📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 15 dokumenAN EXPLORATORY STUDY OF MUSIC INDUSTRY IN BANDUNG
In this globalization era has brought competitive pressure to the business activities around the world. Porter (1990) said that national prosperity is created not inherited. This condition brought that we need new type of industry that can make a competitive advantage to this nation. Florida (2002) said that in the new economic era; competitive advantages depend on the quality of creativity and initiation, design and technical ability, deep conceptualization, and ability to deal with fast change. The current condition shows that music industry is the leading industry on creative industry. Based on Dinas Perdagangan Republik Indonesia's research, the condition was supported by: • Creative music industry have the higher growth than the other creative industry (18.06% in 2002-2006) • 80% market share on music industry is occupied by Indonesian music. • Indonesian music has been approved and sale at other country, like Malaysia, Brunei Darussalam, Singapore. • High playing ratio on television and radio •High frequency of concert on television or off-air, even the concert hall not good enough. This study talking about how the rich picture of creative music industry in Bandung, and how to bring this industry to their potential throughout several analysis data and tools, like stakeholders analysis, value chain analysis and diamond of porter model. In this study, in-depth interview has been used to 10 informants from five stakeholders by recommendation from various stakeholders. This study succesfully described the rich picture of creative music industry and also identify the potential or problems that exist on the creative music industry in this town. This study also identify how each stakeholder's reaction about collaboration and how to achieve that. Keywords: Creative industry, music industry, stakeholders analysis, value chain analysis, diamond of porter model, collaboration
KEPUTUSAN STRATEGIS DALAM PERLUASAN PASAR: MENAVIGASI PELUANG BISNIS BAGI HUKUMONLINE UNTUK BEREKSPANSI KE PASAR ASEAN
Studi ini menyelidiki pengambilan keputusan strategis bagi Hukumonline, perusahaan teknologi hukum terkemuka di Indonesia, untuk berekspansi ke pasar Asia Tenggara (ASEAN) melalui platform regionalnya, NOMOS. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan inti, Peluang bisnis apa yang ada di ASEAN untuk Hukumonline?, Negara mana yang menawarkan kondisi yang paling menguntungkan untuk masuk?, Strategi mode masuk apa yang paling tepat? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengintegrasikan analisis PESTEL untuk penilaian lingkungan makro, Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk prioritas negara, Lima Kekuatan Porter untuk daya saing industri, dan analisis VRIO untuk evaluasi sumber daya internal. Bobot DEMATEL mengidentifikasi kesiapan teknologi dan kepastian hukum sebagai faktor keberhasilan penting, sementara adaptasi sosial budaya muncul sebagai pendorong utama. Hasil AHP menempatkan Singapura sebagai pasar prioritas utama, diikuti oleh Malaysia dan Thailand. Temuan ini merekomendasikan strategi entri hibrida bertahap: penyebaran SaaS lintas batas awal, aliansi strategis jangka menengah dengan firma hukum lokal, dan pembentukan hub regional jangka panjang di Singapura. Penelitian ini menyumbangkan kerangka pengambilan keputusan terstruktur untuk internasionalisasi teknologi hukum dan menawarkan panduan praktis untuk memanfaatkan aset tidak berwujud di pasar yang heterogen.
