📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPOTENSI BANJIR ROB DI ERETAN INDRAMAYU
Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, merupakan kawasan pesisir berelevasi rendah 0–2 m di atas muka laut yang rutin mengalami banjir rob akibat kombinasi pasang tinggi, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan peta potensi genangan banjir rob berbasis skenario untuk periode 2025–2045 dengan interval lima tahun. Pemodelan dilakukan menggunakan Spatial Bathtub Model yang mengintegrasikan Digital Terrain Model dari LiDAR 2025, parameter muka air laut pasang tertinggi hasil prediksi model dari analisis konstanta harmonik pasang surut, proyeksi kenaikan muka air laut regional, serta laju penurunan muka tanah hasil InSAR yang diinterpolasi dengan Ordinary Kriging dan dikalibrasi menggunakan GNSS. Tujuh skenario disusun untuk membedakan kontribusi faktor penyebab genangan. Hasil validasi lapangan menunjukkan Overall Accuracy 75,71%, Precision 96,57%, Recall 75,78%, F1-Score 84,92%, dan Critical Success Index 73,80%. Produk akhir berupa peta overlay temporal genangan rob dan informasi luas area terdampak per skenario sebagai dasar perencanaan mitigasi banjir rob di pesisir Indramayu.
POTENSI BANJIR ROB DI ERETAN INDRAMAYU
Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, merupakan kawasan pesisir berelevasi rendah 0–2 m di atas muka laut yang rutin mengalami banjir rob akibat kombinasi pasang tinggi, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan peta potensi genangan banjir rob berbasis skenario untuk periode 2025–2045 dengan interval lima tahun. Pemodelan dilakukan menggunakan Spatial Bathtub Model yang mengintegrasikan Digital Terrain Model dari LiDAR 2025, parameter muka air laut pasang tertinggi hasil prediksi model dari analisis konstanta harmonik pasang surut, proyeksi kenaikan muka air laut regional, serta laju penurunan muka tanah hasil InSAR yang diinterpolasi dengan Ordinary Kriging dan dikalibrasi menggunakan GNSS. Tujuh skenario disusun untuk membedakan kontribusi faktor penyebab genangan. Hasil validasi lapangan menunjukkan Overall Accuracy 75,71%, Precision 96,57%, Recall 75,78%, F1-Score 84,92%, dan Critical Success Index 73,80%. Produk akhir berupa peta overlay temporal genangan rob dan informasi luas area terdampak per skenario sebagai dasar perencanaan mitigasi banjir rob di pesisir Indramayu.
POTENSI BANJIR ROB DI ERETAN INDRAMAYU
Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, merupakan kawasan pesisir berelevasi rendah 0–2 m di atas muka laut yang rutin mengalami banjir rob akibat kombinasi pasang tinggi, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan peta potensi genangan banjir rob berbasis skenario untuk periode 2025–2045 dengan interval lima tahun. Pemodelan dilakukan menggunakan Spatial Bathtub Model yang mengintegrasikan Digital Terrain Model dari LiDAR 2025, parameter muka air laut pasang tertinggi hasil prediksi model dari analisis konstanta harmonik pasang surut, proyeksi kenaikan muka air laut regional, serta laju penurunan muka tanah hasil InSAR yang diinterpolasi dengan Ordinary Kriging dan dikalibrasi menggunakan GNSS. Tujuh skenario disusun untuk membedakan kontribusi faktor penyebab genangan. Hasil validasi lapangan menunjukkan Overall Accuracy 75,71%, Precision 96,57%, Recall 75,78%, F1-Score 84,92%, dan Critical Success Index 73,80%. Produk akhir berupa peta overlay temporal genangan rob dan informasi luas area terdampak per skenario sebagai dasar perencanaan mitigasi banjir rob di pesisir Indramayu.
POTENSI BANJIR ROB DI ERETAN INDRAMAYU
Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, merupakan kawasan pesisir berelevasi rendah 0–2 m di atas muka laut yang rutin mengalami banjir rob akibat kombinasi pasang tinggi, kenaikan muka air laut, dan penurunan muka tanah. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan peta potensi genangan banjir rob berbasis skenario untuk periode 2025–2045 dengan interval lima tahun. Pemodelan dilakukan menggunakan Spatial Bathtub Model yang mengintegrasikan Digital Terrain Model dari LiDAR 2025, parameter muka air laut pasang tertinggi hasil prediksi model dari analisis konstanta harmonik pasang surut, proyeksi kenaikan muka air laut regional, serta laju penurunan muka tanah hasil InSAR yang diinterpolasi dengan Ordinary Kriging dan dikalibrasi menggunakan GNSS. Tujuh skenario disusun untuk membedakan kontribusi faktor penyebab genangan. Hasil validasi lapangan menunjukkan Overall Accuracy 75,71%, Precision 96,57%, Recall 75,78%, F1-Score 84,92%, dan Critical Success Index 73,80%. Produk akhir berupa peta overlay temporal genangan rob dan informasi luas area terdampak per skenario sebagai dasar perencanaan mitigasi banjir rob di pesisir Indramayu.
