📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPREFERENSI PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI, ABILITY TO PAY DAN WILLINGNESS TO PAY PADA RENCANA LRT BANDUNG RAYA KORIDOR BABAKAN SILIWANGI-TEGALLUAR
Kota Bandung menghadapi krisis mobilitas yang serius dengan predikat kota termacet di Indonesia, sementara rencana pembangunan light rail transit (LRT) Bandung Raya sebagai Proyek Strategis Nasional hadir sebagai solusi jangka panjang. Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada skema kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) yang mengandalkan pendapatan tiket, namun hingga kini belum tersedia data mengenai karakteristik pengguna, preferensi, kemampuan bayar, dan kemauan bayar calon penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sosio-ekonomi dan pola perjalanan, preferensi pemilihan moda, serta nilai ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP) masyarakat lokal pada koridor Babakan Siliwangi-Tegalluar sebagai landasan rekomendasi kebijakan tarif dan strategi operasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode stated preference melalui choice experiment berbasis orthogonal design yang disebarkan kepada 160 responden komuter harian menggunakan teknik purposive sampling. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi profil sosio-ekonomi dan pola perjalanan responden sekaligus menghitung nilai ATP berdasarkan proporsi pengeluaran transportasi. Atribut layanan yang dianalisis dalam pemodelan preferensi meliputi waktu tempuh, biaya perjalanan, waktu tunggu, waktu akses, jumlah perpindahan moda, dan sistem pembayaran, yang dimodelkan menggunakan multinomial logit model. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pemangku kepentingan dalam menetapkan kebijakan tarif yang inklusif dan strategi pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan komuter harian di Kawasan Metropolitan Bandung Raya
PERANCANGAN USULAN KONSEP PRODUK SERUM WAJAH PT X BERDASARKAN PREFERENSI SEGMEN TARGET DENGAN METODE CHOICE-BASED CONJOINT
Serum wajah milik PT X menunjukkan performa penjualan yang rendah sejak diluncurkan pada Februari 2024, dengan penjualan kurang dari 30 unit dari total 500 unit produksi. Hal ini diduga disebabkan oleh pengembangan produk yang dilakukan tanpa riset mendalam terhadap preferensi konsumen, serta tanpa segmentasi dan targeting yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk merancang konsep produk ideal berdasarkan preferensi konsumen dan menentukan segmen pasar yang paling potensial. Preferensi konsumen dianalisis menggunakan metode choice-based conjoint (CBC), dengan atribut dan level yang ditentukan berdasarkan studi literatur dan wawancara mendalam terhadap pengguna skincare. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner eksperimen terhadap 160 responden menggunakan teknik nonprobability sampling. Empat atribut utama yang dievaluasi mencakup jenis aplikator, fokus manfaat serum, tekstur, dan intensitas aroma herbal. Analisis CBC menunjukkan bahwa atribut yang paling penting secara berurutan adalah aroma, tekstur, jenis aplikator, dan klaim manfaat. Untuk memetakan heterogenitas pasar, digunakan metode latent class regression (LCR) yang menghasilkan empat segmen unik: Targeted Seekers, The Optimizer, Anti-Mainstream, dan The Guardians. Dari keempatnya, segmen The Optimizer dipilih sebagai target pasar utama karena memiliki potensi pangsa pasar terbesar sebesar 44,3%, yang mana mereka memiliki karakteristik masalah kulit hiperpigmentasi dan sebagiannya berjerawat. Konsep produk yang sesuai dengan preferensi The Optimizer adalah serum dengan aplikator dropper cap, klaim multifungsi, tekstur lightweight, dan aroma eucalyptus ringan. Selanjutnya, dilakukan analisis willingness to pay (WTP) menggunakan metode Van Westendorp Price Sensitivity Meter secara agregat dan per kelompok pengeluaran. Hasil agregat menunjukkan harga optimal sebesar Rp110.500, dengan rentang harga yang dapat diterima antara Rp80.000 – Rp200.000. Adapun rekomendasi harga yang sesuai dengan PT X adalah memasang harga di rentang WTP pada kelompok pengeluaran rendah yakni Rp75.000—Rp186.000 untuk menargetkan seluruh kelompok pengeluaran.
