📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 13 dokumen

PENILAIAN KEBERLANJUTAN JALUR HILIRISASI BATU BARA: ANALISIS MULTI-KRITERIA UNTUK MEMPRIORITASKAN PROYEK HILIRISASI BATU BARA UNGGULAN PERTAMA DANANTARA

Indonesia’s coal downstreaming agenda (hilirisasi batubara) has moved from voluntary encouragement to a binding legal mandate under UU No. 3/2020, reinforced by PP No. 40/2025’s National Energy Policy through 2060, against a backdrop of acute energy security exposure: liquefied petroleum gas (LPG) imports meet approximately 83.7% of national consumption, carrying an annual subsidy burden exceeding IDR 110 trillion and a foreign exchange exposure of roughly USD 4.67 billion. Danantara Indonesia, the state’s newly consolidated strategic investment holding, has been tasked with delivering the country’s first government-backed coal downstreaming flagship project at Tanjung Enim, South Sumatra, where two ceremonial groundbreakings (2022 and 2026) have yet to be followed by financial close. Three technically viable routes are under consideration — Coal-to-Dimethyl Ether (DME), Coal-to-Synthetic Natural Gas (SNG), and Coal-to-Liquid (CTL) via direct hydrogenation liquefaction — each satisfying Indonesia’s downstreaming, energy security, and import-reduction mandates to a different degree, with no route the obvious choice under any single-criterion lens: policy alignment, financial return, and energy security each point to a different answer. This is a genuine multi-criteria decision problem carrying high stakes, since a first flagship project performs a demonstration function that will shape whether future downstreaming investment is judged a credible use of state capital. This research develops and applies a six-criterion, thirteen-indicator sustainability assessment framework grounded in Elkington's (1997) Triple Bottom Line (TBL), which assesses infrastructure and investment sustainability jointly across economic, social, and environmental performance rather than any single dimension in isolation. Since TBL's original three pillars do not capture the policy, regulatory, and technical-maturity considerations that are first-order concerns for a first-of-kind flagship energy project, this thesis follows Maryati, Firman, and Humaira's (2022) extension of TBL for decentralised water infrastructure assessment in Bandung, which augments the three pillars with institutional, technical, and regulatory dimensions — consolidated here into six criteria: Policy, Regulatory and Institutional Alignment; Energy Security and Social Resilience; Economic Value Creation; Financial Feasibility; Environmental Sustainability; and Technical Maturity and Implementability. These criteria and their thirteen indicators were weighted, and the three routes scored against them, using the Analytic Hierarchy Process (Saaty, 1980, 2008) through pairwise comparisons elicited from a ten- ii respondent expert panel drawn from Danantara, the Ministry of Energy and Mineral Resources, PT Pertamina/PGN, PT Bukit Asam, and Lemigas. Respondent judgments were aggregated via the geometric mean method (Aczél & Saaty, 1983), validated for consistency using Saaty's (1980, 2008) Consistency Ratio and Goepel's (2013, 2018) Shannon entropy consensus measure, and combined through hierarchic composition to produce a final route ranking. Two robustness checks — a leave-one-respondent-out analysis and a criterion-weight perturbation analysis — tested the sensitivity of the result. The panel weighted Policy, Regulatory and Institutional Alignment and Technical Maturity and Implementability most heavily — together over half of total decision weight — ahead of Financial Feasibility (15.1%) and Environmental Sustainability (5.4%), consistent with a panel prioritising a flagship project's buildability and bankability over its standalone financial return. Coal-to-DME emerged as the clearly leading route, scoring 57.5% against Coal-to-SNG's 24.9% and Coal-to-Liquid's 17.6%, a lead broad-based across DME's confirmed project site, precedented financing structure, and its energy security contribution as the largest and most politically salient import-substitution story of the three, rather than concentrated in any single criterion. Both sensitivity checks confirmed the ranking's robustness: excluding any single respondent moved DME's score by at most 0.9 percentage points without changing the ranking, and DME's lead survived even with its single highest-weighted criterion reduced to zero. Notably, Coal-to-Liquid recorded the strongest stand-alone economics of the three routes — an unsubsidised internal rate of return of 17.8–22.1% against DME's 11.02% — yet ranked last overall, because its undetermined site, unresolved feedstock-supply arrangement, and unproven core conversion technology scored poorly on the indicators the panel weighted most heavily. This is the thesis's central finding: for a first-of-kind, precedent-setting flagship project, deliverability is judged prior to, and more important than, standalone profitability. The thesis concludes that Danantara should proceed with Coal-to-DME as its first flagship project, while treating this as the first step in a staged programme rather than a one-off selection: the syngas production and gas-cleanup infrastructure built for DME is a platform capability that could support subsequent energy, chemical-feedstock, or ammonia applications at the same site. Recommendations include closing outstanding regulatory gaps and finalising DME's government-support-dependent financing structure before construction commitments; institutionalising the AHP framework as a reusable decision-support tool for Danantara's subsequent downstreaming decisions; widening the respondent panel for future, higher-stakes rounds; and independently re-probing a residual tie in expert judgments on two economic indicators