PERENCANAAN STRATEGI BISNIS UNTUK MENGELOLA EKSPEKTASI PELANGGAN DI PT. MEA DIGITAL MARKETING
Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang sangat pesat dan meningkatnya tingkat belanja daring menunjukkan kebutuhan akan dukungan pemasaran digital bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). PT. MEA Digital Marketing menyediakan layanan seperti pengelolaan iklan, pembuatan konten, live streaming, serta layanan optimasi untuk membantu perkembangan UMKM. Survei internal PT. MEA menunjukkan tingkat kepuasan pelanggan sebesar 85%, namun PT. MEA memiliki tingkat perpindahan pelanggan yang tinggi yaitu 47%, menunjukkan adanya perbedaan antara ekspektasi pelanggan dan kualitas layanan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami ekspektasi penjual online terhadap agensi pemasaran digital dan mengusulkan perbaikan berbasis Manajemen Hubungan Pelanggan (CRM) untuk mengatasi permasalahan manajemen ekspektasi pelanggan di PT. MEA. Pendekatan kualitatif diaplikasikan melalui wawancara dengan sepuluh penjual online. Analisis tematik mengungkap empat ekspektasi utama: peningkatan penjualan, komunikasi dan transparansi, wawasan dan analisis, serta persepsi agensi sebagai alternatif dari rekrutmen. Data sekunder sebagai pendukung serta Analisis Lima Kekuatan Porter dan Lima C digunakan untuk menilai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi ekspektasi pelanggan. Model Kualitas Jasa mengidentifikasi permasalahan pada penyesuaian ekspektasi, standardisasi, dan komunikasi. Berdasarkan temuan tersebut, beberapa perbaikan berbasis CRM diusulkan: segmentasi pelanggan, perbaikan proses pengenalan pelanggan, perbaikan sistem pelaporan, standarisasi proses dan komunikasi, integrasi edukasi pelanggan, serta perbaikan sistem umpan balik pelanggan. Perbaikan ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan kualitas layanan dan membantu PT. MEA mengelola ekspektasi pelanggan secara lebih efektif
PERENCANAAN PERTUMBUHAN STRATEGIS UNTUK USAHA MAKANAN MIKRO: STUDI KASUS BAKSO TRIO SEKAWAN DI BANDUNG
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, namun sering menghadapi kinerja yang tidak stabil dan pertumbuhan yang terbatas. Penelitian ini berfokus pada Bakso Trio Sekawan, sebuah gerai bakso tradisional di Bandung yang mengalami pendapatan fluktuatif dan operasional yang belum terstruktur. Melalui pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi- terstruktur dan dianalisis menggunakan kerangka strategis seperti PESTEL, Lima Kekuatan Porter, Analisis Kompetitor, Business Model Canvas, dan Analisis Rantai Nilai. Studi ini mengidentifikasi empat tantangan utama: tidak adanya sistem manajemen formal, ketergantungan tinggi pada pemilik, pemasaran digital yang belum berkembang, serta masalah semangat kerja staf saat masa sepi. Matriks TOWS digunakan untuk merumuskan rekomendasi strategi, termasuk digitalisasi secara bertahap, formalisasi operasional, dan ekspansi ke platform pemesanan makanan daring. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan proses internal dan adopsi teknologi digital untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan UMKM. Wawasan dari studi ini dapat diterapkan pada usaha makanan kecil lainnya yang ingin berkembang sambil mempertahankan nilai unik mereka.
ANALISIS KEUANGAN TINGKAT STARTUP PADA BISNIS MULTI-PRODUK DI INDUSTRI PERMAINAN KARTU
Banyak startup menghadapi kesulitan dalam mencapai keberlanjutan akibat perencanaan keuangan yang kurang matang dan keterbatasan sumber daya. Amusphere, perusahaan permainan kartu yang didirikan pada tahun 2023, meluncurkan tiga produk sekaligus tanpa melakukan penilaian keuangan sebelumnya. Meskipun produk-produk tersebut bertujuan untuk mengurangi stres dan mendukung koneksi sosial, Amusphere saat ini menghadapi tantangan dalam menjaga arus kas yang konsisten serta mengalokasikan sumber daya secara efisien. Penelitian ini berfokus pada evaluasi kelayakan finansial dari masing-masing produk—Royal Intrigue, SuKa, dan Pojok Diskusi—melalui analisis internal dan eksternal, termasuk PESTEL, Lima Kekuatan Porter, analisis pesaing 4P, dan pemetaan sumber daya. Penilaian keuangan dilakukan menggunakan proyeksi laporan keuangan lima tahun (pro forma), dengan tiga skenario strategis: menghentikan Royal Intrigue, menghentikan SuKa, atau melanjutkan ketiga produk. Setiap skenario diuji dalam kondisi optimistis, realistis, dan pesimistis, dengan modal awal sebesar Rp100 juta. Indikator evaluasi meliputi Discounted Payback Period (DPP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Hasil menunjukkan bahwa seluruh produk menghasilkan laba sejak tahun pertama, namun hanya skenario All Continued yang memenuhi seluruh kriteria kelayakan di semua asumsi. Temuan ini menekankan bahwa keberagaman produk membantu menyeimbangkan risiko dan mendukung pertumbuhan jangka panjang, sementara masalah utama di balik lambatnya arus kas lebih disebabkan oleh kinerja pemasaran yang terbatas, bukan tumpang tindih produk. Studi ini merekomendasikan untuk memprioritaskan Pojok Diskusi karena memberikan hasil yang konsisten, diikuti oleh Royal Intrigue. Perbaikan operasional, legalisasi usaha, serta eksekusi pemasaran yang lebih kuat juga diperlukan agar Amusphere dapat bertahan dan berkembang.
