG RAYA (STUDI KASUS: KONTRAKTOR KECIL YANG BERKONTRAK PAYUNG DENGAN ITB)
Masalah dalam merencanakan dan mengendalikan jadwal proyek yang berpotensi mengakibatkan keterlambatan dan peningkatan biaya overhead merupakan masalah umum yang sering dihadapi oleh kontraktor kecil di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran praktik perencanaan dan pengendalian jadwal, mengidentifikasi masalah perencanaan dan pengendalian jadwal, serta menganalisis faktor penyebab masalah penjadwalan yang terjadi pada empat kontraktor kecil di Wilayah Bandung Raya yang memiliki kontrak payung dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan narasumber dari masing-masing perusahaan kontraktor. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penjadwalan pada kontraktor kecil sangat bergantung pada pengalaman dan berorientasi pada kecepatan penyelesaian. Ditemukan bahwa masalah penjadwalan bersumber dari kelemahan dalam tiga tahapan utama penjadwalan. Pada tahap perencanaan, masalah yang terjadi adalah perencanaan yang kurang matang, disebabkan oleh keterbatasan sumber daya manusia dan pola pikir yang reaktif. Hal ini berakibat pada jadwal yang tidak detail dan tidak andal. Pada tahap eksekusi, masalah yang terjadi adalah keterlambatan pengiriman material akibat kegagalan penggunaan rencana jadwal dan kesalahan eksekusi akibat kurangnya kompetensi staf. Pada tahap pengendalian, masalah yang terjadi adalah kegagalan rencana kerja mingguan, rencana material, dan alur kerja. Faktor penyebab utama dari hasil analisis mencakup keterbatasan sumber daya manusia (kualitas dan kuantitas), manajemen profesional yang lemah (ketergantungan pada pengalaman, kurang kolaborasi, pola pikir reaktif), dan ketidakpastian dari pihak eksternal (user, konsultan, supplier, dan cuaca). Penelitian ini menyimpulkan adanya rantai sebab-akibat yang jelas, di mana keterbatasan sumber daya internal diperparah oleh pola pikir manajemen yang tidak proaktif, sehingga menghasilkan perencanaan yang buruk sehingga rentan terhadap gangguan eksternal.
PENGARUH UNUTILIZED LABOR PADA KONTRAKTOR KECIL (STUDI KASUS: KONTRAKTOR KECIL DI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG)
Kontraktor kecil memiliki peranan penting dalam industri konstruksi di Indonesia, namun seringkali menghadapi kendala yang memunculkan kondisi unutilized labor, yaitu kondisi ketika tenaga kerja yang tersedia tidak dimanfaatkan secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya unutilized labor serta menggambarkan praktik pemanfaatan tenaga kerja yang diterapkan oleh kontraktor kecil dalam konteks proyek konstruksi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada empat kontraktor kecil yang aktif menangani proyek-proyek di ITB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unutilized labor disebabkan oleh 14 (empat belas) penyebab yang terjadi karena adanya permasalahan pada kondisi tersebut. Masing-masing penyebab memiliki keterkaitan kausal dan kompleksitas tersendiri yang memperparah inefisiensi di lapangan. Meskipun kontraktor kecil berupaya mengoptimalkan tenaga kerja yang tersedia, praktik di lapangan masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang membutuhkan perbaikan dan mitigasi berkelanjutan. Dalam penelitian ini juga ditemukan praktik sementara pada tenaga kerja yang mengalami kondisi unutilized labor pada kontraktor kecil dengan persyaratan yang berbeda-beda namun mengutaman efektivitas dan produktivitas. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi manajemen tenaga kerja yang lebih efisien bagi kontraktor kecil di masa mendatang.