2026
👤 Penulis: Elfa Nugraha
🏷️ Pertanian Mineral Dan Lingkungan 🏷️ Analisis Multi-Kriteria 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANKINGAN PERFORMA PADA PRODUK ASURANSI JIWA DENGAN METODE ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DAN TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCES BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)

Evaluasi kinerja produk pasca-peluncuran (Post Implementation Review / PIR) merupakan mekanisme penting bagi perusahaan asuransi jiwa untuk memastikan produk yang telah dipasarkan memenuhi ekspektasi profitabilitas, kepatuhan regulasi, dan kualitas layanan. Namun, proses evaluasi ini bersifat multikriteria dengan data kuantitatif maupun kualitatif, serta belum memiliki kerangka pembobotan terstruktur untuk membandingkan performa antarproduk secara simultan. Penelitian ini menyimulasikan penerapan model perankingan performa produk asuransi jiwa yang mengintegrasikan metode Analytic Network Process (ANP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) pada lima produk fiktif yang dirancang berdasarkan karakteristik industri. Model evaluasi terdiri atas 5 klaster dan 13 subkriteria yang mencakup dimensi keuangan, respons nasabah, manajemen risiko, operasional, serta pasar dan distribusi, dengan penilaian perbandingan berpasangan oleh 8 pakar yang disimulasikan menggunakan Large Language Model (Claude, Anthropic) di bawah protokol isolasi antarpersona. Dalam skenario simulasi ini, hasil pembobotan ANP menunjukkan dominasi dua dari lima klaster dengan bobot agregat 39,9% dan 34,9%, sementara bobot subkriteria tertinggi mencapai 16,8%. Pemeringkatan TOPSIS menunjukkan hanya satu dari lima produk memiliki koefisien kedekatan relatif (Ci) di atas threshold, dan analisis gap terbobot mengidentifikasi subkriteria yang paling memengaruhi posisi setiap produk. Analisis sensitivitas terhadap 216 skenario perturbasi bobot serta validasi silang metode SAW (?s = 0,90) mengonfirmasi hasil perankingan bersifat robust dalam lingkup simulasi. Karena seluruh objek dan penilaian bersifat simulatif, hasil numerik ini merupakan demonstrasi penerapan kerangka, bukan penilaian atas produk nyata; validasi dengan pakar manusia dan data nyata menjadi arah pengembangan selanjutnya. Kerangka ANP-TOPSIS terbukti dapat menjadi instrumen evaluasi PIR yang terstruktur, mampu mengidentifikasi dimensi kelemahan per produk, dan memberikan landasan kuantitatif bagi prioritas tindakan korektif.

2026
👤 Penulis: Anita Aulia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Perbandingan Produk Asuransi Jiwa

STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM SELEKSI SKENARIO PENGEMBANGAN UNTUK STRUKTUR KAYU MERAH DI LAPANGAN JATIBARANG, PT PERTAMINA EP