PROPOSED MARKET ENTRY STRATEGY OF BUSINESS TO BUSINESS EXPORT OF HORTICULTURE COMMODITY FOR KUTANI FARM
Penelitian ini membahas faktor-faktor kunci terkait kesiapan dan strategi memasuki pasar untuk ekspor hortikultura B2B dari Kutani Farm, dengan mempertimbangkan potensi pertanian Indonesia dan kesulitan perusahaan dalam mencapai standar global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kesiapan internal Kutani Farm, menentukan pasar ekspor yang memungkinkan, dan mengembangkan strategi masuk pasar yang sesuai. Dengan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan CEO Kutani Farm dan eksportir berpengalaman (KSIP Agro), serta didukung oleh data sekunder dari laporan pemerintah, statistik industri, dan dokumen peraturan. Analisis dilakukan secara bertahap, melibatkan Analisis Rantai Nilai untuk faktor internal, Analisis Berlian dan Lima Kekuatan Porter untuk lingkungan eksternal, dan perbandingan pasar Jepang dan Singapura berdasarkan konsep Daya Tarik Pasar dan Kekuatan Kompetitif Hollensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Kutani Farm unggul dalam kualitas produk dan memiliki reputasi domestik yang kuat, Kutani Farm juga menghadapi tantangan yang cukup besar, termasuk kesenjangan dalam kapasitas produksi dan kurangnya keahlian ekspor. Singapura muncul sebagai target pasar awal yang paling menjanjikan karena peraturan yang lebih menguntungkan dan biaya logistik yang lebih rendah. Oleh karena itu, aliansi strategis dengan eksportir yang berpengalaman dan meningkatkan kemampuan internal sangat direkomendasikan.
PERANCANGAN STRATEGI GO-TO-MARKET DALAM MEMASUKI PASAR PERBAIKAN KENDARAAN LISTRIK DI INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN AKUISISI PELANGGAN BARU (STUDI KASUS: PT. APMS)
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategy go-to-market bagi PT. APMS dalam memasuki pasar layanan perbaikan body kendaraan listrik di Indonesia, pertumbuhan pasar electric vehicle di Indonesia menjadi sebuah tantangan dan business issue bagi PT. APMS sebagai perusahaan vendor body repair & paint untuk mempersiapkan diri dalam menjawab kebutuhan pasar electric vehicle. Penelitian sebelumnya menunjukan efektifitas strategi go-to-market pada perusahaan startup penyedia platform IOT yang mengubungkan stasiun pengecasan kendaraan dan pemilik kendaraan listrik, penelitian ini menganalisa lingkungan makro bisnis menggunakan kerangka PESTEL dan lingkungan mikro bisnis menggunakan kerangka Porter’s five forces, kemudian analisa internal dilakukan dengan memanfaatkan kerangka Value Chain dan VRIO untuk mengidentifikasi kapabilitas internal perusahaan. Pendekatan STP, value proposition canvas, dan bauran pemasaran dimanfaatkan untuk merancang strategy go-to-market yang terdiri dari lima komponen yaitu pasar, pelanggan, produk, kanal, dan model pengintegrasian multi-kanal. Desain penelitian ini memiliki 2 tahap yaitu tahap eksplorasi dan tahap konfirmasi dan tahap eksplorasi, metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi-struktur