PERANCANGAN USULAN KONSEP PRODUK INDOOR ALGATEK SERIES PHOTOBIOREACTOR BERDASARKAN PREFERENSI KONSUMEN DENGAN CHOICE-BASED CONJOINT
PT Algatek Karbon Nusantara merupakan perusahaan berbasis bioteknologi yang bergerak di bidang produk berkelanjutan. Saat ini, perusahaan menghadapi masalah ketidakstabilan pendapatan akibat model bisnis business-to-business (B2B) yang bersifat project-based. Untuk mengatasi risiko tersebut, perusahaan berencana melakukan ekspansi pasar ke segmen business-to-customer (B2C) dengan mengembangkan produk Indoor Algatek Series Photobioreactor (PBR). Produk ini merupakan perangkat permunian udara yang dapat menyerap karbon dioksida (CO2) kemudian menghasilkan oksigen (O2) melalui proses fotosintesis yang dinamakan fotobioreaktor mikroalga. Namun, perusahaan belum memiliki rancangan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen B2C sehingga diperlukan penelitian untuk menetapkan target konsumen dan perancangan produk. Penelitian ini menggunakan metode choice-based conjoint (CBC) untuk mengidentifikasi atribut-atribut produk yang dipertimbangkan oleh konsumen. Pengumpulan sampel data eksperimen CBC dilakukan dengan menyebar kuesioner secara daring melalui media sosial dengan teknik judgmental sampling dan snowball sampling. Sebanyak 185 sampel data eksperimen CBC kemudian dianalisis dengan metode Hierarchical Bayes (HB) untuk mengestimasi utilitas atribut dan analisis regresi logistik kelas laten untuk melakukan segmentasi responden. Selanjutnya penentuan harga optimal dilakukan dengan analisis willingness to pay metode Van Westendorp Price Sensitivity Meter. Hasil penelitian menunjukkan atribut yang paling penting dalam keputusan pembelian produk secara berurutan adalah perawatan, ukuran, desain, indikator kualitas udara, dan pascapenggunaan biomassa. Identifikasi segmentasi konsumen menghasilkan tiga segmen, yakni urban young pragmatists, compact & stylish seekers, dan premium eco-tech buyers. Usulan konsep produk yang dikembangkan memiliki spesifikasi ukuran 25 L, desain minimalis, indikator kualitas udara berjenis advanced sensor, serta pascapenggunaan biomassa sebagai pupuk tanaman yang akan ditargetkan ke pasar luas. Harga optimal produk berada pada kisaran harga Rp3.897.081 dengan rentang harga yang dapat diterima konsumen sebesar Rp3.104.707 hingga Rp7.985.506.
PERANCANGAN USULAN KONSEP PERBAIKAN PRODUK MULTIPURPOSE OIL PT X BERDASARKAN PREFERENSI KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN CHOICE-BASED CONJOINT
Minat masyarakat terhadap obat-obatan tradisional dan herbal terus meningkat, seiring dengan bertumbuhnya kesadaran akan gaya hidup sehat serta kepercayaan terhadap metode pengobatan alami yang dianggap lebih aman dan minim efek samping. Melihat peluang ini, PT X mulai mengembangkan produk multipurpose oil sebagai bagian dari upaya memasuki pasar obat tradisional. Produk ini memiliki beragam manfaat, namun saat ini masih berada dalam tahap prototipe dan menghadapi tantangan dalam mencapai kesesuaian pasar (product-market fit). Selama ini, proses pengembangan produk masih mengandalkan pengetahuan internal perusahaan tanpa didukung oleh data pasar yang memadai. Penelitian ini bertujuan merancang usulan konsep perbaikan produk menggunakan analisis choice-based conjoint (CBC) untuk mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap atribut produk. Estimasi utilitas dilakukan dengan metode hierarchical Bayes (HB), sementara segmentasi responden dianalisis melalui regresi logistik kelas laten. Penentuan harga optimal ditentukan dengan metode Van Westendorp untuk memperoleh rentang harga yang dapat diterima oleh konsumen. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner selama 15 hari dengan menggunakan teknik judgmental dan snowball sampling, menghasilkan 226 responden valid setelah proses pre-processing data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang paling berpengaruh dalam preferensi konsumen secara berurutan meliputi aroma, sensasi, metode pengaplikasian, bentuk kemasan, dan ukuran kemasan. Segmentasi konsumen menghasilkan empat kelompok utama, yaitu practical product seekers (n=71), young budget-conscious professionals (n=57), mature wellness seekers (n=52), dan classic consumers (n=47). Konsep produk yang diusulkan memiliki karakteristik aroma fresh/green, metode pengaplikasian roll-on, ukuran kemasan 10 ml, bentuk kemasan multifungsi, serta memberikan sensasi panas saat digunakan, dengan estimasi pangsa pasar sebesar 37,9%.. Berdasarkan analisis harga, nilai harga optimal berada pada kisaran Rp21.500, dengan rentang harga yang dapat diterima konsumen berkisar antara Rp14.022 hingga Rp40.474.