Proyek pengembangan hulu minyak dan gas bumi memerlukan pengambilan keputusan strategis yang kompleks akibat adanya interaksi antara desain teknis, kelayakan ekonomi, keterbatasan regulasi, kesiapan infrastruktur, serta beragam kepentingan pemangku kepentingan. Di lingkungan PT Pertamina EP, pengembangan struktur gas Kayu Merah (KYM) di Field Jatibarang merupakan tantangan strategis yang signifikan. Meskipun telah teridentifikasi cadangan gas baru, proyek ini dihadapkan pada keterbatasan dalam pemanfaatan fasilitas produksi eksisting, peluang komersialisasi gas yang lebih kompetitif, ketentuan regulasi dan penggunaan lahan, serta risiko keterlambatan monetisasi. Kondisi tersebut menegaskan perlunya suatu kerangka pendukung keputusan yang terstruktur dan transparan untuk menentukan skenario pengembangan yang paling tepat, terutama ketika aspek teknis dan non-teknis harus dipertimbangkan secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis melalui identifikasi skenario pengembangan yang paling optimal untuk struktur gas KYM dengan menggunakan pendekatan analisis terintegrasi. Penelitian ini mengidentifikasi faktor internal dan eksternal utama yang memengaruhi kelayakan pengembangan, menerjemahkan nilai-nilai pemangku kepentingan ke dalam kriteria keputusan yang eksplisit, serta mengevaluasi secara sistematis berbagai alternatif skenario pengembangan. Proposisi utama penelitian ini adalah bahwa kerangka pengambilan keputusan berbasis nilai dan multi-kriteria dapat meningkatkan transparansi, konsistensi, dan ketahanan keputusan strategis dalam proyek pengembangan gas hulu, sekaligus mengurangi bias keputusan dan meningkatkan keselarasan antara tujuan strategis dan hasil implementasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian integratif yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Lingkungan internal, eksternal, dan bisnis dianalisis menggunakan kerangka PESTEL dan SWOT untuk menangkap faktor pendorong makro serta kapabilitas organisasi yang relevan terhadap pengembangan KYM. Data primer dikumpulkan melalui survey, wawancara semi- terstruktur, diskusi kelompok terarah, dan pemetaan pemangku kepentingan. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari data internal perusahaan, dokumen regulasi, studi teknis, serta literatur akademik yang relevan. Berdasarkan hasil analisis lingkungan, pendekatan Value-Focused Thinking (VFT) digunakan untuk merumuskan secara eksplisit nilai dan tujuan pemangku kepentingan. Tujuan fundamental dan tujuan sarana diidentifikasi dan disusun ke dalam kriteria dan sub-kriteria evaluasi, sehingga kerangka keputusan yang dihasilkan selaras dengan prioritas strategis dan ekspektasi pemangku kepentingan. Alternatif skenario pengembangan yang layak untuk struktur gas KYM kemudian dirumuskan berdasarkan kriteria tersebut dengan memanfaatkan dokumen perencanaan internal, kajian teknis, masukan pemangku kepentingan, serta pembandingan dengan proyek gas sejenis. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan sebagai alat utama pendukung keputusan kuantitatif untuk mengevaluasi dan memeringkat alternatif melalui perbandingan berpasangan. Pengujian rasio konsistensi dan analisis sensitivitas dilakukan untuk memastikan keandalan dan kestabilan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alternatif 1, yaitu pengaliran produksi dari sumur KYM-B dan KYM-C melalui pembangunan flowline baru yang diintegrasikan dengan produksi eksisting menuju Stasiun Pengumpul (SP) Randegan dengan peningkatan fasilitas, merupakan skenario pengembangan yang paling optimal. Alternatif ini memperoleh skor tertinggi dalam evaluasi AHP karena menunjukkan kinerja yang seimbang pada seluruh kriteria utama, yaitu efisiensi ekonomi, kelayakan teknis dan operasional, kepatuhan terhadap regulasi dan lingkungan, risiko implementasi proyek, serta keselarasan dengan pemangku kepentingan. Alternatif 1 menawarkan konfigurasi yang lebih praktis dan dapat diimplementasikan dengan tingkat kompleksitas yang lebih rendah, risiko integrasi yang lebih kecil, serta kesiapan implementasi yang lebih baik. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa alternatif terpilih tetap robust terhadap variasi bobot kriteria, meskipun alternatif dengan kinerja ekonomi yang lebih tinggi menjadi lebih kompetitif ketika kriteria finansial diprioritaskan secara dominan. Jalur pengembangan yang diusulkan didukung oleh jadwal implementasi yang realistis, dengan target persetujuan proyek pada kuartal kedua tahun 2026 dan pencapaian produksi penuh (onstream) pada kuartal keempat tahun 2028.

2026
👤 Penulis: Hermawan
🏷️ Pengambilan Keputusan Strategis 🏷️ Struktur Gas Huluh Minyak 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

INTEGRASI K-MEANS, PROGRAM LINEAR, DAN AHP UNTUK EKSPANSI FASILITAS AGRIBISNIS STRATEGIS DI INDONESIA

Penelitian ini merekomendasikan strategi ekspansi fasilitas yang optimal bagi distributor buah di Indonesia yang kapasitas pematangan pisang Cavendish-nya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan yang meningkat, dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi konfigurasi alternatif. Klasterisasi K-Means digunakan untuk mensegmentasi permintaan pelanggan dan mengidentifikasi lokasi fasilitas baru yang potensial, yang kemudian dibandingkan dengan lokasi yang sudah ada untuk menghasilkan alternatif ekspansi. Linear Programming (LP) kemudian diterapkan untuk menilai implikasi biaya total dari konfigurasi jaringan terpusat (sentralisasi), tersebar (desentralisasi), dan hibrida. Untuk mengakomodasi perspektif manajerial, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk memberi bobot pada kriteria kuantitatif seperti biaya dan responsivitas, bersamaan dengan kriteria kualitatif termasuk kualitas produk dan keselarasan sumber pasokan (sourcing alignment). Analisis K-Means mengidentifikasi tata letak optimal dengan 5-pusat (centroid) dan 3-pusat, yang mengindikasikan potensi konsolidasi di Jawa Tengah dan menghasilkan empat alternatif ekspansi yang layak. Meskipun hasil LP menunjukkan konfigurasi hibrida sebagai opsi berbiaya terendah, analisis AHP menyoroti preferensi pemangku kepentingan terhadap faktor-faktor non-biaya, yang mengarah pada pemilihan tata letak 5-pusat meskipun biayanya lebih tinggi. Uji sensitivitas mengkonfirmasi ketahanan (robustness) model hibrida dalam skenario yang didorong oleh biaya Penelitian ini berkontribusi dalam bentuk kerangka kerja pendukung keputusan yang terintegrasi yang menggabungkan klasterisasi, optimasi, dan analisis multi-kriteria untuk memandu perencanaan ekspansi fasilitas untuk barang yang mudah rusak (perishable goods). Kerangka kerja ini menawarkan pendekatan yang seimbang untuk desain jaringan logistik, menyelaraskan efisiensi operasional dengan sumber pasokan strategis dan tujuan kualitas dalam rantai pasok pisang di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Grano Prabumukti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