terhadap 15 narasumber yang terdiri dari 6 manajemen perusahaan, 5 calon pelanggan dan 4 pemasok untuk tahap explorasi dan 6 narasumber yang terdiri dari 2 perwakilan komunitas, 2 ahli dan 2 praktisi bisnis untuk tahap konfirmasi, metode analisis pada penelitian ini adalah analisis tematik dengan mengidentifikasi tema yang berulang dari kumpulan data yang telah diambil. Hasilnya, analisa PESTEL menunjukan pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang didukung oleh regulasi pemerintah, faktor ekonomi dan faktor sosial, kemudian analisa Porter’s five forces menunjukan persaingan bisnis yang kompetitif, analisis value chain dan VRIO menunjukan kapabilitas internal dan keunggulan kompetitif yang dimiliki PT. APMS dalam menjawab kebutuhan pasar. Strategy go-to-market yang diusulkan meliputi pemilihan target pasar yang tepat, pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan, pengembangan produk yang sesuai, pemilihan kanal yang tepat dan pembentukan model intergrasi multi-kanal yang menjadi rekomendari praktis bagi PT. APMS untuk memasuki pasar layanan perbaikan body kendaraan listrik.
ANALISIS STRATEGI RESUSITASI BISNIS: PT ANUGERAH BUMI SINERGI SETELAH KEGAGALAN EKSPANSI PASAR
PT Anugerah Bumi Sinergi adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan batubara, dan pada tahun 2023 mencoba melakukan ekspansi ke wilayah Gresik, Jawa Timur. Namun, karena beberapa kendala, ekspansi tersebut gagal dan perusahaan terpaksa menghentikan operasionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi kebangkitan bisnis guna menghidupkan kembali PT Anugerah Bumi Sinergi setelah mengalami kegagalan dalam ekspansi pasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis Sumber Daya dan Aktivitas Rantai Nilai, Porter Analisis, analisis SWOT, serta model Restrukturisasi Heksagonal. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan tiga Informan yang merupakan karyawan relevan di PT Anugerah Bumi Sinergi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegagalan ekspansi pasar di Gresik disebabkan oleh ketidaksesuaian antara strategi perusahaan dengan karakteristik pasar lokal, keterbatasan sumber daya manusia, tantangan logistik yang tinggi, serta tekanan arus kas akibat praktik pembayaran yang tertunda. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, PT Anugerah Bumi Sinergi merumuskan strategi kebangkitan bisnis yang mencakup reposisi nilai produk, efisiensi logistik melalui kemitraan lokal dan distribusi ramping, penguatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi pasar ekspor, serta penguatan struktur keuangan. Strategi ini bertujuan untuk memulihkan operasional perusahaan dan meningkatkan daya saing yang adaptif dan berkelanjutan.
STRATEGI BISNIS DAN PEMASARAN UNTUK MENGOPTIMALKAN PERTUMBUHAN BISNIS DI PT. BANK YELLOW BANK INDONESIA, TBK MELALUI UPSELLING DAN CROSS-SELLING STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN DANA DAN KEPEMILIKAN PRODUK NASABAH KORPORAT JEPANG.