PENDEKATAN SOFT SYSTEMS METHODOLOGY (SSM) UNTUK MENGATASI KETIDAKEFISIENAN ORGANISASI DALAM OPERASI HUFF AND PUFF
Mempertahankan produksi di lapangan minyak berat sangat bergantung pada keberhasilan operasi Huff and Puff. Namun, efektivitasnya sering terhambat tidak hanya oleh keterbatasan teknis dan anggaran, tetapi juga oleh ketidaksesuaian organisasi dan inefisiensi administratif. Di Energi Mega Persada (EMP), kurangnya komunikasi yang efektif antara tim engineering, tim lapangan (produksi dan well service), serta fungsi pendukung (keuangan, pengadaan, SHE) menciptakan hambatan operasional yang menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya. Engineer memprioritaskan optimasi reservoir; tim lapangan fokus pada eksekusi di tengah keterbatasan sumber daya; sementara fungsi pendukung menekankan kepatuhan finansial dan regulasi. Namun, tanpa strategi manajemen yang terpadu, prioritas-prioritas ini kerap berbenturan dan mengakibatkan keterlambatan keputusan, pembengkakan biaya, dan rendahnya efektivitas operasional. Masalah utamanya adalah tidak adanya keselarasan strategis antara pengambilan keputusan teknis dan manajerial. Tim lapangan menghadapi tantangan seperti keterlambatan pengadaan, batasan anggaran, atau isu keselamatan tanpa mekanisme koordinasi yang jelas. Di saat yang sama, engineer kesulitan mengeksekusi rencana secara real-time. Akibatnya, manajemen kurang memiliki pemahaman lintas fungsi untuk mengoptimalkan operasi secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan Soft Systems Methodology (SSM) sebagai alat manajerial untuk menganalisis ketidakefisienan pengambilan keputusan dan meningkatkan kolaborasi lintas fungsi. Tidak seperti pendekatan konvensional, SSM mengakui bahwa masalah organisasi berasal dari berbagai perspektif pemangku kepentingan. Dengan memetakan konflik dan hambatan secara sistematis, SSM membantu EMP menyatukan tujuan strategis, merampingkan proses, dan membangun kerangka kerja yang lebih adaptif. Hasilnya menunjukkan bahwa efektivitas produksi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kepemimpinan dan kolaborasi yang terkoordinasi. Integrasi SSM dalam manajemen EMP memperkuat keterhubungan antara strategi korporat dan realitas lapangan, serta meningkatkan efisiensi lintas fungsi dalam pengelolaan sumber daya.
EVALUASI KINERJA JASA PEKERJAAN MUDLOGGING DI OFFSHORE MAHAKAM: STUDI KASUS KONTRAK KONSORSIUM DI PT PHM
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) adalah operator eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Blok Mahakam, Kalimantan Timur, yang melaksanakan operasi pengeboran sumur pengembangan dan eksplorasi di lima rig lepas pantai. Jasa mudlogging sangat penting untuk pemantauan geologi secara langsung serta menjaga keselamatan operasional dalam pengeboran lepas pantai. Mudlogging memiliki peran kritis dalam mendukung keselamatn dan efisiensi pengeboran. Sejak tahun 2019, jasa ini diberikan melalui tiga kontrak yaitu satu kontrak diberikan kepada PTGI dan dua kontrak kepada konsorsium antara PTEN dan PTGS. Pada periode kedua konsorsium (2022β2024), terjadi penurunan kinerja yang signifikan, mengakibatkan kerugian biaya akibat rig standby sekitar USD 350.000. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan dari penurunan kinerja jasa pekerjaan mudlogging tersebut serta mengusulkan strategi perbaikan praktis guna mengembalikan keandalan operasional dan meminimalkan waktu non-produktif. Pendekatan mixed-method digunakan dengan menggabungkan wawancara terstruktur terhadap para pemangku kepentingan utama, pakar, serta pengumpulan data melalui kuesioner berskala Likert. Analisis data kualitatif menggunakan Current Reality Tree (CRT), menunjukkan bahwa tidak adanya struktur tata kelola yang jelas serta kejelasan peran mengakibatkan lemahnya koordinasi, keterlambatan dalam pengambilan keputusan, komunikasi yang tidak efektif, serta pengawasan teknis yang tidak memadai. Faktor lain yang turut berkontribusi berdasarkan hasil penelitian ini adalah kurangnya pelatihan, tingginya tingkat pergantian personel (turnover), serta rendahnya motivasi pada personel kontraktor. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) diterapkan untuk memprioritaskan strategi perbaikan, dengan hasil tertinggi pada restrukturisasi tata kelola konsorsium (0.5681) serta peningkatan pelatihan (0.2388) sebagai faktor paling berdampak dalam memulihkan kinerja operasional. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengusulkan struktur komunikasi dan tata kelola yang direvisi, mencakup penunjukan personel senior permanen, klarifikasi jalur pelaporan, serta integrasi koordinasi teknis dan operasional di lapangan.