PEMBANGUNAN GEODATABASE DAN WEBGIS UNTUK INDEKS KERENTANAN PULAU-PULAU KECIL TERHADAP PEMANASAN GLOBAL (STUDI KASUS : KEPULAUAN SERIBU)

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau termasuk pulau-pulau kecil. Pulau kecil memiliki memiliki ketergantungan terhadap alam yang tinggi, sehingga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan seperti pemanasan global. Gornitz (1994) mengembangkan formulasi untuk menentukan indeks kerentanan kenaikan muka laut untuk wilayah pesisir Negara Amerika Serikat. Pemodelan indeks kerentanan pulau-pulau kecil untuk Kepulauan Seribu didasarkan pada formulasi Gornitz tersebut. Pemecahan masalah ini menggunakan analisis multi kriteria yang melibatkan 8 variabel untuk hitungan indeks kerentanan pulau-pulau kecil. Pada Tugas Akhir ini, dibangun geodatabase dan WebGIS untuk memberikan informasi mengenai tingkat kerentanan pulau-pulau kecil terhadap pemanasan global di Kepulauan Seribu. Sebagai hasil akhir, yaitu WebGIS Indeks Kerentanan Pulau-Pulau Kecil. WebGIS tersebut dapat digunakan untuk menghitung indeks kerentanan pulau-pulau kecil sekaligus menampilkan hasilnya pada tabel dan peta dijital.

2026
👤 Penulis: SITARANI SAFITRI (NIM 15105001); Pembimbing: Akhmad Riqqi, Dr. Ir. M.Si., dan Kosasih Prijatna, Ir.,
🏷️ Geografi 🏷️ Analisis Multi-Kriteria 🏷️ Geodatabase Dan Webgis

PENGEMBANGAN MODEL PEMILIHAN DAN BOBOT KRITERIA UNTUK PEMILIHAN VENDOR MENGGUNAKAN METODE DELPHI, BEST WORST METHOD (BWM), DAN STRUCTURAL EQUATION MODELING – PARTIAL LEAST SQUARE (SEM-PLS) PADA PT PLN (PERSERO) UPT DURIKOSAMBI

Permasalahan di PT PLN (Persero) UPT Durikosambi berawal dari masih tingginya angka keterlambatan penyelesaian pekerjaan jasa konstruksi yang di mana masih banyak proyek yang mengalami amandemen dengan sebagian besar berupa perpanjangan waktu. Hal ini disebabkan oleh pemilihan vendor yang belum berbasis pada penilaian objektif dan menyeluruh. Proses seleksi masih berfokus pada aspek administratif seperti harga dan pengalaman, tanpa mempertimbangkan faktor seperti kapasitas kualitas dan keberlanjutan. Akibatnya, banyak vendor yang tidak mampu memenuhi target kualitas, biaya, dan waktu. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pemilihan vendor berbasis multikriteria sebagai solusi untuk meningkatkan objektivitas dan akurasi proses pemilihan vendor. Model dikembangkan melalui pendekatan metode Delphi untuk menyaring dan menyepakati kriteria serta subkriteria yang relevan berdasarkan pendapat para ahli. Selanjutnya, metode Best-Worst Method (BWM) digunakan untuk menentukan bobot prioritas antar kriteria secara efisien dan konsisten. Uji validitas, reliabilitas, serta hubungan antar variabel dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk memastikan model layak diterapkan secara praktis. Hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria harga memiliki bobot tertinggi, dengan subkriteria harga penawaran sebagai aspek terpenting dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain, dimensi keberlanjutan memperoleh bobot terendah, yang mencerminkan bahwa aspek lingkungan belum menjadi pertimbangan utama dalam praktik pengadaan di PT PLN (Persero) UPT Durikosambi saat ini. Hasil pengujian outer model menunjukkan bahwa seluruh indikator valid dan reliabel, dengan nilai loading factor > 0,7 dan nilai AVE > 0,5. Seluruh konstruk juga lolos uji diskriminan dan memiliki nilai Composite Reliability di atas 0,7. Pengujian inner model memperlihatkan bahwa dimensis OSHA, Teknis, Harga, dan Administrasi berpengaruh signifikan terhadap pemilihan vendor, dengan OSHA menjadi faktor paling dominan. Sementara itu, dimensi Finansial, Keberlanjutan, dan Kualitas tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, menandakan bahwa ii aspek-aspek tersebut belum menjadi penentu utama dalam pengambilan keputusan pengadaan. Lebih lanjut, pengujian predictive relevance (Q2) menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memiliki nilai Q-square sebesar 0,586 kemampuan prediktif yang kuat. Artinya, model yang dikembangkan mampu menjelaskan variabilitas dalam pengambilan keputusan seleksi vendor. Hal ini menunjukkan bahwa model multikriteria yang dirancang dalam penelitian ini dapat menjadi alat bantu strategis untuk meningkatkan objektivitas, akuntabilitas, dan efisiensi dalam proses pengadaan barang dan jasa, sejalan dengan prinsip value for money dan visi keberlanjutan PLN.