Industri perbankan di Indonesia memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. Seiring dengan meningkatnya persaingan dan berkembangnya ekspektasi nasabah, bank harus menerapkan pendekatan strategis untuk bersaing dengan bank-bank lain, mempertahankan nasabah eksisting, menarik nasabah baru, memaksimalkan peluang pendapatan, serta meningkatkan pertumbuhan jumlah kepemilikan produk. Penelitian ini berfokus pada PT. Yellow Bank Indonesia, Tbk, khususnya di Area Cikarang, di mana nasabah korporat Jepang mendominasi sektor manufaktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi penurunan kinerja bisnis di Yellow Bank, khususnya dalam hal total pendanaan (dana pihak ketiga), retensi nasabah, akuisisi nasabah, peningkatan pendapatan, dan kepemilikan produk. Penelitian ini menggunakan metodologi yang terstruktur, dengan mengintegrasikan analisis data primer dan sekunder. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan bersama pemangku kepentingan internal, termasuk tim unit bisnis (Area Branch Manager, Branch Manager, dan Corporate Marketing Team), serta tim pendukung unit bisnis lainnya. Selain itu, wawancara mendalam dengan nasabah korporat Jepang dilakukan untuk memahami preferensi perbankan dan ekspektasi layanan mereka. Lingkungan eksternal dianalisis menggunakan pendekatan Porter’s Five Forces serta Analisis Kompetitor dan Pelanggan, sedangkan kapabilitas internal dievaluasi melalui Fishbone Figure, Resource-Based View (RBV), Analisis VRIO, dan Analisis SWOT. Analisis Tematik digunakan untuk mengkategorikan temuan ke dalam tantangan bisnis utama. Penelitian ini mengidentifikasi empat isu utama yang mempengaruhi kinerja bisnis Yellow Bank. Pertama, tantangan dalam retensi nasabah, di mana nasabah korporat Jepang sangat mengutamakan hubungan jangka panjang, efisiensi layanan, dan solusi keuangan yang disesuaikan. Namun, terdapat kesenjangan dalam kualitas layanan, kecepatan respon, dan strategi keterlibatan yang menyebabkan menurunnya tingkat retensi nasabah. Kedua, tantangan dalam akuisisi nasabah, di mana pasar yang sangat kompetitif di Cikarang menyulitkan dalam menarik nasabah baru karena sebagian besar perusahaan sudah memiliki hubungan jangka panjang dengan bank pesaing, terutama lembaga keuangan Jepang. Ketiga, strategi upselling dan cross-selling yang kurang efektif, di mana tim pemasaran korporat mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kebutuhan nasabah, menawarkan produk tambahan, dan mengonversi nasabah korporat eksisting menjadi nasabah dengan kepemilikan produk yang lebih banyak. Terakhir, adanya ketidakefisienan operasional dan sistem teknologi yang sudah usang, di mana kompleksitas proses administrasi, prosedur operasional standar (SOP) yang kaku, serta masalah teknis pada platform perbankan digital berdampak negatif terhadap pengalaman nasabah. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan beberapa inisiatif strategis, antara lain: memperkuat tim pemasaran korporat melalui pelatihan dan pengembangan yang terarah, termasuk peningkatan kemampuan bahasa Jepang dan teknik penjualan tingkat lanjut; meningkatkan platform digital perbankan korporat agar lebih seamless dan user-friendly; meluncurkan layanan Mobile Branch Service di lokasi untuk menawarkan solusi perbankan eksklusif berbasis lokasi yang sulit ditiru oleh pesaing; memperbaiki kolaborasi internal antar unit bisnis dan tim pendukung untuk mengoptimalkan pelayanan dan keterlibatan nasabah; memperluas upaya akuisisi nasabah dengan memanfaatkan program referensi dari pembeli dan pemasok nasabah eksisting; serta memperkenalkan strategi penetapan harga yang kompetitif untuk produk pinjaman korporat, transaksi valuta asing (forex), dan solusi trade finance untuk menarik dan mempertahankan nasabah korporat. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman akademik dan praktis mengenai strategi bisnis pemasaran di perbankan korporat, khususnya bagi Yellow Bank di Area Cikarang dalam memenangkan bisnis di sektor manufaktur Jepang di Indonesia. Penelitian ini menekankan pentingnya manajemen hubungan, efisiensi layanan, dan solusi keuangan yang disesuaikan sebagai faktor utama keberhasilan dalam perbankan korporat. Insight yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi panduan berharga bagi Yellow Bank dalam menerapkan roadmap yang terstruktur untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan pada tahun 2025 dan seterusnya.