MENINGKATKAN PROGRAM PENGEMBANGAN MANAJEMEN UNTUK MENAIKKAN ANGKA KELULUSAN, RETENSI, DAN EFEKTIFITAS PROGRAM.
Sektor perbankan secara global saat ini tengah menghadapi disrupsi berkelanjutan seperti kemajuan teknologi, perkembangan ekspektasi pelanggan, dan juga tantangan dari regulasi yang diberlakukan. Dibutuhkan pemimpin yang dapat mendorong transformasi dan memastikan operasional yang unggul untuk mempertahankan daya saing. Program Pengembangan Manajemen (MDP) sangat penting dalam menyiapkan kebutuhan tersebut, namun seringkali menghadapi tantangan sistemik yang mengurangi efektivitasnya. Sektor perbankan Indonesia juga mengalami isu global ini, disamping adanya dinamika lokal, seperti persaingan yang ketat dan kebutuhan akan strategi tenaga kerja yang mampu beradaptasi. Program Pengembangan Manajemen untuk Mortgage di Maybank Indonesia, yang dirancang untuk mempersiapkan mereka yang baru lulus menjadi pemimpin di sektor KPR, tengah menghadapi tantangan kritis. Hal ini ditandai dengan rendahnya persentase kelulusan program sebesar 44.95%, tingkat atrisi yang tinggi, dan ketidakselarasan antara materi kelas dengan praktek pelatihan yang dilakukan di tempat kerja sesungguhnya. Menggunakan metodologi DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), studi ini mengungkap variabel utama yang berkontribusi, termasuk kerangka kerja pendampingan dan umpan balik tugas yang tidak memadai, serta ketidaksesuaian ekspektasi yang dirasakan oleh peserta program selama fase pelatihan di tempat kerja. Analisa SIPOC, diagram CTQ, diagram Ishikawa, dan teknik 5 Whys, digunakan untuk menemukan akar penyebab masalah serta keterkaitannya satu sama lain. Hasil analisa mengidentifikasi bahwa 40% ketidakpuasan peserta program terkait dengan inkonsistensi pendampingan, sementara 60% lainnya adalah ketidakselarasan antara materi kelas dengan praktek pelatihan di tempat kerja. Solusi yang diusulkan meliputi revisi kurikulum, standarisasi proses pendampingan, dan menerapkan mekanisme umpan balik waktu nyata untuk memastikan keselarasan tugas dan keterlibatan peserta. Penelitian ini memberikan kerangka kerja terstruktur, dan menekankan peran strategis dari desain program yang terintegrasi.
USULAN STRATEGI PEMASARAN HIBRIDA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PRODUK MANAJEMEN ASET (STUDI KASUS: ASETA)
Penelitian ini mengevaluasi strategi pemasaran PT Nuansa Cerah Informasi dalam mempromosikan Aseta, perangkat lunak manajemen aset berbasis cloud, yang menghadapi keterbatasan pada pendekatan konvensional seperti telemarketing dengan jangkauan terbatas, efisiensi biaya rendah, dan tingkat respons yang minim, sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran merek dan kurang optimalnya akuisisi pelanggan. Pendekatan metodologi analisis kualitatif diterapkan dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan analisis data internal, serta penerapan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) untuk merancang perjalanan pelanggan yang lebih efektif. Strategi pemasaran digital, seperti pemasaran konten di media sosial dan kolaborasi dengan Key Opinion Leaders (KOL), juga dieksplorasi. Sebagai solusi bisnis, penelitian ini merekomendasikan pendekatan pemasaran terintegrasi yang menggabungkan telemarketing berbasis SPIN Selling dengan strategi digital, meliputi penguatan konten media sosial, penyelenggaraan webinar, dan kolaborasi dengan KOL, untuk meningkatkan keterlibatan audiens, kesadaran merek, akuisisi pelanggan, serta mendorong kinerja penjualan secara optimal.