2025
👤 Penulis: Anella Richi
🏷️ Model Pemilihan Vendor 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Structural Equation Modeling

PEMODELAN SPASIAL UNTUK ZONA TITIK INJEKSI DAN RENCANA JALUR PIPA DISTRIBUSI PADA PERENCANAAN CARBON CAPTURE AND STORAGE (CCS) ONSHORE

Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan solusi penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menangkap dan menyimpan karbon dioksida secara aman di bawah permukaan bumi. Penelitian ini mengembangkan pemodelan spasial sebagai alat bantu untuk mendukung prosedur perencanaan CCS Onshore, dengan studi kasus Lapangan X PT Pertamina Hulu Energi. Produk utama yang dihasilkan meliputi model spasial 3D subsurface yang memvisualisasikan lintasan sumur, formasi geologi, dan Zona Titik Injeksi (ZTI), dan peta 2D jalur optimal pengangkutan karbon. Metode yang digunakan adalah metode Multi Criteria Evaluation (MCE) dan Least Cost Path Analysis (LCPA), dan prosedur perencanaan CCS yang mengacu pada regulasi nasional. Pemodelan spasial mengintegrasikan data teknis dan spasial secara komprehensif untuk memaksimalkan efisiensi operasional dan mitigasi risiko dalam implementasi CCS. Prosedur perencanaan yang digunakan telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi MCE dan LCPA pada perencanaan jalur pengangkutan karbon dan penggunaan metode Minimum curvature untuk pemodelan lintasan sumur dapat meningkatkan akurasi dan efektivitas perencanaan CCS Onshore.

2025
👤 Penulis: Andrew Ringgas Naoki Hutasoit
🏷️ Karbon Capture And Storage (Ccs) 🏷️ Pemodelan Spasial 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DI AREA PASCA TAMBANG PT BUKIT ASAM UNTUK TRANSISI BISNIS ENERGI

Transformasi sektor energi global dan komitmen pemerintah Indonesia terhadap target Net Zero Emission tahun 2060 mendorong PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mendiversifikasi bisnisnya dari pertambangan batubara menuju energi terbarukan. Salah satu inisiatif strategis adalah pemanfaatan lahan pascatambang untuk pembangunan PLTS. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan teknis, finansial, regulasi, dan strategis dari berbagai alternatif kapasitas PLTS serta menentukan konfigurasi paling optimal menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan analisis multi-kriteria. Data primer diperoleh melalui survei lokasi, wawancara ahli, dan kuesioner terhadap 42 responden. Data sekunder berasal dari laporan teknis internal PTBA, peraturan energi nasional, dan hasil simulasi PVsyst. Alternatif kapasitas PLTS yang dievaluasi meliputi konfigurasi 5,5 MWp hingga 12 MWp, dengan dan tanpa Battery Energy Storage System (BESS). Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi PLTS 8 MWp + BESS 2 MWh adalah pilihan paling optimal. Konfigurasi ini memiliki kinerja teknis yang andal, mendukung stabilitas sistem kelistrikan tambang, serta layak secara finansial dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 10,97%, Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 42.723, dan Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,30 dalam skenario moderat. Selain itu, alternatif ini kompatibel dengan strategi keberlanjutan PTBA, memenuhi aspek regulasi (IUPTLS, TKDN, UKL-UPL), dan dapat mendukung target bauran EBT nasional. Rekomendasi implementasi mencakup strategi teknis (desain modular, bifacial dan ground-mounted), pembiayaan campuran termasuk kredit karbon, pengelolaan risiko regulasi, serta rencana eksekusi bertahap hingga operasional pada tahun 2027. Penelitian ini memperkuat pendekatan strategis PTBA dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan lahan pascatambang secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Iko Gusman
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

PENGEMBANGAN MODEL PRIORITISASI ALOKASI DANA BERBASIS KEBERMANFAATAN FUNGSIONAL UNTUK REHABILITASI ASET BANGUNAN SEKOLAH NEGERI