MENGEMBANGKAN STRATEGI PERTUMBUHAN BISNIS YANG BERKELANJUTAN MELALUI WARALABA: STUDI KASUS PT ICED TEA
PT Iced Tea, yang didirikan pada tahun 2018, telah berkembang pesat melalui model waralaba blitzscaling, mencapai lebih dari 1000 outlet di seluruh Indonesia. Meskipun berhasil pada awalnya, perusahaan kini menghadapi tantangan termasuk stagnasi dalam pertumbuhan, masalah penegakan kebijakan royalti, pengadaan bahan baku, cabang yang berkinerja buruk, dan ketidakpatuhan konsisten dari franchisee terhadap standar. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis situasi bisnis saat ini dari model waralaba PT Iced Tea, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutannya, dan mengembangkan strategi bisnis baru untuk pertumbuhan berkelanjutan. Kerangka konseptual didasarkan pada Kerangka AFI Rothaermel, yang mencakup analisis komprehensif dari Marketing Mix 7P, analisis industri menggunakan PESTEL dan Porter’s Five Forces, serta evaluasi kompetensi inti melalui kerangka VRIO. Pendekatan metode campuran digunakan, mengumpulkan data kualitatif melalui wawancara mendalam dengan sepuluh franchisee dan data kuantitatif melalui kuesioner online yang diberikan kepada 200 pelanggan. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis konten tematik, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan skala Likert. Temuan menunjukkan bahwa PT Iced Tea harus mengadopsi strategi multifaset dengan memanfaatkan kekuatan, mengatasi kelemahan, memanfaatkan peluang, dan mengurangi ancaman. Ini termasuk fokus pada strategi diferensiasi berdasarkan Strategi Generik Porter, menekankan penetrasi pasar dan pengembangan produk dari Matriks Ansoff, serta memanfaatkan Matriks BCG Growth-Share untuk mengidentifikasi dan mereplikasi outlet yang berkinerja tinggi. Dukungan franchisee yang ditingkatkan dan peningkatan model 'PT Iced Tea's 2.0' direkomendasikan untuk meningkatkan penjualan dan ekuitas merek, mendorong pertumbuhan berkelanjutan, dan memperkuat kepemimpinan pasar PT Iced Tea
RANCANGAN STRATEGI PEMASARAN MEDIA WEB3 DI INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK (STUDI KASUS COINFOLKS)
Penelitian ini menyelidiki strategi pemasaran digital yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran merek dan keterlibatan untuk CoinFolks, sebuah perusahaan media multi-platform yang mengkhususkan diri dalam konten industri Web3. Penelitian menemukan rendahnya metrik pengikut pada saluran sosial media CoinFolks dibandingkan dengan pesaingnya di pasar Indonesia. Dengan memanfaatkan data primer dan sekunder, penelitian ini menggabungkan berbagai kerangka analisis, termasuk RBV, VRIO, Analisis Value Chain Porter, dan SWOT, untuk mengevaluasi lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan internal CoinFolks, sementara data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan literatur yang ada tentang tren pasar dan strategi pesaing. Temuan mengungkapkan bahwa CoinFolks memiliki beberapa sumber daya yang berharga dan sulit ditiru, seperti dalam pembuatan konten, kemampuan riset, sumber daya pendidikan, keterlibatan komunitas yang kuat, dan kemitraan strategis. Penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran baru yang berfokus pada peningkatan kegiatan promosi dan campuran konten CoinFolks. Rekomendasi utama termasuk meningkatkan kualitas dan jangkauan konten promosi, memanfaatkan analitik data untuk pemasaran yang ditargetkan, dan mendorong keterlibatan komunitas yang lebih kuat melalui format konten yang interaktif dan menarik. Kesimpulannya, strategi yang diusulkan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran merek CoinFolks, sehingga menempatkannya lebih kompetitif dalam lanskap media Web3 di Indonesia. Implementasi strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kehadiran pasar perusahaan dan mendorong pertumbuhan jangka panjang
VALUASI ‘USER-BASED’ UNTUK PT. GOTO GOJEK TOKOPEDIA TBK