ANALISIS PREFERENSI DAN WILLINGNESS TO PAY TERHADAP OBAT KONVENSIONAL DAN OBAT HERBAL UNTUK MENANGANI DISMENORE PADA MAHASISWA DI KOTA BANDUNG
Dismenore merupakan masalah kesehatan yang umum dialami oleh hampir seluruh wanita, termasuk mahasiswa. Dismenore dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, orang yang mengalami dismenore sering kali akan melakukan berbagai intervensi untuk menangani atau mengurangi rasa nyeri pada saat menstruasi berlangsung. Salah satu intervensi yang bisa dilakukan adalah mengonsumsi obat-obatan, baik obat herbal maupun obat konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi mahasiswa di Kota Bandung dalam memilih obat untuk menangani dismenore dan mengetahui kesediaan membayar (willingness to pay) untuk obat herbal dan obat konvensional. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan pendekatan cross-sectional melalui pengumpulan data berdasarkan kuesioner yang dilakukan secara daring pada bulan Juni ?Juli 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 401 responden, diketahui sebanyak 45% responden memilih obat herbal dan 55% responden memilih obat konvensional. Namun, setelah dipaparkan beberapa setting kondisi, preferensi responden cenderung berubah pada tiap kondisi, yang artinya setting kondisi mempengaruhi preferensi responden dalam memilih jenis obat. Faktor yang mempengaruhi preferensi dalam memilih jenis obat meliputi jurusan (p-value = 0,000), siklus menstruasi (p-value = 0,015), seberapa mengganggu terhadap aktivitas (p-value = 0,000), dan intensitas nyeri (p-value = 0,000). Jumlah WTP rata-rata untuk obat herbal adalah Rp8.426,- sedangkan untuk obat konvensional adalah Rp9.208,-. Tidak terdapat hubungan antara faktor pengetahuan, pengalaman menstruasi, dan pengalaman ketika mengalami dismenore terhadap jumlah WTP obat herbal, sedangkan untuk WTP obat konvensional terdapat faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor intensitas nyeri. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah WTP obat herbal dan obat konvensional.
PERANCANGAN STRATEGI PEMASARAN BERDASARKAN ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN PADA PLUS FORTY NINE CAFÉ AND SPACE
Industri kafe di kota besar Indonesia, khususnya Bandung, Jawa Barat, kian berkembang pesat. Banyak pengusaha memulai bisnis kedai kopi dan menjadikan kafe sebagai tempat interaksi sosial. Meski industri ini tumbuh 4,62% pada kuartal kedua 2023, Plus Forty Nine Café and Space di Bandung menghadapi tantangan untuk menarik pelanggan, terbukti dari stagnasi jumlah pelanggan dalam tiga bulan terakhir. Melalui identifikasi masalah dengan fishbone diagram, ditemukan dua isu utama, yaitu strategi pemasaran yang belum terstruktur dan kurangnya pemahaman preferensi konsumen. Penelitian ini bertujuan merancang strategi pemasaran yang tepat untuk Plus Forty Nine Café and Space melalui analisis preferensi konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan riset pasar melalui survei untuk mengidentifikasi preferensi konsumen menggunakan model kualitas jasa SERVQUAL dan model kualitas makanan. Model ini digunakan untuk mengetahui preferensi konsumen mengenai kualitas jasa dan produk di pasar yang telah dibentuk. Analisis klaster dilakukan untuk mengelompokkan data dan uji statistik dilakukan untuk analisis lebih lanjut. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan 268 responden. Melalui analisis klaster, ditemukan lima segmen, yaitu foodies and aesthetic seekers, cozy and quick service customer, perfectionist customer, comprehensive service customer, dan comfort and food enthusiasts customer. Berdasarkan segmen tersebut, dipilih cozy and quick customer sebagai target pasar dan dilakukan positioning bisnis terhadap kompetitor utama. Dari hasil karakteristik target pasar, selanjutnya dirumuskan strategi bauran pemasaran 7P yang meliputi aspek product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence.
ANALISIS PREFERENSI MASYRAKAT NATUNA TERHADAP PEMASARAN DIGITAL PRODUK PERIKANAN (STUDI KASUS KELURAHAN RANAI)
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensi hasil laut yang besar, namun kontribusi sektor perikanan dan hasil laut terhadap PDB dan kesejahteraan masyarakat pesisir masih rendah. Nelayan tradisional masih terikat dengan tingkat kemiskinan dan keterbelakangan. Para nelayan tradisional menghadapi berbagai masalah, termasuk kurangnya keterampilan, fasilitas terbatas, dan persaingan yang sangat ketat. Dalam hal pemasaran hasil tangkapan, nelayan di lapangan menghadapi keterbatasan teknologi dan opsi pasar yang pada akhirnya menyebabkan tingkat penghasilan nelayan cenderung rendah. Belum adanya kesadaran masyarakat dalam memasarkan produk secara digital. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi pemasaran yang tepat dalam memasarkan produk perikanan di Kabupaten Natuna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Importance Performance Analysis. Penelitian ini didukung oleh 100 responden yang terdiri dari mayarakat nelayan di Kabupaten Natuna khususnya di kecamatan Ranai. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Penelitian ini menggunakan 20 variabel dalam analisis preferensi konsumen. Hasil penelitian ini menjunjukkan bahwa Masyarakat menilai atribut yang dianggap penting dan memiliki performa yang baik dalam pemasaran digital produk perikanan di Kabupaten Natuna yaitu dengan prioritas utama adalah harga, pengetahuan menggunakan aplikasi digital, ketersediaan produk dan infrastruktur akses internet.