Kerusakan fisik bangunan sekolah negeri masih menjadi tantangan signifikan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kenyamanan serta efektivitas proses belajar mengajar dan menghambat pencapaian tujuan pendidikan nasional. Keterbatasan anggaran rehabilitasi menuntut adanya mekanisme alokasi dana yang objektif dan efisien. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih menitikberatkan pada aspek kerusakan struktural atau perhitungan biaya, tanpa mempertimbangkan dimensi kebermanfaatan fungsional yang sangat penting untuk mengoptimalkan lingkungan belajar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode pengambilan keputusan berbasis prinsip kebermanfaatan fungsional, guna memastikan bahwa investasi dalam rehabilitasi memberikan dampak maksimal pada fungsi utama bangunan sekolah. Penelitian ini mengembangkan model pengambilan keputusan yang objektif, sistematis, dan berbasis multikriteria untuk menentukan prioritas alokasi dana rehabilitasi bangunan sekolah negeri. Model ini mengintegrasikan berbagai faktor penilaian, analisis yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain persepsi kelaikan, kondisi kerusakan, estimasi biaya rehabilitasi, dan bobot kebermanfaatan dengan menggunakan metode fuzzy AHP. Hasil setiap analisis adalah bentuk perangkingan yang kemudian dibandingkan dengan persepsi kelaikan. Pada tahap awal, penelitian ini menggunakan analisis AHP-SAW untuk menentukan lokasi survei prioritas. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya model komprehensif yang dapat menjadi panduan bagi pihak terkait dalam pengelolaan aset pendidikan, terutama dalam penentuan prioritas alokasi dana rehabilitasi sekolah. Tahap awal penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data melalui survei lapangan. Survei dilakukan pada 44 sekolah negeri di jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK yang tersebar di Jawa Barat, dengan pengumpulan data melalui wawancara langsung kepada pihak pengelola bangunan sekolah dan pendokumentasian terhadap kondisi bangunan sekolah. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk memperoleh analisis persepsi kelaikan bangunan, tingkat kerusakan, biaya rehabilitasi, serta prioritas berdasarkan kebermanfaatan fungsional setiap ruang. Prioritisasi berdasarkan kebermanfaatan fungsional dilakukan dengan menggunakan metode fuzzy AHP, yang dapat mengakomodasi ketidakpastian dalam penilaian kriteria. Selanjutnya, untuk memvalidasi model, hasil perangkingan diuji korelasinya menggunakan analisis korelasi Spearman Rho dan uji validitas. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa model prioritisasi alokasi dana rehabilitasi berbasis kebermanfaatan fungsional memiliki korelasi positif dan signifikan dengan persepsi kelaikan bangunan sekolah, yang menunjukkan bahwa prioritas yang ditentukan model berkorelasi dengan persepsi pengguna terhadap kondisi fungsional fasilitas. Model ini berhasil mengintegrasikan berbagai kriteria objektif, menghasilkan peringkat prioritas yang lebih akurat dan relevan. Berbeda dengan beberapa studi sebelumnya yang lebih fokus pada aspek teknis kerusakan atau biaya, penelitian ini menekankan pentingnya dimensi kebermanfaatan fungsional yang sering terabaikan. Pendekatan integrasi fuzzy AHP dengan kebermanfaatan fungsional dalam konteks rehabilitasi sekolah negeri adalah inovasi baru. Validasi dengan analisis korelasi antara hasil analisis dan persepsi kelaikan juga memberikan perspektif baru dalam menguji keberterimaan model. Model evaluasi berbasis fuzzy AHP berhasil mengintegrasikan aspek subjektif dan objektif dalam proses pengambilan keputusan multikriteria secara komperhensif. Hal ini dibuktikan dengan hubungan korelasi positif dan signifikan antara model berbasis fuzzy dengan analisis persepsi kelaikan. Sedangkan korelasi antara persepsi kelaikan dengan persentase kerusakan bangunan ditemukan berkorelasi namun tidak signifikan, yang menunjukkan bahwa persepsi tidak selalu berkorelasi dengan kondisi fisik bangunan secara eksplisit. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara persepsi kelaikan dan perkiraan biaya rehabilitasi menunjukkan korelasi yang negatif dan tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya yang lebih tinggi cenderung dikaitkan dengan persepsi kelaikan yang lebih rendah. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini berhasil menggabungkan penilaian persepsi kelaikan yang sifatnya subjektif dengan evaluasi teknis yang bersifat objektif sehingga menciptakan kerangka kerja pengambilan keputusan yang lebih holistik dan akurat untuk menunjukkan prioritas alokasi dana rehabilitasi bangunan sekolah negeri. Secara praktis, model ini dapat menjadi panduan atau alat bantu strategis bagi pihak terkait dalam menyusun perencanaan dan alokasi anggaran rehabilitasi secara lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran, dengan mengoptimalkan penggunaan dana dan data yang terbatas.

2025
👤 Penulis: Agnes Widy Rosalina
🏷️ Rehabilitasi Sekolah 🏷️ Kebermanfaatan Fungsional 🏷️ Analisis Multikriteria

PROGRAM INISIATIF PENGELOLAAN KENDARAAN RINGAN DALAM RANGKA MENDUKUNG LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG) DI ZONA 4 REGIONAL 1 SUBHOLDING UPSTREAM PERTAMINA