KAJIAN EFEKTIFITAS PENGENDALIAN BANJIR DAN PENGARUHNYA TERHADAP SEDIMENTASI PADA SUNGAI WULAN, KABUPATEN DEMAK
Sungai Wulan merupakan bagian hilir dari daerah aliran sungai Serang-Lusi. Selain mempunyai kemiringan yang landai, yaitu 0,000021, Sungai Wulan juga terpengaruh pasang surut sehingga morfologi sungai wulan dominan mengalami sedimentasi. Berdasarkan laporan dari BBWS Pemali Juana, sedimentasi Sungai Wulan mencapai 40 mm/tahun dan rambatan pasang surut sejauh 25 km. Oleh karena itu, kapasitas Sungai Wulan mengalami pengecilan sehingga dapat menyebabkan banjir di sekitarnya padahal telah terdapat tanggul tanah sejak tahun 1989. Data tercatat pada tahun 2021 dan 2024 tanggul Sungai Wulan mengalami overtopping karena debit banjir yang terjadi lebih besar dari kondisi eksisting tanggul. Pada tahun 2024 juga tanggul sebelah kiri mengalami kegagalan konstruksi (jebol) karena debit yang melewati Sungai Wulan lebih dari 1100 m3/detik padahal kapasitas Sungai Wulan diperkirakan 800 m3/detik. Beberapa faktor tersebut membuat Sungai Wulan mengalami luapan air sehingga membuat daerah sekitar mengalami banjir. Oleh karena itu, diperlukan kajian pengendalian banjir dan pengaruhnya terhadap sedimentasi pada Sungai Wulan dengan tujuan mengetahui pengaruh pasang surut di Sungai Wulan, mengetahui limpasan banjir dan perubahan morfologi sebelum dan sesudah kegiatan pengendalian banjir Sungai Wulan. Kajian ini dilakukan pada Sungai Wulan sepanjang 30 km mulai dari jembatan Tanggulangin sampai dengan 5 km dari laut. Secara umum, kajian dilakukan dengan cara melakukan analisis hidrologi, analisis pasang surut, analisis hidraulika, dan analisis sedimentasi. Metodologi untuk analisis hidrologi dalam menghitung debit banjir, yaitu HSS SCS-CN, Snyder, dan Nakayasu dengan menggunakan software Hec-HMS. Debit banjir yang digunakan untuk pemodelan banjir yaitu debit banjir kala ulang 2 tahun dan 25 tahun. Sedangkan pemodelan sedimentasi selain menggunakan debit banjir tersebut, digunakan juga debit harian pencatatan pos duga air Karanganyar dan Kedunggupit. Debit banjir dikalibrasi menggunakan debit pencatatan PDA Klambu di hulu kajian dan awal dari Sungai Wulan. Analisis pasang surut menggunakan metode Least Square. Analisis hidraulika dan sedimentasi menggunakan software Hec-RAS. Rencana skenario pengendalian banjir dan sedimentasi yaitu, eksisting (0), normalisasi dan peninggian tanggul (1), normalisasi (2), dan peninggian tanggul (3). Hasil kalibrasi debit banjir menunjukkan HSS SCS-CN menghasilkan eror yang paling baik sehingga kajian banjir dan sedimentasi menggunakan metode HSS SCS-CN. Debit banjir Q2 sebesar 680,20 m3/detik dialirkan pada skenario 0 menghasilkan 74 titik limpasan dengan ketinggian limpasan maksimum 0,7 m. Pasang surut membuat tinggi limpasan tersebut bertambah sebesar 0,1 m sehingga menyebabkan bertambahnya titik limpasan menjadi 98 titik limpasan. Sedangkan debit banjir Q25 sebesar 1112,60 m3/detik pada skenario 0 menghasilkan 593 titik limpasan dan pengaruh pasang surut menyebabkan bertambahnya tinggi muka air sebesar 0,1 m dan limpasan menjadi 610 titik. Penerapan normalisasi dan peninggian (skenario 1) menghasilkan titik limpasan hingga 0 titik (reduksi banjir 100%). Sedangkan normalisasi (skenario 2) hanya mampu menurunkan jumlah titik limpasan menjadi 15 titik dengan ketinggian limpasan maks 0,38 m dan penerapan tanggul saja (skenario 3) menurunkan jumlah titik limpasan menjadi 11 titik dengan limpasan maks 0,49 m. Pemodelan sedimen Sungai Wulan pada kondisi eksisting (skenario 0) akan mengalami sedimentasi sebesar 178 x 103 m³/tahun dan erosi sebesar 235 x 103 m³/tahun. Setelah dilakukan Setelah dilakukan normalisasi, dengan dan tanpa peninggian tanggul (skenario 1 dan 2), sedimentasi akan menurun menjadi 57 x 103 s.d. 58 x 103 m³/tahun karena lebih dominan erosi. Sedangkan peninggian tanggul (skenario 3) menurunkan volume sedimentasi menjadi 161 x 103 m³/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pengendalian banjir mempunyai dampak positif terhadap penurunan angka sedimentasi namun tetap terdapat pola erosi yang berpotensi mengakibatkan pola sungai akan kembali seperti kondisi eksisting. Secara umum, pola morfologi sungai hasil pemodelan yaitu dominan erosi. Berdasarkan data pengukuran, seharusnya terjadi sedimentasi di bagian hilir. Parameter gelombang mungkin berpengaruh dalam perubahan morfologi di bagian hilir maka diperlukan kajian khusus terkait muara Sungai Wulan. Pengendalian banjir eksisting di Sungai Wulan berupa tanggul dan sistem pelimpah goleng – SWD 1 menunjukkan bahwa tidak mampu mengalirkan limpasan air pada kondisi banjir Q25. Pengendalian banjir berupa normalisasi dan peninggian tanggul (skenario 1) terbukti efektif berdasarkan penilaian aspek reduksi banjir, sosial, biaya pelaksanaan, dan biaya pemeliharaan. Namun dengan catatan bahwa desain skenario 1 masih dapat dilakukan optimasi sehingga dapat mengurangi biaya pelaksanaan.