Pada abad ke-20, digitalisasi telah memainkan peran penting dalam aktivitas manusia. Digitalisasi telah membangun dan menciptakan kemudahan dalam menyelesaikan tugas mereka dan memecahkan kompleksitas berbagai masalah kepentingan individu. Tidak hanya terbatas pada aktivitas manusia, berbagai bisnis juga telah mengadopsi digitalisasi untuk diimplementasikan dalam operasi sehari-hari mereka untuk menciptakan efisiensi, efektivitas, dan proposisi nilai kepada pelanggan. Berbagai bisnis juga telah menerapkan dan mengadopsi digitalisasi sebagai komponen dasar bagi mereka untuk mengoperasikan perusahaan/perusahaan. Contohnya adalah PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Meskipun perusahaan telah melakukan berbagai inovasi digitalisasi dan banyak pengguna, mereka masih menghadapi kerugian finansial. Berdasarkan laporan keuangan di BEI, perusahaan menghadapi potensi -22,53 triliun rupiah pada tahun 2021 dan meningkat menjadi -90,41 triliun rupiah pada tahun 2023 dengan kapitalisasi pasar sekitar 100 triliun rupiah pada kuartal I tahun 2024. Melihat kesenjangan dan permasalahan tersebut, maka penelitian ini mengusulkan penelitian analisis kuantitatif keuangan dengan menggunakan pendekatan valuasi yang lebih tepat yaitu user-based valuation terhadap perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga melakukan analisis mendalam terhadap faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi valuasi perusahaan dengan menggunakan Analisis Lima Kekuatan Porter dan Analisis PESTEL. Dari hasil implementasi, temuan dan penerapan pendekatan user-based valuation, terlihat bahwa nilai aktual perusahaan adalah sebesar 58,67 triliun rupiah dan memiliki harga relevan per saham sebesar 48,86 rupiah. Selain itu, jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar dan harga per saham saat ini, perusahaan dinilai terlalu tinggi sebesar 43,84% dibandingkan dengan kapitalisasi pasar dan harga per saham pada kuartal pertama tahun 2024 dan dinilai terlalu tinggi sebesar 28,15% pada kuartal kedua. Terakhir, dari faktor eksternal yang dianalisis, penilaian paling dipengaruhi oleh situasi ekonomi (PDB per kapita, tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi) dan faktor persaingan di sekitar bisnis di mana perusahaan digital menawarkan tingkat pembakaran yang tinggi.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK JEN BANK DALAM MELUNCURKAN BUY NOW PAY LATER DI PASAR PERSAINGAN NON-BANK
Kemajuan teknologi di sektor keuangan Indonesia telah mengubah transaksi finansial dan perilaku konsumen, terutama melalui adopsi uang elektronik (eMoney) dan inisiatif seperti Gerakan Nasional Non-Tunai. Didirikan pada tahun 1958, Ben Bank beradaptasi dengan perubahan ini melalui Jen Bank, divisi digitalnya yang diluncurkan pada tahun 2016, Yang melayani kaum milenial perkotaan dengan Solusi inovatif, termasuk Pay Later. Meskipun memiliki potensi, adopsiawal Pay Later masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesadaran saat ini terhadap Jen Bank Pay Later, mengeskplorasi strategi peningkatan, dan mengembangkan rencana pemasaran yang kompetitif. Menggunakan metode campuran, penilitan ini menyelidiki factor-faktor yang mempengaruhi kesadaran merek melalui analisis eksternal dan internal. Analisis eksternal melibatkan Porter’s 5 Forces, analisis pesaing, dan Model Penerimaan Teknologi, sementara analisis internal menggunakan kerangka VRIO, Value Chain Analysis, dan Marketing Mix 7P. Pengumpulan data mencakup obervasi, wawancara mendalam, kuesioner. Data kualitatif dianalisis untuk kondisi eksternal dan internal, sementara data kuantitatif diproses dengan SPSS untuk validitas, realibilitas, dan regresi linier. Model pengukuran PLS-SEM (Partial Least squares structural Equation Modelling) menguji model pengukuran untuk validitas realiabilitas, dan evalusasi hubungan. Studi ini mengungkapkan kesadaran dan penggunaan Pay Later yang terbatas di antara pelanggan yang dipilih karena upaya pemasaran yang kurang memadai dan rentang pembayaran yang sempit. Pasar Pay Later yang berkembang di Indonesia, didorong oleh adopsi pembayran digital, menghadirkan peluang dan ancaman. Jen Bank menghadapi persaingan ketat dari pemain ekosistem dan layanan teknologi finansial. Kekuatan meliputi kemajuan teknologi dan dukungan regulasi, sementara kelemahan termasuk kesadaran yang rendah. Meningkatkan kesadaran merek dan mengadopsi strategi pemasaran yang efektig direkomendasikan untuk memperkuat posisi pasar dan adopsi Jen Bank Pay Later.