Belakangan ini, tantangan perusahaan minyak dan gas semakin bertambah, selain untuk menghasilkan keuntungan, juga harus mempertimbangkan aspek ESG, dimana salah satunya pengurangan emisi karbon. Subholding Upstream Pertamina (SHU) menjadikan hal ini sebagai salah satu target capaian tahunan perusahaan dan dicascading untuk menjadi target setiap Fungsi. Untuk mendukung target Bersama tersebut, setiap fungsi harus mereview bisnis proses masing-masing, apa saja kegiatan yang menghasilkan emisi carbon, dan tentu saja melihat potensi improvement yang dapat dilakukan. Di Fungsi SCM, salah satu kegiatan yang menghasilkan emisi carbon cukup tinggi adalah penyediaan kendarangan ringan penumpang (KRP) yang mencapai lebih dari 440 unit kendaraan. Dalam konteks ini, pemilihan bahan bakar alternatif yang optimal yang menyeimbangkan efisiensi, operasional, dampak lingkungan, dan kepatuhan terhadap peraturan menjadi sangat penting. Projek akhir ini menyajikan evaluasi sistematis terhadap alternative penggunaan 4 (empat) bahan bakar, yaitu Biosolar CN48, Dexlite CN51, Pertadex CN53, dan Biosolar CN48+ Additive, dengan menggunakan tool Analytic Hierarchy Process (AHP). Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi opsi bahan bakar yang paling ramah lingkungan dan efisien yang meminimalkan emisi karbon dan polusi udara sekaligus memastikan kelayakan operasional. Penelitian ini menggunakan AHP sebagai alat pengambilan keputusan multikriteria (MCDM), untuk mengintegrasikan berbagai kriteria dan subkriteria yang penting untuk mengevaluasi opsi bahan bakar alternatif. Kriteria ini meliputi aspek Lingkungan, Ekonomi, Teknis, dan Kualitas. Penilaian ahli dari para Subject Matter Expert (SME) di sektor minyak dan gas dikumpulkan untuk melakukan perbandingan berpasangan, yang menghasilkan penilaian komprehensif untuk setiap alternatif bahan bakar. Hasil analisis mengungkapkan bahwa PT.Pertamina Dex CN53 muncul sebagai alternatif yang paling sesuai. Temuan penelitian ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi perusahaan energi dan pembuat kebijakan yang ingin mengadopsi alternatif bahan bakar yang lebih bersih, yang berkontribusi pada tujuan yang lebih luas dari manajemen energi berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

2025
👤 Penulis: Moh Kholid Yadi
🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Multikriteria

KAJIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA PERUBAHAN DESAIN BREAKWATER DI PROYEK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN LAUT SANUR

Permasalahan pada proyek Pelabuhan Sanur disebabkan oleh perbedaan elevasi 2 meter antara pengukuran awal dan kondisi lapangan, yang dapat mengakibatkan penambahan volume pekerjaan breakwater. Kontrak yang digunakan di proyek ini adalah lump sum fixed price, sehingga penambahan biaya tidak dimungkinkan. Melalui kontrak design and build, KSO pelaksana proyek dapat menetapkan desain ulang breakwater dengan memperhatikan pengaruh dan kepentingan para stakeholder yang terlibat tanpa perlu adendum biaya kontrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengambilan keputusan terhadap alternatif desain breakwater yang paling optimal sesuai kondisi proyek berdasarkan bobot stakeholder dan bobot kriteria yang diharapkan. Metode yang digunakan adalah diskusi kelompok terarah untuk menganalisis pengaruh dan kepentingan stakeholder sesuai dengan pemetaan stakeholder, serta survei kuesioner terbuka untuk mendapatkan kriteria desain dari sudut pandang masing-masing stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 stakeholder yang terlibat, terbagi menjadi stakeholder internal yang berfokus pada aspek strategis dan teknis, serta stakeholder eksternal yang berfokus pada dampak konstruksi. Bobot stakeholder yang tidak egaliter menunjukkan bahwa Pemilik Proyek (45,67%), Pelaksana Proyek (25,67%), dan Konsultan MK (15,66%) memiliki pengaruh terbesar, sementara Pemerintah Setempat (9%) dan Masyarakat Terdampak (4%) memiliki pengaruh yang lebih rendah. Dari 16 kriteria desain breakwater yang teridentifikasi, bobot tertinggi adalah Fungsionalitas (13,76%), Dampak Lingkungan (13,76%), dan Mutu Pekerjaan (11,01%). Pengambilan keputusan terhadap desain breakwater dilakukan melalui model hirarki dengan mempertimbangkan bobot stakeholder dan kriteria dengan hasil diperoleh bahwa BPPT Lock (skor 4,1326) merupakan alternaitf desain breakwater yang paling optimal, mengungguli alternatif lain seperti Tetrapod, Dolos, dan Batu. Penelitian ini dapat terus dikembangkan dengan membandingkan metode multikriteria yang lebih beragam dan pendalaman aspek sosial-budaya, terutama terkait masyarakat adat di Sanur, Bali.

2024
👤 Penulis: Heru Wijanarko
🏷️ Desain Rantai Pasok 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PREDIKSI PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP KENDARAAN LISTRIK DI INDONESIA MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (STUDI KASUS HYUNDAI MOTOR INDONESIA)