PENGUKURAN SPF (SUN PROTECTION FACTOR) BERDASARKAN ANALISIS CITRA TABIR SURYA
Paparan sinar UV (Ultraviolet) dari matahari memiliki dampak signifikan pada manusia, termasuk resiko kanker kulit, penuaan dini, dan eritema. Oleh karena itu, fotoproteksi menjadi hal yang penting untuk mencegah kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari. Produk fotoproteksi yang masih menjadi rekomendasi utama adalah tabir surya. Tingkat efektifitas tabir surya dalam melindungi kulit dari paparan sinar matahari terutama UVB dinyatakan dalam bentuk SPF (Sun Protection Factor). Namun sayangnya, metode pengukuran SPF yang ada cukup kompleks, mahal, dan memakan waktu. Oleh karena itu muncul potensi untuk melakukan pengukuran SPF melalui pemrosesan citra. Pada dasarnya, pengukuran dengan sensor optik seperti kamera mengamati dan menangkap interaksi cahaya dengan bahan uji. Filter UV pada tabir surya berinteraksi dengan cahaya melalui pemantulan dan penyerapan. Apabila karakteristik citra yang diperoleh dapat menggambarkan proses pemantulan dan penyerapan ini, maka efektivitas filter UV dapat ditentukan. Pengukuran SPF tabir surya melalui beberapa tahapan yaitu tahap persiapan sampel, tahap pengambilan citra, tahap pra-pemrosesan citra, tahap pemrosesan citra, dan tahap ekstraksi korelasi. Proses yang terjadi pada tahap persiapan sampel meliputi penentuan sampel dan pengaturan dosis aplikasi. Setelah itu, citra sampel diambil dan dilakukan pengolahan citra awal untuk menghilangkan derau pada citra. Karakteristik citra yang dievaluasi pada tahap pemrosesan citra adalah intensitasnya, yaitu intensitas relatif dari cahaya yang dipantulkan oleh tabir surya hibrid dan intensitas cahaya yang diabsorb oleh tabir surya organik. Hasil dari pengukuran ini menunjukkan bahwa intensitas citra dan nilai SPF memiliki hubungan eksponensial. Koefisien determinasi yang diperoleh bernilai baik dengan R2 = 0,9452 untuk tabir surya organik dan R2 = 0,9759 untuk tabir surya hibrid. Estimasi nilai SPF juga menunjukkan selisih yang tidak jauh dari nilai SPF sebenarnya dengan selisih terbesar adalah 5,8 dan selisih terkecil adalah 1,1. Akan tetapi, metode pengukuran ini terbatas hanya pada tabir surya dengan kandungan bahan yang sama. Kata kunci: SPF, UV, pemrosesan citra, intensitas.
PERANCANGAN BUKU EDITORIAL PENGENALAN HIDANGAN AKULTURASI TIONGHOA-INDONESIA DALAM FESTIVAL BUDAYA UNTUK DEWASA MUDA
Indonesia merupakan negara yang ditinggali oleh beragam etnis dan suku bangsa. Suku yang dimaksud tidak hanya merupakan suku yang berasal dari wilayah Indonesia saja, tetapi ada juga suku pendatang. Dalam persebaran jumlah suku versi BPS tahun 2010, suku Tionghoa menduduki posisi ke-18, membuatnya sebagai suku bangsa pendatang paling besar di Indonesia. Walaupun memiliki jumlah populasi yang besar, kebudayaan Tionghoa mulai dilupakan oleh keturunan Tionghoa usia dewasa muda. Perancangan buku ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Tionghoa melalui salah satu hasil akulturasi kebudayaan Tionghoa-Indonesia yang ditemui di kehidupan sehari-hari, yaitu makanan. Metode pengumpulan yang digunakan adalah studi pustaka, sebar angket (kuesioner), dan wawancara ahli yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil perancangan berupa buku editorial pengenalan budaya dan hidangan akulturasi Tionghoa-Indonesia dalam festival budaya Tionghoa. Melalui perancangan ini, diharapkan kalangan dewasa muda (18-29 tahun) dapat lebih memahami kebudayaan Tionghoa dan perkembangannya di Indonesia.