PENILAIAN ELEMEN IDENTITAS MEREK SASSLE HAIRCARE UNTUK MEMBANGUN CITRA MEREK YANG KUAT MENGGUNAKAN KERANGKA CBBE
Penelitian ini bertujuan untuk menilai elemen identitas merek Sassle Haircare untuk memperkuat citra mereknya menggunakan kerangka Customer-Based Brand Equity (CBBE). Pasar perawatan rambut di Indonesia diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang signifikan, dengan peningkatan pendapatan dari US$197,60 juta pada tahun 2024 menjadi US$305,80 juta pada tahun 2029. Meskipun pasarnya menjanjikan, Sassle menghadapi tantangan terkait persepsi merek, yang dapat melemahkan ekuitas mereknya. Penelitian ini mengidentifikasi penyebab persepsi merek negatif dan mengevaluasi pembaruan identitas merek Sassle Haircare. Studi kualitatif pendahuluan yang melibatkan 39 responden wanita dari Bandung dan Jabodetabek mengungkapkan bahwa identitas merek Sassle tidak sejalan dengan persepsi pelanggan. Persepsi negatif mencakup komentar tentang kemasan yang tidak menarik, kurang mewah, dan desain logo yang menyesatkan. Studi ini menggunakan kerangka analisis eksternal seperti Porter Five Forces dan PESTEL, serta analisis pesaing, untuk memahami lanskap strategis dan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi persepsi merek. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatkan elemen identitas merek dan secara efektif mengkomunikasikan proposisi nilai unik Sassle—khususnya penggunaan minyak almond untuk pertumbuhan rambut—dapat meningkatkan ekuitas merek. Rekomendasi untuk inisiatif branding strategis diberikan untuk menyelaraskan identitas merek Sassle dengan presepsi pelanggan, sehingga menumbuhkan citra merek yang lebih kuat di pasar perawatan rambut yang kompetitif.
MENENTUKAN STRATEGI ALTERNATIF OPTIMAL PADA MESIN PRODUKSI PANEL SURYA DI PT LEN INDUSTRI (PERSERO)
Tesis ini mengeksplorasi optimalisasi produksi mesin panel surya di PT Len Industri (Persero), sebuah perusahaan milik negara terkemuka di sektor energi terbarukan Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama rendahnya kapasitas produksi tahunan dan mengusulkan strategi alternatif yang optimal untuk meningkatkan efisiensi dan output. Dengan menggunakan pendekatan komprehensif, penelitian ini mengintegrasikan analisis 5 Porter, analisis pemangku kepentingan, dan kerangka kerja pengambilan keputusan lanjutan seperti Proses Hierarki Analitis (AHP). Studi ini disusun dalam beberapa fase, dimulai dengan penilaian awal dan perencanaan implementasi. Fase berikutnya mencakup pengadaan dan pemasangan peralatan baru, integrasi dan pengujian teknologi canggih, dan akhirnya, operasi skala penuh dan inisiatif peningkatan berkelanjutan. Setiap fase menangani aspek-aspek penting seperti modernisasi teknologi, kepatuhan terhadap regulasi, daya saing pasar, dan kepuasan pelanggan. Dengan memanfaatkan Analisis 5 Porter, wawasan pemangku kepentingan, dan AHP untuk pengambilan keputusan, studi ini menyediakan peta jalan strategis bagi PT Len Industri untuk mengoptimalkan kemampuan produksi panel surya. Strategi yang diusulkan bertujuan untuk meningkatkan posisi pasar perusahaan, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, dan berkontribusi secara signifikan pada tujuan energi terbarukan Indonesia.