Salah satu pendekatan potensial untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor berbahan bakar fosil adalah penggunaan kendaraan berbasis listrik, seperti mobil listrik. Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, menghadapi tantangan unik dalam mewujudkan solusi transportasi berkelanjutan. Hyundai Indonesia Motor sebagai pemimpin penjualan mobil listrik di Indonesia berhasil menghadirkan kendaraan ramah lingkungan ke pasar. Meski demikian, seiring dengan dominasi Hyundai di industri mobil listrik Indonesia, tantangan baru mulai bermunculan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis prediktif terhadap niat membeli kendaraan listrik di Indonesia. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan keputusan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode campuran konkuren yang melibatkan integrasi data kualitatif dan kuantitatif secara simultan. Dalam penelitian ini, para peneliti melakukan sejumlah prosedur metodis dan sistematis untuk menyelidiki lebih lanjut faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pilihan pembelian pelanggan terhadap kendaraan listrik. Wawancara yang dilakukan oleh penelitian ini memberikan wawasan komprehensif tentang faktor utama dan faktor penting yang dipertimbangkan konsumen saat memilih kendaraan listrik. Setelah pengumpulan data wawancara, penelitian ini dilanjutkan dengan menggunakan metode analisis Multi-Criteria Decision Making (MCDM). Dalam penelitian ini, kriteria pembelian yang dimiliki narasumber ketika membeli mobil listrik adalah kualitas, harga, Garansi Baterai, Jarak Tempuh, Layanan Purna Jual, dan Desain. Menurut perkiraan AHP, Hyundai menempati peringkat keempat dalam keputusan pembelian konsumen. Meski tidak memimpin peringkat, posisi ini menunjukkan pencapaian Hyundai dalam membangun reputasi pasar yang kuat. Wawancara tersebut juga menemukan bahwa Hyundai menerapkan strategi pertumbuhan penjualannya melalui tiga metode utama. Pertama, mereka terus memajukan lini produknya dengan memperkenalkan kemajuan teknologi mutakhir dan menyertakan fitur-fitur yang selaras dengan permintaan pasar. Selain itu, Hyundai memberikan penekanan yang signifikan pada peningkatan pengenalan merek dengan menerapkan inisiatif pemasaran yang komprehensif dan bertahan lama, dengan tujuan memperkuat persepsi merek di kalangan konsumen. Terakhir, Hyundai memprioritaskan harga produk melalui peningkatan efektivitas biaya produksi dan pemberian tarif yang lebih kompetitif, selaras dengan preferensi konsumen terhadap kendaraan listrik yang lebih irit.

2024
👤 Penulis: Belva Damario Harsono
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

PENGEMBANGAN KRITERIA EVALUASI PENYEDIA JASA PEMELIHARAAN PABRIK STUDI KASUS DI PT PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG

Untuk mencapai sasaran produksi dan efisiensi konsumsi bahan baku pada tahun 2021, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang memiliki strategi yaitu meningkatkan keandalan pabrik. Strategi tersebut ditunjang oleh program kerja pemeliharaan melalui pihak ketiga. Namun program kerja belum terlaksana secara efektif karena hanya 78,62% permintaan pembelian yang berhasil diproses melalui pengadaan jasa dan hanya 78,95% dari penyedia jasa terpililih mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Karena kriteria penyedia jasa pemeliharaan pabrik yang belum standar, Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang disusun oleh user atau planner memiliki variansi yang tinggi bahkan untuk pekerjaan yang sama, sehingga sulit diproses secara cepat oleh pelaksana pengadaan dan sulit dimengerti oleh calon penyedia jasa. Setelah memenuhi persyaratan minimum yang terdapat didalam KAK atau Scope of Work (SOW), proses evaluasi untuk menentukan calon penyedia jasa dilakukan hanya berdasarkan kriteria harga, yaitu calon penyedia jasa yang memberikan penawaran terendah. Dengan demikian penyedia jasa yang berhasil menjadi pemenang belum dapat memberikan kinerja best value for money yang merupakan trade off dari aspek teknis dan aspek harga. Penelitian berfokus kepada pengembangan multikriteria yang digunakan untuk menyeleksi penyedia jasa pabrik dan terdekomposisi secara berturut turut menjadi dimensi, elemen dan indikator. Pengembangan model dilakukan dengan adaptasi dan memodifikasi model eksisting, penelitian terkait dan benchmark ke induk perusahaan. Usulan indikator yang telah dikembangkan, disaring melalui penilaian tingkat kepentingan dengan skala Likert oleh 107 orang personil yang terlibat dalam proses pengadaan. Selain elemen dan indikator yang termasuk dalam dimensi administrasi dilakukan penentuan bobot dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan melibatkan penilaian berpasangan oleh 26 orang tenaga ahli di lingkungan perusahaan. Hasil dari penelitian ini adalah kriteria penyedia jasa pemeliharaan pabrik yang terdiri dari 3 dimensi, 13 elemen dan 58 indikator. Penilaian dimensi administrasi dilakukan melalui sistem gugur sedangkan penilaian dimensi teknis dan dimensi finansial dilakukan melalui sistem nilai dengan parameter yang telah dikembangkan agar penilaian dapat dilakukan secara terukur dan obyektif. Bobot dimensi teknis (67,41%) dan dimensi finansial sebesar (32,59%). Tiga elemen dengan bobot global terbesar untuk dimensi teknis dan dimensi finansial adalah elemen sumber daya manusia (21%), elemen komposisi biaya pemeliharaan (20%) dan elemen peralatan (14%). Hasil uji coba instrumen penilaian yang dilakukan melalui lima skenario membuktikan bahwa kriteria dan parameter penilaian yang telah dikembangkan dapat digunakan untuk mendapatkan pemenang sesuai dengan prinsip the best value for money.

2024
👤 Penulis: Muhammad Nur
🏷️ Pemeliharaan Industri 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Penjadwalan Jasa Pemeliharaan
💬