ANALISIS ASIMETRI PASANG SURUT MENGGUNAKAN METODE HARMONIK, STATISTICAL SKEWNESS, DAN TRANSFORMASI FOURIER, DI SEGARA ANAKAN, CILACAP, JAWA TENGAH
Pemahaman terhadap dinamika pasang surut sangat penting dalam studi sirkulasi air di wilayah estuari, terutama pada sistem semi-tertutup seperti laguna Segara Anakan, yang dipengaruhi oleh interaksi pasang surut dan debit sungai, serta memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Penelitian ini menganalisis karakteristik pasang surut di Laguna Segara Anakan berdasarkan data observasi dari empat stasiun (Citanduy, Klaces, Motean, dan BIG). Hasil menunjukkan bahwa tunggang pasut mengalami peningkatan 1 cm dari Stasiun Citanduy (1,14 m) ke Klaces (1,15 m), namun menurun drastis di Motean (0,8 m). Stasiun BIG di mulut laguna memiliki tunggang tertinggi (1,77 m) dengan amplitudo komponen M2 dominan (0,33 m atau 15% dari total amplitudo). Di dalam laguna, amplitudo total menurun (Citanduy: 1,098 m; Klaces: 1,11 m; Motean: 0,88 m), dengan M2 sebagai komponen utama (0,271 m, 0,265 m, dan 0,186 m). Asimetri pasut ditandai oleh durasi pasang yang lebih singkat daripada surut di tiga stasiun dalam laguna (selisih durasi: Citanduy 1,64 jam, Klaces 1,42 jam, Motean 0,89 jam), sementara di BIG durasi pasang lebih lama dengan selisih hanya 0,18 jam. Interaksi komponen M2–K1–O1 terbukti paling berpengaruh terhadap asimetri pasut di laguna. Temuan ini menegaskan bahwa morfologi laguna dan dinamika komponen pasut lokal memiliki peran krusial dalam membentuk pola asimetri yang
ANALISIS ASIMETRI PASANG SURUT DI TELUK BALIKPAPAN MENGGGUNAKAN METODE ANALISIS HARMONIK, KEMENCENGAN STATISTIK, DAN TRANSFORMASI FOURIER
Asimetri pasang surut (pasut) di Teluk Balikpapan diteliti dengan menganalisis data elevasi yang diambil secara langsung pada 27 Juli – 4 Agustus 2024. Tiga stasiun pengambilan data mewakili mulut estuari (Stasiun BIG, 0 km), tengah estuari (Stasiun 1, 20,54 km) dan hulu estuari (Stasiun 2, 35,05 km), dengan jarak dari titik referensi di mulut estuari. Analisis karakteristik propagasi pasang surut di Teluk Balikpapan dilakukan. Nilai amplitudo elevasi pasut tertinggi ditemukan sebesar 2,47 m di Stasiun 2, 2,23 m di Stasiun 1, dan 2,02 m di Stasiun BIG. Menggunakan metode Transformasi Fourier, analisis tipe komponen pasut didominasi oleh tipesemidiurnal serta ditemukan adanya komponen harmonik tinggi. Metode analisis harmonik mengungkapkan adanya asimetri surut kuat sepanjang estuari TelukBalikpapan. Interaksi komponen pasut yang paling kuat mempengaruhi keasimetrian yaitu M2-S2-MS4 dengan nilai total kemencengan harmonik negatif mencapai -0,94. Metode kemencengan statistik menunjukkan nilai kemencengan negatif mencapai -0,92 di Stasiun 2. Asimetri surut kuat semakin meningkat nilainya menuju hulu estuari. Teluk Balikpapan memiliki tipe pasut campuran condong ganda dengan nilai formzahl (0,35 – 0,39). Amplifikasi dengan nilai mencapai 22,36% terjadi menuju hulu Teluk Balikpapan yang dipengaruhi oleh konvergensi topografi estuari yang menyempit dan mendangkal. Pemahaman dari asimetri pasut ini da