EVALUASI STATUS KEBERLANJUTAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK TERPUSAT (SPALD-T) SKALA PERMUKIMAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (SANIMAS) CITARUM HARUM DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS : KELURAHAN BABAKAN SARI DAN KELURAHAN SUKAPURA)
Mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki pemerintah pusat maupun daerah, diperlukan upaya-upaya terobosan yang bersifat mengubah paradigma dalam pengembangan sanitasi. Salah satu upaya yang dilakukan terhadap pengembangan sanitasi adalah Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) yang merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan. Kota Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang telah menerapkan program SANIMAS, namun masih terdapat beberapa lokasi yang belum dapat melaksanakan pengelolaan secara berkelanjutan. Kelurahan Babakan Sari dan Kelurahan Sukapura merupakan dua kelurahan yang mendapatkan infrastruktur SANIMAS melalui Program Citarum Harum. Meskipun berdasarkan data keberfungsian kedua lokasi tersebut dinyatakan berfungsi, namun berdasarkan observasi awal, kedua lokasi belum dapat melaksanakan pengelolaan secara berkelanjutan dengan permasalahannya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan SANIMAS pada kedua lokasi, yang dimulai dengan validasi faktor-faktor penentu keberlanjutan kepada para pakar/ahli kemudian uji Relative Importance Index (RII) yang hasilnya dijadikan dasar penyusunan kuesioner kepada pengurus dan penerima manfaat. Hasil skoring kuesioner kemudian dianalisis dengan perangkat lunak RAPFISH /RAPWASTMAN (Rapid Appraisal For Fisheries/Wastewater Management) yang mendapatkan status cukup keberlanjutan pada aspek teknis dengan nilai 54,10 untuk SANIMAS Babakan Sari dan 68,74 untuk SANIMAS Sukapura. Cukup berkelanjutan untuk aspek kelembagaan dengan nilai masing-masing 62,32 dan 52,04, cukup berkelanjutan untuk aspek lingkungan dengan nilai masing-masing 57,62 dan 72,06, kurang berkelanjutan untuk aspek ekonomi dengan nilai masing-masing 39,96 dan 49,94 dan cukup berkelanjutan untuk aspek sosial budaya dengan nilaimasing-masing 53,28 dan 63,06. Hal ini menunjukkan dalam penyusunan strategi peningkatan keberlanjutan perlu memprioritaskan aspek ekonomi yang dipengaruhi oleh faktor teknis ( kerusakan jaringan perpipaan) di SANIMAS Babakan Sari dan faktor sosial (keengganan pemanfaat membayar iuran) di SANIMAS Sukapura. Strategi jangka pendek untuk meningkatkan keberlanjutan pada aspek ekonomi di SANIMAS Babakan Sari dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas pelayanan agar pengelola memiliki tambahan dana untuk biaya operasional, pengumpulan minyak jelantah untuk dijual kembali sebagai pengembangan alternatif pendanaan untuk strategi jangka menengah dan pengajuan kerjasama dengan organisasi AKSANSI (Asosiasi KSM Sanitasi Seluruh Indonesia) yang merupakan wadah bagi pengelola IPAL berbasis masyarakat di seluruh Indonesia sebagai strategi jangka panjang. Strategi jangka pendek untuk meningkatkan aspek ekonomi di SANIMAS Sukapura dapat dilakukan melalui pendekatan budaya dengan menggencarkan budaya perelek ( tradisi masyarakat sunda berupa pengumpulan beras atau uang dari warga yang digunakan untuk kepentingan umum maupun membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan ) yang sudah dilakukan oleh sebagian warga masyarakat. Kerja sama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat membayar iuran dapat dilakukan sebagai strategi jangka menengah. Strategi jangka panjang dapat berupa inovasi bentuk iuran sehingga menarik minat masyarakat penerima manfaat.